Catatan harian yang semakin renta dan tua

Tampilkan postingan dengan label Talknime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Talknime. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 April 2017

,
Judul: Dagashi Kashi
Sutradara: Shigehito Takayanagi
Penulis: Shigehito Takayanagi, Yasuko Kamo
Penata Musik: Tomotaka Osumi, Nobuaki Nobusawa
Studio: Feel
Lisensi: Madman Entertainment, FUNimation, Anime Limited
Stasiun TV: TBS, CBC, SUN, BS-TBS
Tayang: 7 Januari 2016-31 Maret 2016
Jumlah Episode: 12

Dagashi Kashi adalah sebuah manga yang dibuat oleh Kotoyama. Manga ini diserialisasikan dalam Shogakukan’s Shounen Sunday sejak Juni 2014, dan sudah dibukukan dalam enam tankobon. Manga ini diadaptasi menjadi sebuah anime oleh Feel dan tayang sejak 7 Januari 2016 hingga 31 Maret 2016.
Bercerita tentang Shikada Kokonotsu, seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang mangaka yang secara tiba-tiba dihampiri oleh gadis canti bernama Shidare Hotaru. Gadis itu mengaku sebagai utusan dari perusahaan Shidare yang hendak mengajak You-san, ayah Kokonotsu untuk bergabung dengan perusahaan Shidare. Sebagai anak. Kokonotsu yang sering dipanggil coconut oleh teman-temannya itu merasa heran mendapati seorang utusan dari perusahaan besar datang dan hendak mengajak ayahnya bekerja sama. Dilihat dari sisi manapun, bagi Kokonotsu, You-san adalah ayah biasa saja, selain kesukaannya yang teramat sangat pada cemilan. Namun, menurut Hotaru, You-san adalah seorang yang teramat hebat. Dan untuk itu, Shidare mengharapkan You-san untuk bergabung dengan perusahaan.

Shidare memang adalah salah satu perusahaan cemilan terkenal di Jepang. Di kota kecil tempat Kokonotsu tinggal, You-san memang menjalankan Toko Cemilan Shikada yang merupakan warisan keluarga dari generasi ke generasi. Toko itu kecil, namun bagi Hotaru, tempat itu adalah surga. Hotaru adalah penggila cemilan garis keras!

You-san yang memang sudah sejak lama menginginkan Kokonotsu menuruskan warisan keluarga turun temurun itu pun mengatakan akan setuju bergabung dengan perusahaan Shidare dengan catatan Kokonotsu harus terlebih dahulu bersedia meeneruskan menjalankan Toko Cemilan Shikada. Hanya saja, Kokonotsu tidak bersedia. Ia ingin menjadi mangaka. Disinilah Shidare Hotaru harus berusaha meyakinkan Kokonotsu untuk meneruskan usaha keluarganya.

****

Buat remaja Jepang, menonton anime ini mungkin akan membawa ke suatu nostalgia. Buat saya pribadi pun demikian walau cemilan yang menjadi judul anime ini bukan cemilan Indonesia. Namun tetap saja, hal itu membuat saya rindu dengan jajanan jaman saya SD dulu, yang hampir tidak lagi ditemukan zaman sekarang.

Anime ini mengangkat makanan sebagai tema utamanya, dalam hal ini cemilan. Bagaimana cemilan berperan sebagai jenis makanan yang bisa memberikan kesenangan tersendiri bagi anak-anak kala menikmatinya. Ada berbagai jenis cemilan Jepang yang diperkenalkan disini, walau hampir setengah dari jumlah episode, cemilan yang dimaksud sudah berfokus pada jenis-jenis permen yang banyak disukai anak-anak.

Selain membahas cemilan, diselipkan juga beberapa sejarah pendek tentang bagaimana jenis cemilan itu bisa muncul, juga hal-hal menarik apa dari cemilan tersebut yang membuatnya meledak di pasaran dan disenangi banyak konsumen. Bagaiaman hingga akhirnya cemilan yang berasal dari hal-hal sederhana memiliki nama besarnya di Jepang. Saya tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran sejarahnya, tapi karena tiap ending per episodenya selalu ada penayangan singkat tentang cemilan yang sudah dibahas, maka saya yakin bahwa cemilannya benar-benar terkenal di Jepang.

Nggak hanya itu, ada beberapa trik pemasaran yang juga diselipkan dalam anime ini. Walau hanya secara tersirat, lewat apa penarik atau interesting thing yang membuat konsumen jadi mau membeli cemilan yang ada. Selain itu, beberapa cemilan yang ada juga sukses bikin saya lapar dan pengin ngemil juga. Sebaiknya sih, kalau mau nonton Dagashi Kashi, biar nggak ngiler sendiri, nyiapin cemilan juga. Biar sama-sama ngemil, yang nonton ataupun yang ditonton.

Kekurangan pada anime ini adalah ada sedikit hal yang bolong. Misal, jika memang You-san sebegitu hebatnya, kenapa Toko Cemilan Shikada cenderung sepi? Memang ada beberapa pembeli yang mampir tapi sejauh saya tonton hingga episode terakhir, hanya dua kali pelanggan di Shikada muncul. Selebihnya, toko itu ramai karena kehadiran Hotaru. Selain itu, cafe milik Tou-kun dan Saya-chan juga sama-sama sepi. Pengunjung selain kedua pemilik itu hanya Hotaru dan Kokonotsu. Saya rasa hal-hal seperti ini penting diperhatikan apalagi materi yang dibawa adalah materi tentang bisnis. Setidaknya keterlibatan pelanggan walau hanya dalam bentuk kemunculannya saja untuk keperluan setting yang lebih real.
Endingnya ­juga ­masih gantung. Jadi, buat saya Dagashi Kashi masih perlu season 2. Selain itu, ada unsur ecchi di dalam anime ini, agak sedikit banyak sih tapi nggak merasa terganggu karena keecchian yang ada hanya berbatas pada beberapa bagian visual juga pikiran dari remaja tanggung yang masih penasaran seperti Kokonots, walau mungkin kalau tayang di Indonesia akan mendapat banyak sensor dan penyuntingan habis-habisan.
Oh ya, karakternya cakep-cakep. Apalagi yang cewek, bisa buat nyegerin mata cowok-cowok penggila 2D atau yang punya waifu, tapi karakter cowoknya dalam hal ini Kokonotsu saya suka. Muka dan gaya rambutnya bikin inget karakter favorit abadi saya, Hikigaya Hachiman. Ini ada bonus wajah cantik Shidare Hotaro dengan mata uniknya.

Minggu, 23 April 2017

,
Judul: Suzumiya Haruhi no Yuutsu (The Melancholy of  Suzumiya Haruhi)
Tipe: Serial TV
Status: Selesai Tayang
Musim Perdana: Spring 2006
Rating: Remaja
Genre: Comedy, Mystery, Parody, Sci-Fi, Slice of Life, School
Studio: Kyoto Animation
Lisensi: FUNimation, Bandai Entertainment, Kadokawa Pictures USA
Produser: Lantis
Sutradara: Ishihara Tatsuya
Storyboard: Takemoto Yasuhiro

****
Kyon adalah siswa SMA biasa seperti kebanyakan siswa lainnya. Namun, kehidupannya berubah dari kehidupan biasa menjadi kehidupan yang luar biasa setelah bertemu dengan Suzumiya Haruhi. Bersama dengan Nagato Yuki, Asahina Mikuri, Koizumi Itsuki dan dipimpin oleh Haruhi, mereka mulai menjalankan kegiatan klub SOS yang mengkhususkan diri dalam hal yang berhubungan dengan supernatural.

Karakter dan Pengisi Suara:

  1. Suzumiya Haruhi: Hirano Aya
  2. Kyon: Sugita Tomokazu
  3. Asahina Mikuru: Gotou Yuuko
  4. Nagato Yuki: Chihara Minori

Bercerita tentang seorang gadis eksentrik bernama Suzumiya Haruhi. Tidak seperti remaja pada umumnya yang menjalani masa SMA dengan penuh sukacita, sebaliknya Haruhi justru merasa bosan dengan kesahariannya. Tidak ada hal menarik. Tidak ada hal menakjubkan yang terjadi. Semuanya biasa-biasa saja dan terasa sangat normal. Selain itu, Haruhi dicap aneh karena kepercayaannya pada hal-hal berbau alien. Bukan hanya percaya, gadis cantik ini bahkan sudah sampai pada tahap terobsesi. Ia yakin di luar sana ada alien, penjelajah waktu, bahkan esper yang akan menciptakan keajaiban yang membuat dunia ini tidak lagi membosankan.

Sementara itu, Kyon salah satu murid SMA yang secara tidak terduga duduk di depan meja Haruhi tidak pernah menyangka akan bertemu gadis yang percaya pada hal-hal yang tidak dipercayainya. Namun, ada sesuatu dalam diri Haruhi yang membuat Kyon terus berusaha mengajaknya bicara walau secara terang-terangan diacuhkan. Namun jalan pikiran Haruhi yang tak bisa dimengertinya justru secara perlahan membangun kedekatan di antara keduanya.

Di suatu hari, di tengah kebosanan Haruhi, Kyon tidak sengaja mengelarkan statement yang mengubah pendapat gadis itu. Jika tidak ada sesuatu yang menakjubkan terjadi, ia tidak bisa hanya menunggu. Sesuatu itu bisa dicari dan untuk itulah ia memutuskan untuk membuat klub sendiri karena dari semua klub yang ia ikuti tidak ada yang menarik sama sekali. Dan secara semena-mena, Kyon telah direkrut Haruhi sebagai anggota pertama.

Namun, untuk membangun sebuah klub mereka tidak bisa hanya berdua saja. Salah satu syarat untuk membentuk klub di sekolah adalah memiliki anggota minimal lima orang. Beruntung, Kyon tidak ditugaskan untuk mencari anggota baru, Haruhi yang mengatasinya. Dan secara ajaib, anggota-anggota baru pun terkumpul. Nagato Yuki, salah satu anggota klub buku yang tersisa bersedia ikut tanpa syarat plus mengizinkan ruang klub mereka digunakan sebagai ruang klub baru. Asahina Mikuru, gadis manis dari kelas dua yang sangat pemalu secara mengejutkan juga bersedia bergabung. Selanjutnya, seperti yang diinginkan Haruhi, anak laki-laki pindahan dari SMA lain, Koizumi Itsuki juga ikut bergabung. Lengkaplah sudah anggota klub yang diberi nama Satuan SOS oleh Haruhi secara sepihak itu dibuat.

Kyon mengira, ia hanya akan mengikuti kegilaan Haruhi secara sukarela tanpa tahu maksud, tujuan bahkan fungsi klub mereka itu dibuat. Namun, pernyataan Nagato Yuki di suatu malam amatlah mengejutkan. Gadis pendiam itu mengaku bahwa ia bukanlah manusia. Ia adalah salah satu produk human interface, alien yang sengaja dibuat untuk memenuhi keinginan Haruhi. Awalnya, Kyon tidak percaya. Namun, tak lama berselang, Asahina Mikuru yang imut juga membuat pengakuan bahwa ia adalah penjelajah waktu yang datang dari masa depan, yang tupoksinya memiliki informasinya amat terbatas dalam artian tidak boleh diberitahu siapa pun. Menyusul kemudian, Koizumi Itsuki juga membuat pengakuan bahwa seperti yang diinginkan Haruhi, ia adalah seorang esper.

Menurut informasi dari Koizumi, Haruhi bukanlah gadis biasa. Keinginan akan hal-hal ajaiblah buktinya, keberadaannya, Yuki dan juga Asahina Mikuru juga terjadi karena keinginan Haruhi. Singkatnya, di antara mereka berlima hanya Kyon saja yang manusia biasa. Selanjutnya, keinginan dan obsesi Haruhi bukanlah yang dianggap remeh. Gadis itu tidak bisa dibiarkan bosan atau kacau, karena kekacauan di kepalanya akan menimbulkan kekacauan juga di bumi ini.

****

Saya nggak berekspektasi banyak pas nonton anime ini. Awalnya, satu-satunya alasan yang bikin saya bertahan dan betah nonton adalah karakter Haruhi yang eksentrik dan unik. Kepercayaannya pada makhluk ruang angkasa ataupun penjelajah waktu bikin dia jadi cewek yang terkesan aneh yang bikin banyak hal positif dan kompetensinya tertutupi. Memang, sikapnya yang pemksa, egois sangat menyebalkan tapi satu hal yang membuat saya kagum adalah ia serba bisa. Selalu punya kepercayaan diri yang tinggi untuk berkompetisi. Aura pikiran negatif sama sekali nyaris nol dalam dirinya.
Agak menyayangkan adegan action yang melibatkan Nagato Yuki yang seolah cuma selewat saja. Ngiranya setelah episode tersebut akan ada adegan action yang lebih seru dan menegangkan lagi. Sayangnya hal itu nggak saya temukan. Selanjutnya ada episode membosankan karena terlalu sering diulang. Memang tidak mengherankan karena jalan ceritanya adalah pengulangan peristiwa libura musim panas yang diinginkan oleh salah satu anggota satuan SOS, hingga animenya tamat saya nggak dapat kepastian apakah sosok yang menyebabkan pengulangan itu adalah Haruhi atau Kyon. Peristiwa dan kejadian yang hampir sama persis, nggak hanya membosankan dan membuat lelah tokoh-tokohnya, tapi juga yang menontonnya. Berasa kayak nonton Naruto saat filler. Menurut saya paling banyak pengulangan itu terjadi akan lebih menarik kalau hanya dua episode saja. Empat episode dengan cerita sama itu terlalu banyak.

Tapi, kisah liburan musim panas mereka sangat saya sukai. Tidak hanya karena terdapat penekanan budaya Jepang, tapi juga bisa menjadi referensi buat kita tentang cara mengisi liburan yang asyik. Nggak harus ala-ala Jepang, yang ala Indonesia saja, biar sederhana asal bisa benar-benar membuat kita menghabiskan waktu luang dengan menyenangkan.

Saat pada bagian obsesi Haruhi untuk membuat film demi perayaan Festival di sekolah, animenya jadi terasa tidak ada usaha untuk menuntaskan problem yang ada, karena hanya diisi oleh kegiatan-kegiatan baru yang akan berdampak pada kondisi bumi jika sang punya ide juga mengalami penurunan mood. Namun ide festival ini juga saya sukai. Memang sih di Jepang hal ini sudah lumrah namun menurut saya tidak ada salahnya dicontoh Indonesia.

Sekolah-sekolah di Jepang sebagaimana kita tahu selalu memiliki klub, kalau di Indonesia sih namanya kegiatan ekstrakurikuler. Sama sebenarnya. Hanya saja, berbeda dengan di Jepang, kreativitas murid-murid bisa ditonjolkan lewat festival yang terbuka untuk umum, sementara di Indonesia tidak. Paling mentok meeting class saat libur 17 Agustus yang kebanyakan didominasi oleh kegiatan olahraga. Nah, kalau dari sekian banyak ekstrakurikuler yang ada, semuanya dapat jatah pentas, menampilkan skill, menurut saya akan lebih bagus. Murid-murid di Indonesia akan punya lebih banyak kegiatan positif.

Episode terakhirnya terasa aneh dan gantung sih. Tapi lumayanlah, petualangan Haruhi cukup seru untuk diikuti. Dan ada satu hal lagi yang saya sukai yakni film yang diproduseri, disutradarai dan skripnya ditulis oleh Haruhi sendiri sebagai proyek festival budaya sekolah juga dapat jatah tayang pada salah satu episode di anime ini. Walau filmnya aneh, rada-rada, nggak jelas maksud dan tujuannya, bahkan pesan moralnya hampir nggak ada, tapi proses syutingnya yang lucu cukup bikin saya penasaran untuk nonton.

Anime ini menawarkan sedikit fan service untuk laki-laki, udah umum sih. Ada cukup banyak karena tokoh Asahina Mikuru memang selalu teraniaya disini, tapi nggak vulgar macem anime H jadi nggak mengganggu. Bisa dibilang ecchiinya nggak mendominasi. Ada satu kutipan paling favorit yang saya ambil dari anime ini yakni

“Sejujur apapun aku padamu, aku tidak bisa membuktikannya. Karena bukti yang menjamin bahwa kata-kataku bisa dipercaya sama sekali tidak ada. Untukmu – Nagato Yuki, eps 24”

Kamis, 09 Maret 2017

,
Judul: Orange
Producer: Telecom Animation Filmss, TMS Entertaiment
Type: TV Series
Status: Completed
Genre: Drama, Romance, School, Sci-Fi, Shoujo
Episode: 13
Rating: 8.4

Suatu hari, Naho Takamiya menerima surat yang ditulis oleh dirinya sendiri 10 tahun di masa depan. Saat dibacanya, surat ini berisi kejadian yang sama persis dengan hari itu, termasuk dengan masuknya murid baru di kelasnya yang bernama Kakeru Naruse. Naho dari 10 tahun yang akan datang terus berkata bahwa dia memiliki banyak penyesalan, dan dia ingin memperbaikinya agar Naho di masa lalu bisa membuat keputusan yang tepat.

****

Anime ini berasal dari salah satu manga yang saya ikuti. Saya suka dengan ide ceritanya, unik dan nggak biasa. Walau beberapa novel sudah pernah ada yang mengangkat tema tentang dunia paralel, konflik yang dibahas dalam cerita ini berbeda.

Bercerita tentang penyesalan yang dialami Naho Takamiya, Hagita Saku, Chiro Takako, Suwa Hiroto dan Murasaka Azusa, kelima orang yang bersahabat dekat dengan Kakeru Naruse. Walau Kakeru tergolong orang asing yang tak sengaja masuk ke dalam persahabatan mereka, kasih sayang mereka terhadap si anak baru ini amatlah besar. Oleh karena itu, mereka di masa depan memutuskan menggunakan teori dunia paralel untuk menyelamatkan Kakeru di masa lalu, Kakeru yang punya banyak masalah dan tekanan yang sayang luput dari perhatian mereka.

Sebenarnya, anime ini lebih memihak pada Naho dan Kakeru sebagai karakter utamanya, namun fokusnya tetap pada usaha penyelamatan Kakeru. Kemungkinan bahwa kematian Kakeru adalah suatu kesnegajaan yang ia lakukan oleh depresi dan tekanan batin membuat mereka bertekad akan menyelamatkannya. Berbekal petunju surat dari masa depan, Naho pun berusaha untuk menyelamatkan Kakeru.

Kalau mau cari cerita cinta menye-menye namun dibumbui persahabatan yang kuat dan kental anime ini bisa jadi pilihannya. Sejujurnya, saya kurang suka dengan sifat Naho, terasa terlalu gimana gitu sebagai karakter perempuan. Saya lebih suka Azu yang ceria dan penuh semanagat. Begitu pula dengan Kakeru, saya kurang suka dengan sifatnya yang meledak perlahan namun mendatangkan imbas luar biasa besar.

Bisa dimaklumi karena kisah ini tentang remaja, otomatis tokohnya juga dibuat labil seperti anak remaja pada umumnya, apalagi ditambah tekanan hidup yang memberatkan batin. Sifat Kakeru hanya bisa dipahami sebagai depresi dan trauma, bukan hanya didorong oleh rasa penyesalan yang demikian besar. Sikapnya yang jadi teramat protektif terhadap anggota keluarga - cenderung cemas bahkan oleh hal kecil membuat saya berpikir Kakeru emang lebih cocok dibilang kena trauma atau kena gejala S.A.D - Separation Anxiety Disorder.

Saya suka denga kejutan di tengah cerita dan bagian Festival Olahraganya. Kompetisinya amat terasa dan kemeriahannya juga nggak tertinggal. Nggak hanya numpang lewat dan diceritakan secara garis besar. 

Anime ini baru bisa benar-benar menyentuh jiwa saya di episode ke-11. Bisa dipahami sikap Kakeru sejak ibunya meninggal dan betapa ia sulit untuk berbahagia karenanya, hanya saja karena ia yang cenderung pendiam, tertutup dan selalu menyimpan segalanya sendiri, kesedihannya jadi sulit terbaca dan terasa. Terima kasih untuk episode sebelasnya yang teramat mengharukan.

Anime ini, walau mengusung tema yang unik, secara tidak langsung telah mengajak kita untuk benar-benar senantiasa mempertimbangkan langkah yang kita ambil dalam hidup karena dalam beberapa kasus, penyesalan sebesar apa pun nggak akan bisa mengubah segala sesuatunya menjadi lebih menyenangkan.

Sabtu, 10 Desember 2016

,
Judul: Akagami no Shirayuki Hime
Judul Lain: Snow White with The Red Hair
Sutradara: Masahiro Ando
Penulis: Deko Akao
Penggubah: Michiru Oshima
Produser: Bones, FUNimation Entertainment
Genre: Drama, Fantasy,Historical, Romance, Shoujou
Durasi: 23 menit per Episode
Episode: 12
Rating: 7.88

Shirayuki terlahir dengan keunikan yang tidak dimiliki orang lain. Rambutnya yang indah dan cantik berwarna merah, sewarna apel. Hal yang membuatnya kerap menjadi perhatian, hal ini ternyata juga berlaku pada Raj, pangeran dari Tanbarun, negeri tempat Shirayuki tinggal. Ia mengiginkan Shirayuki sebagai selirnya, tentu saja bukan karena cinta melainkan terpikat pada rambutnya. Shirayuki yang tahu sepak terjang Pangeran Raj pun menolak. Ia meninggalkan Tanbarun bersama potongan rambut panjangnya untuk Sang Pangeran. Penghinaan ini membuat Raj berang lalu berusaha menemukan Shirayuki kembali. Dengan tipu muslihat, ia berniat meracuni Shirayuki dengan apel yang sialnya salah sasaran. Apel itu justru dimakan oleh Zen, pangeran kedua dari Clarines, negeri seberang.

Malu dengan tindakannya dan takut pada ancaman Zen, Raj akhirnya merelakan Shirayuki ikut rombongan pangeran itu pindah ke Clarines. Kedatangan Shirayuki tentu disambut baik dan fakta bahwa Clarines adalah negeri yang penuh dengan obat-obatan herbal membuat Shirayuki gembira. Ia bisa mewujudkan mimpinya menjadi apoteker disana. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang dimilikinya, akhirnya Shirayuki mampu menjadi anggota herbalis kastil dan tetap menjalin pertemanan yang erat dengan Zen. Hanya saja, kehidupan kastil dan istana yang besar dan megah memang selalu memilih keramahannya apalagi terhadap orang biasa. Dikenal sebagai pelarian dari Tanbarun, pangeran Izana ternyata tidak menyukai Shirayuki.

****

Anime ini menurut saya pribadi terinspirasi dari salah satu dongeng terkenal dan sudah akrab di telinga banyak orang. Keberadaan Shiryuki dengan rambut merahnya dan apel yang diracuni sudah sedikit banyak mewakili cerita Snow White. Namun memang, berbeda dengan si Putri Salju yang terkna racun apel sang penyihir, justru Zenlah yang menjadi korban.

Mengambil setting kerajaan, Akagami no Shirayuki Hime tidak begitu banyak dipenuhi adegan action. Hanya sebagian kecil saja, sebagian besar justru dipenuhi oleh kisah bagaimana Shirayuki memperjuangkan mimpinya sebagai apoteker. Namun, dalam perjalanannya, anime ini juga menghadirkan tokoh utama baru, Zen. Pangeran kedua yang tampak tak begitu disegani ini juga secara perlahan menjadi karakter utama yang membuat anime ini berjalan tidak begitu membosankan. Saya pribadi kurang begitu menikmati ceritanya karena terasa lamban, per episode memang selalu menghadirkan cerita dan pengalaman baru yang melibatkan Shirayuki dan Zen namun saya mendapatinya kurang seru dan greget.

Secara perlahan pula, anime ini berkembang menjadi anime roman yang manis. Meski tak secara gamblang, tingkah laku para tokoh sudah dapat menggambarkan kisah cinta yang porsinya tidak terlalu banyak. Menjelang epsiode terkahir syukurlah saya bisa cukup menikmati karena konflik yang muncul sudah lebih kentara walau memang mengarah pada konflik romansa. Saya rasa saya sudah bisa menebak apa yang akan disuguhkan season kedua dari anime ini dan berekspektasi bahwa yang kedua bisa lebih seru daripada yang pertama ini.

Untuk art, bagus banget. Saya suka sekali dengan penampakan karakternya, terkadang ada fan service juga, khusus buat fangirl tentu saja namun buat saya pribadi karakter memikat dalam anime ini bukan Zen melainkan Obi, pengawal pribadi yang ditugaskan untuk melindugi Shirayuki. Karismanya lebih bisa terpancar. Kemudian unsur komedi yang ada sedikit banyak menyelamatkan rasa jenuh saya yang bisa saja tiba-tiba datang. Anime ini bergenre drama namun tidak terlalu terasa, walau begiti terima kasih untuk episode penutupnya yang membuat saya pasti akan menonton Akagami no Shirayuko Hime 2.

Soundtrack-nya saya tidak begitu memperhatikan namun buat saya lagu-lagunya lumayan enak dan asyik untuk didengar di kala santai.

Sabtu, 29 Oktober 2016

,
Title: ReLIFE
Genre: Romance, School, Slice of Life
Directed By: Tomo Kosaka
Producet By: Suita Sunaya, dkk
Written By: Michiko Yokete dan Kazuho Hyodo
Music By: Masayasu Tsuboguchi
Studio: TMS Entertainment
Licensed By: NA Funimation
Network: TOKYO MX, GYT, GTV, BS11
Original Run: 2 Juli 2016-24 September 2016
Episodes: 13

SINOPSIS

Cerita berikut mengenai Kaizaki Arata, seorang pria pengangguran berumur 27 tahun, yang gagal di setiap wawancara kerjanya setelah berhenti dari perusahaan tempat ia bekerja dulu. Hidupnya berubah setelah ia bertemu Yoake Ryo dari Laboratorium ReLIFE, yang menawari obat yang dapat mengubah dirinya menjadi seumuran 17 tahun dan agar menjadi subjek dalam percobaan selama satu tahun. Lalu, dia pun memulai kembali hidupnya sebagai seorang siswa SMA.

ULASAN

Sebelum masuk ke ulasan terlebih dahulu saya akan menjelaskan dari mana asal-usul anime ReLIFE ini. Jadi, anime ini adalah adaptasi dari komik/manga karya Yayoiso. Diterbitkan oleh NHN PlayArt (Online) dan Earth Star Entertainment, manga ReLIFE sudah banyak menarik minat dan perhatian. Saya adalah salah satu pembaca manga ini secara online yang memang sudah sejak lama menanti-nantikan akan adanya adaptasi anime untuk manga ini dan akhirnya setelah hampir satu tahun menanti, saya dapat mendapatkan kesempatan untuk menikmatinya. Saya baru mulai mengikuti anime ini di tahun 2015 bulan Juni, meski manganya sudah dipublikasikan sejak Oktober 2013.

Daya tarik yang paling melekat dari manga yang membuat pembacanya menantikan animenya menurut saya pribadi adalah karena ide cerita yang unik. Masa muda adalah hal yang hanya terjadi sekali seumur hidup, dan masa SMA seperti halnya di Indonesia, di Jepang juga merupakan masa-masa paling indah dalam menjalani kehidupan sebagai remaja. Disana kita mulai belajar tumbuh dewasa dan mengenal hal manis bernama cinta.

Dalam hal ini Kaizaki Arata adalah pria yang tak pernah menduga akan mengulang masa SMAnya. Bukan hanya karena itu adalah hal yang mustahil dilakukan, tapi akan memalukan apabila sudah berusia 27 tahun dan masih mendekam dengan seragam sekolah. Akan tetapi, ia mengalaminya. Kegagalan dalam karir yang disebabkan oleh sesuatu hal (nggak akan saya kasih tahu nanti spoiler :D) membuat Arata sulit untuk memulai kehidupannya yang baru. Berkali berusaha, berkali pula ia gagal.

Di suatu malam, ia tak sengaja bertemu dengan seseorang. Tepatnya dihampiri, oleh pria seumurannya yang bernama Yoake Ryo. Ia mengaku berasal dari laboratorium penelitian bernama ReLIFE dimana Arata telah terpilih sebagai subjek penelitian mereka. Arata diminta memulai masa SMAnya! Tentu saja Arata menolak, mengulang masa SMA di usia yang sudah hampir kepala tiga adalah lelucon yang sangat tidak lucu. Tapi ternyata, Yoake Ryo punya solusinya dan Arata benar-benar tampak seperti laki-laki berusia 17 tahun sesudahnya. Sebagai pengangguran, Arata tak hanya menjadi subjek penelitian secara cuma-cuma. Ia dibayar untuk itu dan di akhir masa penelitian akan mendapatkan rekomendasi pekerjaan yang dapat mengubah hidupnya yang malang. 

Seperti yang saya bilang daya tarik anime ini terletak pada keunikan ide ceritanya. Dan yang menjadi nilai tambah adalah unsur komedi yang terdapat di dalamnya. Arata yang sudah 'tua' kembali menjadi murid SMA dengan kebiasaan-kebiasaannya sebagai manusia dewasa yang tentu saja sulit untuk ditanggalkan; salah satunya adalah merokok. Bisa dibayangkan bagaimana lucunya ketika Arata ketahuan membawa korek api ke sekolah (versi manga, dalam versi animenya ia kedapatan membawa rokok sebungkus :v). Dalam adaptasi buku menjadi film atau manga menjadi anime memang akan selalu kita temukan perubahan-perubahan yang kadang mengecewakan, namun dalam hal ini saya justru suka dengan ide sebungkus rokok. Lebih greget :D

Pernah menjadi murid SMA sebelumnya ternyata tidak menyulitkan Arata dalam menemukan teman-teman yang secara cepat bisa langsung dekat dengannya. Kehadiran Ohga, Kariu Rena, Hishiro Chizuru, Tamarai Honoka dan beberapa tokoh lain tidak menjadikan kehidupan SMA Arata membosankan, justru menjadi berwarna dengan polah dan tingkah anak SMA yang kadang membuat Arata terkejut karena ternyata sudah tak sama dengan anak SMA di zamannya. Hanya saja memang dalam hal pelajaran Arata tertinggal jauh di belakang. Sepuluh tahun tidak menengok pelajaran SMA membuatnya lupa dan harus menghadiri banyak remedial bahkan hampir di semua mata pelajaran. Namun, hal itu justru membuatnya mendapatkan banyak teman. Meski memang di hari pertama ia menjadi bahan tertawaan dan olok-olok karena beragam kekonyolan yang terjadi.

Karakter yang ada dalam cerita ini bisa dibilang terhubung satu dengan yang lainnya. Mereka membentuk cerita lengkap yang utuh dan akan terasa kurang jika salah satunya dihilangkan. Tujuan utama adanya penelitian ReLIFE ini bukan hanya agar subjek bisa mengulang indah masa sekolah tapi dipergunakan sebagai media atau sarana dimana subjek dapat menarik sesuatu, hal-hal yang mungkin selama ini telah dilewatkannya sehingga membentuknya menjadi manusia sekarang. Bisa dibilang ReLIFE dilakukan untuk mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Tak banyak yang tahu, tapi Arata memiliki sisi gelap hidupnya yang membuat ia stuck dan tidak bisa melangkah ke masa depan yang lebih baik. Untuk itulah ReLIFE hadir untuknya, membantunya menemukan kembali makna hidup dan jalan takdirnya yang lebih baik.

Namun, meski penelitian ini semula ditujukan pada Arata, ada banyak hal yang berubah. Bukan hanya pada tokoh utama atau subjek penelitian tapi juga pada seluruh aspek kehidupannya dan lingkungan serta orang-orang yang mengelilingi hidupnya. Kita sama tahu, semua orang selalu punya masalah pribadi dan di antara anak-anak SMA yang polos dan lugu, ternyata menyimpan juga banyak persoalan yang siapa sangka justru sangat terbantu dan mendapatkan penyelesaian yang baik dengan kehadiran Arata di tengah-tengah mereka. Meski terkadang bertindak tanpa berpikir, Arata adalah sosok dewasa tak kasat mata yang secara sadar juga telah membantu membentuk karakter dan pribadi anak-anak SMA di sekelilingnya.

Chara-nya juga cakep-cakep. Nggak jauh beda dengan yang ada di manga, FYI manganya berwarna jadi asyik banget dibacanya dan di anime saya nggak menemukan perbedaan bentuk chara kecuali saat Arata berusia 27 tahun dan sepuluh tahun lebih muda.

Saya benar-benar sangat menikmati menonton animenya. Meski sudah membaca manganya dan sebagian besar ceritanya saya hapal di luar kepala, menyaksikan tokoh-tokoh yang tadinya hanya dapat saya bayangkan dalam imajinasi, kini terasa seolah hidup dan benar-benar berperan sebagaimana mereka mestinya. Tidak ada rasa bosa, dan setiap kali saya dibuat tertawa dan terharu oleh beberapa adegan yang menunjukkan betapa dalamnya makna hidup. 

ReLIFE tidak hanya berperan sebagai media penghibur dan pemuas rasa haus para penggemarnya akan adapatasi anime terhadap manganya tapi juga memberikan sesuatu yang berharga. Banyak yang diajarkan anime ini, khususnya tokoh utama. Selain itu, banyak pula contoh kasus dalam hidup yang sering kita temui dan anime ini seolah memberi solusi atau alternatif dalam bertindak. 

Yang kurang dari anime ini mungkin hanya dari segi soundtracknya. Beberapa saya suka, beberapa tidak. Selera musik memang berbeda-beda, tapi yang paling kurang sreg mungkin BGM-nya. Nggak tahu kenapa tapi kadang saya merasa terganggu dengan BGMnya apalagi ada adegan yang menurut saya hanya memerlukan lagu hening justru terusik dengan BGM yang terlalu nyata terdengar.

Btw, kalau dari segi manga ceritanya cukup panjang dan saya benar-benar mengharapkan adanya Season 2 untuk ReLIFE. Meski sejak awal sudah ada perkembangan karakternya, tapi berdasarkan manga-nya itu semakin terasa menjelang masa berakhirnya ReLIFE dan saya penasaran banget pengen lihat juga seri animenya gimana. Apalagi mulai ada bumbu cinta (yah saya cewek jadi pasti nyari roman-romannya :v). Untuk Season 2 saya sempat baca sekilas ada bocoran akan tayang Juli tahun 2017 setalah sebelumnya pada April 2016 akan mendapatkan adaptasi Live Action. Semoga saja benar dan tidak diundur. I cannot wait for the next season and the live action adaptation :D