Mana Suka

Jumat, September 19, 2014

Diana meneken-nekan tombol ponselnya dengan cepat. Matanya fokus pada layar putih kosong yang semakin lama semakin terisi dengan berdert-deret huruf hitam tebal yang membentuk kalimat.

‘Kirimkan pin ATM-mu dan berapa jumlah tunai yang harus kutarik.’

Begitulah bunyi kalimat tersebut. Setelahnya, ia menekan tombol kirim, kemudian kembali pada aktivitasnya sebelumnya, menekan-nekan tombol keyboard pada laptopnya. Menulis apa yang bisa ditulisnya, menulis apa yang mampir di otaknya.

            Detik berlalu, menit berjalan, jam pun berganti. Sudah sejak dua jam yang lalu Diana menunggu, tidak ada balasan sama sekali. Menggerutu dalam hati, Diana tetap meneruskan tulisannya hingga selesai. Ingin sekali ia mengomeli orang di seberang yang tak kunjung memberikan balasan atas pesannya, tapi ia terlalu sayang pulsanya yang tinggal sedikit. Sang simcard bahkan sudah meraung minta diisi ulang, tapi ia terlalu sayang uang jajannya yang jumlahnya pun tak seberapa.

Kegiatan menulisnya selesai, dilanjutkan dengan membaca buku berbentuk file pdf yang barusan diunduhnya. Untuk membunuh bosan saat jaringan internet – yang bisa didapatkan secara cuma-cuma di kampus, tiba-tiba saja tewas. Sesekali ia tertawa, membuat Aldo, teman sekelas yang kebetulan duduk di bangku panjang fakultas tak jauh darinya bertanya apa yang sedang ia lakukan. Akan tetapi, bahkan sampai ia menyelesaikan buku kedua dengan jumlah halaman yang mencapai angka lima puluh empat, balasan yang ditunggunya tak kunjung tiba.

            Baru saja ia berniat untuk ke kantin demi mengisi perut yang sudah keroncongan, yang ditunggunya pun datang. Bukan dalam bentuk pesan melainkan dalam wujud manusia. Delta, kakak yang sejak tadi sepertinya mengacuhkan pesannya, mengajaknya ke pasar.

****
“Mau ngapain kita ke pasar?” Diana bertanya sambil berlari-lari kecil mengikuti langkah panjang Delta yang sama sekali tak tergesa.

“Mau cari cermin dan minyak tanah.” Begitu jawaban Delta. Diana ingat, Delta pernah tidak sengaja memecahkan cermin salah seorang temannya yang sering mereka gunakan di kos-kosan tempat mereka tinggal. Seingatnya kemarin mereka berencana membeli pengganti cermin dengan bingkai merah muda itu di salah satu pusat pertokoan tak jauh dari kampus. “Kalau mau cari cermin, kenapa ke pasar? Mau dibeli dimana?”

“Di kios. Dan juga, kita harus membeli minyak tanah.” Delta menjawab. Delta tahu bahwa pertanyaan Diana ini sama sekali bukan karena ia bingung harus mencari cermin di bagian mana pasar, ia hanya tidak mau ke pasar. Bau, katanya. Tapi Delta tidak mau membiasakannya. Sebagai kakak, ia harus mengarahkan Diana agar jangan sampai memuja kehidupan yang serba mewah. Mereka bukan berasal dari keluarga berada. Mereka hanya dua bersaudara dari suami istri yang hidup sederhana.

            Diana hendak protes, tapi tidak sempat. Delta sudah terlanjur memanggil Abang tukang becak yang mangkal tak jauh dari sana dan menyebutkan kemana destinasi perjalanan mereka. ‘Ke pasar, Bang.’

****
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai di pasar. Sambil mengucapkan terima kasih, Delta menyerahkan satu lembar uang lima ribu rupiah pada si Abang tukang becak. Ia menerimanya dengan senyum sumringah dan mengucapkan terima kasih kembali.

           Delta mengajak Diana berputar-putar di dalam pasar setelah sebelumnya singgah di tukang sol sepatu di pinggir jalan. Menyerahkan sepatu yang sudah tidak bisa dipakai karena sobek, untuk diperbaiki. Kemudian masuk ke dalam pasar. Melewati kios kios pakaian, sepatu, tas bahkan tukang penjual ikan. Masuk dari lorong yang satu dan keluar di lorong yang lain. Tapi cermin yang dicari tak juga ditemukan.

“Mau cari dimana sih?” Diana mulai sebal. Hidungnya sudah mulai mencium bau tak sedap yang membuatnya mual, yang ternyata berasal dari daging sapi yang digantung di salah satu kios tak jauh dari mereka.

“Ikut saja.” Begitu jawaban Delta. Membuat Diana gemas dibuatnya, tapi tidak serta merta bisa mengomel. Ia dan Delta diperhatikan banyak orang. Penjaga-penjaga kios yang sepertinya sudah gerah melihat mereka hanya lewat dan tidak mau mampir meskipun sudah ditawarkan.

            Entah di lorong ke berapa, mata Diana tak sengaja menangkap cermin berukuran sama seperti milik teman Delta di salah satu kios yang menjual peralatan dapur dan peralatan bersih bersih. Ditunjuknya kios itu dan Delta setuju untuk singgah. Setelah melakukan penawaran sebentar, akhirnya mereka mendapatkan cermin lonjong dengan bingkai hijau cemerlang itu di tangan.

Kembali Delta mengajak Diana berputar-putar. Keluar masuk lorong lagi. Cari minyak tanah. Diana tidak tahu berapa lama ia dan Delta kesana kemari di dalam pasar. Tak terhitung lagi berapa kali mereka menemui jalan buntu. Tapi Delta tidak menyerah pada pencarian minyak tanahnya. Ia dan Diana membutuhkannya untuk memasak. Kompor mereka sudah kering. Sumbu sudah meronta-ronta minta direndam, minta dimandikan.

            Diana hanya bisa setia mengekori Delta. Ia tidak mungkin meninggalkan Delta disini karena ia sendiri sudah bingung harus keluar lewat mana. Matanya hanya menemukan lorong dan lorong. Seperti labirin yang membingungkan, tidak ada jalan keluar.

Betapa bersyukurnya Diana saat Delta menemukan kios yang menjual minyak tanah. Akhirnya sebentar lagi ia akan keluar dari semi-labirin ini. Tanpa menawar, setelah membandingkan harga minyak tanah disini dan yang beberapa hari lalu disebutkan Ayahnya, Delta membayar. Dan Diandra mendapat kehormatan untuk menenteng minyak tanah yang ditampung dalam botol air mineral satu liter itu.

            Tanpa protes, Diana mengiyakan. Yang penting keluar dari sini. Tidak peduli mau dia terlihat aneh atau tidak menenteng botol yang diikat tali plastik seperti ini. Namun, untuk pertama kalinya, satu kios menarik perhatian Diana. Dimintanya Delta untuk mampir sebentar dan melihat-lihat. Kios pernak-pernik khas gadis remaja. Dan Delta sama sekali tidak keberatan. Ditemaninya Diana yang tiba-tiba berubah antusias itu. Sesekali ia menanyakan pendapat Delta yang hanya menjawabnya dengan kata ‘terserah, ambil saja kalau suka dan cepat’. Membuat Diana cemberut sebentar, lalu tersenyum lagi, asyik memilih lagi.

Setelah beberapa lama menunggu, pilihan Diana jatuh pada dua buah ikat rambut dan sepasang jepit rambut. Diana membayar sejumlah yang disebutkan penjaga kios, lalu mengajak Delta keluar dari sana.
Sebelum kembali menggunakan jasa Abang tukang becak, Diana dan Delta kembali menemui tukang sol sepatu.

Sol sepatu Mana Suka. Itulah yang pertama kali ditangkap mata Diana begitu tiba disana. Sepatu Delta sedang dalam proses penjahitan. Ia dan Delta memutuskan untuk menunggu dengan duduk di bangku kayu tua reyot yang memang sudah disediakan untuk para pelanggan.

Mereka duduk sambil menatap hiruk pikik jalan di depan. Orang-orang yang berlalu lalang, Abang tukang becak yang mangkal, kios kecil yang dijaga oleh seorang nenek berambut putih, yang membuat Diana bertanya dalam hati: dimana anak-anaknya berada?

            Sesekali Diana mengamati tukang sol sepatu Mana Suka. Seorang lelaki tua, berrambut tipis, berkumis tipis pula, berkulit hitam dengan tangan yang sudah mengerut, serta tulang yang menyembul dari kulitnya yang renta. Di sampingnya, duduk seorang laki-laki muda dengan rambut yang sedikit diberi warna kuning pada bagian ubun-ubunnya, membuatnya terlihat seperti bulu-bulu ayam. Mungkin ia seumuran dengan Delta. Sepertinya ia anak si lelaki tua ini. Di hadapan keduanya, terdapat sebuah meja yang digunakan untuk menampung berbagai macam benda. Gelas bening berisi kopi tubruk dengan penutup plastik berwarna hijau, benang nilon berbagai warna, kotak makanan berwarna merah muda dibalut kresek berwarna hijau, sepatu sepatu yang ditumpuk, dan lainnya yang Diana sendiri tidak tahu namanya.

Sepatu Delta memang sudah sobek, tapi bahan telapaknya terbuat dari bahan yang cukup keras. Diandra bergidik setiap kali melihat si pak tua menacapkan benda entah apa namanya untuk menjahit sepatu Delta. Tangan itu begitu kurus, begitu keriput, terlihat begitu rapuh, namun masih cukup kuat untuk melaksanakan pekerjaannya. Diana jadi teringat Ayahnya di rumah. Beliau memang masih tergolong muda. Otot tangannya masih kuat. Otot yang sama sekali bukan hasil dari fitness melainkan dari kegigihannya memikul apa yang bisa dipikulnya, otot yang suatu saat nanti akan menemui ambang batasnya, keriput dan renta pula. Ayahnya hanya seorang petani biasa dan ia sadar, pendapatan seorang petani itu tidak seberapa.

Berapa banyak beban yang telah dipikul Ayahku demi menyekolahkanku?

Dialihkannya tatapannya dari si lelaki tua. Tidak mau terlalu lama memperhatikan dan tidak mau nantinya diperhatikan. Tidak mau orang-orang berpikir bahwa ia merasa kasihan karena memang bukan rasa itu yang terbit di hatinya. Ia tidak kasihan, tapi ia merasa sayang. Hatinya terenyuh melihatnya. Sementara Delta, sejak tadi kakak laki-lakinya itu hanya menatap ke depan, ke jalanan, sambil sesekali mengomentari siapa saja yang lewat di depannya. Entah itu para buruh angkut yang sejak tadi berseliweran, bahkan seorang wanita dengan penampilan aneh namun masih dengan make-up rapi ala ibu ibu arisan.

Masih menunggu, seorang ibu turun dari motornya dan menghampiri Sol Sepatu Mana Suka. Ia mengeluarkan sepasang sepatu laki-laki – mungkin sepatu anaknya, menyerahkannya pada si lelaki tua, minta diperbaiki. Sebelum beranjak dari sana, kembali dengan motornya, ia sempat melakukan penawaran, berapa harga yang hendak diminta oleh si tukang sol sepatu untuk penjahitan sepatunya.

            Diana menghela napas mendengarnya. Menawar? Astaga! Masih bisa ibu itu menawar saat ia bisa pulang menggunakan kendaraan beroda dua yang dibantu mesin, sementara kedua lelaki ini mungkin hanya bisa pulang menggunakan sepeda butut yang terparkir di belakang bangku yang kini diduduki Diana dan Delta, atau mungkin berjalan kaki.

Hari semakin sore. Angin semakin kencang bertiup. Debu-debu berterbangan, membuat Diana sesekali menutup matanya demi menghindari kelilipan. Seng tua yang digunakan sebagai peneduh tempat mengais rejeki juga sudah berbunyi tak karuan sejak tadi. Delta bahkan sudah bertanya-tanya apakah seng ini akan jatuh menimpa mereka atau tidak.

Dari menara masjid tak jauh dari mereka sudah mulai terdengar bacaan ayat-ayat suci. Ayat-ayat Tuhan yang sengaja diperuntukkan bagi umatnya. Sebagai petunjuk dan pedoman dalam menjalani kehidupan. Sambil menikmati lantunan ayat suci dan mengikutinya dalam hati, telinga Diandra mendengar suara yang sama dari arah yang berlawanan dari masjid. Suara laki-laki. Diana menoleh. Betapa terkejutnya dia saat mendapati siapa laki-laki yang sedang ikut mengaji itu. Si laki-laki dengan rambut bulu ayamnya.

            Tanpa memperdulikan sekelilingnya, ia mengikuti bacaan ayat Al-Qur’an. Sambil menunduk, menjahit sepatu, ia mengaji. Surat At-Takwir. Dalam hati Diana berseru. Menyeru puja dan puji. Betapa cinta Tuhan begitu besar.

Mungkin laki-laki itu tidak dianugerahi materi yang berlebih, mungkin saja mereka hidup serba bersabar dan serba kekurangan. Tapi Tuhan tidak serta merta membiarkannya. Tuhan anugerahkan padanya bapak ibu bertanggung jawab yang tidak melupakan kewajibannya mengajarkan salah satu ilmu terpenting dalam hidup ini. Mengajarkannya cara membaca kitab, mengajarkannya membaca pedoman hidup.

Adzan berkumandang. Sepatu Delta pun telah selesai diperbaiki, sudah bisa dipakai lagi. Selembar uang dua puluh ribuan Delta serahkan pada si lelaki tua. Abang tukang becak sudah menunggu untuk mengantar mereka pulang, meninggalkan Sol Sepatu Mana Suka.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh