Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Ebook Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ebook Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2020

,
Judul Buku: Pergi
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Co-author: Saripuddin
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Layout: Alfian
Tahun Terbit: 2018
Cetakan I: April 2018
Tebal Buku: iv + 455 hal.; 13.5 x 20 cm
Rating:  ⭐⭐⭐⭐

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan,
kemana hendak pergi,
melalui kenangan
demi kenangan masa lalu,
pertarungan hidup-mati,
untuk memutuskan
kemana langkah kaki
akan dibawa.
Pergi."

Buku ini adalah sequel dari novel Pulang. Jujur saja agak surprise waktu tahu buku Pulang ada sequelnya, karena sebenarnya bukunya menurutku udah tamat. Eh ternyata ada. Senang, sekaligus penasaran. Buku kedua ini masih menggunakan Bujang, Si Babi Hutan sebagai tokoh utamanya. Setelah Tauke Besar meninggal, Bujang naik posisi menjadi Tauke Besar yang baru milik keluarga Tong. Lewat kecerdasan yang dimilikinya, secara perlahan Bujang mulai membut terobosan-terobisan canggih dalam pergerakan keluarga Tong sebagai salah satu penguasa shadow economy. Akan tetapi, setelah sebelumnya dikhianati Basyir, pada seri kedua ini Bujang harus berhadapan dengan Master Dragon.

Master Dragon adalah salah satu penguasa shadow economy yang bermarkas di Hong Kong. Selain Master Dragon, terdapat jugs keliarga El Pacho di Meksiko, Keluarga Yamaguchi di Jepang, keluarga Lin di Maccau dan keluarga Bratva di Rusia. Dari beberapa keluarga ini yang paling disorot adalah keluarga Lin yang dalam buku sebelumnya sudah pernah berhadapan dengan keluarga Tong, keluarga Yamaguchi dan Bratva yang kemudin menjalin aliansi dengan keluarga Tong, juga keluarga Master Dragon sendiri, sementara, keluarga El Pacho tidak terlalu mencolok. 

Seperti pada buku pertama, buku ini menawarkan petualangan yang menegangkan. Kalau diibaratkan film seperti cerita mafia yang dibintangi Jackie Chan atau Jet Li. Ceritanya seru, diselipkan pengetahuan-pengetahuan sejarah tentang masa lalu, yang membuat saya semakin ingin membaca tentang shadow economy. Benarkah mereka benar-benar ada?

Namun, meski memiliki alur dan cerita yang penuh adegan action, buku ini sebenarnya menitikberatkan pada tujuan hidup tokoh utama. Tujuan ia mempertahankan keluarga Tong demikian kerasnya, dan akan ia bawa kemana apa yang telah ia capai dan pertahankan itu. Pada salah satu bab yang menceritakan kisah dua orang petani yang dituturkan oleh Salonga, buku ini mengajak pembaca melihat ke dalam hati, apa yang ingin kita tuju dan capai dalam menjalani hidup ini. Jika mengejar harta manusia tidak akan pernah puas, mengejar jabatan pun sama. 

Secara keseluruhan ceritanya saya suka, banyak pelajaran dan bahan renungan yang dapat kita petik dari buku ini. Di luar ide perjodohan keluarga Bratva, Maria dan Agam. Saya kurang suka idenya, Maria tampil sebagai sosok wanita yang keras dan terlalu ambisius, sepertinya tidak cocok dengan Agam 😁

Selanjutnya, kemunculan Diego Samad. Di awal buku, saya menyangka laki-laki itu akan tampil sebagai lawan duet mematikan di akhir perjalanan cerita. Ternyata tidak, hal yang membuat buku ini membutuhkan buku ketiga. Ending ceritanya yang gantung, hampir tidak ada yang selesai dari perkara pergi ini kecuali urusan dengan Master Dragon. Perjodohan Agam dan Maria sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak dalam cerita menurut saya, tapi tetap saya penasaran siapa yang akan menjadi pasangan Agam nanti. Ide ia bertunangan dengan Maria secara otomatis setelah ia menerima gelang pemberian gadis tersebut sangat tidak bagus buat saya. Nggak setuju lah. Terakhir, Agam memang tahu kemana ia akan pergi. Ia sudah tahu. Tapi pembaca seperti saya ini belum tahu. Jadinya harus ada buku ketiga untuk melengkapi ketidaktahuan saya ini.

Rabu, 21 Juni 2017

,
Judul Buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit: 2008
Gambar Sampul dan Isi: Ayu Utami
Tataletak Sampul: Rully Susanto
Tataletak Isi: Wendie Artswenda
Tebal Buku: x + 573 hlmn,; 13,5 x 20 cm
ISBN 13: 978-979-91-0122-8
Rating: 4/5

Yuda, "si iblis", seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Parang Jati, "si malaikat", seorang pemuda berjari dua belas yang dibentuk oleh ayah angkatnya untuk menanggung duka dunia. Marja, "si manusia", seorang gadis bertubuh kuda teji berjiwa matahari.
Mereka terlibat dalam cinta segitiga yang lembut, di antara pengalaman-pengalaman keras yang berasal dari sebuah kejadian aneh - orang mati yang bangkit dari kubur - menuju penyelamatan perbukitan gamping di selatan Jawa.
Di antara semua itu, bilangan Fu sayup-sayup menyingkapkan diri.

Pengarang menamai nafas novelnya "spiritualisme kritis". Yaitu, yang mengangkat wacana spiritual - keagamaan, kebatinan, maupun mistik - ke dalam kerangka yang menghormatinya sekaligus bersikap kritis kepadanya; yang mengangkat wacana keberimanan, tanpa terjebak dalam dakwah hitam dan putih.
Novel ini adalah manifesto Ayu Utami tentang sebuah sikap yang perlu diutamakan di zaman ini: sikap religius ataupun spiritual, yang kritis.

****

Buku ini berangkat dari kisah Yuda, seorang pemanjat tebing yang selalu memiliki sikap skeptis namun doyan bertaruh dalam kesahariannya. Pertemuannya secara tak sengaja dengan Parang Jati, mahasiswa geologi saat hendak mengambil peralatan panjat tebing di rumah salah satu temannya di Bandung ternyata menjadi awal mula persahabatan erat yang terjalin antara keduanya, pun sikap saling mengasihi antara mereka berdua dan Marja, kekasih Yuda. Namun, bukan kisah itulah yang hendak diceritakan. Buku ini lebih sebagai bentuk pengabadian Parang Jati, oleh Yuda dan penulisnya sendiri, Ayu Utami terhadap Parang Jati, pria berjari dua belas yang memiliki cara pandang yang sedikit berbeda juga sikap yang dinamainya "laku kritis".

Ada 3 bagian utama atau inti yang coba disampaikan Ayu Utami. Kalau bisa dikatakan, sebagai 3 hal yanh digugat dan dikritik sang penulis. Modernisme, monoteisme dan militerisme.

Pada bagian pertama, Ayu Utami menyampaikan bahwa di zaman sekarang, modernisme sudah terlalu banyak mengambil peran dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya pada penggunaan teknologi, tapi juga pada pola pikir manusianya. Keberadaan modernisme dalam hidup sejak ditawarkannya falsafah modern memang memberikan dampak yang positif namun juga tidak terbebas dari hal negatifnya. Dalam hal ini, sebagai contoh yang digunakan adalah kekerasan pada alam yang diakibatkan oleh sifat dan pola pikir modern orang-orang.

Sebelum datangnya agama dan pola modernisme, alam menjadi sesuatu yang dipuja banyak manusia. Dikeramatkan dan tidak bisa diganggu seenaknya, namun sejak pola modernisme masuk - yang selalu menekankan pada pembuktian dan bertolak belakang hingga mendongengkan takhayul, hal itu memberikan impak yang negatif pada contohnya, pemeliharaan alam. Dalam bagian ini, menurut saya pribadi, apa yang hendak disampaikan sang penulis dan apa yang saya tangkap adalah betapa modernisme menjadk jalan atau jembatan untuk memperkaya kaum kapitalis. Oleh sebab sikap modern, orang-orang tak lagi percaya pada hal-hal gaib atau mistik yang mendampingi alam, sehingga sesukanya melakukan eksploitasi dan penggunaan berlebihan,seperti penambangan daerah yang merupakan ekosistem yang patut dilindungi juga penebangan ilegal terhadap pohon-pohon yang sebenarnya menyimpan sumber-sumber penghidupan bagi seluruh manusia.

Setelah kritik atas modernisme, Ayu Utami melancarkan kembali "serangan" terhadap monoteisme atau kaum-kaum agamis yang memiliki kepercayaan tertentu atau keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Memang, dalam beberapa bagian, saya kurang setuju, karena pemggambaran kaum monoteisme disini seolah menitikberatkan pada kaum Muslim yang melarang pengeramatan atau penyembahan terhadap hal-hal gaib selain Allah karena itu adalah perilalu musyrik atau syirik. Namun, seperti "laku kritis" yang dikedepankan Parang Jati, saya sebagai pembaca mencoba menilai ide Ayu Utami ini secara objektif. Saya menghormati pendapatnya tapi tidak meyakini. Ada perbedaan yang jelas antara dua hal ini, ketika kita menerima pendapat orang lain walau itu bertentangan dengan keyakinan kita, dan ketika kita ikut meyakini juga. Menerima disini bukan dalam artian membenarkan karena pembenaran lebih dekat pada pengertian meyakini. Disini, saya mencoba menarik batas antara ide penulis dan apa yang saya yakini dalam agama saya sehingga saya menghasilkan hal atau opini atau mungkin cara lain. Jika Ayu Utami memilih gagasan tetap melestarikan sajen dan pemujaan terhadap roh roh halus (sekali lagu bukan karena meyakini atau dengan niat mempersekutukan Tuhan), maka saya memilih gagasan lain yakni bahwa memang dalam hidup ini, manusia tidak hidup sendiri. Jin-jin yang berdampingan dengan kita dan mungkin saja tinggal di hutan saya yakini ada, tapi jika ide ini dirasa tidak bisa menjadi plural dengan keyakinan lain, maka saya memilih pada gagasan bahwa hutan-hutan dan mata air yang ada memang patut dijaga karena disana juga hidup hewan-hewan yang membutuhkan rumah dan makanan. Pun kita manusia, butuh air dari sana. Memang akan sulit untuk dipraktekkan sepertinya, tapi itu hanya gagasan pribadi atau sebut saja sebagai apa yang saya petik dari membaca buku ini. Memang, tidak bisa "makan" dengan ide pelestarian sajen dan kebiasaan lainnya yang dianggap sebagai bagian dari budaya dan warisan nenek moyang, namun dalam kasus ini, rasanya hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia yang diajarkan untuk selalu dijaga akan terasa lengkap jika ditambahi dengan hubungan bersama alam sekitar juga ekosistemnya.

Sebenarnya, dalam kasus Parang Jati, Ayu Utami bukan menyalahi paham-paham agama namun lebih pada mengkritik kaum monoteis yang secara sadar atau pun tidak telah disusupi paham modernis yang kemudian diperalat oleh sikap militeris orang-orang kapitalis.

Pada bagian tiga, militerisme, jelas dan nampak sekali bahwa kritik yang disampaikan adalah ditujukan bagi pemerintahan, karena memang dalam bab ini yang lebih banyak mendominasi cerita adalah kejadian-kejadian ganjil yang mengikuti reformasi
 Sejak awal-awal lengsernya Mantan Presiden Soeharto hingga pergantian pemimpin negara menjadi bapak Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tak hanya mengkritik sikap manusia terhadap alam, Ayu Utami juga mengangkat isu sosial yang pernah menimpajuga beberapa hal yang sempat meresahkan warga dan masyarakat pads zaman itu, yang menurut penulis diakari oleh sikap militeris dan keinginan untuk berkuasa.

Tempelan kliping beberapa berita harian dari koran juga banyak menghias buku ini, termashk opini Parang Jati yang sempat menimbulkan kekacauan karena perasaan terintimidasi dari para kaum yang ingin mendulang kekuasaan dari banyak peristiwa yang terjadi. Saya nggak bisa mengambil kesimpulan secara penuh, karena di zaman itu saya juga belum paham apa yang sebenarnya terjadi, tapi lewat selipan klipiing berita saya bisa sedikit mengatakan bahwa beberapa bagian dalam buku ini mungkin saja dipetik dari kisah nyata. Apalagi setelah membaca kolom ucapan terima kasih dari sang penulis.

Over all, buku ini keren dan sangat saya rekomendasikan bagi siapa yang suka dengan bacaan yang mencerahkan pikiran. Tapi, mungkin saya perlu mengatakan bahwa "laku kritis" sangat dibutuhkan dalam membaca buku ini serta menarik kesimpulan tentang apa yang hendak disampaikan penulisnya. Karena, pendapat kita bisa saja berbeda, bahkan jauh dari apa yang ditargetkan Ayu Utami sendiri. Tapi bagian paling kerennya adalah buku ini tidak hanya menggugat tiga isme di atas tapi juga dapat memperkaya khazanah ilmu penhetahuan pembacanya tentang sejarah, mitologi Jawa atau yang berkembang di Jawa pada masa itu, juga sedikit dari Sunda. Pun beberapa informasi terkait geologi lainnya.

Jumat, 16 Juni 2017

,
Judul Buku: Corat-coret Di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul: Eka Kurniawan
Setter Isi: Fitri Yuniar
ISBN: 978-602-03-0396-4
Rating: 2/5

"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan. Aku lebih percaya kepada dinding-dinding toilet."


"Nada komedi satirnya cukup kuat dalam Corat-coret di Toilet. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan."

_Maman S. Mahayana, Media Indonesia

"I decided to translate Coret-coret di Toilet not because it is one of Eka's best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonsleia, at the start of new century, as the brief promise of Reformasi was being estenguished by gangstersim, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautidully the bizarre lingo shared ex-radicals, sexual opportunists, young inheritors of the debased culture of the New-Order era, and anarchists avant la lettre. Finally it shows Eka's gift for startling imagery, sharp and unexpected changes of tone, and his 'extra-dry' sympathy for the fellow members of his late-Suharto generation."
_Beneddict R. O'G. Anderson, Indonesia


2 stars for Eka Kurniawan's book? Mungkin buat yang kenal siapa Eka akan bertanya-tanya tapi ini adalah rating paling jujur saya tentang buku ini. Kumpulan cerpen yang berisi cerpen baru maupun cerpen-cerpen yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya menarik minat saya karena judulnya. Saya sudah yakin dan percaya bahwa buku ini akan menyinggung beberapa hal tentang rezim yang pernah menguasai Indonesia selama 32 tahun itu. Dugaan itu benar, but I just can't got into them. Entah apa karena gaya penceritaan atau cerpennya yang nggak masuk jajaran my cup of tea atau memang karena cerpen di dalamnya berasa kurang greget dan tidak Eka - saya baru baca Lelaki Harimau sih tapi demi apapun suka banget sama buku itu. Tapi buku ini justru nggak dan kalau kasih 3 bintang berasa bohong banget ratingnya kalau menggunakan kacamata dan penilaian saya.


Buku ini memuat 12 cerpen, di antaranya:

  1. Peter Pan
  2. Dongeng Sebelum Bercinta
  3. Teman Kencan
  4. Rayuan Dusta Untuk Marietje
  5. Hikayat Si Orang Gila
  6. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam
  7. Siapa Kirim Aku Bunga
  8. Tertangkapnya si Bandit Kecil Pencuri Roti
  9. Kisah dari Seorang Kawan
  10. Dewi Amor
  11. Corat-Coret di Toilet
  12. Kandang Babi
Sebenarnya, kalau dilamai dengan lebih serius, materi yang disinggung buku ini punya makna yang dalam. Seperti dalam Peter Pan, Eka mengajak kita semua untuk tidak menyia-nyiakan reformasi yang kita peroleh karena sejatinya ia didapat dengan susah dan mengorbankan banyak hal, Rayuan Dusta Untuk Marietje memberi tamparan pada kita bahwa negeri kita yang "kaya ini sebenarnya miskin", Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Rumah sedikit menyinggung cara parenting yang masih terlalu mengekang anak, Siapa Kirim Aku Bunga mengingatkan kita untuk tidak seenaknya dalam bertindak, Kisah dari Seorang Kawan menyindir hal yang berkaitan dengan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat menengah ke bawah khususunya pedagang kecil, dan Corat-coret di Toilet adalah sebuah sindiran telak bahwa pada zaman itu, anak muda Indonesia amatlah skeptis terhadap cara kerja pemerintah. 

Belum lagi, cerita-cerita ini menceritakan pada kita kerasnya hidup akademisi/mahasiswa zsman Orde Baru - bahkan tinggal di gudang kampus pun yang mirip kandang babi, digusur. Tapi tetap, saya nggak bisa menikmati. Ending-ending cerpen yang saya temui nggak nendang dan jujur saja mengkhianati ekspektasi saya akan kepuasan yang akan didapat jika telah selesai baca bukunya. Tapi ini hanya pendapat pribadi, buat yang penasaran dengan bukunya bisa coba baca dan beri penilaian versi sendiri. Sejujurnya, nggak rela banget ngasih 2 bintang, tapi apalah daya perasaanku tak sampai padanya. Eh tapi, really aku suka cerpen utamanya :D

Selasa, 13 Juni 2017

,
Judul Buku: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Editor: Rosi L. Simamora
Desain Cover: Ika Natassa
Tebal Buku: 344 hlmn; 20 cm
ISBN: 978-978-22-7439-4
Rating: 3/5

Keara
We both just people who worry about the breaths we take, not how we breath. How can we be so different and feel so much alike, Rul? Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuu cinta, my dear, aku disini terbaring menatap bintang-bintang langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu. Three years of my wasted life loving you.


Ruly

Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkij satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, "Pak, istrinya sudah sadar," dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat. mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus Rul.

Harris
Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain tidak pernah gagal membuat mereka klepek-kelepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being that chauvinistic jerk that I love." That's probably as close as I can get to hearing that she loves me.

Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if the person that you love, you find a bestfriend instead of lover? 


****


Keara cinta Ruly, tapi Ruly  cinta Denise yang sayangnya sudah menikah dengan Kemal. Bertahun Ruly clueless dengan perasaan Keara, ternyata Keara sama cluelessnya dengan Ruly. Selama bertahun-tahun juga dia nggak sadar kalau Harris, sahabat dan partner wine wine solution-nya ternyata juga cinta mati dengan dia. Miris, di antara mereka berempat, hanya Harris yang paling sadar, jadi dia yang paling terluka. Namun, status persahabatannya dengan ketiga orang tersebut membuat dia hanya bisa diam-diam berdoa dalam hati semoga suatu hari nanti Denise sadar akan perasaan Ruly dan Keara berbalik menatapnya sebagai laki-laki yang dicintai. Namun, belum juga doa itu terkabul, sebuah bencana terjadi. Agenda jalan-jalan Harris dengan Keara ke Singapura untuk nonton F1- harusnya Ruly ikut tapi mendadak batal, justru menjadi sumber malapetaka terhadap kehidupan persahabatannya dengan Keara. Pengaruh alkohol dan posisi Keara yang sedang dalam pelarian dari perasaannya terhadap Ruly membuat ia secara tak sengaja melakukaj sesuatu yang secara mabuk atau pun sadar, tak bisa Harris tolak baik sebagai laki-laki normal maupun sebagai laki-laki yang mencintainya. Hubungan Harris Keara kacau, tapi Ruly masih tetap sama cluelessnya tentang perasaan Keara.

Sejak pertama kali baca karya Ika Natassa -,Critical Eleven, saya sudah tertarik dengan gaya penulisannya. Khas dan benar-benar Ika Natassa sekali. Tapi, novel Antologi Rasa ini agak berbeda. Karena, menggunakan POV bergantian antara tokoh-tokohnya, walau memang yang dominan adalah POV Keara, disusul Harris, Ruly, kemudian ada tokoh tambahan Panji Wardhana. Tokoh tambahan yang sayang sekali lebih menarik perhatian ketimbang tokoh utamanya, heran juga saya malah ngefans sama dia 😹

Buku ini menceritakan kisah cinta saling silang atau mungkin bisa juga dibilang rantai makanan atau lingkaran setan yang nggak ketahuan dimana ujungnya. Tapi, lewat kisah cinta Keara, Harris, Ruly dan juga Panji ini - saya nggak bisa mengeluarkan Panji begitu aja sebagai tokoh yang berpengaruh, kita disuguhi kehidupan metropolis kalau nggak bisa dibilang nyarus hedonis para anak ibukota. Dalam hal ini, Keara sebenarnya jadi tokoh yang kurang saya sukai. Memang sih semua tokoh yang ada punya  satu karakter sama, ceplas-ceplos. Tapi, saya kurang suka dengan sifat Keara yang terasa terlalu memunculkan 'kejelekan-kejelekan negerinya.' Mulai dari Jakarta yang panas dan dibenci karena kemacetannya - it's true but mendapati kota itu dijelaskan sedemikian rupa entah kenapa nggak sreg aja, sampai menyentil pada industri musik Indonesia dan band-band yang dianggap kampungan. Yah buat saya, meski mungkin aliran musiknya kurang modern, at least mereka berkarya. Baca statement-statement Keara kok kayak berasa musik Indonesia dicap busuk banget. Padahal, banyak kok band-band Indonesia yang kerennya bahkan kebangetan.

Tokoh-tokoh dalam buku ini walau punya sifat-sifat yang berbeda, tapi punya kesamaan dalam hal memendam cinta, punya gaya penceritaan yang sama. Hanya dibedakan oleh penyebutan diri sendiri, jadi berasa kalau mereka adalah 1 orang yang dibelah jadi 3 bagian. Tapi tetap seru sih, nggak ada perasaan kayak bosan gitu bacanya. Statement-statement tentang cinta dalam buku ini juga juara. Emang sih ya khas Ika Natassa banget. Belum, beberapa informasi tambahan seperti film-film, langsung bikin pembaca tahu kalau penulisnya movie addict, referensi buku - bikin kita tahu juga kalau penulisnya punya selera yang tinggi terhadap buku bacaan, bikin buku ini tambah asyik untuk dinikmati. But, yang menyayangkan adalah tidak ada kelanjutan nasib Panji disini, well maybe saya nggak puas pada part ini karena saya ngefansnya sama Panji, terus juga kisah cinta Keara dan Ruly pas udah bab bab terakhir berasa maksa dan "oh gitu doang". Yah tapi harus diakui sih kalau "oh gitu doangnya" adalah alasan yang bikin kisah mereka bertiga jadi terasa lebih real. Buku ini bukan jenis bacaan romance yang menyajikan kisah cinta yang akan bikin kita termehek-mehek saking gregetannya, justru lebih pada nunjukin kalau "dalam real life gini loh cinta dan relationship itu.

Sabtu, 10 Juni 2017

,
Judul Buku: Wheels & Heels
Penulis: Irene Dyah Respati
Penerbit: PT. Elexmedia Komputindo
Tahun Terbit: 2015
Editor: Pradita Seri Rahayu
ISBN: 978-602-02-75475
Rating: 4/5

Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara
Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di istana
Dan toh, mereka bahagia selamanya

Abilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya.

Dan dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia.

Ketika kejujuran ditunjukan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?

****

Abby dan Aidan dipertemukan pertama kali dalam sebuah agenda pemberian materi oleh Aidan kepada para usher sebagai pegangan untuk bahan presentasi mereka dalam peluncuran produk otomotif sebuah perusahaan dalam hal ini, mobil. Abby yang memang terkenal dengan penampilan cantik, glamor, sexy dan mempesonanya secars cepat telah membuat Aidan tertarik dan tidak mampu mengalihkan pandangan dari kaki-kaki jenjangnya. Sifat Abby yang memang usil dan jahil pun membuat ia tergelitik untuk mengerjai Aidan. Dan, ternyata, pria jangkung nan tampan namun sayangnya berpenampilan aneh dan out of mode itu adalah tipe pria yang pemalu, kikuk, dan mudah blushing.

Pekerjaan Abby yang memang berhubungan dengan bidang otomotif membuat dia akhirnya jadi banyak bertemu dengan Aidan. Dan, pertemuan mereka itu akhirnya membawa pada agenda sama-sama hadir dalam acara Jakarta Fashion Week, salah satu pagelaran fashion yang sangat terkenal. Awalnya, Abby tidak mau merendahkan dirinya yang memang selalu dikejar-kejar pria dengan mengajak Aidan jalan duluan, tapi daripada sendirian, ia pun akhirnya memilih menghubungi Aidan duluan. Tapi, ternyata Aidan adalah tipe pria menyebalkan yang sok penting. Pria itu baru menjawab pesan what'sapp Abbybsetelah beberapa jam dan juga terhitung lamaaaaa banget kalau balas chat. Bikin Abby bete setengah mati, tapi selain hal itu ada juga hal yang lebih menyebalkan. Ketika Aidan menyamakan bulu yang digunakan salah satu model dalam JFW dengan upil. Upil pemirsahhh.... Dan, setelah membuat Abby kesal dengan aksi melucunya yang sungguh tidak lucu itu, pria itu kemudiaj melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Abby tersinggung. Ia bertanya apa jenis mobil yanh Abby miliki.

Meski menggunakan barang bermerk, sebenarnya Abby bukanlah berasal dari keluarga kaya raya. Ia adalah seorang Cinderella dengan adik-adik yang masih harus disekolahkan serta warung makan milik keluarganya yang hampir bangkrut setelah ayahnya meninggal. Pertanyaan yang Aidan tujukan membuat Abby berpikir bahwa Aidan menilainya dengan materi. Walau memang, seperti yang Nicolette, sahabatnya, katakan, Abby butuh pria kaya yang bersedia menjadi pangerannya dan akan mengeluarkan Abby dari jurang kemiskinan. Aidan memnuhi syarat itu, karena ia adalah anak dari salah satu pengusaha terkenal di Indonesia, namun bagi Aidan walaupun ia menyuaki Abby, ia dan Abby akan sulit bersama. Karena Aidan tidak bisa berhubungan dengan wanita yang memiliki kehidupan glamor. Abby sendiri, walau dengan segala kesalahpahaman yang sering terjadi antara dirinya dan Aidan, kekaukan pria itu dan ketidakmodisannya, tanpa sengaja, Abby sudah menjatuhkan hatinya untuk Aidan, satu-satunya laki-laki yang pernah dekat dengannya yang mau banjir-banjiran mengantarkan persediaan makanan untuknya, bahkan sebelum tahu Aidan adalah anak orang kaya. Bagaimana ini? Abby suka Aidan yang kaya tapi bukan karena kekayaannya, sementara Aidan malah bilang tidak bisa berhubungan dengan Abby karena wanita itu terlalu glamor untuknya.

****

Sukaaaaaak banget sama novelnya 😍. Loveable, enjoyable, ngakakable, plus baperable. Ini adalah novel solo mbak Irene pertama yang saya baca dsn sukses langsung jatuh cinta. Jadi penasaran sama tulisan-tulisannya deh. Buku ini rekomen banget buat yang doyan cerita roman yang nggak menye-menye. Konflik Abby dan Aidan biasa aja sebenernya, karena zaman sekarang kisah Cinderella yang ketemu pangeran kayak udah banyak terjadi dan itu sama sekali bukan masalah. Tapi, interaksi keduanya sangat sangat menghibur dan menyenangkan untuk dinikmati. Dijamin bakal ketawa-ketaws ngakak saking lucu, gregetan saking gemesnys, oh dan yah I reallu love Aidan's character. Cowok pemalu yang bisa sadis juga kalo ngomong itu, tapi gampang banget memerah digodain dikit meski sebelumnya dia serius abis bener-bener ngegemesih. Pen gigit jadinya kalo orangnya ada 😂

Dan, menariknya adalah ilustrasi status-status Facebook Abby dan kenyataan bahwa Aidan suka lihatin, merhatiin dari jauh gitu katanya sebagai fans tapi aslinya naksir setengah mati. Abege feels banget ya penjelasanku tapi swear novelnya lucu dan cakep banget. Oh ya ada adegan baper-baperan juga antara Abby dan ibunya, saya sempet baper karena emang lagi rindu rumah dan harus menelan fakta pahit lebaran tahun ini nggak bisa mudik (curhat 😭).

Berikut ada beberapa kutipan yang buatku menarik dari novel ini:

  1. Masih untung, hanya dikira bodoh. Daripada dituduh jadi wanita simpanan - Davina, hlmn 11
  2. A selfie everyday keeps doctors away - Bams, hlmn 18
  3. Cantik, eksis di acara gaul, tapi sendirian. Mengenaskan sekali. Sanda jepit saja ada pasangannya... - hlmn 26
  4. Kamu tulis suka bolu, jadi aku belikan bolu untukmu - Aidan, hlmn 45
  5. Tidak semua pria harus memperhatikanmu dan mematuhi keinginanmu kan, Abby? - Aidan, hlmn 48
  6. Wanita-wanita super cantik yang glamor, high-maintenance, penggoda, sulit ditolak. Kalian semua terlihat seperti boneka yang seragam, berkilauan di dalam bola kaca yang tidak ingin kumasuki. Kalian terlihat ... berbahaya. Dan aku tidak yakin ingin mengenal kalian lebih jauh - Aidan, hlmn 50
  7. Mobil dan wanita. Kenapa, ya acara mobil harus selalu dibumbui kehadiran wanita sebagai pemanis? Apa karena keduanya adalah mainan para pria, sehingga kaum Adam merasa perlu menyatukan keduanya dalam satu ruang dan waktu untuk mendapatkan gambaran optimal? - hlmn 50
  8. Diperhatikan wanita seperti kamu membuatku besar kepala - Aidan, hlmn 70
  9. Abby, sometimes we are not okay and it is okay - Aidan hlmn 147
  10. Bagi manusia uang berapa pun tidak akan cukup. Kamu punya seratus juta bisa habis. Punya dua ratus juta pun sama saja. Selamanya seperti itu - Nicolette, hlmn 250
  11. Karena aku juga akan memperjuangkanmu. Bahkan ketika situasi menjadi sulit sekalipun - Aidan, hlmn 266