Catatan harian yang semakin renta dan tua

Sabtu, 10 Juni 2017

,
Judul Buku: Wheels & Heels
Penulis: Irene Dyah Respati
Penerbit: PT. Elexmedia Komputindo
Tahun Terbit: 2015
Editor: Pradita Seri Rahayu
ISBN: 978-602-02-75475
Rating: 4/5

Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara
Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di istana
Dan toh, mereka bahagia selamanya

Abilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya.

Dan dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia.

Ketika kejujuran ditunjukan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?

****

Abby dan Aidan dipertemukan pertama kali dalam sebuah agenda pemberian materi oleh Aidan kepada para usher sebagai pegangan untuk bahan presentasi mereka dalam peluncuran produk otomotif sebuah perusahaan dalam hal ini, mobil. Abby yang memang terkenal dengan penampilan cantik, glamor, sexy dan mempesonanya secars cepat telah membuat Aidan tertarik dan tidak mampu mengalihkan pandangan dari kaki-kaki jenjangnya. Sifat Abby yang memang usil dan jahil pun membuat ia tergelitik untuk mengerjai Aidan. Dan, ternyata, pria jangkung nan tampan namun sayangnya berpenampilan aneh dan out of mode itu adalah tipe pria yang pemalu, kikuk, dan mudah blushing.

Pekerjaan Abby yang memang berhubungan dengan bidang otomotif membuat dia akhirnya jadi banyak bertemu dengan Aidan. Dan, pertemuan mereka itu akhirnya membawa pada agenda sama-sama hadir dalam acara Jakarta Fashion Week, salah satu pagelaran fashion yang sangat terkenal. Awalnya, Abby tidak mau merendahkan dirinya yang memang selalu dikejar-kejar pria dengan mengajak Aidan jalan duluan, tapi daripada sendirian, ia pun akhirnya memilih menghubungi Aidan duluan. Tapi, ternyata Aidan adalah tipe pria menyebalkan yang sok penting. Pria itu baru menjawab pesan what'sapp Abbybsetelah beberapa jam dan juga terhitung lamaaaaa banget kalau balas chat. Bikin Abby bete setengah mati, tapi selain hal itu ada juga hal yang lebih menyebalkan. Ketika Aidan menyamakan bulu yang digunakan salah satu model dalam JFW dengan upil. Upil pemirsahhh.... Dan, setelah membuat Abby kesal dengan aksi melucunya yang sungguh tidak lucu itu, pria itu kemudiaj melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Abby tersinggung. Ia bertanya apa jenis mobil yanh Abby miliki.

Meski menggunakan barang bermerk, sebenarnya Abby bukanlah berasal dari keluarga kaya raya. Ia adalah seorang Cinderella dengan adik-adik yang masih harus disekolahkan serta warung makan milik keluarganya yang hampir bangkrut setelah ayahnya meninggal. Pertanyaan yang Aidan tujukan membuat Abby berpikir bahwa Aidan menilainya dengan materi. Walau memang, seperti yang Nicolette, sahabatnya, katakan, Abby butuh pria kaya yang bersedia menjadi pangerannya dan akan mengeluarkan Abby dari jurang kemiskinan. Aidan memnuhi syarat itu, karena ia adalah anak dari salah satu pengusaha terkenal di Indonesia, namun bagi Aidan walaupun ia menyuaki Abby, ia dan Abby akan sulit bersama. Karena Aidan tidak bisa berhubungan dengan wanita yang memiliki kehidupan glamor. Abby sendiri, walau dengan segala kesalahpahaman yang sering terjadi antara dirinya dan Aidan, kekaukan pria itu dan ketidakmodisannya, tanpa sengaja, Abby sudah menjatuhkan hatinya untuk Aidan, satu-satunya laki-laki yang pernah dekat dengannya yang mau banjir-banjiran mengantarkan persediaan makanan untuknya, bahkan sebelum tahu Aidan adalah anak orang kaya. Bagaimana ini? Abby suka Aidan yang kaya tapi bukan karena kekayaannya, sementara Aidan malah bilang tidak bisa berhubungan dengan Abby karena wanita itu terlalu glamor untuknya.

****

Sukaaaaaak banget sama novelnya 😍. Loveable, enjoyable, ngakakable, plus baperable. Ini adalah novel solo mbak Irene pertama yang saya baca dsn sukses langsung jatuh cinta. Jadi penasaran sama tulisan-tulisannya deh. Buku ini rekomen banget buat yang doyan cerita roman yang nggak menye-menye. Konflik Abby dan Aidan biasa aja sebenernya, karena zaman sekarang kisah Cinderella yang ketemu pangeran kayak udah banyak terjadi dan itu sama sekali bukan masalah. Tapi, interaksi keduanya sangat sangat menghibur dan menyenangkan untuk dinikmati. Dijamin bakal ketawa-ketaws ngakak saking lucu, gregetan saking gemesnys, oh dan yah I reallu love Aidan's character. Cowok pemalu yang bisa sadis juga kalo ngomong itu, tapi gampang banget memerah digodain dikit meski sebelumnya dia serius abis bener-bener ngegemesih. Pen gigit jadinya kalo orangnya ada 😂

Dan, menariknya adalah ilustrasi status-status Facebook Abby dan kenyataan bahwa Aidan suka lihatin, merhatiin dari jauh gitu katanya sebagai fans tapi aslinya naksir setengah mati. Abege feels banget ya penjelasanku tapi swear novelnya lucu dan cakep banget. Oh ya ada adegan baper-baperan juga antara Abby dan ibunya, saya sempet baper karena emang lagi rindu rumah dan harus menelan fakta pahit lebaran tahun ini nggak bisa mudik (curhat 😭).

Berikut ada beberapa kutipan yang buatku menarik dari novel ini:

  1. Masih untung, hanya dikira bodoh. Daripada dituduh jadi wanita simpanan - Davina, hlmn 11
  2. A selfie everyday keeps doctors away - Bams, hlmn 18
  3. Cantik, eksis di acara gaul, tapi sendirian. Mengenaskan sekali. Sanda jepit saja ada pasangannya... - hlmn 26
  4. Kamu tulis suka bolu, jadi aku belikan bolu untukmu - Aidan, hlmn 45
  5. Tidak semua pria harus memperhatikanmu dan mematuhi keinginanmu kan, Abby? - Aidan, hlmn 48
  6. Wanita-wanita super cantik yang glamor, high-maintenance, penggoda, sulit ditolak. Kalian semua terlihat seperti boneka yang seragam, berkilauan di dalam bola kaca yang tidak ingin kumasuki. Kalian terlihat ... berbahaya. Dan aku tidak yakin ingin mengenal kalian lebih jauh - Aidan, hlmn 50
  7. Mobil dan wanita. Kenapa, ya acara mobil harus selalu dibumbui kehadiran wanita sebagai pemanis? Apa karena keduanya adalah mainan para pria, sehingga kaum Adam merasa perlu menyatukan keduanya dalam satu ruang dan waktu untuk mendapatkan gambaran optimal? - hlmn 50
  8. Diperhatikan wanita seperti kamu membuatku besar kepala - Aidan, hlmn 70
  9. Abby, sometimes we are not okay and it is okay - Aidan hlmn 147
  10. Bagi manusia uang berapa pun tidak akan cukup. Kamu punya seratus juta bisa habis. Punya dua ratus juta pun sama saja. Selamanya seperti itu - Nicolette, hlmn 250
  11. Karena aku juga akan memperjuangkanmu. Bahkan ketika situasi menjadi sulit sekalipun - Aidan, hlmn 266

Rabu, 07 Juni 2017

,
Judul Buku: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Editor: Mirna Yulistianti
Copy Editor: Rabiatul Adawiyah
Ilustrasi Sampul dan Isi: Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie
Desain Sampul: Suprianto
Setter: Fitri Yuniar
ISBN: 978-602-03-1896-7
Rating: 4/5

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava sebagai kamus hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

****

Satu pertanyaan besar yang diberikan Ziggy lewat buku ini: Bagaimanakah idealnya menjadi orangtua yang baik? Salva adalah seorang anak berusia enam tahun yang sudah tumbuh lebih cerdas dari anak seusianya. Kecerdasan itu datang dari kebiasaannya membaca kamus bahasa Indonesia yang diberikan Kakek Kia padanya. Ketika ada pembicaraan yang ia tangkap dan tidak ia mengerti artinya, maka Ava dengan sendirinya akan mencari arti kata tersebut dalam kamus, lantas menarik kesimpulan dari arti-arti yang ia kumpulkan. Itulah kenapa, ketika dia berbicara, kalimat yang keluar hampir selalu lebih dewasa dari usianya.

Namun, kecerdasan Ava tidak diimbangi dengan masa kecil yang bahagia. Di usianya yang masih kecil, ia sudah terbiasa melihat kemarahan papanya yang ia pahami sebagai bentuk kejahatan. Sebagai refleksi bahwa papanya tidak menyayanginya. Ditambah lagi, pendidikan dan nasihat-nasihat yang diberikan mamanya selalu bertolak belakang dengan tingkah laku papanya. Bagi Ava, papanya jahat, papanya monster, dan papanya setan.

"Kata Mama, kalau melakukan perbuatan tidak baik, itu berarti kita dibujuk setan. Judi adalah perbuatan tidak baik, menurut Mama. Jadi, Papa diajak setan untuk berjudi. Orang-orang yang berjudi semuanya diajak setan. Papa bilang, teman-temannya yang mengajak dia judi. Jadi, teman-temannya Papa itu setan. Dan, kalau Papa mengajak orang lain untuk berjudi, Papa juga setan. Jadi benar kalau aku bilang Papa adalah setan - hlmn 33"

Usia Ava dan pemikirannya yang masih polos, juga hal-hal yang ia alami (dikasari Papa, dimaki Papa, dibentak Papa, dianggap ludah) telah membentuk pribadi gadis kecil yang memprihatinkan.

Ketika Kakek Kia meninggal dan warisannya jatuh ke tangan papa Ava, mereka sekeluarga pindah ke Rusun Nero karena papanya suka tempat itu. Dekat dengan kasino, untuk berjudi. Di rusun ini, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Hidup P juga tidak jauh beda dengan Ava. Ia juga punya papa yang kasar dan selalu memukulnya. Bedanya, kalau Ava masih punya Mama yang sayang padanya, P tidak. Mamanya pergi meninggalkannya. Untungnya, ia masih punya Kak Suri yang mau mengajarinya bahasa Inggris dan Mas Alri yang baik sekali membelikannya gitar.

Ketika seorang anak dengan tekanan mental bertemu dengan anak lainnya yang memiliki masalah psikis, maka yang akan terjadi adalah "perkawinan" pola pikir dan pendapat mereka. Dan pola pikir itu sayangnya terkadang "menyesatkan." Karena mereka hanya mengambil kesimpulan dari apa yang mereka lihat dan alami. Seperti Ava yang bertemu P, keduanya sama-sama memiliki papa yang jahat. Akhirnya mereka pun mengambil kesimpulan bahwa semua papa itu jahat, dan P yang kelak akan jadi papa juga akan jadi papa yang jahat. Ava dan P sama-sama tumbuh menjadi anak yang skeptis terhadap kebahagiaan.

Walau pada beberapa bagian terasa kurang rasional, mengingat pencerita disini adalah Ava tapi sudah terlalu 'dewasa', buku ini menjadi peringatan bagi setiap orangtua bahwa apa yang kita lakukan akan berdampak pada anak-anak. Mulai dari pembentukan pola pikirnya, caranya menilai sesuatu/kejadian, hingga tingkah laku. Pads akhirnya, buku ini tidak memberi jawaban tentang bagaimana seharusnya kita menjadi orangtua atau orangtua yang baik itu seperti apa. Ziggy meminta kita mencari sendiri jawabannya lewat kehidupan kita sehari-hari, dalam interaksi dan cara kita memperlakukan anak-anak.

Buku ini juga memberikan pesan tersiat bahwa, membekali anak-anak kita dengan buku pelajaran guna menambah ilmu pengetahuan adalah hal yang baik, tapi tidak akan berubah jadi baik jika kita tidak mendampingi mereka dalam mempelajari hal-hal itu. Anak-anak butuh orangtuanua untuk meluruskan pemahamannya, butuh didampingi, bukam dibiarkan belajar sendirian. Karena seperti Ava, bisa saja mereka menarik kesimpulan yang keliru atas suatu kejadian/peristiwa atau dari hal-hal yang mereka baca dan pelajari itu. Anak-anak adalah amanah dan menyia-nyiakan mereka tidak akan membuat kita bahagia.
"Ava tahu Mama sayang Ava. Tapi Mama nggak butuh Ava. Mama sering lupa soal Ava, karena Mama nggak butuh Ava - hlmn 148"

Selasa, 06 Juni 2017

,
Judul Buku: Malam Terakhir
Penulis: Leila S. Chudori
Diterbitkan Pertama Kali: Pustaka Utama Grafiti tahun 1989
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) 2009
Cetakan Pertama: November 2009
Cetakan Kedua: Desember 2012
Perancang Sampul: Fernandus Antonius
Ilustrator Sampul: Jim Bary Aditya
Penata Letak: Bernadetta Esti W.U
Tebal Buku: xviii + 117 hlmn.; 13,5 cm x 20 cm
ISBN: 978-979-91-0521-9
Rating: 4/5




"Leila bercerita tentang kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip, dan pengorbanan.... Banyak idiom dan metafor baru di samping pandangan falsafi yang terasa baru karena pengungkapan yang baru. Sekalipun bermain dalam khayalan, lukisan-lukisannya sangat kasat mata."

H.B. Jassin, pengantar Malam Terakhir edisi pertama


"Dalam cerpen 'Air Suci Sita', ditulis di Jakarta 1987, Leila memulai cerita dengan kalimat: 'Tiba-tiba saja malam menabraknya.' Sebuah kalimat padat yang sugestif dan kental.... Dengan teknik bercerita yang menarik, Leila berhasil mengangkat gugatan kenapa hanya kesetiaan wanit yang dipersoalkan, bagaimana dengan kesucian para pria?


Putu Wijaya, Tempo, Februari 1990


****


Nama Leila S. Chudori sudah tidak asing lagi bagi saya. Sejak membaca karya Pulang miliknya, saya sudah langsung jatuh cinta dengan penulisnya. Walau baru buku itu saja yang saya lahap karena memang nama Leila S. Chudori, meski sudah lama menulis, baru-baru ini mulai mengisi deret buku-buku bacaan saya.

Kumpulan cerpen edisi kali ini adalah kumcer pilihan dari Malam Terakhir edisi pertama. Lewat kata pengantarnya, Leila bercerita bahwa ia sengaja menjatuhkan pilihan pada cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku ini dengan pertimbangan penyesuaiannya pada zaman dan kebutuhan sekarang ini. Ada total 9 cerpen yang dimuat dalam buku ini yakni:


1. Paris 1988
Mengisahkan seorang gadis yang berkelana di Paris, Perancis, kota yang banyak dipuja, penuh dengan keindahan juga selalu mampu menarik hati banyak orang untuk mengunjunginya. Namun, berbeda dengan apa yang ia alami, ia justru menemukan sudut kpta Paris yang kacau, jauh dari keramahan dan aneh. Ia menginap di penginapan kecil dan dijaga oleh wanita tua yang doyan marah-marah dan meludah, juga memelihara sepasang tikus besar. Ia pun bertemu dengan Marc, laki-laki tampan yang terobsesi melukis alat kelamin, melakukan grasak-grusuk di kamarnya yang selalu penuh dengan suara perempuan. Awalnya, ia hendak memanggil polisi karena khawatir dengan jerit pilu kesakitan yang sering ia dengar dari kamar Marc, tapi kemudian tak perlu waktu lama untuk ia menyadari bahwa ia harus cepat-cepat pindah dari sana jika ingin terlepas dari kegilaan yang Marc alami.

2. Air Suci Sita
Agak klepek-klepek bacanya karena ada nama sendiri dalam bubuhan judul, tapi setelah baca ceritanya justru miris. Karena apa yang digugat dalam cerpen ini sangatlah nyata. Menurut hemat saya, cerpen ini tidak hanya terinspirasi dari kisah Rama dan Sita. Disini, penulis mencoba menggugat pria, seperti Rama yang dengan tega meragukan kesucian sang istri hingga Sita harus terjun ke dalam kobaran api demi membuktikan kesuciannya, juga menggugat masyarakat yang hingga kini masih memiliki cara pandang yang memihak tentang kesucian perempuan. Kaum wanita selalu dipersalahkan dan kurang diterima jika ia sudah tak lagi perawan tapi kaum pria yang sejatinya akan bertanggung jawab terhadap hidup anak orang lain dan anaknya sendiri, kesuciannya tak pernah dipermasalahkan apalagi dipertanyakan. Konsep 'tidak membekas' masih terlalu mengekang pola pikir mereka.

3. Sehelai Pakaian Hitam
Dalam cerpen ini, penulis beralih menggugat para munafikun atau orang-orang bermuka dua lewat Hamdani. Digambarkan bahwa Hamdani adalah pria terhormat, terpandang dan amat disegani karena 'pakaian putih' yang selalu ia kenakan di manapun ia berada di depan para pengikutnya, di depan masyarakat yang memuja dan mengelukannya. Sementara, di kala malam dan pengikutnya tidur, 'pakaian hitam' yang seharusnya membuat 'pakaian abu-abu'nya tersingkap ia kenakan seolah lupa bahwa di siang hari ia dikenal sebagai Si Putih. Cerpen ini adalah sodokan bagi kejujuran yang sudah sejak lama kehilangan kesejatiannya.

4. Adila
Kasus dalan Adila lebih pada kesalahan parenting. Adila diceritakan sebagai sosok gadis belia yang mengalami tekanan batin dan mental yang amat berat oleh orangtuanya, dalam hal ini lebih khusus ibunya. Sang Ayah juga tidak membantu dengan senantiasa membuat Adila terbiasa sembunyi-sembunyi melakukan kesalahan atau menyembunyikan kesalahannya. Cerpen ini adalah teguran dan peringatan karena ending Adila sama sekali tidak mengenakan hati.

5. Untuk Bapak
Dalam cerpen kelima ini yang saya tangkap adalah kisah saling mengasihi dengan tulus antara seorang anak dan Bapaknya. Walau pada akhirnya mereka dipisahkan oleh takdir, sang anak tetap memandang Bapaknya sebagai laki-laki paling tegar yang pernah ia miliki.

6. Keats
Isu rasisme dan perbenturan kebudayaan adalah hal yang diangkat dalam buku ini. Juga bakti anak pada orangtua yang mengikat, yang membuat orangtua jadi terasa memenjarakan sang anak dalam sel keinginannya untuk selalu dipatuhi salah satunya dalam urusan memilih pendamping hidup.

7. Ilona
Isu perselingkuhan yang masih sering terjadi sampai sekarang diangkat dan ditelanjangi dalam buku ini. Ketika si anak ternyata dengan transparan tahu apa yang terjadi antara kedua orangtuanya, yang kemudian membentuknya menjadi wanita yang tidak percaya ikayan suci pernikahan dan tidak mau membaginya dengan orang lain.
"Rasa sepi itu selalu menyerang setiap orang yang menikah maupun yang tidak menikah. Barangkali, rasa sepi akan terasa lebih perih bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam perkawinan. Mereka terbiasa berbagi, lalu mereka terpaksa menjadi sendiri."

8. Sepasang Mata Menatap Rain
 Selain mencibiri isu parenting, tentang orangtua yang lebih sibuk mengurusi tanaman dan hobinya ketimbang memberi perhatian pada anaknya, atau yang berliburdi hari minggu tapi tetap tidak bisa melepas majalah Times dari genggamannya, buku ini juga menyindir isu kesenjangan dan kepedulian sosial yang menitikberatkan pada kelaparan yang terjadi dimana-mana. Penulis menggugat kita, yang lebih sibuk memperhatikan kelaparan di negara lain tapi tidak tersentuh melihat kelaparan di negeri sendiri. Anak-anak jalanan yang katanya dipelihara oleh negara, bahkan tak mendapat perhatian dari saudara sebangsanya.

9. Malam Terakhir
Sekaligus cerpen terakhir yang menjadi penutup buku ini. Cerita yang membuat saya bergidik ngeri dan membuat nyali saya ciut dan menyusut. Cerpen ini adalah bentuk rasa miris bahwa oleh kekuatan rezim bahkan ayah pun bisa menggantung anak sendiri.

Jumat, 02 Juni 2017

,
Judul Buku: A Scent of Love in London
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: PT. Elexmedia Komputindo
Terbit: 2015
Editor: Afrianty P. Pardede
ISBN: 978-602-02-5775-4
Rating: 3/5

Ivana Zelde bukan sosok sempurna yang diimpikan para gadis. Dia penderita disleksia hingga sampai pada taraf tidak mampu membaca. Dikhianati kekasih dengan cara yang sulit dibayangkan memang terjadi di dunia nyata. Karena kekurangannya, seumur hidup Ivana dihujani perhatian yang justru dianggap menyesakkan.

Hugh Joaquin Levine pernah berada di puncak dunia. Hingga kecelakaan di Valencia seakan merenggut udara dan gravitasi dari hidup Hugh. Semua jungkir balik dan membuat cowok itu berakhir dalam kondisi menyedihkan.

Hugh pernah sangat ingin mengakhiri hidupnya, hingga bertemu dengan Ivana. Lalu dunia bergerak cepat di sekitar mereka, termasuk perasaan yang terus bertumbuh tanpa bisa dihalau. Namun mereka punya terlalu banyak perbedaan sehingga sulit untuk tetap bersama. Tapi, apakah Hugh kembali menyerah dan melepaskan Ivana dengan mudah? Karena tanpa Ivana, Hugh takkan bisa bahagia lagi.

****
Ivana Zelde adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga berkecukupan namun tidak dianugerahi kemampuan membaca dan menulis. Ia penderita disleksia yang sama sekali buta huruf. Meski demikian, hidupnya cukup bahagia dengan kehadiran kedua orangtua yang amat menyayanginya, dua kakak laki-laki – Hans dan Irving selalu sedia menjadi pelindungnya, serta Damon, sang kekasih yang bersedia menerima dan mencintai apa adanya. Namun, ternyata kebahagiaan itu tidak berselang lama. Pengkhianatan yang Damon lakukan justru mendatangkan kerugian untuknya. Sebagai penderita disleksia, Ivana sudah terbiasa mendapat perhatian super dari orang-orang di sekelilingnya, bahkan perlindungan yang tiada tara. Dan, kabar putusnya hubungannya dengan Damon membuat keluarganya jadi makin ekstra memperhatikannya, perhatian yang membuat Ivana justru merasa dikekang, bukannya disayangi. Oleh karenanya, Ivana memutuskan untuk sejenak menjauh dari keluarganya. Ia ingin membuktikan bahwa meski menyandang cacat, ia bisa diberi kepercayaan untuk pergi sendiri. Akhirnya, dengan sedikit paksaan, Ivana berhasil memperoleh izin sang mama untuk menyusul Irving ke London.

Sementara itu, Hugh Joaquine Levine, seorang pembalap terkenal harus menelan pil pahit dan melupakan impiannya karena kecelakaan yang terjadi saat uji coba ajang Formula One di Valencia. Kenyataan bahwa ia tak bisa menjadi pembalap lagi membuat Hugh hancur. Ditambah sang kekasih – Claudia, memilih meninggalkannya ketika karir balap Hugh terhenti secara tak terduga. Hal tersebut membuat Hugh kehilangan semangat hidupnya dan berusaha untuk mengakhiri segalanya dengan cara bunuh diri.

Ivana tidak pernah menduga akan berhubungan dengan cowok asing yang tidak dikenalnya, tapi secara naluriah, Ivana yang saat itu sudah berada di London, dengan kecepatan yang tak pernah ia bayangkan, serta keberanian yang entah datang dari mana nekad menyelamatkan sesosok cowok yang sedang melakukan usaha bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke Double Dekker.

Aksi nekad yang Ivana lakukan ternyata justru menjadi jembatan penghubung antara dirinya dan Hugh. Membuat cowok itu dengan terpaksa menceritakan kisah pahit hidupnya pada Ivana karena merasa bertanggungjawab untuk sebuah penjelasan dan alasan kenapa ia lebih memilih mengakhiri hidupnya.
Kebersamaan yang dibangun oleh sesuatu yang insidentil itupun secara perlahan malah menimbulkan benih-benih cinta antara mereka dalam waktu kurang dari tiga hari.

****
Konflik dalam buku ini tergolong ringan, hanya seputar kisah cinta. Walau demikian, keberadaan Hugh dan profesinya sebagai pembalap menjadi warna tersendiri. Jujur saja, saya bukan penyuka olahraga ini walau kadang-kadang kalau lagi iseng suka nonton, tapi kisah Hugh dan perjuangannya dalam berkarir sekaligus mengejar impiannya cukup mengesankan saya. Sisi menarik lainnya adalah Ivana diceritakan sebagai wanita yang menderita diskleksia juga menjadi keunikan tersendiri. Walau disini penyakitnya tersebut tidak begitu nampak karena kisahnya dimulai di pertengahan hidupnya, bukan saat awal-awal ia dikenali sebagai penderita disleksia. Sayang, untuk hal ini kurang diulas. Ivana dan Hugh adalah dua orang dengan kisah hidup pahit yang berbeda, tapi menurut saya yang lebih kelihatan pahitnya disini justru Hugh. Jadi, bukunya memang berkisah seputar Ivana si wanita penderita disleksia yang jatuh cinta dalam beberapa hari saja pada mantan pembalap yang pernah mencoba bunuh diri, tapi sisi sedih justru datang dari Hugh, bukan Ivana.

Jadi, dapat dikatakan bahwa permainan emosi dalam buku ini kurang ngena, padahal hidup Ivana dan Hugh cukup rumit.

Asyiknya, pertemuan pertama Ivana dan Hugh cukup mengesankan. Saya suka dengan karakter Ivana disini, tapi setelah ia dan Hugh saling mengakui perasaan masing-masing, saya justru didera bosan. Entah kenapa, karakter keduanya malah membuat saya jadi kurang tertarik lagi. Belum kegalauan Ivana yang diakibatkan oleh permaninan pikirannya sendiri. Yang justru menarik hati saya adalah Irving, sang kakak yang punya mulut pedas tapi senantiasa bicara dengan logika dan realita.

Untuk penyelesaian konfliknya terasa biasa. Memang sih akan jatuh terlalu drama kalau kisahnya dibuat lebih rumit lagi, tapi ya itu tidak drama tapi tidak greget juga. Namun, satu hal penting yang dapat kita petik dari kisah Ivana dan Hugh adalah kekurangan yang dimiliki keduanya justru hal yang membuat mereka sempurna ketika bertemu. Ivana ‘memberi hidup’ pada Hugh yang sudah kehilangan semangat untuk bertahan, sebaliknya Hugh memberikan kepercayaan diri pada Ivana bahwa meski dengan keterbatasan kemampuan yang ia miliki, ia masih dapat melakukan banyak hal dan mengisi harinya dengan kebahagiaan.