Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2016

,
Malam ini kan kuhabiskan waktuku
Duduk berdua denganmu
Menikmati wangi garam yang menguar dari lautan
Mencumbui deburnya dengan kecupan

Wajahmu yang bulat dan matamu yang bundar
Seolah purnama yang tertidur di atas sana
Dibelai awan, terpahat sempurna
Kan ku rekam mereka sepenuh jiwa

Aku akan berontak pada waktu
kan kumaki ia agar tak menelanku
jika saja bisa... tapi esok sudah waktunya

maka, biarkanlah aku tenggelam
kan kureguk madu cinta kita dalam dalam
Karena esok takkan lagi sama
Jemari kita harus berpisah

Elsita F.

Sabtu, 04 April 2015

,

Di bawah bulan berpayung pelangi, kau toreh luka di dada ini
Di bawah bulan berpayung pelangi, kau ucap maaf tak bisa tepati janji
Di bawah bulan berpayung pelangi, kau putuskan ‘tuk pergi…

Gorontalo, 4 April 2015
#gerhana #bulan #penuh #pelangi #malam



Sabtu, 04 Oktober 2014

,
Ahad, 10 Zulhijjah 1435 Hijriah
Gema takbirMu dari segala penjuru
lantun asmaMu terdengar dari segala arah
menyeru puja dan puji atasMu
anugerah kehangatan menjalar ke dalam dadaku
merasuk ke dalam hatiku
menciptakan riak di pelupuk mataku
menemani sendiriku yang selalu merindukanMu… merindukan mereka
aku…rindu rumah
,

Ia bernyanyi, ia berkisah, ia bercerita
Ditemaninya malam-malam sepiku, malam-malam rinduku
Dihiburnya kasih yang bertepuk sebelah, disenandungkannya melodi yang indah
Namun kini tak lagi sama
Kotak musik itu kini menyerah
Ia tak lagi punya tenaga untuk bersua
Kotak musik itu kini berhenti bersuara
Kotak musik itu…kini tiada



Kamis, 05 Juni 2014

,
            Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat tengah malam, dan salam sejahtera bagi kita sekalian. Gue balik lagi. Kali ini dengan label puisi. FYI *sok gaul*, gue adalah salah satu followers twitternya @NovelAddict_. Nah disini gue pengen kasih tahu atau cerita atau berbagi atau apalah namanya tentang apa yang gue mentionin ke @NovelAddict_ malem ini. Sebagai tambahan pengetahuan, @NovelAddict_ ini adalah akun twitter yang dikelola sama admin dan khusus buat para pecinta novel kayak gue. Nah...tiap malem, @NovelAddict selalu ngadain yang namanya #curhatpoet. Jadi, buat siapa aja yang pengen ikutan, bisa curhat atau bikin puisi berdasarkan tema yang diangkat sama admin yang jaga mulai dari jam 12 WIB sampai jam 1. Dan malam ini, temanya adalah 'Pertemuan Singkat'. Oke langsung aja cekidot apa aja tweet gue tentang pertemuan yang nggak lama ini.

"Pertemuan singkat dan tatapan singkat itu telah menumbuhkan penyesalan di hatiku. Aku bodoh, membiarkanmu pergi."

 

"Pertemuan itu sekedipan mata. Singkat...tapi membekas."

 

"Pertemuan kita terlalu. Terlalu singkat untuk dikenang, terlalu sayang untuk dilupa."

 

"Sedetik itu singkat. Sesingkat waktu yang bisa diberi Tuhan padaku, padamu, pada pertemuan kita."

 

"Singkat. Tak seberapa lama. Tapi aku jatuh cinta padamu, sosok yang tak sengaja berpapasan denganku."

 (ini gue jadiin khusus buat temen gue aja ------> Venda Intan Pratama hihi.

"Entah aku harus mengutuk diriku yg membiarkanmu pergi, atau kamu yg tak menyadari bahwa pertemuan singkat itu terlalu berarti."

 

"Hatiku bergemuruh tak menentu saat melihat tatap matamu yang hanya sepintas lalu."

(ini buat Venda juga. Maaf kalo aku bikin kamu breatless, beb :p)

"Cepat. Sangat. Pertemuan kita terlalu singkat. Tapi kesan yang tertinggal sungguh tepat. Lekat, di hati." ---------> <3

(hmmm gue pengen colek Venda lagi kayaknya haha)

Oke. Segitu dulu aja postingan kali ini. Maaf cuma sedikit. Otak gue emang kurang brilian. Maaf kalo ada salah-salah kata. Sesungguhnya segala kesempurnaan hanya milik Dia dan segala kekurangan dikembalikan lagi pada saya. Akhir kata bilahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

PS: Kali ada yang mau nambahin, monggo yoooo :D 

 

    

Jumat, 25 April 2014

,
Lagi!
Ia ada lagi.
Ia hadir lagi.
Batas itu terbangun lagi.
Jarak itu tercipta lagi.
Tembok Berlin itu…
Ia kembali berdiri kokoh.
Di depanku,
Di belakangmu.
Aku tahu.
Aku melihatnya.
Dia sedang menyeringai, bangga dengan tubuh menjulangnya.
Dia sedang tertawa mengejek, mengejek ke arahku.
Karena pada akhirnya aku kalah, menyerah terhadap kenyataan.
Kenyataan yang pada dasarnya hanya dilihat dari satu sudut mata, satu sudut pandang.
Sudut pandangku!
Kau tak tahu.
Atau kau tahu?
Aku sendiri juga tidak tahu apa kau tahu atau tidak.
Karena batas itu…
Jarak itu…
Tembok Berlin yang sedang menyeringai dan mengejekku habis-habisan adalah hasil karyaku.
Aku yang membangunnya.
Kembali.
Perwujudan dari rasa tidak percaya diriku.
Refleksi dari apa yang bersarang dalam tempurung kepalaku sejak ku tahu dirimu.
Atau sejak ku tak tahu?
Entahlah.
Aku juga tidak tahu apakah aku tahu atau tidak.

Kamis, 23 Januari 2014

,
Aku merindukanmu O Muhammadku
Sepanjang jalan ku lihat wajah-wajah yang kalah
menatap mataku yang tak berdaya
sementara tangan-tangan perkasa
terus mempermainkan kelemahan
air mataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
mencari-cari tangan
lembut wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
terus ku dengar suara serutan
derita mengiris berkepanjangan
dan kepongahan tingkah-meningkah
telingaku pun ku telengkan
berharap sekali mendengar
merdu menghibur suaramu
aku merindukanmu O muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
menjulur kesana kemari
mencari mangsa memakan kurban
melilit bumi meretas harapan
aku pun dengan sisa-sisa suaraku
mencoba memanggil-manggil
O, Muhammadku O, Muhammadku
di mana-mana sesama saudara
saling cakar berebut benar
sambil terus berbuat kesalahan
Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan
masing-masing mereka yang berkepentingan
aku pun meninggalkan mereka
mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
aku merindukanmu O, Muhammadku
sekian banyak Abu Jahal, Abu Lahab
menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku shalawat dan salam bagimu
bagaimana melawan gelombang kebodohan
dan kecongkakan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi umat sendiri?
O, Muhammadku, aku merindukanmu
O, Muhammadku, aku sangat merindukanmu

“Musthofa Bisri”

Jumat, 06 Desember 2013

,
Ketika senja menyapa…
Meminta untuk sejenak menghentikan langkah
Menghadap-NYA…
Mengharap setitik kasih…
Menunanikan bagian dari sekian banyak tanggung jawabmu
Bersimpuh dan bersujud…