Catatan harian yang semakin renta dan tua

Jumat, 05 Juli 2019

,
Koleksi Pribadi: Bahomotefe, 16 Juni 2019




Setelah libur lebaran selama kurang lebih 2 minggu di kampung halaman, tibalah saatnya u/ kembali di perantauan. Tanggal 16 Juni saya sudah harus tiba di Bahodopi karena sudah harus aktif kembali bekerja keesokan harinya.



Akhirnya, malam tgl 15 Juni menjelang tengah malam saya berangkat dari rumah menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi & tiba kurang lebih pukul 4 Pagi. Pesawat yg akan menerbangkan saya menuju Luwuk dijadwalkan berangkat pukul 6.10 Pagi setelah malam sebelumnya diundur menjadi pukul 7.10. Tdk apa-apa, menunggu sebentar sambil meluruskan badan, capek jug naik mobil 4 jam.



Namun, menjelang waktu Boarding dan take off bukan panggilan untuk naik ke pesawat yg saya dengar, melainkan "peswat tujuan Luwuk akan diberangkatkan pukul 10.10 karena kendala operasional". Dalam hati langsung berbisik "cobaan apa lagi ini Tuhan?" Pesawat delay 3 jam! Tapi, meski mengeluh ada sedikit rasa syukur juga. Bukan hanya 1 maskapai yang delay, semua pemberangkatan pukul 7.10 diundur menjadi jam 10 semua. Cuaca buruk. Dari Manado bisa terbang, tapi di kota tujuan tdk bisa landing.



Cuma, masalahnya, status penerbangan saya ke Luwuk bukan tujuan akhir, melainkan stopover 25 Menit lalu akan bergerak kembali menuju Palu u/ transit & kemudian terbang ke Morowali. Apakah ini sudah saatnya saya merasakan transit buru-buru lalu kejar-kejaran dgn pesawat?



Saya tegang! Melapor ke petugas bandara, katanya tidak apa-apa. Yasudahlah, istirahat 3 jam juga tdk apa-apa. Setidaknya walau tdk sesuai harapan, tetap ada kompensasi dari pihak maskapai sbg pertanggungjawaban atas keterlambatan penerbangan. Tapi ya, jengkel juga. Udah macem anak ilang di bandara. Style yg sudah saya usahakan se-fashionable mungkin berubah menjadi tergembel di seantero bandara 😐😑 Jd, sambil berdoa tdk ada delay kedua, Alhamdulillah pukul 10.10 panggilan boarding pun mengudara. Tapi, ada perasaan tdk enak ketika saya naik ke pesawat. Bau bahan bakar pesawat jenis ATR yg saya naiki tercium dgn sangat kuat begitu saya menaiki badan pesawat.



Memasuki badan pesawat, disambut oleh awak kabin yang ramah dan bersahabat; tersenyum, menanyakan boarding pass dan membantu menyimpan bagasi kabin, saya duduk di kursi samping jendela sambil mengipas-ngipas kepanasan. Tak hanya bau bahan bakar, AC dalam pesawat seperti tidak berfungsi. Padahal sudah saya setel ke batas maksimal paling dingin.


Saya tidak terlalu paham istilah-istilah dalam dunia penerbangan, tapi kalau saya curi dengar dari penumpang lain, pesawatnya belum ready tapi demi menghindari penggantian ganti rugi sejumlah uang atas keterlambatan penerbangan, penumpang sudah dinaikkan ke dalam pesawat😕. Tidak tahu itu betul atau tidak, tapi saya parno! Indonesia baru saja terkena musibah pesawat jatuh yang tidak menyisakan satu penumpang pun selamat beberapa bulan lalu. Masa ini pesawat belum ready kami sudah disuruh naik? Kan ngeri kalau ada kesalahan teknis tak terduga😣



Jadi, yang saya lakukan adalah pasrah pada Allah. Mengambil lembaran doa-doa di kantong kursi depan, saya berdoa semoga dilindungi selama perjalanan dan selamat sampai tujuan. "Bismillahi majreha wa mursaha." Akhirnya, pesawat take off, mengudara, dan Alhamdulillah kami sampai di Luwuk dengan selamat dan mendapat pemberitahuan dari awak kabin untuk tetap menunggu di dalam pesawat. Lalu, mesin pesawat kembali dimatikan, personel bandara kembali hilir mudik di lapangan dan sekitar pesawat yang saya tumpangi, baling-baling pesawat kembali berhenti, dan udara di dalam pesawat kembali ke posisi pengap😥. Kebetulan saat itu matahari di Luwuk sedang cerah cerianya, saya sampai berkeringat. Kondisi yang jarang saya temui apabila sedang dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang.



Tapi, selang 10 menit setelah pemberitahuan, awak kabin kembali mengumumkan kepada penumpang bahwa kami diminta untuk turun, melapor ke loket transit dan kembali menunggu di ruang tunggu😩



Yang benar saja. Kami akan ke Palu dengan pesawat yang sama, kenapa kami harus turun dan menunggu lagi? Beruntung ada satu ibu-ibu muda yang berani melancarkan protes ke awak kabin. "Penerbangan kami sudah delay lama, kenapa sekarang disuruh menunggu lagi?" Dan Alhamdulillah lagi, kami batal turun dan disuruh menunggu saja di pesawat. Tapi panas😅


Berselang 25 menit kemudian, beberapa penumpang lain ikut naik ke dalam pesawat. Kami pun kembali terbang menuju kota Palu.
Tiba di Palu, penumpang transit diminta untuk melapor ke bagian transit. Jadi, saya turun dari pesawat, tiba di gedung kedatangan domestik, ke pintu keluar, belok kanan menuju pintu keberangkatan, melewati petugas X-ray, melapor ke loket check-in, mendengar konfirmasi petugas dengan petugas bandara di lapangan, mendapat boarding pass baru dan diminta untuk langsung ke ruang tunggu lantai satu dan harus kembali naik ke pesawat sekarang. Ternyata pesawatnya sedang prepare to take-off😐



Akhirnya, saya harus lari-lari di lapangan terbang dipandu petugas bandara untuk mengejar pesawat dan harus mendapati fakta bahwa pesawat yang akan menerbangkan saya menuju Morowali adalah pesawat yang barusan mendarartkan saya di Palu😤



Kalau memang tidak harus ganti pesawat, kenapa tidak sejak awal boarding-pass saya diserahkan lengkap untuk penerbangan Manado-Palu, Palu-Morowali. Kasihan kan sayanya harus turun di bandara demi selembar boarding-pass dan lari-lari kayak orang kesurupan di tengah siraman sinar matahari yang sedang ganas-ganasnya. Tak pelak lagi, sesampainya di badan pesawat saya berkeringat heboh, diserang sakit kepala dan mual hebat. Saya baru ingat. Ini sudah setengah 2 siang dan saya sama sekali belum makan😑



Walau begitu, saya sedikit bersyukur juga transitnya tidak terlalu lama, tidak ada delay lagi, jadi saya bisa tiba di Morowali tidak terlalu sore dan bisa mengejar kapal dari Pelabuhan Bahomotefe ke Dermaga Bahodopi.



Hujan yg mengguyur pulau Sulawesi telah mengundang banjir & menyebabkan Akses darat ke Bahodopi putus diterjang banjir bandang. Jd, mau tidak mau, u/ kesana, harus naik kapal dari Pelabuhan Bungku, atau Pelabuhan Bahomotefe atau naik rakit u/ menyeberang dari desa Siumbatu ke desa Dampala. Dan pilihan pertama saya adlh Pelabuhan Bahomotefe. Naik kapal. Jangan bayangkan kapal besar atau kapal pesiar, melainkan kapal kayu a.k.a Katinting 😬


Perjalanan ini adlh perjalanan yg paling saya nantikan. Sudah lama tidak naik katinting. Terakhir kali mungkin sekitar tahun 2016 saat berwisata ke Pulau Saronde di Gorontalo Utara. Dan, rasanya menyenangkan menyambut waktu maghrib di atas permukaan laut. Matahari terbenam nampak amat megah & gagah, waktu itu. Saya tidk membayangkan bahwa penyeberangan kali ini akan memiliki rasa dan warna yang berbeda. Sepanjang perjalanan, saya dicekam ketakutan yg teramat sangat.



Ombak besar, kami menyeberangi lautan dengan perahu motor. Sepintas terbayang ke-2 orangtua Anna dan Elsa, pemeran utama dlm animasi Frozen yg tenggelam ditelan keganasan lautan. Mana sunsetnya? Mana hangat air laut & matahari yang berpadu jadi satu? Knp perjalanan kali ini ngeri sekali? 😣😩 Sepanjang perjalanan, saya genggam pinggiran perahu kuat -kuat. Jika perahu ini terbalik, maka selesai sudah. Saya tidak bisa berenang. Mungkin saja saya berakhir jadi kenangan. Tak terhitung berapa kali saya beristighfar menyebut nama Tuhan. "Astaghfirullahaldzim, Sesungguhnya tiada daya dan upayaku selain dgn pertolonganMu ya Allah." Begitulah manusia, secara otomatis ingat Tuhan jika sedang sdg kesempitan. Alhamdulillah, saat adzan maghrib berkumandang, saya tiba di Dermaga Bahodopi dgn selamat, disambut penduduk yg entah menunggu keluarga mereka datang atau sekedar menonton siapa yg baru pulang dari kampung halaman.



Tapi, ada satu pelajaran besar yang saya petik dari perjalanan ini. Bahwa dlm keadaan apapun, pertolongan Allah amatlah dekat, sedekat kematian.

Selasa, 18 Juni 2019

,
Koleksi Pribadi: Palu, 16 Juni 2019


Setelah memutuskan untuk mengadu nasib di pedalaman, mudik lebaran selalu menjadi bonus paling indah tiap tahunnya. Alhamdulillah tahun ini saya bisa pulang lebaran dan berkumpul bersama keluarga. Tapi ada drama di dalamnya. Drama yang sempat membuat saya berpikir mungkin ini adalah pertanda bahwa saya sebenarnya belum diizinkan mudik sama Allah.

Pada tanggal 13 Mei, kira-kira 2 minggu sebelum lebaran saya sudah booking tiket penerbangan domestik di salah satu maskapai milik Indonesia. Tapi, ada kendala. Setelah proses pembayaran selesai, tiketnya gagal atau tidak sukses masuk dan saya diminta untuk mengajukan permohonan refund. Seminggu kemudian, karena takut nggak kebagian/kehabisan tiket saya meminta tolong kepada @ndynita94untuk memesankan tiket dengan rute penerbangan yang sama seperti yang saya pesan sebelumnya, di maskapai yang sama pula. Alhamdulillah tiketnya berhasil masik

Tapi, drama lain kembali terjadi satu hari sebelum keberangkatan saya ke kampung halaman. Malam harinya, saya dan teman-teman seperjuangan berencana untuk melakukan perjalanan Morowali-Kendari untuk mengejar pesawat pagi. Rencananya kami akan berangkat pukul 9 malam dan akam tiba pukul 5 Pagi di Kendari. Tapi, satu berita menegangkan muncul. Jalan Trans Sulawesi yang akan kami lewati terendam banjir akibat hujan berturut-turut selama kurang lebih 2 minggu terakhir. Beberapa daerah lain juga longsor. Tidak bisa lewat. Kami harus secepatnya reschedule penerbangan. 
Tegang! Lebaran tinggal 2 hari, tapi saya terancam tidak bisa pulang. Ditambah saat itu jaringan internet maupun telepon di daerah saya tinggal sedang jelek. Jadi, sambil hujan-hujanan naik motor, saya harus menenteng bagasi kabin demi mencari jaringan dan koordinasi dengan teman-teman senasib seperjuangan yang sama seperti saya sepertinya akan batal mudik lebaran.

Setelah tersambung dengan pihak maskapai dan menjelaskan alasan, saya meminta untuk pindah bandara saja. Sebenarnya di Morowali ada bandara, cuma akses kendaraan ke sana cukup sulit. Tidak seperti ke Kendari yang iya jauh tapi tiap hari pasti ada mobil kesana. Dan ternyata tidak bisa. Pihak maskapai hanya bisa memberi fasilitas reschedule, tidak bisa pindah bandara. Tapi, karena jalanan tidak bisa dilewati sama sekali ke Kendari dan lebaran tinggal 2 hari lagi, tidak ada pilihan saya harus refund kembali tiket (padahal tiket sebelumnya proses refund-nya juga masih "akan ditindaklanjuti setelah cuti bersama lebaran") atau merelakannya hangus. Dan proses refund kedua yang memakan waktu beberapa menit untuk koordinasi dengan pihak maskapai juga pihak agen (karena belinya via agen ticketing online) berakhir pada putusan final untuk diikhlaskan saja dan dianggap sedekah 😁

Dengan bantuan salah satu teman di tempat kerja, saya kembali pesat tiket pesawat dengan tujuan yang sama namun rute yang berbeda. Alhamdulillah, berangkat pagi ke Bandara Morowali ba'da subuh, tiba pukul setengah sembilan pagi yang kembali diuji dengan delay satu jam; pesawat dijadwalkan take off 9.30 tapi harus diundur ke 10.30, stopover 25 menit di Luwuk, transit kurang lebih 3 jam di Palu, saya tiba di Manado pukul 18.40 ba'da maghrib dan tiba di rumah pukul 1 pagi keesokan harinya karena terhalang macet dan halangan lainnya. 
Bersyukur sekali, walaupun dengan berbagai ujian dan cobaan, halangan dan rintangan, saya bisa berlebaran di kampung halaman. Bertemu keluarga, saudara dan tetangga yang sudah lama tak jumpa.

Tapi, ternyata masih ada ujian lain yang menunggu saat tibanya kembali ke realita. Sama seperti arus mudik, arus balik tahun ini juga tak kalah luar biasanya 😆

Bersambung ke cerita ARUS BALIK

Senin, 11 Februari 2019

,
Sumber Foto
Judul: Witch at Court
Genre: Drama Hukum
Pembuat: KBS Drama Production
Negara: Korea Selatan
Bahasa: Korea
Produser Eksekutif: Ji Byung-hyun, Kim Jong-shik, Song Jae-joon
Produser: Choi Jun-ho, Seo Byung-chul
Kamera: Single-camera
Durasi: 60 menit per episode
Rumah Produksi: iWill Media
Distributor: Korean Broadcasting System
Jaringan Penyiar: KBS2
Tanggal Rilis: 9 Oktober 2017
Pemain:

Jung Ryeo-won as Ma Yi-deum (Sumber Foto)



Yoon Hyun-min as Yeo Jin-wook (Sumber Foto)
Setelah dinyatakan bebas dari tuduhan kekerasa seksual yang dilakukan Cho Gap Soo, Kwak Young Shil sebagai salah satu korban yang menyimpan bukti kejahatan laki-laki itu pun menghubungi Min Ji Sook, jaksa yang menangani kasus tersebut. Ia hendak memberikan satu-satunya bukti kuat yang dapat membuat Cho Gap Soo terjerat hukum tindak pidana. Namun sayang, pertemuan tersebut tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Kwak Young Shil menghilang sebelum sempat bertemu Min Ji Sook dan Cho Gap Soo dapat menjalankan hidupnya dengan normal lalu 20 tahun kemudian hendak mencalonkan diri sebagai calon walikota Youngpal.

Sementara itu, setelah sekian lama melakukan pencarian terhadap ibunya namun tidak membuahkan hasil, Ma Yi Deum, putri Kwak Young Shil memutuskan untuk menjadi jaksa. Perjalanan karier Ma Yi Deum bisa dikatakan cukup lancar, namun karena tidak mau menutupi tindak pidana yang dilakukan Kepala Jaksa, Ma Yi Deum pin dipindahkan ke Unit Pidana Terhadap Wanita. Di unit ini, ia bertemu dengan seorang jaksa bernama Yeo Jin-wook yang merupakan mantan psikiater, juga Min Ji Sook yang hingga 20 tahun berlalu, masih menyelidiki kasus kekerasan seksual di tahun 1997 serta kasus raibnya Kwak Young Shil sebagai saksi kunci kasus tersebut.

****

Drama ini adalah drama bergenre hukum yang berfokus pada tindak pidana pelecehan dan kekerasam seksual. Topik ini menurut saya menarik sekali untuk diikuti karena fokus materinya yang dalam beberapa drama detektif dan hukum lainnya selalu memuat kisah tentang pembunuhan. Awalnya, saya mengira bahwa drama ini beraliran feminis, jelas saja apalagi lihat dari temanya. Namun ternyata, kasus kekerasan seksual yang dimaksud disini bukan hanya kekerasa seksual atau pelecehan terhadap perempuan saja namun juga terhadap laki-laki. Meski memang porsi tindak pidana kekerasa seksual terhadap wanita lebih banyak. Kekerasan terhadap laki-laki dalam drama ini hanya satu sih, tapi cukup membantah asumsi feminis seperti yang saya buat di awal-awal menonton.

Dramanya keren. Mengusung tema hukum tidak lantas membuat ceritanya jadi kaku. Justru ada bumbu komedi yang sangat menghibur dan bisa dikatakan sebagai intermezzo di tengah kasus-kasus pelik yang ditangani Ma Yi Deum dan kawan-kawannya. Karakter Ma Yi Deum juga unik disini. Sejak kecil ia adalah gadis yang ceplas-ceplos, ceria, dan tidak pantang menyerah. Kehilangan ibunya tidak lantas membuat karakter dan sifatnya berubah. Ia tetap Ma Yi Deum yang 'parah'. Ia lucu, kadang sok tahu, punya sifat buruk apalagi dalam hal memperjuangkan kasusnya. Namun, seiring berjalannya cerita, hal itu berubah ke arah yang baik sehingga tidak menjadikannya tokoh yang menyebalkan. Sementara Yeo Jin wook adalah mantan psikiater yang cenderung tenang, kalem, tampan dan selalu punya banyak pertimbangan dalam melakukan sesuatu termasuk saat melaksanakan investigasi. Tipe pria idaman gitulah.

Unsur romansanya ada, namun tidak terlalu mencolok. Cuma sedikit, tapi manis kalau menurut saya. Saya suka interaksi Yi Deum dan Jin Wook dalam menunjukkan perasaan masing-masing. Drama ini juga dijamin bisa membuat penonton tegang dan jengkel terutama pada karakter Cho Gap Soo. Tapi walau demikian, aktingnya patut diacungi jempol. Juara deh kalau soal karakter antagonisnya. Punya ciri khas juga. Dramanya rekomen buat pencinta drama Korea

Selasa, 05 Februari 2019

,
Sumber Foto
 Judul: Insya Allah Sah
Sutradara: Benni Setiawan
Produser: Manoj Punjabi
Penulis: Benni Setiawan
Musik: Aghi Narottama, Bemby Gusti
Perusahaan Produksi: MD Pictures
Tanggal Rilis: 25 Juni 2017
Negara: Indonesia
Bahasa Indonesia
Pemeran:
Pandji Pragiwaksono as Raka
Titi Kamal as Silvi
Richard Kyle as Dion
Donita as Kiara
Ferdy Taher as Tommy
Joe P Project as Jody
Budi Dalton as Dony
Budi Arab as Ipank
Ira Maya Sopha as Tante Sinta
Tanta Ginting as Polisi Sabar Ikhlas
Deddy Mizwar as Ayah Silvi
Prilly Latuconsina as Silvi
Marcella Zalinaty as Istri Pejabat
Happy Salma as Anna
Fitri Tropica as Manajer Gedung Wanita
Lydia Kandou as Ibu Silvi
Bayu Skak as Anto
Gary Iskak as waria
Arie Untung as Andi
Ardit Erwandha as driver ojek online
Karina Suwandi as Mama Dion
Alexa Key as Diah

Credit: Wikipedia 

Suatu hari, saat Silvi berkunjung ke kantor Dion, kekasihnya, ia terjebak di dalam lift bersama seorang laki-laki aneh yang doyan berdakwah, Raka namanya. Dan, namanya orang kena musibah, secara otomatis Silvi jadi ingat Tuhan, di samping memang ada Raka yang tergolong sebagai seseorang yang religius. Di dalam lift yang mati, Silvi pun bernadzar.
"Ya Allah jika Engkau memberikan hamba kesempatan hidup, hamba janji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hamba nggak akan minum alkohol lagi. Hamba akan memberikan sebagian penghasilan ke anak yatim. Hamba akan shalat dan puasa. Jika hamba diberikan kesempatan hidup lagi, hamba berjanji akan menaati perintahMu dan menjauhi laranganMu, dan hamba berjanji akan menjadi muslimah yang soleha."
Setelah itu, lift pun terbuka, Silvi dan Raka selamat, dan ia sukses dilamar Dion di depan karyawan-karyawan kantornya. Tapi ternyata, kesialan Silvi tidak berhenti hanya pada lift mati. Persiapan pernikahannya bersama Dion justru mengalami hal yang lebih parah, banyak hambatan, tentu juga kemunculan Raka yang lebih sering mengekori hidupnya sejak ia mengucapkan nadzarnya.

Film ini adalah film bergenre drama-komedi plus religi. Karena meskipun banyak hal-hal konyol di dalam, film ini juga mengandung niai syi'ar dan tausiyah kalau menurut saya pribadi. Walaupun syi'ar tersebut hanya datang dari Raka sebagai reminder bagi Silvi. Reminder tak diinginkan yang lebih sering terasa mengganggu.

Cerita yang paling dominan mengisi film berdurasi satu jam lebih sekitar 20 menit ini adalah persiapan pernikahan Silvi dan Dion dan berbagai tetek bengeknya. Yang paling menonjol adalah pengurusan gedung pernikahan yang selalu tidak bisa sesuai dengan tanggal cantik yang sudah mereka tentukan. Jadi semacam reminder juga sebenarnya buat kita bahwa menikah itu nggak gampang. Mempersipkan pernikahan adalah waktu yang teramat krusial bagi dua orang yang berencana menikah. Ada saja hambatan, ada saja godaan, yang seolah menjadikan pernikahan itu sebagai sesuatu yang nggak seharusnya terlaksana. Soalnya terlalu banyak cobaannya, jadi kayak mungkin nggak jodoh makanya nggak pernah ada yang berjalan mulus. Dan, dari sinilah mental pasangan tersebut diuji.

Tapi, walau ceritanya banyak porsi tentang mengurus pernikahan, main idea film ini bukan pada proses menuju pelaminannya Dion Silvi. Lebih kepada menunaikan janji. Makanya saya bilang kalau filmnya juga bergenre religi. Raka, sebagai salah satu karyawan Dion, adalah seseorang yang amat religius dalam kesahariannya. Dan, karena ia menjadi saksi nadzar dan janji Silvi saat terjebak di lift, ia menjadi punya kewajiban untuk mengingatkan Silvi akan janji tersebut. Ada banyak pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam film ini. Baik secara tersirat, maupun secara gamblang disebutkan dengan mengutip beberapa ayat dalam Al-Qur'an.

Saya suka filmnya. Suka banget malah. Nggak hanya mengibur tapi juga memberikan manfaat bagi penontonnya. Satu pesan penting yang amat ditekankan dalam film ini; bahwa menepati janji itu wajib hukumnya, dan mengingatkan janji orang lain juga memiliki kedudukan yang sama. Karena sejatinya, ketika mengucap janji, kita sudah membuat kesepakatan tak tertulis untuk berbisnis dengan Tuhan. Dan, hukumnya wajib untuk ditepati. 
,
Sumber Foto
Judul: Kartini
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny
Skenario: Hanung Bramantyo, Bagus Bramanti
Cerita: Robert Ronny
Musik: Andi Rianto, Charlie Meliala
Sinematografi: Faozan Rizal
Penyunting: Wawan I. Wibowo
Perusahaan Produksi: Legacy Pictures, Screenplay Films
Tanggal Rilis: 19 April 2017
Durasi: 122 Menit
Negara: Indonesia
Bahasa: Bahasa Jawa, Bahasa Belanda, Bahasa Indonesia
Pemain:
 Dian Sastrowardoyo as Raden Adjeng Kartini
Neysa Chan as Raden Adjeng Kartini Kecil
Deddy Sutomo as Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat
Christine Hakim as M.A. Ngasirah
Nova Eliza as M.A Ngasirah Muda
Djenar Maesa Ayu as Raden Adjeng Moeriam
Acha Septriasa as Roekmini
Ayushita as Kardinah
Reza Rahadian as Sosrokartono
Adinia Wirasti as Soelastri
Denny Sumargo as Slamet
Dwi Sasono as Raden Adipati Joyodiningrat
Rianti Cartwright as Wilhelmina

Credit: Wikipedia

Film ini adalah film biografi yang mengangkat kisah salah satu pahlawan perempuan Indonesia Raden Adjeng Kartini. Menceritakan latar belakang kehidupan Kartini sejak ia masih kecil hingga kemudian mendirikan sekolah gratis bagi perempuan dan orang-orang miskin.

Raden Adjeng Kartini adalah putri Bupati Raden Mas Adipati Sosroningrat bersama seorang perempuan bernama Ngasirah. Mengikuti adat dan budaya Jawa, Kartini sebagai perempuan tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan. Ia hanya perlu berada di rumah sampai saatnya nanti dipingit lalu kemudian dipinang oleh lelaki sebagai istri pertama, kedua, ketiga, atau bahkan seterusnya. Kartini pun demikian. Bersama saudara-saudaranya Kardinah dan Roekmini, mereka pun menjalani pingitan. Namun, sifat pemberontak yang sudah ada pada dirinya sejak ia masih kecil tetap tertanam hingga ia beranjak remaja bahkan dewasa.

Sebelum berangkat menempuh pendidikan di luar negeri, salah satu kakak laki-laki Kartini yang bernama Sosrokartono meninggalkan beberapa buku yang akan membuat Kartini melihat dunia luar bahkan tanpa perlu meninggalkan kamar pingitannya. Dari sinilah keinginan Kartini untuk belajar dan menempuh pendidikan bermula. Lewat buku yang ditinggalkan Sosrokartono, ia mampu menatap dunia yang tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini.

 Film ini adalah film beraliran feminis. Selain penekanan terhadap tokoh utamanya, dalam hal ini Raden Adjeng Kartini sendiri, film ini juga memuat kisah tentang memperjuangkan hak-hak perempuan. Memang, dalam hal ini, budaya yang amat ditekankan adalah budaya Jawa, mengingat Raden Adjeng Kartini sendiri adalah seorang wanita berdarah Jawa. Hanya saja, meski belum pernah mendengar kisah tentang perjuangan hak perempuan terutama dalam menempuh pendidikan dan mendapat tempat serta kedudukan yang sama di dalam bermasyarakat dalam budaya saya, tetap saja saya berterima kasih sekali kepada Raden Adjeng Kartini. Karena, jika melihat sekeliling, meski mungkin sudah tidak nampak, pada beberapa lapisan masyarakat, hak perempuan masih menjadi hal yang tabu. Walau tidak lagi seperti dulu, tetap saja kita masih bisa menemukan pembatasan-pembatasan tingkat bagi perempuan dalam menempuh pendidikan; contoh paham yang mengatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi atau tidak perlu menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi karena ujung-ujungnya akan menjadi ibu rumah tangga juga. Oleh karena itu, film ini seperti memberi rasa kesyukuran yang teramat bagi saya, karena kini, saya bisa bersekolah tanpa dibatasi di jenjang pendidikan tertentu saja.

Namun demikian, perjalanan Kartini, kalau dilihat dari flm ini, tidak sepenuhnya berjalan hanya karena usahanya sendiri saja. Memiliki Ayah seorang Bupati yang paham pendidikan, serta Ibu yang meski tidak sekolah tinggi, namun berpandangan luas, menjadi keuntungan tersendiri bagi Kartini untuk memperjuangkan impiannya. Terlebih, sang suami yang kemudian melamarnya juga tidak keberatan. Walaupun memang ada banyak hambatan yang ia temui sebelumnya.

Film ini cukup menguras air mata. Para pemerannya juga juara sih, bisa dibilang bertabur bintang. Berisi aktor dan aktris yang memang sudah malang melintang di industri perfilman. Secara kesleuruhan, film ini tidak hanya menceritakan tentang perjuangan hak perempuan namun juga mengajak kita semua untuk memahami pentingnya pendidikan. Seperti kata Ayah Kartini, suatu saat pasti akan ada perubahan, dan kita yang harus memulainya. Salah satu caranya, meski secara tersirat dijelaskan adalah dengan memberikan dan mencari pendidikan. Secara tidak langsung pula, pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan formal yang dapat kita temui di bangku sekolah, tapi juga pendidikan yang bisa kita dapatkan dan usahakan sendiri yakni dengan memperbanyak membaca.

Film ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa utamanya. Dan, saya terkesan sekali dengan akting para pemainnya terutama Dian Sastro. Saya nggak bisa bahasa Belanda, tidak bisa menilai apa bahasa Belandanya fasih atau nggak, tapi saya suka. Rasanya juga malah tertarik buat belajar. Dijajah selama kurang lebih 450 tahun, kayaknya sih adalah hal yang wajar kalau ikut mempelajari bahasanya juga. Karena sudah barang tentu, ada sejarah bangsa kita yang ditulis dalam Bahasa Belanda.

Kemdudian, karena pada zamannya pendidikan memang masih diberikan oleh orang Belanda, jadi dapat kita lihat juga bahwa ada aliran modern yang masuk ke dalam kisah Kartini ini. Tapi, satu pertanyaan Ngasirah terhadap Kartini menjadi nasihat yang begitu baik untuk kita ambil.

"Ilmu apa yang sudah kamu pelajari dari aksara Londo?"
"Kebebasan."
"Dan apa yang tidak ada dalam aksara Londo?"
"Nil tidak tahu."
"Bakti..." 
Menjadi pesan yang teramat jelas bahwa sejauh apa pun kita menuntut ilmu, setinggi apa pun ilmu itu kita junjung, kita tidak boleh melupakan budi pekerti dan nilai-nilai luhur yang sudah ditanamkan sejak lama. 

Minggu, 03 Februari 2019

,
Sumber Foto
Judul: Crazy Rich Asians
Produser: Nina Jacobson, Brad Simpson, John Penotti
Skenario: Peter Chiarelli, Adele Lim
Berdasarkan: Kaya Tujuh Turunan oleh Kevin Kwan
Musik: Brian Tyler
Sinematografi: Vanja Cernjul
Penyunting: Myron Kerstein
Perusahaan Produksi: SK Global Entertainment, Starlight Culture Entertainment, Color Force, Ivanhoe Pictures, Electric Somewhere
Distributor: Warner Bros. Pictures
Tanggal Rilis: 7 Agustus 2018 (TCL Chinese Theatre), 15 Agustus 2018 (Amerika Serikat), 11 September 2018 (Indonesia)
Durasi: 120 menit
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Pemain:

Constance Wu as Rachel Chu
Sumber Foto

Henry Golding as Nicholas Young
Sumber Foto

Crazy Rich Asians adalah sebuah film yang diangkat dari novel karya Kevin Kwan yang berjudul Kaya Tujuh Turunan. Berkisah tentang Rachel Chu, seorang profesor di bidang ekonomi yang masih sangat muda. Ia cantik, cerdas, dan berpacaran dengan Nicholas Young atau yang akrab disapa Nick, pewaris utama kekayaan keluarga Young yang sudah terkenal di berbagai belahan dunia. Awalnya, Rachel tidak tahu tentang identitas Nick yang sebenarnya sampai tiba saatnya Nick membawa serta Rachel pulang ke Singapura untuk menghadiri pernikahan sahabatnya.

Sebagai gadis cantik yang juga cerdas, Rachel tidak menemui kesulitan dalam memperkenalkan diri atau pun berbaur dengan keluarga Nick. Hanya saja, sejak perkenalan pertama, Rachel sudah dapat mendeteksi bahwa ibu kandung Nick tidak menyukainya, dengan alasan Rachel 'terlalu Amerika' untuk Nick. Selain penolakan secara halus dari ibu kandung Nick, Rachel juga tidak disukai banyak teman-teman Nick terutama di kalangan para gadis. Ia memang pantas dicemburui, tapi bukan hal itu yang menjadi masalah utama. PR yang ditemu profesor cantik ini begitu tiba di Singapura adalah bagaimana cara mendapatkan restu dari orangtua Nick.

Secara konflik, konflik dalam film ini sudah amat lazim dan banyak ditemukan dalam banyak cerita-cerita film lain, buku, FTV, drama Korea, bahkan sinetron di Indonesia. Ketika wanita biasa menjalin hubungan dengan lelaki kaya raya sejak zaman nenek moyangnya, maka yang akan menjadi kendala dalam hubungan mereka adalah restu. Mata duitan sudah barang tentu akan melekat sebagai nama belakang si wanita. Dalam film ini, karena Rachel adalah wanita kuat, cerdas dan berpendidikan, ditambah lamanya ia menjalani kehidupan dalam dunia modern, hal itu justru menjadi tantangan, bukan hambatan. Dan, buat saya ini yang menjadikan film ini menarik dan asyik buat ditonton. Nick dan Rachel tidak main kucing-kucingan dengan orangtua Nick. Ia juga tidak merasa terintimidasi ataupun berkecil hati hingga bersedih dengan perlakuan teman-teman Nick yang di luar batas. Bisa dibilang, Rachel menjadi karakter favorit saya dalam film ini.

Kemudian, karena film ini mengambil cerita yang condong dengan budaya dan ras tertentu, dalam hal ini China, beberapa budaya juga masih diselipkan. Dan juga fakta, bahwa dimana-mana beberapa paham konvensional memang masih sangat melekat dalam diri manusia. Di Indonesia contohnya, paham bahwa perempuan tidak perlu memliki pendidikan tinggi karena ujung-ujungnya juga akan menjadi ibu rumah tangga masih banyak dianut oleh beberapa orang. Walaupun memang paham tersebut terbantahkan dengan fakta bahwa tingkat kecerdasan pada anak sebagian besar diturunkan dari ibunya, sehingga sang ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya, wajib memiliki pendidikan. Dalam film ini, penolakan terhadap Rachel Chu yang sebenarnya sangat ideal sebagai seorang ibu, selain menghormati keluarga calon suaminya dan mencintai Nick, ia adalah seorang profesor ekonomi di usianya yang masih sangat muda, adalah alasan bahwa ia 'terlalu Amerika'. Ibu Nick meninggalkan kuliahnya di bidang Hukum agar bisa membantu suaminya mengelola perusahaan, sementara Rachel dianggap tidak akan mampu mengikuti jejak tersebut, karena terlalu Amerika, terlalu liberal, terlalu modern pemikirannya dan mungkin terlalu berpendidikan. Jadi, bisa kita lihat, bahwa tidak hanya di Indonesia, paham dan pemikiran konvensional juga masih berlaku di negara lain.

Selanjutnya, karena filmnya bercerita tentang laki-laki kaya yang jatuh cinta dengan wanita biasa saja, bintang yang paling bersinar dalam cerita ini mungkin adalah Nicholas Young, si pria kaya dengan banyak penggemar di mana-mana. Jadi, kehidupan yang ditunjukan, walau tidak terlepas dari paham konvensional yang saya sebutkan di atas, adalah kehidupan glamor penuh kemewahan. Dan itu juga tercermin dari teman-teman Nick. Unsur sinematografi dalam film ini juga membantu banget dalam menampakkan hal tersebut.

Secara keseluruhan, saya suka banget sama ceritanya, sama filmnya, dan jadi super pengen baca novelnya juga. Filmnya seru, ada sedikit komedinya juga dan sudah pasti romantis dan asyik untuk dinikmati. Satu hal yang saya petik dari buku ini; jadilah perempuan yang cerdas dan tangguh dalam menghadapi penolakan. Dan ketika kita ditolak oleh seseorang karena kecerdasan dan ketangguhan yang kita miliki, tidak perlu bersedih. Karena sudah pasti mereka yang akan menyesal nanti.
,
Sumber Foto
Judul: Brother of The Year
Pengarah: Witthaya Thongyooyong
Penerbit: Jira Maligol, Vanridee Pongsittisak
Penulis: Witthaya Thongyooyong, Nontra Kumwong, Tossaphon Riantong, Adisorn Trisirikasem
Penyunting: Vijjapat Kojiw, Thammarat, Sumethsupacok
Tanggal Rilis: 10 Mei 2018 (Thailand), 28 Juni 2018 (Malaysia)
Durasi: 128 Menit
Negara: Thailand
Bahasa: Thailand, Inggris, Jepang
Pemain:

Urassaya Superbund as Jane
Sumber Foto

Sunny Suwanmethanon as Chut
Sumber Foto
Nickhun as Moji
Sumber Foto
Film ini menceritakan tentang kakak beradik Chut dan Jane yang sejak kecil selalu bertolak belakang dalam hal kecerdasan. Sejak masih di bangku sekolah, Jane selalu lebih unggul daripada Chut, kakak laki-lakinya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, Jane kembali ke Thailand dan bergabung dengan salah satu perusahaan iklan dimana Moji yang diperankan oleh Nickhun juga bekerja di sana. Namun, setelah terpisah kurang lebih 4 tahun, Chut dan Jane kembali bersinggungan dalam hal ini dalam bidang pekerjaan. Perusahaan tempat Chut bekerja adalah salah satu perusahaan yang mengajukan tender iklan di perusahaan tempat Jane dan Moji bekerja.

Sejak lama tidak kompak. Chut dan Jane selalu mengalami konflik. Konfliknya masih tergolong biasa saja sebenarnya, tapi menjadi berbeda ketika Chut mengetahui hubungan Moji dan Jane. Chut tidak merestui mereka berpacaran, apalagi sampai menikah.

Satu lagi film komedi Thailand yang saya tonton. Jujur saja, film komedi Thailand selalu menjadi favorit saya sejak lama. Bukan hanya karena kisahnya yang unik, tapi tingkah konyol karakter-karakter di dalamnya juga sangat menghibur.

Akan tetapi, dalam film ini kekonyolan itu agak terasa kurang. Memang komedinya tetap ada dan tetap bercita rasa Thailand, hanya saja, konflik keluarga dalam hal ini konflik Jane dan Chut lebih mendominasi. Jadinya, porsi dramanya agak terasa lebih dominan. Selain itu, karakter Moji yang dibuat sebagai pria keturunan Jepang yang mengharuskan beberapa percakapan menggunakan bahasa Jepang bikin filmnya jadi kayak kurang enak untuk dinikmati. Saya nggak bisa bahasa Jepang sih, tapi, karena saya juga salah satu penikmat anime akhirnya jadi agak merasa kalau bahasa Jepang yang digunakan dalam film ini terdengar kaku dan tidak fasih.

Meski begitu, saya suka dengan bagaimana kasih sayang antara Chut dan Jane. Tertutup oleh pertengkaran demi pertengkaran sejak kecil, mereka seolah seperti tikus dan kucing. Namun demikian, tidak peduli bagaimana menyebalkannya Chut, Jane tetap menyayanginya. Begitu pun tidak peduli seberapa mengintimidasinya Jane dengan kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki sebagai seorang adik perempuan, Chut tetap peduli padanya. Ini menjadi semacam pesan tersirat kepada penonton bahwa seburuk apapun hubungan kita dengan saudara kita, percayalah, sesungguhnya mereka adalah orang yang paling peduli terhadap diri kita.


Jumat, 25 Januari 2019

,
Sumber Foto
Judul: Sierra Burgess is a Loser
Sutradara: Ian Samuels
Produser: Thad Luckinbill, Trent Luckinbill, Molly Smith, Rachel Smith
Penulis: Lindsey Beer
Musik: Leland, Bram Inscore
Sinematografi: John W. Rutland
Penyunting: Andrea Bottigliero
Perusahaan Produksi: Black Label Media
Distributor: Netflix
Rilis: 7 September 2018 (Amerika Serikat)
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Pemain:

Shannon Purser as Sierra Burgess
Sumber Foto

Kristine Froseth as Veronica
Sumber Foto

RJ Cyler as Dan
Sumber Foto

Noah Centineo as Jeremy
Sumber Foto


Film ini menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Sierra Burgess yang amat pintar dalam bidang pendidikan serta memiliki bakat seniman namun tidak populer di sekolahnya. Berbanding terbalik dengan Veronica, pemandu sorak yang cantik, amat santik bahkan dan juga teramat populer di sekolahnya.

Suatu malam Sierra mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Pengirim pesan tersebut ternyata adalah seorang laki-laki tampan sekaligus cerdas bernama Jeremy. Sierra tidak tahu dari mana Jeremy mendapat nomornya, hanya saja ia nyaman saat bertukar pesan mau bicara lewat telepon dengannya Jeremy adalah tipe laki-laki menyenangkan dan juga asyik untuk diajak bertukar pikiran.

Namun, hal itu terusik oleh fakta bahwa Jeremy mengira dirinya adalah Veronica, si pemandu sorak terkenal di sekolah yang entah bagaimana ceritanya teramat membencinya. Well, di banyak sekolah seorang nerd memang sering dibenci tanpa sebab. Akan tetapi, salah alamat nomor telepon itu justru membangun kedekatan antara Sierra dan Veronica yang notabenenya adalah sepasang musuh.

Dari segi konflik, konfliknya sederhana. Kisah cinta remaja SMA. Tapi, yang agak berbeda dari film ini adalah Sierra adalah seorang nerd yang tidak bisa dibully atau dikerjai sesuka hati. Ia adalah tipe gadis tidak cantik dari segi fisik tapi cerdas, berbakat dan tidak mudah disakiti. Hal kedua yang menarik adalah keberadaan orangtua Sierra sebagai dua penulis berbakat yang punya begitu banyak pembaca dan penggemar. Memang ini menjadi seidkit tekanan bagi Sierra yang meskipun cerdas tapi tidak punya penggemar seperti orangtunaya, tapi disinilah ketahanan mentalnya diuji apakah mampu tidak menempatkan dirinya dalam berkat yang dimiliki kedua orangtuanya dan mengandalkan kualitas diri sendiri.

Ceritanya sederhana, tapi ada pelajaran tersirat yang dapat dipetik di dalamnya. Bahwa kecantikan tidak selamanya diukur dari segi fisik semata, pesan-pesan tentang persahabatan dan arti menjaga kepercayaan, dan bahwa sebagai manusia, kita harus menempa diri untuk terus meingkatkan kualitas yang kita miliki. Filmnya cocok banget untuk remaja deh.




Minggu, 13 Januari 2019

,
Sumber Foto
Judul: 13 Reasons Why
Genre: Drama Remaja, Fiksi Misteri
Diangkat dari Novel: Thirteen Reasons Why By Jay Asher
Perancang: Brian Yorkey
Narator: Katherine Langford
Lagu Pembuka: "On in This World of Dread, Carry On" By Eksmo
Penggubah: Eksmo
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Jumlah Musim: 2
Jumlah Episode: 26 Episode @ 13 Epsiode/Musim
Produser Eksekutif: Diana Son, Tom McCarthy, Joy Gorman Wettels, Steve Golin, Michael Sugar, Selena Gomez, Mandy Teefey, Kristel Laiblin
Produser: Joseph Incaprera
Lokasi: California, Amerika Serikat
Penyunting: Leo Trombetta
Rumah Produksi: July Moon Productions, Kicked to the Curb Productions, Anonymous Content, Paramount Television
Distributor dan Jaringan Penyiar: Netflix
Pemain Utama:

Dylan Minnette as Clay Jensen
Sumber Foto
Katherine Langford as Hannah Baker
Sumber Foto
Christian Navarro as Tony Padilla
Sumber Foto
Alisha Boe as Jessica Davis
Sumber Foto
Brandon Flynn as Justin Foley
Sumber Foto
Justin Prentice as Bryce Walker
Sumber Foto
Milez Heizer as Alex Standall
Sumber Foto

Ross Butler as Zach Dempsey
Sumber Foto
Devin Druid as Tyler Down
Sumber Foto
Ajiona Alexus as Sheri Holland
Sumber Foto
Tommy Dorfman as Ryan Shaver
Sumber Foto
Michele Selene Ang as Courtney Crimsen
Sumber Foto
Steven Silver as Marcus Cole
Sumber Foto
Kate Walsh as Olivia Baker
Sumber Foto

Derek Luke as Kevin Porter
Sumber Foto

Suatu hari, Clay Jensen menemukan sebuah paket di depan rumahnya. Paket tersebut berisi 7 buah kaset berisi rekaman  milik seorang gadis di sekolahnya yang belum lama ini melakukan bunuh diri, Hannah Baker. Kaset-kaset merekam 13 alasan kenapa Hannah Baker memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Setiap kaset memuat nama berbeda, orang berbeda, yang terkait dengan 13 alasan bunuh diri yang dilakukan Hannah Baker. Kumpulan kaset itu harus dikirimkan kepada orang-orang terkait setiap kali salah satunya selesai mendengarkan semua rekaman suara Hannah.

****

"I recorded 12 tapes. I started with Justin and Jessica, who each broke my heart, Alex, Tyler, Courtney, Marcus, who each helped to destroy my reputation. On through, Zach and Ryan, who broke my spirit. Through Tape number 12, Bryce Walker, who broke my soul." 
Sebelum memberikan pendapat tentang serial ini, mungkin saya akan memperkenalkan sedikit karakter-karakter dalam cerita ini:

  1. Hannah Baker: Gadis cantik yang memutuskan bunuh diri
  2. Clay Jansen: Teman sekelas Hannah, juga teman yang bekerja bersama Hannah di bioskop Cresmont
  3. Tony Padilla: Teman Hannah dan Clay yang dititipi kaset-kaset rekaman 13 alasan mengapa Hannah memutskan bunuh diri.
  4. Jessica Davis: Sahabat Hannah, anggota cheers, cewek populer di Liberty.
  5. Justin Foley: Mantan pacar Hannah yang menyebarkan foto Hannah dan membuat rumor tentang Hannah dimulai.
  6. Bryce Walker: Sahabat Justin, cowok populer di Liberty
  7. Alex Standall: Anak baru di SMA Liberty yang bersahabat dengan Hannah dan Jessica
  8. Zach Dempsey: Pengagum diam-diam Hannah, kalau boleh saya menyebutnya begitu sekaligus salah satu cowok paling populer di sekolah
  9. Tyler Down: Murid SMA Liberty yang suka memotret untuk keperluan buku tahunan dan keperluan lainnya.
  10. Sheri Holland: Anggota cheers, populer di Liberty
  11. Ryan Shaver: Kutu Buku yang punya komunitas puisi. Berteman dengan Hannah sejak Hannah sering ikut ke perkumpulan
  12. Courtney Crimsen: Cewek populer, cerdas, pintar, anggota komite sekolah, sempat berteman dengan Hannah
  13. Marcus Cole: Ketua Komite Sekolah
  14. Olivia Baker: Ibu Kandung Hannah
  15. Kevin Porter: Guru BK di SMA Liberty

Serial ini diangkat dari novel 13 Reasons Why karya Jay Asher. Tontonan yang menginspirasi menurut saya. Dibuat ke dalam dua musim, musim pertama menceritakan tentang apa-apa saja yang dilalui seorang gadis berusia 18 tahun bernama Hannah Baker hingga ia memutuskan bunuh diri. 7 kaset berisi rekaman suaranya menceritakan darimana semua kisah hidup menyedihkan yang ia alami bermula.

Serial ini memang mengusung tema masalah-masalah yang sering dialami remaja saat ini, tapi bukan berarti nggak cocok ditonton oleh masyarakat usia dewasa. Justru cocok banget. Isu yang diangkat dalam cerita ini merupakan hal yang mungkin banyak ditemui remaja saat ini; bullying, penyalahgunaan alkohol dan obat-obat terlarang.

Kalau dilihat tanpa rasa empati, mungkin orang akan berpikir bahwa Hannah Baker hanyalah remaja tanggung yang senang membesar-besarkan masalah; drama queen. Tapi tidak, jika ditelaah lebih dalam, apa yang dialami Hannah adalah hal yang sulit untuk dihadapi sendiri oleh seorang remaja dengan jiwa yang masih labil dan butuh pendampingan. Jujur saja, menjelang episode terakhir saya menangis melihat Hannah yang 'menjerit' meminta tolong pada pihak sekolah lewat guru konselingnya dan sama sekali tidak mendapat tanggapan seperti yang ia harapkan.

Selain mengangkat masalah remaja, serial ini juga menyinggung isu parenting baik itu oleh orangtua kandung, maupun guru selaku yang mewakili orangtua saat murid-murid berada di sekolah. Agar supaya bisa lebih memperhatikan dan memberi perhatian terhadap lingkup pergaulan dan juga kesaharian anak-anaknya, agar tidak ada lagi anak lain yang memutuskan mengakhiri hidupnya seperti Hannah Baker karena merasa tidak berarti dan tidak dianggap berarti oleh siapapun lagi.

Musim kedua, menceritakan proses persidangan dimana Olivia Baker, ibu kandung Hannah Baker melayangkan gugatan kepada pihak sekolah karena dianggap lalai dalam mengawasi tingkah laku murid-murid SMA Liberty terhadap Hannah yang menyebabkan putri kandungnya itu bunuh diri. Tapi, di sesi ini, entah kenapa saya kurang suka dengan karakter Clay. Memang, awalnya saya senang karena dari semua orang hanya ia yang ingin mengugkap kebenaran tentang kematian Hannah Baker. Tapi ketika di sesi kedua ia seolah ingin menghindari persidangan, saya jadi kurang suka. Saya malah nge-fans sama karakter Zach Dempsey, cowok blasteran Tingkok, yang walaupun juga terdapat dalam rekaman milik Hannah, tapi ia juga peduli terhadap gadis itu, meski bisa dikatakan terlambat. Yah penyesalan memang adanya di belakang, nggak pernah di depan. Karakter lain yang saya suka adalah Alex Standall, meski ia menjadi penyebab keretakan persahabatan Hannah dan Jessica Davis, ia menjadi salah satu karakter yang menyadari dengan betul kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan terhadap Hannah..

Ada satu kutipan dari serial ini yang juga berasal dari karakter favorit lain dalam serial ini, Tony Padilla:

"I had a friend. Her name was Hannah. She killed herself. She left a job for me. Secrets to keep. I tried, I tried to honor her memory. I tried to keep those secrets, but I don't think I did the right thing. Her parents are hurting. I don't know what I'm supposed to do. I don't know what I'm supposed to do. I just - I wanted to take care of Hannah."

Saya belum selesai menonton musim kedua ini sih, tapi kayaknya akan seru, karena kalau di musim pertama, hanya ada Hannah yang becerita, di musim kedua, semua pihak-pihak terkait, yang ada dalam kaset, yang disebutkan namanya juga menceritakan kebenaran versi mereka di persidangan. Jadi, kebenaran mana yang akan terkuak?