Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Part of My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Part of My Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2019

,
Koleksi Pribadi: Bahomotefe, 16 Juni 2019




Setelah libur lebaran selama kurang lebih 2 minggu di kampung halaman, tibalah saatnya u/ kembali di perantauan. Tanggal 16 Juni saya sudah harus tiba di Bahodopi karena sudah harus aktif kembali bekerja keesokan harinya.



Akhirnya, malam tgl 15 Juni menjelang tengah malam saya berangkat dari rumah menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi & tiba kurang lebih pukul 4 Pagi. Pesawat yg akan menerbangkan saya menuju Luwuk dijadwalkan berangkat pukul 6.10 Pagi setelah malam sebelumnya diundur menjadi pukul 7.10. Tdk apa-apa, menunggu sebentar sambil meluruskan badan, capek jug naik mobil 4 jam.



Namun, menjelang waktu Boarding dan take off bukan panggilan untuk naik ke pesawat yg saya dengar, melainkan "peswat tujuan Luwuk akan diberangkatkan pukul 10.10 karena kendala operasional". Dalam hati langsung berbisik "cobaan apa lagi ini Tuhan?" Pesawat delay 3 jam! Tapi, meski mengeluh ada sedikit rasa syukur juga. Bukan hanya 1 maskapai yang delay, semua pemberangkatan pukul 7.10 diundur menjadi jam 10 semua. Cuaca buruk. Dari Manado bisa terbang, tapi di kota tujuan tdk bisa landing.



Cuma, masalahnya, status penerbangan saya ke Luwuk bukan tujuan akhir, melainkan stopover 25 Menit lalu akan bergerak kembali menuju Palu u/ transit & kemudian terbang ke Morowali. Apakah ini sudah saatnya saya merasakan transit buru-buru lalu kejar-kejaran dgn pesawat?



Saya tegang! Melapor ke petugas bandara, katanya tidak apa-apa. Yasudahlah, istirahat 3 jam juga tdk apa-apa. Setidaknya walau tdk sesuai harapan, tetap ada kompensasi dari pihak maskapai sbg pertanggungjawaban atas keterlambatan penerbangan. Tapi ya, jengkel juga. Udah macem anak ilang di bandara. Style yg sudah saya usahakan se-fashionable mungkin berubah menjadi tergembel di seantero bandara 😐😑 Jd, sambil berdoa tdk ada delay kedua, Alhamdulillah pukul 10.10 panggilan boarding pun mengudara. Tapi, ada perasaan tdk enak ketika saya naik ke pesawat. Bau bahan bakar pesawat jenis ATR yg saya naiki tercium dgn sangat kuat begitu saya menaiki badan pesawat.



Memasuki badan pesawat, disambut oleh awak kabin yang ramah dan bersahabat; tersenyum, menanyakan boarding pass dan membantu menyimpan bagasi kabin, saya duduk di kursi samping jendela sambil mengipas-ngipas kepanasan. Tak hanya bau bahan bakar, AC dalam pesawat seperti tidak berfungsi. Padahal sudah saya setel ke batas maksimal paling dingin.


Saya tidak terlalu paham istilah-istilah dalam dunia penerbangan, tapi kalau saya curi dengar dari penumpang lain, pesawatnya belum ready tapi demi menghindari penggantian ganti rugi sejumlah uang atas keterlambatan penerbangan, penumpang sudah dinaikkan ke dalam pesawat😕. Tidak tahu itu betul atau tidak, tapi saya parno! Indonesia baru saja terkena musibah pesawat jatuh yang tidak menyisakan satu penumpang pun selamat beberapa bulan lalu. Masa ini pesawat belum ready kami sudah disuruh naik? Kan ngeri kalau ada kesalahan teknis tak terduga😣



Jadi, yang saya lakukan adalah pasrah pada Allah. Mengambil lembaran doa-doa di kantong kursi depan, saya berdoa semoga dilindungi selama perjalanan dan selamat sampai tujuan. "Bismillahi majreha wa mursaha." Akhirnya, pesawat take off, mengudara, dan Alhamdulillah kami sampai di Luwuk dengan selamat dan mendapat pemberitahuan dari awak kabin untuk tetap menunggu di dalam pesawat. Lalu, mesin pesawat kembali dimatikan, personel bandara kembali hilir mudik di lapangan dan sekitar pesawat yang saya tumpangi, baling-baling pesawat kembali berhenti, dan udara di dalam pesawat kembali ke posisi pengap😥. Kebetulan saat itu matahari di Luwuk sedang cerah cerianya, saya sampai berkeringat. Kondisi yang jarang saya temui apabila sedang dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang.



Tapi, selang 10 menit setelah pemberitahuan, awak kabin kembali mengumumkan kepada penumpang bahwa kami diminta untuk turun, melapor ke loket transit dan kembali menunggu di ruang tunggu😩



Yang benar saja. Kami akan ke Palu dengan pesawat yang sama, kenapa kami harus turun dan menunggu lagi? Beruntung ada satu ibu-ibu muda yang berani melancarkan protes ke awak kabin. "Penerbangan kami sudah delay lama, kenapa sekarang disuruh menunggu lagi?" Dan Alhamdulillah lagi, kami batal turun dan disuruh menunggu saja di pesawat. Tapi panas😅


Berselang 25 menit kemudian, beberapa penumpang lain ikut naik ke dalam pesawat. Kami pun kembali terbang menuju kota Palu.
Tiba di Palu, penumpang transit diminta untuk melapor ke bagian transit. Jadi, saya turun dari pesawat, tiba di gedung kedatangan domestik, ke pintu keluar, belok kanan menuju pintu keberangkatan, melewati petugas X-ray, melapor ke loket check-in, mendengar konfirmasi petugas dengan petugas bandara di lapangan, mendapat boarding pass baru dan diminta untuk langsung ke ruang tunggu lantai satu dan harus kembali naik ke pesawat sekarang. Ternyata pesawatnya sedang prepare to take-off😐



Akhirnya, saya harus lari-lari di lapangan terbang dipandu petugas bandara untuk mengejar pesawat dan harus mendapati fakta bahwa pesawat yang akan menerbangkan saya menuju Morowali adalah pesawat yang barusan mendarartkan saya di Palu😤



Kalau memang tidak harus ganti pesawat, kenapa tidak sejak awal boarding-pass saya diserahkan lengkap untuk penerbangan Manado-Palu, Palu-Morowali. Kasihan kan sayanya harus turun di bandara demi selembar boarding-pass dan lari-lari kayak orang kesurupan di tengah siraman sinar matahari yang sedang ganas-ganasnya. Tak pelak lagi, sesampainya di badan pesawat saya berkeringat heboh, diserang sakit kepala dan mual hebat. Saya baru ingat. Ini sudah setengah 2 siang dan saya sama sekali belum makan😑



Walau begitu, saya sedikit bersyukur juga transitnya tidak terlalu lama, tidak ada delay lagi, jadi saya bisa tiba di Morowali tidak terlalu sore dan bisa mengejar kapal dari Pelabuhan Bahomotefe ke Dermaga Bahodopi.



Hujan yg mengguyur pulau Sulawesi telah mengundang banjir & menyebabkan Akses darat ke Bahodopi putus diterjang banjir bandang. Jd, mau tidak mau, u/ kesana, harus naik kapal dari Pelabuhan Bungku, atau Pelabuhan Bahomotefe atau naik rakit u/ menyeberang dari desa Siumbatu ke desa Dampala. Dan pilihan pertama saya adlh Pelabuhan Bahomotefe. Naik kapal. Jangan bayangkan kapal besar atau kapal pesiar, melainkan kapal kayu a.k.a Katinting 😬


Perjalanan ini adlh perjalanan yg paling saya nantikan. Sudah lama tidak naik katinting. Terakhir kali mungkin sekitar tahun 2016 saat berwisata ke Pulau Saronde di Gorontalo Utara. Dan, rasanya menyenangkan menyambut waktu maghrib di atas permukaan laut. Matahari terbenam nampak amat megah & gagah, waktu itu. Saya tidk membayangkan bahwa penyeberangan kali ini akan memiliki rasa dan warna yang berbeda. Sepanjang perjalanan, saya dicekam ketakutan yg teramat sangat.



Ombak besar, kami menyeberangi lautan dengan perahu motor. Sepintas terbayang ke-2 orangtua Anna dan Elsa, pemeran utama dlm animasi Frozen yg tenggelam ditelan keganasan lautan. Mana sunsetnya? Mana hangat air laut & matahari yang berpadu jadi satu? Knp perjalanan kali ini ngeri sekali? 😣😩 Sepanjang perjalanan, saya genggam pinggiran perahu kuat -kuat. Jika perahu ini terbalik, maka selesai sudah. Saya tidak bisa berenang. Mungkin saja saya berakhir jadi kenangan. Tak terhitung berapa kali saya beristighfar menyebut nama Tuhan. "Astaghfirullahaldzim, Sesungguhnya tiada daya dan upayaku selain dgn pertolonganMu ya Allah." Begitulah manusia, secara otomatis ingat Tuhan jika sedang sdg kesempitan. Alhamdulillah, saat adzan maghrib berkumandang, saya tiba di Dermaga Bahodopi dgn selamat, disambut penduduk yg entah menunggu keluarga mereka datang atau sekedar menonton siapa yg baru pulang dari kampung halaman.



Tapi, ada satu pelajaran besar yang saya petik dari perjalanan ini. Bahwa dlm keadaan apapun, pertolongan Allah amatlah dekat, sedekat kematian.

Selasa, 18 Juni 2019

,
Koleksi Pribadi: Palu, 16 Juni 2019


Setelah memutuskan untuk mengadu nasib di pedalaman, mudik lebaran selalu menjadi bonus paling indah tiap tahunnya. Alhamdulillah tahun ini saya bisa pulang lebaran dan berkumpul bersama keluarga. Tapi ada drama di dalamnya. Drama yang sempat membuat saya berpikir mungkin ini adalah pertanda bahwa saya sebenarnya belum diizinkan mudik sama Allah.

Pada tanggal 13 Mei, kira-kira 2 minggu sebelum lebaran saya sudah booking tiket penerbangan domestik di salah satu maskapai milik Indonesia. Tapi, ada kendala. Setelah proses pembayaran selesai, tiketnya gagal atau tidak sukses masuk dan saya diminta untuk mengajukan permohonan refund. Seminggu kemudian, karena takut nggak kebagian/kehabisan tiket saya meminta tolong kepada @ndynita94untuk memesankan tiket dengan rute penerbangan yang sama seperti yang saya pesan sebelumnya, di maskapai yang sama pula. Alhamdulillah tiketnya berhasil masik

Tapi, drama lain kembali terjadi satu hari sebelum keberangkatan saya ke kampung halaman. Malam harinya, saya dan teman-teman seperjuangan berencana untuk melakukan perjalanan Morowali-Kendari untuk mengejar pesawat pagi. Rencananya kami akan berangkat pukul 9 malam dan akam tiba pukul 5 Pagi di Kendari. Tapi, satu berita menegangkan muncul. Jalan Trans Sulawesi yang akan kami lewati terendam banjir akibat hujan berturut-turut selama kurang lebih 2 minggu terakhir. Beberapa daerah lain juga longsor. Tidak bisa lewat. Kami harus secepatnya reschedule penerbangan. 
Tegang! Lebaran tinggal 2 hari, tapi saya terancam tidak bisa pulang. Ditambah saat itu jaringan internet maupun telepon di daerah saya tinggal sedang jelek. Jadi, sambil hujan-hujanan naik motor, saya harus menenteng bagasi kabin demi mencari jaringan dan koordinasi dengan teman-teman senasib seperjuangan yang sama seperti saya sepertinya akan batal mudik lebaran.

Setelah tersambung dengan pihak maskapai dan menjelaskan alasan, saya meminta untuk pindah bandara saja. Sebenarnya di Morowali ada bandara, cuma akses kendaraan ke sana cukup sulit. Tidak seperti ke Kendari yang iya jauh tapi tiap hari pasti ada mobil kesana. Dan ternyata tidak bisa. Pihak maskapai hanya bisa memberi fasilitas reschedule, tidak bisa pindah bandara. Tapi, karena jalanan tidak bisa dilewati sama sekali ke Kendari dan lebaran tinggal 2 hari lagi, tidak ada pilihan saya harus refund kembali tiket (padahal tiket sebelumnya proses refund-nya juga masih "akan ditindaklanjuti setelah cuti bersama lebaran") atau merelakannya hangus. Dan proses refund kedua yang memakan waktu beberapa menit untuk koordinasi dengan pihak maskapai juga pihak agen (karena belinya via agen ticketing online) berakhir pada putusan final untuk diikhlaskan saja dan dianggap sedekah 😁

Dengan bantuan salah satu teman di tempat kerja, saya kembali pesat tiket pesawat dengan tujuan yang sama namun rute yang berbeda. Alhamdulillah, berangkat pagi ke Bandara Morowali ba'da subuh, tiba pukul setengah sembilan pagi yang kembali diuji dengan delay satu jam; pesawat dijadwalkan take off 9.30 tapi harus diundur ke 10.30, stopover 25 menit di Luwuk, transit kurang lebih 3 jam di Palu, saya tiba di Manado pukul 18.40 ba'da maghrib dan tiba di rumah pukul 1 pagi keesokan harinya karena terhalang macet dan halangan lainnya. 
Bersyukur sekali, walaupun dengan berbagai ujian dan cobaan, halangan dan rintangan, saya bisa berlebaran di kampung halaman. Bertemu keluarga, saudara dan tetangga yang sudah lama tak jumpa.

Tapi, ternyata masih ada ujian lain yang menunggu saat tibanya kembali ke realita. Sama seperti arus mudik, arus balik tahun ini juga tak kalah luar biasanya 😆

Bersambung ke cerita ARUS BALIK

Kamis, 01 Maret 2018

,
Sumber Gambar
Sejak saya masih kecil naik bus adalah salah satu 'barang mewah'. Di desa tempat saya lahir dan besar, ke sekolah nggak perlu naik bus, cukup jalan kaki. Saat SMP, saya sekolah di desa tetangga, nggak perlu naik bus juga. Disana ada kendaraan becak bermotor atau yang sering dikenal dengan nama Bentor. Lagipula, di desa saya belum ada rute busway kayak di kota besar. Namanya juga di desa. 

Lulus SMP dan sekolah SMK, nggak perlu naik bus juga. Memang saya dulu SMK-nya di kota yang cukup besar, tapi, sekolah berasrama. Sekolahnya cuma depan asrama. Lagi-lagi, cukup jalan kaki. Jadi, ketika udah mulai kuliah di luar kota yang memang mengharuskan untuk naik bus antar provinsi, rasanya excited banget. "Gue bakal naik bus, yeay!" Dan serunya lagi, waktu berangkat diantar sama Papa dulu, saya diberikan "kursi emas". Kursi di samping jendela! Makin senang lagi, akhirnya bisa ngerasain gimana naik bus dan berpura-pura jadi model video clip atau tokoh utama wanita dalam drama Korea. Pas naik pertama kali, dan duduk, kaca jendelanya langsung saya buka. Dan, udara yang masuk seketika saya hirup dalam-dalam sambil nggak lupa ngayal sebagai aktris Korea. Walaupun bus antar provinsi di kota saya sama sekali nggak ada mirip-miripnya sama bus-bus mewah di Korea.

Sumber Gambar

Hanya saja, menikmati embusan angin dari jendela bus itu nggak akan terlalu menyenangkan kalau perjalanan yang harus ditempuh mencapai jarak waktu 8 jam, dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok tak jarang berlubang. Meski awalnya menyenangkan, kegiatan naik bus juga menjadi kegiatan yang melelahkan. Lama-lama, ngebayangin pulang mudik naik bus bukan excited lagi tapi malah mikir capeknya duduk kelamaan.

Hingga akhirnya, sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan yang menyediakan bus sebagai fasilitas transportasi bagi karyawannya. Enaknya, nggak perlu bayar ongkos atau khawatir beli bensin walau kadang busnya PHP, kagak nongol dan bikin kita terpaksa nelan malu minta tebengan ke karyawan lain yang naik motor meski nggak saling kenal. Tapi, hari ini, 20 Februari 2018, saya menemukan lagi hal menyenangkan dari naik bus. Syaratnya, masuk shift II biar berangkatnya siang dan busnya nggak penuh.

Sambil ngelihat pemandangan pantai lewat kaca jendela - sayangnya kacanya nggak bisa dibuka, cuma di bagian depannya aja yang bisa dan bisa leluasa memerhatikan ekspresi orang-orang. Sebagai orang yang nggak suka main hp saat berkendara, yang saya lakukan sambil nunggu sampai kantor tuh cuma bengong, nengok kiri nengok kanan, nikmatin lagu-lagu kenangan tahun 80 90-an yang biasanya emang disetel sama sopir busnya, dan memperhatikan ekspresi para penumpang di dalamnya. Dan, ternyata itu menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Ada yang lagi senyam-senyum sambil lihatin ponsel dan sesekali ngetik - udah bisa dipastikan dia lagi jatuh cinta. Ada yang mukanya lempeng lihatin pemandangan sepanjang perjalanan - ketahuan menikmati banget momen ia berangkat kerja dan mencari nafkah. Ada yang asyik main game, nggak peduli bus udah nyampe mana. Ada yang memasang ekspresi khawatir, saya menebak khawatir terlambat masuk kerja. Dan, ada yang seperti saya yang menikmati 'momen keberasamaan' itu sebagai hiburan dan penyegaran :D

Senin, 12 Februari 2018

,

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bekerja adalah /be·ker·ja/ v 1 melakukan suatu pekerjaan (perbuatan); berbuat sesuatu: ia ~ di perkebunan2 mengadakan perayaan nikah dan sebagainya: ketika ~ mengawinkan anaknya, aku tidak diundangnya;~ bakti melakukan suatu pekerjaan, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan suka rela untuk kepentingan umum: sebulan sekali warga desa diharuskan ~ bakti~ sama melakukan (melaksanakan) suatu kegiatan atau usaha (perniagaan dan sebagainya) yang ditangani oleh dua orang (pihak) atau lebih: orang tua dan guru harus ~ sama mencegah perkelahian antarpelajar. 

Sementara bagi saya pribadi, bekerja adalah tuntutan, adalah suatu cara terbaik yang dapat dilakukan manusia demi bertahan hidup di dunia. Oleh karenanya, ketika takdir membawa saya bekerja di salah satu perusahaan pertambangan di timur Indonesia, rasanya luar biasa lega. Bagi anak yang selama ini sudah terlalu banyak merepotkan orang tua, terlepas dari tali bernama beban itu indah banget rasanya. Namun, bagaimana ketika sesuatu yang kita lakukan demi menyambung napas dan mengisi perut ini bertemu dengan idealisme? Masih bisakah kita merasa lega, atau justru merasa bersalah? Pada impian "akan menjadi apa" di masa kecil yang pupus sudah. Atau pada pemikiran dan cara pandang orang lain terhadap kita. Pada kalimat "bekerja jika tidak sesuai minat mending mati saja".

Saya pribadi jujur saja sangat nggak suka dengan banyak statement yang bilang bahwa orang kerja kantoran belum tentu bahagia. Karena, nggak ada tolak ukur pasti definisi bahagia itu seperti apa. Yang bisa memutuskan bahagia atau tidaknya seseorang adalah dirinya sendiri, bukan idealisme. 

Untuk ritme kerja, jujur saja, selama kerja di tambang tekanannya cukup besar. Pertama, tambang tuh nggak ada yang di perkotaan, beberapa bahkan dibangun dan berproduksi di pedalaman. Secara otomatis, penyedia angkutan umum masih sedikit. Jadi, harus bawa kendaraan sendiri kalau nggak mau ribet nunggu bus perusahaan yang nyaris selalu penuh dan sempit, atau nebeng ke orang dengan resiko telan malu bulat-bulat. Kedua, masalah disiplin. Kerja di tambang tuh nggak ada kayak di kantoran yang kalau telat bisa bikin alasan macet atau tiba-tiba sakit perut dan harus bolak-balik kamar mandi selama dua jam. Bos nggak akan mau tahu, yang jelas siap-siap terima surat teguran atau bahkan peringatan. Tambang yang beroperasi 24 jam juga menyebabkan jam kerja karyawan 'dirasa' nggak beraturan. Ada yang masuk pagi pulang sore, sore pulang malam, malam pulang pagi, atau bahkan ada yang masuk pagi pulang pagi lagi. Dan, ini bikin saya dapat label 'pemburu dollar'. Memang beberapa kalimat yang dilontarkan cuma bahan bercandaan, tapi setelah dipikir-pikir lagi, julukan itu kok jelek banget, ya? Itu baru satu jenis tempat kerja. Gimana yang lainnya, ya?

One day, saya pernah ditanya apa saya bahagia, apa saya nyaman dengan pekerjaan saya. Ketika saya jawab belum bisa menilai karena belum lama kerja, si penanya bilang 'mau gaji gede juga kalau nggak nyaman ya mending sih nggak usah.' Saya jadi bertanya-tanya, nggak nyaman ini dalam hal apa? Karena lingkungan pekerjaannya, tekanan kerjanya, suasana kerjanya, risiko yang harus ditanggung karena kerjanya (misal harus jauh dari orang tua dan nggak pulang selama berbulan-bulan), atau karena nggak sesuai passion dan imipian?

Saya menulis ini bukan sebagai upaya menunjukkan bahwa saya bahagia, atau saya besar gajinya. Saya menulis ini hanya karena gemes aja. Sama yang bilang kerja kantoran belum tentu lebih bahagia daripada yang kerja di rumah, yang kerja besar gajinya belum tentu lebih bahagia dari yang bergaji kecil, atau yang kerja nggak sesuai passion-nya itu nggak bahagia. Karena asal tahu saja, untuk bekerja di tempat seseorang berada sekarang, nggak akan bisa diuangkan seberapa banyak usaha dan apa aja yang udah dilalui. Untuk bisa berada di posisi saat ini, kita nggak tahu siapa yang sedang seseorang itu berusaha bahagiakan. Mungkin kita ngelihatnya terbebani banget. Tapi kita nggak tahu seberapa ikhlas orang tersebut dalam pekerjannya.

Saya pribadi, iya kerjanya siang dan malam. Tapi, setelah dipikir dan dilihat lebih jauh lagi, kerjaan saya nggak jelek-jelek amat kok. Saya ditempatkan di klinik perusahaan di bagian Asuransi Kesehatan. And I come to think about it, I realize that I save people. Nyelamatin pasien dari beban membayar biaya kesehatan yang nggak murah. Jadi, ada sisi positifnya, bukan melulu ngejar duit.

Pemburu dollar, workaholic, Si Gila Kerja, itu semua julukan yang menurut saya bernada negatif. Kesannya mengejar uang terus. Tapi, layaknya seorang Ayah yang kelelahan seharian kerja hingga nggak bisa menemani anaknya main di rumah, mereka yang lagi kerja walaupun nggak sesuai passion ini sebenarnya lagi berusaha untuk berbahagia. Dengan cara yang ada, dengan cara yang saat ini mereka punya. Jadi, kalau lihat ada orang yang kerja dari pagi sampai pagi lagi, stop stop deh bilang pemburu dollar. Cobalah sesekali untuk melihat sesuatu nggak selalu dari sisi yang terlihat.

Selasa, 10 Oktober 2017

,

Sebuah proyek dengan imbalan menggiurkan - kenaikan gaji sebesar dua kali lipat dari gaji sebelumnya. Amora, wartawan infotainment yang memang terkenal dengang kepiawayannya mengorek berita langsung menerima tantangan dari bosnya: Ardian, aktor tampan yang berbakat dan populer dengan segudang prestasinya. Kehidupan pribadinya yang digembok kuat-kuat membuat laki-laki itu selalu tampak sempurna dalam hal apa saja. Denga percaya diri, Amora memulai investigasinya. Akan tetapi, hal itu ternyata tidak mudah. Kemunculan skandal pertama Ardian secara tiba-tiba dan sama sekali di luar dugaan Amora justru menghambat perjalanan misinya.

Bagaimana perjalanan Amora selanjutnya? Berhasilkah ia menguak diri Ardian yang sebenarnya? Atau justru ia akan memilih untuk menyerah saja?

****

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore, seneng banget rasanya hari ini. Ada kabar gembira yang amat menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga. Siang ini, ada satu e-mail yang masuk ke ponsel gue, dan itu adalah email yang udah sejak lama gue tunggu-tunggu.

Yap! Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam, penantian gue yang udah berlangsung selama berbulan-bulan mendapatkan ujung pertamanya. Setelah hampir sepuluh bulan, naskah yang gue kirim ke penerbit Bhuana Ilmu Populer pun ketemu tanggal rilis di Scoop. Betapa bahagianyaaa....

Latar Belakang Novel Paparazzi

Naskah novel yang gue kirim ini judulnya Paparazzi. Gue mau cerita sedikit. Jadi, sebenernya novel ini awalnya diberi judul Paparazzi and I dan merupakan naskah yang gue tulis sekitar tahun 2014. Naskah ini proses penulisannya tergolong cepat. Dua minggu selesai, dua minggu diedit. Iya, sebulan doang. Soalnya kemaren itu gue ikutsertakan dalam lomba Bulan Narasi milik nulisbuku, dimana pesertanya ditantang untuk menulis novel dalam waktu satu bulan. Tapi, sayang, nggak menang.

Sekitar dua tahun novel ini megendap di laptop dengan jatah tengok yang amat jarang. Iya, ketika peserta lain yang nggak menang lomba memutuskan untuk menerbitkan novelnya secara indie, gue memutuskan untuk mengendapkannya. Gue pikir, nanti gue bakal tetep terbitin, tapi nanti, edit dulu. Tapi, kesibukan semester akhir dan disambung dengan pekerjaan bikin gue jadi nyaris nggak ngedit. Diedit sih tapi ya kadang cuma benerin typo. Sekitar setahun diendapkan, gue meniatkan untuk ngirim naskahnya ke penerbit. Gue belum PD untuk terbit indie kayak temen-temen gue. Harus dari penerbit, supaya seenggaknya ada yang nilai, novelnya emang udah layak terbit atau belum. Waktu itu, gue mempersiapkan sekitar 4 naskah yang sama namun dengan pengaturan yang berbeda. Rencana awal, mau dikirim ke PT. Elexmdia Komputindo, kalau nggak lolos ke PT. Bentang Pustaka, Stiletto, dan Divapress. Tapi, keberanian belum ada. Nggak pede. Padahal dulu gue masih aktif banget di Wattpad dan pembaca bisa dibilang lumayan, pmus cerita gue disuka. But, pandangan pembaca dan penerbit pasti variabel penilaiannya berbeda. 

Dua tahun kemudian, barulah hati gue bener-bener mendesak bahwa naskah ini harus gue kirim. Diterima atau nggak itu urusan belakangan, yang penting kirim dulu. Salah satu motivasi gue adalah kemunculan generasi Wattpad Writer yang bener-bener emang lagi booming bahkan sampai sekarang. Beberapa dari mereka bahkan ada yang masih murid SMA. Gue, yang waktu itu udah setahunan diwisuda sarjana jadi malu. Kapan gue berkarya? Gue iri. Kok anak SMA bisa, gue yang udah togaan nggak bisa? Tapi iri dalam melakukan hal positif nggak apa-apa, kan?

Akhirnya gue buka-buka lagi web beberapa penerbit dan lihat persyaratan naskahnya. Disitulah gue ketemu Bhuana Ilmu Populer. Sebenarnya, gue nggak terlalu familier dengan buku-buku BIP. Karena setahu gue, BIP itu penerbit buku anak. Tapi, pas baca persyaratannya yang tergolong mudah apalagi untuk yang tinggal di luar Jabodetabek seperti gue, gue memutuskan untuk mengirim naskahnya ke BIP. 

Gue ngirim naskahnya sekitar September dan dikabari bulan November. Bahwa BIP bersedia menerbitkan buku gue tapi dalam bentuk digital. Sejujurnya, gue mau buku cetak. Tapi, setelah dipikir-pikir, ini rezeki. Bisa jadi emang menurut Tuhan langkah awal yang bisa gue tempuh sebagai penulis adalah dengan menerbitkan buku secara digital terlebih dulu. Jadi, dengan meminta restu orangtua, gue menerima tawaran BIP.

Lika-Liku Paparazzi

Menerbitkan buku itu nggak mudah. Mulai dari pengajuan naskah hingga akhirnya rilis. Begitu pun dengan penerbitan buku Paparazzi ini. Sebagai seseorang yang belum pernah menerbitkan buku sama sekali dan berkomunikasi dengan penerbit dalam hal penerbitan, gue was-was. Takut naskahnya gagal terbit. Setelah kontrak ditandatangani, gue cuma diminta menunggu sementara naskah dalam proses pembuatan cover dan layout. Berbulan-bulan menunggu, tidak ada kabar. Padahal, penandatanganan kontrak sudah selesai sejak Februari 2017. Tapi, sampai April-Mei-Lebaran-Juli, naskah gue statusnya masih sama. Nunggu layout... Makin khawatir. Jadi, hampir tiap jeda sebulan, gue email editornya, Mbak Denti Rahayu, nanyain kabar naskahnya. Tapi, beberapa email nggak dibalas, sisanya dijawab dengan jawaban yang sama; menunggu. Untuk itu, gue dalam tulisn ini juga khusus mau berterimakasih kepada BIP dan Mbak Denti atas kesabarannya mnghadapi penulis seperti saya 🙏

Nggak ada yang bisa dimintai pendapat, gue nanya ke Mbak Marlina Lin, penlis Urgent Wedding terbitan Grasindo. Alhamdulillah, mbaknya welcome dengan pertanyaan gue dan mau membantu memberikan solusi. Oh iya, gue juga mau berterimakasih sama temen dan adek gue, Julia Rahmawati yang dulu udah membantu gue bikin cover Paparazzi and I saat diikutsertakan dalam lomba. Walau berganti judul dan cover, kontribusi dan motivasinya besar banget dalam novel ini. Terima kasih juga kepada Roni Ramdhani, first reader buku ini dan orang pertama pula yang memberikan saran sehingga novel yang awalnya memakan 300 lebih halaman kertas A4 ini bisa dipangkas sedikit. 

Mengikuti saran Mbak Ina, gue nanyain lagi ke Mbak Denti. Tapi, hasilnya sama. Akhirnya, gue memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya ke penerbir. Karena, kalau sudah rilis, pasti dikabari. Alhamdulillah, proses selanjutnya udah nggak terlalu lama. 

Mau Baca Buku Paparazzi?

Oke, ini heading 3-nya kepedean haha tapi, kalau-kalau ada yang mau baca buku Paparazzi, bukunya sekarang sudah rilis dan sudah bisa dibeli di Scoop. Caranya,

1. Download dan Install aplikasi Scoop di Playstore
2. Daftar atau buat akun bagi yang belum punya, atau login bagi yang udah punya akun.
3. Ketik Elsita F atau Paparazzi di kolom pencarian
4. Tekan tombol beli
5. Buat yang pakai Scoop premium, sepertinya bukunya sudah bisa dibaca juga.

So, this is all the happines I want to share with you guys. May Allah bless me and you, always. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 25 Mei 2017

,
Sumber Gambar
Warung Blogger sudah berusia enam tahun, nggak kerasa pula saya ngeblog juga sudah hampir menyentuh angka tersebut, walau baru dua tahun belakangan ini saya benar-benar aktif dan mengisi blog saya dengan konten yang bermanfaat. Awal mula ngeblog memang bukan karena inisitaif sendiri tapi karena tugas sekolah yang diharuskan untuk diposting menggunakan blog pribadi. Waktu itu saya masih duduk di SMK jadi belum melihat betul apa manfaat dari menulis secara online. Namun demikian, sejak awal nama blog saya tidak pernah berubah. Tetap mengguakan Diary Lusuh hingga sekarang.

Kesukaan saya pada cerita ataupun hobi saya di dalam bercerita menjadi pemicu utama keapa saya mulai aktif untuk mengisi blog dengan berbagai macam tulisan. Awalnya, blog tersebut hanya berisi tulisan-tulisan absurd dengan unsur komedi. Beberapa di antaranya diambil dari pengalaman yang murni pribadi. Sisanya, sekedar pemikiran nggak jelas yang jauh dari kata kritis dari seorang gadis belia.

Waktu berlalu, blog saya mulai dikenal orang walau masih terbatas pada teman-teman sekelas yang pasrah dipaks membaca, atau beberapa teman sosial media yang iseng-iseng demi mencari hiburan. Tapi, tidak saya duga, dari situlah pengunjung blog saya mulai berkembang. Mulai dari teman hingga orang asing yang kebetulan mampir tapi lalu betah untuk singgah lagi dan lagi demi satu episode terbaru cerita bersambung ataupun update-an pengalaman lucu dan menghibur yang saya alami.

Saat itulah saya benar-benar mersakan best moment selama ngeblog. Menyadari bahwa kini tulisan-tulisan saya digemari dan dibaca banyak orang, cerita-cerita saya mengundang perhatian dan kini didengarkan adalah salah satu anugerah Tuhan yang tidak bisa saya bantah. Karena dalam kehidupan nyata saya, sikap cerewet saya kerap membosankan. Ketika saya menceritakan sebuah film favorit tanpa henti, ketika saya menungkapkan rasa puas setelah membaca buku tertentu, atau ketika saya sekedar melontarkan gurauan sederhana namun nyatanya dirasa mengganggu.

Blog saya mungkin terlihat sepi follower ataupun komentar, tapi lewat akun media sosial pribadi saya, beberapa pembaca kerap mengirimakan pesan demi mengungkapkan rasa sukanya atau sekedar menagih kelanjutan suatu cerita yang belum menemukan ending-nya. Di saat itu, saya merasa menjadi pembicara, pencerita yang tak kasat mata. Momen ketika kita didengarkan dengan saksama oleh lawan bicara buat saya adalah salah satu penghargaan tertinggi dalam menjalani hidup dan itu saya dapatkan dari ngeblog. Ketika pembaca tidak jenuh dan dengan serius membaca tulisan saya hingga selesai walau hanya satu judul, di saat itu saya benar-benar merasa didengarkan.

Inilah pengalaman terbaik saya selama ngeblog. Tapi, tidak berhenti sampai disitu, masih ada pengalaman lainnya yang membuat saya semakin bahagia. Di antaranya adalah ketika memenangkan lomba menulis yang diharuskan untuk diposting dalam blog pribadi. Momen tersebut semakin menambah kebaikan-kebaikan yang saya peroleh dari aktivitas menulis secara online. Dipilih sebagai pemenang suatu lomba membuat saya merasakan nilai yang lebih. Bahwa tulisan saya, cerita saya, tidak hanya untuk didengar tapi naik tingkat menjadi cukup layak untuk didengarkan. Ditambah ketika saya mulai aktif menulis resensi buku yang kemudian membuat salah seorang penulis yang cukup terkenal tidak ragu mengirimkan buku terbarunya untuk saya baca dan dibuatkan resensi. Perasaan saya semakin membuncah oleh fakta baru bahwa ternyata tulisan saya, cerita saya, mampu mendatangkan manfaat tidak hanya bagi diri saya sendiri tapi juga bagi orang lain.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 Warung Blogger



Selasa, 11 April 2017

,
Sumber Gambar
Malam ini gue kembali dengan bahasan yang mungkin udah lama gue tinggalkan, cerita yag mungkin juga lebih cocok mejeng di blog yang gue beri nama Diary Lusuh ini, cerita tentang hal-hal yang menarik (menurut gue) yang gue alami ataupun terjadi pada orang-orang di sekitar gue.

Tuhan. Kalau ditanya satu per satu, definisi Tuhan bagi setiap orang mungkin berbeda-beda. Bagi gue pribadi, gue nggak pernah bisa membuat definisi atau penjelasan mengenai Dia yang nggak pernah gue lihat namun selalu gue rasakan keberadaanNya di mana pun gue berada. Mungkin kalau ditanya lebih spesifik ke agama yang dianut, Muslim akan memberi jawaban bahwa Tuhannya adalah Allah, bagi penganut atheis, Tuhan mungkin bisa jadi sesuatu yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Namun malam ini, gue menemukan kemungkinan baru bahwa bagi beberapa orang Tuhan bisa saja adalah sebuah pertanyaan. Siapa Dia? Bagaimana Rupanya? Bagaimana ia bisa ada? Dan pertanyaan itu datang dari satu-satunya adik yang gue miliki, Vika.

Seperti biasa, karena gue jauh dari perantauan, malam-malam kayak gini kadang gue isi dengan bertukar cerita bersama keluarga, menanyakan kabar hingga ke hal seremeh apa yang dimasak di rumah. Nggak lupa pula, gue selalu menanyakan perkembangan Vika dan nyokap juga nggak pernah keberatan untuk bercerita. Bisa dibilang, Vika kini bukan cuma tanggung jawab orang tua gue tapi juga jadi tanggung jawab gue. 

Nggak hanya tumbuh sebagai adik yang chubby dan lebih berat dari kakaknya, Vika juga adalah anak yang cerewet dan selalu ingin tahu, banyak bertanya ini dan itu. Sejauh ini sudah cukup banyak pertanyaan yang ia ajukan dan ada beberapa yang terkadang membuat gue atau siapapun yang ia tanyai harus memutar otak untuk menjawab.

Dia pernah nanya:

"Vika terbuat dari apa?"

"Orang kalau udah meninggal akan kemana?"

"Ke surga itu gampang atau nggak?"

Dan malam ini dia bertanya tentang Tuhan. Harus gue akui bahwa pertanyaan tentang Tuhan yang datang dari anak-anak yang masih polos ternyata lebih sulit dijawab daripada pertanyaan yang ditanyakan oleh seorang atheis. Kepolosan seorang anak dan keingintahuannya yang masih tulus membuat kita harus benar-benar jeli dalam memilih dan memberikan jawaban yang pas. Malam ini, gue nggak tahu apakah jawaban yang gue berikan sudah bagus atau nggak.

Kira-kira begini rentet pertanyaan adik gue itu:

Vika: Kakak, Allah itu punya mama nggak sih?

Gue: Nggak ada (gue jawab segini doang karena hanya jawaban ini yang bisa gue berikan. Gue yakin kalo ngasih dalil ataupun hadits, Vika malah makin nggak paham dan pertanyaan makin melebar).

Vika: Terus yang nyiptain Allah siapa?

Gue: Nggak ada. Allah itu kan pencipta, yang nyiptain kita - manusia. 

Vika: Oh jadi kita ini cuma dititipin gitu ya sama Allah ke mama papa.

Gue: Iya. (Gue sempat kaget bahwa pemikira adik gue udah bisa sampai kesana, ke hal yang mengarah pada amanah).

Vika: Kalo gitu kak Nabi Isa itu siapa?

Gue: Sama kayak kita manusia. Tapi Nabi Isa itu tuh manusia yang paling disayang sama Allah.

Vika: Oh gitu. Terus sekarang ada dimana?

Gue: Ada di langit (Gue jawab gini karena menurut agama yang gue pelajari salah satu manusia yang paling istimewa ini sekarang ada di langit dan menunggu untuk melaksanakan tugas akhirnya; menumpas Dajjal).

Vika. Oh kirain ada disini. Kalo ada mau Vika ajak selfie

Untuk tanggapannya yang terakhir sumpah gue ngakak. Bukan menertawakan Nabi Isa ya, gue ketawa karena tanggapan itu kedengaran lucu banget. Dari sini gue benar-benar baru menyadari bahwa anak-anak adalah makhluk yang amat polos, yang karena hal itulah ia dititipkan pada kita untuk kita bimbing. Gue nggak tahu apa ke depannya Vika bakal tetap secerewet dan sekepo ini, tapi gue bersyukur. Walau hanya sedikit dan baru tahap pengenalan standar, setidaknya gue dan kedua orang tua gue sudah bisa mulai memberikan bekal dasar dalam mempelajari agama ke adik gue. Gue sih selalu percaya, untuk menjadi orang tua atau panutan yang baik, untuk bisa mengajarkan hal yang baik, kita nggak perlu jadi otoriter dengan memasakan kehendak dan pemahaman kita pada anak-anak, atau memberikan pendidikan yang keras sejak dini. Karena mereka masihlah anak-anak, maka sudah sewajarnya kita menyesuaikan diri dengan usia mereka sehingga pelajaran dan nasehat apa pun yang kita berikan lebih bisa ia cerna dengan baik dan bukan mustahil menjadi hal menyenangkan baginya.

Jumat, 23 Desember 2016

,
Hai.. haii.... cukup lama nggak posting dengan label ini. Setelah sekian lama gue kepikiran untuk kembali berbagi sejumput kecil cerita hidup gue, yang pastinya selalu lucu dan mengundang tawa. Menebar kesedihan itu nggak baik *duh jadi bijak.

Oke, nggak ada yang kangen tentunya tapi dari beberapa sumber yang cukup terpercaya, pengunjung blog ini juga ada yang suka dengan postingan random dan nggak jelas yang kadang-kadang nemplok di otak gue. Buat yang pernah baca blog ini pada masa bertumbuhnya ia sampai menjadi review-er buku seperti sekarang, pasti ingat dengan kisah adik kecil satu-satunya gue yang memiliki jarak tempuh usia hingga empat belas tahun dari gue. Cukup panjang juga perjalanannya supaya bisa menginjak bumi. Walau tak mendaki gunung dan lewati lembah seperti Ninja Hattori, adik gue itu cukup perkasa di usianya yang sudah memasuki anka tujuh tahun.

Seinget gue dulu sering posting tentang dia saat dedek masih unyu unyu dan tidak sebesar dan segendut ini...




Ini foto tahun lalu sih saat masih enam tahun, tapi percayalah dia kini sudah lebih besar. Gue jarang pulang sih jadi nggak punya update-an foto-foto terbaru si Vika.

Jadi ceritanya kemari si Vika baru aja terima rapot semester satu. Doi sudah kelas II SD pemirsaah... sudah besar dan pintar pula, tambah bawel dan menggemaskan. Udah bisa main smartphone, baca tulis bahkan ngetik SMS ke gue yang isinya cuma nanyain lagi apa dan kapan pulang. Sabar ya dek kakak akan pulang kalau sudah jadi orang kaya *kedengeran kayak janji picisan pemuda yang pamit merantau ke gadis desa nggak, sih? ✌✌✌✌❤

Ngomong-ngomong soal orang kaya, semalem sebelum jam 12 malam dan paketan bokap habis, Vika nelfon gue. Buat ngabarin kalau dia dapat peringkat III di kelas. Penurunan banget setelah sebelumnya dapat peringkat I lalu II. Sepertinya kata-katanya menjadi boomerang buat dirinya. Dulu waktu dapat peringkat II katanya wajar karena dia naik kelas II jadi peringkat II -_-
Dia nelfon bukan tanpa tujuan juga sih. Demi merayakan peringkat III-nya ini, dia minta dibeliin Pizza sama Burger. Begitulah orang gendut, apa-apa selalu makanan bahkan di momen sebenarnya dia bisa nguras kantong gue dengan brutal di saat seperti ini, Vika cuma kepikiran makanan dan hobi makannya. Buat Vika makan itu emang bukan sekedar kebutuhan tapi juga hobi yang sulit ditanggalkan.

Kebawelannya semalam dimulai dari dia nanya cita-cita gue apa. Sebagai kakak yang humoris dan suka membuat adik penasaran dengan dunia luar yang belum dikenalnya, gue menjawb dengan bijak:

"Kakak mu jadi orang kaya."

Dan beginilah tanggapannya "kalau kakak mau jadi orang kaya, seharusnya kakak ikut take me out." Buset dah! Gue jadi kepikiran ini adik gue korban variety show salah kaprah kali ya.

Pas gue tanya balik Vika cita-citanya mau jadi apa, katanya "mau jadi wasit sepak bola". God! Ini sih ketahuan korban Indonesia vs Vietnam kemarin haha. Bokap gue yang dengerin percakapan gue sama dia bilang kalau Vika cocoknya jadi polisi dan jawaban adik gue ini adalah "Vika nggak mau jadi polisi. Takut ketemu penjahat."

Badan adik gue ini emang besar dan menggemaskan, cubitable deh tapi ya itu apa-apa takut. Bebek takut, ayam takut bahkan penjahat 


Selasa, 01 November 2016

,

Berbicara soal soulmate, belahan jiwa, pasangan hati dan istilah-istilah lain yang menggambarkan betapa berartinya, betapa berharganya sesuatu bagi kita, atau seseorang bagi kita, kebanyakan orang pasti akan menyebut bahwa soulmate-nya adalah siapa yang nanti akan menikahinya, mendampinginya hingga masa tua, atau seseorang yang memiliki kesamaan hobi, passion hidup yang searah, prinsip hidup yang sependapat atau memilih memberikan gelar kehormatan itu kepada sahabat terbaik yang selalu medampingi dalam suka maupun duka. Tapi ada juga yang justru melabeli benda kesayangannya sebagai soulmate-nya. Saya adalah salah satunya (yang sayangnya baru menyadarinya belakangan ini).

Pertanyaan tentang soulmate ini sudah sering saya temui, sudah banyak ditanyakan pula. Selama itu, saya belum bisa menjawab. Tapi kini, jika pertanyaan itu kembali diajukan, maka saya dengan bangga akan menjawab bahwa soulmate saya adalah buku.

Gelar kutu buku sudah sejak lama melekat pada diri saya, gelar yang menurut orang-orang itu cupu, nggak keren apalagi lucu. Mungkin kalau udah lihat saya yang asyik membaca, beberapa teman akan langsung membayangkan Betty Lafea, salah satu tokoh telenovela berkacamata, kikuk dan nggak pede di depan orang-orang, cenderung introvert dan sangat cocok jika mendekam di perpustakaan berjam-jam. Tapi buat saya itu adalah gelar kehormatan. Buku-buku yang selama ini selalu menemani saya kemanapun saya pergi, sampai dijuluki kutu buku adalah merupakan pujian bahwa betapa lekatnya saya dengan benda satu ini, betapa dekatnya saya dengan belahan jiwa saya.

Penobatan buku sebagai soulmate yang baru saya lakukan belakangan ini bukan tanpa alasan, tapi disebabkan oleh suatu bentuk kesadaran bahwa hanya dengan bukulah saya merasa lengkap, saya merasa utuh. Seperti ada yang kurang jika saya tidak bersama buku, ada yang hilang dan tidak akan bisa diisi kekosongannya oleh gadget canggih manapun. Ya saya mengantongi ponsel kemana saya pergi karena saya membutuhkannya untuk berkomunikasi, ya saya terkadang memainkan game di dalamnya jika sedang bosan. Ya saya menenteng laptop saat berangkat bekerja karena saya membutuhkannya untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi tidak pernah ada di antara kedua benda itu yang membuat saya merasakan kehilangan apabila tidak membawanya. Tapi buku, sehari saya nggak bawa buku, nggak menengok buku, seperti makan tapi kurang garam. Nggak pas!!

Menyadari pula bahwa sejak kecil saya sudah akrab dengan bacaan, dengan buku, sudah sering mengobrak-abrik buku-buku peninggalan kakek saya, beberapa arsip pekerjaan yang dibukukan, hanya demi memenuhi keinginan dan rasa haus akan bacaan baru membuat saya semakin tidak ragu untuk menyematkan kata soulmate sejajar dengan buku. Sejak saya mulai bisa lancar membaca yang itu artinya sekitar tujuh belas tahun lalu saat saya masih berusia empat tahun, buku adalah benda yang paling saya cari. Meski memang saat itu tidak seagresif sekarang karena keberadaan mainan robot-robotan dan perabot masak-masakan. Tapi terbukti bahwa ketika rasa cinta saya akan mainan-mainan lucu tersebut hilang, kecintaan saya pada buku tak juga berkurag, justru bertambah setiap harinya.

Maka dari itu, buku adalah soulmate saya, Pasangan jiwa sepanjang masa yang nggak akan pudar dimakan usia. Yang akan membuat saya kehilangan jika ia tidak ada dan tentu saja akan membuat saya tenang meski hanya sempat melihat sampulnya dan tidak menemukan waktu untuk melahap isi-isinya hingga ke halaman paling belakang. Buku adalah soulmate saya sepanjang masa.

Kamis, 18 Agustus 2016

,
Hal apa yang akan orang tanyakan pertama kali ketika kita memasuki bangku sekolah? Jawabannya adalah IMPIAN.

“Kamu mau jadi apa?”

“Kamu ingin jadi seperti siapa?”

Bagi anak-anak itu adalah pertanyaan sederhana dan mudah untuk dijawab. Anak kecil mana saja pasti akan menjawab berdasarkan pada sesuatu yang mereka sukai, atau sesuatu yang mereka anggap hebat.

“Aku mau jadi Power Ranger untuk membela kebenaran!”

“Aku mau jadi cantik seperti mama!”

“Aku mau jadi pemain bola.”

“Aku mau jadi pilot.”

Begitu pun saya. Waktu kecil, ketika saya ditanya perihal impian pertama kali jawaban saya adalah “Aku mau jadi guru.” Saya lupa waktu itu siapa yang bertanya, tapi ketika pertanyaan tersebut disusul oleh alasan mengapa saya memilih untuk menjadi guru, jawaban saya adalah “supaya bisa menghukum anak yang nakal.” Sederhana sekali, bukan? Meski itu adalah jawaban spontan anak kecil yang bahkan mungkin belum mengerti apa itu impian yang sebenarnya, impian masa kecil tersebut telah membuat saya berusaha belajar dengan giat untuk dapat mewujudkanya.

Seiring dengan bertambahnya usia dan meluasnya pergaulan serta pengetahuan yang didapatkan, impian masa kecil tersebut ternyata tidak bertahan. Ia berganti oleh sesuatu yang datang dari rasa kagum.

Saat saya SD, saya berkenalan untuk pertama kali dengan sepupu jauh Ayah saya yang bekerja sebagai seorang Pramugari. Kecantikan dan kecerdasannya membuat saya kagum dan detik itu juga saya memutuskan untuk mengubah impian saya dari seorang guru menjadi Pramugari.Saat itu, yang saya tahu, dasar utama dalam menjadi Pramugari adalah kecerdasan bahasa asing, terutama bahasa inggris. Di samping ketertarikan yang besar dengan bahasa Inggris, impian untuk menjadi Pramugari juga memacu saya untuk mempelajari bahasa Inggris dengan lebih giat. Sayang, impian itu kandas saat memasuki bangku SMP dikarenakan saya sudah dapat menduga bahwa proporsi tubuh saya tidak akan memenuhi syarat untuk menjadi Pramugari.

Menginjak kelas VIII saya kembali menemukan impian. Menjadi pengacara! Saat itu, saya sangat menyukai pelajaran PPKN sekaligus gurunya, beliau bernama Ibu Djamila, dan materi yang sangat saya sukai adalah tentang proses persidangan. Sejak saat itu, saya sangat tertarik untuk menjadi Pengacara. Hadirnya sinetron Bunda yang dibintangi Meriam Bellina juga membuat semangat saya semakin menanjak. Namun, impian itu juga berakhir dilupakan ketika saya menemukan hobi baru; mendengarkan radio.

VJ radio sepintas didengar adalah profesi biasa saja. Lantas, apa yang membuat saya menempatkannya sebagai pengganti impian sebagai seorang Pengacara? Jawabannya adalah suara. Meski tidak dilihat, bertatap secara langsung, VJ radio adalah pembicara yang didengarkan oleh masyarakat umum tidak peduli penting atau tidak penting yang dikatakannya. Jika itu penting, maka orang-orang akan mendengarkannya dengan serius. Jika tidak maka mereka akan meganggapnya sebagai hiburan, jika itu lucu maka orang-orang akan tertawa, jika itu membosankan mereka akan mengganti saluran radio, tapi tetap saja pasti akan ada yang mendengarkan karena selera tidaklah sama dan setiap orang selalu memiliki cara berbeda dalam menerima dan memproses informasi. Bagi saya itu sangat keren! Menjadi selebriti misterius yang hanya dikenal lewat suara dan nama samaran. Saya bisa tetap berjalan-jalan ke mana saja dengan bebas tanpa takut dikerubuti pendengar yang ingin berkenalan atau pun berteman. Dan sama seperti sebelumnya, cita-cita itu pun menemukan penggantinya.

Menulis adalah hal yang baru saya kenal ketika menginjak bangku X SMK. Tentu saja menulis Diary dan curahan hati sudah saya lakukan sejak SMP, akan tetapi menuliskan cerita dengan konflik sekaligus penyelesaian yang masuk akal adalah sesuatu yang baru. Saat itu, saya ingat, bahwa saya pertama kali menemukan keinginan untuk menulis adalah setelah membaca karya novel teman saya yang duduk di bangku X MA (Madrasah Aliyah). Tulisannya benar-benar menginspirasi saya yang doyan menyusun cerita di dalam kepala sebagai pengantar tidur karena dongeng sudah bukan lagi hal yang dapat diberikan kedua orang tua.

Dari situ saya berpikir bahwa akan lebih baik jika cerita-cerita yang berputar di dalam kepala itu saya tuliskan agar tidak mudah dilupakan dan dapat kembali diulang jika saya menginginkan. Sejak saat itu, saya jadi sering menuliskan apa pun. Tak terhitung berapa banyak cerita yang tak selesai atau bahkan tak diselesaikan sebelum menemuka konflik. Akan tetapi, ternyata hal itulah yang membuat saya menemukan dunia saya.

Menulis membantu saya menemukan kebahagiaan nyata yang didapat dari sesuatu yang sederhana. Saya menemukan impian saya yang sebenarnya! Saya ingin menulis, ingin dibaca dan ingin agar tulisan saya suatu saat nanti bisa dibaca dan menginspirasi banyak orang. Dan ini adalah impian yang tidak akan pernah berubah lagi. Meski mungkin nanti saya menemukan hal menyenangkan lain, menulis akan tetap memiliki tempat tersendiri di dalam hati dan tidak akan pernah saya tanggalkan selama-lamanya.

Menulis membuat saya menemukan dunia baru yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Membuat saya berhasil menemukan diri di saat muncul keraguan akan kekonsistenan diri dalam mengusahakan dan mempertahankan sesuatu. Sejak impian untuk menjadi VJ itu berakhir, pertanyaan akan impian tidak lagi datang dari orang tua atau pun keluarga melainkan dari diri sendiri.

What am I wanna be?

Sebenarnya ingin jadi apa aku. Kenapa impian terus saja berubah dan tidak pernah menemukan kesejatiannya?

Kini, akhirnya saya menemukan hal yang benar-benar ingin saya lakukan. Saya ingin menulis! Entah tulisa itu akan dapat dibukuka suatu saat nanti atau tidak, saya tetap ingin melakukannya.


Rabu, 27 Juli 2016

,
Sumber Gambar
Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran selalu identik dengan dua hal; mudik dan liburan. Hal sederhana yang sudah membudaya di masyarakat Indonesia bahkan selalu dinanti-nantikan kedatangannya. Satu minggu sebelum lebaran, kita tidak hanya disibukkan oleh persiapan untuk menyambut lebaran itu sendiri, tetapi juga disibukkan oleh persiapan untuk pulang ke kampung halaman serta rencana liburan bagi yang tinggal jauh dari keluarga, atau pun bersiap-siap menyambut orang-orang yang kita cintai kembali di rumah. 

Lebaran adalah momen bahagia bagi yang merayakannya, serta perwujudan dari indahnya berkumpul bersama keluarga. Begitu pun saya, lebaran dan berkumpul bersama keluarga adalah paket lengkap yang selalu saya nantikan sejak delapan tahun lalu. Sebagai seseorang yang dituntut untuk hidup mandiri dan berdiri sendiri, saya sudah lama tidak tinggal satu atap secara menetap bersama kedua orang tua saya. Satu-satunya momen di mana saya dapat berkumpul bersama mereka beserta kelaurga besar adalah saat Hari Lebaran.

Khusus lebaran tahun ini, segala hal seperti tahun-tahun sebelumnya, terasa menyenangkan (bahkan hanya membayangkan packing untuk pulang) namun juga terasa sulit dan sibuk di saat yang bersamaan.Satu minggu mejelang hari lebaran saya sudah merencanakan kepulangan, apa saja yang saya butuhkan untuk menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam Gorontalo-Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), serta apa saja yang akan saya lakukan setibanya di rumah. Saya pulang tepat H-3 lebaran dan menurut saya itu cukup untuk beristirahat setelah perjalanan jauh dan membantu Mama saya menyiapkan segala keperluan untuk hari H, termasuk menemani adik saya yang masih kecil untuk berbelanja dan mengajaknya jalan-jalan entah itu ke pantai, air terjun atau pemandian air panas dan tentu saja tidak lupa silaturahmi ke rumah-rumah saudara.

Akan tetapi, bukannya menikmati detik-detik kepulangan dengan santai, kesibukan pekerjaan saya justru meningkat drastis. Tepat satu minggu sebelum pulang, saya mendapat permintaan khusus dari salah satu atasan untuk membenahi pekerjaan – yang menurut saya ditangani dengan sangat berantakan, laporan penting yang akan digunakan untuk kepentingan pemeriksaan dari pihak yang berwenang. Awalnya, saya sedikit keberatan, apalagi itu adalah pekerjaan yang siklusnya mencapai satu tahun operasional, tapi menolak juga tidak enak. Jadi, setiap malam setelah menunaikan shalat tarawih saya dihadapkan pada tumpukan berkas yang menyakitkan (kala melihatnya) setelah siangnya juga berhadapan dengan dokumen-dokumen pekerjaan saya di kantor.

Melelahkan sekali! Namun, saya tidak menyangka bahwa atasan saya memberikan reward khusus atas kesediaan saya untuk membantu beliau. Meskipun pekerjaannya melelahkan, membuat saya masih harus bersibuk ria bahkan satu jam menjelang keberangkatan, bayangan bahwa akan segera pulang dengan tambahan reward dan rencana liburan sedikit banyak menyuntikkan semangat untuk saya.

Sesampainya di rumah, bukannya istirahat dengan rencana liburan dan silaturahmu yang disusun jauh-jauh hari, Mama saya malah menyambut dengan mentega, gula, tepung dan beberapa bahan lainnya yang belum disulap menjadi kue lebaran yang menggirukan. Tidak ada rasa keberatan, yang ada justru perasaan rindu. Sudah sejak lama saya tidak ikut berpartisipasi di rumah dalam membuat kue lebaran, salah satu momen terbaik bersama Mama saya yang hanya bisa saya rasakan setahun sekali, bahkan terkadang tidak sama sekali.

Tanpa protes, saya membantu beliau untuk menyiapkan kue lebaran, tanpa melupakan kebutuhan berbelanja adik perempuan saya satu-satunya yang masih duduk di bangku kelas I SD. Dia sudah belanja sih tapi shopping bersama kakak adalah hal yang sudah dia wanti-wanti bahkan sebelum saya pulang.

H-1 lebaran saya bersama Mama, Papa juga Adik saya akhirnya berbelanja bersama. Menyenangkan sekali, seru sekali apalagi saat memilih baju untuk Adik saya yang gendut itu, namun sayang, belum lama kami berbelanja, kami mendapat kabar bahwa Paman saya mengalami kecelakaan malam itu, rencana liburan pun batal malam itu juga. 

Keesokan harinya, kami sekeluarga hanya menunaikan shalat Ied berjamaah di masjid dekat rumah, kemudian menyambut beberapa tamu yang datang. Sisanya, saya habiskan dengan tidur-tiduran. Tidak boleh jalan-jalan karena Paman saya baru saja terkena musibah. Sesekali saya mendapat kesempatan untuk silaturahmi ke rumah beberapa saudara yang tinggal cukup jauh dari rumah, tapi hanya sebatas itu saja. Variasinya hanya pada Arisan Keluarga yang memang selalu dilaksanakan dua tahun sekali bergantian di rumah anggota keluarga besar, yang ditujukan sebagai sarana perkenalan antara para cucu ataupun cicit yang  belum pernah bertemu. 

Namun, meski hanya menghabiskan waktu lebaran di rumah, saya tetap merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu anggota keluarga khususnya kedua orang tua saya yang tidak lagi muda. Meski tidak ada jalan-jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, cand tawa bahagia tetap memenuhi suasana lebaran tahun ini. Hal ini memberikan saya satu pelajaran bahwa lebaran tidak selamanya harus diisi oleh liburan di luar rumah, tetapi juga dapat digunakan sebagai momen quality time bersama orang-orang terdekat, serta juga dapat digunakan sebagai hari untuk mengambil jeda dan beristirahat dari segala kesibukan pekerjaan yang setiap hari menuntut perhatian.

Meski tahun ini saya Lebaran tanpa Liburan, keberadaan keluarga saya di sekeliling sudah cukup untuk membuat saya bahagia.

Hari Hijaber Nasional: 7 Agustus 2016 s/d 8 Agustus 2016, Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng - Jakarta Pusat