Cinta Rasa Boyband

Rabu, September 17, 2014


Diandra melirik ponselnya malas. Entah sudah yang ke berapa kalinya benda hitam persegi panjang itu berbunyi. Sejak kemarin, teman-temannya sekampus sibuk memberondongnya dengan pertanyaan yang sama. Lokasi KKN-mu dimana? Tidak mengherankan, sebagai mahasiswa tahun ketiga di kampus, mereka sudah mulai disibukkan dengan KKN, magang dan Tugas Akhir. Dan di awal-awal semester ini, jadwal mereka adalah KKN alias Kuliah Kerja Nyata. Bahasa kerennya: Pengabdian pada Masyarakat. Mereka akan dibagi ke dalam kelompok-kelompok perserta yang akan dikirim ke desa-desa dan mengabdikan ilmu yang telah mereka pelajari disana. Dan dua hari yang lalu pihak Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) kampus telah mengeluarkan pengumuman lokasi KKN untuk masing-masing mahasiswa yang memprogramkannya. Satu kelompok terdiri atas tiga puluh orang.

Sudah sejak akhir semester enam Diandra mendambakan agar KKN segera dilaksanakan. Ada satu harapan yang ia simpan dalam pelaksanaan KKN ini. Bukan agar ia bisa cepat menyelesaikan segala tugasnya di kampus dan wisuda, tapi ia sangat berharap bahwa ia dapat bertemu dengan Dion, si cowok kece bertampang boyband dari Fakultas MIPA yang letaknya memang bersebelahan dengan fakultasnya, Fakultas Ekonomi. Sudah sejak lama Diandra menaruh harap dan hatinya pada laki-laki itu yang bahkan bertegur sapa atau sekedar bertukar senyum dengannya ketika berpapasan di jalanpun tidak. Sudah sejak lama Diandra hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Sudah sejak lama Diandra memendam perasaannya pada laki-laki itu. Sudah sejak lama Diandra jatuh cinta diam-diam.

Bagaimana tidak? Dion adalah sosok laki-laki impian Diandra. Seperti yang sudah diketahui bahkan oleh seluruh teman-teman seangkatan Diandra di jurusan Akuntansi, Diandra adalah penggemar K-Pop. Ia sangat mencintai para penyanyi boyband dari Negeri Ginseng itu. Ia sangat mengidolakan penyanyi yang dulunya beranggotakan tiga belas orang meskipun sekarang tidak lagi begitu. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan laki-laki dengan wajah tampan oriental seperti mereka dan ternyata Tuhan mengabulkan harapannya. Dua tahun yang lalu, akhirnya ia menemukan sosok itu. Namanya Dion. Anak MIPA, jurusan Pendidikan Kimia.

Mengingat mereka yang sama sekali tidak pernah berkenalan karena Diandra malu untuk memulai duluan dan Dion yang sepertinya tak pernah menyadari keberadaannya, Diandra hanya bisa menggantungkan nasib cintanya dengan berharap bahwa ia dan Dion bisa dipertemukan di lokasi KKN, lokasi yang sudah terkenal sering melahirkan pasangan baru.

Akan tetapi, ketika waktunya tiba, Diandra harus menelan rasa kecewa karena ternyata dari dua puluh sembilan partner KKN-nya, nama Dion tidak ada disana.

****
“Cemberut mulu Di.” Maya, teman sekelas Diandra menegurnya. “Kamu masih mikirin si Dion itu, ya?” Tanyanya.

Diandra mengangguk lemah.

Sebenarnya Maya tahu gimana caranya agar Diandra dan Dion bisa bertemu di lokasi KKN yang sama. Akan tetapi, sebagai orang yang peduli pada Diandra, ia tidak mau nantinya jika Diandra dan Dion benar-benar bertemu dan berkenalan di lokasi KKN yang sama, Diandra jadi tidak memperhatikan tugasnya, melainkan sibuk memperhatikan Dion. Tapi melihat Diandra tidak bersemangat seperti ini ia jadi merasa bersalah. Sebaiknya ia memang memberi tahu Diandra. “Ehm Di, aku dengar kemarin, bisa loh katanya tukeran lokasi.” Ujarnya.

Diandra yang tadinya murung, jadi bersemangat mendengarnya. “Beneran?” Tanyanya dengan mata berbinar, seolah baru saja mendengar bahwa ia mendang undian sabun cuci yang sering diikuti oleh para ibu rumah tangga.

“Iya. Jadi kamu tinggal cari aja orang yang satu lokasi sama Dion terus tanya dia mau nggak tukeran sama kamu. Kalau dia mau, kalian tinggal hubungin staff LPM biar diurus.”

“Asyiiik.” Diandra berteriak heboh kesenangan. Ia dan Maya sampai jadi perhatian penghuni kantin, tapi ia tidak peduli. Yang penting sekarang adalah dia dan Dion bisa satu lokasi.

****
Diandra berjalan ke kampus dengan langkah riang dan senyum senang. Ia sedang berbuga-bunga hari ini. Kemarin ia dan Maya sudah mencari tahu siapa saja orang-orang yang satu lokasi KKN dengan Dion dan menanyakan kepada mereka apakah ada yang mau bertukar lokasi dengan Diandra. Dan ternyata, Vira, salah satu anak dari jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari, dan Musik) bersedia untuk bertukar dengannya.

Hari ini coaching akan dilaksanakan di gedung auditorium kampus. Dengan bersemangat Diandra menyapa teman-temannya yang sudah berada di kampus lebih dulu darinya.

“Haiiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Riang ia menyapa dengan senyum lebarnya.

“Ada yang lagi bahagia.” Maya menggodanya sambil mengedipkan matanya. Ia turut berbahagia untuk Diandra. Setelah beberapa hari disuguhi pemandangan wajah cemberut kusut, akhirnya hari ini ia bisa melihat senyum Diandra.

Diandra hanya tersenyum menanggapi.

“Tumben kamu ceria dengan penampilan putih hitam kayak gini?” Tono, teman Diandra yang lainnya bertanya. “Biasanya kan kamu pasling kesel. Apalagi kalau sudah disuruh pakai rok panjang.”

Lagi-lagi Diandra hanya tersenyum menanggapi. Diandra memang sangat tidak suka menggunakan setelan putih hitam seperti ini. Kemeja putih dan rok hitam panjang. Menurutnya, penampilan seperti ini membuatnya terlihat seperti perwujudan dari kotoran cicak. Dan untuk coaching hari ini seluruh mahasiswa yang mengikutinya diwajibkan mengenakan pakaian putih hitam.

            Tapi itu tidak penting lagi. Yang terpenting adalah hari pertemuannya dengan Dion sudah semakin dekat.
****
“Di kamu sudah dimana?”

“Sudah di jalan. Sebentar lagi sampai.”

Klik.

Diandra mematikan sambungan teleponnya. Hari ini ia dan teman-teman selokasi KKN-nya yang baru janjian untuk bertemu di kampus. Ide ini datang dari Risa, teman baru Diandra yang barusan menelepon. Dari dua puluh sembilan orang anggota kelompok KKN-nya yang baru, memang baru Risa saja yang dikenalnya. Sementara Risa, sudah mengenal semua anggota kelompoknya. Jadi, Risa mengusulkan bagaimana jika mereka bertemu terlebih dahulu agar bisa berkenalan secara lebih dekat, mengingat selama dua bulan ke depan mereka akan bekerja sama dalam satu tim untuk melaksanakan tugas.

Diandra sampai di kampus yang langsung disambut meriah oleh Risa. Risa memang orang yang heboh dan cerewet, jadi tak mengherankan jika dalam waktu singkat ia bahkan sudah mengenal seluruh teman-teman anggota KKN-nya. Tapi sambutan meriah Risa malah membuat Diandra malu. Pasalnya, saat ini, di sana, di antara dua puluh sembilan orang yang berkumpul seperti dua tim keseblasan beserta masing-masing pemain cadangannya itu, ada Dion. Dan laki-laki itu melempar senyum ke arahnya.

****
“Diandra!” Tegur sebuah suara saat Diandra melewati parkiran kampus. Seketika Diandra menoleh dan langsung terkejut mendapati siapa yang menegurnya.

“Eh… Dion.”

“Hai.”

“Hai juga.”

“Mau pulang?”

“I-iya.”

“Aku antar?”

Sepanjang perjalanan pulang, jantung Diaandra tak henti-hentinya dangdutan. Seperti ada yang menabuh gendang di dalamnya.

Dukduk…Dukduk…

Ia, Diandra Arifin, saat ini duduk di boncengan Dion, cowok kece bertampang boyband yang diidam-idamkannya sejak dulu. Cowok yang sejak dua tahun yang lalu hanya bisa dikaguminya dari jauh. Ia sama sekali tidak percaya bahwa hari ini, ia bisa duduk di boncengan motor Dion untuk diantar pulang.

            Beberapa hari yang lalu, saat janjian ketemuan yang diusulkan Risa, ia dan Dion memang sudah bertemu dan berkenalan. Tapi saat itu Diandra lebih banyak diam dan tersenyum sesekali. Tidak berani sok akrab seperti yang Risa lakukan. Berbeda dengan Dion, laki-laki itu ternyata adalah pribadi yang ramah dan juga humoris. Sama sekali tidak gengsi tertawa terbahak-bahak karena lelucon yang dibuat oleh teman-temannya, seperti Adit, cowok Sendratasik nyentrik yang bercita-cita jadi pelawak.

Dan hari ini, ia tidak menyangka Dion masih mengingatnya bahkan menawarkan untuk mengantarnya pulang. Benar-benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

“Makasih, ya.” Ujar Diandra saat turun dari boncengan motor Dion sembari menyerahkan helm ke cowok itu.

Dion menerimanya dan tersenyum. “Sama-sama.” Jawabnya. “Masuk aja duluan. Aku lihatin dari sini.” Ujarnya.

“I-iya.” Diandra mengiyakan dan mengangguk kaku. Dengan langkah berat, diputarnya tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Benar-benar khawatir ia akan terlihat jelek dari belakang.

Begitu ia mencapai pintu, diputarnya kembali tubuhnya dan mendapati Dion masih ada disana, mengawasinya. Dilemparkannya sebentuk senyum sambil melambaikan tangannya. Dion mmebalasnya dengan senyum kecil, memakai helm, kemudian melajukan motornya menjauh dari sana.

****
Bus yang mereka tumpangi berhenti di depan balai desa. Hari ini Diandra dan teman-temannya untuk pertama kali mengunjungi desa yang menjadi lokasi tempat mereka mengabdikan ilmu. Sampai dua bulan ke depan, mereka akan tinggal disini bersama-sama, berbaur dengan masyarakat yang ada, dengan lingkungan yang bahkan belum mereka kenal.

            Kata orang-orang, KKN itu gampang gampang susah. Tapi bagi Diandra, sesusah apapun itu, akan ia lalui. Dion ada di dekatnya dan sudah bisa dipastikan lelaki itu akan menjadi penyemangatnya.

Mereka disambut dengan tarian. Disuguhkan oleh lima anak kecil dari desa, yang dikhususkan untuk penyambutan tamu. Diandra senang sekali. Ia sangat suka melihat orang menari, baik itu tarian modern maupun tarian daerah. Disambut seperti ini membuat senyumnya merekah sumringah.

Dion yang melihatnya juga ikut tersenyum. Apalagi tingkah riang Diandra, membuatnya tertawa kecil. Tanpa ragu ia mendaratkan tangan kanannya dan mengusap kepala Diandra lembut. Sementara Diandra, hanya bisa mematung. Terkejut. Namun detik selanjutnya, senyumnya merekah, lebih lebar dari sebelumnya.
****
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hari ini adalah acara perpisahan dengan masyarakat desa. Mereka telah melaksanakan tugas selama dua bulan dengan sangat baik. Semua program yang telah dicanangkan berjalan, meskipun ada beberapa kendala tapi tetap bisa ditangani. Masyarakat desa selalu menyambut pelaksanaan program-program tersebut dengan antusias. Mereka juga senantiasa berpartisipasi di dalamnya. Seluruh peserta KKN yang ada di kelompok Diandra tersenyum bahagia dan bangga. Akhirnya salah satu tugas mereka di semester semester terakhir di kampus telah terlaksana.

            Akan tetapi, Diandra tak sepenuhnya bahagia. Meskipun berbangga diri, ia juga bersedih. Hari ini akan menjadi hari terakhir kebersamaannya dengan Dion. Ia tidak tahu apakah selanjutnya Dion masih mau berteman dengannya atau tidak, walaupun ia yakin dan percaya Dion bukanlah sosok yang seperti itu, tidak mau kenal lagi setelah segala urusan selesai. Tapi tetap saja Diandra khawatir. Dua bulan tinggal di satu daerah yang sama bahkan bekerja sama untuk kepentingan bersama tidak membuat hubungannya dan Dion mengalami kemajuan. Jangankan dekat dan berpacaran, PDKT saja tidak. Bagaimana mau PDKT kalau mereka kesini tujuannya jelas bukan untuk hal itu?

****
Diandra kembali sibuk. Jadwal magang sudah di depan mata tapi pikirannya sama sekali tidak bisa fokus disana. Nama Dion selalu menari di ingatannya, wajah Dion selalu bertamu di mimpinya.

Sudah sejak dua minggu yang lalu mereka menyelesaikan program KKN dan sejak saat itu pula ia dan Dion belum pernah bertegur sapa. Bukan tidak mau, tapi Diandra ragu dan juga malu. Sering ia lewat di depan Fakultas MIPA. Sering juga ia melihat Dion disana, berkumpul bersama teman-temannya, dan tertawa. Tapi Diandra tidak berani menegurnya, tidak berani menyapanya. Takut Dion sudah lupa atau pura-pira tidak ingat lagi padanya.

****
Diandra yang sekarang, masih Diandra yang dulu. Masih Diandra yang pemalu, masih Diandra yang selalu menatap Dion dari jauh. Tapi ada yang telah berbeda. Ia bukan lagi mahasiswi yang bisa santai mondar mandir di kampus tanpa ada beban. Kini Diandra adalah salah satu karyawan magang di salah satu perusahaan swasta.

Begitu pula Dion, ia masih tetap Dion yang Diandra kagumi. Ia masih tetap Dion yang Diandra cintai. Tapi ada yang telah berbeda. Ia bukan lagi mahasiswa yang bisa asyik nongkrong dan bercanda di taman fakultas. Kini Dion adalah salah satu guru PPL di sekolah menegah.

****
Bulan Juni datang. Diandra patut berbangga menyambutnya, begitu pula kedua orang tuanya. Mulai hari ini, Diandra berganti status. Dari mahasiswa ke pengangguran. Tapi Diandra berjanji, status baru itu akan berakhir seiring dengan jarum jam menunjuk angka 12.01. Hari ini, ia wisuda kelulusan!

Dengan ceria Diandra melenggang kesana kemari, berpose sana sini bersama teman-temannya. Salah satu kebahagiaan terbesar dalam sebuah persahabatan adalah saat memulai perjuangan bersama dan menyelesaikannya secara bersama-sama pula. Diandra bahagia sekali. Ia bisa wisuda tepat waktu bersama teman-teman seperjuangannya. Bersama Maya, Tono, bahkan teman-teman yang dulunya adalah keluarga dekatnya di lokasi KKN.

Mereka semua tersenyum bahagia, Diandra juga. Meskipun ada satu harapannya yang tak terkabul: Dion. Perasaannya pada Dion masih tetap sama, tidak pernah berubah. Komposisinya masih tetap cinta yang dibumbui rasa sayang dan terpesona. Meskipun kini ia tidak tahu bagaimana nasib laki-laki itu. Tengah berbangga hati pula atau dengan lapang dada harus menunda kebanggannya sampai tiga bulan atau bahkan dua belas bulan ke depan.

            Diandra tidak tahu dan memilih untuk tidak memikirkannya dulu. Ia akan menunda sampai esok hari yang entah akan bertahan sampai kapan.


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh