Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Part of My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Part of My Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2019

,
Koleksi Pribadi: Bahomotefe, 16 Juni 2019




Setelah libur lebaran selama kurang lebih 2 minggu di kampung halaman, tibalah saatnya u/ kembali di perantauan. Tanggal 16 Juni saya sudah harus tiba di Bahodopi karena sudah harus aktif kembali bekerja keesokan harinya.



Akhirnya, malam tgl 15 Juni menjelang tengah malam saya berangkat dari rumah menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi & tiba kurang lebih pukul 4 Pagi. Pesawat yg akan menerbangkan saya menuju Luwuk dijadwalkan berangkat pukul 6.10 Pagi setelah malam sebelumnya diundur menjadi pukul 7.10. Tdk apa-apa, menunggu sebentar sambil meluruskan badan, capek jug naik mobil 4 jam.



Namun, menjelang waktu Boarding dan take off bukan panggilan untuk naik ke pesawat yg saya dengar, melainkan "peswat tujuan Luwuk akan diberangkatkan pukul 10.10 karena kendala operasional". Dalam hati langsung berbisik "cobaan apa lagi ini Tuhan?" Pesawat delay 3 jam! Tapi, meski mengeluh ada sedikit rasa syukur juga. Bukan hanya 1 maskapai yang delay, semua pemberangkatan pukul 7.10 diundur menjadi jam 10 semua. Cuaca buruk. Dari Manado bisa terbang, tapi di kota tujuan tdk bisa landing.



Cuma, masalahnya, status penerbangan saya ke Luwuk bukan tujuan akhir, melainkan stopover 25 Menit lalu akan bergerak kembali menuju Palu u/ transit & kemudian terbang ke Morowali. Apakah ini sudah saatnya saya merasakan transit buru-buru lalu kejar-kejaran dgn pesawat?



Saya tegang! Melapor ke petugas bandara, katanya tidak apa-apa. Yasudahlah, istirahat 3 jam juga tdk apa-apa. Setidaknya walau tdk sesuai harapan, tetap ada kompensasi dari pihak maskapai sbg pertanggungjawaban atas keterlambatan penerbangan. Tapi ya, jengkel juga. Udah macem anak ilang di bandara. Style yg sudah saya usahakan se-fashionable mungkin berubah menjadi tergembel di seantero bandara 😐😑 Jd, sambil berdoa tdk ada delay kedua, Alhamdulillah pukul 10.10 panggilan boarding pun mengudara. Tapi, ada perasaan tdk enak ketika saya naik ke pesawat. Bau bahan bakar pesawat jenis ATR yg saya naiki tercium dgn sangat kuat begitu saya menaiki badan pesawat.



Memasuki badan pesawat, disambut oleh awak kabin yang ramah dan bersahabat; tersenyum, menanyakan boarding pass dan membantu menyimpan bagasi kabin, saya duduk di kursi samping jendela sambil mengipas-ngipas kepanasan. Tak hanya bau bahan bakar, AC dalam pesawat seperti tidak berfungsi. Padahal sudah saya setel ke batas maksimal paling dingin.


Saya tidak terlalu paham istilah-istilah dalam dunia penerbangan, tapi kalau saya curi dengar dari penumpang lain, pesawatnya belum ready tapi demi menghindari penggantian ganti rugi sejumlah uang atas keterlambatan penerbangan, penumpang sudah dinaikkan ke dalam pesawat😕. Tidak tahu itu betul atau tidak, tapi saya parno! Indonesia baru saja terkena musibah pesawat jatuh yang tidak menyisakan satu penumpang pun selamat beberapa bulan lalu. Masa ini pesawat belum ready kami sudah disuruh naik? Kan ngeri kalau ada kesalahan teknis tak terduga😣



Jadi, yang saya lakukan adalah pasrah pada Allah. Mengambil lembaran doa-doa di kantong kursi depan, saya berdoa semoga dilindungi selama perjalanan dan selamat sampai tujuan. "Bismillahi majreha wa mursaha." Akhirnya, pesawat take off, mengudara, dan Alhamdulillah kami sampai di Luwuk dengan selamat dan mendapat pemberitahuan dari awak kabin untuk tetap menunggu di dalam pesawat. Lalu, mesin pesawat kembali dimatikan, personel bandara kembali hilir mudik di lapangan dan sekitar pesawat yang saya tumpangi, baling-baling pesawat kembali berhenti, dan udara di dalam pesawat kembali ke posisi pengap😥. Kebetulan saat itu matahari di Luwuk sedang cerah cerianya, saya sampai berkeringat. Kondisi yang jarang saya temui apabila sedang dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang.



Tapi, selang 10 menit setelah pemberitahuan, awak kabin kembali mengumumkan kepada penumpang bahwa kami diminta untuk turun, melapor ke loket transit dan kembali menunggu di ruang tunggu😩



Yang benar saja. Kami akan ke Palu dengan pesawat yang sama, kenapa kami harus turun dan menunggu lagi? Beruntung ada satu ibu-ibu muda yang berani melancarkan protes ke awak kabin. "Penerbangan kami sudah delay lama, kenapa sekarang disuruh menunggu lagi?" Dan Alhamdulillah lagi, kami batal turun dan disuruh menunggu saja di pesawat. Tapi panas😅


Berselang 25 menit kemudian, beberapa penumpang lain ikut naik ke dalam pesawat. Kami pun kembali terbang menuju kota Palu.
Tiba di Palu, penumpang transit diminta untuk melapor ke bagian transit. Jadi, saya turun dari pesawat, tiba di gedung kedatangan domestik, ke pintu keluar, belok kanan menuju pintu keberangkatan, melewati petugas X-ray, melapor ke loket check-in, mendengar konfirmasi petugas dengan petugas bandara di lapangan, mendapat boarding pass baru dan diminta untuk langsung ke ruang tunggu lantai satu dan harus kembali naik ke pesawat sekarang. Ternyata pesawatnya sedang prepare to take-off😐



Akhirnya, saya harus lari-lari di lapangan terbang dipandu petugas bandara untuk mengejar pesawat dan harus mendapati fakta bahwa pesawat yang akan menerbangkan saya menuju Morowali adalah pesawat yang barusan mendarartkan saya di Palu😤



Kalau memang tidak harus ganti pesawat, kenapa tidak sejak awal boarding-pass saya diserahkan lengkap untuk penerbangan Manado-Palu, Palu-Morowali. Kasihan kan sayanya harus turun di bandara demi selembar boarding-pass dan lari-lari kayak orang kesurupan di tengah siraman sinar matahari yang sedang ganas-ganasnya. Tak pelak lagi, sesampainya di badan pesawat saya berkeringat heboh, diserang sakit kepala dan mual hebat. Saya baru ingat. Ini sudah setengah 2 siang dan saya sama sekali belum makan😑



Walau begitu, saya sedikit bersyukur juga transitnya tidak terlalu lama, tidak ada delay lagi, jadi saya bisa tiba di Morowali tidak terlalu sore dan bisa mengejar kapal dari Pelabuhan Bahomotefe ke Dermaga Bahodopi.



Hujan yg mengguyur pulau Sulawesi telah mengundang banjir & menyebabkan Akses darat ke Bahodopi putus diterjang banjir bandang. Jd, mau tidak mau, u/ kesana, harus naik kapal dari Pelabuhan Bungku, atau Pelabuhan Bahomotefe atau naik rakit u/ menyeberang dari desa Siumbatu ke desa Dampala. Dan pilihan pertama saya adlh Pelabuhan Bahomotefe. Naik kapal. Jangan bayangkan kapal besar atau kapal pesiar, melainkan kapal kayu a.k.a Katinting 😬


Perjalanan ini adlh perjalanan yg paling saya nantikan. Sudah lama tidak naik katinting. Terakhir kali mungkin sekitar tahun 2016 saat berwisata ke Pulau Saronde di Gorontalo Utara. Dan, rasanya menyenangkan menyambut waktu maghrib di atas permukaan laut. Matahari terbenam nampak amat megah & gagah, waktu itu. Saya tidk membayangkan bahwa penyeberangan kali ini akan memiliki rasa dan warna yang berbeda. Sepanjang perjalanan, saya dicekam ketakutan yg teramat sangat.



Ombak besar, kami menyeberangi lautan dengan perahu motor. Sepintas terbayang ke-2 orangtua Anna dan Elsa, pemeran utama dlm animasi Frozen yg tenggelam ditelan keganasan lautan. Mana sunsetnya? Mana hangat air laut & matahari yang berpadu jadi satu? Knp perjalanan kali ini ngeri sekali? 😣😩 Sepanjang perjalanan, saya genggam pinggiran perahu kuat -kuat. Jika perahu ini terbalik, maka selesai sudah. Saya tidak bisa berenang. Mungkin saja saya berakhir jadi kenangan. Tak terhitung berapa kali saya beristighfar menyebut nama Tuhan. "Astaghfirullahaldzim, Sesungguhnya tiada daya dan upayaku selain dgn pertolonganMu ya Allah." Begitulah manusia, secara otomatis ingat Tuhan jika sedang sdg kesempitan. Alhamdulillah, saat adzan maghrib berkumandang, saya tiba di Dermaga Bahodopi dgn selamat, disambut penduduk yg entah menunggu keluarga mereka datang atau sekedar menonton siapa yg baru pulang dari kampung halaman.



Tapi, ada satu pelajaran besar yang saya petik dari perjalanan ini. Bahwa dlm keadaan apapun, pertolongan Allah amatlah dekat, sedekat kematian.

Selasa, 18 Juni 2019

,
Koleksi Pribadi: Palu, 16 Juni 2019


Setelah memutuskan untuk mengadu nasib di pedalaman, mudik lebaran selalu menjadi bonus paling indah tiap tahunnya. Alhamdulillah tahun ini saya bisa pulang lebaran dan berkumpul bersama keluarga. Tapi ada drama di dalamnya. Drama yang sempat membuat saya berpikir mungkin ini adalah pertanda bahwa saya sebenarnya belum diizinkan mudik sama Allah.

Pada tanggal 13 Mei, kira-kira 2 minggu sebelum lebaran saya sudah booking tiket penerbangan domestik di salah satu maskapai milik Indonesia. Tapi, ada kendala. Setelah proses pembayaran selesai, tiketnya gagal atau tidak sukses masuk dan saya diminta untuk mengajukan permohonan refund. Seminggu kemudian, karena takut nggak kebagian/kehabisan tiket saya meminta tolong kepada @ndynita94untuk memesankan tiket dengan rute penerbangan yang sama seperti yang saya pesan sebelumnya, di maskapai yang sama pula. Alhamdulillah tiketnya berhasil masik

Tapi, drama lain kembali terjadi satu hari sebelum keberangkatan saya ke kampung halaman. Malam harinya, saya dan teman-teman seperjuangan berencana untuk melakukan perjalanan Morowali-Kendari untuk mengejar pesawat pagi. Rencananya kami akan berangkat pukul 9 malam dan akam tiba pukul 5 Pagi di Kendari. Tapi, satu berita menegangkan muncul. Jalan Trans Sulawesi yang akan kami lewati terendam banjir akibat hujan berturut-turut selama kurang lebih 2 minggu terakhir. Beberapa daerah lain juga longsor. Tidak bisa lewat. Kami harus secepatnya reschedule penerbangan. 
Tegang! Lebaran tinggal 2 hari, tapi saya terancam tidak bisa pulang. Ditambah saat itu jaringan internet maupun telepon di daerah saya tinggal sedang jelek. Jadi, sambil hujan-hujanan naik motor, saya harus menenteng bagasi kabin demi mencari jaringan dan koordinasi dengan teman-teman senasib seperjuangan yang sama seperti saya sepertinya akan batal mudik lebaran.

Setelah tersambung dengan pihak maskapai dan menjelaskan alasan, saya meminta untuk pindah bandara saja. Sebenarnya di Morowali ada bandara, cuma akses kendaraan ke sana cukup sulit. Tidak seperti ke Kendari yang iya jauh tapi tiap hari pasti ada mobil kesana. Dan ternyata tidak bisa. Pihak maskapai hanya bisa memberi fasilitas reschedule, tidak bisa pindah bandara. Tapi, karena jalanan tidak bisa dilewati sama sekali ke Kendari dan lebaran tinggal 2 hari lagi, tidak ada pilihan saya harus refund kembali tiket (padahal tiket sebelumnya proses refund-nya juga masih "akan ditindaklanjuti setelah cuti bersama lebaran") atau merelakannya hangus. Dan proses refund kedua yang memakan waktu beberapa menit untuk koordinasi dengan pihak maskapai juga pihak agen (karena belinya via agen ticketing online) berakhir pada putusan final untuk diikhlaskan saja dan dianggap sedekah 😁

Dengan bantuan salah satu teman di tempat kerja, saya kembali pesat tiket pesawat dengan tujuan yang sama namun rute yang berbeda. Alhamdulillah, berangkat pagi ke Bandara Morowali ba'da subuh, tiba pukul setengah sembilan pagi yang kembali diuji dengan delay satu jam; pesawat dijadwalkan take off 9.30 tapi harus diundur ke 10.30, stopover 25 menit di Luwuk, transit kurang lebih 3 jam di Palu, saya tiba di Manado pukul 18.40 ba'da maghrib dan tiba di rumah pukul 1 pagi keesokan harinya karena terhalang macet dan halangan lainnya. 
Bersyukur sekali, walaupun dengan berbagai ujian dan cobaan, halangan dan rintangan, saya bisa berlebaran di kampung halaman. Bertemu keluarga, saudara dan tetangga yang sudah lama tak jumpa.

Tapi, ternyata masih ada ujian lain yang menunggu saat tibanya kembali ke realita. Sama seperti arus mudik, arus balik tahun ini juga tak kalah luar biasanya 😆

Bersambung ke cerita ARUS BALIK

Kamis, 01 Maret 2018

,
Sumber Gambar
Sejak saya masih kecil naik bus adalah salah satu 'barang mewah'. Di desa tempat saya lahir dan besar, ke sekolah nggak perlu naik bus, cukup jalan kaki. Saat SMP, saya sekolah di desa tetangga, nggak perlu naik bus juga. Disana ada kendaraan becak bermotor atau yang sering dikenal dengan nama Bentor. Lagipula, di desa saya belum ada rute busway kayak di kota besar. Namanya juga di desa. 

Lulus SMP dan sekolah SMK, nggak perlu naik bus juga. Memang saya dulu SMK-nya di kota yang cukup besar, tapi, sekolah berasrama. Sekolahnya cuma depan asrama. Lagi-lagi, cukup jalan kaki. Jadi, ketika udah mulai kuliah di luar kota yang memang mengharuskan untuk naik bus antar provinsi, rasanya excited banget. "Gue bakal naik bus, yeay!" Dan serunya lagi, waktu berangkat diantar sama Papa dulu, saya diberikan "kursi emas". Kursi di samping jendela! Makin senang lagi, akhirnya bisa ngerasain gimana naik bus dan berpura-pura jadi model video clip atau tokoh utama wanita dalam drama Korea. Pas naik pertama kali, dan duduk, kaca jendelanya langsung saya buka. Dan, udara yang masuk seketika saya hirup dalam-dalam sambil nggak lupa ngayal sebagai aktris Korea. Walaupun bus antar provinsi di kota saya sama sekali nggak ada mirip-miripnya sama bus-bus mewah di Korea.

Sumber Gambar

Hanya saja, menikmati embusan angin dari jendela bus itu nggak akan terlalu menyenangkan kalau perjalanan yang harus ditempuh mencapai jarak waktu 8 jam, dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok tak jarang berlubang. Meski awalnya menyenangkan, kegiatan naik bus juga menjadi kegiatan yang melelahkan. Lama-lama, ngebayangin pulang mudik naik bus bukan excited lagi tapi malah mikir capeknya duduk kelamaan.

Hingga akhirnya, sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan yang menyediakan bus sebagai fasilitas transportasi bagi karyawannya. Enaknya, nggak perlu bayar ongkos atau khawatir beli bensin walau kadang busnya PHP, kagak nongol dan bikin kita terpaksa nelan malu minta tebengan ke karyawan lain yang naik motor meski nggak saling kenal. Tapi, hari ini, 20 Februari 2018, saya menemukan lagi hal menyenangkan dari naik bus. Syaratnya, masuk shift II biar berangkatnya siang dan busnya nggak penuh.

Sambil ngelihat pemandangan pantai lewat kaca jendela - sayangnya kacanya nggak bisa dibuka, cuma di bagian depannya aja yang bisa dan bisa leluasa memerhatikan ekspresi orang-orang. Sebagai orang yang nggak suka main hp saat berkendara, yang saya lakukan sambil nunggu sampai kantor tuh cuma bengong, nengok kiri nengok kanan, nikmatin lagu-lagu kenangan tahun 80 90-an yang biasanya emang disetel sama sopir busnya, dan memperhatikan ekspresi para penumpang di dalamnya. Dan, ternyata itu menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Ada yang lagi senyam-senyum sambil lihatin ponsel dan sesekali ngetik - udah bisa dipastikan dia lagi jatuh cinta. Ada yang mukanya lempeng lihatin pemandangan sepanjang perjalanan - ketahuan menikmati banget momen ia berangkat kerja dan mencari nafkah. Ada yang asyik main game, nggak peduli bus udah nyampe mana. Ada yang memasang ekspresi khawatir, saya menebak khawatir terlambat masuk kerja. Dan, ada yang seperti saya yang menikmati 'momen keberasamaan' itu sebagai hiburan dan penyegaran :D

Senin, 12 Februari 2018

,

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bekerja adalah /be·ker·ja/ v 1 melakukan suatu pekerjaan (perbuatan); berbuat sesuatu: ia ~ di perkebunan2 mengadakan perayaan nikah dan sebagainya: ketika ~ mengawinkan anaknya, aku tidak diundangnya;~ bakti melakukan suatu pekerjaan, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan suka rela untuk kepentingan umum: sebulan sekali warga desa diharuskan ~ bakti~ sama melakukan (melaksanakan) suatu kegiatan atau usaha (perniagaan dan sebagainya) yang ditangani oleh dua orang (pihak) atau lebih: orang tua dan guru harus ~ sama mencegah perkelahian antarpelajar. 

Sementara bagi saya pribadi, bekerja adalah tuntutan, adalah suatu cara terbaik yang dapat dilakukan manusia demi bertahan hidup di dunia. Oleh karenanya, ketika takdir membawa saya bekerja di salah satu perusahaan pertambangan di timur Indonesia, rasanya luar biasa lega. Bagi anak yang selama ini sudah terlalu banyak merepotkan orang tua, terlepas dari tali bernama beban itu indah banget rasanya. Namun, bagaimana ketika sesuatu yang kita lakukan demi menyambung napas dan mengisi perut ini bertemu dengan idealisme? Masih bisakah kita merasa lega, atau justru merasa bersalah? Pada impian "akan menjadi apa" di masa kecil yang pupus sudah. Atau pada pemikiran dan cara pandang orang lain terhadap kita. Pada kalimat "bekerja jika tidak sesuai minat mending mati saja".

Saya pribadi jujur saja sangat nggak suka dengan banyak statement yang bilang bahwa orang kerja kantoran belum tentu bahagia. Karena, nggak ada tolak ukur pasti definisi bahagia itu seperti apa. Yang bisa memutuskan bahagia atau tidaknya seseorang adalah dirinya sendiri, bukan idealisme. 

Untuk ritme kerja, jujur saja, selama kerja di tambang tekanannya cukup besar. Pertama, tambang tuh nggak ada yang di perkotaan, beberapa bahkan dibangun dan berproduksi di pedalaman. Secara otomatis, penyedia angkutan umum masih sedikit. Jadi, harus bawa kendaraan sendiri kalau nggak mau ribet nunggu bus perusahaan yang nyaris selalu penuh dan sempit, atau nebeng ke orang dengan resiko telan malu bulat-bulat. Kedua, masalah disiplin. Kerja di tambang tuh nggak ada kayak di kantoran yang kalau telat bisa bikin alasan macet atau tiba-tiba sakit perut dan harus bolak-balik kamar mandi selama dua jam. Bos nggak akan mau tahu, yang jelas siap-siap terima surat teguran atau bahkan peringatan. Tambang yang beroperasi 24 jam juga menyebabkan jam kerja karyawan 'dirasa' nggak beraturan. Ada yang masuk pagi pulang sore, sore pulang malam, malam pulang pagi, atau bahkan ada yang masuk pagi pulang pagi lagi. Dan, ini bikin saya dapat label 'pemburu dollar'. Memang beberapa kalimat yang dilontarkan cuma bahan bercandaan, tapi setelah dipikir-pikir lagi, julukan itu kok jelek banget, ya? Itu baru satu jenis tempat kerja. Gimana yang lainnya, ya?

One day, saya pernah ditanya apa saya bahagia, apa saya nyaman dengan pekerjaan saya. Ketika saya jawab belum bisa menilai karena belum lama kerja, si penanya bilang 'mau gaji gede juga kalau nggak nyaman ya mending sih nggak usah.' Saya jadi bertanya-tanya, nggak nyaman ini dalam hal apa? Karena lingkungan pekerjaannya, tekanan kerjanya, suasana kerjanya, risiko yang harus ditanggung karena kerjanya (misal harus jauh dari orang tua dan nggak pulang selama berbulan-bulan), atau karena nggak sesuai passion dan imipian?

Saya menulis ini bukan sebagai upaya menunjukkan bahwa saya bahagia, atau saya besar gajinya. Saya menulis ini hanya karena gemes aja. Sama yang bilang kerja kantoran belum tentu lebih bahagia daripada yang kerja di rumah, yang kerja besar gajinya belum tentu lebih bahagia dari yang bergaji kecil, atau yang kerja nggak sesuai passion-nya itu nggak bahagia. Karena asal tahu saja, untuk bekerja di tempat seseorang berada sekarang, nggak akan bisa diuangkan seberapa banyak usaha dan apa aja yang udah dilalui. Untuk bisa berada di posisi saat ini, kita nggak tahu siapa yang sedang seseorang itu berusaha bahagiakan. Mungkin kita ngelihatnya terbebani banget. Tapi kita nggak tahu seberapa ikhlas orang tersebut dalam pekerjannya.

Saya pribadi, iya kerjanya siang dan malam. Tapi, setelah dipikir dan dilihat lebih jauh lagi, kerjaan saya nggak jelek-jelek amat kok. Saya ditempatkan di klinik perusahaan di bagian Asuransi Kesehatan. And I come to think about it, I realize that I save people. Nyelamatin pasien dari beban membayar biaya kesehatan yang nggak murah. Jadi, ada sisi positifnya, bukan melulu ngejar duit.

Pemburu dollar, workaholic, Si Gila Kerja, itu semua julukan yang menurut saya bernada negatif. Kesannya mengejar uang terus. Tapi, layaknya seorang Ayah yang kelelahan seharian kerja hingga nggak bisa menemani anaknya main di rumah, mereka yang lagi kerja walaupun nggak sesuai passion ini sebenarnya lagi berusaha untuk berbahagia. Dengan cara yang ada, dengan cara yang saat ini mereka punya. Jadi, kalau lihat ada orang yang kerja dari pagi sampai pagi lagi, stop stop deh bilang pemburu dollar. Cobalah sesekali untuk melihat sesuatu nggak selalu dari sisi yang terlihat.

Selasa, 10 Oktober 2017

,

Sebuah proyek dengan imbalan menggiurkan - kenaikan gaji sebesar dua kali lipat dari gaji sebelumnya. Amora, wartawan infotainment yang memang terkenal dengang kepiawayannya mengorek berita langsung menerima tantangan dari bosnya: Ardian, aktor tampan yang berbakat dan populer dengan segudang prestasinya. Kehidupan pribadinya yang digembok kuat-kuat membuat laki-laki itu selalu tampak sempurna dalam hal apa saja. Denga percaya diri, Amora memulai investigasinya. Akan tetapi, hal itu ternyata tidak mudah. Kemunculan skandal pertama Ardian secara tiba-tiba dan sama sekali di luar dugaan Amora justru menghambat perjalanan misinya.

Bagaimana perjalanan Amora selanjutnya? Berhasilkah ia menguak diri Ardian yang sebenarnya? Atau justru ia akan memilih untuk menyerah saja?

****

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore, seneng banget rasanya hari ini. Ada kabar gembira yang amat menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga. Siang ini, ada satu e-mail yang masuk ke ponsel gue, dan itu adalah email yang udah sejak lama gue tunggu-tunggu.

Yap! Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam, penantian gue yang udah berlangsung selama berbulan-bulan mendapatkan ujung pertamanya. Setelah hampir sepuluh bulan, naskah yang gue kirim ke penerbit Bhuana Ilmu Populer pun ketemu tanggal rilis di Scoop. Betapa bahagianyaaa....

Latar Belakang Novel Paparazzi

Naskah novel yang gue kirim ini judulnya Paparazzi. Gue mau cerita sedikit. Jadi, sebenernya novel ini awalnya diberi judul Paparazzi and I dan merupakan naskah yang gue tulis sekitar tahun 2014. Naskah ini proses penulisannya tergolong cepat. Dua minggu selesai, dua minggu diedit. Iya, sebulan doang. Soalnya kemaren itu gue ikutsertakan dalam lomba Bulan Narasi milik nulisbuku, dimana pesertanya ditantang untuk menulis novel dalam waktu satu bulan. Tapi, sayang, nggak menang.

Sekitar dua tahun novel ini megendap di laptop dengan jatah tengok yang amat jarang. Iya, ketika peserta lain yang nggak menang lomba memutuskan untuk menerbitkan novelnya secara indie, gue memutuskan untuk mengendapkannya. Gue pikir, nanti gue bakal tetep terbitin, tapi nanti, edit dulu. Tapi, kesibukan semester akhir dan disambung dengan pekerjaan bikin gue jadi nyaris nggak ngedit. Diedit sih tapi ya kadang cuma benerin typo. Sekitar setahun diendapkan, gue meniatkan untuk ngirim naskahnya ke penerbit. Gue belum PD untuk terbit indie kayak temen-temen gue. Harus dari penerbit, supaya seenggaknya ada yang nilai, novelnya emang udah layak terbit atau belum. Waktu itu, gue mempersiapkan sekitar 4 naskah yang sama namun dengan pengaturan yang berbeda. Rencana awal, mau dikirim ke PT. Elexmdia Komputindo, kalau nggak lolos ke PT. Bentang Pustaka, Stiletto, dan Divapress. Tapi, keberanian belum ada. Nggak pede. Padahal dulu gue masih aktif banget di Wattpad dan pembaca bisa dibilang lumayan, pmus cerita gue disuka. But, pandangan pembaca dan penerbit pasti variabel penilaiannya berbeda. 

Dua tahun kemudian, barulah hati gue bener-bener mendesak bahwa naskah ini harus gue kirim. Diterima atau nggak itu urusan belakangan, yang penting kirim dulu. Salah satu motivasi gue adalah kemunculan generasi Wattpad Writer yang bener-bener emang lagi booming bahkan sampai sekarang. Beberapa dari mereka bahkan ada yang masih murid SMA. Gue, yang waktu itu udah setahunan diwisuda sarjana jadi malu. Kapan gue berkarya? Gue iri. Kok anak SMA bisa, gue yang udah togaan nggak bisa? Tapi iri dalam melakukan hal positif nggak apa-apa, kan?

Akhirnya gue buka-buka lagi web beberapa penerbit dan lihat persyaratan naskahnya. Disitulah gue ketemu Bhuana Ilmu Populer. Sebenarnya, gue nggak terlalu familier dengan buku-buku BIP. Karena setahu gue, BIP itu penerbit buku anak. Tapi, pas baca persyaratannya yang tergolong mudah apalagi untuk yang tinggal di luar Jabodetabek seperti gue, gue memutuskan untuk mengirim naskahnya ke BIP. 

Gue ngirim naskahnya sekitar September dan dikabari bulan November. Bahwa BIP bersedia menerbitkan buku gue tapi dalam bentuk digital. Sejujurnya, gue mau buku cetak. Tapi, setelah dipikir-pikir, ini rezeki. Bisa jadi emang menurut Tuhan langkah awal yang bisa gue tempuh sebagai penulis adalah dengan menerbitkan buku secara digital terlebih dulu. Jadi, dengan meminta restu orangtua, gue menerima tawaran BIP.

Lika-Liku Paparazzi

Menerbitkan buku itu nggak mudah. Mulai dari pengajuan naskah hingga akhirnya rilis. Begitu pun dengan penerbitan buku Paparazzi ini. Sebagai seseorang yang belum pernah menerbitkan buku sama sekali dan berkomunikasi dengan penerbit dalam hal penerbitan, gue was-was. Takut naskahnya gagal terbit. Setelah kontrak ditandatangani, gue cuma diminta menunggu sementara naskah dalam proses pembuatan cover dan layout. Berbulan-bulan menunggu, tidak ada kabar. Padahal, penandatanganan kontrak sudah selesai sejak Februari 2017. Tapi, sampai April-Mei-Lebaran-Juli, naskah gue statusnya masih sama. Nunggu layout... Makin khawatir. Jadi, hampir tiap jeda sebulan, gue email editornya, Mbak Denti Rahayu, nanyain kabar naskahnya. Tapi, beberapa email nggak dibalas, sisanya dijawab dengan jawaban yang sama; menunggu. Untuk itu, gue dalam tulisn ini juga khusus mau berterimakasih kepada BIP dan Mbak Denti atas kesabarannya mnghadapi penulis seperti saya 🙏

Nggak ada yang bisa dimintai pendapat, gue nanya ke Mbak Marlina Lin, penlis Urgent Wedding terbitan Grasindo. Alhamdulillah, mbaknya welcome dengan pertanyaan gue dan mau membantu memberikan solusi. Oh iya, gue juga mau berterimakasih sama temen dan adek gue, Julia Rahmawati yang dulu udah membantu gue bikin cover Paparazzi and I saat diikutsertakan dalam lomba. Walau berganti judul dan cover, kontribusi dan motivasinya besar banget dalam novel ini. Terima kasih juga kepada Roni Ramdhani, first reader buku ini dan orang pertama pula yang memberikan saran sehingga novel yang awalnya memakan 300 lebih halaman kertas A4 ini bisa dipangkas sedikit. 

Mengikuti saran Mbak Ina, gue nanyain lagi ke Mbak Denti. Tapi, hasilnya sama. Akhirnya, gue memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya ke penerbir. Karena, kalau sudah rilis, pasti dikabari. Alhamdulillah, proses selanjutnya udah nggak terlalu lama. 

Mau Baca Buku Paparazzi?

Oke, ini heading 3-nya kepedean haha tapi, kalau-kalau ada yang mau baca buku Paparazzi, bukunya sekarang sudah rilis dan sudah bisa dibeli di Scoop. Caranya,

1. Download dan Install aplikasi Scoop di Playstore
2. Daftar atau buat akun bagi yang belum punya, atau login bagi yang udah punya akun.
3. Ketik Elsita F atau Paparazzi di kolom pencarian
4. Tekan tombol beli
5. Buat yang pakai Scoop premium, sepertinya bukunya sudah bisa dibaca juga.

So, this is all the happines I want to share with you guys. May Allah bless me and you, always. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.