![]() |
Sumber Gambar |
Lebaran
adalah momen bahagia bagi yang merayakannya, serta perwujudan dari indahnya
berkumpul bersama keluarga. Begitu pun saya, lebaran dan berkumpul bersama
keluarga adalah paket lengkap yang selalu saya nantikan sejak delapan tahun
lalu. Sebagai seseorang yang dituntut untuk hidup mandiri dan berdiri sendiri,
saya sudah lama tidak tinggal satu atap secara menetap bersama kedua orang tua
saya. Satu-satunya momen di mana saya dapat berkumpul bersama mereka beserta
kelaurga besar adalah saat Hari Lebaran.
Khusus
lebaran tahun ini, segala hal seperti tahun-tahun sebelumnya, terasa
menyenangkan (bahkan hanya membayangkan packing
untuk pulang) namun juga terasa sulit dan sibuk di saat yang bersamaan.Satu
minggu mejelang hari lebaran saya sudah merencanakan kepulangan, apa saja yang
saya butuhkan untuk menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam
Gorontalo-Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), serta apa saja yang akan saya
lakukan setibanya di rumah. Saya pulang tepat H-3 lebaran dan menurut saya itu
cukup untuk beristirahat setelah perjalanan jauh dan membantu Mama saya
menyiapkan segala keperluan untuk hari H, termasuk menemani adik saya yang
masih kecil untuk berbelanja dan mengajaknya jalan-jalan entah itu ke pantai,
air terjun atau pemandian air panas dan tentu saja tidak lupa silaturahmi ke rumah-rumah
saudara.
Akan
tetapi, bukannya menikmati detik-detik kepulangan dengan santai, kesibukan
pekerjaan saya justru meningkat drastis. Tepat satu minggu sebelum pulang, saya
mendapat permintaan khusus dari salah satu atasan untuk membenahi pekerjaan –
yang menurut saya ditangani dengan sangat berantakan, laporan penting yang akan
digunakan untuk kepentingan pemeriksaan dari pihak yang berwenang. Awalnya,
saya sedikit keberatan, apalagi itu adalah pekerjaan yang siklusnya mencapai
satu tahun operasional, tapi menolak juga tidak enak. Jadi, setiap malam
setelah menunaikan shalat tarawih saya dihadapkan pada tumpukan berkas yang
menyakitkan (kala melihatnya) setelah siangnya juga berhadapan dengan dokumen-dokumen
pekerjaan saya di kantor.
Melelahkan
sekali! Namun, saya tidak menyangka bahwa atasan saya memberikan reward khusus atas kesediaan saya untuk
membantu beliau. Meskipun pekerjaannya melelahkan, membuat saya masih harus
bersibuk ria bahkan satu jam menjelang keberangkatan, bayangan bahwa akan
segera pulang dengan tambahan reward dan
rencana liburan sedikit banyak menyuntikkan semangat untuk saya.
Sesampainya
di rumah, bukannya istirahat dengan rencana liburan dan silaturahmu yang
disusun jauh-jauh hari, Mama saya malah menyambut dengan mentega, gula, tepung
dan beberapa bahan lainnya yang belum disulap menjadi kue lebaran yang
menggirukan. Tidak ada rasa keberatan, yang ada justru perasaan rindu. Sudah
sejak lama saya tidak ikut berpartisipasi di rumah dalam membuat kue lebaran,
salah satu momen terbaik bersama Mama saya yang hanya bisa saya rasakan setahun
sekali, bahkan terkadang tidak sama sekali.
Tanpa
protes, saya membantu beliau untuk menyiapkan kue lebaran, tanpa melupakan
kebutuhan berbelanja adik perempuan saya satu-satunya yang masih duduk di
bangku kelas I SD. Dia sudah belanja sih tapi
shopping bersama kakak adalah hal
yang sudah dia wanti-wanti bahkan sebelum saya pulang.
H-1
lebaran saya bersama Mama, Papa juga Adik saya akhirnya berbelanja bersama.
Menyenangkan sekali, seru sekali apalagi saat memilih baju untuk Adik saya yang
gendut itu, namun sayang, belum lama kami berbelanja, kami mendapat kabar bahwa
Paman saya mengalami kecelakaan malam itu, rencana liburan pun batal malam itu
juga.
Keesokan
harinya, kami sekeluarga hanya menunaikan shalat Ied berjamaah di masjid dekat
rumah, kemudian menyambut beberapa tamu yang datang. Sisanya, saya habiskan
dengan tidur-tiduran. Tidak boleh jalan-jalan karena Paman saya baru saja
terkena musibah. Sesekali saya mendapat kesempatan untuk silaturahmi ke rumah
beberapa saudara yang tinggal cukup jauh dari rumah, tapi hanya sebatas itu
saja. Variasinya hanya pada Arisan Keluarga yang memang selalu dilaksanakan dua
tahun sekali bergantian di rumah anggota keluarga besar, yang ditujukan sebagai
sarana perkenalan antara para cucu ataupun cicit yang belum pernah bertemu.
Namun,
meski hanya menghabiskan waktu lebaran di rumah, saya tetap merasa bersyukur
karena masih diberi kesempatan untuk bertemu anggota keluarga khususnya kedua
orang tua saya yang tidak lagi muda. Meski tidak ada jalan-jalan seperti
tahun-tahun sebelumnya, cand tawa bahagia tetap memenuhi suasana lebaran tahun
ini. Hal ini memberikan saya satu pelajaran bahwa lebaran tidak selamanya harus
diisi oleh liburan di luar rumah, tetapi juga dapat digunakan sebagai momen quality time bersama orang-orang
terdekat, serta juga dapat digunakan sebagai hari untuk mengambil jeda dan
beristirahat dari segala kesibukan pekerjaan yang setiap hari menuntut perhatian.
Hari Hijaber Nasional: 7 Agustus 2016 s/d 8 Agustus 2016, Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng - Jakarta Pusat |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar