It's Destiny #1

Minggu, September 15, 2013

SMA Negeri  4 Yogyakarta
Ku pindai sekolah yang akan menjadi tempatku bertugas selama tiga bulan ke depan nantinya.  Ku perhatikan setiap sudut yang dapat dijangkau oleh mata. Sekolah dengan fasilitas yang terus menerus bertambah ini memang terbilang mewah. Seandainya aku bisa mengulang masa SMAku, aku ingin sekali mencoba untuk bersekolah di sini.
“Bismillahirrahmanirrahim.” Ku langkahkan kakiku menyusuri sekolah yang sudah terlihat sepi ini. Ya. Aku memang datang di saat jam pelajaran sudah dimulai. Aku tidak ingin mengambil resiko dipelototii murid-murid yang melihat kedatanganku. Walaupun kemungkinan bahwa hal itu akan terjadi sangat tidak mungkin.

“Baiklah nak Anya. Selamat bergabung dengan sekolah ini. Semoga Anda dapat melaksanakan tugas Anda dengan baik.” Ucap Bapak Kepala Sekolah sambil menjabat tanganku.
“Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin.” Jawabku sambil tersenyum.
“Sama-sama.” Jawabnya. “Oh iya nak Anya. Sepertinya untuk hari ini Anda belum bisa mengajar dikarenakan kedatangan Anda yang cukup terlambat, sehingga pihak sekolah belum menyiapkan jadwal di kelas mana Anda akan mengajar hari ini. Saya kira Anda bisa memulainya besok. Dan untuk jadwal, Anda dapat mengambilnya di ruang tata usaha.” Jelasnya panjang lebar.
“Oh saya minta maaf, Pak.” Yah aku sadar. Aku memang datang terlambat. Dan itu memang disengaja.
“Tidak apa-apa.” Jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Kalau begitu saya permisi, Pak.” Pamitku. Aku ingin segera pulang. Aku harus menyiapkan materi yang akan aku ajarkan nanti.
“Iya silahkan.” Jawabnya sekenanya.
Aku pamit dan berjalan keluar dari Ruang Kepala Sekolah. Baru beberapa langkah…
TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTT……………..TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!
O’ow. Ternyata aku datang bukan hanya cukup terlambat, tapi sangat terlambat. Ini sudah masuk waktu istirahat yang artinya sebentar lagi murid-murid akan berhamburan keluar dari kelas untuk memenuhii kebutuhannya. Dan benar saja. Tak berselang beberapa detik, para remaja dengan balutan seragam putih abu-abu itu keluar dari ruang kelas mereka dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang terlihat sangat kusut, ada yang sambil tertawa, bergosip ria (aku pastikan ini murid-murid perempuan), dan bahkan sambil berlarian. Tatapan-tatapan menyelidik aku dapati dari mata-mata mereka yang melihatku. Seperti tidak pernah lihat manusia lain saja. Batinku. Ku paksakan pandanganku untuk tidak balik menatap mereka, walaupun aku sedikit penasaran juga dengan wajah-wajah yang akan ku ajar nanti yang menurut Riska - teman sekelsaku di kampus - ‘unyu-unyu’. Ku percepat langkahku dengan kepala yang terus menunduk. Entah mengapa aku sangat gugup saat berhadapan dengan mereka. Padahal di kelas aku terkenal dengan julukan ‘mahasiswa kritis’. Diskusi-diskusi di setiap mata kuliah adalah makananku sehari-hari. Jarang sekali ada yang bisa menang saat berdebat denganku maupun saat saling beradu argument. Tapi hanya untuk menghadapi murid-murid SMA yang masih terbilang sangat labil ini saja aku serasa mau digiring ke tempat hukum pancung.

Fiuhhh!!! Sampai juga aku di pintu gerbang. Aku harus cepat keluar.
“Non mau ngapain?” tanya satpam yang saat itu bertugas kepadaku.
“Pulang, Pak.” Jawabku polos sambil menatap satpam tersebut. Dadang. Itulah nama yang tertera di seragamnya.
“Aduh non. Ini belum waktunya pulang.” Katanya lagi.
Ku kerutkan keningku tak mengerti. “Non murid baru, ya?” tanyanya. Aku melongo tak percaya. Murid baru?? Ditatapnya aku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Astaga! Aku sama sekali tidak sadar bahwa pakaian yang aku kenakan saat ini membuatku terliat mirip anak SMA. Rok di bawah lutut berwarna abu-abu yang dipadukan dengan kemeja lengan pendek berwarna putih. Meskipun sama sekali tidak menggunakan badge,  tapi sekilas aku benar-benar mirip murid SMA. Pantas saja sedari tadi murid-murid yang aku lewati terus menatapku. Sepertinya mereka juga berpikiran sama dengan satpam ini.
“Tapi pak…” belum selesai aku bicara
“Udah. Non masuk ke dalam saja. Tadi itu baru bel istirahat. Belum bel pulang.” Potong satpam tersebut. “Saya mau minum kopi dulu.” Sambungnya sambil lalu ke post satpam. Yah wajar saja. Dengan tinggiku yang tidak mencapai rata-rata, tubuh mungil yang membuatku tidak cocok jika dikatakan sebagai mahasiswa ditambah seragam yang aku kenakan sangat mendukung penglihatan orang-orang bahwa aku adalah murid SMA. Dosen-dosen di kampusku serta teman-temanku pun beranggapan bahwa aku masih siswi sekolah menengah. Bahkan ada yang sering mengejekku sebagai anak SMP. Dengan sangat terpaksa aku berbalik dan memilih duduk tak jauh dari gerbang berharap bantuan datang.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih setengah jam aku bisa keluar dari sekolah ini dengan bantuan Pak Robby kepala tata usaha di sana. Sebuah motor berhenti tak jauh di depanku. Perlahan ku hampiri motor tersebut. Pengendara yang sudah sangat aku kenal melepas helmnya sambil tersenyum manis padaku. Senyum yang selalu membuatku ikut tersenyum saat melihatnya.
Chandra Dwi Sena  Adipatra. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.  Saat ini sedang magang di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Sebenarnya aku tidak minta dijemput karena aku tidak mau mengganggu pekerjaannya. Tapi dia memaksa untuk menjemputku.
“Gimana? Udah?” tanyanya begitu aku sampai di depannya.
Ku anggukkan kepalaku tanda iya. “Kok mukanya cemberut gitu?” tanyanya lagi.
“Masa gue dikira anak SMA!?” sungutku kesal.
“HAHAHAHAHAHAHAHA…..” seketika tawanya pecah. Bahunya sampai berguncang keras. “AUU!” jeritnya.
“Kok nyubit?” tanyanya sambil menahan tawanya. Ku kerucutkan bibirku sampai benar-benar maju.
“Iya deh iya.” Sambil tersenyum dan mengusap puncak kepalaku. “Nggak usah manyun gitu donk. Liat. Tambah jelek, kan!?” Masih tetap mengejek.
Ku pelototkan mataku sebulat-bulatnya mendengar perkataannya barusan. “Elo pengen ditonjok??!!” tanyaku sambil tersenyum dan berlagak meniup tangan yang sudah aku kepalkan di depan wajahku.
“Peace peace peace.” Jawabnya sambil menurunkan tanganku. “Kita damai, yah.” Sambungnya sambil tersenyum memohon ampun. “Kan nggak lucu banget belum sampe seminggu gue ngerawat pasien, trus udah gue yang harus dirawat.” Dia benar-benar senang membuatku kesal.
“Emang nggak lucu.” Sungutku tambah kesal. “Udah lo pulang sendiri aja.” Ambekku.
“Yah padahal tadinya gue mo ngajakin elo makan es krim. Tapi ya udahlah.” Ucapnya dengan nada kecewa sambil memasang kembali helmnya. Secepat kilat ku tahan tangannya yang sudah bersiap untuk menstarter motor besarnya itu.
“Ikut.” Pintaku manja.
“Ya udah naik kalo mau ikut!!” perintahnya sok judes tapi terdengar jelas sedang menahan tawa agar tidak menghambur keluar.
Chani. Sapaanku padanya. Dia adalah sahabat masa kecilku merangkap kakak gadunganku. Usia kami memang terpaut empat tahun. Tapi dikarenakan dari SD sampai SMA aku selalu satu sekolah dan bahkan setu kelas dengannya, aku tidak mau menyapanya dengan embel-embel kakak. Begitu pula sebaliknya. Dia sendiri mengaku agak risih dipanggil seperti itu. Tapi itu hanya berlaku untukku. Coba saja jika ada orang yang lebih mudah darinya yang berani menyerukan namanya saja, jitakan keras pasti tak segan ia layangkan. Seperti yang sering dilakukannya terhadap Cipto Wikra Adipatra. Adik laki-lakinya yang akrab disapa Wika ini kerap kali melakukan protes terhadap kakaknya yang katanya lebih sayang terhadapku daripada terhadapnya, adik kandung Chani sendiri.
“Elo nggak adil banget sih kak? Gue yang umurnya cuma beda dua tahun dari lo, elo nggak ijinin manggil nama doang. Nah si ‘Anyaman Bambu’ yang umurnya bahkan dua tahun lebih mudah dari gue, elonya yang nggak mau dipanggil kakak sama dia. Begitulah protesnya. Dan yah ‘Anyaman Bambu’ adalah julukan yang diberikannya padaku entah sejak kapan. Mungkin karena sapaan akrabku Anya membuatnya bermain dengan imajinasinya seperti membayangkan suatu saat nanti aku bukan menjadi guru yang dihormati melainkan seseorang yang sangat mahir dalam hal anyaman bahkan sampai membuka pabrik.
“Udah. Jadi pengusaha yang sukses  dulu lo baru boleh manggil nama gue doang. Kuliah aja ogah-ogahan, mo sok-sokan.” Begitulah jawaban Chani setiap kali mendengar protes adiknya. Kedengarannya memang aneh. Apa hubungannya cara untuk memanggilnya dengan kuliah Wika yang memang seperti yang Chani katakan, ogah-ogahan. Wika memang terbilang sulit diatur. Apalagi dalam hal pendidikan. Aku rasa pendidikan masuk dalam nomor urut terakhir dalam daftar prioritasnya. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di universitas yang sama dengan Chani, Fakultas Ekonomi. Kepergian ayah mereka dua tahun silam membuatnya harus mengorbankan cita-citanya untuk menempuh pendidikan di bidang musik. Ya. Menjadi seorang musisi. Itulah impian Wika. Perusahaan yang ditinggalkan ayahnya membuatnya harus mengorbankan impiannya meskipun almarhum ayanhya tidak pernah meminta ataupun memaksanya. Pengorbanan yang membuatku salut  terhadapnya. Meskipun pada akhirnya ia kuliah dalam keadaan terpaksa.
Sementara Chani yang sudah terlanjur menempuh pendidikan di bidang kedokteran tidak mungkin atau lebih tepatnya tidak diizinkan untuk pindah program studi oleh Wika.
“Gue yakin kakak gue adalah calon dokter yang hebat. Yang bisa mengembalikan senyum di wajah orang-orang yang sempat kehilangan harapan dan semangat hidupnya.” Ungkap Wika suatu hari saat kakaknya menceritakan keinginannya tersebut.

***
                Akhirnya sudah hampir seminggu aku mengajar di sekolah ini. Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Tidak ada kesulitan yang berarti. Hari ini adalah jadwal untuk mengajar di kelas XII IPA-1. Aku benar-benar gugup. Pasalnya aku juga pernah melewati hari-hari sebagai murid kelas XII. Dan aku sangat tahu pasti bagaimana pada umumnya tingkah laku para murid dengan kelas hierarki tertinggi di sekolah. Sok berkuasa dan terkesan angkuh. Apalagi terhadap para guru yang bukan sepenuhnya guru mereka alias guru magang seperti diriku.
Ku tarik napasku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan. Ku langkahkan kakiku memasuki kelas yang akan aku ajar. Ruangan yang tadinya riuh oleh berbagai macam suara itu mendadak hening. Aku berdiri di depan kelas sambil meletakkan tas dan buku yang ku bawa di atas meja tak jauh dariku.
“Perkenalkan saya guru magang disini. Mulai hari ini sampai tiga bulan ke depan saya akan mengajar di kelas ini untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Nama saya Vanya Elsitra Arinda.

***
                “Nama saya Vanya Elistra Arinda.” Suara lantang namun terkesan gugup baru saja sungguh mengganggu tidur nyamanku. Disusul kemudian bisikan-bisikan tak jelas dari teman-temanku. Ku angkat wajahku dari tempat tidur kesayanganku tepatnya meja tempat aku menelungkupkan wajahku sejak tadi malas-malasan. Aku yakin wajahku benar-benar kusam saat ini. Ciri khas wajah orang bangun tidur. Ku alihkan pandanganku ke samping kanan. Kepada sosok yang tempat duduknya berjarak dua bangku dariku sambil melemparkan pandangan bertanya yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa lisan artinya siapa. Entah ia mengerti atau tidak.
Fahri Antara, temanku sejak kelas X yang nama keduanya aku yakin hasil copy paste dari salah satu aktor Indonesia menjawab tanpa suara ‘guru magang baru’, katanya. Sekilas ia terlihat seperti seseorang yang sedang mengendus-endus seuatu.
Ku lebarkan mataku sambil melihat ke depan. Pemandangan disana benar-benar menakjubkan. Seorang gadis?? Ah tidak! Anak kecil. Ia lebih pantas disebut anak kecil, bertubuh mungil dan berwajah imut tanpa polesan make up sedikitpun itu sedang berdiri di depan kelas dengan wajah yang dipaksakan untuk terlihat berwibawa, dengan rambut kuncir kudanya yang aku yakin akan bergoyang saat ia berjalan, kemeja putih lengan pendek yang tersetrika rapi dan rok di bawah lutut berwarna biru dongker, serta sepatu keds Converse berwarna putih dan kaos kaki berwarna senada dengan roknya yang aku yakin sengaja dipasang di bawah mata kaki membuatnya terlihat seperti anak SMP yang tersesat saat mencari alamat sekolahnya untuk pertama kali. Ku perkirakan usianya sekitar empat belas atau lima belas tahun. Dan tingginya….. yang…….tidak pantas dikatakan tinggi.
Dan apa yang barusan dikatakan Fahri!!?? Anak kecil ini…. Guru magang?!! GURU MAGANG?!!

To Be Cont.


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh