Catatan harian yang semakin renta dan tua

Selasa, 12 November 2013

,
Lima tahun…

Waktu yang tak lama namun tak juga sebentar. Jumat pagi di bulan September. Saat dimana pertama kali aku melihatmu. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu hingga aku memutuskan untuk melabuhkan hatiku padamu detik itu juga. Padahal aku sama sekali tidak mengenalmu. Yang ku tahu, kau dan aku berpijak di bumi yang sama, dinaungi oleh langit yang sama, dan menghirup udara yang sama. Perkenalan yang tidak bisa disebut demikian.

Sejak saat itu, bayanganmu terus menghantui pikiranku. Menggelitik rongga dadaku. Menghalau udara yang berusaha masuk ke paru-paruku. Membuatku merasa sesak. Sesak yang teramat menyiksa. Aku tidak tahu siapa dirimu. Aku tidak tahu bagaimana dirimu. Dan yang paling penting dan menyakitkan…adalah aku tidak tahu apakah telah ada orang lain yang mengambil tempat istimewa dalam palung jiwamu…

Tiga tahun setelah kepergianmu, Aku berpikir bahwa aku sudah bisa melupakanmu. Sudah bisa menghapus bayangmu. Hingga hari ini tiba…

Luka itu tak sengaja ku ingat kembali. Luka yang terekam dengan jelas bagaimana perihnya itu…terkuak kembali. Muncul ke permukaan dengan wajah angkuhnya tanpa rasa berdosa sama sekali. Ternyata aku salah. Kau terlalu istimewa. Pengaruhmu terlalu kuat menggerogotiku.

Minggu, 29 September 2013

,
Rasa rindu menyeruak perlahan dalam relung dadaku
Akan hadirmu dalam hariku
Kembali…
Setelah perpisahan dua tahun lamanya
Cerita indah kita
Kebersamaaan kita
Keceriaan dan kesedihan yang kita bagi bersama
Kenangan kita…
Tiga tahun… waktu yang tak singkat, namun terasa sebentar
Ingin ku mengulangnya
Kembali…
***
Menelusuri daftar kontak
Membaca setiap nama yang tertera
Menimang-nimang apa yang hendak dilakukan
Berharap senyum kan tercipta
Hmmm… mengingat masa itu
Tak pernah bosan aku melakukannya
Terkadang rasa kesal terselip di dalamnya
Mengingat akan janji yang pernah terucap
“Kita akan selalu saling mengabari satu sama lain, dengan cara apapun”
Entah siapa yang mengucapnya
Entah siapa yang mengingkarinya
Yang pasti kini ada hal yang tak lagi sama
Kasihmu…
Rindumu…
Ada yang telah menggantinya
Membuatmu ‘melupakannya’
Terkadang timbul keinginan untuk menyapa
Sekedar berita bahwa ku masih ‘ada’…masih tinggal…
Namun rasa malu menepisnya…
Ah! Entah siapa yang salah
Waktu…
Jarak…
Kita…

Sabtu, 28 September 2013

,
Pukul 1.23 dini hari. Bau hangat nasi yang mulai matang menguap dari tonjolan Miyako di salah satu sudut kamar kostku. Di sampingnya berdiri angkuh sebuah dispenser dengan merek yang sama. Mengusik keasyikanku yang sedari tadi menekuri novel kedua trilogy Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna. Di samping kiriku tampak gelas kosong dengan sebuah sendok di dalamnya didampingi setengah stoples kue choco chips dengan kacang cokelat buatan tanteku. Sirup Squash Delight asam dan hangat sudah ku libas sejak tadi. Senyum merekah dari bibirku sambil menatap sepupuku yang sedang sibuk dengan serial anime favoritnya, Detective Conan. Mengabarkan berita menggembirakan yang sejak tadi ditunggunya. Tubuhnya dibalut kimono biru langit yang dibeli ayahnya tempo hari. Seperti biasa, ia akan melakukan kegiatan yang aku sebut ritual mandi subuh. Kebiasaan buruknya yang sulit diubah.

Minggu, 15 September 2013

,
SMA Negeri  4 Yogyakarta
Ku pindai sekolah yang akan menjadi tempatku bertugas selama tiga bulan ke depan nantinya.  Ku perhatikan setiap sudut yang dapat dijangkau oleh mata. Sekolah dengan fasilitas yang terus menerus bertambah ini memang terbilang mewah. Seandainya aku bisa mengulang masa SMAku, aku ingin sekali mencoba untuk bersekolah di sini.
“Bismillahirrahmanirrahim.” Ku langkahkan kakiku menyusuri sekolah yang sudah terlihat sepi ini. Ya. Aku memang datang di saat jam pelajaran sudah dimulai. Aku tidak ingin mengambil resiko dipelototii murid-murid yang melihat kedatanganku. Walaupun kemungkinan bahwa hal itu akan terjadi sangat tidak mungkin.