Catatan harian yang semakin renta dan tua

Jumat, 24 Februari 2017

,
Judul Buku: Tea for Two
Penulis: Clara Ng
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009
Editor: Hetih Rusli
Foto Sampul: Lise Metzger/Riser/Getty Images
Tebal Buku: 312 hlmn, 20 cm
ISBN-10: 979-22-4332-1
ISBN-13: 978-979-22-4332-1
Rating: 4/5

Tea for Two adalah perusahaan mak comblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehidupan yang diidam-idamkan. PERNIKAHAN!

Hidup berbahagia selama-lamanya.
Begitula moto Tea for Two yang terdengar manis.

Tapi... eits, tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung serangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT. Kekerasan dalam Rumah Tangga. Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

It could happen to you. It could happen to anybody.

Inilah kisah yang menelanjangi sisi buruk pernikahan. Para lajang, gemetarlah, karena lelaki yang kaupikir Mr. Right bisa berubah menjadi Mr. Totally Wrong.

****

Lebam biru di leher?
Tentu kamu bisa menebak.
Itu adalah bekas cekikan Alan.
Tiga hari yang lalu.
Ketika dia marah karena masakan saya katanya keasinan.

Selain bergerak di bidang percomblangan perusahaan Sassy juga berperan sebagai wedding organizer. Tak sedikit klien-kilennya yang dulu ia pertemukan memintanya untuk mengurus pernikahan mereka. Pertemuan Sassy dan Alan pun terjadi lewat salah satu kliennya yang membawa keponakannya, Alan saat konsultasi tetek bengek acara pernikahan mereka. 

Sebagai pria tampan, Alan dengan mudah sudah menarik perhatian Sassy. Walau hal itu diagendai dengan kejadian memalukan karena Sassy yang salah mengambil kesimpulan, keduanya pun menjadi dekat. Sebagai pria, Alan teramat manis dan romantis. Bahkan sebelum mereka resmi berpacaran, Sassy sudah sering dihujani berbagai perhatian dan kejutan. Kiriman bunga bahkan telepon mesra yang sering pria itu lakukan.

Hal ini membuat Sassy tak menolak saat Alan memintanya menjadi pacarnya. Hubungan keduanya terjalin dengan sangat indah. Semakin hari semakin banyak saja kejutan yang Alan berikan. Mulai dari kesempatan mempertemukan Sassy dengan klien incarannya hingga liburan ke Paris berdua.

Hanya saja, di balik sikap manisnya Alan menyimpan sisi egois yang tak Sassy sadari, atau mungkin ia sadari tapi selalu berusaha mengerti. Di balik sikapnya dalam hati Sassy selalu percaya bahwa Alan hanya sedang mengusahakan yang terbaik baginya. 

Beberapa kali bahkan seringnya Sassy harus merelakan dan mengutamakan keinginan Alan di atas profesionlismenya bahkan di atas keinginannya sendiri. Tapi, bagi Sassy, hal itu bukan masalah. Lagi-lagi logikanya ditutupi oleh bisikan hati bahwa Alan hanya mencoba memberikan yang terbaik baginya.

Alan semakin hari semakin menjadi, tapi Sassy pun selalu mengerti. Lalu sifat sesungguhnya Alan terkuak saat di hari kedua bulan madu mereka Alan menampar Sassy dengan tuduhan main mata dengan lelaki lain. 

Sassy tak percaya Alan tega melakulannya, tapi lagi-lagi Sassy terlalu buta untuk menyadarinya hingga akhirnya di hari-hari berikutnya pernikahan mereka, Alan jadi semakin menyiksanya.

****

Kisahnya membuat saya terluka. Sebagai seorang perempuan, dikasari adalah yang paling tidak saya inginkan. Baik secara fisk, verbal maupun mental. Apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh orang yang dicintai dan paling dipercayai, suami sendiri.

Untuk kasus Sassy, sejak membaca kisah masa pacarannya dengan Alan saya sudah dapat menangkap ada yang tidak beres dengan sikap dan sifat laki-laki itu. Jujur sebagian hati saya merasa kesal sekali dengan tokoh Sassy yang tak dapat menyadari hal tersebut, selebihnya saya kasihan dengannya. Mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang luar biasa hebatnya.


Dikomentari, dicaci maki, dihina bahkan direndahkan harga dirinya hingga dipukul tanpa perasaan. Bisa dibilang saya mencak-mencak banget baca buku ini. Apalagi kekasaran tokoh Alan amatlah keterlaluan. Tidak memandang kondisi dan keadaan, entah istrinya benar salah atau tidak, sehat atau sedang kesakitan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan dalam rumah tangga sudah banyak diberitakan dan menjadi kasus yang ditangani pihak kepolisian maupun perlindungan perempuan. Kengerian tentu saja membayangi diri saya kala mendengarnya atau menontonnya di televisi, tapi rasa ngeri yang sebenarnya baru benar-benar saya rasakan dalam buku ini.

Sedikit banyak saya jadi mempertanyakan kehadiran beberapa laki-laki dalam hidup saya dan meragukan kebaikan hati mereka. Jadi parno istilahnya. Meski belum menikah saya paham sekali bahwa menjalani biduk rumah tangga bukanlah hal yang mudah.

Buku ini sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti walau saya akui saya jadi sedikit takut juga, tapi merupakan nasehat tersirat yang ditujukan kepada kaum perempuan bahwa kita benar-benar harus mempertimbangkan secara matang apabila nanti memutuskan untuk membagi hidup kita bersama seseorang yang disebut suami dan pemimpin dalam keluarga. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan motivasi bagi perempuan mana saja yang apabila sedang mengalami kejadian yang sama seperti yang Sassy alami, bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak.

Beberapa kutipan yang saya ambil dari buku ini:

1. Memang sejak zaman purba, perempuan selalu dianggap sebagai pusat malapetaka. Perempuan merupakan sumber mata air kesalahan dari dosa utama di muka bumi ini. Yup, memang sangat mudah meletakkan kesalahan di bahu perempuan. Sangat otomatis menjadikan perempuan sebagai kambing hitam, seotomatis mencari toilet sambil berlari sekencang-kencangnya ketika terserang diare - hlmn 18

2. Beberapa luka tidak pernah sembuh oleh waktu - hlmn 212

3. Kita harus memberi kesempatan kedua dan mengampuni yang salah. Tapi ada saatnya juga kita harus mengentikan kesempatan itu - hlmn 216

4. Cinta tidak menggunakan tamparan untuk membuktikan keberadaannya - hlmn 217

5. Jika kamu mengalami KDRT, kamu harus menempelkan dirimu seerat-eratnya dengan orang-orang lain di luar pasanganmu yang sungguh-sungguh mencintaimu tanpa pamrih - hlmn 283-284

6. Seperti cinta, mungkin jodoh juga mempunyai tanggal kadaluwarsa. Itulah yang menyebabkan jodoh harus berganti atau didaur ulang - hlmn 309

7. Karena pernikahan seperti pertaruhan. Kamu tidak pernah tahu kamu akan mendapatkan kartu bagus atau kartu buruk - hlmn 309

Selasa, 21 Februari 2017

,

“Bagaimana kabarnya?” Kutatap wanita yang kini terbaring pucat di ranjangnya. Selang infus menancap pada salah satu tangannya, beruntung ia sudah kembali bisa bernapas dengan normal jadi oksigen telah dilepas siang tadi.

“Baik, Dok. Apa saya sudah boleh pulang?” Wanita itu menjawab lalu bertanya penuh harap. Aku maklum, rumah sakit memang bukan tempat yang enak untuk ditinggali berlama-lama. Seraya tersenyum, aku menggeleng. Sekilas kugenggam tangannya yang diletakkan di atas perutnya.

“Sabar, ya. Kalau kondisi kamu sudah membaik, saya pasti akan segera mengizinkan kamu pulang.”

Kulihat kilat harapan di matanya meredup seketika. Dalam hati aku sedikit merasa bersalah. Tapi aku melarangnya pulang bukan karena ingin ia bisa lebih lama aku tatap dan aku kunjungi kapan saja. Kondisinya belum memungkinkannya untuk meninggalkan rumah sakit. Aku khawatir kesehatannya kembali menurun, penyakit yang dideritanya mungkin sudah umum dan sering ditemui. Jika tidak berhati-hati, akibatnya bisa fatal. Kanker sama sekali tak bisa disepelekan. Meski jinak, ia tetaplah salah satu pembunuh paling berbahaya. Dan kini, ia menggerogoti Nayla, pasienku. Pasien yang telah aku cintai sejak lama.

Aku ingat dua tahun lalu, saat pertama kali Nayla divonis menderita penyakit kanker. Aku takkan pernah lupa bagaimana ekspresinya dan betapa ia terluka dengan kenyataan itu. Tak ingin berlama-lama, secara cepat, operasi pun dilakukan. Operasi yang kulakukan itu berjalan lancar. Sel-sel kanker yang mulai menggerogoti otak Nayla pun berhasil diangkat. Hanya saja, kenyataan pahit menamparku tiga bulan lalu. Saat Nayla tiba-tiba saja dilarikan di rumah sakit karena sakit kepala hebat yang mendera dan membuatnya kehilangan kesadaran.

Sel-sel mematikan itu kembali, kanker itu kembali. Seketika itu juga, aku merasa gagal sebagai dokter. Aku merasa gagal menyelamatkan pasienku, karena kini, ia harus kembali berjuang dengan kondisi yang lebih parah dari sebelumnya.

“Apa menurut dokter saya masih bisa.... sembuh, selamat?” Pertanyaan Nayla yang tiba-tiba itu membuyarkan lamunanku.

Sedikit kebingungan, aku mencoba menjawab pertanyaannya. “Nayla.... yang namanya penyakit selalu bisa diusahakan kesembuhannya. Dan saya sebagai dokter akan selalu berusaha membantu kamu, membantu pasien-pasien saya. Kuncinya adalah berusaha dan tak luput berdoa. Saya selalu percaya hal itu, dan saya yakin Tuhan akan selalu menolong orang-orang yang bersabar.”

Tak kusangka ia tertawa. Tawa yang terdengar pahit ditelingaku, “Kalau begitu, saya rasa dua tahun lalu saya kurang bersabar sehingga Tuhan kembali memberikan saya penyakit yang sama.”

****

Berdiri mematung di depan pintu, Chandra menatap Nayla dari balik kaca yang menutupi sebagian kecil pintu tersebut. Lebih tepatnya, ia sedang mengintip. Melihat wajah pucat Nayla, ingin rasanya ia mendobrak pintu itu dan berlari memeluknya. Membenamkan wajahnya erat-erat pada lekukan leher wanita itu, seperti yang selama ini selalu ia lakukan. Tapi sekarang ia tidak bisa, kuasanya kini terbatas. Nayla menolak untuk ia kunjungi.

“Kamu sebaiknya meninggalkan aku, Ndra.” Ujar Nayla siang itu. Masih terkejut dengan fakta bahwa kini Nayla kembali harus memperjuangkan hidupnya di atas ranjang rumah sakit dan perawatan intensif, wanita itu kini memberinya kejutan tambahan.

“Maksud kamu apa?” Sedikit kebingungan, ia bertanya. Dalam hati, ia was-was juga. Mengenal Nayla bertahun-tahun membuat ia paham betul dengan watak dan tabiat wanita itu. Sekali ia kesusahan, didera kesulitan dan penderitaan, ia tak ingin siapa pun terlibat.

“Iya. Aku nggak mau kalau kamu harus mengalami kesulitan bersamaku.” Jawabnya.

Chandra menarik napas gusar. Sejujrunya, ia sangat tidak suka dengan sifat Nayla yang satu ini. Kalau bisa ia ingin marah, tapi kondisi Nayla membuat kemarahannya surut dalam sekejap.

“Kamu bicara apa, sih? Kita berdua, sudah sewajarnya hidup saling berdampingan dalam keadaan apa pun. Saling menguatkan satu sama lain, memberi kekuatan agar tidak menyerah bertahan. Itu adalah hal yang wajar, Nayla. Kamu nggak perlu merasa terbebani dengan kehadiranku.” Chandra mencoba memberi pengertian, berharap kalimatnya barusan akan membuat Nayla berubah pikiran.

“Justru sebaliknya aku yang nggak mau menjadi beban buat kamu. Aku cinta kamu, Ndra. Dan hal yang selalu ingin aku berikan adalah kebahagiaan, dalam kondisiku yang seperti ini, aku nggak akan bisa memberikan hal itu.” Sayangnya, Nayla adalah wanita yang keras kepala. Ia tetap ngotot.

“Aku sudah bahagia dengan ada kamu, mendampingi kamu di saat tersulitmu bahkan akan lebih bisa melengkapi kebahagiaanku.”

“Tapi aku nggak. Aku harap kamu mau mengerti.”

Keputusan final Nayla memang berhasil membuat Chandra mengalah dan meninggalkan wanita itu sendirian. Tidak dalam artian sebenarnya, karena faktanya, walau dari jauh, walau tanpa kentara, ia selalu berusaha ada dan memantau perkembangan kesehatan Nayla. Hanya saja, Chandra tak bisa berbohong bahwa ia tersiksa dengan keadaan ini.

Beberapa menit kemudian, dilihatnya dokter Irwan, dokter yang dua tahun lalu juga menangani Nayla sudah selesai melakukan pemeriksaan. Kini ia sedang berjalan menuju pintu dan Chandra tak ada pilihan selain menyingkir. Ia tak mau Nayla melihatnya karena bisa dipastikan wanita itu akan marah. Ia memilih berjalan dan menuju ruangan dokter Irwan. Ia akan menunggu dokter itu disana, kondisi kesehatan Nayla di atas segalanya dan ia wajib tahu segalanya.

“Chandra...” Ternyata dokter Irwan sudah langsung mengenalinya dari jarak jauh. Dengan langkah panjang, ia berjalan menghampiri Chandra dan menjabat tangannya. “Apa kabar? Sepertinya saya sudah lama tidak melihat Anda di rumah sakit?”

“Nayla menolak saya kunjungi....” Jawaban itu terlontar tanpa direncanakan dari mulut Chandra. Kening dokter Irwan sedikit mengerut, menunjukkan kebingungannya dan secepat kilat Chandra langsung mengalihkan pembicaraan. Dokter Irwan tidak perlu tahu masalah pribadinya dengan Nayla, walau diakui kondisi psikologis Nayla bisa dikatakan adalah bagian tanggung jawab dokter Irwan juga. “Saya kemari untuk membicarakan kondisi kesehatan Nayla,” ujarnya kemudian.

“Oh iya, tentu saja. Silakan masuk.”

****

Sebenarnya bisa dikatakan aku berpura-pura ketika bertanya kenapa Chandra sudah jarang mengunjungi rumah sakit. Walau tidak menjelaskan secara gamblang, kusadari bahwa ada yang tak beres antara hubungannya dengan Nayla. Bukan kapasitasku untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi kedua pasangan ini, namun entah mengapa jauh di dalam sana, sisi jahat diriku membisikkan sesuatu yang tak kuduga akan terbersit dan terlintas dalam kepalaku. Menggunakan kesempatan renggangnya hubungan dua orang demi mendapatkan posisi penting di antara mereka berdua bukanlah caraku dalam menjalani hidup dan mendapatkan apa yang aku inginkan, hanya saja ketidakhadiran Chandra di samping Nayla membuatku merasa jadi satu-satunya sandaran wanita itu. Dan hal itu membuatku bangga dan merasa ‘penting’.

Kuperhatikan wajah Chandra yang sangat tidak terurus itu. Jambangnya yang sudah panjang dan jenggot yang sudah waktunya dicukur tumbuh hampir di sepanjang dagu dan pipinya. Matanya yang berkantung dan penampilannya yang jauh dari kata rapi sudah dapat menggambarkan bahwa lelaki ini didera stres berat namun tak ada tempat untuk membaginya.

“Bagaimana keadaan Nayla, Dok?” Pertanyaannya memutus konsentrasiku dari menganalisisnya.

“Kondisinya sudah cukup membaik, tapi berdasarkan hasil pemeriksaan, Nayla sudah harus dijadwalkan untuk operasi. Meski kanker yang menyerangnya masih tergolong jinak, kami khawatir jika tidak diambil tindakan secara cepat maka hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.”

Wajah Chandra bertambah pucat demi mendengar penjelasanku, tapi itulah kenyataannya. Kanker yang menyerang Nayla tidaklah begitu menyeramkan tapi tetap saja, ia adalah salah satu penyakit yang paling berpotensi membunuh siapa saja tanpa aba-aba.

“Kira-kira kapan operasinya bisa dilaksanakan, Dok?” Tanyanya, berusaha mengembalikan ketenangannya. Aku yakin sekali bukan kata kanker yang membuat lelaki di depanku ini begitu merasa takut, melainkan kalimat terakhirku.

Siapa pun yang jatuh cinta pasti tidak akan rela jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada orang yang dicintinya seperti yang kuucapkan tadi.

“Kami memerlukan persetujuan pihak keluarga agar bisa segera mengambil tindakan.” Jawabku. “Saya sudah membicarakan hal ini dengan Nayla, tapi sepertinya ia kurang setuju.”

Kening Chandra megerut mendengarnya. “Maksud Anda, kurang setuju bagaimana?” Sudah pasti ia heran, siapa pun yang sakit sudah normalnya mengharapkan kesembuhan. Bukan justru menunda-nunda tindakan penyelamatan seperti yang Nayla lakukan.

“Begini  Chandra... saya tidak bermaksud untuk ikut campur tapi saya rasa Nayla mengalami paranoid. Ia sudah pernah menjalani operasi sebelumnya, dinyatakan sehat lalu dua tahun kemudian harus kembali menelan pil pahit bahwa penyakitnya itu kembali.” Chandra mendengarkan dengan sangat serius. “Itu sebabnya, ketika saya menuturkan soal operasi, ia menjadi ragu. Ia takut, ia paranoid bahwa hal yang sama akan kembali terulang dan ia hanya harus menjalani operasi berulang-ulang dan tak berkseudahan.” Chandra menarik napas, sepertinya kalimatku bukan hanya menambah tingkat stresnya tapi juga membuatnya frustrasi kini.

“Oleh sebab itu, dukungan keluarga adalah yang terpenting disini. Nayla membutuhkan dorongan dan motivasi sehingga keinginannya untuk mengusahakan kesembuhannya dapat kembali.”

****

Apa yang Dokter Irwan katakan tentu saja benar. Nayla butuh dukungan, wanita itu butuh sokongan motivasi dan semangat untuk sembuh kembali. Tapi, bagaimana Chandra bisa melakukannya jika kehadirannya ditolak mentah-mentah, jika Nayla berkata bahwa ia tak ingin Chandra ada untuknya? Sebagai satu-satunya keluarga yang wanita itu miliki, siapa lagi yang bisa memberikan motivasi jika bukan Chandra sendiri?

Mengumpulkan kekuatan di saat jiwa sudah benar-benar kelalahan tentu saja bukan hal mudah. Bukan kali pertama kehadirannya mendapatkan penolakan, dan ditolak berkali-kali oleh orang yang kita cintai tentu saja menyakitkan. Tapi Chandra menolak diam, bahkan jika ia harus menerima makian, bagaimana pun caranya ia harus meyakinkan Nayla agar ia mau menjalani operasi pengangkatan kanker kembali.

Dikutuknya pintu kamar rawat Nayla dua kali lalu memegang handle pintu dan membukanya. Terlihat Nayla sedikit terkejut dengan kehadirannya, ada kerinduan yang terpancar jelas dari matanya kala menatap Chandra, tapi binar itu dengan cepat lenyap entah kemana. Dipalingkannya wajahnya, enggan menatap apalagi menyambut kahadiran Chandra.

“Assalamualaikum.” Chandra mengucapkan salam seraya duduk di salah satu kursi di samping Nayla. Wanita itu menjawab tanpa suara. Hanya gerak bibir yang menandakan bahwa wanita itu tak sepenuhnya mengabaikannya.

“Nayla....”

Tidak ada jawaban. Wanita itu bungkam.

“Nay, please.....

“Aku sudah bilang aku nggak mau dikunjungi!” Nayla berujar tajam. Nada suaranya menyiratkan kemarahan.

“Aku tahu, aku minta maaf. Tapi tadi aku baru saja bicara dengan Dokter Chandra. Beliau menyarankan untuk operasi....” belum selesai Chandra bicara, Nayla sudah memotong... “Aku nggak mau bertaruh untuk sesuatu yang nggak pasti lagi.”

“Ini pasti Nayla. Pasti tujuannya untuk kesembuhan kamu. Aku mau kita sama-sama lagi seperti dulu.”

“Kamu bisa menjamin bahwa aku akan sembuh total, bahwa kanker sialan ini akan lenyap selamanya dari tubuhku?!” Seketika Nayla berpaling menatap Chandra. Sorot terluka tercetak jelas dari matanya.

“Nay... tolong jangan kalah. Ini hanya kanker jinak yang bisa dengan mudah diangkat.”

“Mungkin kamu menyepelekan kejinakannya, tapi tetap saja bagiku ia adalah monster yang menggerogoti dan bisa membunuhku kapan saja!!”

“Aku nggak menyepelekan! Sekalipun nggak pernah aku mengaggap enteng penyakit kamu. Justru sikap kamu yang demikian, kalau kamu memang berpikir bahwa kanker itu bisa membunuh kamu kapan saja, sudah seharusnya kamu menuruti saran dokter dan nggak bersikap keras kepala seperti ini.” Tanpa terduga, kalimat kasar itu terlontar dari mulut Chandra. Gumpalan air tiba-tiba memenuhi pelupuk mata Nayla demi mendengarnya. Ini adalah kali pertama Chandra marah karena penyakitnya.

Melihatnya, kontan saja lelaki itu merasa bersalah. “Maaf... aku nggak bermaksud berkata sekasar itu. Tapi tolong, Nay. Aku nggak bisa kalau harus ditinggal pergi sama kamu. Aku suami kamu dan aku benar-benar mengharapkan kesembuhan kamu. Aku mau kita sama-sama lagi seperti dulu, aku nggak mau hal apa pun bahkan penyakit paling mematikan sekali pun mengubah apa yang sudah kita bina sejak dulu. Kamu nggak mau aku kunjungi karena nggak mau aku terbebani masih bisa aku terima Nay. Aku tetap bisa memantau kondisi kamu walau dari jauh. Tapi kalau diminta membiarkan kamu terjebak pada penyakit ini dan meninggalkan aku selamanya, demi Tuhan aku nggak akan pernah bersedia.”

Nayla menangis. Menangis dengan teramat keras, menandakan betapa ia juga ingin sembuh dan kembali lagi ke pelukan Chandra, kembali menjadi istri yang baik untuk lelaki yang dicintainya.

****

Sejujurnya aku terluka. Pelukan Chandra yang begitu erat dan bagaimana eratnya pula Nayla membalasnya membuatku cemburu dan terluka. Posisi selalu ada untuk Nayla dengan sangat terpaksa harus aku kembalikan pada pemiliknya, pada Chandra, suami sah Nayla. Memang, sutau kebodohan yang pasti saat seorang dokter yang sukses sepertiku jatuh cinta pada pasienku yang sudah bersuami. Tapi seperti kata adikku Irna, cinta selalu tak bisa diprediksi datangnya. Seperti cintaku pada Nayla.

Meski begitu, aku berterima kasih pada Chandra. Berkatnya, secara tidak langsung ia sudah berhasil meyakinkan Nayla untuk mengusahakan kesembuhannya. Kehadiranku memang benar-benar hanya sebagai dokter di mata Nayla, tidak kurang dan tidak lebih. Tapi dalam kasus ini, aku menolak mengakuinya. Aku akan menganggap Chandra sebagai pembawa pesan berharga dan bukti cintaku pada Nayla.

Some things better left untold.... dan karena sampai kapan pun perasaaanku tidak akan pernah terungkapkan, maka aku akan menyatakannya lewat kesembuhannya

Minggu, 19 Februari 2017

,
Judul Buku: Makhluk Tuhan Paling Katrok!
Penulis: Netty Virgiantini
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-602-00-0406-8
Rating: 4/5

Gara-gara AC, Neyla dapat julukan baru di sekolah sebagai makhluk Tuhan paling katrok! Sebuah gelar yang telah membuat Neyla jadi mendadak ngetop di seantero sekolah beberapa waktu terakhir ini, nggak kalah dengan kepopuleran lagu Mulan Jameela. Julukan itu diberikan teman-temannya, karena Neyla dianggap jadi orang paling katrok di sekolah setelah seluruh ruang kelas dipasang AC baru.

Kalau yang lain menyambut dengan gegap gempita penuh sukacita bebas dari rasa gerah dan panas, Neyla yang berasal dari keluarga penggemar silat dan sakit-sakitan sejak kecil, justru harus bergulat dengan segala keruwetan karena tubuhnya tidak mampu menahan serangan hawa dingin AC yang diyakininya sebagai jelmaan Dewa Angin yang punya dendam di masa lalu.

Serangan itu menimbulkan efek samping, mulai dari mual muntah yang membuatnya sempat disangka tengah hamil di luar nikah, juga harus sering terserang masuk angin. Seluruh penghuni rumahnya yang disebut Padepokan Kancil 09, telah berusaha keras memberikan jurus-jurus ampuh penangkalnya. Lumayan berhasil, tapi masih menyisakan satu efek yang cukup menyiksa, yaitu beser alias bolak-balik pipis. Yang membuatnya harus mondar-mandir seperti angkor ngejar setoran mengunjungi toilet, satu bangunan yang tidak saja bau tapi jorok.

Efek paling parah dari AC saat Neyla yang keseringan mengunjungi toilet harus berurusan dengan polisi ketika dia menemukan sesosok tubuh bersimbah darah yang sekarat di toilet cowok. Penderitaannya semakin bertambah parah saat sosok bersimbah darah yang ditemukannya di toilet itu jadi sering mengikutinya. Seperti hantu yang membayang-bayangi dan bisa saja muncul tanpa diduga. Neyla berusaha keras dengan secala cara untuk menghindar dan membuat sosok itu mau meninggalkannya, tapi hasilnya nihil.

Akhirnya dengan sangat terpaksa Neyla harus menerima kehadirannya. Namun, ketika akhirnya sosok misterius itu pergi meninggalkannya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok itu dan alasan mengapa ia sering membuntutinya. Sepeninggalnya, Neyla bukan saja merasa kehilanga sosok bayangan yang telah menjadi bagian hari-harinya selama ini, tapi juga merasakan rasa nyeri yang menyesakkan dada.

****

Bukunya lucuuuuk! Pas baca sinopsisnya di Ipusnas, saya nggak berekspektasi lebih, apalagi lihat bintangnya yang cuma dapat tiga. Tapi saat saya baca, bahkan baru halaman pertama, saya langsung sukses jatuh cinta. Menikmati banget baca buku ini. Humornya asyik dan bikin ngakaknya juga lebih asyik. Kekatrok-an Neyla sang tokoh utama benar-benar dapet. Mulai dari nggak bisa kena AC dikit karena pasti mual atau pipis-pipis sampai julukan Dewa Angin yang ia berikan pada benda persegi panjang itu.

Kecintaan Neyla dan keluarganya pada seni bela diri asli milik Indonesia, silat, bisa dibilang adalah penyebab ia menjadi terlihat katrok atau terdengar katrok saat bicara, tapi itulah yang bikin tambah lucu. Salah satu bagian yang saya suka adalah saat musyawarah antar anggota Padepokan Kancil 09 dilakukan demi memecahkan masalah yang dialami Neyla, menurut saya itu adalah salah satu contoh bentuk pemecahan masalah yang patut dicontoh. Membantu anak-anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya adalah tugas orang tua dan sikap kedua orangtua Neyla yang tak masa bodoh walau yang Neyla alami hanyalah masuk angin benar-benar bikin saya kagum. Belum lagi bentuk-bentuk pemecahannya yang memang dirembukkan bersama dan melibatkan pendapat seluruh angggota keluarga. Jurus-jurus yang digunakan juga sangat lucu-lucu namanya.

Walau sepenuhnya membahas kekatrokan Neyla, namanya cerita remaja ya pasti ada bumbu cinta-cintanya. Dalam buku ini, kisah romansa yang ada sama sekali nggak membuat karakter Neyla bergeser atau berubah. Meski sempat didera galau, katroknya tetap terasa. Tetap bertahan dan menjadi ciri khasnya.

Buku ini menurut saya adalah buku komedi yang walau memuat konflik sederhana remaja, sangat memberikan pesan yang bermakna. Kecintaan keluarga Neyla terhadap silat contohnya. Memang, nggak harus seakut mereka dengan selalu menggunakan istilah dunia persilatan dalam setiap kesempatan. Tapi, kita sebagai orang Indonesia, termasuk saya sendiri, secara halus telah diajak untuk menengok kembali seni bela diri negeri sendiri yang mungkin saja sudah tergerus seni bela diri negeri tetangga. Selain itu, kekatrokan Neyla juga memberikan pesan yang amat sederhana. Seperti pada salah satu kutipan yang ambil dari buku ini:
"Justru orang-orang ndeso itu identik dengan filosofi hidup rukun, ayem, gotong-royong, apa adanya, sederhana dan nggak neko-neko. Bandingkan dengan orang-orang kota yang sudah demikian akrab dengan tipu daya, egois, hidup seolah berkejar-kejaran hanya untuk menumpuk harta - hlmn 50"
"... nggak ada alasan untuk malu. Mau dibilang katrok, ndeso, ndesit atau kampungan sekalipun, dengerin saja. Nggak masalah. Daripada dibilang koruptor kan malah malu-maluin. Sebutan itu lebih hina karena ngembat uang negara dan merugikan masyarakat" - hlmn 51 
Kutipan di atas nggak bermaksud meremehkan orang-orang yang tinggal di kota besar, hanya saja memang demikianlah fakta yang sering kita dapati. Buat saya pribadi, kalimat ini adalah suatu bentuk ajakan positif tentang bagaiaman kita bisa tetap saling menjaga kesantunan, kerukunan dan hal-hal baik dalam kehidupan bermasyarakat walau kita tinggal di kota besar dan modern.

Walau demikian, kekatrokan Neyla juga ada sisi negatif yang membuat kita harus berpikir untuk senantiasa meng-update pengetahuann dan wawasan kita.
"Sekarang ini sudah zaman IT, Nak. Zaman Teknologi Informasi. Dan, jurus pasling jitu adalah dengan menguasai teknologi informasi sebaik-baiknya.  Siapa yang menggenggam teknologi dan informasi. bisa dibilang dia telah menggenggam separuh dunia - hlmn 8

Sabtu, 18 Februari 2017

,
Judul: Let's Fight Ghost
Genre: Drama/Komedi/Horror/Romantis/Action/Misteri
Jumlah Episode: 16 Episode
Periode Tayang: 11 Juni 2016-30 Agustus 2016
Broadcast: tVN
Pemain:

Ok Taecyeon as Park Bong Pal

Kim So Hyun as Kim Hyun Ji

Kwon Yul as Joo Hye Sung

Kim Hyun Ji adalah seorang siswa sekolah tinggi menengah yang tidak melakukan apa pun kecuali belajar seumur hidupnya sampai ia tewas dalam kecelakaan sehari sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Sehingga hal itu membuatnya menjadi hantu.

Hyun Ji mengembara di seluruh dunia selama bertahun-tahun sampai ia bertemu dengan Park Bong Pal, seorang pria yang mampu berkomunikasi dengan hantu. Dia adalah seorang pengusir setan (Exorcist) untuk mencari uang dan dia selalu mendnegarkan cerita-cerita hantu dan membantu mereka menyampaikan kepada dunia lain. Keduanya bekerja sama untuk melakukan eksorsisme dan lebih dekat satu sama lain.

****

Kim Hyun Ji adalah seorang hantu yang telah bergentayangan selama lima tahun. Ketidaktahuannya tentang penyebab kematiannya membuat ia berpikir bahwa hal itulah yang membuatnya tak bisa menyeberang ke akhirat. Masih ada ganjalan atau hal yang harus ia tuntaskan. Untuk itulah, ia berusaha semaksimal mungkin, bagaimana pun caranya agar ingatannya kembali. Termasuk menghubungi Park Bong Pal, si pengusir hantu, dengan memanfaatkan teknologi yang digunakan manusia, lewat aplikasi chat.

Dengan iming-iming bayaran yang lebih tinggi, Bong Pal pun setuju menemui si pemesan di salah satu sekolah putri yang terkenal angker. Sebuah kesialan, bukannya mendapatkan bayaran yang diharapkan, ia justru berhadapan dengan hantu perempuan yang teramat kuat dan sulit untuk dikalahkkan. Namun, keberuntungan bagi si hantu - Hyun Ji, pertemuannya dengan Bong Pal justru mendatangkan kembali sedikit memori tentag dirinya yang telah bertahun-tahun hilang.

Untuk alasan itulah, akhirnya Hyun Ji jadi suka mengikuti ke mana pun Bong Pal pergi. Terganggu, Bong Pal pun mengusirnya tapi hantu gadis itu justru menawarkan sebuah kerjasama. Ia akan membantu Bong Pal menghalau hantu-hantu dan mendapatkan bayaran dan uang lebih cepat asal cowok itu mau mengajarinya belajar untuk ujian akhir (Hyun Ji meyakini bahwa hal itulah yang membuatnya tak bisa tenang dan bergentayangan). 

Kesepakatn dilakukan dan keduanya pun resmi menjadi partner kerja yang kompak dan saling bekerja sama dengan baik.

****

Berbiacara soal drama Korea, memang nyaris nggak ada habisnya. Ada saja ide cerita yang muncul untuk genre tontonan yang banyak digemari para wanita ini. Walau diakui, beberapa idenya adalah hal yang sudah umum bahkan sering kita temukan dalam sinetron Indonesia, namun perbedaan pada konflik jelas sangat terasa.

Khusus untuk drama ini, saya nggak berekspektasi bahwa akan menjadi salah satu drama yang masuk dalam daftar must watch. Hal ini dikarenakan, saya berpikir bahwa ceritanya akan berjalan flat dan berujung pada jenis cerita yang itu-itu saja. Dalam artian sudah banyak ditemui. Namun, pada akhirnya saya harus menarik ekspektasi tersebut karena drama ini sungguh di luar dugaan. Tidak begitu fenomenal juga bisa dibilang, tapi sangat asyik untuk ditonton. Perpaduan adegan action dan komedi sejak dulu memang sangat saya sukai. Btw, saya adalah penggemar sejati salah satu film Hong Kong yang dibintangi Jackie Chan - Police Story, sejak kecil. Jadi tiap bertemu tontonan yang mengkombinasikan humor dan action, bakal bersemangat banget buat nontonnya.

Seperti drama misteri pada umumnya, tiap epiosde selalu disuguhi kasus atau konflik baru yang tentu saja nggak mengganggu konflik utama. Konflik utama dari drama ini memang tersembunyi dan cenderung mengundang teka-teki. Walau udah bisa ditebak sebenarnya apa yang terjadi, tapi nggak akurat banget juga.

Eksekusinya agak disayangkan karena  nggak terlalu WOW dan terasa biasa. Endingnya juga terasa terlalu panjang, tapi asyik sih nggak menggantung. dan sangat sangat memenuhi keinginan para pencinta KDrama bergenre romance seperti saya :D

Kamis, 16 Februari 2017

,
Judul Buku: BELLAMORE: A Beautiful Love to Remember
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2007
Desain dan Ilustrasi Sampul: Martin Dima
Tebal Buku: 264 hlmn; 20 cm
ISBN-10: 979-22-2974-4
ISBN-13: 978-979-22-2974-5
Rating: 3/5

"But what do you do if you get horny?"
Demi Zeus dan para dewa Yunani lainnya!!! What is it with this man?
Pria di hadapanku ini, yang kukenal belum sebulan, bukan pacarku, bukan sahabatku, tidak juga punya hubungan darah pun denganku, hanya rekan bisnis, tapi ingin tahu apa yang kulakukan jika libidoku sedang naik ?!?!?!
He's got to be kidding me!!!!

Awalnya nama Fabian Ferdinandi bagiku sama artinya dengan kejengkelan tak berujung. Pria Italia itu sangat tahu bagaimana membuat seluruh sarafku menegang cepat dan membuat percakapan kami berakhir dengan kemarahan di pihakku. Namun yang paling menyebalkan adalah, Fabian sangat tahu bagaimana membuatku tampak seperti alien karena di usiaku yang sudah 27 tahun ini, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan virginity-ku. Sesuatu yang menurutnya sangat absurd untuk wanita seperti aku.

Setidaknya begitulah. Sampai akhirnya waktu memisahkan dan mempertemukan kami lagi pada suatu pagi yang beku di Time Square. Namun seiring waktu berganti di New York, aku pun harus menghadapi kenyataan mengejutkan tentang Fabian. Dan perasaanku sendiri terhadapnya.

****

Fabian Ferdinandi seorang pria tampan asal Italia dipasangkan dengan Lanavera dalam sebuah proyek penting perusahaan. Fisik Fabian yang memang di atas rata-rata membuatnya langsung jadi pria favorit di kantor, namun kesialan bagi Lana, ia juga akhirnya jadi ikut-ikutan digosipi. Belum lagi pandangan Fabian padanya yang selalu penuh birahi.

Lana tahu, ia dibilang konservatif dan sok suci karena masih mempertahankan keperawanannya di zaman yang sudah semakin maju dan modern, tapi ia tidak peduli. Setidaknya sampai Fabian, si Italiano yang bukan siapa-siapa mulai mengorek-ngorek kehidupan peribadinya dan merasa heran dengan prinsip yang Lana pegang.

Perbedaan budaya memang dapat dimaklumi, tapi kalau sudah menyangkut urusan pribadi, Lana menolak diam. Alhasil, hampir setiap hari adu argumen antara mereka selalu terjadi - dengan Lana yang menjadi korban sakit hati. Humor Fabian terkadang berlebihan dan membuat Lana merasa dilecehkan.

Hingga suatu hari, peristiwa buruk terjadi. Yang Lana tidak mengerti, Fabian yang entah kenapa marah sekali padanya dan bahkan secara tiba-tiba ditarik kembali untuk bekerja di Roma. Bukan hanya pindah tugas, sikap Fabian juga jadi berubah kepadanya. Cuek dan menjaga jarak, padahal Fabian tidak tahu bahwa secara perlahan namun pasti, kejengkelan Lana terhadapnya telah berubah menjadi perasaan yang berbeda.

****

Sebenarnya saya tertarik baca buku ini karena sudah dipastikan akan ada banyak adu mulut antara dua toko yang pasti lucu untuk disimak. Akan tetapi, walau benar demikian, ketimbang lucu, setiap argumen yang terlontar antara Fabian dan Lana yang benar-benar teguh pada prinsipnya justru memberikan saya pemahaman baru tentang bagaimana menjaga prinsip hidup dengan benar. Seperti yang Lana lakukan. 

Disadari atau tidak, sekarang ini, kehidupan seks sudah bukan hal yang tabu lagi untuk diperbincangkan. Bahkan banyak sekali yang kita temui orang-orang yang tidak keberatan membicarakan hal tersebut dengan amat gamblang di hadapan siapa saja. Tema yang diangkat inilah yang membuat saya merasa bahwa buku ini jadi semakin menarik.

Namun, ternyata hanya setengah dari buku ini saja yang membahas hal tersebut. Bisa dibilang saya salah berekspektasi. Awalnya saya berpikir akan ada tendangan lebih karena mengingat konflik yang ditawarkan di awal bukanlah konflik biasa, prinsip hidup bukan hal yang bisa diremehkan, kan? Pergeseran konflik yang terjadi secara drastis membuat saya sedikit kaget dan agak kurang sreg. Walau memang dari judul saja sudah bisa ditebak bahwa buku ini murni kisah romance.

Selain itu, penurunan tingkat keceriaan (?) dan ketangguhan karakter Lana di pertengahan cerita bikin saya rasanya jadi kurang semangat membacanya.

Entah kenapa, setelah bab farewall tanpa kata cinta di Bandara, Lanavera jadi berubah menye-menye dan sering galau. Karakter Danny juga saya kurang suka, mungkin seperti Lana juga, saya sudah terhipnotis pada sifat humoris dan jahil Fabian yang kadang selalu bikin otak mendidih kepanasan.

Walau demikian, banyak sekali pesan yang dapat kita petik dari membaca buku ini, terutama dalam menghadapi derasnya arus pergaulan yang terkadang terasa menjadi menakutkan. Ada beberapa kutipan menarik yang saya ambil dari buku ini, yakni;

1. Memang benar putus cinta itu sangat menyebalkan. Namun lebih menyebalkan lagi kalau harus mengorbankan perinsipku semata-mata demi mengharapkan cinta dari seorang pria - hlmn 14

2. Tidak bolehkah seorang wanita memilih sampai menikah nanti hanya karena ia mau? Apa susahnya sih menerima itu? Sebegitu tabukah keputusan itu untuk seseorang di usiaku, sehingga Fabian seakan menatapku bak alien? - hlmn 47

3. Sulit memang dengan kondisi pergaulan saat ini untuk bisa teguh mempertahankan apa yang kita anggap benar. Beda sedikit langsung dianggap nggak gaul - hlmn 51

4. Kenapa sih sulit banget percaya bahwa pacaran bukan melulu soal seks? Haruskah hubungan asmara selalu dibarengi pemenuhan kebutuhan seksual? - hlmn 54

5. Memang nggak akan semudah itu membuat generalisasi dalam soal cinta. Tapi yang pasti, aku tidak terlalu setuju jika ada orang yang terlalu mengagung-agungkan cintanya yang telah tiada sehingga membuat dirinya terisolasi dari cinta lain yang mungkin akan datang dalam hidupnya nanti - hlmn 235

6. Kita bisa saja memberi tanpa harus mencintai seseorang, namun tidak mungkin kita bisa mencintai seseorang tanpa memberinya apapun - hlmn 250

Rabu, 15 Februari 2017

,
Biru menatap wanita di depannya tanpa berkedip. Dress ketat selutut membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambutnya tergerai indah, bibirnya dipoles dengan lipstik semerah darah. Sementara itu, matanya menatap Biru dengan binar yang membuat pria itu berusaha keras menahan desakan untuk tidak merengkuhnya ke dalam pelukan dan memagut bibirnya penuh kenikmatan. Matanya membuat Biru terpikat, serasa mabuk laut dan ingin tenggelam disana selamanya.

Jingga namanya – ia mampir ke rumah dan memperkenalkan diri sebagai tetangga baru yang tinggal di seberang rumahnya. Memang, rumah tersebut sudah lama kosong sejak ditinggal pemiliknya pindah ke Jakarta. Dan kini, Biru merasa bagai mendapat durian runtuh ketika wanita dengan paras tak biasa ini muncul di depan wajahnya.

Begitu kuat mata Jingga memikat, malamnya, Biru memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah wanita itu. Sekitar pukul sebelas malam, secara perlahan ia beranjak dari kasurnya, meninggalkan Ungu, istrinya yang sudah lelap teridur. Tak ia ketahui, bahwa kini dari balik tirai kamarnya yang tertutup, sepasang mata tengah menatapnya dengan penuh kemarahan.

“Ada yang bisa saya bantu?” Jingga bertaya dengan mata yang makin membuat Biru terpesona.

“Boleh saya masuk?” Biru bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari mata Jingga yang langsung wanita itu sambut dengan pemahaman.

“Tentu saja.”
****

Kini, hampir setiap malam Biru selalu menyelinap dari kamarnya. Menemui Jingga dan mata yang selalu bisa menengelamkannya pada nikmat yang tak terkira. Biru akui, ia menikah dengan Ungu bukan tanpa cinta. Jelas ia menyayangi istrinya itu, tak pernah berubah bahkan hingga kini meski Jingga kini berada di antara mereka dengan cara yang ‘tak kasat mata’. Namun, Ungu tak lagi bisa memberikan apa yang ia dambakan.

Mata Ungu tak lagi mampu memikatnya! Bahkan ketika mereka bercinta, Biru selalu menghindar untuk menatapnya. Sejujurnya, matanya terasa menakutkan, sejak kecelakaan itu terjadi.

Peristiwa naas itu tejadi lima tahun silam. Segerombolan perampok yang datang entah dari mana tiba-tiba menerobos masuk ke dalam rumah mereka. Saat itu, Biru sedang tidak berada di rumah. Ia harus ke luar kota untuk perjalanan dinas, sementara Ungu tinggal bersama asisten rumah tangga yang memang hanya bertugas di siang hari.

Para perampok itu tidak membobol brangkasnya, tidak juga membongkar perhiasan istrinya. Bisa dibilang, mereka tidak datang untuk barang berharga. Hanya saja, mereka pergi membawa satu-satunya benda yang amat berharga baginya; mata ungu dicungkil hingga keluar dari kelopaknya.

Hancur sekali hati Biru mendapati istrinya tak lagi memiliki mata yang selama ia selalu ia puja, tak lagi bisa menatapnya dengan binar penuh cinta. Tiga tahun Ungu berjuang dengan kebutaannya, bersama Biru yang sebenarnya sudah sangat putus asa. Di mana lagi ia bisa mengobati kerinduan jika tatapan Ungu tak lagi bisa memberinya kehangatan?

Walau setelahnya Ungu mendapat donor mata dan berhasil mendapatkan penglihatannya kembali, bagi Biru hal itu sama sekali bukan hal yang harus ia syukuri. Pancaran cinta yang selalu Ungu miliki tak lagi bisa ia nikmati.

Oleh sebab itu, kehadiran Jingga yang sungguh tidak terduga, bersama matanya yang begitu indah tak pelak membuat Biru berani mematahkan janji suci setia sehidup semati yang dulu pernah ia ucapkan dengan lantang di depan Ayahnya berikut para saksi.

****
Jingga menatap Biru yang terlelap di sampingnya. Wajahnya diliputi kedamaian dan sukacita yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bila teringat kembali percintaan mereka barusan, Jingga tak akan ragu megatakan bahwa sudah sejak lama Biru memendam dan kehausan. Kini, menatap wajah pria tampan itu, kepuasan dan kebanggaan diri terasa meletup-letup dalam dirinya. Tak pernah Biru ketahui, bahwa sudah sejak lama ia memendam cinta yang begitu besar pada pria itu. Cinta yang terhalang karena kehadiran Ungu, wanita kaya raya yang cantik dan dipuja bahkan sejak mereka masih SMA.

Berbeda dengannya, lebih dikenal sebagai perempuan jelek dan kurang bergaul, Jingga tak pernah punya keberanian untuk mengutarakan cintanya pada Biru, kakak kelas yang begitu dikaguminya. Ketika mengetahui bahwa Biru akhirnya berpacaran dengan Ungu bahkan berakhir menikahinya, Jingga sangat marah. Ia marah pada dirinya dan marah pada kenyataan bahwa Jingga lebih cantik darinya. Apalagi saat ia tak sengaja menguping pembicaraan mereka saat Biru memuji dan memuja mata Ungu yang memang begitu memikat.

Walau demikian, tak ada lagi yang perli dikhawatirkan. Jingga puas dengan dirinya sekarang, puas bahwa Biru telah menjadi miliknya tanpa perlu ia minta. Membuat ia tak menyesal telah membayar mahal perampok-perampuk itu lima tahun lalu. Perampok yang telah berhasil membawakan mata Ungu beserta cinta Biru untuknya.

Selasa, 14 Februari 2017

,
Judul Buku: Marriage of Convenience
Penulis: Shanti
Penerbit: PT. Elexmedia Komputindo
Tahun Terbit: 2015
Editor: Afrianty P. Pardede
ISBN: 978-602-6909-2
Rating: 3/5

-Khrisna-
Aku menatap lembaran kertas di tanganku, berusaha memahami isinya. Oh.... bukan, aku paham betul apa isinya. Lebih tepatnya, sih, berusaha keras untuk menerima isinya. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Khrisna Satya Sangkala, tidak akan pernah merasakan indahnya menjadi seorang Ayah.

-Dita-
Aku menatap rintik hujan yang semakin menderas. Tidak berniat sedikit pun untuk beranjak dari bangku taman yang kududuki sejak tiga jam yang lalu. Berharap butiran hujan bisa membantuku menghapus rasa sakit itu. Di sini, di dadaku. Dan di sini... aku meraba perlahan. Yah, Nak..! Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Anindita Sahaja akan menjadi single mother.

****

Khrisna dan Dita, dua sahabat yang dirunduk duka dan masalah. Sebagai seorang laki-laki, memiliki keturunan tentu adalah suatu kebanggaan. Sayangnya, Khrisna harus menerima fakta bahwa ia takkan pernah bisa merasakan kebangaan itu. Berbagai macam jenis pengobatan dan dokter berbeda sudah ia temui, tapi hal itu tetap berubah. Ia tetap nyaris tak memiliki kesempatan menjadi seorang Ayah. Azoospermia seolah merenggut semua kebanggan laki-laki dalam dirinya. 

Sementara itu, Dita, tentu saja menjadi seorang Ibu adalah impian setiap wanita. Anugerah paling besar yang telah Tuhan berikan. Tapi bagaimana jika anugerah itu justru mendatangkan kesakitan yang mendalam? Ditinggalkan sang kekasih yang tak bertanggungjawab, Dita harus bersiap dengan segala pertanyaan pun risiko menjadi wanita yang hamil di luar nikah.

Namun, takdir berkehendak lain. Pernikahan sahabtnya, Arimbi yang tak lain adalah adik kandung Khrisnya - yang juga sahabatnya semasa SMA namun sudah berpisah bertahun lamanya mengubah segalanya. Sebuah pernikahan berkedok simbiosis mutualisme antara dirinya dan Khrisna pun dilaksanakan walau tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali Bima, sahabat kental Khrisna. Hanya saja, satu hal yang tak Dita ketahui, bahwa Khrisna sudah lama memendam perasaan cinta padanya.

****

Walau nggak pernah melihatnya di Wattpad, saya yakin buku ini adalah buku yang terbit setelah mejeng disana. Saya cukup kenal dengan cerita-cerita karya Mbak Shanti karena saya juga adalah penggemarnya sejak beliau masih nulis di Wattpad. Dan semua karyanya selalu saya sukai. Konfliknya sederhana namun entah mengapa selalu bisa membuat saya terpesona. Mbak Shanti berbakat banget deh bikin saya baper.

Sama seperti membaca buku ini, baper banget bacanya apalagi Khrisna adalah sosok yang amat perhatian. Saya juga mauuuu diperhatikan dan dicintai seperti Dita haha

Walau begitu, untuk buku ini saya merasa eksekusinya kurang greget. Dan konfliknya yang tadinya nyaris mengarah ke drama keluarga, malah berjalan mulus dan tidak begitu nendang. Ekspektasi saya nggak terwujud seperti saat baca buku tulisan Mbak Shanti lainnya. Tapi, pergantian POV antara Khrisna dan Dita bikin buku ini enak dan asyik banget buat dibaca. Kita jadi bisa memandang cerita dari dua sisi yang berbeda. Jadinya nggak ada tokoh yang jadi korban kekesalan. 

Sabtu, 04 Februari 2017

,
Judul Buku: Lady of Scandal - Wanita Penuh Skandal
Penulis: Tina Gabrielle
Penerbit: PT. Elexemedia Komputindo
Terbit: 2009 (Zebra Books) By Kenington Publishing Corp.
Alih Bahasa: Shinta Damayanti
Terbit di Indonesia: 2012
Genre: Historical Romance
ISBN: 978-602-00-2653-4

Victoria Ashton memiliki kecerdasan dan ambisi - kualitas nilai yang kecil bagi kebanyakan kalangan yang berambisi pada perkawinan. Tidak ada yang tahu, bahkan Ayahnya sendiri, mengenai kehidupan rahasia Victoria sebagai pedagang anonim di pasar saham London. Impiannya akan kemandirian runtuh ketika Ayahnya, Chalres Ashton, meyerahkan dirinya demi perpanjangan waktu pelunasan hutangnya kepada Blake Mallorey.

Selama bertahun-tahun Blake telah memimpikan keadilan, dan rencananya menjadi terasa lebih manis ketika ia menyadari keindahan yang tumbuh dalam diri Victoria. Mungkin ia memang bajingan, tapi ia tidak akan pernah memaksa wanita ke tempat tidurnya. Dia berencana mendorong Victoria, satu ciuman menggoda setiap kali. Tapi, rencananya terancam berantakan, karena ternyata gairah bekerja dua arah - dalam gerakan yang susah dimengerti - hingga rencana balas dendam bisa menjelma menjadi gairah penuh skandal....

****

Membaca novel romance terjemahan memang selalu berbeda rasanya dengan membaca novel terbitan Indonesia. Bukan bermaksud meremehkan dunia kepenulisan Indonesia, menurut saya pribadi Indonesia adalah negeri yang kaya dengan bakat anak muda dan penerusnya yang nggak bisa dianggap remeh. Hanya saja, novel dengan genre historical romance terbitan Indonesia masih sedikit yang saya baca sehingganya membaca karya penulis luar selalu memberikan kesan tersendiri.

Novel ini memuat kisah dan konflik yang rumit, melibatkan hal yang sudah banyak menjadi kontroversi dallam kehidupan sehari-hari dalam hal ini kesetaraan gender dan perlakuan serta penilaian terhadap ketangkasan dan kecerdasan kaum perempuan walau hanya secara tersirat, namun bagaimana kaum wanita pada masa 1800-an yang digambarkan dalam buku ini, dengan setting kota London - diperlakukan dan diberi nilai sungguh sedikit banyak membuat saya merasa sedih. Walau tidak secara terang-terangan dikatakan sebagai makhluk yang tak bisa apa-apa, perempuan yang tak diizinkan mengikuti dunia perdagagan ataupun aktivitas lain yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi dan politik jelas adalah sinyal bahwa pada masa itu laki-laki adalah makhluk yang paling memiliki power dalam kehidupan sehari-hari.

Lewat buku ini, penulis terlah berhasil menyampaikan pesan yang amat berharga tentang bagaimana cara memandang dan menilai kecerdasan kaum perempuan. Walau bergenre romance, buku ini melibatkan dunia perdagangan dalam skala yang besar pada masanya, mulai dari kebutuhan pokok hingga saham dan surat-surat berharga. Tentu saja, penulisnya adalah seseorang yang paham dengan kegiatan ekonomi atau minimal melakukan riset terlebih dahulu dalam bidang ini.

Buku ini juga membuat saya perbikir bahwa pedagang dan dunia perdagangan sudah menyandang kata keren sejak lama. Walau eksekusinya kurang greget untuk jenis konflik yang berat dalam hal ini dendam kesumat yang diikuti oleh beberapa kepentingan politik dan ketamakan yang mendarah daging, buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Materi perekonomiannya tidak membosankan dan membuat saya jadi ingin mencoba untuk menjadi bagian dari hal-hal yang berkaitan dengan saham dan perpialangannya (?). :D