DIARY LUSUH

Catatan harian yang semakin renta dan tua

Sabtu, 14 Juli 2018

,
Sumber Gambar
Judul: Tomorrow with You
Director: Yoo Je Won
Penulis: Heo Sung Hye
Stasiun Televisi: tvN
Jumlah Episode: 16
Tanggal Rilis: 3 Februari s/d 25 Maret 2017
Bahasa: Korea
Negara: Korea Selatan

Lee Je Hoon as Yoo So Joon
Sumber Gambar

Shin Min Ah as Song Ma Rin
Sumber Gambar

Baek Hyun Jin as Kim Young Jin
Sumber Gambar

Jo Han Chul as Doo Sik
Sumber Gambar

Kang Ki Dong as Kang Ki Dong
Sumber Gambar

Setelah kecelakaan kereta menuju Nampyeon yang menyebabkan kematian kedua orangtuanya, Yoo So Joon, secara tak terduga tiba-tiba saja bisa menjelajah waktu. Kecelakaan yang memakan banyak korban itu mengubah hidup dan cara hidupnya. Ia menjadi time traveller yang secara ajaib mendadak kaya, menjadi pengusaha besar dan muda di bidang real estate. Suatu hari, ketika menejelajah waktu ke tahun 2019 pada tanggal 25 Mei, ia secara tak terduga pula menyaksikan kematiannya sendiri. Kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dirinya bersama seorang gadis.

Mengikuti saran dari seorang time traveller lain yang selama ini sudah membantunya, Yoo So Joon pun mencari gadis itu. Ia harus mencari tahu penyebab kematiannya, kenapa ia harus mati secepat itu, dan kenapa ia mati di hari yang sama bersama si gadis. Dan ternyata, gadis itu adalah Song Ma Rin yang lebih banyak dikenal dengan nama Bap Soon. Song Ma Rin adalah mantan aktris cilik yang tidak sukses di masa dewasanya dan banyak mendapat gunjingan dari orang-orang.

Sementara itu, Song Ma Rin, justru merasa dikuntit ketika secara tiba-tiba ada pria tampan, sukses, dan kaya. menghampirinya dan mengajaknya minum kopi. Suatu anugerah sebenarnya, karena reputasinya yang jelek dan buruk di mata publik bisa membuatnya tiba-tiba ditaksir pria kaya. Tapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah, pria itu, Yoo So Joon tidak hanya berniat mengenalnya tapi juga ingin menikahinya.

Yang Ma Rin tidak tahu adalah So Joon sedang berusaha mengubah takdir mereka berdua.

****

Drama ini mengusung tema yang sudah tidak asing, banyak ditemukan dalam film ataupun novel tapi tetap tidak membosankan dan selalu menuai rasa penasaran. Tapi, jujur saja, awalnya saya sempat kurang menikmati, karena nggak mengerti materi apa yang hendak disampaikan.

Jadi, Yoo Jun yang jalan-jalan ke "dunia lain" (masa depan) secara tidak sengaja melihat adegan kematiannya bersama seorang gadis tidak dikenal. Mengikuti saran dari seorang teman yang time traveller juga, ia akhirnya mencari si gadis yang ternyata adalah Bap Soon, salah satu aktris cilik Korea Selatan yang sayangnya kurang beruntung di masa dewasanya. Song Ma Rin, nama asli gadis itu, hanyalah seorang fotografer biasa yang tidak dikenal oleh karyanya, melainkan oleh masa lalunya sebagai Bap Soon.

Alur drama ini bikin otak saya agak belibet biar bisa mengerti. Dan cukup lama waktu yang dibutuhkan buat bisa mengerti, tapi karena kenggangmengertian itu saya bertahan buat nonton, karena merasa pasti ada sesuatu yang menarik. Benar saja, di pertengahan saya mulai suka, apalagi ketika memasuki masa-masa pernikahan So Joon dan Ma Rin. Dedek baper astagaa haha. Agak susah sebenarnya buat menjelaskan, tapi bagi yang penasaran, aku rekomen drama ini. Buat pencinta cerita fantasi, drama ini bagus banget. Salah satu pesan yang melekat banget adalah tentang menghargai masa sekarang, saat ini, apa yang kita miliki. Karena masa lalu udah telanjut terjadi dan masa depan adalah hal yang masih misteri, kita hanya punya saat ini, hanya punya orang-orang yang ada di hidup kita kini. Menghargainya selagi masih ada adalah hal yang paling benar untuk dilakukan, dan mengintip masa depan hanya akan membuat kita kelelahan.

Segala sesuatu memang akan terasa indah bila terjadi seperti yang kita inginkan. Tapi, keindahannya sebenarnya hanya sebatas dalam alam pikiran. Skenario Tuhan adalah yang terbaik. Memilih di antara alternatif pilihan yang Dia sodorkan, adalah cara terbaik dalam menjalani kehidupan.

Rabu, 02 Mei 2018

,
Sumber Gambar
Judul Buku: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret, 2011
Tebal Buku: 256 hlmn; 20 cm
ISBN: 978-979-22-6769-3
Rating:

Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber bagi kebanggaan orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam setiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.

Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.

Pokoknya, 86!

****
Yang pertama terlintas dalam kepala saya ketika membaca buku ini adalah impian para petani terhadap anak-anaknya apabila telah besar nanti. Harapan seorang Ayah dan seorang Ibu yang mengingingkan kehidupan dan pekerjaan yang lebih menjamin bagi penerusnya. Di kampung saya, dulu - entah sekarang masih atau tidak, menjadi pegawai negeri adalah atau minimal bekerja di instansi milik pemerintahan adalah impian setiap orangtua yang mayoritasnya adalah petani. Bayangan menerima gaji setiap bulan dan mendapat jaminan di hari tua menjadi kebangaan tersendiri. Itu juga yang dialami Arimbi. Sayangnya, menjadi juru ketik di pengadilan tidak mampu memberikan jaminan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Suatu hari, Arimbi mendapat permintaan untuk mengetik putusan sidang oleh seorang pengacara. Padahal, sidangnya baru berlangsung beberapa lama, bahkan ada banyak tumpukan putusan sidang yang sudah memasuki hitungan tahun belum diketik juga. Namun, ternyata hal seperti itu bisa terjadi. Ada putusan yang bisa cepat keluar bahkan jika sidangnya baru saja selesai dilangsungkan, ada yang belum bisa diketik meski sudah bertahun-tahun putusannya dikeluarkan. 86! Inilah yang memudahkan semuanya.

Jujur saja, istilah 86 ini baru saya ketahui setelah membaca buku ini. Bahwa kita sudah tahu sama tahu, paham sama paham, asal ada uang. Segalanya bisa berjalan mulus dengan bantuan dan performa uang. Dan, hal ini menjadi sesuatu yang baru bagi Arimbi, tapi ternyata banyak memberinya kemudahan. Dengan 86 segala masalah mampu terselesaikan, salah satunya adalah mencukupi kebutuhan Arimbi. Arimbi mencicipi pun dunia baru. Berdua suaminya, Ananta, mereka melakukan praktik yang memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka berdua.

****

Buku ini adalah buku yang blak-blakan membahas praktik korup yang banyak terjadi di Indonesia. Dimulai dari lingkup pengadilan negeri, penulis memaparkan secara gamblang dan jelas hal-hal yang dapat dipermudah jalannya dengan bantuan uang. Mulai dari ketikkan putusan sidang, hingga putusan apa yang akan keluar setelah sebuah sidang digelar. Sogok menyogok, praktik suap, dibeberkan sebagai sesuatu yang mampu membeli hukum dan keadilan.

Selanjutnya, meski dilakukan tindakan terhadap suatu kejahatan atau pelanggaran hukum yang dilakukan, penulis kembali membeberkan bahwa tidak hanya di pengadilan, di dalam jeruji besi pun praktik ini masih tetap berlangsung. Mulai dari kamar sel mewah bak hotel yang bisa didapatkan asal banyak uang, hingga pengedaran narkoba yang justru menjadi paling aman ketika dilakukan di dalam tahanan. Pokoknya, 86!

Sebagai seorang pembaca yang tidak banyak paham atau mengikuti perkembangan berita dengan kasus seperti ini, saya jujur saja jadi prihatin. Buku ini seolah televisi yang menyajikan secara nyata kejahatan dan praktik-praktik melanggar hukum yang ternyata juga banyak mendapat sokongan dari pihak-pihak yang semestinya menjadi penegak hukum itu sendiri. Buku ini seolah mengatakan bahwa di Indonesia apa saja bisa dibeli dengan uang, termasuk harga diri dan kehormatan. Uang mampu memperbudak siapa saja, bahkan mereka-mereka yang paling dipercaya.

Buku ini wajib dibaca siapa saja, terutama para anak muda. Tidak hanya menjadi gambaran fakta, buku ini juga bisa menjadi sebentuk nasehat bagi kita semua bahwa keserakahan, apapun alasannya, dapat menjerumuskan kita.

Selasa, 01 Mei 2018

,
Sumber Gambar
Judul: Strong Woman Do Bong Soon
Genre: Fantasy, Thriller, Action, Romantic Comedy
Ditulis Oleh: Baek Mi-kyung
Negara: Korea Selatan
Bahasa: Korea
Jumlah Episode: 16
Eksekutif Produser: Song Won-sub, Park In-sun
Produser: Park Jun-seo, Lee Jin-suk, Park Ji-an, Ra Sung-shik
Sinematografi: Moon Se-hong, Lee Min-jin
Editor: Oh Dong-hee
Rumah Produksi: Drama House, JS Pictures
Stasiun TV: JTBC
Rilis: 24 Februari - 15 April 2017
Pemeran:

Park Bo Young as Do Bong Soon
Sumber Gambar

Park Hyung Shik as Ahn Min Hyuk
Sumber Gambar

Ji Soo as In Guk Doo
Sumber Gambar

Strong Woman Do Bong Soon adalah drama yang menceritakan tentang seorang gadis bernama Do Bong Soon yang memiliki kekuatan khusus/kekuatan super. Kekuatan ini sudah diturunkan oleh nenek moyangnya sejak dulu pada setiap putri atau anak perempuan di keluarga mereka. Bong Soon, dalam hal ini adalah penerus dari ibunya yang telah kehilangan kekuatan supernya karena mempergunakannya untuk hal yang tidak baik.

Suatu hari, Do Bong Soon tidak sengaja melihat adegan kekerasan yang dilakukan oleh anggota geng/preman terhadap sopir bus sekolah. Mengikuti naluri dan kekuatan yang dimiliki, Bong Soon yang berniat menolong sang sopir berakhir menghajar para preman tersebut hingga cedera parah. Namun, pertempuran itu tidak terjadi secara rahasia. Ada saksi yang  melihat langsung aksi Bong Soon, wanita mungil dengan kekuatan luar biasa yang mampu menghajar para preman habis-habisan dengan tangan kosong.

Ahn Min Hyuk tidak akan percaya jika bukan mata kepalanya sendiri yang menyaksikan kehebatan Do Bong Soon. Ia yang merupakan presdir sekaligus pemilik perusahaan game terkenal Ainsoft dan sedang diteror oleh haters pun saat itu kebetulan sedang mencari pengawal pribadi yang bisa melindunginya dari serangan-serangan tidak terduga. Ia pun langsung menargetkan dan meminta sekretaris pribadinya untuk merekrut Do Boong Soon.

Bukan termasuk dalam jajaran orang pintar di sekolah, Bong Soon sangat sulit mendapat pekerjaan. Berbanding terbalik dengan Do Bong Ki, adik kembarnya yang telah sukses menjadi dokter spesialis ortopedi. Karena kebutuhan akan pekerjaan juga bonus yang ditawarkan, Bong Soon pun menerima tawaran untuk menjadi pengawal pribadi presdir Ahn Min Hyuk.

****

Sebenarnya, saya nonton drama ini itu nggak sengaja. Waktu itu saya niatnya mau nonton drama Tomorrow with You yang dibintangi Shin Min Ah. Tapi, ternyata, di dalam folder drama tersebut di komputer, ada episode pertama drama Strong Woman Do Bong Soon yang terselip dan telanjur ditonton dan ternyata asyik dan seru dan ternyata langsung bikin nagih. Akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya hingga tuntas. Padahal, waktu drama ini tayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia, saya sama sekali nggak tertarik buat nonton. Cuma lewat begitu aja tanpa pernah saya coba nikmati dan pahami ceritanya. Bahkan, meski drama ini masuk dalam jajaran drama Korea wajib tonton nomor 1 di salah satu blog rekomendasi drama Korea, saya sama sekali nggak minat. Karena ide ceritanya sama sekali nggak bikin saya tertarik. Eh ternyata malah suka banget bahkan sejak episode 1-nya. Don't judge the book by its cover benar-benar terbukti ternyata :v

Ide cerita, drama ini nggak masuk akal. Masa iya ada cewek pendek, kecil, mungil, kurus banget bisa punya kekuatan super. Dimana-mana kalau ada cerita dengan ide superhero seperti ini minimal pasti laki-laki dengan tubuh kekar dan berotot. Bahkan di Spiderman aja Peter Parker yang cungkring berubah jadi cowok dengan tubuh macho. Tapi, justru karena ide yang nggak masuk akal inilah dramanya bisa asyik banget untuk dinikmati.

Kemudian, yang namanya drama Korea, pasti ada bumbu romansanya. Bisa ditebak antara siapa dan siapa, tapi yang jadi pembeda adalah Ahn Min Hyuk adalah keturunan bangsawan yang berhasil mendirikan perusahaan sendiri dan sama sekali tidak memiliki aura atau pesona presiden direktur pada umumnya yang dimiliki beberapa drama Korea lainnya. Ahn Min Hyuk adalah Oppa lebay nan alay yang juga narsisnya ampun-ampunan. Tapi, karena pasangannya Bong Soon yang imut dan menggemaskan, perpaduan mereka jadi lucu dan manis banget. Sebenarnya karakternya sesuai sih sama ide cerita Min Hyuk yang merupakan gamer sekaligus pemilik perusahaan game terkenal. Orangnya nyeleneh dan seolah nggak bisa serius karena hobinya main terus.

Selanjutnya, seperti yang kita tahu, drama Korea biasanya memfokuskan ide cerita pada sesuatu yang khusus. Kalau di drama ini, kita akan menemukan perpaduan konflik atau multiple konflik. Konflik pertama adalah Do Bong Soon dengan para geng preman yang dibuatnya babak belur hingga ingin balas dendam, kedua adalah Ahn Min Hyuk dan penguntitnya, ketiga adalah kasus penculikan berantai yang terjadi di lingkungan tempat tinggal Do Bong Soon. Walau memang tujuannya sama, untuk membuat Bong Soon lebih bisa menerima kelebihannya tanpa harus merasa terbebani.

Sebenarnya, ada satu bagian yang tidak selesai sih. Masalah Ahn Min Hyuk dengan kelaurganya. Meskipun siapa peneror dan penguntitnya selama ini bisa ditemukan dengan mudah, tidak ada penyelesaian apakah pada akhirnya ia menerima warisan Ayahnya untuk menjadi penerus perusahaan keluarga dan menggabungkannya dengan Ainsoft seperti idenya semula saat makan malam dengan saudara-saudaranya atau tidak. Tapi itu nggak terlalu bermasalah sih karena drama ini lebih ke komedi dan mulai pertengahan hingga akhir lebih fokus pada kasus penculikan berantai, hal itu jadi nggak terasa aneh. Kemudian episode penangkapan Kim Jang Hyuk juga agak nggak masuk akal dan terkesan gimana gitu drama ini tetap seru banget. Sepanjang nonton saya nggak hanya dibuat ngakak tapi juga dibuat mesem-mesem manja. Gaya pacarannya Bong Soon dan Min Hyuk manis dan lucu banget. Apalagi Min Hyuk-nya alay dan Bong Soon-nya imut.

Secara keseluruhan kesimpulan saya adalah, drama komedi romantis emang tontonan yang selalu menyegarkan.






Senin, 23 April 2018

,
Judul Buku: Mengungkit Pembunuhan – Five Little Pigs
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono W.
Sampul: Staven Andersen
Terbit: Desember 1987
Cetakan Keempat: April 1992
Cetakan Kelima: Agustus 2005
Cetakan Keenam: April 2013
Tebal Buku: 376 hlmn; 18 cm
ISBN: 978-979-22-8365-5
Rating


Hasrat Amyas Crale pada lukisan dan wanita membuat namanya terkenal. Namun pembunuhan atas dirinya membuat namanya tercemar. Enam belas tahun kemudian istrinya yang cemburu dituduh dan dijatuhi hukuman seumur hidup karena pembunuhan yang menggemparkan. Kini Carla, putri mereka, wanita muda yang yakin ibunya tidak bersalah, menghadapkan Hercule Poirot pada tantangan yang menggoda: memulihkan nama baik ibunya dengan kembali ke tempat terjadinya pembunuhan dan mencari kekurangan fatal pada kejahatan yang sempurna itu.

****

Agatha Christie adalah novelis yang amat terkenal. Karyanya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Novelnya diiodalakan banyak orang, bahkan setelah kematiannya, masih banyak penggemarnya dari kalangan anak muda. Saya, saying sekali adalah salah satu penikmat buku yang tidak mengenal Agatha Christie ‘dengan baik’. Saya hanya tahu namanya, itu pun awalnya sempat tertukar dengan novelis Indonesia, Santi Agatha – penulis roman dewasa. Jujur saja, saya  dulu nggak tahu kalau Agatha Christie bukan penulis milik Indonesia.

Saya mulai mengenal namanya dari grup kepenulisan yang saya ikuti di WhatsApp dan salah satu member adalah penggemar sejatinya. Jadi, kemarin, saya mencoba untuk membaca buku ini – tujuannya biar nggak kuper kuper amat. Karena saya nggak tahu buku pertamanya berjudul apa, saya asal comot saja yang ada. Dan kayaknya, buku ini adalah seperti buku serial Dan Brown, Hercule Poirot bisa dipastikan adalah tokoh utama dalam beberapa buku karya Agatha.

Buku ini menggunakan alur mundur. Bab satu dibuka dengan Carla yang meminta Hercule Poirot untuk menyelidiki kembali kasus kematian Ayahnya – Amyas Crale, yang dibunuh oleh ibunya enam belas tahun lalu. Carla akan segera menikah dengan pria yang dicintainya, namun masa lalu kelam pada keluarganya dan citra pembunuh yang melekat pada almarhumah ibunya membuat pernikahan itu terhambat. Dan, Carla ingin membuktikan bahwa Caroline Crale sama sekali tidak membunuh Amyas Crale.

Perjalanan Poirot pun dimulai. Yang menarik dari cerita ini adalah, Poirot adalah jenis detektif – kalau bisa dibilang begitu, yang tidak hanya bertolak ukur pada bukti fisik dalam penyelidikannya, seperti yang dilakukan pihak kepolisian dan pengadilan. Ada unsur lain yang ia gunakan sebagai bahan pertimbangan, ranah yang biasanya tidak disentuh dalam proses penyelidikan suatu kasus; sisi psikologis orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut, dalam hal ini pembunuhan Amyas Crale. Oleh karena itu, Poirot pun menemui beberapa orang untuk ditanyai dan dimintai keterangan seperti Philip Blake yang merupakan sahabat Amyas, Meredith Blake – kakak Philip yang juga sudah seperti keluarga bagi Amyas, Angela Warren – adik kandung Caroline Crale, Cecilia Williams yang bertindak sebagai pengasuh Angela, dan Lady Dittisham atau yang dulunya dikenal sebagai Elsa Grear yang merupakan wanita pemicu keretakan hubungan Amyas dan Caroline. Masing-masing dari mereka diminta untuk menceritakan kembali hal-hal yang mereka ingat terkait peristiwa/kejadian di mana Amyas Crale terbunuh. Dan, poin paling menariknya adalah, pertemuan dengan lima orang tersebut dipisahkan ke dalam bab yang berbeda, deengan julukan yang berbeda pula yang digunakan sebagai judul babnya. Dan, saya jadi paham kenapa bukunya diberi judul Five Little Pigs.

Selanjutnya, setelah pertemuan tersebut, Amyas meminta kelima orang ini untuk menuliskan kembali risalah tentang kejadian itu, sejauh yang dapat mereka ingat, kemudian membandingkan setiap risalah yang ada. Jadi, kasus pembunuhan Amyas Crale diselidiki ulang lewat rekonstruksi kejadian yang disajikan dalam bentuk cerita dan ingatan-ingatan orang-orang yang bersangkutan.

Sampai pada pemahaman ini, saya menyimpulkan bahwa bukunya nggak hanya menarik, tapi juga cerdas. Kalau dibandingkan zaman sekarang, prosedur penyelidikan mungkin sudah lebih canggih dan maju, tapi dalam beberapa kasus, bukti fisik memang selalu jadi yang terdepan dalam mengungkapkan betul/tidaknya seseorang melakukan tindak kejahatan. Buku ini menilai sisi psikologisnya, jadi beda nggak kayak cerita detektif lain, dan menarik banget. Asik! Seru! Suka!

Benang merah yang ditemukan dan digunakan Poirot dalam menarik kesimpulan sangatlah masuk akal. Nggak ada istilah plothole atau hal yang membuat pembaca bingung akan eksekusi dan kesimpulan yang ada. Keren banget sih. Memang, sejak tahu metode penyelidikan yang akan digunakan Poirot itu seperti apa, saya udah bisa menduga bahwa akan ada perbedaan dalam setiap cerita, atau minimal kejanggalan, atau sesuatu yang tidak kita temukan di cerita lain tapi ada di 4 cerita atau sebaliknya, jadi selama baca saya juga focus untuk menemukan itu dan mencari pemandingnya. Sayangnya nggak berhasil. Tingkat ketelitian saya ternyata masih cukup rendah haha.
Overall, saya suka banget sama ceritanya. Keren dan bikin penasaran untuk baca kisah yang lainnya.
x