Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Kontrak Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontrak Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

,

Akhirnya dengan berat hati Vivian rela diantar oleh Rafael ke kantor. Waktu juga sudah menunjukkan jam enam lebih empat puluh lima menit dan Vivian pasti akan terlambat jika menolak tawara Rafael. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara. Vivian bungkam, sedangkan Rafael tidak berani memulai pembicaraan. Sebenarnya, bukan tanpa maksud ia memberikan tawaran tumpangan untuk ke kantor bagi Vivian, jelas dia punya maksud lain. "Iya gue tahu saat ini gue emang sedang memperlakukan Ivy sebagai keset kaki:", tapi Rafael tidak punya pilihan lain. Hanya Vivianlah yang dapat membantunya untuk mendapatkan Nindy kembali.

Jengah dengan kebisuan, akhirnya Rafael membuka suara. "Vy!" Panggilnya.

"Hmmm..." hanya gumaman yang keluar dari bibir Vivian.

"Malem minggu nanti, perusahaan gue ngadain acara. Yah perayaan kecil-kecilan sih, gue menang tender besar. Dan sebagai partner in crime yang baik hati, gue bermaksud mengundang lo untuk hadir di acara itu.... sebagai tamu kehormatan." Akhirnya Rafael menjelaskan maksudnya. Tentu saja dengan berusaha tidak menyelipkan kata 'tolong' ke dalamnya. Rafael tidak pernah membayangkan bagaimana reaksi Vivian jika sampai ia mengucapkan kalimat "Vy, di kantor ada acara. Lo mau nggak nemenin gue hadir?" Mungkin Ivy akan sujud syukur!

Dalam hati Vivian mencibir. Huh! Dasar kucing! Udah gue duga ni anak pasti ada maunya sampe bela-belain mau nganter gue ke kantor segala." Diliriknya Rafael sekilas dan berkata tegas "Sorry, gue nggak tertarik buat jadi tamu kehormatan di perusahaan lo!"

Rafael tidak tersinggung. Ia malah kembali melanjutkan "Eits! Jangan nolak dulu. Ini undangan khusus Vy dan lo sebagai TAMU KEHORMATAN, loakan dapat bonus dijemput oleh Rafael Pradipta yang tampan sejagat raya."

-_______________-

"Plus bebas gandeng tangan gue sepuasnya!" Buru-buru Rafael menambhkan sebelum Vivian kembali menolak. Ia yakin, promosi-nya terhadap dirinya akan sukses. Perempuan mana yang nggak mau sama Rafael Pradipta? Ehm... kecuali kalau saingannya Fay Bara Putra sih, dalam hati Rafael mengutuk fakta itu dan Nindy Paramitha, kekasih for the rest of life-nya dengan apesnya malah termakan jampi-jampi Bara.

Wajah Vivian langsung berubah sumringah. Matanya memancarkan binar kekaguman, tapi secepat kedipan mata Rafael, binar itu segera lenyap, berganti wajah sedih yang diikuti kalimat "mohon maaf yang sebesarnya Pak Rafael, saya nggak mau kena penyakit kusta kalo gandengan sama Bapak."

Sial!

****
Sebuah undangan berwarna silver dengan kesan elegan diterima Nindy dengan wajah heran. Apalagi setelah melihat nama pengirimnya. Dari perusahaan Rafael. Undangan apa? Perlahan ia membuak undanga tersebut, dan selanjutnya, sebuah ide cemerlang langsung menancap di dalam kepalanya. Ini akan jadi kesempatan besar yang menyenangkan!

Segera diambilnya ponselnya dan mengetikkan sebuah nama di kolom phonebook-nya dan menekan gambar telepon berwarna hijau. Panggilannya diangkat pada dering ketiga.

"Hallo... Bara..."

****

"Vy... mama dengar perusahannya Rafael mau ngadain acara ya?" Seperti biasa, setiap weekend Vivian selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Meski sudah bisa membiayai hidup sendiri bahkan memilih untuk tinggal mandiri di apartemen, Vivian sama sekali tidak pernah berpikir untuk lepas dari kedua orangtuanya secara total. Karena bagaimana pun juga, keduanya sudah tidak lagi muda dan hanya Vivian yang mereka miliki. Sebisa mungkin Vivian ingin berusaha ada untuk mama dan papanya, seperti dulu saat mereka selalu menyayangi dan melindunginya. Jika anak adalah harta paling berharga bagi orang tua yang harus selalu dilindungi, maka orangtua adalah harta anak yang harus senantiasa dijaga. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk membalas budi mereka, meski itu tidak akan pernah senilai dengan apa yang telah mereka lakukan dan korbankan.

"Iya ma. Ael ngasih tahu aku tadi pagi." Jawab Vivian sambil terus melanjutkan aktivitasnya menonton Spongebob di televisi. Mendengarnya, mama tersenyum.

"Mama senang kamu mau mencoba untuk mengenal Rafael lebih dekat. Mama harap, semuanya dapat berjalan lancar, ya, Nak." Memang, di depan kedua keluarga, Rafael dan Vivian bersikap seolah mereka benar-benar menyetujui rencana perjodohan mereka. Setidaknya untuk sementara hingga Rafael mendapatkan apa yang dia inginkan dan Vivian dapat terbebas dari belenggu laki-laki itu. Mama dan Papa juga pasti akan menolak menikahkan putri kesayangan mereka dengan laki-laki yang jelas-jelas mencintai dan menjalin hubungan dengan wanita lain. Maka dari itu, mau tidak mau Vivian juga harus membantu Ael untuk mendapatkan Nindy kembali. Serasa babu, tapi itu setimpal untuk masa depan cerah yang menantinya.

"Jangan berharap terlalu banyak, Ma. Vivian nggak bisa janji apa-apa." Vivian tidak mau Mamanya berekspektasi terlalu tinggi perihal hubungannya dengan Rafael. Karena bisa dipastikan apa yang mereka harapkan tidak akan mewujud sebagai kenyataan. Perlahan mama mengusap rambut panjang Vivian, memberikan tanda pengertian tanpa disuarakan.

"Kamu diundang, nggak sama Rafael?" Mama bertanya lagi. Vivian rasanya ingin berbohong saja, tapi seperti yang dikatakan Rafael tadi pagi, laki-laki itu akan menjemputnya ba'da maghrib. Jadi, lebih baik dia jujur  meski nanti ia akan tetap menolak undagan itu dan menyuruh Rafael pergi sendirian. Toh dia sudah menolaknya, siapa suruh Ael maksa!

"Iya ma diundang." Jawab Vivian pendek.

"Acaranya jam berapa?"

"Jam tujuh lima belas."

Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima sore sementara Vivian sama sekali belum siap-siap. Mama langsung saja heboh. "Kok kamu belum siap-siap? Udah jam lima loh, Vy. Kalau Rafael jemput dan kamu belum ngapa-ngapain kan kasihan nanti telat ke acaranya. Nggak lucu dong tuan rumah malah terlambat bla...bla...bla..."

"Aku nggak ikut ma!"

Cerocosan mama langsung berhenti. "Kenapa?"

"Vivian capek. Mau istirahat aja di rumah."

"Kan tadi kamu udah istirahat. Sabtu nggak masuk kantor. Udah sana cepet siap-siap!"

"Tapi maa....."

"Nggak ada tapi-tapian. Cepet siap-siap!"

****

Pukul 18.15!

Rafael memencet tombol bel di depan pagar rumah Vivian yang segera saja dibukakan oleh pembantu rumah tangga keluarga gadis itu! Ia dipersilakan masuk dan disambut oleh 'calon mertuanya' dengan wajah berseri.

"Langsung ke atas aja Nak Rafa. Vivian ada di atas. Kalau tante yang manggilin bakal lama dia turunnya."

Rafael mengucap terima kasih lalu bergegas ke lantai dua. Diketuknya pintu kamar Vivian...
"Vy... ini gue." Panggilnya.

"Buka aja. Pintunya nggak dikunci." Sekilas Rafael ragu. Ini beneran Vivian nyuruh dia masuk saat lagi ganti baju? Ah bodo amat!

Akan tetapi, apa yang menyambutnya kemudian benar-benar nyaris membuatnya pingsan! VIVIAN MASIH ASYIK BERKUTAT DENGAN HAIRDRYER-NYA!"


Minggu, 20 Maret 2016

,
Selamat sore...........

Selamat tahun baru 2016

Udah telat sih. Sebagai pembuka saya mohon maaf jika sudah menelantarkan cerita ini kurang lebih satu tahun lebih. Sebenarnya saya sudah nggak punya niat aktif lagi posting cerbung meski keinginan untuk tetap dan terus menulis masih ada. Tapi hari ini saya dikejutkan oleh mention salah satu reader yang bertanya apa saya sudah nggak punya keinginan lagi untuk melanjutkan cerita ini. Dan perasaan yang seketika muncul adalah rasa bersalah. Saya memohon maaf buat semua janji melanjutkan cerita yang baru bisa ditepati hari ini atau terbersit dalam hati untuk tidak melanjutkannya lagi. Hari ini saya akan kembali mencoba untuk menulis cerita fiksi di blog dan sebagai pembuka saya akan melanjutkan cerita yang belum selesai namun sudah terlanjur dipublikasi. Saya sangat mengapresiasi kesabaran teman-teman dalam menunggu dan kesetiannya membaca cerita saya. Itu sangat berharga bagi saya. Belum pernah ada yang sentusias kalian dalam menunggu tulisan-tulisan saya. Terima kasih untuk semuanya, untuk mention di twitternya, untuk DM dan segala dukungannya.

Part 9 ini saya persembahkan untuk semua reader Kontrak Cinta <3

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ael menatap horror ke ponselnya. Apa yang baru saja ia lakukan? Matanya melotot sempurna melihat kenyataan bahwa ia baru saja mengirim pesan ke nomor Vivian. Dan lebih melotot lagi saat menyadari pesan seperti apa yang telah ia sampaikan pada gadis itu. 

Titik.

Asataganaga.....

Masih dengan ekspresi tidak percaya, diguncang-guncangnya ponselnya itu sambil mengetuk-ngetuk layarnya dengan gemas. Dan tanpa sadar ia telah kembali mengulangi kebegoannya dengan mengirim pesan kepada Vivian - lagi. Isi pesan tersebut bahkan lebih mengenaskan daripada yang sebelumnya. Berbagai macam huruf, angka dan tanda baca tergabung menjadi satu kesatuan disana. Bahkan orang dengan kejeniusan tingkat tinggipun belum tentu bisa membaca apa maksud dari pesan itu.

Sementara itu, di seberang sana Vivian yang baru saja hendak meletakkan kembali ponselnya mengurungkan niatnya saat didengarnya ponsel tersebut kembali meneriakkan dering tanda pesan masuk. Dengan malas dibukanya kembali pesan yang ternyata dari Ale-ale lagi namun dengan isi yang sangat mengenaskan. Apa-apaan? Ni orang mau main-main sama gue? Dengan cepat diketiknya satu pesan dan dikirimkan ke nomor Ael.

From: Ivy

Heh telep kalo berani!

Ael yang tadinya masih meruruki kebodohanny, langsung terpancing emosi begitu membaca pesan bernada tantangan dari Vivian itu. Dengan cepat dikontaknya nomor Vivian.

"Apa?" Tanya Vivian langsung begitu ia mengangkat telepon dari Ael.

"Lo yang apa? Nantangin gue, ya?!" Tanya Ael sengit.

"Elo yang apaan? Ngapain lo ngespam di ponsel gue?!"

"Eh gue bukan nge-spam, yaaa.. Itu... itu...." Aduh bego. Masa gue bilang kalo itu nggak sengaja? Jatuh dong harga diri ketahuan Ivy abis ngelakuin hal konyol kayak tadi.

"Itu apa? Dasar orang gila!"

"Eh kalo ngomong jangan sembarangan, ya. Gue itu salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Enak aja lo katain orang gila!"

"Udah gila, sombong pula!" Cibir Vivian dari seberang sana.

"Eh lo kalo berani ketemu gue! Hadepin gue langsung!"

"Elo yang kalo berani kesini. Jangan jagonya di SMS doang."

"Lo tunggu ya! Gue bakal kasih perhitungan sama elo!" Ael mematikan sambungan teleponnya dan langsung bergegas menyambar kunci mobilnya.

****

Vivian yang sedang menikmati kegiatannya ngemil sambil nonton bola dikagetkan oleh pintu apartemennya yang tiba-tiba saja menjeblak terbuka. Ditolehkannya kepalanya untuk melihat siapa yang masuk dan langsung disuguhi pemandangan indah. Pemandangan indah dimana Niel si cowok berwajah oriental yang tersenyum manis sambil menatapnya beserta Ael yang berdiri sambil menatapnya tajam. Dateng juga dia. Kirain omdo, batin Vivian.

"Haiiiiii Niel." Sapa Vivian ramah sambil beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan dua laki-laki itu.

"Hai Viv." Balas Niel tak kalah ramah masih dengan senyum yang terukir di bibirnya. Dihampirinya Vivian dan langsung menyalami tangan gadis itu sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Vivian. Vivian sedikit kaget namun ia segera merubah air mukanya. Sementara Ael, ia hanya bisa menganga tak percaya melihat apa yang baru saja dilakukan Niel. Benar-benar tipikal playboy. Mencari perhatian perempuan dengan sok akrab seperti itu padahal baru beberapa kali bertemu.

"Lagi ngapain Viv?" Tanya Niel basa basi sambil melongok kea rah televisi. "Nonton bola juga, ya? Wah keren." Sambugnya menjawab pertanyaannya sendiri.

"Hehe iya." Jawab Vivian. "Eh duduk duduk." Ujarnya mempersilahkan. Dengan senang hati Niel mengikuti Vivian dan duduk di samping gadis itu. Sementara Ael, ia memilih duduk di salah satu sofa yang berada di samping sofa panjang yang diduduki Vivian dan Niel. Keinginannya untuk memberi perlajaran pada Vivian seperti yang dikatakannya tadi harus rela menerima nasib tidak jadi terealisasi gara-gara saat hendak masuk ke mobilnya tadi ia malah bertemu dengan Niel yang ternyata akan bertandang ke apartemennya dan mengajaknya untuk nonton bareng bola bareng. Setelah dijelaskan bahwa ia ada sedikit urusan dengan Vivian, Niel malah membatalakan rencananya itu dan memilih ikut kesini. Benar-benar menyebalkan. Dan sekarang lihat saja, ia malah asyik mencari perhatian pada Vivian dengan sok sok bertanya tentang pekerjaan gadis itu.

"Nggak capek Viv kerja di pemasaran?" Tanya Daniel. "Ngurusin project iklan, promosi, event dan lain-lain." Lanjutnya kembali sok mengakrabkan diri. Rafa mencibir kesal mendengar pertanyaan bermodus perhatian itu. Posisi duduknya yang kini berada di belakang Daniel – tepatnya ia duduk di samping Daniel di sofa panjang sedangkan Vivian duduk di sofa single di sebelah mereka berdua, dan Daniel sengaja memunggunginya, membuat laki-laki itu tidak dapat melihat wajahnya.

"Gue nggak ngurusin event-nya ataupun project iklan. Semuanya kerjaan bos gue. Gue cuma sekretaris jadi yang gue urusin yaaa Cuma bos gue serta jadwal-jadwalnya" Jawab Vivian manis, membuat Rafa semakin jengkel saja. Kan yang bertujuan datang kesini dia. Dia dan Vivian ada urusan yang harus diselesaikan. Ehmmm...urusan SMS nggak sengaja kirim itu sih. Tapi kenapa sekarang malah dia yang jadi kacang? Obat nyamuk buat cowok yang mau modus? Ini nggak bisa dibiarin!

"Sama aja kan lo harus tetep dampingin beliau...."

"VY, AUS NIH!" Rafa berteriak memotong kalimat Daniel. "Ngagetin Raf..." Tegurnya.

"GUE AUS!" Ujarnya masih tetap berteriak. Vivian memandang Rafa kesal, lalu beralih tersenyum manis pada Daniel. "Maaf ya Niel. Dia emang gitu. Suka teriak-teriak kayak macacanigra." 

Mata Rafael kontan melebar mendengarnya. Apa? Macacanigra? Itu salah satu jenis monyet dari Sulawesi, kan?!! 

"Eh gue bukan..." Rafa baru hendak melayangkan protes namun Vivian sudah lebih dulu memotongnya.

"Diem! Gue ambilin! Nggak usah bawel!" 

Vivian lalu melangkah ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Raja Besar Rafael. Daniel yang menyaksikan interaksi mereka berdua hanya bisa geleng-geleng ketawa sambil tersenyum, lalu sebuah ide terbit di kepalanya. "Viv, aku juga nitip, ya," pintanya sambil tersenyum.

Vivian yang memang penyuka Drama Korea dan pencinta cowok berwajah oriental kontan salah tingkah dilempari senyum manis seperti itu apalagi Daniel megalamatkan dirinya dengan 'aku'. Sementara Rafael, lagi-lagi mendengus jengkel. Heyho! Vivian nggak bisa lihat apa kalo di jidat Daniel udah ada stempel PLAYBOY CAP KUDA TERBANG!? Dasar! Eh tapi tunggu, kenapa pula dia mesti perduli? 

"Mau minum apa, Niel?" Tanya Vivian kalem.

"Apa aja asal kamu yang bikini pasti enak hehe."

Vivian tersipu, Rafa mengutuk dalam hati! 

****

Pagi yang cerah, matahari bersinar indah dan...Range Rover dengan Rafael berdiri di sampingnya sambil tersenyum menjengkelkan. Hell! Kapan Vivian bisa lepas dari makhluk menyebalkan ini.

"Ngapain lo?" Tanya Vivian garang sambil berkacak pinggang.

"Jemput tunangan gue kerja dong." Jawab Rafael manis.

"Gue bukan tunangan lo!"

"Emang gue bilang lo tunangan gue?"

Sial! Dengan sebal Vivian berjalan melewati Rafael dan hendak menyetop taksi namun buru-buru ditahan laki-laki itu. "Jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang." Bujuknya sambil menahan lengan Vivian.

"Lepas!"

"Nggak mau."

"Ael gue lagi nggak pengen berantem, ya."

"Gue juga nggak pengen berantem Ivy sayang."

"Terus mau lo apa?"

"Gue cuma mau nganter lo ke kantor."

"Gila ya. Lo jadi orang nggak tau malu banget. Kemaren marah-marah nggak jelas ke gue dan sekarang dateng seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Sok-sokan mau nganter ke kantor. Lo pikir gue cewek berhati malaikat kayak di drama drama yang meski disakitin bakal tetep bisa nerima apa adanya? Sorry ya gue bukan keset kaki!" Vivian mengomel panjang lebar yang sialnya hanya disambut dengan senyuman tertahan dari Rafael.

"Tahu nggak Vy gue jadi inget bikinan anak meme. Lo pikir gue keset kaki yang meski udah diinjek tetep bilang welcome?"

BUKKK!!! 

Dan terjadilah adegan gebuk menggebuk di depan gedung apartemen dengan Vivian sebagai pelaku penggebukan dan Rafael sebagai korban yang sialnya malah asyik tertawa-tawa.

Minggu, 18 Mei 2014

,


Sudah hampir seminggu berlalu sejak pertengkaran Vivian dan Rafael. Vivian sama sekali tidak berniat untuk menghubungi Rafael. Tepatnya tidak mau. Sedangkan Rafael, ia gengsi. Sama sekali tidak merasa bersalah. Ia hanya merasa bahwa Vivian-lah yang salah karena mengusirnya secara tidak terhormat dari apartemen gadis itu, jadi Vivian yang seharusnya meminta maaf, bukan dirinya. Egois memang.
Hari ini hari minggu. Vivian berniat untuk berbelanja bulan. Persediaan bahan makanan di dalam kulkasnya sudah menipis. Kebutuhan-kebutuhannya yang lain juga sudah mulai habis. Ia memutuskan untuk berbelanja di supermarket dekat apartemennya.
Ketika sedang memilih-milih jeruk, ia dikagetkan oleh colekan seseorang di bahu kirinya. Serentak ia menoleh.
“Hei.” Sapa si pencolek sambil tersenyum, memamerkan giginya yang putih dan rapi.
Vivian mengerutkan keningnya. Heran dengan kemunculan cowok berwajah oriental yang tiba-tiba saja mencoleknya bahkan meyapanya dengan akrab.
“Masih inget gue?” Tanya cowok itu.
Vivian mencoba mengingat-ingat, tapi ia tidak bisa. Mungkin ingatannya sudah tertutup gara-gara pertengkarannya dengan Rafael. “Sorry, but do I know you?” Tanyanya. Ia sama sekali tidak merasa kenal dengan laki-laki di depannya ini.
I think yes you do.” Jawab laki-laki itu. “Niel you know, Daniel.” Ujarnya kemudian.
Seketika wajah Vivian cerah. Ia ingat.
“Ah iya. Daniel temennya Ael kan?” Tanyanya memastikan.
Cowok itu yang ternyata adalah Daniel, teman Rafael yang pernah bertemu dengannya di restoran waktu itu mengangguk dan tersenyum. “Belanja?” Tanyanya retoris.

Minggu, 20 April 2014

,
Shit! Maki Ael sambil membanting majalah digenggamannya ke atas meja kerja di kantornya. Sialan! Sialan! Sialan! Apa maksud reporter bernama Aurora Amora itu coba?
 Gadis Tanpa Nama atau Nindy Paramitha. Siapa sebenarnya Kekasih Fay Bara Putra?
Diraihnya kembali majalah yang baru saja dibantingnya itu. Matanya nanar menatap headline berita tersebut. Di sana, di dalam majalah sialan itu, terdapat sosok Nindy bersama Bara. Terlihat bahwa Bara sedang menunggui Nindy di salon. Demi Tuhan ia sangat ingin meninju seseorang saat ini. Apalagi si Aurora Amora, reporter sialan itu. Dari mana ia mendapat berita ini?
Oh ya tentu saja ini bukan asal berita atau gossip murahan. Ia sangat ingat pakaian yang dikenakan Nindy beberapa hari yang lalu saat ia dan Ivy mengintainya dan Bara. Jadi setelah dari restoran, mereka ke salon. Sebenarnya ia sedikit lega mengingat bahwa apa yang dikhawatirkannya kemarin itu tidak terjadi. Ia bukan menganggap Nindy perempuan murahan sehingga gadis itu mau melakukan hal-hal ‘aneh’ dengan Bara. Tapi mengingat pesona dan kekuasaan Bara, ia tidak bisa memungkiri bahwa laki-laki itu bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya dengan mudah, termasuk harga diri seorang perempuan.
Diremasnya pemukaan majalah tersebut dengan kasar. Ia tahu siapa yang harus disalahkan atas hal ini.
****
“Viv tolong kerjain, ya.” Perintah Indra ramah sambil menyodorkan beberapa dokumen kea rah gadis itu.
Dengan semangat Vivian mengangguk sambil tersenyum. Dahi Indra mengerut mendapati ekspresi Vivian.
“Semangat banget kayaknya.” Komentarnya.

Kamis, 20 Maret 2014

,


Dengan perasaan campur aduk, Ael membelokkan mobilnya ke arah salah satu restoran yang tak jauh dari tempat Ivy merelakan hampir seluruh isi perutnya ke dalam got di pinggir jalan. Dilepasnya seatbelt yang menjamin keselamatannya sementara ia dalam perjalanan tadi. Dibukanya pintu kanan dan keluar dari mobil dengan cepat. Tanpa menunggu Ivy, ia terus melangkah sampai di depan pintu utama restoran. Akan tetapi, setelah sepuluh menit berlalu, gadis yang ditunggunya dan yang memaksanya untuk mampir ke sini tak kunjung keluar dari mobil. Dengan cepat dikeluarkannya ponselnya dari dalam saku celana jeans rombengnya dan mengontak Ivy. Tapi sialnya, gadis itu tak mengangkatnya.

Setengah menggeram ia kembali ke arah mobil dan langsung membuka pintu penumpang depan dan berniat untuk mengomel.

“Lo sebenernya…” Kalimatnya yang sebenarnya adalah ‘Lo sebenernya niat makan atau nggak?’ itu terhenti ketika mencapai kata kedua. Ivy tertidur. Sekali lagi.. Ivy tertidur. VIVIAN TERTIDUR!!       

Shit! Great! Setelah tadi gadis membuat acara pengintaiannya terhadap Nindy hari ini gagal dan membuatnya harus menelan kenyataan mati penasaran tentang apa yang akan Nindy lakukan dengan pria bernama Bara itu, setelah gadis itu berlagak merajuk karena Ael tidak mengizinkannya mengisi kembali perutnya karena tidak ingin Ivy muntah lagi, membuat Ael terpaksa mengemudikan mobilnya kea rah restoran ini meskipun ia tidak lapar sama sekali, gadis itu malah seenak jidatnya molor di mobilnya.

Minggu, 02 Maret 2014

,


Hari pertama!

Hari pertama misi Vivian-Rafael dilaksanakan. Vivian meringis melihat penampilannya di depan cermin yang ia pegang. Celana jeans, blus lengan panjang yang hampir mencapai lutut, juga selendang yang menutupi kepalanya serta kacamat hitam. Ia benar-benar tampak seperti cewek obsesif yang mengharapkan salju turun di Indonesia. Dengan kesal ia melirik sinis ke arah Rafael yang sedang duduk di sampingnya. Siapa lagi yang akan memaksanya berpenampilan seperti ini kecuali laki-laki arogan di sampingya ini. Penampilan anehnya tidak kalah aneh dengan penampilan Ael.

Ael dengan cuek menatapnya dari balik kacamata hitamnya, kepala dibungkus penutup kepala berwarna hitam yang membuatnya terlihat seperti preman, kaos lengan panjang berwarna merah dengan gambar aneh disana, serta celana panjang yang robek di lututnya.

“Apaan?” Tanya Ael sinis.

Vivian hanya menggeleng sebagai jawabannya. “Ck. Apaan? Ngomong aja.” Ael mengulang pertanyaannya.

Vivian meringis. “Gue boleh pesen minum lagi nggak?” Tanyanya tidak enak.

“Bayar sendiri!” Jawab Ael jutek.

Rabu, 12 Februari 2014

,
Kiri-Kanan! Kanan-Kiri! Kiri-Kanan! Kanan-Kiri!....

Sejak pulang kantor tadi, itulah yang dilakukan Vivian. Mondar-mandir tidak jelas di dalam apartemen sambil menggigiti kuku-kukunya. Kenapa gue harus iya-in permintaan tolong Ael? Kenapa nggak gue tolak? Iya sih gue tahu ancaman tuh orang berbahaya banget sama kehidupan pribadi dan masa mud ague. Indra juga nyaranin buat diterima aja. Tapi kok gue rada nyesel, ya? Gue nggak ikhlas iya-in permintaannya. Lagian si Rafael jadi orang egois banget sih? Nggak bisa ya sekali ini dia ngertiin perasaan orang lain? Ya walaupun gue nggak tahu apa yang harus dia mengerti disini. Vivian berdebat dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba ponselnya menjeritkan ringtone. Aduh Tuhan… kenapa harus bunyi sekarang sih nih HP? Gue lagi nggak pengen ngomong sama siapa-siapa.

Akhirnya dengan langkah yang diseret, Vivian masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel yang memang sejak tadi belum ia keluarkan dari dalam tas.

Ale-ale Calling…

Itulah yang tertera. Ael! Vivian memang sengaja mengganti nama kontak Ael di ponselnya dengan nama salah satu produk minuman yang banyaj dijual di warung itu. Ale-ale.

“APA?” Tanyanya galak ketika ia mengangkat sambungan telepon itu.

“Galak bener sih lo?” Tegur Rafael.

“Suka-suka.” Jawab Vivian cuek.

“Lo dimana?” Tanya Rafael. Ia sedang malas meladeni Vivian. Pikirannya masih dipenuhi wajah tersenyum Nindy saat bersama laki-laki itu.

Kepo.” Vivian kembali menjawab dengan nada cuek. Kali ini diikuti jutek.

Rabu, 29 Januari 2014

,


            Vivian baru saja melangkah keluar dari apartemen ketika sosok Ael tiba-tiba saja muncul dan menghalangi jalannya. Tubuhh menjulang itu berdiri tepat di depan Vivian sambil menyedekapkan tangannya. Mood Vivian yang sedang cerah-cerahnya tiba-tiba berubah mendung. Gloomy seketika. Dengan kesal ia bergeser ke kanan untuk melanjutkan langkahnya tapi dengan cepat Ael kembali menghalanginya. Akhirnya ia bergeser kea rah kiri, namun lagi-lagi Ael menutup aksesnya untuk keluar.
“Minggir deh! Gue udah telat!” Perintahnya.
“Gue mau bikin perjanjian dulu sama lo!” Tegas Ael.
Vivian mengerutkan keningnya. Perjanjian? Perjanjian apa? Jual-beli? Hutang-piutang? “Gue nggak ada waktu buat maen-maen nggak jelas sama lo!”
“Siapa yang mau main-main sih Yang. Gue serius!”
“Ya udah apaan?” Akhirnya Vivian pasrah. Tidak ada gunanya berdebat lama-lama dengan makhluk sinting di depannya ini. Yang ada waktunya semakin terbuang percuma.
“Oke! Gue mau, ntar siang lo makan siang bareng gue!” Jawab Ael. Sama sekali bukan tawaran atau permintaan. Itu pernyataan yang jelas sekali tidak bisa dibantah.
“Nggak bisa! Gue ada janji mau makan bareng Indra.” Tolak Vivian. Dirinya memang sudah ada janji untuk makan siang bersama Indra – atasan sekaligus sahabatanya sejak kuliah.
Ael mengerutkan keningnya. Sejak kapan Ivy punya pacar? Tanyanya dalam hati. “Indra siapa?” Tanyanya kepo.
“Kepo banget sih lo!” Vivian merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Ael. Waktunya justru akan semakin terbuang percuma. “Udah ya Ael. Gue nggak punya banyak waku. Gue udah telat!”
“Nggak peduli! Lo nggak iya-in, lo nggak ngantor!” Jawab Ael tidak peduli. Vivian menggeram dalam hati. Ia mengutuki dirinya sendiri yang sialnya harus bertemu dengan orang yang cuek, nggak peduli dan percaya dirinya sejuta seperti laki-laki menyebalkan ini.
“Oke! Tapi gue harus ngomong dulu sama Indra.” Lagi-lagi Vivian hanya bisa pasrah. Di-iyain aja deh. Nggak mungkin gue nggak masuk kantor, walaupun sebenernya gue rasa gue butuh banget libur sekarang.
‘Indra itu siapa sih?” Lagi-lagi Ael menanyakan Indra. Bête juga dia kalo dari tadi nanya tapi nggak dijawab-jawab. Baru saja Vivian hendak menjawab…. “Jawab aja langsung. Nggak usah ngatain gue kepo.” Sambungnya.
Vivian menarik napas panjang. “Atasan gue!” Jawab Vivian akhirnya. Ael tidak berkomentar. Ia hanya memandang Vivian dengan tatapan menyelidik. Seorang sekertaris makan siang dengan atasannya. Bukan berarti tanpa alsan, kan? Pasti ada sesuatu.
“Biar gue aja yang ngomong!” Ucap Ael tiba-tiba.
“Ha?” Vivian hanya melongo mendengarnya. Otaknya masih berusaha mencera apa yang baru saja dikatakan Rafael. Ael mau ngomong sama Indra? Mau ngomong apa? Tiba-tiba Rafael menarik salah satu tangan Vivian dan menyeretnya untuk mengikutinya.
“Eh…eh… tunggu tunggu! Lo mau bawa gue kemana?” Vivian bertanya di sela-sela langkah tergesanya yang berusaha menyeimbangkan dengan langkah-langkah panjang Rafael. “Lepasin! Sakit tau!” Teriaknya. Tapi Ael sama sekali tidak menggubris teriakan Vivian itu. Yang ada cengkramannya malah semakin kuat dan ia semakin menyeret Vivian.
****

Kamis, 23 Januari 2014

,
“Ogah!. Gue nggak mau dan lo nggak bisa maksa gue!” Tolak Vivian mentah-mentah. Ia tidak mau. Enak saja main suruh-suruh. Dia saja tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain, kenapa Rafa bisa memaksakan kehendaknya padanya? Walau sampai kapanpun ia tidak akan mau memenuhi permintaan konyol Rafa.

“Kenapa? Lo naskir gue sampe nggak mau? Lo nggak pengen gue balik sama mantan gue supaya perjodohan ini bisa terus berlanjut?” Tanya Rafa pede sejuta.

“Gue? Naksir lo? Kayak stock cowok di bumi udah abis aja.” Bantah Vivian tegas.

“Trus kenapa nggak mau?” Tanya Rafa.

“Eh harusnya gue ya yang ngatain lo bego. Pake nanya lagi apa alasannya. Gue nggak mau beurusan sama lo apalagi sama kehidupan pribadi lo. Mau cewek lo ninggalin lo kek, mutusin lo, bawa kabur duit lo, gue nggak peduli!” Jawab Vivian kemudian melangkah pergi meninggalkan Rafa yang tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

Lo nggak bisa nolak. Lo nggak boleh nolak. Gue nggak suka denger orang lain bilang nggak sama gue. Liat aja. Lo bakal tetap lakuin perintah gue, suka atau nggak.

Selasa, 21 Januari 2014

,

“WHAAATTTTT??” Saking kagetnya dengan pernyataan laki-laki seumuran Ayah, Vivian sampai memekik keras. Pekikkan yang sontak membuat Bunda melotot ke arahnya. Ia tahu itu tidak sopan. Tapi hal ini benar-benar di luar dugaannya. Pendengaran dan otaknya tidak siap untuk mencerna apa saja yang baru saja terungkap.
“Jadi begini Vian.” Ayah mengambil alih pembicaraan. “Perjodohan ini sebenarnya juga sudah direncanakan sejak tiga bulan yang lalu saat Ayah sama Bunda pulang ke Bandung. Ayah sama Bunda juga sudah lama mengenal Om Firman dan Tante Lidya. Jadi Ayah pikir, tidak ada salahnya menerima perjodohan ini.” Jelas Ayah.
“Tapi yah…” sebelum sempat melancarkan protesnya, Ayah sudah memotong pembicaraan terlebih dahulu.
“Ya sudah. Kalau begitu kita makan malam dulu.” Jadi Ayah nggak minta persetujuan nih? Batin Vivian. Ayah kemudian berdiri dan beranjak dari sofa ruang tamu menuju meja makan disusul Bunda dan kedua orang tua Rafa. Rafa sejak tadi hanya diam sambil mengutakk-atik gadgetnya. Benar-benar tidak sopan. Sementara Vivian masih diam tak tahu harus berbuat apa.
****

Senin, 20 Januari 2014

,
Vivian baru saja memarkir mobilnya di carport gedung dimana apartemennya berada saat ponselnya tiba-tiba mengeluarkan dering yang cukup keras. “Rumah” itulah yang tertera Iayar ponselnya. Ada apa, ya? Pikirnya. Ini memang jam pulang kantor jadi tidak aneh jika orang tuanya menghubunginya mengingat mereka selalu berusaha untuk tidak mengganggu jam kantornya. Tapi ibunya tahu seperti apa pekerjaannya. Benar-benar melelahkan mengingat ia harus mengatur jadwal atasannya dan mengikuti kemanapun atasannya pergi. Baik untuk meeting dengan klien atau sekedar makan siang bersama. Jadi tidak mungkin beliau menelepon saat ia baru saja pulang kantor jika tidak ada yang penting. Dengan cepat diusapnya gambar berwarna hijau di layar ponsel dan menempelkan ponselnya ke telinga kanan.
“Halo?” sapanya.
“Assalamualaikum…” Suara Ibunya membuka pembicaraan.
“Walaikumsalam. Ada apa Bun?” Tanyanya langsung.
“Kamu tuh bukannya nanyain kabar Ayah sama Bunda, langsung aja tembak tanya Bunda ada perlu apa. Emang nggak boleh kalo Bunda menghubungi kamu?” Omel Bunda seketika.
“Bukan gitu Bun. Cuma Vian lagi capek banget. Baru pulang kerja. Pengen cepet-cepet mandi terus istirahat.”
“Udah istirahatnya nanti di rumah aja. Sekarang mending kamu cepet kesini. Ada hal penting yang Ayah sama Bunda mau bicarakan.”
“Hal penting apa?”
“Nanti juga kamu tahu. Pokoknya sekarang kamu langsung ke rumah. Oh iya jangan lupa bawa pakaian ya. Tapi bukan pakaian kesaharian kamu itu. Bawa pakaian yang rapi.” Instruksi sang Bunda.
“Emang mau ada acara, ya Bun?”
“Sudah kesini saja. Assalamualaikum.” Putus sang Bunda seiring sambungan telepon yang juga terputus.
Dengan kesal Vivian melempar ponselnya ke jok penumpang, memasukkan gigi dan memutar mobilnya ke arah rumah kedua orang tuanya. Sebodoh amat sama pakaian yang rapi. Lagipula sekarang pakaiannya masih tergolong rapi. Pakaian kantor. Hanya saja memang tampilannya tidak se-fresh tadi pagi.
,


Vivian Laisa. Gadis berusia dua puluh satu tahun yang kini menjabat sebagai sekertaris Manajer Pemasaran di salah satu perusahaan swasta di Jakarta harus rela menerima nasib sialnya saat dengan gampangya kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang laki-laki tak dikenalnya. Kehidupannya yang semula baik-baik saja yang tiba-tiba dikacaukan oleh acara perjodohan ini menjadi semakin kacau balau saat diketahuinya bahwa laki-laki tersebut adalah salah satu musuh bebuyutannya zaman SD dulu. Kenyataan yang membuat nyawanya seolah dicabut paksa secara tiba-tiba saat membayangkan bagaimana sosok laki-laki kecil itu dulu. Benar-benar sosok yang tidak menjanjikan sebagai calon suami yang baik. Kekacauan yang terjadi tak berhenti sampai disini. Kenyataan yang menyusul kemudian benar-benar membuatnya tak sanggup berkata-kata. Laki-laki itu… yang dicalonkan sebagai suaminya… yang dielu-elukan kedua orang tuanya… adalah salah satu korban gagal move on dari mantan kekasihnya dan berniat untuk memanfaatkan keberadaan dirinya sebagai alat untuk membuat gadis itu kembali.