Catatan harian yang semakin renta dan tua

Sabtu, 10 Desember 2016

,
Judul: Akagami no Shirayuki Hime
Judul Lain: Snow White with The Red Hair
Sutradara: Masahiro Ando
Penulis: Deko Akao
Penggubah: Michiru Oshima
Produser: Bones, FUNimation Entertainment
Genre: Drama, Fantasy,Historical, Romance, Shoujou
Durasi: 23 menit per Episode
Episode: 12
Rating: 7.88

Shirayuki terlahir dengan keunikan yang tidak dimiliki orang lain. Rambutnya yang indah dan cantik berwarna merah, sewarna apel. Hal yang membuatnya kerap menjadi perhatian, hal ini ternyata juga berlaku pada Raj, pangeran dari Tanbarun, negeri tempat Shirayuki tinggal. Ia mengiginkan Shirayuki sebagai selirnya, tentu saja bukan karena cinta melainkan terpikat pada rambutnya. Shirayuki yang tahu sepak terjang Pangeran Raj pun menolak. Ia meninggalkan Tanbarun bersama potongan rambut panjangnya untuk Sang Pangeran. Penghinaan ini membuat Raj berang lalu berusaha menemukan Shirayuki kembali. Dengan tipu muslihat, ia berniat meracuni Shirayuki dengan apel yang sialnya salah sasaran. Apel itu justru dimakan oleh Zen, pangeran kedua dari Clarines, negeri seberang.

Malu dengan tindakannya dan takut pada ancaman Zen, Raj akhirnya merelakan Shirayuki ikut rombongan pangeran itu pindah ke Clarines. Kedatangan Shirayuki tentu disambut baik dan fakta bahwa Clarines adalah negeri yang penuh dengan obat-obatan herbal membuat Shirayuki gembira. Ia bisa mewujudkan mimpinya menjadi apoteker disana. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang dimilikinya, akhirnya Shirayuki mampu menjadi anggota herbalis kastil dan tetap menjalin pertemanan yang erat dengan Zen. Hanya saja, kehidupan kastil dan istana yang besar dan megah memang selalu memilih keramahannya apalagi terhadap orang biasa. Dikenal sebagai pelarian dari Tanbarun, pangeran Izana ternyata tidak menyukai Shirayuki.

****

Anime ini menurut saya pribadi terinspirasi dari salah satu dongeng terkenal dan sudah akrab di telinga banyak orang. Keberadaan Shiryuki dengan rambut merahnya dan apel yang diracuni sudah sedikit banyak mewakili cerita Snow White. Namun memang, berbeda dengan si Putri Salju yang terkna racun apel sang penyihir, justru Zenlah yang menjadi korban.

Mengambil setting kerajaan, Akagami no Shirayuki Hime tidak begitu banyak dipenuhi adegan action. Hanya sebagian kecil saja, sebagian besar justru dipenuhi oleh kisah bagaimana Shirayuki memperjuangkan mimpinya sebagai apoteker. Namun, dalam perjalanannya, anime ini juga menghadirkan tokoh utama baru, Zen. Pangeran kedua yang tampak tak begitu disegani ini juga secara perlahan menjadi karakter utama yang membuat anime ini berjalan tidak begitu membosankan. Saya pribadi kurang begitu menikmati ceritanya karena terasa lamban, per episode memang selalu menghadirkan cerita dan pengalaman baru yang melibatkan Shirayuki dan Zen namun saya mendapatinya kurang seru dan greget.

Secara perlahan pula, anime ini berkembang menjadi anime roman yang manis. Meski tak secara gamblang, tingkah laku para tokoh sudah dapat menggambarkan kisah cinta yang porsinya tidak terlalu banyak. Menjelang epsiode terkahir syukurlah saya bisa cukup menikmati karena konflik yang muncul sudah lebih kentara walau memang mengarah pada konflik romansa. Saya rasa saya sudah bisa menebak apa yang akan disuguhkan season kedua dari anime ini dan berekspektasi bahwa yang kedua bisa lebih seru daripada yang pertama ini.

Untuk art, bagus banget. Saya suka sekali dengan penampakan karakternya, terkadang ada fan service juga, khusus buat fangirl tentu saja namun buat saya pribadi karakter memikat dalam anime ini bukan Zen melainkan Obi, pengawal pribadi yang ditugaskan untuk melindugi Shirayuki. Karismanya lebih bisa terpancar. Kemudian unsur komedi yang ada sedikit banyak menyelamatkan rasa jenuh saya yang bisa saja tiba-tiba datang. Anime ini bergenre drama namun tidak terlalu terasa, walau begiti terima kasih untuk episode penutupnya yang membuat saya pasti akan menonton Akagami no Shirayuko Hime 2.

Soundtrack-nya saya tidak begitu memperhatikan namun buat saya lagu-lagunya lumayan enak dan asyik untuk didengar di kala santai.

Senin, 05 Desember 2016

,
Judul Buku: Solely You
Penulis: Guntur Alam
Penerbit: PT. Elexmedia Komputindo
Editor: Ratna Kusumastuti
Versi: Ebook
Kategori: Novel Remaja
ISBN: 978-602-02-0785-8
Rating: 4/5

Apa kamu pernah merasa begitu bersalah?
Perasaan bersalah yang mengejar hingga kamu merasa tak akan pernah bisa memaafkan dirimu sendiri.
Tapi cinta tidak begitu, kata orang-orang terdekatmu, juga kata sahabat terbaikmu.
Sayangnya, semua sudah terlambat bagiku...

Sebuah kecelakaan membuat seorang pemuda dan gadis tersohor yang sedang naik daun koma selama berbulan-bulan. Mereka tidak saling mengenal, namun entah apa yang direncanakan semesta, saat sang pemuda siuman tubuhnya ternyata tertukar dengan tubuh sang gadis. Keduanya pun tak bisa menuntaskan misi, demi mengungkapkan rasa sayang mereka pada orang yang terkasih...

Dan adakah yang tahu cara meredam rindu?
Hingga rindu itu bisa tersimpan demikian rapi, tidak mengejarmu, tidak pula mengaduk-aduk isi hatimu?
Andai ada yang tahu caranya, aku ingin sekali orang itu mengajariku....


****
Cinta selalu memberi ruang maaf yang luas bagi segala kesalahan

Tio kecewa sekali dengan Via dan Dika. Ia marah, tak menyangka gadis yang dicintainya menduakannya dengan sahabatnya sendiri. Tapi, kata Rafael - sahabat dekat Tio juga, semua itu hanya salah paham. Dika dan Via sebenarnya sedang mempersiapkan ulang tahun Tio, jadi janjian jalan berdua. Sengaja supaya Tio nggak tahu, sedangkan Rafael, ia jalan bareng sahabat mereka lainnya. Menyadari kesilapannya, Tio pun berusaha mengejar Via yang hendak bertolak ke Palembang untuk libur semester sekaligus menenangkan diri. Naas, kecepatan motor Tio yang sudah melampaui batas membuatnya tak bisa menghindari kecelakaan itu terjadi. Ia menabrak motor pink dan seorang cewek yang mengendarainya kemudian menghantam sebuah truk.

Tio nggak menyangka ia masih bisa sadar dan melihat dunia sekaligus terkejut ketika yang menyambutnya bukan orangtua, sahabat-sahabatnya dan Via. Justru wanita tak dikenal yang mengaku sebagai mama dan papanya, serta suster yang memanggilnya dengan panggilan Mbak!

Dari sekian banyak hal impossible di dunia, Tio nggak menyangka bahwa jiwanya akan bertukar dengan jiwa gadis yang ditabraknya. Fanny Marissa, seorang aktris sinetron terkenal. Tio bangun sebagai seorang perempuan!

****

Waktu lihat sinopsis dan penulisnya, langsung aja saya pinjam di Ipusnas. Sinopsisnya memang mengundang rasa penasaran saya tentu aja dengan bagaimana cara Tio kembali pada tubuh dan kehidupan aslinya. Selain itu, meski baru sekali membaca karya Guntur Alam, saya suka dengan cerpen horror yang ditulisnya bersama beberapa penulis lainnya dalam sebuah antologi. Cerita ini mengusung tema cerita remaja yang cocok dibaca saat santai. Kita nggak perlu banyak memikirkan ketidakwajaran ide yang diangkat. Jiwa yang bertukar? Dari sisi manapun ini adalah ide yang 'tidak waras'. Namun buat saya pribadi, cerita dengan tema seperti ini adalah yang paling saya sukai, karena selain mengajak kita menelusuri cerita di luar nalar, pasti banyak sekali pesan moral yang akan kita dapatkan.

Dalam buku ini, pesan itu tersampaikan lewat tokoh-tokoh dan kehidupannya, Tio terutama serta bagaimana penyelesaian konflik dalam buku ini. Dengan konflik yang cukup rumit, buku ini diselesaikan dengan cara yang sederhana, sesederhana cinta :)).

Walau demikian, saya terlanjut dibuat penasaran dengan kehidupan seorang Fanny Marissa setelahnya. Meski nggak banyak mengambil peran, tubuh Fanny adalah tokoh yang hidup dalam buku ini, jadi merasa agak kurang puas dengan tidak adanya sedikit saja cerita tentang Fanny setelah ia sadar dari komanya.

Ada beberapa quote favorit saya dalam buku ini di antaranya:
1. Tiap orang punya batas kesabaran. Tiap orang punya batas kemampaun untuk terus mengalah, untuk terus bersikap dewasa - hlmn 2
2. Hal yang paling menyakitkan, adalah ketika kita kehilangan kepercayaan dari orang yang kita sayangi. Bahkan orang yang kita sayangi itu, justru termakan fitnah yang ada - hlmn 3
3. Cinta sejati akan menerima lo apa adanya, akan menerima kesalahan yang pernah lo lakuin. Dia akan terbuka dan selalu memberi kesempatan supaya lo memperbaiki diri - Rafael, hlmn 10
4. Dan kenangan selalu saja memberi ruang yang sangat lebar untuk sebuah kerinduan - hlmn 27
5. Seperti halnya manusia yang terlahir ke muka bumi ini. Ada batas waktu dan pada akhirnya semua akan menemukan titik batas itu. Apakah cinta juga seperti itu? Apa cinta memiliki limit? Seberapa jauhkah jarak yang harus terbentang sebelum menemukan titik batasnya itu? - hlmn 83-84
5. Ada kalanya kita nggak bisa masuk dalam urusan pribadi seseorang, Io. Walaupun orang itu saudara kita sendiri. Mereka tetap butuh ruang privasi, kita hanya boleh berkunjung, ketika si empu ruang membukakan pintu pada kita - Rafael, hlmn 100
6. Cinta itu seperti eskrim, akan selalu manis mau beku ataupun cair - hlm 211

Minggu, 04 Desember 2016

,
Judul Buku: Jodoh Untuk Naina
Penulis: Nima Mumtaz
Penerbit. PT. Elex Media Komputindo
Terbit: 2015
Kategori: Novel
Versi: Ebook
ISBN: 978-60202-6384-9
Rating: 5/5

Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih. Naina ikhlas. 
Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengaba Abah begitu yakin dia mampu menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan sebelum akad nikah?
Apaka dia adalah jodoh untuk Naina?

****

Tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau - Abah
Naina dijodohkan! Ide yang sudah lumrah namun tetap saja sedikit mengejutkan Naina. Pasalnya, ia masih merasa dirinya terlalu muda untuk rumah tangga dan pernikahan, Naina baru berusia 22 tahun. Umur yang tak lagi bisa dibilang remaja tapi tak juga menambah tuntutan untuk segera menikah. Sayangnya, Abah berpendapat lain. Saat ada anak temannya yang meminta dijodohkan, tanpa pikir panjang Abah langsung menyetujuinya, tentu saja dengan meminta pertimbangan Naina terlebih dulu. Meski tak memaksa, Naina tak bisa berbohong bahwa ada gurat harapan yang terpancar dari wajah Abah.

Meski sedikit terpaksa, dengan niat berbakti pada orangtua satu-satunya yang ia miliki, Naina pun menyetujui permintaan Abah. Ia rela dijodohkan, asal bisa melihat Abah bahagia. Tak perlu menunggu waktu, acara lamaran pun segera dilangsungkan. Naina akan bertemu dengan calon imamnya untuk pertama kalinya. Naina memang belum bertemu sekali pun dengan laki-laki itu, karena baginya tak ada bedanya. Bertemu lebih dulu atau pun tidak, mereka akan tetap menikah. Namun, kepasrahan Naina diuji saat acara lamaran dilangsugkan. Untuk pertama kalinya Naina melihat sosok yang hendak dijodohkan dengannya, laki-laki tampan dan dewasa namun sayang ia adalah seorang Rizal Ayyashi, seorang pria yang sepuluh tahun lalu telah menggores luka dan malu pada wajah keluarganya. Rizal diarak keliling kampung atas tuduhan berzina dengan perempuan bersuami!

Peristiwa memalukan itu akhirnya memaksa keluarga Rizal untuk pindah dari kampung. Kini, sepuluh tahun berlalu, mereka kembali dan hendak mempersunting Naina. Bukan, bukan hendak lagi tapi Naina memang telah dilamar untuk menjadi istri Rizal. Dan pernikahan mereka akan dilangsungkan sebulan setelah acara lamaran. Sejumput keraguan menghinggapi hati Naina. Rizal adalah laki-laki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Satu-satunya hal yang membekas dalam kepalanya tentang laki-laki itu adalah peristiwa sepuluh tahun lalu. Lantas bagaimana bisa Naina berbakti sebagai seorang istri pada laki-laki yang keraguan bahkan sudah terpancang untuknya sebelum pernikahan mereka dilangsungkan?

ULASAN

Bukunya manis dengan romansa yang kental dengan nuansa yang sangat islami. Mulai dari acara perjodohan, lamaran dan perkenalan antara Naina dan Rizal sama sekali tidak mengandung unsur pacaran di dalamnya. Dengan konflik yang sederhana, novel ini berhasil menghadirkan kisah cinta yang berbeda. Dua orang asing yang bahkan bertegur sapa pun tidak disatukan dalam ikatan pernikahan tentu akan menghasilkan rumah tangga yang awkward. Walaupun konsep dalam Islam memang seperti itu dan pelakunya pasti sadar akan hak dan kewajiban masing-masing, untuk kasus Naina, masa lalu Rizal menjadi pemicu konflik utama dalam menjalankan peran dan tanggungjawabnya sebagai istri.

Saya suka dengan gaya bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama. Naina sebagai pencerita membuat pembaca benar-benar bisa ikut dalam masalah yang ia hadapi dan seolah merasakan juga kegalauan yang ia rasakan. Keragu-raguannya terhadap suaminya juga perasaan belum ikhlasnya menjadi istri Rizal perlahan namun pasti memberikan pelajaran terutama tentang cara bersikap sebagai istri yang baik dan disayangi.

Saya baca cerita ini saat masih dalam bentuk project di Wattpad dan baru bisa menyelesaikannya sekarang lewat ebook-nya. Saya suka konfliknya yang lebih pada perang batin dibanding adu fisik, cara Naina berututur dan bercerita juga semakin memperkuat karakternya dan juga konflik dalam buku ini. Senang juga ada POV khusus untuk Rizal meski tidak banyak, setidaknya kita bisa memandang cerita ini tidak hanya dari satu sisi saja. Rizal dan Naina sama-sama asing saat bertemu dan saya rasa ide untuk menghadirkan isi kepala Rizal tentang istrinya adalah ide yang sangat bagus. Rizal memegang peranan penting dalam membentuk cerita dalam buku ini. 

Pesan moral yang dapat kita petik dalam buku ini adalah tentang bagaimana membangun sebuah hubungan atas dasar keyakinan dan Islam, bakti pada orang tua juga makna ikhlas pada apa yang sudah digariskan Tuhan. Selain itu, buku ini juga secara tersirat mengajak kita untuk tidak memandang seseorang dan menarik batas penilaian pada dirinya berdasar pada masa lalunya saja, karena yang terpenting adalah masa yang dijalani saat ini dan perubahan yang sudah ia coba lakukan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Ada banyak kutipan yang saya ambil dari buku ini, yakni:
1. Aku memang selalu punya pilihan, tapi aku juga memilih untuk membahagiakan Abah apa pun yan terjadi - Naina, hlmn 22
2. Naina, tobat itu adalah urusan manusia dengan Tuhan. Allah akan menerima tobat setiap manusia, siapa pun dia, asalkan itu dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Taubatannasuha.  Bersungguh-sungguh menyesali apa yang telah diperbuat dan tidak akan mengulanginya sama sekali. Nah, bagaimana sikap kita sebagai sesama muslim? Tentu saja mendukung, menerima dan membantu - Abah, hlmn 79
3. Naina, alangkah sombongnya kita sebagai manusia jika tidak mau menerima manusia lain yang ingin berubah. Sedangkan, Allah saja menerima setiap pertobatan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang ingin kembali pada-Nya. Masa kita sebagai manusia malah menyalahi kehendak-Nya? Tidak ada yang terlalu kotor ataupun terlalu bersih di mata-Nya. - Abah, hlmn 80
4. Aku ingin menikmati saat ii, meyakinkan diri bahwa kau benar-benar di sini - Rizal, hlmn 234
5. Tolong jangan ucapkan kata-kata mengerikan seperti talak atau perpisahan. Lebih baik kamu marahi aku berkali-kali tapi tolong jangan minta itu dariku - Rizal, hlmn 240
6. Naina, aku tak bisa menjanjikan hidup yang sempurna. Aku juga tak bisa menjanjikan semua isi dunia. Yang bisa kujanjikan hanyalah aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, untuk anak kita. Keluarga kita - Rizal

Jumat, 02 Desember 2016

,
Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor: Hetih Rusli
Desain dan Ilustrasi Cover: Staven Andersen
Terbit: 2013
Tebal Buku: 264 hlmn; 20 cm
Kategori: Novel Psychothriller
ISBN: 978-979-22-9466-8
Rating: 4/5

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.
Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.
Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam? 

ULASAN

"Aku mohon, jangan panggil aku Tara... Jangan..."

Tara adalah anak yang 'berbeda'. Sejak kecil, ia tidak menyukai nama pemberian orangtuanya. Hal yang aneh mengingat tidak pernah ada sejarah bayi tidak suka dengan nama pemberian kedua orangtuanya kecuali saat mereka sudah bertumbuh besar dan berniat mengganti nama. Tapi Tara berbeda. Fakta bahwa namanya terbentuk dari nama Ayah dan Ibunya, Bara dan Tari membuatnya benci. Selain itu, ia juga suka dengan hal-hal ganjil, termasuk bau darah. Ia suka bau anyir yang ditimbulkan oleh darah dan sangat menikmatinya. Hingga suatu hari Ibunya meninggal dan Bara, sang Ayah memutuskan untuk menitipkannya pada Paman dan Bibinya.

Meski tidak suka dengan namanya, Tara tak bisa berbuat apa-apa ketika Paman dan Bibinya juga memanggilnya dengan nama yang diberikan orangtuanya. Namun mereka cukup baik, memberi Tara perhatian dan kasih sayang, tidak seperti Bara yang suka memakinya dan kerjanya marah-marah saja. Paman dan Bibinya punya anak laki-laki, Moses namanya.

Moses nakal, fakta yang tak diketahui kedua orangtuanya. Ia kerap mengganggu Tara bahkan membuat gadis itu terjatuh dari sepeda. Tapi hal itu justru mempertemukannya dengan anak laki-laki yang memberinya koin lima rupiah. Ia berkata bahwa koin itu bisa mengurangi rasa sakit Tara. Sejak saat itu, jika Tara cemas, ketakutan atau kesakitan, ia akan menggenggam koin itu erat-erat. Seolah seluruh hidupnya bergantung pada koin itu. Ketergantungan Tara akan koin itu membuat Paman dan Bibinya khawatir, ditambah sifat Tara yang sangat pendiam. Akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Tara ke psikiater. Seorang psikiater muda dari Jakarta pun merawat Tara dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Namun sayang, sebelum pengobatannya selesai, sebelum keanehan Tara ditemukan jawabannya, sebuah pembantaian menimpa keluarga gadis itu. Paman dan Bibinya ditemukan bersimbah darah di rumah mereka, berikut Ayah kandung Tara, Bara. Sementara Tara ditemuka di dalam kotak perkakas berbentuk persegi di dalam gudang, dengan tubuh yang ditekuk sedemikian rupa agar tubuhnya muat disana. Ayah dan Bibinya tewas, Pamannya kritis dan Tara mengalami syok berat.

****

Ngeri adalah perasaan pertama yang menhinggapi hati saya ketika membaca novel ini. Dibuka dengan pemandangan Tara yang disekap dalam kotak perkakas, ditambah gaya bercerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam hal ini Tara membuat saya sedikit banyak bisa merasakan ngilu dan kengerian yang harus Tara alami selama mendekam di dalam kotak sempit berhari-hari. Kelegaan luar biasa juga saya rasakan saat Tara ditemukan dalam kondisi masih bernyawa.

Saya sempat mengira bahwa buku ini bercerita tentang detektif dan penyelidikan. Sudah sempat menduga pula bahwa buku ini berkaitan dengan sesuatu yang bersifat atau mendekati teori mental illness. Dugaan saya tidak sepenuhnya salah namun tidak sepenuhnya benar. Buku ini menyajikan kisah yang berbalut darah dan kengerian. Bab-bab pertama saya sempat kebingungan dan sedikit kesusahan untuk memahami isi buku ini. Alurnya yang maju mundur membuat saya harus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi namun sayang tidak mendapat jawaban pasti. Kepastian yang saya dapatkan hanyalah kengerian disana-sini, pada setiap sudut cerita yang coba dipaparkan oleh Tara sebagai pencerita dalam buku ini.

Ketika sudah bisa memahami dan masuk ke dalam alur cerita, saya kemudian didera rasa penasaran yang tentu saja masih berbalut kengerian, terkadang merasa deg-degan juga mual di saat bersamaan. Seketika pula saya dapat menyimpulkan bahwa buku ini bergenre psychothriller. Percayalah tidak ada yang lebih menyeramkan dibanding orang yang jiwanya terguncang lalu kemudian merasakan kesenangan untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat orang lain juga ikut terguncang. Oh dan ya saya juga sangat suka tata bahasanya, puitis namun mengerikkan di saat bersamaan. Perpaduannya cantik dan memesona.

Meski memang ada beberapa bagian yang menurut saya bolong. Seperti pada kasus Tara, hingga akhir cerita saya tidak menemukan hal apa yang cocok untuk mendeskripsikan tingkah laku, sifat dan latar belakang yang membentuk pemikirannya menjadi begitu aneh dan terstruktur. Tara adalah sosok yang senantiasa melakukan hal-hal yang menurutnya bisa diterima orang lain atau minimal dipandang wajar oleh orang lain. Saat jatuh dan terluka ia merasa harus menangis meski pada kenyataannya ia tidak ingin menangis. Ia hanya ingin hal itu terlihat majar di mata orang lain, air matanya tentu akan dinilai sebagai kewarasan dibanding ia tertawa atau bahkan mematung setelah terjatuh dari sepeda. Dengan usianya yang masih terbilang sangat muda, darimana ia mendapatkan pola pikir seperti itu? Penjelasan itu yang tak bisa saya peroleh dari buku ini. Memang ada bagian saat ia mencoba menguraikan dirinya di depan Alfons, psikiaternya, namun hanya pemicu atau salah satu kejadian saja yang ia sebutkan dan bagi saya itu hampir tidak menjelaskan apa-apa. Akan lebih mudah jika setidaknya ada penyebutan satu saja nama jenis penyakit mental seperti congenital insensitivity to pain yang bisa dialami manusia.

Kemudian sikap Bara yang begitu membenci Tara. Saya paham bahwa dimana-mana suami pasti akan berusaha melindungi istrinya, tapi membenci anak sendiri yang baru berusia kisaran tujuh tahun hingga memaki dan menganggapnya benalu di tengah keluarga yang sangat berkecukupan saya rasa kurang wajar. Tidak saya temukan penjelasan pasti mengenai hal ini, yang saya tahu hanyalah Bara membenci Tara dan kebenciannya semakin meningkat saat kematian istrinya.

Buku ini membuat saya kagum pada psikiater dan bahkan mungkin kepada seluruh dokter yang menangani masalah kejiwaan. Pada titik ini, saya berpikir bahwa mungkin hanya psikiater dan dokter di rumah sakit jiwalah orang-orang yang paling bisa berempati dan dapat memahami orang lain. Buat yang suka genre psychothriller buku ini sangat cocok untuk dibaca. Ada beberapa kutipan yang saya ambil dari buku ini, yakni:

Kewarasan divonis tanpa menggunakan stetoskop, termometer, atau rontgen. Buatku itu sama sekali tidak masuk akal - hlmn 51
Bunyi hantaman yang meremukkan tengkoraknya seperti timpani dalam orkestra besar yang membawakan simfoni di telingaku - hlmn 57
Teman. Rasanya itu juga tidak ada dalam kosakataku. Aku tak pernah punya teman. Tak seorang pun cukup layak menjadi temanku - hlmn 61