,
Kamis, 23 Maret 2023
Selasa, 03 Agustus 2021
,
![]() |
| Sumber Foto |
Judul: So I Married an Antifan
Genre: Komedi Romantis
Rumah Produksi: Godin Media, Warner Bros. Television
Rating: 💚💚💚💚
Pemain:
![]() |
| Choi Tae Joon as Hoo Joon (Sumber Foto) |
![]() |
| Choi Sooyoung as Lee Geun Young (Sumber Foto) |
![]() |
| Hwang Chang Sung as JJ/Jaejoon (Sumber Foto) |
Bergenre komedi romantis, drama ini bercerita tentang kehidupan Lee Geun Young, salah satu reporter infotaiment yang secara tidak sengaja terlibat dengan kehidupan pribadi salah satu penyanyi terkenal di Korea Selatan, Hoo Joon. Kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya menyebabkan mereka terlibat konflik yang menghebohkan jagat hiburan Korea Selatan. Seorang Hoo Joo, dilempar sepatu hak tinggi oleh seorang wanita saat acara pembukaan salah satu bar!
Kejadian ini sontak membuat Lee Geun Young - pelaku pelemparan mendadak viral dan terkenal. Bukan terkenal dalam artian yang baik, Geun Young terkenal sebagai antifan yang jahat dan penuh tipu muslihat. Berbagai cacian diterimanya hampir dari seluruh penjuru Korea. Bagi Geun Young, ini bencana. Namun bagi salah satu sutradara acara ragam, ini adalah kesempatan emas. Geun Young sedang terkenal, tidak ada salahnya menjadikannya makin terkenal. Dan jadilah sebuah acara ragam berjudul So I Married an Antifan dengan Hoo Joon sebagai 'suami' dan Geun Young sebagai 'istri'. Bagaimana kehidupan 'rumah tangga' mereka?
****
Dramanya menghibur, menarik, lucu, juga romantis. Walaupun drama dan novel bertema benci jadi cinta sudah banyak yang pernah hadir, bagaimana mungkin seorang antifan 'menikah' dengan artis yang dibencinya? Apalagi seperti yang sudah kita ketahui besama, sosok-sosok pembenci artis itu sangar dan galaknya berkali lipat dari musuh bebuyutan. Satu komentar mereka di sosial media bisa dengan mudahnya menjatuhkan mental seseorang. Namun, Lee Geun Young berbeda. Kebenciannya pada Hoo Joon tidak didasarkan pada alasan tak masuk akal. Ia marah dan dendam karena alasan yang amat masuk akal.
Selanjutnya, karena drama ini berjudul So I Married an Antifan yang diceritakan merupakan judul acara ragam yang diikuti Hoo Joon dan Geun Young, tentu saja kita akan disajikan proses syuting acara tersebut yang ternyata semuanya didasarkan pada konsep. Sebagaimana suatu konsep, setiap adegan yang terjadi di dalamya sudah direncanakan. Meskipun berjalan tanpa skrip tertentu acara ragam ternyata merupakan program realitas yang dibalut dongeng. Setiap adegan yang ada di dalamya didasarkan pada ide sutradara. Sejujurnya saya jadi ingat salah satu acara ragam tentang pernikahan yang pernah sangat terkenal di Korea Selatan. Jadi bisa tahu sedikit ternyata proses syutingnya seperti itu.
Untuk sisi roman yang ada, saya suka, walaupun mungkin terasa agak 'cepat'. Sebenarnya berjalan natural sih, tapi kalau dinilai dari bagaimana Hoo Joon sangat peduli dengan mantannya, agak cepat kalau dia tiba-tiba suka Geun Young hanya karena interaksi sederhana dari mereka berdua. Kurang dramatis, tapi romantis sih jadi saya suka aja. Konflik penyerta yang terjadi antara Hoo Joon dan sahabatnya juga merupakan konflik yang tidak begitu rumit, tapi saya akui Hwang Chan Sung sangat berhasil memerankan JJ. Saya mungkin adalah salah satu penonton yang bukan hanya tidak suka dengan karakter JJ, tapi juga muak. Sifat pencemburu iri tanda tak mampunya betul-betul memuakkan.
Terakhir, drama ini sempat menyinggung salah satu judul novel roman best seller berjudul Pride and Prejudice. Saya belum baca bukunya, tapi judulnya sangat cocok dengan drama ini. Kebanggaan dan prasangka. Kebanggaan Hoo Joon dan prasangka Geun Young telah mempertemukan mereka berdua. Ada pesan tersirat juga dalam drama ini yakni kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja, mengambil kesimpulan dari suatu peristiwa atau kejadian yang tidak kita tahu betul pokok permasalahannya, karena itu semua bisa saja hanya prasangka kita semata.
Jumat, 30 Juli 2021
,
![]() |
| Sumber Foto |
Judul: Mr. Sunshine
Genre: Asmara, Melodrama
Jumlah Episode: 24
Sutradara: Lee Eung Bok
Staisun TV: tVN
Rating: 💗💗💗💗💗
Pemain:
![]() |
| Lee Byung Hun as Choi Yoo Jin/Eugene Choi (Sumber Foto) |
![]() |
| Kim Tae Ri as Go Ae Shin (Sumber Foto) |
![]() |
| Yoo Yeon Suk as Goo Dong Mae (Sumber Foto) |
![]() |
| Kim Min Jung as Kudo Hina (Sumber Foto) |
![]() |
| Byun Yo Han as Kim Hee Sung (Sumber Foto) |
Choi Yoo Jin atau yang lebih dikenal sebagai Eugene Choi adalah seorang Kapten Korps Marinir Amerika berdarah Joeseon (Korea saat ini). Eugene 'merantau' sejak kecil mengikuti seorang misionaris yang berkunjung ke Korea dan akan kembali ke Amerika. Lebih tepatnya, ia lari dari kejaran 'musuhnya' dibantu sang misionaris dan seorang pengrajin tembikar. Eugene harus menyelamatkan dirinya setelah kedua orangtuanya terbunuh oleh kekejaman bangsawan Hansong yang merupakan majikan mereka. Eugene Choi terlahir dari keluarga budak, strata terendah dalam masyarakat Jeosoen saat itu.
Goo Ae Shin adalah putri dari salah satu bangsawan terkaya di Hansong. Sama seperti kedua orangtua Eugene, orangtuanya pun terbunuh oleh pengkhianatan yang dilakukan rekan sekaligus sahabat mereka sendiri. Ayah Ae Shin adalah salah satu dari bangsawan yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Jeoseon dari pendudukan tentara Jepang.
Goo Dong Mae merupakan salah satu orang yang ditakuti di Hansong. Ia menjadi pemimpin Yakuza yang terkenal dengan kekejamannya. Namun, berbeda dari Eugene dan Ae Shin yang terpisah dengan orangtua mereka karena kekejaman takdir, Goo Dong Mae memilih 'memisahkan' diri dari orangtuanya yang berprofesi sebagai tukang jagal. Selain budak, menjadi seorang jagal di Jeoseon saat itu bukanlah kedudukan yang terhormat. Goo Dong Mae bertekad menjalani kehidupan yang berbeda dari kedua orangtuanya yang selalu terinjak dan terhina.
Kudo Hina, pemilik Glory Hotel adalah wanita cantik yang disukai banyak orang. Ia adalah seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya yang berdarah Jepang. Namun, Hina bukanlah orang Jepang. Ia adalah orang Korea dengan masa lalu yang menyakitkan.
Kim Hee Sung terlahir dari keluarga bangsawan terkenal di Hansong. Sama seperti keluarga Ae Shin, keluarganya juga merupakan salah satu dari sedikitnya orang kaya di Hansong. Namun, di balik kehidupan mewah yang ia jalani, ia tidak tahu bahwa hampir semua yang ia miliki, didapatkan dari jerit tangis dan darah orang lain termasuk keluarga Eugene Choi.
****
Drama Mr. Sunshine adalah salah satu drama historikal Korea Selatan yang sukses meraih rating tertinggi sepanjang penayangannya dan ditayangkan kembali di Netflix. Mengambil setting abad ke 19, drama ini menyuguhkan cerita dramatis yang dipadukan dengan beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Korea. Drama ini bercerita tentang beberapa peristiwa yang terjadi saat kebudayaan barat mulai memasuki Jeoseon, sedikit pertentangan yang terjadi di dalamnya, juga saat masa pendudukan Jepang dan kedatangan Amerika Serikat ke negara tersebut.
Sepintas, drama ini hanya cerita kehidupan tokoh-tokoh utama di dalamnya yang berlatar dan dibumbui sejarah Korea, namun lebih dari itu, drama ini adalah drama dengan cerita yang kompleks dan sarat akan peristiwa dan episode sejarah penting bagi masyarakat Korea.
Eugene Choi hadir sebagai kapten dari Amerika yang 'pulang' ke tanah airnya setelah sekian lama, bermaksud menjalankan tugas kenegaraan, namun berakhir memilih kembali memperjuangkan apa yang menjadi hak masyarakat Jeoseon melalui cintanya yang begitu besar terhadap Go Ae Shin. Goo Dong Mae adalah pria yang tidak pernah memedulikan pengkhianatan tokoh-tokoh penting dalam masyarakat Korea namun berubah menjadi pria yang ikut membantu memperjuangkan kemerdekaan.
Kudo Hina, pebisnis yang dikenal ramah bagi tamu dari bangsa manapun, memilih menjadi agen rahasia kerajaan, serta Kim Hee Sung, anak manja yang hanya bisa menghabiskan uang di meja judi, menemukan jiwanya denga menjadi wartawan yang rela mempertaruhkan nyawa untuk mengungkapkan kebenaran sejarah.
Dari sisi percintaan, drama Mr. Sunshine berhasil buat saya susah move on. Kisah cinta segi lima yang terjadi adalah kisah yang rumit namun berjalan sabar. Menunggu meski tak ditunggu, tegar walau dalam kesulitan, saling percaya meski beda tujuan. Sementara untuk karakter, hampir semua saya suka namun yang paling membekas adalah karakter Eugene Choi dan Go Ae Shin.
Eugene Choi, meski tampil sebagai pria yang hampir tak mencintai tanah kelahirannya, namun ia sangat menyayangi kekasihnya yang cinta negaranya, hingga ia rela mengorbankan tujuannya untuk mewujudkan tujuan Go Ae Shin. Penyayang, penyabar, dan melindungi. Bijak dalam berpikir dan melakukan sesuatu, penuh pertimbangan juga memiliki kecerdasan - minus kecerdasan aksara Korea. Fakta bahwa usia Lee Byung Hun saat memainkan peran ini sudah 47 tahun tidak menghentikan saya untuk langsung mengidolakannya. Kecerdasan bahasa yang dimilikinya juga sangat mengesankan. Sedangkan Go Ae Shin, meski dilarang mengenyam pendidikan di bangku sekolah, ia adalah wanita yang pantang menyerah dan tak kenal takut. Menjadikannya tokoh wanita terkeren dalam drama ini, dan terang saja saya langsung mengidolakannya juga.
Sisi sinematografinya juga juara, kru yang terlibat sudah melakukan yang terbaik untuk menampilkan setting abad ke 19 dengan sangat baik. Walaupun endingnya bukan merupakan akhir dari keseluruhan cerita - mungkin akan butuh beratus episode hingga Jeoseon menemukan kemerdekaannya, saya cukup puas dan tidak kecewa. Untuk sisi cerita, entah saya yang melewatkannya, tapi saya penasaran dengan kisah hidup Kudo Hina dan hasil autopsi mantan suaminya yang tidak disebutkan itu, hanya dimunculkan dalam selembar kertas, terasa 'bolong' tapi sama sekali tidak mengganggu keseluruhan ceritanya.
Drama ini sangat saya rekomendasikan bagi pencinta drama Korea, bahkan yang bukan - pasti akan suka dengan ceritanya, karena tak hanya menyuguhkan kisah cinta, ia juga mengingatkan kita akan arti berjuang, memperjuangkan dan membangkitkan jiwa dan semangat nasionalisme, menghadirkan haru dan yang paling penting adalah, meski sepintas, drama ini mengajak kita untuk menulis, seperti yang dilakukan Kim Hee Sung. Bahwa bukan hanya dengan senjata kita bisa memerangi ketidakadilan, namun dengan tulisan juga.
Selasa, 03 November 2020
,
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Co-author: Saripuddin
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Layout: Alfian
Tahun Terbit: 2018
Cetakan I: April 2018
Tebal Buku: iv + 455 hal.; 13.5 x 20 cm
Rating: ⭐⭐⭐⭐
"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan,
kemana hendak pergi,
melalui kenangan
demi kenangan masa lalu,
pertarungan hidup-mati,
untuk memutuskan
kemana langkah kaki
akan dibawa.
Pergi."
Buku ini adalah sequel dari novel Pulang. Jujur saja agak surprise waktu tahu buku Pulang ada sequelnya, karena sebenarnya bukunya menurutku udah tamat. Eh ternyata ada. Senang, sekaligus penasaran. Buku kedua ini masih menggunakan Bujang, Si Babi Hutan sebagai tokoh utamanya. Setelah Tauke Besar meninggal, Bujang naik posisi menjadi Tauke Besar yang baru milik keluarga Tong. Lewat kecerdasan yang dimilikinya, secara perlahan Bujang mulai membut terobosan-terobisan canggih dalam pergerakan keluarga Tong sebagai salah satu penguasa shadow economy. Akan tetapi, setelah sebelumnya dikhianati Basyir, pada seri kedua ini Bujang harus berhadapan dengan Master Dragon.
Master Dragon adalah salah satu penguasa shadow economy yang bermarkas di Hong Kong. Selain Master Dragon, terdapat jugs keliarga El Pacho di Meksiko, Keluarga Yamaguchi di Jepang, keluarga Lin di Maccau dan keluarga Bratva di Rusia. Dari beberapa keluarga ini yang paling disorot adalah keluarga Lin yang dalam buku sebelumnya sudah pernah berhadapan dengan keluarga Tong, keluarga Yamaguchi dan Bratva yang kemudin menjalin aliansi dengan keluarga Tong, juga keluarga Master Dragon sendiri, sementara, keluarga El Pacho tidak terlalu mencolok.
Seperti pada buku pertama, buku ini menawarkan petualangan yang menegangkan. Kalau diibaratkan film seperti cerita mafia yang dibintangi Jackie Chan atau Jet Li. Ceritanya seru, diselipkan pengetahuan-pengetahuan sejarah tentang masa lalu, yang membuat saya semakin ingin membaca tentang shadow economy. Benarkah mereka benar-benar ada?
Namun, meski memiliki alur dan cerita yang penuh adegan action, buku ini sebenarnya menitikberatkan pada tujuan hidup tokoh utama. Tujuan ia mempertahankan keluarga Tong demikian kerasnya, dan akan ia bawa kemana apa yang telah ia capai dan pertahankan itu. Pada salah satu bab yang menceritakan kisah dua orang petani yang dituturkan oleh Salonga, buku ini mengajak pembaca melihat ke dalam hati, apa yang ingin kita tuju dan capai dalam menjalani hidup ini. Jika mengejar harta manusia tidak akan pernah puas, mengejar jabatan pun sama.
Secara keseluruhan ceritanya saya suka, banyak pelajaran dan bahan renungan yang dapat kita petik dari buku ini. Di luar ide perjodohan keluarga Bratva, Maria dan Agam. Saya kurang suka idenya, Maria tampil sebagai sosok wanita yang keras dan terlalu ambisius, sepertinya tidak cocok dengan Agam 😁
Selanjutnya, kemunculan Diego Samad. Di awal buku, saya menyangka laki-laki itu akan tampil sebagai lawan duet mematikan di akhir perjalanan cerita. Ternyata tidak, hal yang membuat buku ini membutuhkan buku ketiga. Ending ceritanya yang gantung, hampir tidak ada yang selesai dari perkara pergi ini kecuali urusan dengan Master Dragon. Perjodohan Agam dan Maria sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak dalam cerita menurut saya, tapi tetap saya penasaran siapa yang akan menjadi pasangan Agam nanti. Ide ia bertunangan dengan Maria secara otomatis setelah ia menerima gelang pemberian gadis tersebut sangat tidak bagus buat saya. Nggak setuju lah. Terakhir, Agam memang tahu kemana ia akan pergi. Ia sudah tahu. Tapi pembaca seperti saya ini belum tahu. Jadinya harus ada buku ketiga untuk melengkapi ketidaktahuan saya ini.
Sabtu, 24 Oktober 2020
,
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor: Claudia Von Nasution
Tahun Terbit: 2020
Cetakan Ketiga: Maret 2020
Tebal Buku: 344 hlmn.; 20 cm
ISBN: 9786020638010
Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?
Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nando, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.
Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?
****
Sebagai orang yang tidak tinggal di Jakarta, Ganjil Genap termasuk materi yang baru bagi saya. Beruntung daerah tempat saya tinggal tidak semacet Jakarta, walaupun memang pada jam-jam tertentu macet juga. Dulu, setiap kali nonton berita yang membahas tentang penerapan ganjil genap, saya pikir itu patokannya jumlah penumpang di dalam mobil. Kalau hari ganjil harus ganjil jumlahnya, kalau genap harus genap juga penumpangnya. Kan tujuannya mengurangi kemacetan, jadi mikirnya buat yang punya kendaraan roda empat dan tidak ada teman untuk naik mobil bareng, jadi nebeng temen. Akhirnya berkurang jumlah mobil yang beredar di jalanan. Ternnyata bukan begitu, patokannya di plat nomor haha
Saya termasuk penggemar novel metropop dan Almira Bastari masuk dalam jejeran penulis metropop yang saya sukai. Dua bukunya yang berjudul Resign dan Melbourne Wedding Marathon sudah saya baca dan sukses jatuh cinta. Di buku Ganjil Genap, saya juga berhasil dibuat baper dan sering cengengesan. Buku ini bercerita tentang Gala, wanita di akhir usia 20-an yang cantik, mapan, otomatis banyak pria yang naksir namun sayangnya terjebak dalam hubungan selama tiga belas tahun dengan seorang pria bernama Bara. Mereka kenal sejak SMA, dan pacaran sejak itu pula. Hal yang tidak wajar kenapa bisa pacaran selama itu namun nggak kunjung menikah, tapi mengingat Titi Kamal dan Christian Sugiono pun pacarannya sekitar sembilan tahun, anggap saja itu wajar. Namun pasangan artis ini berakhir di pelaminan. Sementara Gala bisa dibilang sial, durasi pacarannya dengan bara yang kalau dipakai untuk kredit perumahan sudah bisa lunas itu harus berakhir dengan kalimat putus di parkiran dari Bara dengan alasan "kamu terlalu baik buat aku". Alasan yang nggak logis, karena sejak kapan sih orang kalau pacaran maunya dijahatin. Pasti semua maunya dapat pasangan yang baik, kan? Kecuali kalau ada orang lain yang dianggap lebih baik. Alasan sudah nggak cocok? Masa iya tidak cocok sementara pacaran sudah tiga belas tahun!? sandal jepit saja kalau tertukar dengan milik orang yang punya motif sama pasti kita ngerasa. Kecuali kalau ada orang lain yang dirasa lebih cocok.
Namun, Gala sama sekali tidak berniat untuk mengorek apakah memang ada orang lain di antara dia dan Bara yang selama ini disembunyikan. Ia hanya ingin tahu alasan Bara memutuskannya, alasan logis yang bisa diterima akal sehatnya, namun sayang jawaban Bara tetap sama: jawaban pengecut "aku nggak mau nyakitin kamu." Padahal dengan diputuskan saja sudah menyakiti. Karena itu, demi menyelamatkan harga dirinya, Gala bertekad untuk harus cepat move on dan dapat gandengan baru. Sekalipun kalau memang Bara sudah ada yang lain, yang penting harus dia yang lebih dulu menikah dibanding Bara. Apalagi sebentar lagi umurnya 30 tahun! Adiknya Gisha juga sudah kebelet nikah! Masa dia dilangkahi? Berapa banyak pertanyaan kapan nikah yang akan ia terima nanti? Bagaimana perasaaan orangtuanya kalau tahu dia dan Bara putus setelah sekian tahun pacaran?!
Pertama, bukunya saya suka. Kedua, ceritanya seru. Ketiga, hal-hal yang dialami Gala memberikan bahan renungan tersendiri untuk saya. Dibanding petualangan cinta, buku ini menurut saya lebih ke nasehat terhadap pasangan-pasangan yang mungkin sudah pacaran lama namun belum menikah, juga ke perempuan-perempuan yang siapa tahu saat ini sedang diberondong pertanyaan kapan nikah dari berbagai penjuru. Di Indonesia, sudah jadi rahasia umum kalau wanita yang belum menikah di atas 30 tahun dianggap 'aib'. Setiap yang ketemu jangankan teman, dari keluarga sendiri pun banyak yang suka melontarkan pertanyaan maut kapan nikah. Tapi buku ini memberikan pencerahan. Nikah nggak perlu diburu, nggak harus terburu-burum nggak boleh hanya karena dikejar umur (walaupun mungkin untuk perempuan ada resiko lain jika terlambat menikah), tapi tetap menikah harus lebih pada kesiapan. Begitu juga kalau putus, nggak perlu terburu-buru cari pengganti kalau memang belum waktunya ada yang cocok. Tidak harus memaksakan keadaan jika memang sejak awal sudah tidak satu visi.
Buku ini termasuk salah satu buku jenis buku yang bikin emosi, terutama ke Bara, Aiman dan kayaknya hampir semua karakter laki-laki yang ada kecuali Nandi dan Anantha dan Pangeran Ibra. Untuk mereka, itu pengecualian. Sisanya, laki-lakinya menyebalkan. Di satu sisi bisa bikin pemaca senyum-senyum sendiri, di sisi lain bikin saya jengkel mangkel setengah mati. Kok ada laki-laki begini? Tapi walau begitu, karena 'keanehan' para lelaki dalam buku ini, saya jadi dapat teori baru tentang menghadapi laki-laki haha. Pun jadi merenungi laki-laki yang pernah mampir di hidup saya.
Terakhir, bukunya saya rekomendasikan
Terakhir, bukunya saya rekomendasikan
Rabu, 21 Oktober 2020
,
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
"Apalah arti memiliki? Ketika diri kamu sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."
Buku ini adalah buku yang mengajak kita untuk merenung dan belajar. Berlatar tahun 1938, Tere Liye membuat kita belajar dari penggalan-penggalan kisah hidup di masa lalu yang hingga masa perjalanan haji di tahun 1938 bersama kapal Blitar Holland masih menggantung, menghantui dan menjadi pertanyaan beberapa tokoh yang berperan dalam buku ini. Kisah pertama datang dari Bonda Upe. Masa lalu kelam Bonda Upe yang kerap membuatnya tidak percaya diri dalam menjalani hari-hari dan menanti masa depannya. Kisah ini mengajak kita untuk berdamai dengan kenyataan, dengan masa lalu yang meskipun menyakitkan atau memalukan untuk dikenang, ia adalah bagian dari diri kita yang tidak boleh kita tepiskan. Kita tidak perlu memerdulikan pendapat orang tentang masa lalu kita, yang kita jalani adalah saat ini. Biarlah masa lalu menjadi bagian perjalanan hidup untuk dijadikan pelajaran.
Selanjutnya, kisah masa lalu yang datang dari Daeng Andipati. Daeng Andipati adalah seorang pengusaha sukses di zamannya yang masih menyimpan dendam dan kemarahan pada seseorang yang semestinya ia cintai dan doakan. Kesuksesan karier dan kehidupan keluarga tidak mampu mengenyahkan perasaan kecewa dan marah di masa lalu. Perasaan yang hingga kapal Blitar Holland bergerak meninggalkan Pelabuhan Makassar pun tak dapat ia tanggalkan. Ternyata kunci dari semuanya adalah ikhlas dan menerima, merengkuh masa lalu dan kekecewaan itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membawanya pada kesuksesan hari ini.
Kisah ketiga datang dari Mbah Kakung dan Mbah Putri. Pasangan sepuh yang masih mesra dan seolah berjanji sehidup semati, bersama-sama melakukan perjalanan haji di usia senjanya, namun harus menelan pahitnya takdir terpisah di tengah perjalanan laut menuju Mekkah. Mbah Putri meninggal di atas kapal Blitar Holland dan untuk mengikuti prosedur keamanan dan kenyamanan di dalam kapal, jenazahnya harus dilemparkan ke laut. Tak terbayang penyesalan bercampur perasaan tidak mampu menerima, perasaan tidak adil yang dirasakan Mbah Kakung. Kenapa harus saat ini? Kenapa harus di atas laut? Kenapa tidak menunggu saat mereka tiba di tanah suci? Sedikit lagi waktu yang diperlukan untuk sampai di Mekkah? Namun, dari kisah ini, kita diajak untuk percaya pada ketetapan Allah SWT, pilihan Tuhan, meyakini bahwa apa yang diberikan sudahlah yang terbaik untuk diri kita asal kita tidak berhenti percaya kepadaNya.
Berikutnya, cerita cinta yang datang dari Ambo Uleng. Seorang pelaut tangguh yang ternyata hampir tak mampu melawan badai cinta yang datang. Kisah cintanya dengan gadis yang telah lama dicintainya harus kandas karena perbedaan strata. Ambo Uleng dianggap tidak sederajat dengan sang gadis, keluarga si gadis tidak bisa membatalkan perjodohan dengan cucu salah satu ulama termahsyur di tanah Makassar pada saat itu. Ambo Uleng galau, Ambo Uleng patah hati, lantas lari ikut kapal Blitar Holland sebagai kelasi. Tapi ternyata, meski telah lari meewati samudera, ia tetap tidak bisa meninggalkan rasa cintanya. Perasaan itu tetap ikut dan terasa sakit apalagi saat melihat kemesraan Mbah Kakung dan Mbah Putri. Ia dendam, namun di akhir cerita akhirnya ia menemukan kejutan yang terbaik yang tak pernah ia duga.
Lalu terakhir, pertanyaan terakhir justru datang dari orang yang paling disegani di seluruh kapal Blitar Holland. Ialah Ahmad Karaeng, pria yang di usia senjanya masih menyuarakan perlawanan dan kemerdekaan terhadap Belanda lewat tulisan-tulisannya. Pria yang jadi tempat orang-orang bertanya, justru memiliki pertanyaan yang ia sendiri tak bisa menemukan jawabannya.
Dari sisi penceritaan, menurut saya Tere Liye adalah salah satu penulis yang masuk dalam jejeran penulis berbakat dan terkenal. Saya kagum dengan kemampuannya meramu cerita dengan latar yang terbatas menjadi cerita dengan kualitas yang istimewa. Walaupun sejujurnya, karakter favorit saya adalah Ambo Uleng sehingga saya mengharapkan banyak adegan yang melibatkan karakter satu ini. Bisa dibilang Ambo Uleng adalah salah satu 'juru kunci' dari cerita ini. Selain itu, saya dibuat sedikit penasaran dengan pertanyaan Ruben si boatswain, tentang apa sesungguhnya kebahagiann itu? Buku ini memberikan jawabannya, tidak secara gamblang dan terang-terangan tapi melalui perjalanan kisah pertanyaan besar empat orang dalam buku ini, namun selain Ambo Uleng, Ruben juga menjadi salah satu karakter favorit saya dan sejujurnya saya menantikan perannya yang mungkin akan meninggalkan pesan mendalam selain dari lontaran pertanyaannya. Tapi, meski begitu, hal-hal ini tidak mengurangi keistimewaan buku ini. Buat yang lagi Rindu, atau mungkin sedang ada pertanyaan belum terjawab, saya rasa buku ini bisa memberikan sedikit petunjuk.
Kamis, 19 Maret 2020
,
![]() |
| Sumber Foto |
Judul Buku: Melbourne Wedding Marathon
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Editor: Cicilia Prima
Desain Kover: Dyndha Hanjani P
Penata Isi: Putri Widia Novita
Cetakan Pertama: Juli 2017
ISBN: 978-602-452-111-0
EISBN: 978-602-05-00294
Sydney Deyanira
Wanita cerdas, mandiri, ambisius, dan perfeksionis. Sydney merasa patah hati ketika sahabat yang ia kencani selama satu semester terakhir memilih berpacaran dengan orang lain. Dijuluki sebagai ahli percintaan prematur, Sydney mulai berpikir untuk melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, menjalin hubungan palsu dengan orang baru.
Anantha Daniswara
Pria sukses, arogan, suka bergonta-ganti pasangan namun masih belum berdamai dengan masa lalunya. Demi memenuhi tantangan mantan pacarnya, Anantha nekat meminta pelayannya sendiri untuk menjadi kekasihnya.
Melbourne bukan kota cinta dan jauh dari kata romantis. Sebagai kota yang paling nyaman ditinggali di dunia, Melbourne menjadi awal baru bagi dua insan yang tertekan dengan rentetan pesta pernikahan!
****
Sydney adalah seorang wanita cerdas yang sayangnya selalu sial dalam hal percintaan. Mulai dari laki-laki yang mundur karena merasa Sydney 'terlalu tinggi' bagi mereka, hingga sahabat yang awalnya meminta hubungan lebih tapi kemudian berpacaran dengan orang lain. Sementara Anantha, ia adalah seorang pengusaha muda yang karena patah hati ditinggal menikah oleh kekasihnya, Danisha, berubah menjadi playboy yang suka gonta-ganti pasangan. Tapi, tuntutan kondangan semakin hari semakin meningkat. Agenda yang sejatinya menjadi hari untuk merayakan cinta dua orang insan dan memberi doa bagi mereka, justru seperti menjadi ajang untuk saling berebut siapa duluan yang paling cepat bertanya "kapan nikah?". Alhasil, Anantha jadi malas menghadirinya.
Namun, kemunculan Dansiha secara tiba-tiba yang menantangnya untuk datang ke pesta pernikahan teman-teman mereka sebagai bukti bahwa Anantha sudah move on dan tidak punya lagi perasaan padanya, membuat Anantha berusaha memenuhi tantangan itu. Ia malas masih dikaitkan dengan Danisha yang sudah menjadi istri orang, tapi juga tidak mau ke kondangan sendirian. Jadi, ia nekat meminta pelayannya yang notabene adalah Sydney untuk menemaninya, juga berpura-pura menjadi pasangannya. Sydney, yang patah hati dan sudah lelah menjomblo selama 24 tahun, pun menerima tawaran tersebut. Setidaknya, walau pura-pura, ia bisa merasakan punya pacar dan diperhatikan itu seperti apa. Meskipun itu cuma sementara....
****
Buku ini mengusung tema yang sudah umum dalam setiap buku bertema percintaan. Pura-pura pacaran, pacaran kontrak dan sebagainya yang mirip. Tapi, disini, yang menjadi alasan bukan karena menolak perjodohan, tapi demi menghadiri kondangan. Anantha butuh wanita untuk menemaninya ke pesta pernikahan, jadilah Sydney yang menemaninya.
Buku ini lucu, romantis dengan caranya (walaupun dalam hal karakter Anantha bukan pria yang romantis), seru, lucu, kadang bikin emosi apalagi kalau sudah berkaitan dengan Rafka dan mulutnya yang nggak punya rem kalau men-judge orang, dan juga enteng. Mengapa enteng? Pembaca tidak digiring pada konflik yang rumit, buku ini hanya bercerita tentang perjalanan cinta Sydney dan juga Anantha. Tapi, perjalanan yang seru dan menyenangkan.
Tidak terlalu banyak kejutan, bahkan hampir tidak ada, secara garis besar sebelum perpisahan Sydeny dan Anantha, alurnya lumayan tertebak. Bab-bab solution-nya nggak terduga akan sesantuy itu, tidak drama, dan selow selow aja. Tapi, ceritanya tetap asik dan seru untuk dinikmati. Bukunya juga page turner, cocok untuk menemani di waktu senggang atau selepas pulang kerja. Bisa jadi bacaan hiburan yang menarik. Walaupun memang pada beberapa bagian, beberapa kesalahan penulisan ditemukan, kadang jadi kayak ketuker dan bingung ini yang ngomong siapa, ini maksudnya apa. But, that's ok, agak mengganggu, tapi tidak membuat kita jadi ingin berhenti membacanya.
Selasa, 17 Maret 2020
,
![]() |
| Sumber Foto: Koleksi Pribadi |
Judul Buku: A List of
Cages
Penulis: Robin Roe
Penerbit: Penerbit
Spring
Tahun Terbit: 2017
Penerjemah: Yudith
Listiandri
Penyunting: RoseMia
Penyelaras Akasara:
Mery Riansyah
Ilustrasi dan Sampul:
Junweise
Penata Sampul:
@teguhra
Cetakan Pertama:
Januari 2018
Tebal Buku: 372 hlmn;
20 cm
ISBN:
978-602-6682-12-3
Adam begitu gembira
bisa bertemu lagi dengan Julian saat bekerja sebagai pendamping psikolog
sekolah. Meskipun duduk diam bukanlah hal yang mudah bagi ADHD-nya, tapi Adam
tidak bisa mengeluh.
Awalnya, Julian
adalah anak yang seperti yang Adam kenal lima tahun lalu. Julian masih anak
yang ramah, masih suka menulis cerita, dan menyukai buku cerita bergambar untuk
anak-anak. Namun kemudian, Adam menyadari Julian menyembunyikan sesuatu.
Hanya saja, meskipun
Adam berniat untuk membantu, rahasia itu bisa saja membuat mereka kehilangan
nyawa….
****
Sebelum mengenal Adam, Julian
adalah anak yang bahagia. Keterbatasan yang dimilikinya tak pernah sedikit pun
menyurutkan kasih sayang kedua orangtuanya. Ayah Julian sangat sayang dan suka
menepuk-nepuk kepalanya sebelum tidur, Ibu Julian adalah seorang penyanyi
dengan suara paling indah bagi Julian. Namun, kepergian keduanya yang begitu
mendadak membuat Julian terpukul. Ia tidak menyangka, dua orang yang begitu
menyayanginya bisa meninggalkannya, tanpa siapa-siapa. Hidup Julian berubah drastis.
Ia jadi pendiam dan tidak bergairah melakukan hal apapun termasuk hal yang ia
sukai.
Beruntung, kehadiran Adam dan
Ibunya yang baik hati kembali menghidupkan
Julian. Meski masih dengan rindu dan luka menganga setelah kehilangan,
secara perlahan Julian kembali menemukan dunianya. Perlahan ia kembali ceria,
dan mulai kembali menulis buku cerita. Adam berperan sebagai kakak laki-laki
yang amat penyanyang, Ibu Adam adalah ibu angkat yang begitu perhatian. Namun
malang, seolah tak habis penderitaan karena kematian orangtuanya, keluarga baru
Julian kembali direnggut dari hidupnya. Kemunculan Russel yang mengaku sebagai
paman Julian, sekaligus sebagai orang yang paling berhak mengasuhnya telah
mengubah segalanya. Russel membawa Julian pergi dari rumah Adam, mengurungnya
di sebuah rumah besar mewah hampir tak berpenghuni dengan sederet peraturan
tidak normal juga perlakuan tidak normal lainnya.
Julian harus kembali melalui hari
penuh mimpi buruk. Mimpi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Cambukan,
makian, dan siksaan demi siksaan harus ia pendam demi mempertahankan hidupnya.
Julian kembali menjadi anak yang tidak bersemangat, sulit mengikuti pelajaran,
kesulitan dalam memahami banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Julian kehilangan
dirinya.
****
Sejak BAB pertama, sebagai
pembaca, saya sudah menduga bahwa buku ini akan mengarahkan kita kepada isu parenting, yang sudah banyak
diperbincangkan dalam buku lainnya, pun dalam beberapa contoh kasus yang
melibatkan anak di bawah umur di berbagai media. Hanya saja, ternyata, menonton
berita yang sepintas dikabarkan televisi, atau mendengarkan cerita yang beredar
di antara orang-orang, tidak sama dengan membaca dan membayangkannya.
Karena, selain sisi parenting, buku ini juga memuat cerita
tentang bagaimana kondisi lingkungan, pola asuh, dan kondisi psikologis seorang
anak dapat mempengaruhi hidup dan pertumbuhannya. Julian diceritakan sebagai
sosok yang memiliki kekurangan dalam sisi akademik dibandingkan anak normal
pada umumnya, yang diperparah dengan kesalahan pola asuh, yang berakibat pada
Julian yang tidak mengenali dirinya, dan tidak menganggap berarti dirinya
sendiri. Orang-orang yang normal adalah hal asing baginya. Bercanda dengan
teman sebaya, merupakan hal aneh. Memahami pelajaran yang seharusnya mudah
menjadi hal tersulit untuk ia lakukan.
Selain pola asuh, unsur
kekerasan, yang juga diikuti oleh kekerasan seksual yang dialaminya membuat ia
berubah menjadi sosok anak yang secara fisik pertumbuhannya abnormal, secara
psikologis pun demikian.
Buku ini menjadi semacam warning bagi para pembaca, khususnya
orangtua/wali agar senantiasa memperhatikan hal sekecil apapun perubahan yang
terjadi pada anak-anak atau lingkungan sekitarnya. Ketika ada anak usia remaja
pada umumnya senang ber-selfie ria, mulai
merasakan cinta monyet pada kakak kelasnya, suka jalan-jalan mencari tempat
yang bagus untuk update feed di Instagram,
menekuri hobi seperti membaca buku atau berolahraga, dan ada anak lain yang
tidak suka melakukan hal-hal di atas, lebih nyaman jika berjalan sendirian,
tidak suka ada di kerumunan, kesulitan menemukan teman kelompok belajar di
kelasnya – bukan berarti ia mengalami masalah pertumbuhan atau masalah
psikologis, tapi bukan berarti juga semuanya baik-baik saja. Perlu ada
perhatian lebih, perlu ada pendekatan berbeda, agar kita bisa benar-benar
menemukan dan memastikan bahwa segalanya betul-betul baik-baik saja seperti
kelihatannya.
Jumat, 05 Juli 2019
,
![]() |
| Koleksi Pribadi: Bahomotefe, 16 Juni 2019 |
Setelah libur lebaran selama kurang lebih 2 minggu di kampung halaman, tibalah saatnya u/ kembali di perantauan. Tanggal 16 Juni saya sudah harus tiba di Bahodopi karena sudah harus aktif kembali bekerja keesokan harinya.
Akhirnya, malam tgl 15 Juni menjelang tengah malam saya berangkat dari rumah menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi & tiba kurang lebih pukul 4 Pagi. Pesawat yg akan menerbangkan saya menuju Luwuk dijadwalkan berangkat pukul 6.10 Pagi setelah malam sebelumnya diundur menjadi pukul 7.10. Tdk apa-apa, menunggu sebentar sambil meluruskan badan, capek jug naik mobil 4 jam.
Namun, menjelang waktu Boarding dan take off bukan panggilan untuk naik ke pesawat yg saya dengar, melainkan "peswat tujuan Luwuk akan diberangkatkan pukul 10.10 karena kendala operasional". Dalam hati langsung berbisik "cobaan apa lagi ini Tuhan?" Pesawat delay 3 jam! Tapi, meski mengeluh ada sedikit rasa syukur juga. Bukan hanya 1 maskapai yang delay, semua pemberangkatan pukul 7.10 diundur menjadi jam 10 semua. Cuaca buruk. Dari Manado bisa terbang, tapi di kota tujuan tdk bisa landing.
Cuma, masalahnya, status penerbangan saya ke Luwuk bukan tujuan akhir, melainkan stopover 25 Menit lalu akan bergerak kembali menuju Palu u/ transit & kemudian terbang ke Morowali. Apakah ini sudah saatnya saya merasakan transit buru-buru lalu kejar-kejaran dgn pesawat?
Saya tegang! Melapor ke petugas bandara, katanya tidak apa-apa. Yasudahlah, istirahat 3 jam juga tdk apa-apa. Setidaknya walau tdk sesuai harapan, tetap ada kompensasi dari pihak maskapai sbg pertanggungjawaban atas keterlambatan penerbangan. Tapi ya, jengkel juga. Udah macem anak ilang di bandara. Style yg sudah saya usahakan se-fashionable mungkin berubah menjadi tergembel di seantero bandara 😐😑 Jd, sambil berdoa tdk ada delay kedua, Alhamdulillah pukul 10.10 panggilan boarding pun mengudara. Tapi, ada perasaan tdk enak ketika saya naik ke pesawat. Bau bahan bakar pesawat jenis ATR yg saya naiki tercium dgn sangat kuat begitu saya menaiki badan pesawat.
Memasuki badan pesawat, disambut oleh awak kabin yang ramah dan bersahabat; tersenyum, menanyakan boarding pass dan membantu menyimpan bagasi kabin, saya duduk di kursi samping jendela sambil mengipas-ngipas kepanasan. Tak hanya bau bahan bakar, AC dalam pesawat seperti tidak berfungsi. Padahal sudah saya setel ke batas maksimal paling dingin.
Saya tidak terlalu paham istilah-istilah dalam dunia penerbangan, tapi kalau saya curi dengar dari penumpang lain, pesawatnya belum ready tapi demi menghindari penggantian ganti rugi sejumlah uang atas keterlambatan penerbangan, penumpang sudah dinaikkan ke dalam pesawat😕. Tidak tahu itu betul atau tidak, tapi saya parno! Indonesia baru saja terkena musibah pesawat jatuh yang tidak menyisakan satu penumpang pun selamat beberapa bulan lalu. Masa ini pesawat belum ready kami sudah disuruh naik? Kan ngeri kalau ada kesalahan teknis tak terduga😣
Jadi, yang saya lakukan adalah pasrah pada Allah. Mengambil lembaran doa-doa di kantong kursi depan, saya berdoa semoga dilindungi selama perjalanan dan selamat sampai tujuan. "Bismillahi majreha wa mursaha." Akhirnya, pesawat take off, mengudara, dan Alhamdulillah kami sampai di Luwuk dengan selamat dan mendapat pemberitahuan dari awak kabin untuk tetap menunggu di dalam pesawat. Lalu, mesin pesawat kembali dimatikan, personel bandara kembali hilir mudik di lapangan dan sekitar pesawat yang saya tumpangi, baling-baling pesawat kembali berhenti, dan udara di dalam pesawat kembali ke posisi pengap😥. Kebetulan saat itu matahari di Luwuk sedang cerah cerianya, saya sampai berkeringat. Kondisi yang jarang saya temui apabila sedang dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang.
Tapi, selang 10 menit setelah pemberitahuan, awak kabin kembali mengumumkan kepada penumpang bahwa kami diminta untuk turun, melapor ke loket transit dan kembali menunggu di ruang tunggu😩
Yang benar saja. Kami akan ke Palu dengan pesawat yang sama, kenapa kami harus turun dan menunggu lagi? Beruntung ada satu ibu-ibu muda yang berani melancarkan protes ke awak kabin. "Penerbangan kami sudah delay lama, kenapa sekarang disuruh menunggu lagi?" Dan Alhamdulillah lagi, kami batal turun dan disuruh menunggu saja di pesawat. Tapi panas😅
Berselang 25 menit kemudian, beberapa penumpang lain ikut naik ke dalam pesawat. Kami pun kembali terbang menuju kota Palu.
Tiba di Palu, penumpang transit diminta untuk melapor ke bagian transit. Jadi, saya turun dari pesawat, tiba di gedung kedatangan domestik, ke pintu keluar, belok kanan menuju pintu keberangkatan, melewati petugas X-ray, melapor ke loket check-in, mendengar konfirmasi petugas dengan petugas bandara di lapangan, mendapat boarding pass baru dan diminta untuk langsung ke ruang tunggu lantai satu dan harus kembali naik ke pesawat sekarang. Ternyata pesawatnya sedang prepare to take-off😐
Akhirnya, saya harus lari-lari di lapangan terbang dipandu petugas bandara untuk mengejar pesawat dan harus mendapati fakta bahwa pesawat yang akan menerbangkan saya menuju Morowali adalah pesawat yang barusan mendarartkan saya di Palu😤
Kalau memang tidak harus ganti pesawat, kenapa tidak sejak awal boarding-pass saya diserahkan lengkap untuk penerbangan Manado-Palu, Palu-Morowali. Kasihan kan sayanya harus turun di bandara demi selembar boarding-pass dan lari-lari kayak orang kesurupan di tengah siraman sinar matahari yang sedang ganas-ganasnya. Tak pelak lagi, sesampainya di badan pesawat saya berkeringat heboh, diserang sakit kepala dan mual hebat. Saya baru ingat. Ini sudah setengah 2 siang dan saya sama sekali belum makan😑
Walau begitu, saya sedikit bersyukur juga transitnya tidak terlalu lama, tidak ada delay lagi, jadi saya bisa tiba di Morowali tidak terlalu sore dan bisa mengejar kapal dari Pelabuhan Bahomotefe ke Dermaga Bahodopi.
Hujan yg mengguyur pulau Sulawesi telah mengundang banjir & menyebabkan Akses darat ke Bahodopi putus diterjang banjir bandang. Jd, mau tidak mau, u/ kesana, harus naik kapal dari Pelabuhan Bungku, atau Pelabuhan Bahomotefe atau naik rakit u/ menyeberang dari desa Siumbatu ke desa Dampala. Dan pilihan pertama saya adlh Pelabuhan Bahomotefe. Naik kapal. Jangan bayangkan kapal besar atau kapal pesiar, melainkan kapal kayu a.k.a Katinting 😬
Perjalanan ini adlh perjalanan yg paling saya nantikan. Sudah lama tidak naik katinting. Terakhir kali mungkin sekitar tahun 2016 saat berwisata ke Pulau Saronde di Gorontalo Utara. Dan, rasanya menyenangkan menyambut waktu maghrib di atas permukaan laut. Matahari terbenam nampak amat megah & gagah, waktu itu. Saya tidk membayangkan bahwa penyeberangan kali ini akan memiliki rasa dan warna yang berbeda. Sepanjang perjalanan, saya dicekam ketakutan yg teramat sangat.
Ombak besar, kami menyeberangi lautan dengan perahu motor. Sepintas terbayang ke-2 orangtua Anna dan Elsa, pemeran utama dlm animasi Frozen yg tenggelam ditelan keganasan lautan. Mana sunsetnya? Mana hangat air laut & matahari yang berpadu jadi satu? Knp perjalanan kali ini ngeri sekali? 😣😩 Sepanjang perjalanan, saya genggam pinggiran perahu kuat -kuat. Jika perahu ini terbalik, maka selesai sudah. Saya tidak bisa berenang. Mungkin saja saya berakhir jadi kenangan. Tak terhitung berapa kali saya beristighfar menyebut nama Tuhan. "Astaghfirullahaldzim, Sesungguhnya tiada daya dan upayaku selain dgn pertolonganMu ya Allah." Begitulah manusia, secara otomatis ingat Tuhan jika sedang sdg kesempitan. Alhamdulillah, saat adzan maghrib berkumandang, saya tiba di Dermaga Bahodopi dgn selamat, disambut penduduk yg entah menunggu keluarga mereka datang atau sekedar menonton siapa yg baru pulang dari kampung halaman.
Tapi, ada satu pelajaran besar yang saya petik dari perjalanan ini. Bahwa dlm keadaan apapun, pertolongan Allah amatlah dekat, sedekat kematian.





















