Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2019

,
Sumber Foto
 Judul: Insya Allah Sah
Sutradara: Benni Setiawan
Produser: Manoj Punjabi
Penulis: Benni Setiawan
Musik: Aghi Narottama, Bemby Gusti
Perusahaan Produksi: MD Pictures
Tanggal Rilis: 25 Juni 2017
Negara: Indonesia
Bahasa Indonesia
Pemeran:
Pandji Pragiwaksono as Raka
Titi Kamal as Silvi
Richard Kyle as Dion
Donita as Kiara
Ferdy Taher as Tommy
Joe P Project as Jody
Budi Dalton as Dony
Budi Arab as Ipank
Ira Maya Sopha as Tante Sinta
Tanta Ginting as Polisi Sabar Ikhlas
Deddy Mizwar as Ayah Silvi
Prilly Latuconsina as Silvi
Marcella Zalinaty as Istri Pejabat
Happy Salma as Anna
Fitri Tropica as Manajer Gedung Wanita
Lydia Kandou as Ibu Silvi
Bayu Skak as Anto
Gary Iskak as waria
Arie Untung as Andi
Ardit Erwandha as driver ojek online
Karina Suwandi as Mama Dion
Alexa Key as Diah

Credit: Wikipedia 

Suatu hari, saat Silvi berkunjung ke kantor Dion, kekasihnya, ia terjebak di dalam lift bersama seorang laki-laki aneh yang doyan berdakwah, Raka namanya. Dan, namanya orang kena musibah, secara otomatis Silvi jadi ingat Tuhan, di samping memang ada Raka yang tergolong sebagai seseorang yang religius. Di dalam lift yang mati, Silvi pun bernadzar.
"Ya Allah jika Engkau memberikan hamba kesempatan hidup, hamba janji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hamba nggak akan minum alkohol lagi. Hamba akan memberikan sebagian penghasilan ke anak yatim. Hamba akan shalat dan puasa. Jika hamba diberikan kesempatan hidup lagi, hamba berjanji akan menaati perintahMu dan menjauhi laranganMu, dan hamba berjanji akan menjadi muslimah yang soleha."
Setelah itu, lift pun terbuka, Silvi dan Raka selamat, dan ia sukses dilamar Dion di depan karyawan-karyawan kantornya. Tapi ternyata, kesialan Silvi tidak berhenti hanya pada lift mati. Persiapan pernikahannya bersama Dion justru mengalami hal yang lebih parah, banyak hambatan, tentu juga kemunculan Raka yang lebih sering mengekori hidupnya sejak ia mengucapkan nadzarnya.

Film ini adalah film bergenre drama-komedi plus religi. Karena meskipun banyak hal-hal konyol di dalam, film ini juga mengandung niai syi'ar dan tausiyah kalau menurut saya pribadi. Walaupun syi'ar tersebut hanya datang dari Raka sebagai reminder bagi Silvi. Reminder tak diinginkan yang lebih sering terasa mengganggu.

Cerita yang paling dominan mengisi film berdurasi satu jam lebih sekitar 20 menit ini adalah persiapan pernikahan Silvi dan Dion dan berbagai tetek bengeknya. Yang paling menonjol adalah pengurusan gedung pernikahan yang selalu tidak bisa sesuai dengan tanggal cantik yang sudah mereka tentukan. Jadi semacam reminder juga sebenarnya buat kita bahwa menikah itu nggak gampang. Mempersipkan pernikahan adalah waktu yang teramat krusial bagi dua orang yang berencana menikah. Ada saja hambatan, ada saja godaan, yang seolah menjadikan pernikahan itu sebagai sesuatu yang nggak seharusnya terlaksana. Soalnya terlalu banyak cobaannya, jadi kayak mungkin nggak jodoh makanya nggak pernah ada yang berjalan mulus. Dan, dari sinilah mental pasangan tersebut diuji.

Tapi, walau ceritanya banyak porsi tentang mengurus pernikahan, main idea film ini bukan pada proses menuju pelaminannya Dion Silvi. Lebih kepada menunaikan janji. Makanya saya bilang kalau filmnya juga bergenre religi. Raka, sebagai salah satu karyawan Dion, adalah seseorang yang amat religius dalam kesahariannya. Dan, karena ia menjadi saksi nadzar dan janji Silvi saat terjebak di lift, ia menjadi punya kewajiban untuk mengingatkan Silvi akan janji tersebut. Ada banyak pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam film ini. Baik secara tersirat, maupun secara gamblang disebutkan dengan mengutip beberapa ayat dalam Al-Qur'an.

Saya suka filmnya. Suka banget malah. Nggak hanya mengibur tapi juga memberikan manfaat bagi penontonnya. Satu pesan penting yang amat ditekankan dalam film ini; bahwa menepati janji itu wajib hukumnya, dan mengingatkan janji orang lain juga memiliki kedudukan yang sama. Karena sejatinya, ketika mengucap janji, kita sudah membuat kesepakatan tak tertulis untuk berbisnis dengan Tuhan. Dan, hukumnya wajib untuk ditepati. 
,
Sumber Foto
Judul: Kartini
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny
Skenario: Hanung Bramantyo, Bagus Bramanti
Cerita: Robert Ronny
Musik: Andi Rianto, Charlie Meliala
Sinematografi: Faozan Rizal
Penyunting: Wawan I. Wibowo
Perusahaan Produksi: Legacy Pictures, Screenplay Films
Tanggal Rilis: 19 April 2017
Durasi: 122 Menit
Negara: Indonesia
Bahasa: Bahasa Jawa, Bahasa Belanda, Bahasa Indonesia
Pemain:
 Dian Sastrowardoyo as Raden Adjeng Kartini
Neysa Chan as Raden Adjeng Kartini Kecil
Deddy Sutomo as Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat
Christine Hakim as M.A. Ngasirah
Nova Eliza as M.A Ngasirah Muda
Djenar Maesa Ayu as Raden Adjeng Moeriam
Acha Septriasa as Roekmini
Ayushita as Kardinah
Reza Rahadian as Sosrokartono
Adinia Wirasti as Soelastri
Denny Sumargo as Slamet
Dwi Sasono as Raden Adipati Joyodiningrat
Rianti Cartwright as Wilhelmina

Credit: Wikipedia

Film ini adalah film biografi yang mengangkat kisah salah satu pahlawan perempuan Indonesia Raden Adjeng Kartini. Menceritakan latar belakang kehidupan Kartini sejak ia masih kecil hingga kemudian mendirikan sekolah gratis bagi perempuan dan orang-orang miskin.

Raden Adjeng Kartini adalah putri Bupati Raden Mas Adipati Sosroningrat bersama seorang perempuan bernama Ngasirah. Mengikuti adat dan budaya Jawa, Kartini sebagai perempuan tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan. Ia hanya perlu berada di rumah sampai saatnya nanti dipingit lalu kemudian dipinang oleh lelaki sebagai istri pertama, kedua, ketiga, atau bahkan seterusnya. Kartini pun demikian. Bersama saudara-saudaranya Kardinah dan Roekmini, mereka pun menjalani pingitan. Namun, sifat pemberontak yang sudah ada pada dirinya sejak ia masih kecil tetap tertanam hingga ia beranjak remaja bahkan dewasa.

Sebelum berangkat menempuh pendidikan di luar negeri, salah satu kakak laki-laki Kartini yang bernama Sosrokartono meninggalkan beberapa buku yang akan membuat Kartini melihat dunia luar bahkan tanpa perlu meninggalkan kamar pingitannya. Dari sinilah keinginan Kartini untuk belajar dan menempuh pendidikan bermula. Lewat buku yang ditinggalkan Sosrokartono, ia mampu menatap dunia yang tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini.

 Film ini adalah film beraliran feminis. Selain penekanan terhadap tokoh utamanya, dalam hal ini Raden Adjeng Kartini sendiri, film ini juga memuat kisah tentang memperjuangkan hak-hak perempuan. Memang, dalam hal ini, budaya yang amat ditekankan adalah budaya Jawa, mengingat Raden Adjeng Kartini sendiri adalah seorang wanita berdarah Jawa. Hanya saja, meski belum pernah mendengar kisah tentang perjuangan hak perempuan terutama dalam menempuh pendidikan dan mendapat tempat serta kedudukan yang sama di dalam bermasyarakat dalam budaya saya, tetap saja saya berterima kasih sekali kepada Raden Adjeng Kartini. Karena, jika melihat sekeliling, meski mungkin sudah tidak nampak, pada beberapa lapisan masyarakat, hak perempuan masih menjadi hal yang tabu. Walau tidak lagi seperti dulu, tetap saja kita masih bisa menemukan pembatasan-pembatasan tingkat bagi perempuan dalam menempuh pendidikan; contoh paham yang mengatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi atau tidak perlu menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi karena ujung-ujungnya akan menjadi ibu rumah tangga juga. Oleh karena itu, film ini seperti memberi rasa kesyukuran yang teramat bagi saya, karena kini, saya bisa bersekolah tanpa dibatasi di jenjang pendidikan tertentu saja.

Namun demikian, perjalanan Kartini, kalau dilihat dari flm ini, tidak sepenuhnya berjalan hanya karena usahanya sendiri saja. Memiliki Ayah seorang Bupati yang paham pendidikan, serta Ibu yang meski tidak sekolah tinggi, namun berpandangan luas, menjadi keuntungan tersendiri bagi Kartini untuk memperjuangkan impiannya. Terlebih, sang suami yang kemudian melamarnya juga tidak keberatan. Walaupun memang ada banyak hambatan yang ia temui sebelumnya.

Film ini cukup menguras air mata. Para pemerannya juga juara sih, bisa dibilang bertabur bintang. Berisi aktor dan aktris yang memang sudah malang melintang di industri perfilman. Secara kesleuruhan, film ini tidak hanya menceritakan tentang perjuangan hak perempuan namun juga mengajak kita semua untuk memahami pentingnya pendidikan. Seperti kata Ayah Kartini, suatu saat pasti akan ada perubahan, dan kita yang harus memulainya. Salah satu caranya, meski secara tersirat dijelaskan adalah dengan memberikan dan mencari pendidikan. Secara tidak langsung pula, pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan formal yang dapat kita temui di bangku sekolah, tapi juga pendidikan yang bisa kita dapatkan dan usahakan sendiri yakni dengan memperbanyak membaca.

Film ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa utamanya. Dan, saya terkesan sekali dengan akting para pemainnya terutama Dian Sastro. Saya nggak bisa bahasa Belanda, tidak bisa menilai apa bahasa Belandanya fasih atau nggak, tapi saya suka. Rasanya juga malah tertarik buat belajar. Dijajah selama kurang lebih 450 tahun, kayaknya sih adalah hal yang wajar kalau ikut mempelajari bahasanya juga. Karena sudah barang tentu, ada sejarah bangsa kita yang ditulis dalam Bahasa Belanda.

Kemdudian, karena pada zamannya pendidikan memang masih diberikan oleh orang Belanda, jadi dapat kita lihat juga bahwa ada aliran modern yang masuk ke dalam kisah Kartini ini. Tapi, satu pertanyaan Ngasirah terhadap Kartini menjadi nasihat yang begitu baik untuk kita ambil.

"Ilmu apa yang sudah kamu pelajari dari aksara Londo?"
"Kebebasan."
"Dan apa yang tidak ada dalam aksara Londo?"
"Nil tidak tahu."
"Bakti..." 
Menjadi pesan yang teramat jelas bahwa sejauh apa pun kita menuntut ilmu, setinggi apa pun ilmu itu kita junjung, kita tidak boleh melupakan budi pekerti dan nilai-nilai luhur yang sudah ditanamkan sejak lama. 

Minggu, 03 Februari 2019

,
Sumber Foto
Judul: Crazy Rich Asians
Produser: Nina Jacobson, Brad Simpson, John Penotti
Skenario: Peter Chiarelli, Adele Lim
Berdasarkan: Kaya Tujuh Turunan oleh Kevin Kwan
Musik: Brian Tyler
Sinematografi: Vanja Cernjul
Penyunting: Myron Kerstein
Perusahaan Produksi: SK Global Entertainment, Starlight Culture Entertainment, Color Force, Ivanhoe Pictures, Electric Somewhere
Distributor: Warner Bros. Pictures
Tanggal Rilis: 7 Agustus 2018 (TCL Chinese Theatre), 15 Agustus 2018 (Amerika Serikat), 11 September 2018 (Indonesia)
Durasi: 120 menit
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Pemain:

Constance Wu as Rachel Chu
Sumber Foto

Henry Golding as Nicholas Young
Sumber Foto

Crazy Rich Asians adalah sebuah film yang diangkat dari novel karya Kevin Kwan yang berjudul Kaya Tujuh Turunan. Berkisah tentang Rachel Chu, seorang profesor di bidang ekonomi yang masih sangat muda. Ia cantik, cerdas, dan berpacaran dengan Nicholas Young atau yang akrab disapa Nick, pewaris utama kekayaan keluarga Young yang sudah terkenal di berbagai belahan dunia. Awalnya, Rachel tidak tahu tentang identitas Nick yang sebenarnya sampai tiba saatnya Nick membawa serta Rachel pulang ke Singapura untuk menghadiri pernikahan sahabatnya.

Sebagai gadis cantik yang juga cerdas, Rachel tidak menemui kesulitan dalam memperkenalkan diri atau pun berbaur dengan keluarga Nick. Hanya saja, sejak perkenalan pertama, Rachel sudah dapat mendeteksi bahwa ibu kandung Nick tidak menyukainya, dengan alasan Rachel 'terlalu Amerika' untuk Nick. Selain penolakan secara halus dari ibu kandung Nick, Rachel juga tidak disukai banyak teman-teman Nick terutama di kalangan para gadis. Ia memang pantas dicemburui, tapi bukan hal itu yang menjadi masalah utama. PR yang ditemu profesor cantik ini begitu tiba di Singapura adalah bagaimana cara mendapatkan restu dari orangtua Nick.

Secara konflik, konflik dalam film ini sudah amat lazim dan banyak ditemukan dalam banyak cerita-cerita film lain, buku, FTV, drama Korea, bahkan sinetron di Indonesia. Ketika wanita biasa menjalin hubungan dengan lelaki kaya raya sejak zaman nenek moyangnya, maka yang akan menjadi kendala dalam hubungan mereka adalah restu. Mata duitan sudah barang tentu akan melekat sebagai nama belakang si wanita. Dalam film ini, karena Rachel adalah wanita kuat, cerdas dan berpendidikan, ditambah lamanya ia menjalani kehidupan dalam dunia modern, hal itu justru menjadi tantangan, bukan hambatan. Dan, buat saya ini yang menjadikan film ini menarik dan asyik buat ditonton. Nick dan Rachel tidak main kucing-kucingan dengan orangtua Nick. Ia juga tidak merasa terintimidasi ataupun berkecil hati hingga bersedih dengan perlakuan teman-teman Nick yang di luar batas. Bisa dibilang, Rachel menjadi karakter favorit saya dalam film ini.

Kemudian, karena film ini mengambil cerita yang condong dengan budaya dan ras tertentu, dalam hal ini China, beberapa budaya juga masih diselipkan. Dan juga fakta, bahwa dimana-mana beberapa paham konvensional memang masih sangat melekat dalam diri manusia. Di Indonesia contohnya, paham bahwa perempuan tidak perlu memliki pendidikan tinggi karena ujung-ujungnya juga akan menjadi ibu rumah tangga masih banyak dianut oleh beberapa orang. Walaupun memang paham tersebut terbantahkan dengan fakta bahwa tingkat kecerdasan pada anak sebagian besar diturunkan dari ibunya, sehingga sang ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya, wajib memiliki pendidikan. Dalam film ini, penolakan terhadap Rachel Chu yang sebenarnya sangat ideal sebagai seorang ibu, selain menghormati keluarga calon suaminya dan mencintai Nick, ia adalah seorang profesor ekonomi di usianya yang masih sangat muda, adalah alasan bahwa ia 'terlalu Amerika'. Ibu Nick meninggalkan kuliahnya di bidang Hukum agar bisa membantu suaminya mengelola perusahaan, sementara Rachel dianggap tidak akan mampu mengikuti jejak tersebut, karena terlalu Amerika, terlalu liberal, terlalu modern pemikirannya dan mungkin terlalu berpendidikan. Jadi, bisa kita lihat, bahwa tidak hanya di Indonesia, paham dan pemikiran konvensional juga masih berlaku di negara lain.

Selanjutnya, karena filmnya bercerita tentang laki-laki kaya yang jatuh cinta dengan wanita biasa saja, bintang yang paling bersinar dalam cerita ini mungkin adalah Nicholas Young, si pria kaya dengan banyak penggemar di mana-mana. Jadi, kehidupan yang ditunjukan, walau tidak terlepas dari paham konvensional yang saya sebutkan di atas, adalah kehidupan glamor penuh kemewahan. Dan itu juga tercermin dari teman-teman Nick. Unsur sinematografi dalam film ini juga membantu banget dalam menampakkan hal tersebut.

Secara keseluruhan, saya suka banget sama ceritanya, sama filmnya, dan jadi super pengen baca novelnya juga. Filmnya seru, ada sedikit komedinya juga dan sudah pasti romantis dan asyik untuk dinikmati. Satu hal yang saya petik dari buku ini; jadilah perempuan yang cerdas dan tangguh dalam menghadapi penolakan. Dan ketika kita ditolak oleh seseorang karena kecerdasan dan ketangguhan yang kita miliki, tidak perlu bersedih. Karena sudah pasti mereka yang akan menyesal nanti.
,
Sumber Foto
Judul: Brother of The Year
Pengarah: Witthaya Thongyooyong
Penerbit: Jira Maligol, Vanridee Pongsittisak
Penulis: Witthaya Thongyooyong, Nontra Kumwong, Tossaphon Riantong, Adisorn Trisirikasem
Penyunting: Vijjapat Kojiw, Thammarat, Sumethsupacok
Tanggal Rilis: 10 Mei 2018 (Thailand), 28 Juni 2018 (Malaysia)
Durasi: 128 Menit
Negara: Thailand
Bahasa: Thailand, Inggris, Jepang
Pemain:

Urassaya Superbund as Jane
Sumber Foto

Sunny Suwanmethanon as Chut
Sumber Foto
Nickhun as Moji
Sumber Foto
Film ini menceritakan tentang kakak beradik Chut dan Jane yang sejak kecil selalu bertolak belakang dalam hal kecerdasan. Sejak masih di bangku sekolah, Jane selalu lebih unggul daripada Chut, kakak laki-lakinya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, Jane kembali ke Thailand dan bergabung dengan salah satu perusahaan iklan dimana Moji yang diperankan oleh Nickhun juga bekerja di sana. Namun, setelah terpisah kurang lebih 4 tahun, Chut dan Jane kembali bersinggungan dalam hal ini dalam bidang pekerjaan. Perusahaan tempat Chut bekerja adalah salah satu perusahaan yang mengajukan tender iklan di perusahaan tempat Jane dan Moji bekerja.

Sejak lama tidak kompak. Chut dan Jane selalu mengalami konflik. Konfliknya masih tergolong biasa saja sebenarnya, tapi menjadi berbeda ketika Chut mengetahui hubungan Moji dan Jane. Chut tidak merestui mereka berpacaran, apalagi sampai menikah.

Satu lagi film komedi Thailand yang saya tonton. Jujur saja, film komedi Thailand selalu menjadi favorit saya sejak lama. Bukan hanya karena kisahnya yang unik, tapi tingkah konyol karakter-karakter di dalamnya juga sangat menghibur.

Akan tetapi, dalam film ini kekonyolan itu agak terasa kurang. Memang komedinya tetap ada dan tetap bercita rasa Thailand, hanya saja, konflik keluarga dalam hal ini konflik Jane dan Chut lebih mendominasi. Jadinya, porsi dramanya agak terasa lebih dominan. Selain itu, karakter Moji yang dibuat sebagai pria keturunan Jepang yang mengharuskan beberapa percakapan menggunakan bahasa Jepang bikin filmnya jadi kayak kurang enak untuk dinikmati. Saya nggak bisa bahasa Jepang sih, tapi, karena saya juga salah satu penikmat anime akhirnya jadi agak merasa kalau bahasa Jepang yang digunakan dalam film ini terdengar kaku dan tidak fasih.

Meski begitu, saya suka dengan bagaimana kasih sayang antara Chut dan Jane. Tertutup oleh pertengkaran demi pertengkaran sejak kecil, mereka seolah seperti tikus dan kucing. Namun demikian, tidak peduli bagaimana menyebalkannya Chut, Jane tetap menyayanginya. Begitu pun tidak peduli seberapa mengintimidasinya Jane dengan kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki sebagai seorang adik perempuan, Chut tetap peduli padanya. Ini menjadi semacam pesan tersirat kepada penonton bahwa seburuk apapun hubungan kita dengan saudara kita, percayalah, sesungguhnya mereka adalah orang yang paling peduli terhadap diri kita.


Jumat, 25 Januari 2019

,
Sumber Foto
Judul: Sierra Burgess is a Loser
Sutradara: Ian Samuels
Produser: Thad Luckinbill, Trent Luckinbill, Molly Smith, Rachel Smith
Penulis: Lindsey Beer
Musik: Leland, Bram Inscore
Sinematografi: John W. Rutland
Penyunting: Andrea Bottigliero
Perusahaan Produksi: Black Label Media
Distributor: Netflix
Rilis: 7 September 2018 (Amerika Serikat)
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Pemain:

Shannon Purser as Sierra Burgess
Sumber Foto

Kristine Froseth as Veronica
Sumber Foto

RJ Cyler as Dan
Sumber Foto

Noah Centineo as Jeremy
Sumber Foto


Film ini menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Sierra Burgess yang amat pintar dalam bidang pendidikan serta memiliki bakat seniman namun tidak populer di sekolahnya. Berbanding terbalik dengan Veronica, pemandu sorak yang cantik, amat santik bahkan dan juga teramat populer di sekolahnya.

Suatu malam Sierra mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Pengirim pesan tersebut ternyata adalah seorang laki-laki tampan sekaligus cerdas bernama Jeremy. Sierra tidak tahu dari mana Jeremy mendapat nomornya, hanya saja ia nyaman saat bertukar pesan mau bicara lewat telepon dengannya Jeremy adalah tipe laki-laki menyenangkan dan juga asyik untuk diajak bertukar pikiran.

Namun, hal itu terusik oleh fakta bahwa Jeremy mengira dirinya adalah Veronica, si pemandu sorak terkenal di sekolah yang entah bagaimana ceritanya teramat membencinya. Well, di banyak sekolah seorang nerd memang sering dibenci tanpa sebab. Akan tetapi, salah alamat nomor telepon itu justru membangun kedekatan antara Sierra dan Veronica yang notabenenya adalah sepasang musuh.

Dari segi konflik, konfliknya sederhana. Kisah cinta remaja SMA. Tapi, yang agak berbeda dari film ini adalah Sierra adalah seorang nerd yang tidak bisa dibully atau dikerjai sesuka hati. Ia adalah tipe gadis tidak cantik dari segi fisik tapi cerdas, berbakat dan tidak mudah disakiti. Hal kedua yang menarik adalah keberadaan orangtua Sierra sebagai dua penulis berbakat yang punya begitu banyak pembaca dan penggemar. Memang ini menjadi seidkit tekanan bagi Sierra yang meskipun cerdas tapi tidak punya penggemar seperti orangtunaya, tapi disinilah ketahanan mentalnya diuji apakah mampu tidak menempatkan dirinya dalam berkat yang dimiliki kedua orangtuanya dan mengandalkan kualitas diri sendiri.

Ceritanya sederhana, tapi ada pelajaran tersirat yang dapat dipetik di dalamnya. Bahwa kecantikan tidak selamanya diukur dari segi fisik semata, pesan-pesan tentang persahabatan dan arti menjaga kepercayaan, dan bahwa sebagai manusia, kita harus menempa diri untuk terus meingkatkan kualitas yang kita miliki. Filmnya cocok banget untuk remaja deh.




Rabu, 24 Januari 2018

,
Title: ReLIFE
Directed By: Takeshi Furusawa
Based on: ReLIFE By Yayoiso
Production Company: C&I Entertainment, Culture Entertainment, Dentsu, Earth Star Entertainment, NHN Comico, Nippon Shuppan Hanbai (Nippan) K.K, Parco Co.,Ltd, Shociku, TMS Entertainment
Distributed By: Shociku
Release Date: 15 April 2017
Country: Japan
Language: Japanese
Casts:


Taishi Nakagawa as Kaizaki Arata & Yuna Taira as Hishiro CHizuru

Takasugi Mahiro as Kazuomi Ohga

Elaiza Ikeda as Kariu Rena

Yudai Chiba as Yoake Ryo

Sae Okazaki as Onoya Ann

Seperti yang para pencinta Jejepangan tahu bersama, beberapa manga keren dan populer kerap diadaptasi jadi anime dan anime dengan rating tinggi biasanya juga diadaptasi ke dalam bentuk film atau yang biasanya disebut Live Action. Begitu pun dengan live action satu ini. ReLIFE berasal dari manga yang cukup terkenal karena keunikan ide cerita yang diangkat. Neet  atau Hikikomori adalah salah satu penyakit 'aneh' yang populer dan banyak menyerang remaja Jepang. Beberapa di antaranya pun sepertinya menyerang orang dewasa. Kalau diperhatikan lewat ciri-ciri yang sering diangkat dalam beberapa serial, neet adaalah orang yang cukup sulit dalam bersosialisasi atau mengalami masalah sosialisasi. Dan, inilah yang diangkat manga ini.

Kaizaki Arata adalah pria dewasa berusia 27 tahun berstatus pengangguran yang terus menerus mendapat penolakan dari perusahaan tempat ia melamar kerja. Kehidupan sosialnya pun sempit, ia kerap dilanda perasaan minder ketika harus bertemu dengan teman-teman masa SMA atau pun kuliahnya. Di suatu malam, ia bertemu dengan seorang pria bernama Yoake Ryo yang mengaku berasal dari salah satu perusahaan yang ingin menawarkan eksperimen terhadapnya. Eksperimen itu mengharuskan Kaizaki Arata untuk menyamar menjadi anak SMA. Eksperimen tersebut bernama ReLIFE. Singkatnya, ia akan mengulang masa SMA untuk melihat kembali apa saja hal yang mungkin sudah ia lewatkan sehingga ia berada pada titik Hikikomori. Eksperimen ini bertujuan untuk mengubah dirinya, mengubah hidupnya.

Saya adalah salah satu penggemar serial manga ini. Sudah sejak lama ngefans dan sudah sejak lama pula berharap manganya dapat adaptasi anime. Seneng banget ternyata tahun lalu animenya keluar dan tambah senang ketika Live Actionnya juga menyusul. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan animenya, saya bisa bilang kalau Live Actionnya kurang ngena. Kenapa? ReLIFE adalah salah satu manga dengan alur lambat tapi menyenangkan dan sangat menonjolkan perkembangan karakter setiap tokohnya. Di anime saya bisa mendapatkan itu walau nggak semua karena animenya emang masih gantung dan bahkan nyaris belum separuh cerita manga. Dalam versi LA-nya, ceritanya cenderung padat dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya nggak berasa, terkesan lompat-lompat. Apalagi ada beberapa perubahan peran dan juga pengurangan karakter. Beberapa poin dan momen penting yang mendukung setiap perubahan yang terjadi pada tokoh utama cerita ini juga hilang. Jadinya, emang kurang greget nontonnya.

Dalam hal kepadatan cerita, saya paham banget kalau dalam LA ini, eksperimen ReLIFE jadi terasa sedikit realistis, tapi agak disayangkan momen-momen berharga dalam hidup Kaizaki Arata jadi nggak nampak. Tapi, bagian liburan sebelum kelulusan mereka saya suka sih. Lebih hidup dibanding ketika dibaca dalam manga dan kalau di anime emang belum sampai bagian ini. Baru sampai Festival Kembang Api jadi emang masih gantung banget. Unsur romansanya juga realistis sih, tapi tetap berasa kurang. Udah bisa dipastikan kalau nggak akan ada live action seri 2, tapi kalau animenta saya masih ngarep akan ada. 

Minggu, 16 Juli 2017

,
Judul: Talak 3
Sutradara: Hanung Bramantyo, Ismail Basbeth
Produser: Hanung Bramantyo, Karan Mathani
Distributor: MD Pictures
Rilis: 4 Februari 2016
Negara: Indonesia
Bahasa: Indonesia
Pemain: 
Laudya Cynthia Bella as Risa

Reza Rahadian as Bimo

Vino G. Bastian as Bagas



Sinopsis

Setelah resmi beberapa bulan bercerai, rumah kredit Bagas dan Risa terancam disita bank. Mereka berdua terpaksa harus bersama-sama mengerjakan sebuah proyek yang hasilnya bisa menyelamatkan kondisi keuangan mereka. Masalahnya, pekerjaan menuntut keduanya harus bersama. Dalam proses pengerjaan proyek tersebut, muncul kembali benih cinta di antara mereka. Mereka pun memutuskan untuk rujuk kembali.


Persoalan menjadi rumit karena Bagas telah menjatuhkan talak 3 kepada Risa. Hukum talak 3 mengharuskan jika pasangan mau rujuk, harus melalui Muhalil, yaitu seorang laki-laki yang menikahi pihak perempuan kemudian bercerai. Untuk memuluskan niat mereka, Bagas berniat mengakali aturan dengan cara mencari suami kontrak untuk Risa.

Akhirnya pilihan jatuh pada Bimo, teman masa kecil Bagas dan Risa yang dianggap baik dan bertanggungjawab. Dalam proses merencanakan pernikahan Risa dan Bimo, terungkap kalau Bimo sudah menyimpan rasa cinta kepada Risa sejak lama. Risa gundah, dia tak ingin melukai pria baik hati seperti Bimo, dia meminta Bagas mencari calon suami lain namun dia tak mampu mengungkapkan alasannya karena tidak ingin Bagas berkonflik dengan Bimo.

****

Ini adalah film drama komedi romantis yang sebenarnya berkonflik biasa. Sudah bisa ditebak memang apa masalah yang akan menimpa pasangan suami istri yang ingin rujuk namun sudah telanjur menjatuhkan talak 3 sebelumnya, tapi dari film ini saya jadi tahu alasan yang awalnya saya anggap konyol dan tidak masuk di akal kenapa suami istri yang audah talak 3 lantas tidak bisa rujuk begitu saja. Ada sejarah cukup kelam tentang peremphan pada zaman dulu yang bisa dinikahcerai sesukanya dan hukum rujuk setelah talak 3 ini sebaliknya justru membuat saya senang. Di sini benar-benar digambarkan walau secara tersirat betapa dalam Islam hak-hak perempuan dan kehormatannya amatlah diperhatikan.

Untuk akting, nggak usah dinilailah ya, castnya aja udah juara gitu. Tapi, suka banget sama perannya Laudya Cynthia Bella di sini. Bener-bener khas wanita sosialita - mulai dari penampilan dan kipasnya yang nyaris nggak lepas, gaya bicaranya yang asyik dan lucu, dia jadi kelihatan lebih muda beberapa tahun plus fashionnya kece banget. Peran pria, duh sempet bingung harus pilih siapa (sebenernya sih ngapain ya pake milih haha). Dua aktor yang ada adalah aktor favorit saya. Bedanya, Abang Vino aktor favorit sejak zaman SMP, Abang Reza baru beberapa tahun ini. Tepatnya, sejak main dalam film Habibie dan Ainun. Seperti karakter yang kebanyakan dimainkan Vino, dia jelas cocok bangey jadi pria arogan dengan rambur gondrong dan jeans biri serta kaos oblong, tapi khusus Abang Reza, oh my aukaaaa banget dengan gaya jeans belel, kaos lapis kemeja kotak2 atau jaket, beannie dan brewok sexynya. Walau perannya kalem, jiwa Abang Reza Rahadiannya sama sekali tidak hilang. Sukalah ya sama akting mereka bertiga, apalagi saat udah ada permainan emosinya.

Komedinya lucu, pas, walau hanya terjadi di benerapa scene. Thank's to Dodit Mulyanto yang memang sudah cukup saya sukai sejak masih kadi kontestan SUCI hingga sekarang audah jadi stand up comedy-an bahkan aktor. Peran yang dimainkan pun pas dengan bagaimana Dodit saat di panggung. Hanya memang ada yang agak bolong atau terasa janggal. Penyelesaian masalah Bagas Risa Bimo kerasa terlalu cepat alurnya, cuma endingnya bagus. Nggak nyangka akan ada adegan yang cukup mengejutkan dalam salah satu scene penting dalam film ini.

Terakhir, film ini memberikan pesan yang cukup mendalam apalagi untuk pasangan suami-istri agar tidak gegabah dalam bertindak dalam mengambil keputusan karena resiko dari keputusan dan tindakan yang kita ambil sebagian besar bisa saja memaksa kita untuk mengorbankan hal yang paling kita sayangi. Seperti pernikahan, kata talak nggak bisa dijadikan bahan bercandaan.

Kamis, 13 Juli 2017

,
Judul: Uang Panai' Maha(R)L
Sutradara: Asril Gani, Halim Gani Safia
Produser: Amril Nuryan, Halim Gani Safia
Perusahaan Produksi: Makkita Cinema Production
Distributor: 786 Production
Rilis: Makassar, 25 Agustus 2016
Durasi: 119 menit
Negara: Indonesia
Bahasa: Melayu Makassar, Bahasa Indonesia, Makassar, Bugis, Inggris
Pemain: 

Ikram Noer as Ancha

Nur Fadillah as Risna

Chaya Ary Nagara as Farhan
Tumming dan Abu (Sahabat Ancha)



Sinopsis

Ancha (Ikram Noer) seorang pemuda Bugis-Makassar, baru saja kembali dari perantauan. Tanpa sengaja dipertemukan kembali dengan mantan kekasihnya Risna (Nur Fadillah), setelah sekian lama mereka tidak saling berkabar. Benih-benih cinta akhirnya tumbuh kembali di antara mereka. Tidak ingin kehilangan Risna untuk kedua kalinya, Ancha berniat mempersunting Risna.


Namun niag tulus Ancha harus terbendung oleh syarat pernikahan secara adat. Ancha harus menyediakan Uang Panai' dalam jumlah yang cukup fantastis di mata keluarga Ancha. Perjuangan Ancha pun dimulai. Dia dibantu kedua sahabatnya Tumming dan Abu, yang sering memberi ide kocak dan absurd.

Di tengah perjuangan Ancha mengumpulkan Uang Panai', hadir Farhan (Cahya Ary Nagara), sahabat kecil Risna yang baru pulang dari luar negeri. Ayah Farhan dan Ayah Risna yang juga bersahabat berniat menjodohkan Farhan dan Risna sebagai bentuk terima kasih atau hutang budi di masa lalu. Ancha tertekan. Dia membutuhkan waktu lebih untuk mengumpulkan Uang Panai'. Harga dirinya sebagai putra Bugis-Makassar dipertaruhkan. Risna dilema, khawatir Ancha akan meninggalkannya seperti sebelumnya.

 Sementara keluarganya tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi. Mampukah Ancha mengumpulkan Uang Panai' sebagai syarat untuk meminang Risna? Sanggupkah Ancha membuktikannya sebagai putra Bugis-Makassar?

****

Filmnya keren dan seru. Mungkin sebelumnya akan saya jelaskan sedikit apa itu Uang Panai'. Uang Panai' dalam adat Bugis-Makassar adalah syarat sejumlah uang yang yang diminta keluarga pihak perempuan atau harga yang harus dikeluarkan keluarga pihak laki-laki ketika hendak mempersunting seorang wanita. Syarat ini dibicarakan dalam acara lamaran, dapat dilakukan tawar menawar, namun biasanya harga ini ditentukan oleh tingkat pendidikan, pekerjaan dan status sosial perempuan. Uang Panai' akan semakin mahal jika si perempuan seorang adalah sarjana, punya pekerjaan mapan, berasal dari keturunan bangsawan dan sudah berhaji. Adat ini sedikit mirip dengan adat Bolaang Mongondow meski dengan nama berbeda. Namun bedanya, di Bolaang Mongondow biasa disebut dengan kinta ukaton atau kalau dibahasaindonesiakan artinya "yang akan diberikan". Namun, dalam pertimbangan jumlah, biasanya hanya diukur dari tingkat pendidikan saja. Cuma, kalau di Bugis Makassar berapa yang disebut itulah jumlahnya, di Bolaang Mongondow masih bisa dikondisikan sesuai kemampuan pihak laki-laki. Dan ini bukanlah mahar.

Film uang Panai' ini, selain mengangkat budaya dan adat pernikahan dan pinangan dalam Bugis-Makassar, film ini juga merupakan sindiran secara terang-terangan terhadap banyak pihak yang dewasa ini sudah menggunakan pernikahan sebagai ajang gengsi-gengsian dan pamer kekayaan. Saing-saingan pesta siapa yang lebih meriah dan anak siapa yang dibayar dengan harga paling tinggi. Dalam film ini, keluarga Ancha digambarkan sebagai keluarga sederhana, sementara Risna berasal dari kalangan bangsawan yang sudah berhaji pula. Selain sindiran terhadap sikap materialistis yang seolah sudah mendarah daging, film ini juga bisa diambil sebagai teguran terhadap para orangtua yang menyalahi kewajibannya untuk menikahkan anak-anaknya dengan memberi persyaratan sulit sehingga banyak dalam contoh perempuan Bugis Makassar yang memilih Silariang (kawin lari) atau menjadi perawan tua karena Uang Panai'nya terlalu mahal.

Dari segi Bahasa, nontonnya enak banget. Pas rasa Bugis-Makassarnya. Kebetulan saya sudah terbiasa dengan logat Melayu Makassar, paham artinya, bisa membunyikannya - bisa juga logat juga saya ji' hehe walau sedikit jadi nontonnya nggak perlu baca subtitle. Cuma kalo pas adegan pakai bahasa Bugisnya yang perlu baca, tapi sama sekali nggak asing karena sehari-hari selalu dengar bahkan di rumah yang ditinggali sekarang orang-orangnya ngomongnya logat Melayu Makaasar dan Bahasa Bugis juga. Dan, ini patut bangey diacungi jempol. Film Bugis-Makassar dan bahasanya pun menysuaikan, nggak maksa pakai Bahasa Indonesia.

Sinematografinya oke, bikin pengin ke Makassar lagi dan jalan-jalan ke Pantai Losari, bikin inget waktu pulang dari Mall dan harus ganti angkot dua kali di Pettarani dan nunggu di fly over biar bisa sampe ke Perintis. Bikin kangen suasana Perumahan Sudiang dan waktu jalan-jalan nyari bubur kacang ijo di gang gang perumahan 😅. Soundtracknya juga bagus, feel komedinya juga kocak. Apalagi Abu, Tumming sama Mamaknya Ancha. Lucu sekali ki', ketawa terus mi saya nontonna 😁

Namun, ada beberapa tokoh yang aktingnya dirasa agak kaku seperti Farhan dan Daddynya yamg sok bule sok Inggris itu 😂

Sabtu, 06 Mei 2017

,
Judul: 3 Srikandi
Sutradara: Iman Brotoseno
Produser: Raam Punjabi
Penulis: Swastika Nohara dan Iman Brotoseno
Distributor: MVP Pictures
Tanggal Rilis: 4 Agustus 2016
Negara: Indonesia
Bahasa: Indonesia
Pemeran:

Reza Rahadian sebagai Donald Pandiangan

Bunga Citra Lestari sebagai Nurfitriyana Saiman

Chelsea Islan sebagai Liles Handayani

Tara Basro sebagai Kusuma Wardhani

"Donald Pandiangan memecahkan rekor dunia pada PON 1977 di Jakarta dan kelak menjadi juara Asia di Kalkuta, India. Karena prestasi Donald Pandiangan, Indonesia berharap meraih medali pada Olimpiade 1980 melalui cabang olahraga panahan. Desember 1979, secara tiba-tiba Uni Soviet melakukan invasi ke Afghanistan. Gelombang protes terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Protes berlanjut hingga banyak negara memboikot Olimpiade Moskow pada tahun berikutnya. Indonesia ikut memboikot dan kehilangan kesempatan mendapat medali pertama pada ajang Olimpiade."

“Saya paling tidak suka kalau ada urusan politik dicampuradukkan dengan urusan olahraga – Donald Pandiangan”
Kehilangan kesempatan untuk berlaga di ajang olimpiade internasional karena pergolakan politik membuat Donald Pandiangan kecewa dan menghilang. Pada tahun 1988, olimpiade kembali diadakan di Korea Selatan. Hanya saja, untuk tim pemanah putri, tidak ada pelatih. Untuk itulah, Pandi kembali dicari. Awalnya ia sempat menolak, kekecewaannya masih sangat mendalam dan belum terobati. Tapi kemudian ia berubah pikiran dan setelah sesi latihan sekaligus seleksi nasional, terpilihlah tiga orang yang akan mewakili Indonesia di ajang bergengsi itu. Nurfitriyana Saiman dari Jakarta – saat itu masih bernama DKI Jayakarta, Lilies Handayani dari Jawa Timur dan Kusuma Wardhani dari Ujung Pandang (kini bernama Makassar). Sesi latihan ketat pun mulai dilakukan di Sukabumi.

****

Filmnya sangat bagus. Sejak awal nonton hingga akhir cerita saya nggak terserang rasa bosan sedikit pun. Petualangan 3 Srikandi Indonesia ini sungguh membuat saya terharu dan bangga. Bersyukur juga ada film ini, karena dengan begitu kita kita yang hidup di generasi sekarang setidaknya tahu bahwa Indonesia juga pernah punya atlet panahan yang membanggakan. Dan, nggak menutup kemungkinan hal ini akan membuka peluang baru atlet-atlet panahan baru. Indonesia juga pernah punya nama besar, siapa yang tidak bangga?

Harus diakui, kalau dalam bidang olahraga, yang paling banyak dikenal di Indonesia menurut saya hanya sepak bola dan bulu tangkis. Padahal, di tim basket, voli, dan kayak sekarang yang diangkat ke dalam layar lebar – panahan, Indonesia juga punya generasi berbakatnya. Buat saya pribadi, film ini dapat menjadi motivasi bagi para atlet Indonesia untuk nggak lelah berkarya dan mengharumkan nama bangsa. Bayangkan saja ikut olimpiade di Korea Selatan yang terkenal banget dengan atlet panahannya itu.

Setting filmnya juga bagus. Terasa tahun 80-annya, walau saya nggak lahir di zaman itu, tapi tetap rasanya berbeda dengan tahun 90-an apalagi abad 21 sekarang. Feelnya beda gitu. Karakternya juga juara, Tara Basro sukses banget deh jadi orang Makassar. Logatnya kental dengan tambahan mi, ki, dan lain-lainnya. Jujur saja, lihat akting dia bikin saya ingat teman saya yang orang Bugis dan memang sejak kecil tinggal di Makassar. Sama banget. Walau ada satu hal yang kurang, yakni yang jadi anggota keluarga Kusuma ada yang meleset logat Makassarnya. Yang paling jelas sih Mamaknya Kusuma. Orang Makassar kan kalo manggil orangtua perempuan pakai kata Mamak, nah ada satu scene dimana Mamaknya Kusuma ini kelepasan bilang Ibu.

Chelsea Islan juga nggak kalah keren. Medok jawanya bertahan dari awal film hingga akhir, nggak ada meleset. Karakternya juga lucu, ceplas-ceplos dan menggemaskan. Cantik juga :D

Begitupun BCL. Walau untuk aksen dia nggak terlalu sulit karena pakai logat Jakarta yang gue-elo gue-elo, tapi tetap seperti pada film-filmnya yang lain, ia tampil sangat memesona. Apalagi Abang Rezanya. Duh nggak nahan deh. Makin nge-fans saya. Karakternya yang keras karena berdarah Batak itu pas banget nggak lebih, nggak kurang. Logatnya juga. Yah kalau Reza Rahadian mah emang udah terkenal banget ya dalam dunia seni peran.

Unsur sinematografinya nggak begitu menonjol. Kayaknya untuk ajang olimpiadenya diselipin video yang bener-bener pas olimpiade dulu. Pas olimpiadenya udah mulai berasa sih kalau syutingnya dilakukan di Indonesia, tapi agak-agak ragu juga karena banyak bule, orang Korea juga atlet dari negara lain.

Ending-nya benar-benar mengharukan. Saya nggak malu untuk bilang kalau saya menangis terharu dan juga bangga dengan 3 Srikandi Indonesia. Oh iya selain kisah latihannya yang cukup keras dan sulit, ada juga satu kisah manis dari Lilies dan Deni yang terhalang oleh restu orang tua serta keseruan jalan-jalan dan menikmati akhir pekan ala pemuda tahun 80-an. Jadi, filmnya jadi nggak berasa kaku dan terlalu serius. Unsur komedinya nyenengin.

“Musuh terbesar seorang pemanah adalah dirinya sendiri – Donald Pandiangan”

Rabu, 03 Mei 2017

,
Judul: Winter In Tokyo
Sutradara: Fajar Bustomi
Produser: Yoen K
Penulis: Ilana Tan
Tanggal Rilis: 11 Agustus 2016
Durasi: 103 Menit
Negara: Indonesia
Bahasa: Indonesia
Pemeran:

Dion Wiyoko sebagai Nishimura Kazuto

Pamela Bowie sebagai Ishida Keiko

Morgan Oey sebagai Kitano Akira
Kimberly Ryder sebagai Iwamoto Yuri

Film Winter In Tokyo merupakan film drama romantis Indonesia yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ilana Tan

Bercerita tentang Ishida Keiko (Pamela Bowie) dan Nishimura Kazuto (Dion Wiyoko). Keiko adalah seorang wanita blasteran Indonesia-Jepang yang tinggal di sebuah apartemen di pinggiran kota Tokyo. Saat musim dingin tiba, Keiko bertemu dan menjalin hubungan dengan Kazuto, tetangga baruya yang kembali ke Jepang setelah 10 tahun tinggal di Amerika.

Karena terus bersama-sama, benih cinta pun muncul di hati mereka. Tapi, Keiko justru memilih Kitano Akira (Morgan Oey), cinta pertamanya, ketimbang Kazuto. Sebuah kejadian menyebabkan Kazuto hilang ingatan, disaat itu Keiko merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dan telah menjadi bagian hidupnya.

****
Filmnya bagus, walau tetap novelnya masih lebih juara. Bukan berniat membanding-bandingkan karena pada dasarnya film dan buku adalah seni yang berbeda. Namun, karena filmya diadaptasi dari novel, buat saya pribadi tetap harus ada hal-hal dari bukunya yang ditekankan dalam filmnya.

Untuk adegan-adegan di dalamnya, buat saya semuanya bagus. Pengambilan view Jepangnya juga juara banget. Syutingnya yang dilakukan bear-benar saat musim dingin pun bikin filmya jadi sangat menyenangkan mata dan nggak melenceng dari bukunya. Namanya juga Winter ya jadi harus musim dingin.

Namun, ada beberapa hal yang menurut saya berasa bolong dan aneh. Misal, adegan saat Kazuto bertemu Shinzo Ojisan saat ia kembali ke Tokyo pertama kali, mereka memang membicarakan orangtua Kazuto tapi terasa lewat begitu aja. Karena emang durasi pertemuan tersebut Cuma beberapa menit, bahkan nggak sampai lima menit. Pertanyaannya, kenapa harus Shinzo Ojisan yang menghubungi Kazuto, kenapa tidak orangtuanya langsung? Atau mungkin nggak akan aneh kalau pertemuan tersebut berlangsung setidaknya lebih dari lima menit, nggak hanya sekedar nanya kabar lalu say bye.

Selanjutnya, untuk aksen Jepangnya juga masih kurang pas. Wajar sih bukan orang Jepang asli yang main, tapi kayaknya akan lebih bagus kalau misal aksen Jepang para tokoh-tokoh utama bisa lebih kental. Karena saya cukup suka Jejepangan, penikmat anime dan sedikit drama Jepang, jadinya berasa kalau saat tokohnya ngomong pake bahasa Jepang tuh kayak dihapalin gitu. Kaku dan kurang mengalir. Sementara disini kan hanya Keiko seorang yang berdarah Indonesia, sisanya Jepang semua. Bahasa Jepang yang dipakai juga banyak yang tidak baku seperti: Oyasumi, Ja, Mata ne, dan lain-lain.

Kemudian, untuk penyebutan nama tokoh atau dalam hal ini cara mereka menyapa satu sama lain. Kalau untuk yang lebih tua sih udah pas pake akhiran –san, tapi untuk yang saling berteman dekat seperti Keiko dan Kazuto, atau dengan Akira juga Yuri, bakal lebih pas lagi kalau digunakan kata sapaan akrab misal akhiran –chan atau –kun. Keiko jadi Kei-chan, Kazuto jadi Kazu-kun, Akira tetap Akira tapi ada tambahan –kun juga. Di akhir-akhir film sih memang ada, tapi hanya digunakan oleh Akira untuk Keiko. Logat Jepang yang cukup fasih menurut saya adalah Morgan, Pamela dan Brandon.

Juga, ada yang jadi pertanyaan saya yakni adegan di rumah sakit. Pengambilan gambarnya seperti tidak dilakukan di Jepang, tapi di Indonesia. Karena selain ukuran rumah sakit yang lebih terlihat seperti klinik, jumlah dokter dan perawat yang terlalu sedikit, juga papan nama Kitano Akira yang berprofesi sebagai dokter ditulis dalam alphabet dan diawali kata dr. (dokter). Nah kan kalo di Jepang, orang-orang menyapa dokter dengan sebutan Sensei.

Selain itu, soundtracksnya saya suka, suasana Jepangnya favorit banget dan ending-nya juga manis.