Catatan harian yang semakin renta dan tua

Minggu, 15 September 2013

,
SMA Negeri  4 Yogyakarta
Ku pindai sekolah yang akan menjadi tempatku bertugas selama tiga bulan ke depan nantinya.  Ku perhatikan setiap sudut yang dapat dijangkau oleh mata. Sekolah dengan fasilitas yang terus menerus bertambah ini memang terbilang mewah. Seandainya aku bisa mengulang masa SMAku, aku ingin sekali mencoba untuk bersekolah di sini.
“Bismillahirrahmanirrahim.” Ku langkahkan kakiku menyusuri sekolah yang sudah terlihat sepi ini. Ya. Aku memang datang di saat jam pelajaran sudah dimulai. Aku tidak ingin mengambil resiko dipelototii murid-murid yang melihat kedatanganku. Walaupun kemungkinan bahwa hal itu akan terjadi sangat tidak mungkin.

Jumat, 13 September 2013

,

“Anyaaaaaaaaaaaaaaaa.” Teriakan itu sungguh mengusik pendengaranku. Seperti biasa, Vira Damayanti, teman yang aku temui tiga tahun lalu. Disaat aku baru pertama kali memasuki gerbang Universitas Negeri Yogyakarta. Kebiasaannya memang seperti ini. Tidak peduli di manapun aku berada, dia akan selalu setia meneriakkan namaku. Mungkin dia bangga dengan suaranya yang memang bisa mencapai 5 oktav saat ia bernanyi. Aku akui ia memang pintar dalam hal tarik suara. Ku tolehkan pandanganku. Astaga! Ternyata ia hanya berjarak kurang dari satu meter di belakangku.
“Apa?” jawabku malas.
“He he he.”  Balasnya cengengesan sambil menghampiriku dan tak lupa pula bergelayut manja di lenganku. Aku yakin saat ini sudah muncul argument tidak enak tentang hubunganku denannya.
“Apa sih? Kayak lesbi lo!” Ku lepaskan tangannya dari lenganku.
“He he he.” Lagi-lagi tawa seperti ini. Aku sangat kesal dengan caranya tertawa. Ia dengan sengaja menyuarakannya dalam bentuk suku kata. Ia tahu aku sangat tidak suka itu. Tapi dia sangat suka melakukannya di depanku.
“Apaan?” Tanyaku lagi. Aku benar-benar ingin segera beranjak dari sini. Masih banyak yang harus aku urus. Terutama tugas yang akan aku jalani selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Banyak yang harus aku persiapkan. Termasuk mental juga fisik yang sebentar lagi harus dipaksa bangun lebih pagi dari jam bangun pagiku biasanya.
“Elo dapet di mana?” tanyanya. Yah lagi-lagi pertanyaan yang sama. Entah sudah berapa kali aku mendapatkan pertanyaan ini hari ini.

Minggu, 04 November 2012

,
Ini adalah cerita tentang kegiatan gue selama sebulan ini atau tepatnya selama awal Oktober sampe awal November ini. Gue juga bingung sama judulnya tapi yang pasti gue pengen cerita. Tepatnya tanggal 3 Oktober 2012 gue menjelma menjadi salah satu sosok makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang super sibuk. Kenapa? Karena selama sebulan ini kegiatan gue bener-bener padet setiap harinya kecuali waktu tanggal 26 Oktober 2012 alias waktu lebaran Idul Adha. Kenapa lagi? Karena sekarang status gue udah bukan cuma anak mama dan papa dan mehasiswi semester tiga. Tapi udah ketambahan sama “karyawan”. Yap! Gue sekarang kerja. Di mana? Gue kerja di salah satu distro rangkap butik sekaligus toko aksesoris di daerah tempat gue stay saat ini.

Selasa, 11 September 2012

,
Ini cerita kira-kira empat atau lima tahun yang lalu waktu gue masih kelas XI. Waktu itu gue lagi ngegosip sambil cekikian sama temen-temen seasrama gue. Waktu gue masih SMA gue emang sekolah di sekolah berasrama. Sebenernya bisa sih kalo ngekost aja nggak usah tinggal di asrama tapi ortu gue nggak setuju. Nggak aman katanya.
Di sela-sela tawa itu, tiba-tiba HP temen gue bunyi dan ternyata itu telepon dari nyokap gue. Beliau pengen ngomong atau tepatnya ngabarin sesuatu sama gue. Waktu itu gue pikir nyokap gue telepon karena beliau kangen sama gue. Maklumlah namanya juga hidup jauh dari orang tua. Jadi pastilah nyokap bokap kangen sama gue. Apalagi dulu gue masih berstatus sebagai anak tunggal dan anak kesayangan. Dulu…. Empat tahun yang lalu. Tapi ternyata gue salah. Nyokap sama bokap gue cuma mau ngabarin ke gue kalo nyokap gue lagi hamil kira-kira empat bulan dan gue akan jadi seorang kakak. Gue jelas kaget dong. Setelah sekitar empat belas tahun gue jadi anak tunggal, akhirnya gue akan punya adik. Waktu denger kabar itu, gue langsung bilang Alhamdulillah karena jujur emang gue seneng. Tapi beberapa menit kemudian, setelah telepon ditutup, gue sadar kalo gue nggak rela. Gue nggak mau nyokap sama bokap gue ngebagi kasih sayangnya sama orang lain sekalipun orang itu adik kandung gue sendiri. Tapi cuma sampe situ aja. Hingga hari itu tiba.