![]() |
Sumber Gambar |
Flashback On
“Farraaaaaahhhhhhh……buruan….dosennya udah masuk.” Teriak
salah seorang gadis kepada seorang gadis yang kini sedang asyik menyeruput teh
hangatnya di kantin kampus, untuk mengurangi rasa dinginnya karena mendung yang
sudah hinggap di langit sejak pagi tadi, membuat udara terasa lembab. Hampir
saja ia tersedak. Buru-buru gadis itu bangkit dari duduknya dan bergegas
menghampiri gadis yang tadi meneriakinya setelah sebelumnya membayar teh yang
baru setengah diminumnya itu.
“Aduh Anna…bisa nggak sih lo kalo ngomong nggak usah
teriak-teriak gitu.” Omelnya setelah ia tiba di depan gadis bernama Anna itu.
“Dosennya udah masuk, Oneng Farrah.Ayok.” Jawab Anna sambil
berjalan mendahului Farrah ke gedung tempat mereka akan mengikuti perkuliahan.
Farrah hanya mengikuti dengan langkah malas. Hari ini mata kuliah Manajemen
Strategi.Mata kuliah yang sebenarnya menarik untuk diikuti. Namun entah mengapa
ia merasa tidak mood untuk masuk. Setelah mengucapkan permohonan maaf
kepada sang dosen karena terlambat, Farrah dan Anna melangkah masuk ke bagian
belakang kelas di mana tersisa dua kursi kosong yang belum ditempati. Dengan
enteng Farrah menjatuhkan dirinya dan berusaha berkonsentrasi dengan penjelasan
sang dosen yang tiba-tiba saja membuatnya mengantuk.
Kurang lebih dua jam perkuliahan berlangsung. Memasuki menit-menit terakhir, sang dosen memberikan pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan oleh semua dosen saat mereka sudah bersiap untuk mengakhiri kelas.
Kurang lebih dua jam perkuliahan berlangsung. Memasuki menit-menit terakhir, sang dosen memberikan pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan oleh semua dosen saat mereka sudah bersiap untuk mengakhiri kelas.
“Ada pertanyaan?”Tanya beliau sambil mengedarkan pandangannya
ke seluruh kelas.
“Iya baik.Yang di sebelah sana.” Ucap sang dosen sambil
menunjuk ke arah Farrah. Ke arah Farrah? Perasaan ia tidak mengangkat
tangannya? Apalagi jempolnya? “Jangan lupa sebutkan nama!” Perintah sang dosen.
Farrah jadi semakin bingung. Dan kebingungannya akhirnya
terjawab setelah terdengar sebuah suara berat dan serak sesorang yang baru ia
sadari sejak tadi ada di sebelah kirinya. “Nama saya Nicky Alfred Sandre. Tadi
Bapak menjelaskan bahwa …bla…bla…bla….bla…bla….”
Hilang sudah konsentrasinya. Hilang sudah rasa
bosannya.Hilang sudah kantuk yang sejak tadi menyerangnya. Lenyap tak bersisa.
Yang ia tahu kini ia terpesona. Yang ia tahu kini ia kagum. Yang ia tahu kini
ia….jatuh cinta?? Benarkah??
Seorang Farrah Alamri jatuh cinta pada PANDANGAN PERTAMA??!!Tidak
mungkin.Bagaimana bisa??
****
Hari kamis…hari kamis…hari kamis… ayolah…hari kamis…
buruan dateeenngg… Ucap Farrah dalam hati. Hari ini hari Jumat. Setelah ia
pertama kali melihat laki-laki itu. Laki-laki yang telah merebut hatinya hanya
dalam waktu kurang dari lima detik itu. Sejak kemarin kata ‘hari kamis’ seolah
sudah menjadi mantra dalam hatinya.Ia rindu hari kamis. Ia rindu kamis sore. Ia
rindu manajemen strategi. Ia rindu seseorang itu…
“Ngapain lo?! Bengong aja.Kesambet baru tahu rasa!!” Omel
Elfi – kakak sepupunya yang bertepatan tinggal satu kost dengannya.
“Ih Kak Elfi. Ganggu kesenengan orang aja.” Gerutunya
sambil memajukan bibirnya beberapa senti. Manyun.
“Monyong aja lo bisanya! Kenapa? Kangan sama tuh cowok?
Ya udah telep aja. Rempong bener!” Komentar Elfi. Farrah semalam memang sudah
menceritakan kejadian kemarin kepada Elfi. Dan Elfi positif seratus persen
langsung tertawa terbahak-bahak dan meledeknya habis-habisan.
“Nggak ada nomernya.”Jawab Farrah singkat.
“Lo mau gue bantuin?!” Tanya seseorang secara tiba-tiba
dari arah belakang. Seketika Farrah menoleh.
“Kak Rista?! Kok bisa ada disini?” Farrah malah balik
bertanya.
“Yeee…ditanya malah balik nanya.” Sewot Elfi sambil
menoyor pelan kepala adik sepupunya yang hanya berbeda satu tahun darinya itu.
“Gue cerita sama dia kalo lo lagi naksir cowok.” Sambungnya
“Iya. Mau nggak gue bantuin? Anak semester atas, kan? Lo
bilang kalo denger dari aksen bicaranya kayak satu daerah sama gue, kan?
Gampang mah kalo gitu. Kita tinggal cari aja di paguyuban.” Sambung Rista
sambil menaik-naikkan alisnya.
“Kayaknya sih gitu, Kak. Tapi nggak usah deh… malu!!” Tolak
Farrah matang-matang.
“Ya udahlah. Yang penting gue udah nawarin bantuan, ya.
Jadi kalo gimana-gimana gue udah nggak mau bantu lagi. Gue nawarin cuma sekali.”
Jawab Rista sambil mencomot pisang goreng yang sejak tadi berdiri angkuh di
depan mereka – minta dimakan.
“Gimana-gimana apanya Kak?” Tanya Farrah bingung. Yah..ia
memang masih polos dan kurang berpengalaman dalam urusan cinta-cintaan. Ini aja
naksir cowok baru kali ini. Setelah sembilan belas tahun ia hidup dan
mondar-mandir di bumi.
Rista hanya mengedikkan bahu. “Namanya Nicky, kan?
Padahal di paguyuban gue setau gue ada lho senior namanya Nicky. Walaupun gue
nggak tahu orangnya kayak apa. Tahu nama doang. Tapi kan gue bisa tanya ke
anak-anak. Kita tinggal cocokin ciri-cirinya Nicky yang lo kenal sama Nicky
yang ini. Tapi karena lo nolak….ya udahlah. Gue juga nggak pengen maksa.” Jawab
Rista panjang lebar.
“Beneran?” Tanya Farrah sambil membulatkan matanya.
“Boongan. Ya iyalah…masa fitnah?!” Jawab Rista jengkel.
“Mau dibantu nggak?” Desak Elfi gemas. Iya sangat ingin
membantu.Sungguh-sungguh. Karena selain ia penasaran laki-laki seperti apa yang
telah mampu mencairkan hati adik sepupunya ini, ia juga tidak ingin Farrah nantinya
kecewa dan sakit hati.
“Nggak usah deh.” Jawab Farrah sambil menggeleng dan
tersenyum.
Keputusan yang tepatkah?
****
Kamis kedua!!
Senyum sumringah kembali tercetak di bibirnya. Mendapati
kursi kosong yang kini tersisa hanya berada di sebelah laki-laki itu lagi. Di
sebelah Nicky. Dijatuhkannya tubuhnya di atas kursi dengan gerakan perlahan.
Takut merusak imagenya di depan laki-laki itu. Benar-benar bukan Farrah’s
style sebenarnya.
“Oke. Perhatian semuanya!!” Teriak Michael – ketua
tingkat mereka di depan kelas sambil memegang selembar kertas. “Kemarin gue
udah ditugasin sama Pak Idris buat ngebagi kita ke dalam kelompok diskusi yang
materi presentasinya bakalan dibagiin sama beliau nanti. Pasang kuping ya.
Kelompok 1: Michael, Zul, Indry, sama Iyam. Kelompok 2: Farrah, Anna, Vana sama
Nicky. Kelompok 3: bla…bla…bla…bla…
Farrah hanya bisa tercengang.Apa ia tidak salah dengar?
Ia sekelompok dengan…Nicky? Mimpi apa ia semalam??
Sambil
menunggu kedatangan sang dosen, Farrah hanya bisa pasrah menajalankan amanat
Anna dan Vana yang sejak tadi sudah hilang ke toilet, yang memintanya untuk
mengajak bicara Nicky sekalian meminta nomor telepon laki-laki itu untuk
menentukan waktu dan tempat mereka akan menyusun materi presentasi mereka.
“Hmmm…semester berapa Kak?” Tanya Farrah berusaha santai
dan tidak terlihat gugup sama sekali. Jujur, ia masih sangsi apa ia benar-benar
telah jatuh cinta pada laki-laki yang kini duduk di sebelah kirinya yang telah
sukses membuat sebagian tubuhnya terasa kaku dan berat. Yang pasti ia selalu
rindu untuk bertemu atau bahkan hanya sekedar melihat wajah laki-laki ini.
Nicky tersenyum simpul.“ Duh…nggak usah ditanyain. Udah
semester banyak.” Jawabnya sambil tertawa tanpa suara yang ditujukan lebih
kepada dirinya sendiri.
“Takutnya lebih tua dari aku trus aku manggilnya nama
doang.” Bohong Farrah sambil tersenyum manis. Takut apaan? Orang dia udah tahu
kalo Nicky tuh senior.
“Semester tujuh.” Jawabnya singkat, sambil tersenyummanis.
Oh Tuhan….gue lumerrr!!!
****
To: Hmmm…^_^
Asalamualaikum
Maaf ini dgn Nicky?
From: Hmmm…^_^
Waalaikumsalam
Iya.Ini syp?
To: Hmmm…^_^
Maaf Kak ganggu. Ini dgn tmn
sekelompok u/ MK mnjmn strtgi
Mau nanya. U/ materi
presentasi yg kk kasih kemarin, slidenya gk bs dikurangin lg?
From: Hmmm…^_^
Hmmpp…udh gk bs dek. Itu aj
udh singkt bgt. Kl mau ditambah bisa.
Tp jgn dikurangin!!
Malam ini Farrah memberanikan diri untuk mengirim pesan
kepada Nicky. Agak was-was sebenarnya, karena ia jujur tidak tahu harus mulai
dari mana. Ia memang telah mendapatkan nomor telepon Nicky. Tapi bukan dari
hasil investigasinya sendiri. Melainkan teman sekelasnya yang berbaik hati mau
memberikan nomor telepon laki-laki itu kepadanya.
Ternyata
tugas untuk presentasi sudah terlebih dahulu dikerjakan oleh Nicky. Teman-teman
Farrah sempat marah padanya karena tidak berhasil mendapatkan nomor telepon
laki-laki itu kamis kemarin yang mengakibatkan laki-laki itu harus mengerjakan
tugas kelompok sendiri. Memang ia tidak protes sama sekali. Tapi tetap saja,
mereka merasa tidak enak. Oke! Sebenarnya Farrah cukup kesal karena tidak
diizinkan untuk mengurangi slide untuk presentasi mereka yang jumlahnya
ada dua puluh satu slide itu yang menurutnya terlalu banyak dan
membutuhkan waktu untuk penjelasan panjang lebar. Belum lagi materi mereka
tentang Struktur Organisasi. Bukan materi yang sulit sebenarnya. Tapi ya
sudahlah…ia tak mau ambil pusing lagi. Yang penting sudah selesai, tinggal
mempresentasikan saja.
****
Menjelang kamis ketiga…
To: Hmmm…^_^
Maaf Kak. Cm mau nanya, gmn
buat presentasi klmpok qt bsk.
Gmn kl sblm masuk kls bsk,
qt ngumpul dl buat bahas materinya?
Skdr persiapan sblm prsntsi.
From: Hmmm…^_^
Sorry. Nickynya udh tdr. Nnti
aq sampein SMSnya.
Kak Nicky udah tidur? Trus yang balas SMS ini siapa? Ibunyakah?
Atau…jangan-jangan…PACARNYA??!! Oh Tuhan….
“Kenapa lo?” Tanya Elfi sambil menjatuhkan dirinya di
samping Farrah.Seketika Farrah menyodorkan ponselnya pada Elfi. Kening Elfi
berkerut sambil menerima ponsel pemberian Farrah. Diatatpnya layar ponsel yang
ternyata menampilkan history percakapan via SMS itu. Farrah dan…Hmmm…^_^
Elfi sudah bisa menebak siapa orang yang nomor ponselnya
diberi nama aneh itu. Nicky. Gebetan Farrah.
“Menurut lo itu siapa Kak?” Tanya Farrah dengan nada
putus asa.
“Sorry ya.. gue bukannya mau bikin lo putus asa, nyerah
atau ngerasa gimana. Tapi kayaknya itu pacarnya deh.” Jawab Elfi hati-hati.
“Serius lo Kak?!”
“Tujuh puluh lima persen. Tapi mending lo cari tahu dulu.
Jangan langsung negative thinking. Siapa tahu aja temennya. Walaupun
kemungkinannya kecil sih.”
****
Kamis ketiga…
Akibat hujan yang mengguyur deras, sore ini terjadi
pemadaman listrik. Termasuk kampus Farrah. Kampus Farrah juga menjadi salah
satu korban pemadaman, dan akhirnya perkuliahan sore ini ditunda besok pagi. Jadilah
presentasinya pun tertunda. Dengan kesal Farrah melangkah keluar dari kelas
yang tiba-tiba saja gelap.
Drrtt…drrtt…
“Rah…HP lo bunyi!” Tegur Anna.
“Siapa sih?!” Gerutu Farrah sambil mengeluarkan ponselnya
dari dalam tasnya. 2 Missed calls…
Dengan kesal dibukanya notifikasi ponselnya. Dari…
Hmmm…^_^?! Kak Nicky?! Kak Nicky menelponnya?! Saking tidak percayanya dengan
apa yang dilihatnya, ia tak menyadari bahwa ia menabrak seseorang dan hampir
saja terjengkang ke belakang jika saja tubuhnya yang oleng tidak menabrak bahu
Anna yang saat itu berdiri di sampingnya.
“Aduh! Apa sih Rah…?!” Gerutu Anna sambil mengelus
bahunya yang terasa sakit akibat ditabrak Farrah tadi.
“Sorry…sorry…” Ucap sebuah suara sambil menatap
Farrah dengan wajah meminta maaf.
“Nggak pa…pa.” Jawab Farrah terbata.Ia tak percaya. Yang
ada di depannya kini adalah orang yang baru saja meneleponnya namun tidak
sempat dijawab olehnya. Yang di depannya kini adalah orang yang hampir setiap hari memenuhi pikirannya. Yang
ada di depannya kini adalah orang yang membuat hari kamisnya selalu terasa
berwarna dan cerah walaupun entah mengapa sudah tiga minggu ini selalu saja
dilingkupi awan. Yang di depannya kini adalah…NICKY!!
“Lo nggak papa kan?” Tanya Nicky dengan nada…khawatir?
“Iya nggak papa..Kak.” Jawab Farrah sambil berusaha
menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja terasa bekerja lebih cepat
dari biasanya.
****
Sepanjang perjalanan pulang dari kampus,
senyum manis terus terukir di bibir gadis itu. Wajahnya terlihat bahagia. Entah
mimpi apa ia semalam. Hanya satu kalimat itu yang selalu ia bisikkan dalam
hatinya. Sesampainya di kost, ia tak langsung menuju kamarnya. Dengan santai ia
membuka pintu kamar Elfi sambil tersenyum sumringah pada kakak sepupunya dan
juga Rista – sahabat Elfi yang saat itu sedang memainkan gadgetnya.
“Senyam-senyum aja kayak orang gila!” Tegur Elfi.
“He..he…he…” Balas Farrah cengengesan.
“Kenapa lo? Kayak lagi hepi banget.” Tanya Rista sambil
terus fokus pada aplikasi facebook yang sejak tadi ia mainkan.
“Emang.” Jawab Farrah sambil kembali menutup pintu kamar
Elfi dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
****
Kamis keempat…
Prsentasi sudah mereka laksanakan minggu lalu. Tepatnya
hari jumat pagi minggu lalu gara-gara insiden pemadaman listrik itu. Sedikit
sedih memang. Akhirnya ia sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mengenal
laki-laki itu lebih dekat. Akhirnya ia sudah tidak punya alasan lagi untuk
sekedar mengirim pesan pada laki-laki itu. Tapi ternyata ia salah. Mungkin Dewi
Fortuna sedang berpihak padanya. Entah apa yang menyebabkan dosen manajemen
strateginya itu kembali memberi mereka tugas kelompok. Kali ini mereka harus
langsung melaksanakan survey di lapangan. Dan entah mengapa ia kembali satu
kelompok dengan laki-laki itu. Ia kembali sekelompok dengan Nicky. Takdirkah? Mungkin.
Bisa dikatakan seperti itu. Dan kini Nicky juga tidak secuek biasanya. Tidak
seirit biasanya saat bicara.
“Kak menurut kakak bagusnya kita survey dimana?” Tanya Farrah
membuka pembicaraan. Ia kini juga sudah bisa sedikit lebih santai saat bicara
dengan Nicky.
“Gimana kalo di TM aja.” Tawar Nicky menyebutkan salah satu
lokasi yang menurutnya cocok dijadikan tempat untuk melakukan survey.
“Oke deh. Kapan turunnya?” Tanya Farrah.
“Sabtu gimana? Sabtu sianglah.”Tawar Nicky lagi.
“Sabtu jam dua aja gimana?” Tanya Farrah lagi. Sedikit
aneh. Karena sejak tadi hanya ia yang angkat bicara. Sedangkan Anna dan Vana
yang entah mengapa juga kembali satu kelompok dengannya hanya diam saja sambil
bergantian menatap mereka berdua.
“Ya kalo jam dua gue ada kuliah. Tapi nanti gue usahain
deh. Soalnya belum tahu juga jadi masuk ato nggak.” Jawab Nicky sambil
tersenyum.
“Sip. Nanti kabarin lagi ya Kak.” Nicky hanya mengangguk.
****
Sabtu…
From: Hmmm…^_^
Udh d TM?”
To: Hmmm…^_^
Iy. Ini lg sm tmn2 Kak.
From: Hmmm…^_^
Ok. Bentar lg gue nyampe.
Tiga puluh menit kemudian. Deru motor yang sudah sangat
dikenalnya membuyarkan lamunannya. Ia datang. Laki-laki itu datang. Nicky
datang. Tapi…ia tidak sendiri. Ia datang bersama seorang…gadis? Siapa gadis
itu? Gadis yang dengan santainya memeluk pinggang Nicky di boncengan.Yang
dipeluk pun santai saja. Tidak merasa risih ataupun terganggu sedikitpun.
Mungkinkah…gadis itu…
Oh Tuhan….Seketika tubuhnya menegang. Seketika tubuhnya
jadi panas dingin. Seketika dadanya serasa seperti dihantam dengan seonggok
batu. Seketika sesak memenuhi rongga pernapasannya. Seperti ada sesuatu yang
menyumbat paru-parunya hingga ia kesulitan untuk mendapatkan oksigen. Sekuat
tenaga ia berusaha agar tidak menangis detik itu juga. Sekuat tenaga ia
berusaha agar kakinya tidak berlari meninggalkan tempat itu detik itu juga.
“Sorry ya lama.” Ucap laki-laki itu sambil turun dari
motornya.
“Nggak papa.” Jawab teman-temannya.
“Oh iya kenalin. Ini pacar gue!” Ucap Nicky sambil
tersenyum. Pupus sudah. Ia memang sudah tidak punya harapan. Seharusnya ia
sadar sejak pertama kali ia mendapat SMS balasan entah dari siapa itu.
Flashback Off
****
Drrtt…drrtt…
“Rah…HP lo bunyi!
From: Nicky
Udah masuk
To: Nicky
Belom. Nnti jam 5.
From: Nicky
Buruan k kampus skrg!!
Jangan-jangan ini bukan pertanyaan tapi pernyataan!! “Buruan.
Udah masuk.” Ucapku sambil tergesa-gesa merapikan pakaianku dan ke kampus
bersama Anna dan Vana yang saat itu sedang berkunjung ke kostku. Drrt..drrt…
From: Nicky
Hmm..gue bkn nanya. Mksd gue buruan k kmpus. Dosennya udh
masuk!
Ku masukkan ponsel ke dalam tas tanpa membalas pesan dari
Nicky itu. Secepat mungkin aku berjalan ke parkiran dan mengambil motor dan
segera ke kampus.
Sesampainya di kampus…
Ku tatap laki-laki yang kini sedang melambaikan tangan
kanannya padaku menyuruh segera masuk ke kelas. Ku balas lambaian tangannya dengan
senyuman sambil melangkah masuk ke kelas.
“Lama banget sih?!”Tegurnya.
Ku balas tegurannya itu dengan cengiran. Untung saja
sedang ada di kelas. Jika tidak, aku pasti sudah menerima hadiah berupa jitakan
di kepalaku.
Laki-laki itu…Nicky!! Laki-laki yang hingga saat ini
masih memiliki tempat di hatiku. Laki-laki yang kini menyandang status sebagai
sahabatku. Aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga kami bisa sedekat ini. Aku
tidak tahu bagaimana ia sampai bisa menjadi sahabatku.
Aku juga tidak tahu mengapa ia memilihku untuk menjadi sahabatnya. Aku tidak
tahu…
Sudahlah…ini sudah lebih dari cukup!!
_END_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar