Catatan harian yang semakin renta dan tua

Minggu, 04 Desember 2016

,
Judul Buku: Jodoh Untuk Naina
Penulis: Nima Mumtaz
Penerbit. PT. Elex Media Komputindo
Terbit: 2015
Kategori: Novel
Versi: Ebook
ISBN: 978-60202-6384-9
Rating: 5/5

Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih. Naina ikhlas. 
Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengaba Abah begitu yakin dia mampu menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan sebelum akad nikah?
Apaka dia adalah jodoh untuk Naina?

****

Tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau - Abah
Naina dijodohkan! Ide yang sudah lumrah namun tetap saja sedikit mengejutkan Naina. Pasalnya, ia masih merasa dirinya terlalu muda untuk rumah tangga dan pernikahan, Naina baru berusia 22 tahun. Umur yang tak lagi bisa dibilang remaja tapi tak juga menambah tuntutan untuk segera menikah. Sayangnya, Abah berpendapat lain. Saat ada anak temannya yang meminta dijodohkan, tanpa pikir panjang Abah langsung menyetujuinya, tentu saja dengan meminta pertimbangan Naina terlebih dulu. Meski tak memaksa, Naina tak bisa berbohong bahwa ada gurat harapan yang terpancar dari wajah Abah.

Meski sedikit terpaksa, dengan niat berbakti pada orangtua satu-satunya yang ia miliki, Naina pun menyetujui permintaan Abah. Ia rela dijodohkan, asal bisa melihat Abah bahagia. Tak perlu menunggu waktu, acara lamaran pun segera dilangsungkan. Naina akan bertemu dengan calon imamnya untuk pertama kalinya. Naina memang belum bertemu sekali pun dengan laki-laki itu, karena baginya tak ada bedanya. Bertemu lebih dulu atau pun tidak, mereka akan tetap menikah. Namun, kepasrahan Naina diuji saat acara lamaran dilangsugkan. Untuk pertama kalinya Naina melihat sosok yang hendak dijodohkan dengannya, laki-laki tampan dan dewasa namun sayang ia adalah seorang Rizal Ayyashi, seorang pria yang sepuluh tahun lalu telah menggores luka dan malu pada wajah keluarganya. Rizal diarak keliling kampung atas tuduhan berzina dengan perempuan bersuami!

Peristiwa memalukan itu akhirnya memaksa keluarga Rizal untuk pindah dari kampung. Kini, sepuluh tahun berlalu, mereka kembali dan hendak mempersunting Naina. Bukan, bukan hendak lagi tapi Naina memang telah dilamar untuk menjadi istri Rizal. Dan pernikahan mereka akan dilangsungkan sebulan setelah acara lamaran. Sejumput keraguan menghinggapi hati Naina. Rizal adalah laki-laki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Satu-satunya hal yang membekas dalam kepalanya tentang laki-laki itu adalah peristiwa sepuluh tahun lalu. Lantas bagaimana bisa Naina berbakti sebagai seorang istri pada laki-laki yang keraguan bahkan sudah terpancang untuknya sebelum pernikahan mereka dilangsungkan?

ULASAN

Bukunya manis dengan romansa yang kental dengan nuansa yang sangat islami. Mulai dari acara perjodohan, lamaran dan perkenalan antara Naina dan Rizal sama sekali tidak mengandung unsur pacaran di dalamnya. Dengan konflik yang sederhana, novel ini berhasil menghadirkan kisah cinta yang berbeda. Dua orang asing yang bahkan bertegur sapa pun tidak disatukan dalam ikatan pernikahan tentu akan menghasilkan rumah tangga yang awkward. Walaupun konsep dalam Islam memang seperti itu dan pelakunya pasti sadar akan hak dan kewajiban masing-masing, untuk kasus Naina, masa lalu Rizal menjadi pemicu konflik utama dalam menjalankan peran dan tanggungjawabnya sebagai istri.

Saya suka dengan gaya bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama. Naina sebagai pencerita membuat pembaca benar-benar bisa ikut dalam masalah yang ia hadapi dan seolah merasakan juga kegalauan yang ia rasakan. Keragu-raguannya terhadap suaminya juga perasaan belum ikhlasnya menjadi istri Rizal perlahan namun pasti memberikan pelajaran terutama tentang cara bersikap sebagai istri yang baik dan disayangi.

Saya baca cerita ini saat masih dalam bentuk project di Wattpad dan baru bisa menyelesaikannya sekarang lewat ebook-nya. Saya suka konfliknya yang lebih pada perang batin dibanding adu fisik, cara Naina berututur dan bercerita juga semakin memperkuat karakternya dan juga konflik dalam buku ini. Senang juga ada POV khusus untuk Rizal meski tidak banyak, setidaknya kita bisa memandang cerita ini tidak hanya dari satu sisi saja. Rizal dan Naina sama-sama asing saat bertemu dan saya rasa ide untuk menghadirkan isi kepala Rizal tentang istrinya adalah ide yang sangat bagus. Rizal memegang peranan penting dalam membentuk cerita dalam buku ini. 

Pesan moral yang dapat kita petik dalam buku ini adalah tentang bagaimana membangun sebuah hubungan atas dasar keyakinan dan Islam, bakti pada orang tua juga makna ikhlas pada apa yang sudah digariskan Tuhan. Selain itu, buku ini juga secara tersirat mengajak kita untuk tidak memandang seseorang dan menarik batas penilaian pada dirinya berdasar pada masa lalunya saja, karena yang terpenting adalah masa yang dijalani saat ini dan perubahan yang sudah ia coba lakukan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Ada banyak kutipan yang saya ambil dari buku ini, yakni:
1. Aku memang selalu punya pilihan, tapi aku juga memilih untuk membahagiakan Abah apa pun yan terjadi - Naina, hlmn 22
2. Naina, tobat itu adalah urusan manusia dengan Tuhan. Allah akan menerima tobat setiap manusia, siapa pun dia, asalkan itu dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Taubatannasuha.  Bersungguh-sungguh menyesali apa yang telah diperbuat dan tidak akan mengulanginya sama sekali. Nah, bagaimana sikap kita sebagai sesama muslim? Tentu saja mendukung, menerima dan membantu - Abah, hlmn 79
3. Naina, alangkah sombongnya kita sebagai manusia jika tidak mau menerima manusia lain yang ingin berubah. Sedangkan, Allah saja menerima setiap pertobatan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang ingin kembali pada-Nya. Masa kita sebagai manusia malah menyalahi kehendak-Nya? Tidak ada yang terlalu kotor ataupun terlalu bersih di mata-Nya. - Abah, hlmn 80
4. Aku ingin menikmati saat ii, meyakinkan diri bahwa kau benar-benar di sini - Rizal, hlmn 234
5. Tolong jangan ucapkan kata-kata mengerikan seperti talak atau perpisahan. Lebih baik kamu marahi aku berkali-kali tapi tolong jangan minta itu dariku - Rizal, hlmn 240
6. Naina, aku tak bisa menjanjikan hidup yang sempurna. Aku juga tak bisa menjanjikan semua isi dunia. Yang bisa kujanjikan hanyalah aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, untuk anak kita. Keluarga kita - Rizal

Jumat, 02 Desember 2016

,
Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor: Hetih Rusli
Desain dan Ilustrasi Cover: Staven Andersen
Terbit: 2013
Tebal Buku: 264 hlmn; 20 cm
Kategori: Novel Psychothriller
ISBN: 978-979-22-9466-8
Rating: 4/5

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.
Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.
Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam? 

ULASAN

"Aku mohon, jangan panggil aku Tara... Jangan..."

Tara adalah anak yang 'berbeda'. Sejak kecil, ia tidak menyukai nama pemberian orangtuanya. Hal yang aneh mengingat tidak pernah ada sejarah bayi tidak suka dengan nama pemberian kedua orangtuanya kecuali saat mereka sudah bertumbuh besar dan berniat mengganti nama. Tapi Tara berbeda. Fakta bahwa namanya terbentuk dari nama Ayah dan Ibunya, Bara dan Tari membuatnya benci. Selain itu, ia juga suka dengan hal-hal ganjil, termasuk bau darah. Ia suka bau anyir yang ditimbulkan oleh darah dan sangat menikmatinya. Hingga suatu hari Ibunya meninggal dan Bara, sang Ayah memutuskan untuk menitipkannya pada Paman dan Bibinya.

Meski tidak suka dengan namanya, Tara tak bisa berbuat apa-apa ketika Paman dan Bibinya juga memanggilnya dengan nama yang diberikan orangtuanya. Namun mereka cukup baik, memberi Tara perhatian dan kasih sayang, tidak seperti Bara yang suka memakinya dan kerjanya marah-marah saja. Paman dan Bibinya punya anak laki-laki, Moses namanya.

Moses nakal, fakta yang tak diketahui kedua orangtuanya. Ia kerap mengganggu Tara bahkan membuat gadis itu terjatuh dari sepeda. Tapi hal itu justru mempertemukannya dengan anak laki-laki yang memberinya koin lima rupiah. Ia berkata bahwa koin itu bisa mengurangi rasa sakit Tara. Sejak saat itu, jika Tara cemas, ketakutan atau kesakitan, ia akan menggenggam koin itu erat-erat. Seolah seluruh hidupnya bergantung pada koin itu. Ketergantungan Tara akan koin itu membuat Paman dan Bibinya khawatir, ditambah sifat Tara yang sangat pendiam. Akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Tara ke psikiater. Seorang psikiater muda dari Jakarta pun merawat Tara dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Namun sayang, sebelum pengobatannya selesai, sebelum keanehan Tara ditemukan jawabannya, sebuah pembantaian menimpa keluarga gadis itu. Paman dan Bibinya ditemukan bersimbah darah di rumah mereka, berikut Ayah kandung Tara, Bara. Sementara Tara ditemuka di dalam kotak perkakas berbentuk persegi di dalam gudang, dengan tubuh yang ditekuk sedemikian rupa agar tubuhnya muat disana. Ayah dan Bibinya tewas, Pamannya kritis dan Tara mengalami syok berat.

****

Ngeri adalah perasaan pertama yang menhinggapi hati saya ketika membaca novel ini. Dibuka dengan pemandangan Tara yang disekap dalam kotak perkakas, ditambah gaya bercerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam hal ini Tara membuat saya sedikit banyak bisa merasakan ngilu dan kengerian yang harus Tara alami selama mendekam di dalam kotak sempit berhari-hari. Kelegaan luar biasa juga saya rasakan saat Tara ditemukan dalam kondisi masih bernyawa.

Saya sempat mengira bahwa buku ini bercerita tentang detektif dan penyelidikan. Sudah sempat menduga pula bahwa buku ini berkaitan dengan sesuatu yang bersifat atau mendekati teori mental illness. Dugaan saya tidak sepenuhnya salah namun tidak sepenuhnya benar. Buku ini menyajikan kisah yang berbalut darah dan kengerian. Bab-bab pertama saya sempat kebingungan dan sedikit kesusahan untuk memahami isi buku ini. Alurnya yang maju mundur membuat saya harus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi namun sayang tidak mendapat jawaban pasti. Kepastian yang saya dapatkan hanyalah kengerian disana-sini, pada setiap sudut cerita yang coba dipaparkan oleh Tara sebagai pencerita dalam buku ini.

Ketika sudah bisa memahami dan masuk ke dalam alur cerita, saya kemudian didera rasa penasaran yang tentu saja masih berbalut kengerian, terkadang merasa deg-degan juga mual di saat bersamaan. Seketika pula saya dapat menyimpulkan bahwa buku ini bergenre psychothriller. Percayalah tidak ada yang lebih menyeramkan dibanding orang yang jiwanya terguncang lalu kemudian merasakan kesenangan untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat orang lain juga ikut terguncang. Oh dan ya saya juga sangat suka tata bahasanya, puitis namun mengerikkan di saat bersamaan. Perpaduannya cantik dan memesona.

Meski memang ada beberapa bagian yang menurut saya bolong. Seperti pada kasus Tara, hingga akhir cerita saya tidak menemukan hal apa yang cocok untuk mendeskripsikan tingkah laku, sifat dan latar belakang yang membentuk pemikirannya menjadi begitu aneh dan terstruktur. Tara adalah sosok yang senantiasa melakukan hal-hal yang menurutnya bisa diterima orang lain atau minimal dipandang wajar oleh orang lain. Saat jatuh dan terluka ia merasa harus menangis meski pada kenyataannya ia tidak ingin menangis. Ia hanya ingin hal itu terlihat majar di mata orang lain, air matanya tentu akan dinilai sebagai kewarasan dibanding ia tertawa atau bahkan mematung setelah terjatuh dari sepeda. Dengan usianya yang masih terbilang sangat muda, darimana ia mendapatkan pola pikir seperti itu? Penjelasan itu yang tak bisa saya peroleh dari buku ini. Memang ada bagian saat ia mencoba menguraikan dirinya di depan Alfons, psikiaternya, namun hanya pemicu atau salah satu kejadian saja yang ia sebutkan dan bagi saya itu hampir tidak menjelaskan apa-apa. Akan lebih mudah jika setidaknya ada penyebutan satu saja nama jenis penyakit mental seperti congenital insensitivity to pain yang bisa dialami manusia.

Kemudian sikap Bara yang begitu membenci Tara. Saya paham bahwa dimana-mana suami pasti akan berusaha melindungi istrinya, tapi membenci anak sendiri yang baru berusia kisaran tujuh tahun hingga memaki dan menganggapnya benalu di tengah keluarga yang sangat berkecukupan saya rasa kurang wajar. Tidak saya temukan penjelasan pasti mengenai hal ini, yang saya tahu hanyalah Bara membenci Tara dan kebenciannya semakin meningkat saat kematian istrinya.

Buku ini membuat saya kagum pada psikiater dan bahkan mungkin kepada seluruh dokter yang menangani masalah kejiwaan. Pada titik ini, saya berpikir bahwa mungkin hanya psikiater dan dokter di rumah sakit jiwalah orang-orang yang paling bisa berempati dan dapat memahami orang lain. Buat yang suka genre psychothriller buku ini sangat cocok untuk dibaca. Ada beberapa kutipan yang saya ambil dari buku ini, yakni:

Kewarasan divonis tanpa menggunakan stetoskop, termometer, atau rontgen. Buatku itu sama sekali tidak masuk akal - hlmn 51
Bunyi hantaman yang meremukkan tengkoraknya seperti timpani dalam orkestra besar yang membawakan simfoni di telingaku - hlmn 57
Teman. Rasanya itu juga tidak ada dalam kosakataku. Aku tak pernah punya teman. Tak seorang pun cukup layak menjadi temanku - hlmn 61

Selasa, 29 November 2016

,
Judul Buku: 57 Detik
Penulis: Ken Terate
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Desain Ilustrasi dan Sampul: Yustisea
Terbit: 2009
Tebal Buku: 232 hlmn; 20 cm
Kategori: Teenlit
Versi: Ebook
ISBN-10: 979-22-4632-0
ISBN-13: 978-979-22-4632-2
Rating: 4/5

Kehebatan Tiga Remaja Menghadapi Bencana
JOGJA, KORAN REMAJA - Aji, Ayomi, dan Nisa adalah remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga mengalami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun, itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Cuma 57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.

Tanya: Waktu gempa rasanya seperti apa? 
Aji: Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi: Seperti naik roller coaster... tanpa sabuk pengaman.
Nisa: (lirih) seperti sulap.

Tanya: Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji: Bencana itu rasanya nggak adil, seperti selalu menimpa orang yang sudah susah.
Ayomi: Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa: (lirih juga) Sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)

Tanya: Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji: Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan orang lain.
Ayomi: Dapet pacar baru.
Nisa: Aku sadar aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak keren.


Wow! Petualangan mereka bener-bener seru dan menarik untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan lebih dari sehari-semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang merasa dunianya hilang sekejap gara-gara isu tsunami fiktif. 
Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan romantisnya juga lho.

ULASAN

Nisa adalah salah satu anggota cheerleaders yang cukup terkenal di sekolahnya. Posisinya sebagai flyer membuat dia selalu jadi pusat perhatian setiap kali tampil. Hanya saja, kehidupannya di rumah sangat berbanding terbalik dengan kesahariannya di sekolah. Tinggal di Bantul dengan rumah yang sederhana, Ibu yang cerewet, Ayah yang lebih peduli pada warung besarnya ketimbang mengantar anaknya ke pesta ulang tahun temannya membuat Nisa selalu mengeluhkan hidupnya. Menggerutu sudah jadi khas Nisa apalagi soal bangun pagi. Ibunya selalu panik kalau Nisa terlambat beberapa menit saja. Belum lagi kehadiran Ayomi, mantan temannya yang anak anggota DPR yang sayangnya menyebalkan. Iya, Ayomi itu MANTAN teman Nisa, entah sudah berapa lama mereka nggak bertegur sapa.

Ayomi, sama seperti Nisa adalah anggota cheerleaders juga. Sayangnya, kemampuan menari Ayomi nggak sebagus Nisa, bahkan nyaris nol. Keberuntungan banget Ayomi bisa masuk tim pemandu sorak dengan gerakannya yang kaku dan lebih banyak salah. Tak heran saat gerakan posisi, ia selalu di bawah dan paling belakang pula! Hal itu menjengkelkannya, karena nggak ada satu pun kemampuan yang ia miliki kecuali cheerleading. Hanya itu yang bisa membuat Papanya yang super sibuk bangga, namun kehadiran Nisa membuat ia nggak bisa mecapai posisi flyer. Hal yang membat Ayomi sebel banget sama Nisa yang sok itu. Mama Ayomi juga menyebalkan. Masa, menjelang ulang tahunnya yang keenam belas, Mama lebih memilih belanja sama Ibu ibu Dharma Wanita ketimbang menemaninya. Sama seperti Nisa, Ayomi juga mengeluhkan hidupnya, nggak ada asyik-asyiknya.

Aji adalah mahasiswa kedokteran UI yang tidak menyukai rutinitasnya. Tugas yang segunung membuatnya stres dan rasanya ingin berhenti kuliah saja. Aji merasa lelah selalu memenuhi kebutuhan harapan orang lain dengan prestasinya. Aji bosan dan juga mulai mengeluhkan hidupnya yang menurutnya nggak berjalan seperti yang ia inginkan. Untuk itu, ia memutuskan untuk lari sejenak. Liburan, menghilangkan penat. Yogyakarta jadi pilihannya, namun bukannya refreshing, Aji justru berhadapan dengan bencana yang tak pernah diprediksinya. Pukul 5.55 pagi, keesokan hari setelah Aji sampai di Jogja, gempa berkekuatan 5.7 SR memorakmorandakan segalanya, termasuk kebahagiaan di kota itu. Dan, seperti Aji, Nisa dan Ayomi juga terkena gempa. Apalagi Nisa, yang tinggal di daerah Bantul, salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah.

Dalam 57 detik, segalanya berubah. Kaki Ayomi patah, rumah Nisa ambruk, rencana liburan Aji berantakan.

****

Sejak masih SMK dulu, buku ini udah sering lewat di depan mata kalau berkunjung ke toko buku. Entah kenapa nggak pernah terpikirkan untuk membelinya, dan benar-benar menyesal baru baca sekarang. Tapi bersyukur juga saya nggak kehilangan kesempatan membaca buku sebagus ini. Jujur saja, saya suka gaya penulisan Ken Terate. Bentuknya yang seperti diary benar-benar bercerita. Dengan sudut pandang orang pertama tunggal dari setiap tokoh utama, kita benar-benar bisa menghayati cerita dan menyatu dengan kisah yang ada.

Seperti dalam buku ini, saya nggak hanya diajak bertualang tapi juga diajak berduka untuk gempa yang menghantam Jogja. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata tahun 2007 silam saat gempa di pagi buta memorakmorandakan Yogyakarta. Saya benar-benar terhanyut dan seperti Nisa, Aji dan Ayomi, ikut terluka membayangkan apa yang Yogyakarta alami. Saya belum pernah terjebak dalam gempa yang meluluhlantakkan tapi saya tahu rasanya ketakutan kala bumi terguncang. Beberapa kali saat saya masih tinggal di Manado, terjadi gempa yang cukup kencang dan membuat pusing, serta isu tsunami bawaan Jepang pada tahun 2011. Saya tahu bagaimana rasanya disergap ketakutan akan bencana, apalagi kalau saat sekeliling kita sudah porak poranda.

Saya sangat mengapresiasi Ken Terate atas tulisannya ini. Mungkin memang terlambat sekali bagi saya untuk berduka 9 tahun setelah bencana itu terjadi, namun mungkin juga buku ini sengaja ditulis untuk mengecek apakah pintu hati kemanusiaan dan nurani kita masih berfungsi. Agak malu mengatakan, tapi ceritanya benar menghanyutkan dan ikut membuat saya sedih bahkan menangis. Belum lagi selipan beberapa foto para korban gempa, benar-benar membuat hati terenyuh dan pilu.

Terdapat tiga tokoh utama dalam buku ini yang masing-masing berperan sebagai pencerita juga sangat saya sukai. Meski sama-sama mengeluhkan hidup masing-masing, karakter yang kuat dan gaya bercerita yang berbeda benar-benar membedakan ketiga tokoh ini. Mereka unik dengan caranya masing-masing. Bukunya sangat asyik dan memiliki pesan moral yang sangat mendalam, hal yang paling ditekakan adalah bersyukur dan senantiasa mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian yang kita alami. Buknya keren, teenlit yang mampu mengetuk pintu hati kemanusiaan pembacanya. Ada beberapa kesalahan penulisan dan inkosistensi dalam penyebutan diri sendiri misal yang mulanya aku jadi gue atau kamu jadi elo, padahal itu dilakukan oleh tokoh yang biasa ngomong aku-kamu atau gue-elo, tapi itu nggak mengganggu. Jumlahnya juga tidak banyak. 

Kutipan favorit dari buku ini juga tentu saja ada, yakni:
1. Aduh, betapa murahnya harga pertemanan. Semangkuk mi ayam aja udah bikin mereka lengkat padaku - Ayomi, hlmn 60
2. Sepanjang siang itu Aisyah terlihat shock, tapi juga sangat kuat. Mungkin kalau itu terjadi padaku, aku sudah pingsan atau menjerit-jerit histeris. Atau bunuh diri - Nisa, hlmn 90
3. Ndak apa-apa kok, Mas, kalau sudah mati. Itu lebih baik, daripada dia tahu kami ndak punya rumah lagi - Korban Gempa, hlmn 116
4. Bagaimana mungkin kematian menjadi jalan yang lebih baik? - Aji, hlmn 116
5. Gimana gue mau lapar kalau yang gue lihat adalah darah dan luka-luka menganga? Tapi, untuk meolong orang lain, elo harus menolong diri lo sendiri dahulu. Itu prinsip pertolongan di mana pun - Aji, hlmn 118
6. Jadi, begini rasanya kelaparan. Kelaparan itu beda dengan lapar, asal tahu saja. Kelaparan itu lapar tanpa tahu kapan kamu bisa makan lagi. Ketidakpastian itu yang membuat akal sehatmu lenyap. Dan ketika ada makanan di depanmu, ingin rasanya kamu menerkam semua dan membunuh yang lain supaya kamu bisa mendapat semua makanan di hadapanmu - Nisa, hlmn 132
7. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari rumah tidak hanya bangunan semata. Rumah adalah sejarah - Nisa, hlmn 140
8. Manusia memang mesin yang sangat menakjubkan. Sangat adaptif dalam segala cuaca. Tetap bertahan dalam situasi yang paling tidak mungkin - Nisa, hlmn 147
9. Kita ini kan milik-Nya. Dia mau banting kita, mau nenggelamin kita dengan tsunami, atau mengirim badai salju, itu kan hak prerogatif-Nya, bukan?

Pada kutipan yang kesembilan ini, saya sejenak me-review dan menyadari esensi ikhlas yang sebenarnya. Memasrahkan segalanya dan yakin bahwa segala sesuatu berjalan sesuai kehendak Tuhan mungkin adalah ikhlas yang sesungguhnya.

10. Manusia memang punya sisi masokis, menikmati kesengsaraan, tentu saja kesengsaraan orang lain - Aji, hlmn 219
11. Bencana itu telah mengajarkan sesuatu. Bahwa hidup ini begitu berharga sekaligus rapuh - Aji
12. Tidak ada hari buruk untuk Bumi. Hujan, panas, badai, bahkan gempa sama-sama dibutuhkan Bumi. Hari buruk itu hanya untuk manusia yang egois dan gemar mengeluh - Aji, hlmn 220
13. Ingatan adalah sesuatu yang sangat aneh. Ia sering melupakan hal yang seharusnya diingat, seperti tumus trigonometri, dan justru terus mengingat hal-hal yang sangat ingin kita lupakan, seperti tragedi gempa - Nisa, hlmn 223

Kalau mau dapat sesuatu, ya kamu harus berjuang untuk mendapatkannya. Korban bencana aja yang super-duper sengsara, terus memperjuangkan hidup mereka. Masa kita nggak?

Berikut ada beberapa foto-foto para korban gempa yang terdapat dalam bukunya








Miris banget, ya lihatnya. Bukunya sangat saya rekomendasikan deh. Rugi kalo nggak baca :))

Senin, 28 November 2016

,
Judul Buku: Best of The Best
Penulis: Luna Torashyngu
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Desain dan Ilustrasi Sampul: Yustisea Satyalim
Terbit: 2009
Kategori: Teenlit
Versi: Ebook
ISBN: 978-979-22-4250-8
Rating: 3/5

Gara-gara dikerjain kakak kelasnya yang anggota cheerleaders saat OSPEK, Reina jadi benci pada semua anggota cheers. Menurutnya, anggota cheers cuma pintar dandan dan otaknya nggak ada isinya. Anggapan ini makin diperkuat perseteruannya dengan Tasha dan gengnya yang memang anggota cheers.

Tapi kemunculan Muri, anak baru yang model dan langsung bergabung dengan ekskul cheers, meruntuhkan anggapan Reina itu. Muri sangat ramah dan bersahabat dengannya, Muri juga menengahi perseteruan Reina dan Tasha. Tapi sepertinya Muri diam-diam menyembuntikan sesuatu....

Sementara itu di mana-mana di Indonesia perusahaan dan instansi negara heboh karena sistem komputer mereka kacau balau dihajar hacker. Apakah kekacauan ini ada hubungannya dengan sesuatu yang ditutup-tutupi Muri itu?

****

Pertemuan Reina dan Muri bermula saat tim eksul Ekskursi berencana megadakan camping di lereng gunung Papandayan. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, mereka tentu saja harus mengajukan proposal untuk perizinan dan juga untuk memeroleh dana kegiatan. Di samping ekskul Elskursi, anak-anak cheers ternyata juga berencana mengadakan gathering di Lembang. Mereka juga harus mengajukan proposal. Dan atas informasi Agung, ketua OSIS yang naksir salah satu anak cheers, mereka mendapat persetujuan. Anak-anak ekskursi juga sebenarnya dapat persetujuan, hanya saja perlakuan terhadap proposal mereka yang lebih mengarah pada edukasi dibanding anak-anak cheers yang kebanyakan cuma buat liburan sambil nongkrong nggak sama. Mereka cuma dapat dana kurang dari dua juta rupiah, sementara tim cheers dapat dana sepuluh juta.

Reina sempat protes pada Agung, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Sudah untung proposalnya lolos. Tapi ternyata, Muri salah satu anak baru yang populer dan juga anggota cheers bersedia membantu Reina. Tempat gathering tum cheers diusahakannya untuk dipindahkan ke gunung Papandayan digabung dengan anak-anak ekskursi sehingga biaya pengeluaran mereka bisa lebih ditekan.

Bantuan yang Muri berikan itu secara perlahan membentuk hubungan pertemanan antara Reina dan Muri. Sebenarnya Reina nggak menganggap begitu, tapi Muri sangat baik kepadanya. Dia juga nggak segan membantu Reina kalau digencet Tasha, salah satu kandidat kapten cheers yang sombong dan sayangnya kini kalah pamor dari Muri yang berwajah indo. Tapi pertemanan Muri dan Reina tidak dilandasi kejujuran. Ada hal yang Muri tutupi dan sembunyikan selama ini.

ULASAN

I can't belive this! Saya baca teenlit lagi setelah sekian lama, penulisnya Luna Torashyngu pula!  Yah walaupun sudah bukan remaja lagi, nggak apa-apa dong baca kisah mereka buat nostalgia kalau pernah muda juga hihi. Seperti khasnya Luna, beliau memang selalu menghadirkan kisah remaja yang tidak biasa. Kalau selama ini baca teenlit nyaris selalu identik dengan kisah cinta yang berbunga-bunga merah muda, Luna Torashyngu adalah penulis teenlit yang sangat irit kalau sudah berhubungan dengan adegan cinta. Bahkan di buku ini hampir nggak ada. Saya sudah baca semua seri Lovasket dan D'Angel dan terbukti kisah cinta di dalamnya sangat sedikit. Tapi tetap saya baper baper manja bacanya haha

Dalam buku ini, sejak awal saya sudah bisa sedikit menebak siapa pelaku hacker yang dimaksud dalam blurb, namun di awal-awal cerita, saya kembali meragukan tebakan saya. Pasalnya, ada adegan yang saya pikir akan mampu membuat seseorang yang cerdas melakukan sesuatu yang salah termasuk membobol jaringan suatu perusahaan demi mendapatkan uang. Pada akhirnya keraguan saya itu terpatahkan dan teori saya terbukti masih benar-benar hasil analisis amatiran. Jalannya nggak seperti itu, sama sekali berbeda.

Jujur saja, saya kurang bisa dapat feel saat baca buku ini. Berbeda dengan saat saya baca D'Angel dan Lovasket. Mungkin karena energi ketegangan yang disalurkan buku ini terasa kurang dibanding seri buku Luna yang saya baca sebelumnya, terutama D'Angel. Dan agak bingung juga karena nggak tahu urutan seri Beauty and The Beast yang ini. Selain baru tahu bahwa Golden Birds adalah kelanjutan dari buku ini, saya nggak tahu Best of The Best seri yang keberapa. Pertama atau bukan. Kalau bukan berarti sudah jelas jawaban kebingungan saya, karena nggak baca secara urut. Apalagi mengingat Luna Torashyngu hampir selalu menulis cerita remaja berseri. Lovasket saja ada tujuh seri kalau nggak salah ingat.

Yah pada akhirnya walaupun termasuk kurang greget saat bacanya, ada banyak pertanyaan tentang tokoh-tokoh dalam buku ini yang becokol di kepala saya, membuat saya harus bersabar menunggu antrian baca Golden Birds yang masih berjumlah sepuluh orang, saya orang kesebelas. Sepuluh dikali dua, berarti saya masih harus menunggu dua puluh hari lagi untuk bisa membaca kelanjutan buku ini. FYI, saya baca bukunya menggunakan aplikasi perpustakaan nasional atau Ipusnas yang bisa diunduh lewat playstore. Benar-benar langkah cerdas untuk membudayakan baca bagi masyarakat yang sebagian besar kini berkawan sejati dengan gadget-nya. 

Ada kekurangan dalam buku ini yang saya temukan. Penggunaan kata ganti penyebutan diri sendiri yang seringkali berubah terkadang terasa mengganggu. Misal Veni teman sekelas Reina yang biasa berbicara pakai gue-elo tiba-tiba jadi pakai aku-kamu dan lanjut gue-elo lagi. Muri juga begitu. Kemudian pada halaman 152, headline mading tentang kabar penangkapan Tasha karena diduga terlibat narkoba juga ada kesalahan. Disitu tertulis bahwa Tasha adalah Kapten Cheers SMA 76 padahal sudah jelas bahwa yang terpilih adalah Muri, bukan Tasha.

Lalu pada halaman 170 saat Muri bercerita tentang Dian, saat masih di pemakaman, Muri menyebutkan bahwa Dian lima tahun lebih tua darinya, namun saat melanjutkan cerita utuhnya pada Reina, ia menyebut bahwa Dian empat tahun lebih tua darinya. Dan terakhir pada halaman 190, babak final cerdas cermat antara SMA 76 dan SMA 3. Saat juri memberikan instruksi:

Jadi silakan setiap tim membuat soal mata pelajaran apa saja, yang dianggap paling rumit dan ngejelimet dalam waktu lima belas menit.....
Saya rasa penggunaan kata ngejelimet disini kurang pas. Karena ini adalah acara formal, lomba cerdas cermat jadi meski novel remaja, bahasanya nggak harus terlalu diremajakan kalau adegannya formal dan membutuhkan pembicaraan atau pengumuman secara formal pula.

Dari setiap kekurangan yang ada, bukan berarti buku ini nggak memberikan pesan-pesannya. Secara tersirat dan tersurat ada pesan yang disampaikan buku ini. Beberapa bagian yang saya sukai adalah

Inti dari sebuah hubungan adalah kejujura. Tanpa kejujuran, percuma kita berteman. 
Reina nggak percaya ada cewek yang sempurna. Cantik kayak bidadari, berbadan ideal kayak model, tapi berotak secemerlang Einstein, atau minimal mirip Habibi lah... Paling nggak dia belum menemukan cewek kayak gitu seumur hidupnya kecuali di film-fim.

Nyatanya teori Reina di atas bisa dipatahkan dan hal ini membuktikan bahwa ada hal-hal yang dianggap nggak mungkin atau nggak wajar bisa menjadi sangat waras. Mengajarkan untuk nggak menilai sesroang dari penampilannya. Bahwa penampilan nggak bisa dijadikan patokan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang.

Saya masih penasara dengan kelanjutan buku ini, karena masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Tokoh utama dan kehadirannya terlalu misterius untuk diabaikan :))