[CERPEN] Cerita Sebelum Pertemuan Kita

Minggu, Januari 15, 2017

“Sudahkah kau melihat Hilal”

“Siapa sajakah yang sudah melihat Hilal?”

“Sudahkah Hilal terlihat?”

“Tak perlu ribut. Kita tunggu saja pengumuman dari Menteri Agama. Memantau Hilal adalah salah satu tugas mereka selaku perwakilan kita.”

Sedari pagi, sejak semalam, kemarin, bahkan dua minggu yang lalu, orang-orang sudah sibuk berbisik-bisik soal datangnya Hilal. Termasuk kedua orang tua beserta kakak-kakakku. Baik tetangga maupun saudara jauh, pembicaraan itu semakin hari semakin membuat sakit kepalaku. Hanya tembok-tembok yang mengeliingiku yang tahu, betapa tidak percayanya aku pada kebaikan Bulan yang disebut-sebut sebagai Karunia dan Rahmat Tuhan.

Mendapat ampunan atas segala kesalahan hanya dengan beribadah selama satu bulan? Sungguh tidak masuk akal! Tuhan, seperti yang dipercaya banyak orang tentulah Maha Baik. Tapi apa kebaikanNya berlaku pada pendosa macam diriku? Biarkan aku terbahak jika ada yang mengiyakannya. Bahkan orangtuaku pun menyangsikan kebenarannya.

Setelah beberapa lama bercokol di depan televisi, anggota keluargaku bubar.  Pemerintah mengumumkan bahwa besok sudah waktunya berpuasa. Aku yang sedang makan malam, sesekali melirik kesibukan Abah menyemprotkan wewangian pada pakaiannya, kakak perempuanku yang membenahi kerudungnya, dan Abangku yang sedang membujuk putra bandelnya agar mau ikut berangkat ke masjid.

“Kamu ndak siap-siap, Yu?” Ummi bertanya padaku. Hampir saja aku tersedak mendengarnya. Inilah kali pertama sejak aku keluar dari penjara ada yang mengajakku untuk berangkat shalat berjama’ah. Segera kuteguk air di hadapanku. Kutandaskan hingga tiada tetes yang tersisa. Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa kering, tidak tahu harus mejawab apa.

“Tidak perlu ajak Wahyu, Abah tidak mau masjid kita yang suci dimasuki anak tidak tahu diuntung dan tidak bisa berterima kasih.”

****

“Mas Wahyu nggak puasa, ya?” Fajar, anak Abangku menatap polos pada Ayam Goreng di ujung bibirku. Meski bertanya demikian, mata bulatnya terfokus pada makanan yang sebentar lagi masuk ke mulutku.

“Kamu mau?” Tawarku.

Secepat kilat bocah itu mengangguk, tapi kemudian ia segera menggeleng. “Kata Ayah, Fajar baru bisa makan kalau sudah adzan maghrib.”

Nggak apa-apa. Emang Fajar bisa menahan lapar seharian?” Lalu Abah muncul. Entah dari mana ia, tapi wajahnya terlihat sangat marah. Bola matanya seakan mau keluar dari tempatnya.“Jangan coba-coba mempegaruhi Fajar, Wahyu! Jika kamu ingin sesat, sesatlah sendirian. Jangan libatkan siapa pun di rumah ini!”

Setelah berkata demikian, ia berlalu. Menyeret Fajar menjauh dariku, seolah aku virus mematikan yang tidak seharusnya didekati. Memang benar demikian. Aku adalah virus yang telah mencoreng nama baik keluarga. Melempar wajah K.H Abdullah – begitu orang-orang menyebutnya, dengan kotoran paling busuk di dunia. Bagaimana bisa anak seorang kiay tercatat sebagai mantan Narapidana? Itu adalah aib yang tak dapat diterima.

            Beberapa menit setelah Abah pergi, ponsel yang tersimpan di dalam kantong celanaku berbunyi. Ada pesan masuk. Dari Radi, teman semasa SMA-ku dan yang paling memahami pergolakan batin yang aku alami. Isinya sebuah ajakan untuk bersenang-senang, melupakan segala masalah dan kekecewaan yang tentu saja langsung aku iyakan.

Aku berangkat ke tempat yang disebutkan Radi. Menggunakan motor ninja pembelian Ummi beberapa tahun lalu, aku tiba di salah satu tempat hiburan di pinggiran Jakarta. Pub ini memang sudah menjadi langganan Radi sejak entah kapan aku tidak tahu, belakangan pun menjadi tempat favoritku untuk menghabiskan waktu. Segalanya aku peroleh disini. Kesenangan dunia bertaburan seolah akhirat tidak menunggu esok hari. Tapi aku tidak peduli. Di luar sana, mereka-mereka yang mengaku paling benar dan dekat dengan Tuhan tak pernah mencoba memahami bagaimana menderitanya aku sejak hal yang diakibatkan oleh kebodohanku itu terjadi. Menyimpan luka dan rasa bersalah sendirian adalah salah satu hal mematikan yang akan membunuh siapa saja pelan-pelan, termasuk aku.

            Dentuman musik yang memekakkan telinga segera menyambutku begitu aku masuk. Asap rokok di mana-mana, orang-orang teler karena alkohol, serta wanita-wanita yang rela merendahkan harga diri demi harapan hidup di hari esok. Beberapa mencoba merayuku tapi tidak satu pun aku gubris. Aku tidak perlu perempuan malam ini., yang aku butuhkan adalah ramuan dahsyat yang dapat membawaku terbang ke langit sesegera mungkin dan melupakan segalanya.

Radi menyambutku dengan sumringah. Di salah satu sudut, ia duduk ditemani beberapa wanita dengan busana yang mengundang, sementara di atas meja, beberapa bungkus mariyuana siap pakai seakan sudah menunggu kedatanganku. Tanpa menunggu komando, segera saja kuraup bagian kecilnya, kupadatkan, lalu kuhirup dalam-dalam. Ini yang aku butuhkan. Saat itu, yang aku pikirkan adalah bahagia bisa didapatkan di mana saja termasuk lewat fantasi yang menggila.

****

Aku terbangun tiba-tiba, setengah sadar menatap sekeliling. Mencoba menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang terasa menyakitkan. Dan setelahnya, aku rasanya ingin kabur saja. Tidak seharusnya aku disini. Apa yang aku lakukan disini? Bagaimana bisa? Bukankah tadi aku sedang terbang di atas awan bersama Rossa – aku tidak tahu siapa gadis itu tapi yang jelas aku memanggilnya demikian, menari bahagia dan bersenandung mesra? Siapa yang membawaku kesini? Beberapa orang yang baru saja tiba menatapku dengan pandangan jijik dan ingin muntah, beberapa lainnya mengeluarkan sumpah serapah.

“Pembunuh!”

“Pemerkosa!”

“Manusia Terkutuk.”

“Aib keluarga.” Segala macam bentuk makian keluar dari mulut mereka yang mengaku suci dan terampuni, ditujukan kepadaku. Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul empat lebih dua pulu dua menit. Sebentar kemudian, adzan subuh berkumandang. Tanpa berpikir panjang, aku kabur meninggalkan tempat itu – Masjid Darussalam yang sudah sejak lama berdiri di komplek tempat tinggalku.

Aku berjalan tak tentu arah. Jantungku berdetak begitu cepat, seolah ada yang menabuh gendang di dalamnya. Adzan masih berkumandang dengan merdunya sementara telingaku benar-benar sudah sakit mendengarnya. Lalu sosok itu muncul. Pria berwajah seputih cahaya itu tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapanku. Tidak seperti orang-orang yang mencaciku, ia justru memberikan senyum yang teramat menyejukkan. Wajahnya yang bersinar itu pun menguarkan wangi yang tak pernah aku baui sebelumnya. Tanpa mengucap kata, ia berjalan melewatiku. Mungkin ia mau ke masjid untuk menunaikan shalat subuh.

Sedetik aku terpana, tapi kemudian realita kembali menguasaiku. Mungkin saja mataku salah, efek ganja mungkin belum hilang sepenuhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak memikirkannya meskipun senyum bercahayanya terasa seperti anugerah yang datang tanpa disangka-sangka. Aku pun melanjutkan langkahku. Tapi, kemudian aku terpaku. Wajah itu adalah wajah pria yang beberapa jam lalu menemaniku.

 “Siapa kamu?” Tanyaku dengan susah payah. Keringat mengucur deras membasahi tubuhku. Meski begitu, segala yang mengelilingiku tampak indah dan tentu saja menerimaku, kecuali satu orang entah siapa yang kini duduk di depanku. Wajahnya bersih secerah matahari pagi. Tatapannya meneyejukkan seperti embun dan baunya seharum kesturi.

“Aku merindukanmu.” Jawabnya. Aku terbahak mendengarnya. Aku tidak kenal siapa dia, bertemu saja baru kali ini lalu ia mengatakan bahwa ia merindukanku. Lawakan yang sungguh konyol.

“Aku tidak mengenalmu.” Aku menatap wajahnya yang saat ini tersenyum namun menyiratkan kesedihan yang disimpan dalam dalam.

“Kau kenal aku, Wahyu. Aku adalah salah satu kebaikan yang diturunkan dengan serta membawa namamu.”

Aku mengernyit. Tidak paham dengan apa yang sedang laki-laki penuh cahaya itu bicarakan. Mungkin ia sedang mengigau...

“Aku Ramadhan!”

Aliran darahku serasa berhenti. Ingatan itu menghantam ulu hatiku begitu telak. Tubuhku limbung, secepat kilat mencari pegangan yang sialnya tak kutemukan. Aku terjatuh di tengah jalan. Lututku menghantam aspal dengan bunyi yang menyakitkan, tapi tak sesakit dengan apa yang kini aku rasakan. Beberapa detik kemudian, tawaku membahana. Menyadari sebuah ketololan jika aku percaya pada apa yang baru saja disampaikan ingatan. Bagaimana bisa aku tertohok oleh sesuatu yang diakibatkan oleh padatnya kanabis. Tentu saja itu hanyalah fantasi, tidak kurang apalagi lebih.
Orang-orang yang sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya meskipun sedang berpuasa menatapku yang seolah bersimpuh di tanah dengan tatapan heran. Mungkin aku disangka mabuk atau gila karena tertawa sendirian.
****
Ramadhan sepuluh hari lagi berakhir. Orang-orang bukan lagi hanya sibuk dengan puasa tapi beberapa persiapan untuk menyambut Lebaran, Hari Kemenangan. Ummi, meski pun tak ketinggalan. Kue-kue kering dan segala jenis panganan lebaran sudah mulai dipersiapkan. Kerudung terbaru, baju koko mahal dan parfum terkini. Waktu itu aku masih saja seperti biasa, melakukan yang aku suka, makan dan minum seenaknya di depan siapa saja serta menutup pendengaran akan kumandang kedatangan Lailatul Qadar. Peduli setan! Meski aku berkesempatan mendapatkan malam itu, amalanku pasti tidak akan dihitung. Segalanya akan sia-sia dan aku tetap saja menderita hingga nanti aku mati.

Waktu menunjukkan pukul dua siang saat permintaan itu diutarakan. Ummi memintaku mengantakannya ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan, persiapan untuk berbuka.

“Ummi baru sadar kalau bahan makanan kita sudah habis. Wahyu antarkan Ummi, ya? Cuma sebentar, ndak akan lama.”

Sebenarnya aku tidak ingin, tapi inilah kali pertama ada yang meminta sesuatu padaku. Aku merasa dibutuhkan, jadi aku menyetujuinya. Aku mengantarkan Ummi ke pasar menggunakan mobil Abah. Tadinya aku menolak, karena Abah pasti akan murka jika benda kesayangannya digunakan orang lain apalagi diriku. Tapi Ummi meyakinkan bahwa untuk kali ini Abah pasti mengizinkan.

Sesampainya di pasar, aku mengekori ke mana pun Ummi pergi sambil menenteng beberapa belanjaan yang sudah dibayar. Ke penjual sayur hingga ke penjual kurma. Awalnya aku tidak memperhatikan. Tapi entah hapal dengan baunya, aku pun otomatis menatap wajah si penjual yang cahayanya masih secerah saat aku bertemu dengannya malam itu. Ia pun melempar senyum kepadaku.

Setelah membeli beberapa bungkus buah kurma, Ummi dan aku pun hendak beranjak pulang lalu laki-laki itu berkata...

“Aku masih menunggumu, Wahyu.”

Sungguh mengganggu. Teramat mengganggu. Kalimat pendek itu tak bisa lepas dari pikiranku bahkan hingga malam menjelang. Aku tidur bersama tanda tanya, memejamkan mata dengan otak yang berkelana. Apa maksud ini semua? Apa ini yang mereka sebut hidayah? Petunjuk? Tapi... bagaimana bisa? Aku bukan jenis orang yang pantas mendapatkannya. Malam itu, aku tidak bisa tidur sama sekali.

Di sepertiga malam, aku bangkit dari tempat tidur. Kehausan. Tanpa mematikan lampu, aku berjalan menuju dapur.

Tepat setelah kakiku menginjak anak tangga yang terakhir, pemandangan menakutkan itu terjadi. Di depan sana, di dalam ruang keluarga, kulihat Ummi menangis sejadi-jadinya. Membelai kepala anak laki-lakinya dengan penuh sayang dan penyesalan. Beribu kata maaf terucap, namun segalanya sudah terlambat. Waktu telah berhenti untuknya.... untukku....

Tidak! Ini salah. Kesetanan aku berlari, menghampiri Ummi yang masih menangis. Ingin memberitahu bahwa yang terbaring kaku di depan sana bukan aku, yang kini hidungnya ditutupi kapas putih jelas bukan Wahyu, tapi sia-sia. Tanganku seperti berusaha menangkap angin. Suaraku tak keluar, Ummi tak bisa kusentuh. Air mata menganak sungai di pipiku. Aku menangis ketakutan, ini semua tidak mungkin terjadi, lalu saat itu tiba-tiba cahaya lampu dan suara Ummi menghentikan tangis dan sedu sedanku – yang berlutut di depan meja kaca panjang.

“Sedang apa, Wahyu?”

Sedikit kebingungan, aku bangkit dan menjawab “Wahyu mau sahur, Ummi.”

****
“Itulah yang terjadi sebelum kau datang. Apa kau sudah puas?” Wahyu menyelesaikan ceritanya pada Izra yang memandanganya dengan tatapan kagum. Dari jauh sayup-sayup terdengar gema takbir. Hari ini adalah hari Kemenangan umat Islam, Hari Raya Idul Fitri. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Wahyu.

“Pantas saja tadi aku tidak tega jika melakukannya secara cepat.” Izra menjawab. “Aku tidak menyangka bahwa kau menerima petunjuk itu.”

“Terima kasih tapi yang barusan itu tetap saja terasa sakit. Aku tidak tahu dan juga tidak akan mencari tahu apa alasannya, namun aku bersyukur untuk keputusan yang telah aku ambil malam itu.”
Mendengarnya, Izra tersenyum.

“Sudahlah. Bukankah tadi kau bilang kau akan mengantarkanku untuk bertemu Tuhanku, Izrail?” 

You Might Also Like

6 komentar

  1. Buat kumpulan cerpen aja coba.. kirim ke penerbit. Bagus lho cerpen2 nya.. Diksi nya juga keren.. Salute lah.

    www.theamazingjasmi.com

    BalasHapus
  2. Wah makasih Mbak. Jadi makin semangat saya nulisnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku selalu suka kalau ada yg nulis cerita kayak percakapan seseorang dengan benda yang sebenarnya gak bisa bicara. Kayak si Aku dan Ramadhan ini. Aku gak tau apa istilahnya dalam cerpen. Walaupun saya cinta Indonesia tapi nilai B.Indo saya waktu sekolah lebih rendah dari Kimia. Nah gimana tuh? Haha

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Emmm apa ya namanya? Monolog? Haha aku jg bahasa indo malah lebih rendah dari bahasa inggris. Aku masih kurang banyak paham soal istilah2 dalam tulisan Bahasa Indonesia tapi emang doyan nulis cerita wkwk

      Hapus
    4. Haah.. Monolog. Bisa jadi. Hihi
      Semangat terus nulisnya.. Nanti aku update terus deh cerpen2 barunya. ^^

      Hapus

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh