Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Writing Contest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writing Contest. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Mei 2017

,
Sumber Gambar
Warung Blogger sudah berusia enam tahun, nggak kerasa pula saya ngeblog juga sudah hampir menyentuh angka tersebut, walau baru dua tahun belakangan ini saya benar-benar aktif dan mengisi blog saya dengan konten yang bermanfaat. Awal mula ngeblog memang bukan karena inisitaif sendiri tapi karena tugas sekolah yang diharuskan untuk diposting menggunakan blog pribadi. Waktu itu saya masih duduk di SMK jadi belum melihat betul apa manfaat dari menulis secara online. Namun demikian, sejak awal nama blog saya tidak pernah berubah. Tetap mengguakan Diary Lusuh hingga sekarang.

Kesukaan saya pada cerita ataupun hobi saya di dalam bercerita menjadi pemicu utama keapa saya mulai aktif untuk mengisi blog dengan berbagai macam tulisan. Awalnya, blog tersebut hanya berisi tulisan-tulisan absurd dengan unsur komedi. Beberapa di antaranya diambil dari pengalaman yang murni pribadi. Sisanya, sekedar pemikiran nggak jelas yang jauh dari kata kritis dari seorang gadis belia.

Waktu berlalu, blog saya mulai dikenal orang walau masih terbatas pada teman-teman sekelas yang pasrah dipaks membaca, atau beberapa teman sosial media yang iseng-iseng demi mencari hiburan. Tapi, tidak saya duga, dari situlah pengunjung blog saya mulai berkembang. Mulai dari teman hingga orang asing yang kebetulan mampir tapi lalu betah untuk singgah lagi dan lagi demi satu episode terbaru cerita bersambung ataupun update-an pengalaman lucu dan menghibur yang saya alami.

Saat itulah saya benar-benar mersakan best moment selama ngeblog. Menyadari bahwa kini tulisan-tulisan saya digemari dan dibaca banyak orang, cerita-cerita saya mengundang perhatian dan kini didengarkan adalah salah satu anugerah Tuhan yang tidak bisa saya bantah. Karena dalam kehidupan nyata saya, sikap cerewet saya kerap membosankan. Ketika saya menceritakan sebuah film favorit tanpa henti, ketika saya menungkapkan rasa puas setelah membaca buku tertentu, atau ketika saya sekedar melontarkan gurauan sederhana namun nyatanya dirasa mengganggu.

Blog saya mungkin terlihat sepi follower ataupun komentar, tapi lewat akun media sosial pribadi saya, beberapa pembaca kerap mengirimakan pesan demi mengungkapkan rasa sukanya atau sekedar menagih kelanjutan suatu cerita yang belum menemukan ending-nya. Di saat itu, saya merasa menjadi pembicara, pencerita yang tak kasat mata. Momen ketika kita didengarkan dengan saksama oleh lawan bicara buat saya adalah salah satu penghargaan tertinggi dalam menjalani hidup dan itu saya dapatkan dari ngeblog. Ketika pembaca tidak jenuh dan dengan serius membaca tulisan saya hingga selesai walau hanya satu judul, di saat itu saya benar-benar merasa didengarkan.

Inilah pengalaman terbaik saya selama ngeblog. Tapi, tidak berhenti sampai disitu, masih ada pengalaman lainnya yang membuat saya semakin bahagia. Di antaranya adalah ketika memenangkan lomba menulis yang diharuskan untuk diposting dalam blog pribadi. Momen tersebut semakin menambah kebaikan-kebaikan yang saya peroleh dari aktivitas menulis secara online. Dipilih sebagai pemenang suatu lomba membuat saya merasakan nilai yang lebih. Bahwa tulisan saya, cerita saya, tidak hanya untuk didengar tapi naik tingkat menjadi cukup layak untuk didengarkan. Ditambah ketika saya mulai aktif menulis resensi buku yang kemudian membuat salah seorang penulis yang cukup terkenal tidak ragu mengirimkan buku terbarunya untuk saya baca dan dibuatkan resensi. Perasaan saya semakin membuncah oleh fakta baru bahwa ternyata tulisan saya, cerita saya, mampu mendatangkan manfaat tidak hanya bagi diri saya sendiri tapi juga bagi orang lain.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 Warung Blogger



Selasa, 21 Maret 2017

,
Berbicara  soal cinta, kasih-mengasihi dan sayang menyayangi, semua orang pasti memiliki perasaan ini bahkan anak kecil yang belum mengerti maknanya. Setiap orang tanpa kecuali tentu saja memiliki perasaan sayang yang tersimpan dalam hatinya bagi orang-orang terdekatnya. Orangtua, kakak dan adik tercinta, kekasih pujaan hati, sahabat terbaik yang selalu berusaha mendampingi dalam berbagai keadaan, siapa saja. Untuk saya sendiri tentu saja orangtua selalu masuk dalam daftar teratas dua orang yang amat penting dalam hidup saya, namun Vika Anindya Mokodompit, satu-satunya adik yang saya miliki, yang usianya terpaut empat belas tahun dari saya, yang kehadirannya tidak diduga-duga – bahkan mungkin hampir tidak diharapkan karena berpikir bahwa Mama saya tidak akan punya anak lagi, adalah adik yang teramat saya sayangi.


Ia lahir tanggal 16 April 2009 saat saya duduk di bangku kelas XII SMK dan tinggal jauh dari orangtua. Jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh membuat saya harus tinggal dan menetap di asrama sekolah selama kurang lebih tiga tahun lamanya, hanya bisa pulang saat libur semester. Kini ia sudah duduk di bangku kelas II SD, sebentar lagi genap berusia delapan tahun dengan bobot pipi yang terlalu chubby dan berat badan yang agak mengkhawatirkan, empat puluh enam kilogram dan tinggi mencapai 140 cm! Terlalu sehat untuk anak seusia dia, tapi melihat kelincahannya dalam mengikuti berbagai kegiatan olahraga membuat kami sekeluarga tidak terlalu khawatir lagi. Beberapa kali sudah sempat konsultasi ke dokter juga dan pihak dokter mengatakan bahwa ia masih dalam masa pertumbuhan, kelak berat badannya akan turun dan normal, meski saya  yakin bahwa nanti ia akan setinggi galah, mengalahkan tinggi badan saya.

Awal-awal tahu kalau mama saya hamil, saya dilanda dilema anak tunggal gagal. Di satu sisi saya senang karena akhirnya akan ada bayi di rumah tapi di sisi lain saya merasa tidak rela. Bayangan akan kasih sayang yang akan terbagi dan perhatian yang akan tercuri menghantui benak saya, membuat saya terkadang iri dengan kelucuan dan kecerdasannya yang memang sudah terlihat sejak kecil. Orangtua saya pasti akan lebih sayang padanya dibanding saya!

Namun ternyata pikiran negatif saya itu tidak terbukti. Mama dan papa memang jauh lebih memperhatikan Vika karena usianya yang masih kecil dan memang lebih butuh perhatian namun sama sekali tidak mengurangi kadar dan porsi perhatian mereka terhadap saya. Secara perlahan namun pasti, saya pun merasa bahwa rasa sayang saya terhadap Vika pun bertambah dan menumpuk setiap harinya.

Adik Kecil yang Besar

Karena porsi makan yang tidak sedikit sejak bayi, Vika tumbuh menjadi anak yang ‘besar’. Gendut adalah kata yang pas bersanding dengannya tapi karena ia tak suka dipanggil demikian maka saya akan menggantinya dengan kata chubby. Melihat perkembangan tubuhnya yang begitu sehat saya selalu merasa gemas dan terhibur kapan pun melihatnya. Polahnya yang lucu, pipinya yang gembil dengan mata sipit dan hidung agak pesek, celana pendeknya yang muat di pinggang saya, keusilannya membongkar perelngkapan make up saya membuat saya sering dibuat tertawa dan merindukannya.

Sahabat yang Mengasyikkan untuk Bertukar Cerita

Selain chubby, Vika adalah anak kecil yang cerewet dan selalu punya banyak cerita. Seperti kebiasaan yang Ayah saya berikan terhadap saya – membacakan dongeng menjelang tidur, Vika juga mendapat perlakuan yang sama. Dan ketika saya pulang, dongeng-dongeng tersebut akan kembali ia ceritakan dengan berbagai ekspresi menggemaskan. Ia pun selalu punya banyak cerita seru tentang sekolah, teman-teman dan aktivitas hariannya, hingga keusilannya pada Papa dan nenek saya. Saya yang jauh di perantauan pun menjadi sangat terhibur ketika bertukar cerita lewat telepon dengannya. Rasa sepi karena hidup sendiri pun terobati, terasa seperti pulang walau sebenarnya cuma ngadem di kos-kosan.

Selalu Meneladani Hal-hal Positif yang Saya Lakukan

Terlahir sebagai adik yang punya jarak usia cukup jauh dari kakaknya, Vika – tanpa diminta, selalu menjadikan saya sebagai kiblat dalam melakukan sesuatu. Tentu saja ia tetap menjadi dirinya dengan segala keunikannya, dengan kesukaannya pada kucing, pada ayam goreng dan citta-citanya menjadi perawat. Namun, kala melihat riwayat pendidikan saya, ia pun ingin melakukan hal yang sama. Menjadi juara kelas, ikut berbagai kegiatan sekolah yang menyenangkan, mendapat gelar sarjana di usia muda, hingga  menjadi kutu buku seperti kakaknya. Hal ini membuat saya makin sayang. bangga terhadapnya, juga berterima kasih karena telah menjadikan saya role model-nya.

Motivator Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Bagaimana caranya meniru hal-hal yang saya lakukan, karena Vika, saya mendapati diri saya jadi semakin bersemangat menjalani hari-hari saya dan berusaha sebaik mungkin memberikan terbaik untuknya dan keluarga. Keinginan saya untuk menuai prestasi tidak lagi hanya dipicu oleh ambisi pribadi tapi juga keinginan membuat adik saya bangga, sehingga ia pun akan melakukan hal yang sama. Ia tak harus dan tentu tak boleh meniru apa yang saya miliki dan apa yang saya capai, tapi mendapati dirinya begitu bersemangat menempuh pendidikan, begitu berani berkompetisi, menuai prestasi (karena melihat kakaknya) membuat saya jadi semakin termotivasi untuk terus menjadi lebih baik lagi.

Mencurahkan kasih sayang kita harus melakukannya dengan cara yang benar juga pada orang yang tepat. Orangtua tentu saja menyayangi anak-anaknya, seorang kakak sudah pasti sayang terhadap adiknya, suami wajiblah menyayangi istrinya, tapi bagi saya, menyayangi Vika sudah menjadi salah satu hal terbaik dalam hidup saya. Memilikinya sebagai adik saya adalah suatu anugerah dan menyayanginya juga diganjar dengan perasaan yang sama, augerah pula.

Karena usianya yang masih dalam tahap pertumbuhan dan menyerap ilmu pengetahuan maka hadiah yang paling cocok untuknya adalah BUKU. Buku adalah jendela ilmu dan memberi peran yang amat besar dan penting bagi anak-anak dan generasi penerus bangsa. Dengan buku, kecerdasannya bisa semakin terasah, kegiatan belajarnya juga bisa semakin tertunjang dan tentu saja wawasannya akan semakin bertambah.

Selasa, 01 November 2016

,

Berbicara soal soulmate, belahan jiwa, pasangan hati dan istilah-istilah lain yang menggambarkan betapa berartinya, betapa berharganya sesuatu bagi kita, atau seseorang bagi kita, kebanyakan orang pasti akan menyebut bahwa soulmate-nya adalah siapa yang nanti akan menikahinya, mendampinginya hingga masa tua, atau seseorang yang memiliki kesamaan hobi, passion hidup yang searah, prinsip hidup yang sependapat atau memilih memberikan gelar kehormatan itu kepada sahabat terbaik yang selalu medampingi dalam suka maupun duka. Tapi ada juga yang justru melabeli benda kesayangannya sebagai soulmate-nya. Saya adalah salah satunya (yang sayangnya baru menyadarinya belakangan ini).

Pertanyaan tentang soulmate ini sudah sering saya temui, sudah banyak ditanyakan pula. Selama itu, saya belum bisa menjawab. Tapi kini, jika pertanyaan itu kembali diajukan, maka saya dengan bangga akan menjawab bahwa soulmate saya adalah buku.

Gelar kutu buku sudah sejak lama melekat pada diri saya, gelar yang menurut orang-orang itu cupu, nggak keren apalagi lucu. Mungkin kalau udah lihat saya yang asyik membaca, beberapa teman akan langsung membayangkan Betty Lafea, salah satu tokoh telenovela berkacamata, kikuk dan nggak pede di depan orang-orang, cenderung introvert dan sangat cocok jika mendekam di perpustakaan berjam-jam. Tapi buat saya itu adalah gelar kehormatan. Buku-buku yang selama ini selalu menemani saya kemanapun saya pergi, sampai dijuluki kutu buku adalah merupakan pujian bahwa betapa lekatnya saya dengan benda satu ini, betapa dekatnya saya dengan belahan jiwa saya.

Penobatan buku sebagai soulmate yang baru saya lakukan belakangan ini bukan tanpa alasan, tapi disebabkan oleh suatu bentuk kesadaran bahwa hanya dengan bukulah saya merasa lengkap, saya merasa utuh. Seperti ada yang kurang jika saya tidak bersama buku, ada yang hilang dan tidak akan bisa diisi kekosongannya oleh gadget canggih manapun. Ya saya mengantongi ponsel kemana saya pergi karena saya membutuhkannya untuk berkomunikasi, ya saya terkadang memainkan game di dalamnya jika sedang bosan. Ya saya menenteng laptop saat berangkat bekerja karena saya membutuhkannya untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi tidak pernah ada di antara kedua benda itu yang membuat saya merasakan kehilangan apabila tidak membawanya. Tapi buku, sehari saya nggak bawa buku, nggak menengok buku, seperti makan tapi kurang garam. Nggak pas!!

Menyadari pula bahwa sejak kecil saya sudah akrab dengan bacaan, dengan buku, sudah sering mengobrak-abrik buku-buku peninggalan kakek saya, beberapa arsip pekerjaan yang dibukukan, hanya demi memenuhi keinginan dan rasa haus akan bacaan baru membuat saya semakin tidak ragu untuk menyematkan kata soulmate sejajar dengan buku. Sejak saya mulai bisa lancar membaca yang itu artinya sekitar tujuh belas tahun lalu saat saya masih berusia empat tahun, buku adalah benda yang paling saya cari. Meski memang saat itu tidak seagresif sekarang karena keberadaan mainan robot-robotan dan perabot masak-masakan. Tapi terbukti bahwa ketika rasa cinta saya akan mainan-mainan lucu tersebut hilang, kecintaan saya pada buku tak juga berkurag, justru bertambah setiap harinya.

Maka dari itu, buku adalah soulmate saya, Pasangan jiwa sepanjang masa yang nggak akan pudar dimakan usia. Yang akan membuat saya kehilangan jika ia tidak ada dan tentu saja akan membuat saya tenang meski hanya sempat melihat sampulnya dan tidak menemukan waktu untuk melahap isi-isinya hingga ke halaman paling belakang. Buku adalah soulmate saya sepanjang masa.

Kamis, 01 September 2016

,
Kota Pangkalpinang adalah salah satu Daerah Pemerintahan Kota di Indonesia yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus merupakan ibu kota Provinsi. Kota dengan luas wilayah 118,408 km2 ini terletak di bagian timur Pulau Bangka dan terbagi dalam 7 kecamatan yaitu Taman Sari, Rangkui, Pangkalbalam, Gabek, Bukit Intan, Girimaya, dan Gerunggang. Etnis Melayu dan Tionghoa suku Hakka dari Guangzhou kebanyakan membentuk kota dengan julukan BERARTI (BERsih, Aman, Rapi, Tertib, Indah) ini, ditambah sejumlah suku pendatang seperti Batak, Minangkabau, Palembang, Sunda, Jawa, Madura, Banjar, Bugis, Manado, Flores, da Ambon.

Penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung selama kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun meninggalkan jejak-jejak bisunya yang beberapa di antaranya terletak di kota Pangkalpinang. Keberadaan beberapa peninggalan sejarah ini menjadikan Kota Pangkalpinang sebagai kota wisata sejarah yang amat sangat sayang untuk dilewatkan. Berikut terdapat delapan pilihan lokasi bersejarah yang dapat kita gunakan sebagai destinasi wisata ke Kota Pangkalpinang

1. Museum Timah Indonesia


Sumber Foto
Museum Timah Indonesia berlokasi di Jl. Jenderal A. Yani No. 17 dan tercatat sebagai satu-satunya di Asia. Awalnya adalah rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW) atau rumah pejabat perusahaan timah Banka Tin Winning. Museum ini mencatat sejarah perjalanan panjang pertimahan di Bangka Belitung, didirikan pada tahun 1958 saat banyak ditemukan benda-benda tradisional yang digunakan para penambang zaman dahulu, terutama pada masa penjajahan Belanda. Persemian Museum Timah Indonesia dilakukan pada 2 Agustus 1997 dengan tujuan untuk memerkenalkan sejarah timah Bangka Belitung kepada masyarakat luas.

Selain menyimpan sejarah pertimahan, museum ini juga menyimpan sejarah lainnya dimana beberapa kali dijadikan lokasi perundingan atau diplomasi antara pemimpin republik yang diasingkan ke Bangka dengan Pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations Commissions for Indonesia) yang kemudian melahirkan Roem Royen Statement pada 7 Mei 1949.

Mengunjungi Museum Timah Indonesia akan menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang kepingan sejarah Indonesia yang tidak pernah kita pelajari di masa sekolah. Selain itu bentuk bangunan dan arsitekturya yang klasik akan membuat kita seolah terdampar pada masa lalu.

2. Rumah Sakit Bakti Timah


Sumber Foto
Nah selain punya perusahaan pertimahan, pada zaman dulu Pangkalpinang juga punya rumah sakit yang pada tahun 1920 digunakan sebagai balai pengobatan bagi karyawan Banka Tin Winning yakni Rumah Sakit Bakti Timah. Rumah Sakit Bakti Timah adalah salah satu rumah sakit tertua di Bangka Belitung sampai kemudian mengalami nasionalisasi pada tahun 1953.

Rumah sakit ini sempat dikenal dengan nama Rumah Sakit Tambang Timah Bangka (TTB) sebelum akhirnya dilakukan restrukturisasi dan dinamai dengan Rumah Sakit Bakti Timah. Berlokasi di utara Rumah Residen, rumah sakit ini juga merekam salah satu jejak sejarah pertimahan di Bangka Belitung.

3. Wisma Timah I


Sumber Foto
Menurut Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.13/PW.007/MKP/2010, tanggal 8 Januari 2010) dan dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Wisma Timah I ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Kota Pangkalpinang dengan ciri khas bangunan berbentuk limas.

Pada Tahun 1922 rumah ini difungsikan sebagai  rumah dinas asisten residen Belanda ketika pemerintahan kolonial Belanda menerapkan Bestuurhervorming Wet yang pembagian tiga tingkat daerah otonom yaitu provinsi ordonansi (provinsi), regensche ordonansi (kabupaten), dan staatsgmente (kota) ordonansi. Pada masa pemerintahan residen Bangka, Starhamer HM (1931-1934 M), Kepulauan Bangka Belitung ditetapkan menjadi Residentie en Orderherichgheiden dengan pulau utama Bangka sebagai residen dan pulau Belitung beserta pulau-pulau kecil lainnya sebagai onder afdelingen yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen.


Di bagian Timur gedung Wisma Timah I terdapat landraad (kantor pengadilan), asistent resident cantoor (kantor asisten residen) yang bersebelahan di bagian Selatan dengan resident cantoor (kantor residen). Kantor ini juga pernah dijadikan sebagai kantor sementara Gubernur Kepulauan Bangka Belitung ketika provinsi ini baru dibentuk. Mengunjungi Timah Wisma I akan mengajak kita untuk sedikit menyelami pemerintahan Hindia Belanda di Provinsi Bangka Belitung yang terangkum pada setiap sudut bangunan Wisma Timah I. 


Dari ketiga tempat bersejarah ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Pangkalpinang selain kota wisata sejarah juga merupakan kota yang memiliki andil dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

4. Rumah Residen


Sumber Foto
Rumah Residen atau Residenthius te Pangkalpinang Op Bangka adalah rumah dengan arsitektur bergaya Eropa dengan banyaknya pilar-pilar tinggi, pintu utama tinggi dan besar dan dilengkapi dengan banyaknya jendela besar yang berfungsi sebagai sirkulasi udara. Bangunan ini juga lengkap dengan bagunan inti dan paviliun. Daya tarik yang paling cantik dari Rumah Residen ini bukan hanya dari bentuk dan arsitektur bangunannya tetapi juga pada Meriam Kuno abad ke-19 yang terdapat di depan rumah. Rumah Residen juga merekam banyak sejarah Kota Pangkalpinang. Awalnya rumah ini berfungsi sebagai administratur pemerintahan sipil distrik yang dikepalai oleh controlleur Pangkalpinang.


Rumah ini dikenal sebagai Rumah Besar di kalangan masyarakat dikarenakan pilar-pilarnya yang besar dan menjulang tinggi. Terletak di kawasan Civic Centre Pangkalpinang Rumah Residen juga merupakan salah satu Bangunan Cagar Budaya Kota Pangkalpinang.


5. Taman Sari (Wilhelmina Park)


Sumber Foto



Taman Sari adalah fasilitas pendukung yang terletak di sisi barat Rumah Residen rancangan Van Ben Benzenhorn, berupa areal luas dengan kontur tanah naik turun dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas bermain dan tanaman. Pada lokasi taman juga dibangun tugu berbentuk miniatur Monumen Nasional (Monas) yang diberi nama Tugu Pergerakan Kemerdekaan yang diresmikan oleh Drs. Mohammad Hatta pada bulan Agustus 1949. Tugu ini melambangkan perjuangan masyarakat Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan yang terangkum dalam prasasti "Surat Kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta" yang tertulis di tugu.


6. Kerkhof (Pemakaman Belanda)


Sumber Foto
Keberadaan Kerkhof atau Pendem Belanda merupakan salah satu bukti dan peinggalan sejarah di Indonesia dan berkaitan erat dengan kehidupan orang-orang asing yang pernah datang, menetap dan berpulang di tanah Indonesia. Keberadaan timah di Bangka Belitung telah menjadikan provinsi ini sebagai salah satu distrik tujuan eksplorasi timah di Indonesia.


Kerkhof terletak di Jalan Sekolah (sekarang Jl. Hormen Maddati) di Kel. Melintang, Kec. Rangkui. Terdapat kurang lebih 100 nisan bertuliskan Bahasa Indonesia, Jepang dan Belanda. Keunikan dari kawasan ini adalah merupakan pemakaman khas Belanda dengan makam tertua atas nama Ny. Irene Mathilde Ehrencron yang wafat 10 Maret 1928.


7. Masjid Jamik


Masjid Jamik juga adalah Cagar Budaya Kota Pangkalpinang. Didirikan pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1936 oleh penduduk Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tuatunu, masjid Jamik menjadi salah satu masjid terbesar di Pangkalpinang. Dengan luas kurang lebih 900 m2, masjid ini dapat menampung sekitar 2.000 jama'ah.

Keunikan dari masjid ini terletak pada tangga depan yang dibangun dengan bentuk setengah lingkaran dan dihiasi oleh lima tiang penyangga yang mengandung arti Rukun Islam, sedangkan antara tembok depan dan bagian atapnya dihiasi oleh enam tiang penyangga kecil yang berarti Rukun Iman. Keunikan ini bagi saya pribadi mengandung arti bahwa ibadah setiap muslim didasarkan pada dua patokan utama yakni Rukun Islam dan Rukun Iman.

8. Gereja GPIB Maranatha Pangkalpinang
Gereja protestan ini pada  masa pemerintahan Residen J.E Edie (1925-1928 M) dan diberi nama Kerkeraad der Protestanche Gemeente to Pangkalpinang. Dibangun pada sisi timur Rumah Residen gereja ini memiliki ciri khas dengan menara jam yang besar serta Pastori yang dibangun di sekeliling gereja. Jam yang terdapat pada menara ini masih berfungsi, digerakkan oleh mesin jam otomatis produksi NEDERLANDSCHE FABRIEK VAN TORENUURWERKEN B.E IJSBOUTS ASTEN dengan nomor 3061 tahun ANNO 3061. Keberadaan gereja ini menjadi bukti sejarah penyebaran Agama Kristen di Indonesia.

Wisata sejarah adalah salah satu agenda yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu luang sekaligus menambah wawasan dan pengetahuan. Selain jalan-jalan, kita akan membawa pulang potongan kehidupan Indonesia di masa lalu lewat berkunjung ke tempat-tempat bersejarah yang ada di kota ini.

Selasa, 23 Agustus 2016

,
Kalau Maladewa punya Maldives, Pantai Herseshoe dijuluki sebagai The Best Beach and Island in Carribeaan, Hawaii punya Lanikai, Meksiko punya Pantai Tulum yang cantik, Brazil punya Fernando de Noronha, Indonesia juga punya wisata laut yang nggak kalah indahnya; Raja Ampat

Raja Ampat adalah kabupaten dengan luas wilayah lebih dari 4,5 juta hektar, terletak di bagian barat Kepala Burung Pulau Papua atau secara administrasi terletak di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. 85% wilayahnya merupakan lautan, sisanya merupakan pulau-pulau yang berjumlah lebih dari 600 pulau yang terkenal dengan empat pulau terbesarnya yakni Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Sulawati dan Pulau Batanta. Nama Raja Ampat sendiri diambil dari sejarah keempat pulau ini. 

Keramahan Masyarakat Raja Ampat

Masayarakat Kepualauan Raja Ampat umumnya bekerja sebagai nelayan tradisional dan berdiam di kampung-kampung kecil berbeda pulau. Masyarakat Raja Ampat adalah masyarakat yang ramah terhadap siapa saja, termasuk turis-turis yang ingin menikmati dan mengeksplorasi kekayaan alam Raja Ampat. Penduduknya sebagian memeluk agama Islam, sebagian lagi memeluk agama Kristen. Mereka juga tetap hidup berdampingan dengan damai meski berbeda keyakinan.

Wisata dan Peninggalan Prasejarah

Raja Ampat memiliki potensi wisata alam yang sangat indah. Kepulauan ini terkenal dengan wisata bawah lautnya yang merupakan salah satu tempat menyelam terbaik dengan keragaman dan kelengkapan flora dan fauna. Menurut tim ahli dari Conservation International, The Nature Conservancy, Lembaga Oseanografi Nasional (LON), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPI), terdapat lebih dari 540 jenis karang keras atau total 75% dari total spesies di dunia, lebih dari 1.000 jenis ikan karang, dan 700 jenis moluska. Selain itu, juga terdapat kawasan terumbu karang yang kondisinya dengan persentase 90% karang hidup. Kawasan ini berlokasi di selat Dampier - selat antara Pulau Waigeo dan Pulau Bantata, Kepualauan Kofiau, Kepualaun Misol Tenggara dan Kepualaun Wayag. 

Spesies unik yang bisa dijumpai apabila menyelam di Raja Ampat adalah beberapa jenis kuda laut katai, wobbegong, ikan pari Manta, ikan endemik raja ampat, ikan eviota raja atau sejenis ikan gobbie. Di beberapa tempat seperti di Sulawati, Bantata dan Waigeo juga terlihat Dugong atau Ikan Duyung. Jika beruntung, Hiu karang dan penyu juga dapat ditemui di Raja Ampat. Selain menawarkan wisata bawah laut yang menakjubkan, Kepulauan Raja Ampat juga memiliki peninggalan prasejarah berupa cap tangan pada dinding batu karang yang tidak terletak di dalam gua namun sangat dekat dengan permukaan laut. Diperkiakan usia cap-cap tangan tersebut berusia sekitar 50.000 tahun dan merupakan rangkaian dari petunjuk jalur penyebaran manusia dari kawasan barat Nusantara menuju Papua dan Melanesia. Di tempat penyelaman Pulau Wai juga terdapat sisa pesawat karam peninggalan Perang Dunia II. Bukan hanya peninggalan prasejarah dan wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, festival Bahari pada bulan Agustus, suasana pedesaan yang tenang dan nyaman, cantiknya burung cendrawasih juga dapat dinikmati saat mengunjungi Raja Ampat. 

Akses dan Akomodasi Raja Ampat

Berkunjung ke Raja Ampat tidaklah sulit. Kita dapat menggunakan maskapai penerbangan dari Jakarta atau Bali menuju Sorong atau dari Makassar, Manado dan Ambon selama kurang lebih enam jam penerbangan. Untuk Wilayah Gorontalo sendiri kita dapat memilih dan menggunakan Wings Air atau maskapai penerbangan lainnya untuk penerbangan Gorontalo-Manado-Sorong. Sesampainya di Sorong kita harus menggunakan taxi untuk bisa mencapai Waisai, Ibukota Raja Ampat kemudian disambung dengan transportasi Kapal Ferry atau Speed Boat yang biasanya berangkat tiap pukul 14.00 WIT dan memakan waktu 4-5 jam untuk sampai ke Pelabuhan Waisai. Akan ada tiga pilihan penginapan untuk menikmati keindahan Raja Ampat. Terdapat fasilitas Resort dan Kapal pinisi yang sudah dimodofikasi yang dapat kita sewa, serta bagi yang memiliki keluarga yang tinggal di Raja Ampat, altenatif ini juga dapat kita gunakan untuk menekan biaya perjalanan agar bisa lebih murah.

Oleh-oleh Khas Raja Ampat

Yang namanya liburan atau jalan-jalan, kurang lengkap kalau tidak ada yang namanya oleh-oleh atau buah tangan sebagai bentuk berbagi kebahagiaan kepada siapa saja yang ingin berkunjung ke Raja Ampat namun belum mendapat kesempatan. Khusus di Raja Ampat ada beberapa alternatif oleh-oleh untuk teman atau keluarga yang dapat kita pilih yakni kain tradisional, kerajinan anyaman, patung suku Asmat, alat musik tradisional yakni ukulele, tambur atau drum tradisional dan suling. Suvenir-suvenir ini bisa kita dapatkan dari toko suvenir yang banyak terdapat di Kota Waisai.

Menikmati keindahan alam Raja Ampat masih ada berjejer dengan keinginan lain wishlist saya. Saya berharap, suatu saat saya juga dapat menikmati keindahan alam Indonesia secara langsung yang terletak Raja Ampat, bukan hanya menunggu oleh-oleh dari teman yang berkujung ke sana atau ngiler saat lihat foto-fotonya, apalagi kalau Airpaz.com bersedia ngasih tiket pesawat gratis makin mau saya :D




Kalau saya mendapat tiket gratis, saya akan memilih maskapai penerbangan Wings Air pada pagi hari tujuan Gorontalo-Manado karena saya pikir menikmati matahari yang baru mulai naik akan berbeda saat berada di udara, lalu Sambil menunggu penerbangan Manado-Sorong pada siang hari, saya bisa meet up sebentar dengan teman-teman saya yang menetap di Manado.

Aku Cinta Indonesia, tunggu kedatanganku Raja Ampat!!

Kamis, 18 Agustus 2016

,
Hal apa yang akan orang tanyakan pertama kali ketika kita memasuki bangku sekolah? Jawabannya adalah IMPIAN.

“Kamu mau jadi apa?”

“Kamu ingin jadi seperti siapa?”

Bagi anak-anak itu adalah pertanyaan sederhana dan mudah untuk dijawab. Anak kecil mana saja pasti akan menjawab berdasarkan pada sesuatu yang mereka sukai, atau sesuatu yang mereka anggap hebat.

“Aku mau jadi Power Ranger untuk membela kebenaran!”

“Aku mau jadi cantik seperti mama!”

“Aku mau jadi pemain bola.”

“Aku mau jadi pilot.”

Begitu pun saya. Waktu kecil, ketika saya ditanya perihal impian pertama kali jawaban saya adalah “Aku mau jadi guru.” Saya lupa waktu itu siapa yang bertanya, tapi ketika pertanyaan tersebut disusul oleh alasan mengapa saya memilih untuk menjadi guru, jawaban saya adalah “supaya bisa menghukum anak yang nakal.” Sederhana sekali, bukan? Meski itu adalah jawaban spontan anak kecil yang bahkan mungkin belum mengerti apa itu impian yang sebenarnya, impian masa kecil tersebut telah membuat saya berusaha belajar dengan giat untuk dapat mewujudkanya.

Seiring dengan bertambahnya usia dan meluasnya pergaulan serta pengetahuan yang didapatkan, impian masa kecil tersebut ternyata tidak bertahan. Ia berganti oleh sesuatu yang datang dari rasa kagum.

Saat saya SD, saya berkenalan untuk pertama kali dengan sepupu jauh Ayah saya yang bekerja sebagai seorang Pramugari. Kecantikan dan kecerdasannya membuat saya kagum dan detik itu juga saya memutuskan untuk mengubah impian saya dari seorang guru menjadi Pramugari.Saat itu, yang saya tahu, dasar utama dalam menjadi Pramugari adalah kecerdasan bahasa asing, terutama bahasa inggris. Di samping ketertarikan yang besar dengan bahasa Inggris, impian untuk menjadi Pramugari juga memacu saya untuk mempelajari bahasa Inggris dengan lebih giat. Sayang, impian itu kandas saat memasuki bangku SMP dikarenakan saya sudah dapat menduga bahwa proporsi tubuh saya tidak akan memenuhi syarat untuk menjadi Pramugari.

Menginjak kelas VIII saya kembali menemukan impian. Menjadi pengacara! Saat itu, saya sangat menyukai pelajaran PPKN sekaligus gurunya, beliau bernama Ibu Djamila, dan materi yang sangat saya sukai adalah tentang proses persidangan. Sejak saat itu, saya sangat tertarik untuk menjadi Pengacara. Hadirnya sinetron Bunda yang dibintangi Meriam Bellina juga membuat semangat saya semakin menanjak. Namun, impian itu juga berakhir dilupakan ketika saya menemukan hobi baru; mendengarkan radio.

VJ radio sepintas didengar adalah profesi biasa saja. Lantas, apa yang membuat saya menempatkannya sebagai pengganti impian sebagai seorang Pengacara? Jawabannya adalah suara. Meski tidak dilihat, bertatap secara langsung, VJ radio adalah pembicara yang didengarkan oleh masyarakat umum tidak peduli penting atau tidak penting yang dikatakannya. Jika itu penting, maka orang-orang akan mendengarkannya dengan serius. Jika tidak maka mereka akan meganggapnya sebagai hiburan, jika itu lucu maka orang-orang akan tertawa, jika itu membosankan mereka akan mengganti saluran radio, tapi tetap saja pasti akan ada yang mendengarkan karena selera tidaklah sama dan setiap orang selalu memiliki cara berbeda dalam menerima dan memproses informasi. Bagi saya itu sangat keren! Menjadi selebriti misterius yang hanya dikenal lewat suara dan nama samaran. Saya bisa tetap berjalan-jalan ke mana saja dengan bebas tanpa takut dikerubuti pendengar yang ingin berkenalan atau pun berteman. Dan sama seperti sebelumnya, cita-cita itu pun menemukan penggantinya.

Menulis adalah hal yang baru saya kenal ketika menginjak bangku X SMK. Tentu saja menulis Diary dan curahan hati sudah saya lakukan sejak SMP, akan tetapi menuliskan cerita dengan konflik sekaligus penyelesaian yang masuk akal adalah sesuatu yang baru. Saat itu, saya ingat, bahwa saya pertama kali menemukan keinginan untuk menulis adalah setelah membaca karya novel teman saya yang duduk di bangku X MA (Madrasah Aliyah). Tulisannya benar-benar menginspirasi saya yang doyan menyusun cerita di dalam kepala sebagai pengantar tidur karena dongeng sudah bukan lagi hal yang dapat diberikan kedua orang tua.

Dari situ saya berpikir bahwa akan lebih baik jika cerita-cerita yang berputar di dalam kepala itu saya tuliskan agar tidak mudah dilupakan dan dapat kembali diulang jika saya menginginkan. Sejak saat itu, saya jadi sering menuliskan apa pun. Tak terhitung berapa banyak cerita yang tak selesai atau bahkan tak diselesaikan sebelum menemuka konflik. Akan tetapi, ternyata hal itulah yang membuat saya menemukan dunia saya.

Menulis membantu saya menemukan kebahagiaan nyata yang didapat dari sesuatu yang sederhana. Saya menemukan impian saya yang sebenarnya! Saya ingin menulis, ingin dibaca dan ingin agar tulisan saya suatu saat nanti bisa dibaca dan menginspirasi banyak orang. Dan ini adalah impian yang tidak akan pernah berubah lagi. Meski mungkin nanti saya menemukan hal menyenangkan lain, menulis akan tetap memiliki tempat tersendiri di dalam hati dan tidak akan pernah saya tanggalkan selama-lamanya.

Menulis membuat saya menemukan dunia baru yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Membuat saya berhasil menemukan diri di saat muncul keraguan akan kekonsistenan diri dalam mengusahakan dan mempertahankan sesuatu. Sejak impian untuk menjadi VJ itu berakhir, pertanyaan akan impian tidak lagi datang dari orang tua atau pun keluarga melainkan dari diri sendiri.

What am I wanna be?

Sebenarnya ingin jadi apa aku. Kenapa impian terus saja berubah dan tidak pernah menemukan kesejatiannya?

Kini, akhirnya saya menemukan hal yang benar-benar ingin saya lakukan. Saya ingin menulis! Entah tulisa itu akan dapat dibukuka suatu saat nanti atau tidak, saya tetap ingin melakukannya.


Minggu, 31 Juli 2016

,
Sumber Gambar
A million stars up in the sky

one shines brighter I can’t deny

A love so precious a love so true

a love that comes from me to you

Hai Re... 
Terima kasih sudah menyempatkan waktumu membaca surat ini. Sebelumnya, mungkin kau sedang sedikit bertanya-tanya mengapa aku menulis surat untukmu padahal kita hidup bertetangga. 

I have a confess. Aku ingin mengakui sesuatu yang mungkin tidak pernah terpikirkan atau pun kau bayangkan sebelumnya. Sesuatu yang mungkin saja akan menggelikan, sesuatu yang mungkin juga dapat mengusik kenyamanan kita sebagai dua orang yang telah bersahabat sejak lama.

Re... sejak hari pertama kau pindah menjadi tetanggaku tujuh tahun lalu, sejak kali pertama aku melihatmu, sejak saat itu aku yakin dengan pasti bahwa hatiku sudah bukan milikku lagi. Ia telah dicuri oleh seseorang yang bahkan baru pertama kali aku temui. Seseorang yang asing, tetangga baru yang bahkan namanya pun tak ku tahu. 

Aku jatuh cinta  pada pandangan pertama!

Aku tahu sudah terlambat untuk mengakuinya sekarang, tapi menyembunyikan cintaku selama bertahun-tahun adalah kesalahan yang sangat aku sesali. Mungkin saja keadaannya akan berbeda jika saja aku punya sedikit keberanian dan mengakui perasaanku dari awal. Mungkin saja saat ini yang berada di pelukanmu sambil mengambil foto pengantin baru adalah aku, bukan dia. 

Kini, meski takkan ada gunanya lagi, aku ingin mengakui semuanya, mengakui perasaanku yang sejak dulu selalu terpaut padamu.

Aku mencintaimu Rajendra Adyatama

Rabu, 27 Juli 2016

,
Sumber Gambar
Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran selalu identik dengan dua hal; mudik dan liburan. Hal sederhana yang sudah membudaya di masyarakat Indonesia bahkan selalu dinanti-nantikan kedatangannya. Satu minggu sebelum lebaran, kita tidak hanya disibukkan oleh persiapan untuk menyambut lebaran itu sendiri, tetapi juga disibukkan oleh persiapan untuk pulang ke kampung halaman serta rencana liburan bagi yang tinggal jauh dari keluarga, atau pun bersiap-siap menyambut orang-orang yang kita cintai kembali di rumah. 

Lebaran adalah momen bahagia bagi yang merayakannya, serta perwujudan dari indahnya berkumpul bersama keluarga. Begitu pun saya, lebaran dan berkumpul bersama keluarga adalah paket lengkap yang selalu saya nantikan sejak delapan tahun lalu. Sebagai seseorang yang dituntut untuk hidup mandiri dan berdiri sendiri, saya sudah lama tidak tinggal satu atap secara menetap bersama kedua orang tua saya. Satu-satunya momen di mana saya dapat berkumpul bersama mereka beserta kelaurga besar adalah saat Hari Lebaran.

Khusus lebaran tahun ini, segala hal seperti tahun-tahun sebelumnya, terasa menyenangkan (bahkan hanya membayangkan packing untuk pulang) namun juga terasa sulit dan sibuk di saat yang bersamaan.Satu minggu mejelang hari lebaran saya sudah merencanakan kepulangan, apa saja yang saya butuhkan untuk menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam Gorontalo-Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), serta apa saja yang akan saya lakukan setibanya di rumah. Saya pulang tepat H-3 lebaran dan menurut saya itu cukup untuk beristirahat setelah perjalanan jauh dan membantu Mama saya menyiapkan segala keperluan untuk hari H, termasuk menemani adik saya yang masih kecil untuk berbelanja dan mengajaknya jalan-jalan entah itu ke pantai, air terjun atau pemandian air panas dan tentu saja tidak lupa silaturahmi ke rumah-rumah saudara.

Akan tetapi, bukannya menikmati detik-detik kepulangan dengan santai, kesibukan pekerjaan saya justru meningkat drastis. Tepat satu minggu sebelum pulang, saya mendapat permintaan khusus dari salah satu atasan untuk membenahi pekerjaan – yang menurut saya ditangani dengan sangat berantakan, laporan penting yang akan digunakan untuk kepentingan pemeriksaan dari pihak yang berwenang. Awalnya, saya sedikit keberatan, apalagi itu adalah pekerjaan yang siklusnya mencapai satu tahun operasional, tapi menolak juga tidak enak. Jadi, setiap malam setelah menunaikan shalat tarawih saya dihadapkan pada tumpukan berkas yang menyakitkan (kala melihatnya) setelah siangnya juga berhadapan dengan dokumen-dokumen pekerjaan saya di kantor.

Melelahkan sekali! Namun, saya tidak menyangka bahwa atasan saya memberikan reward khusus atas kesediaan saya untuk membantu beliau. Meskipun pekerjaannya melelahkan, membuat saya masih harus bersibuk ria bahkan satu jam menjelang keberangkatan, bayangan bahwa akan segera pulang dengan tambahan reward dan rencana liburan sedikit banyak menyuntikkan semangat untuk saya.

Sesampainya di rumah, bukannya istirahat dengan rencana liburan dan silaturahmu yang disusun jauh-jauh hari, Mama saya malah menyambut dengan mentega, gula, tepung dan beberapa bahan lainnya yang belum disulap menjadi kue lebaran yang menggirukan. Tidak ada rasa keberatan, yang ada justru perasaan rindu. Sudah sejak lama saya tidak ikut berpartisipasi di rumah dalam membuat kue lebaran, salah satu momen terbaik bersama Mama saya yang hanya bisa saya rasakan setahun sekali, bahkan terkadang tidak sama sekali.

Tanpa protes, saya membantu beliau untuk menyiapkan kue lebaran, tanpa melupakan kebutuhan berbelanja adik perempuan saya satu-satunya yang masih duduk di bangku kelas I SD. Dia sudah belanja sih tapi shopping bersama kakak adalah hal yang sudah dia wanti-wanti bahkan sebelum saya pulang.

H-1 lebaran saya bersama Mama, Papa juga Adik saya akhirnya berbelanja bersama. Menyenangkan sekali, seru sekali apalagi saat memilih baju untuk Adik saya yang gendut itu, namun sayang, belum lama kami berbelanja, kami mendapat kabar bahwa Paman saya mengalami kecelakaan malam itu, rencana liburan pun batal malam itu juga. 

Keesokan harinya, kami sekeluarga hanya menunaikan shalat Ied berjamaah di masjid dekat rumah, kemudian menyambut beberapa tamu yang datang. Sisanya, saya habiskan dengan tidur-tiduran. Tidak boleh jalan-jalan karena Paman saya baru saja terkena musibah. Sesekali saya mendapat kesempatan untuk silaturahmi ke rumah beberapa saudara yang tinggal cukup jauh dari rumah, tapi hanya sebatas itu saja. Variasinya hanya pada Arisan Keluarga yang memang selalu dilaksanakan dua tahun sekali bergantian di rumah anggota keluarga besar, yang ditujukan sebagai sarana perkenalan antara para cucu ataupun cicit yang  belum pernah bertemu. 

Namun, meski hanya menghabiskan waktu lebaran di rumah, saya tetap merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu anggota keluarga khususnya kedua orang tua saya yang tidak lagi muda. Meski tidak ada jalan-jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, cand tawa bahagia tetap memenuhi suasana lebaran tahun ini. Hal ini memberikan saya satu pelajaran bahwa lebaran tidak selamanya harus diisi oleh liburan di luar rumah, tetapi juga dapat digunakan sebagai momen quality time bersama orang-orang terdekat, serta juga dapat digunakan sebagai hari untuk mengambil jeda dan beristirahat dari segala kesibukan pekerjaan yang setiap hari menuntut perhatian.

Meski tahun ini saya Lebaran tanpa Liburan, keberadaan keluarga saya di sekeliling sudah cukup untuk membuat saya bahagia.

Hari Hijaber Nasional: 7 Agustus 2016 s/d 8 Agustus 2016, Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng - Jakarta Pusat