Catatan harian yang semakin renta dan tua

Jumat, 15 Desember 2017

,
Judul Buku: Dream, If...
Penulis: Redy Kuswanto
Penerbit: Diva Press (Anggota IKAPI)
Penyunting: Muhajjah Saratini
Penyelaras Akhir: RaiN
Tata Sampul: Amalina
Tata Isi: Violetta
Pencetak: Antini, Dwi, Wardi
Cetakan Pertama: November 2017
Tebal Buku: 268 hlmn; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-391-467-8
Rating: 😻😻😻

“Pembukaan novel yang membuat haru ini akan langsung membuat pembaca terikat. Kisah memperjuangkan impian yang memikat.”
_Eva Sri Rahayu, novelis dan blogger

Mimi Tarmiyah memang sok cantik. Sejak kecil dia ingin menjadi artis. Alasannya cukup sederhana; ingin terkenal, memiliki banyak uang, hidup mewah, serta memiliki seabrek fan yang memuja-mujanya. Kini, usia Mimi sudah mendekati tujuh belas tahun.
Ini waktu yang tepat untuk mewujudkan mimpi, menjadi artis. Seperti idolanya, Titin Tuminah Hona. Valdo melihat kesempatan saat melihat ambisi Mimi. Bersama Brian, ia memberi kesempatan Mimi untuk mengejar impiannya di Jakarta. Mimi bersedia ikut, mengabaikan nasihat ibunya; Engkos; dan sahabat-sahabatnya. Mimi si gadis desa, harus mengakui kerasnya perjuangan di ibu kota. Menghadapi kegagalan dua kali, Mimi jadi ragu. Apakah ia akan melupakan impiannya dan kembali ke desa, atau tetap bertahan karena impian harus diperjuangkan?

****
“Hidup ini bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, Neng Mimi. Tapi juga tentang menghargai apa yang kita miliki – Pak Jaka, hlmn 249”

Mimi Tarmiyah adalah seorang remaja SMA yang tinggal di Baranangsiang. Sejak kecil, cita-cita Mimi adalah ingin menjadi artis terkenal seperti Titin Tuminah Hona, idolanya. Impian Mimi seolah menemukan jalannya ketika ia bertemu laki-laki bernama Brian yang mengaku sebagai agen artis. Brian menawarkan jalan mudah dan instan untuk menjadi artis kepada Mimi. Mimi senang bukan main, akhirnya ia bisa menjadi seperti Titin Tuminah Hona. Hanya saja, baik Amah, Engkos pacarnya, juga sahabat-sahabatnya tidak mendukung keinginan Mimi untuk berangkat ke Jakarta bersama Brian. Tapi, Mimi tidak peduli. Dengan nekad, cewek itu kabur ke Jakarta. Bagaimana nasib Mimi selanjutnya?
****
Impian memang sesuatu yang dimiliki setiap orang. Siapapun pasti memiliki keinginan yang ingin sekali diwujudkan. Keinginan yang akan membuat seseorang itu merasa utuh dan lengkap. Merasa cukup dan bahagia. Begitu pula Mimi. Impian gadis desa ini adalah ingin menjadi artis. Tidak dipungkiri, menjadi artis seolah jalan termudah untuk mendapatkan segalanya. Uang dan popularitas akan mudah didapatkan. Dan, dengan dua hal itu, seseorang seolah bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Inilah tema yang diangkat dalam novel ini.
Mirisnya, untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang bintang, beberapa orang just ru memilih hal instan. Alternatif tercepat untuk mewujudkannya selalu menjadi pilihan nomor satu, tanpa memperhatikan unsur kemanan dalam pilihan itu. Menurut saya pribadi, penulis sedang mencoba memperkenalkan atau memaparkan sisi gelap dunia entertainment di Indonesia. Banyak sekali artis yang bisa meroket dengan cepat tanpa diketahui prosesnya dengan pasti. Tak urung, tak sedikit pula yang jatuh menjadi korban penipuan. Untuk itu, saya sangat mengapresiasi buku ini. Dream If menjadi semacam reminder bagi kita semua bahwa jika ingin mendapatkan sesuatu kita harus berusaha dulu.
Poin terbaik dalam buku ini adalah bagi saya penulis tidak kehilangan identitasnya. Dengan menyelipkan beberapa bahasa Sunda ke dalam buku ini, penulis telah bersikap mengindonesiakan diri dan menunjukkan betapa ia bangga terlahir sebagai orang Sunda. Memang, setting juga mempengaruhi hal ini. Tapi, dalam penentuan setting setiap cerita, buat saya pribadi dapat sedikit menggambarkan sosok penulisnya seperti apa. Karena sebagian besar tempat yang dikunjungi, kegiatan sehari-hari, dan plot tulisan juga didasarkan pada mindset dan kebiasaan penulisnya.
Kekurangan dalam novel ini hanya terletak pada beberapa kalimat yang terasa rancu atau mungkin tidak lengkap. Untuk EYD sudah bagus. Juga, ending dan anti klimaks plus penyelesaiannya saya kurang sreg. Entahlah. Memang bagus, dalam buku ini penulis mencoba memperkenalkan dunia penulisan pada pembacanya hanya saja ketika dikaitkan dengan kasus Mimi saya jadi kurang suka. Terlalu mainstream.


Sabtu, 02 Desember 2017

,
Judul Buku: Out of Love
Penulis: Adelia Azfar
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
Terbit: 2017
Editor: Yuliono
Proofreader: Tharien Indri
Designer Sampul: Levina Lesmana
Penata Letak: Gita Mariana
Tebal Buku: 300 hlmn; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-60748-3-6
Rating: ***

LIAN

Setelah resmi bercerai, kecil kemungkinan Brillian Gunawan akan jatuh cinta lagi. Tapi Tharin membuatnya mungkin - meskipun cinta mereka masih harus dirahasiakan. Bagaimanapun, hubungan antara atasan dan karyawan hanya akan jadi bahan omongan yang tidak nyaman di kantor mereka.

THARIN

Cinta memang melemahkan akal sehat dan Lian adalah bukti hidupnya. Meskipun sudah sama-sama sepakat, keduanya bukan lagi atasan dan bawahan di luar jam kantor, Lian masih saja meneruskan sikap galak dan bossy-nya. Namun, ketika Tharin ingin putus, Lian melakukan sesuatu yang membuatnya merasa harus memaafkannya.

ANDREW

Dia menyukai makhluk indah bernama perempuan. Banyak perempuan. Hebatnya, perempuan juga menyukai dirinya meskipun jelas-jelas tahu risiko patah hati yang akan ia sebabkan.
Tharin jelas bukan sosok yang istmewa bagi seorang Andrew, tetapi perasaannya tak bilang begitu. Perasaannya bahkan bergeming meskipun dia tahu Tharin sudah ada yang punya....

OUT OF LOVE

Ini adalah tentang dia yang ingin lepas dari orang yang masih mencintainya. Tentang dia yang mencintai kekasih seseorang. Juga tentang dia yang tak tahan melihat yang dicintainya mulai mencintai orang lain.
Pertanyaannya: siapa di antara mereka yang akan paling terluka?

****

Buku ini menceritakan kehidupan Tharin yang bekerja di divisi penjualan salah satu perusahaan dengan manajer yang terkenal galak dan tegas. Tapi, di dalam lingkup perusahaan, Pak Lian memang atasan Tharin. Di luar, mereka adalah sepasang kekasih. Hanya saja, Sikap Lian saat ada di kantor dengan di luar kantor kurang lebih sama saja. Bossy dan suka menyuruh-nyuruh. Belum kegalakannya, Tharin jadi lebih banyak tertekan daripada bahagianya. Apalagi Dua tahun bertahan, Tharin memilih menyerah. Ia ingin putus saja. Tapi, Tharin takut jika ia memutuskan hubungannya dengan Lian, ia akan dipecat. Beruntung, ia bertemu Andrew. Pria asing yang sepertinya baik hati tapi juga amat berpengalaman dalam hal perpisahan dan putus cinta. Untuk itulah ia meminta bantuan Andrew.

****

Novel ini mengangkat tema office romance. Memang, pacaran dengan orang satu kantor itu terkadang serba salah. Apalagi kalau sama bos. Tekanan gosip pasti tak tertahankan apabila hubungan itu tersebar. Berbeda dengan Tharin meski mereka menutup rapat hubungannya dengan Lian, ia tetap saja tertekan. Dan, jujur saja, saya nggak suka banget sama karakter Lian. Sumpah, ketika mereka di kantor Lian benar-benar memancarkan aura asing dan menyeramkan meski di hadapan pacarnya sendiri. Saya lebih suka Andrew yang sedikit lebih terbuka dan easy going.

Di awal, jujur saya merasa bukunya agak miris, tapi di pertengahan ketika Andrew muncul atmosfer yang ada langsung berubah menyenangkan. Saya selalu suka interaksi Tharin dan Andrew juga sedikit sarkasme Andrew. Sikap to the point tapi benernya juga menyenangkan. Diakui, saya turut kesal dan merasakan kepedihan yang Tharin rasakan.

Namun, endingnya saya nggak suka. Tapi, penulis berhasil menyampaikan pesannya dengan baik. Bahwa dalam kondisi apa pun, masalah sekecil apa pun, komunikasi adalah jalan terbaik dalam menyelesaikannya. Komunikasi itu penting dalam menjaga hubungan kita dengan orang lain agar tetap harmonis.

Sabtu, 18 November 2017

,
Judul Buku: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Cetakan I: Oktober 2016
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian
Tebal Buku: vi+ 524 hal. ; 13.5x29.5 cm
Rating: ***

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesat hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

****

Zaman Zulkarnaen adalah orang Indonsia yang bekerja di salah satu firma hukum terkenal di Inggris. Firma hukum tersebut mengurus tentang harta warisan dan perwaliannya. Di suatu pagi, Zaman yang masih tertidur lelap tiba-tiba mendapat panggilan dari kantor yang mengharuskannya tiba di sana secepat mungkin.

Atasannya ingin bertemu untuk mendiskusikan hal yang sangat penting. Dan memang sangat penting. Firma hukum mereka mendapat tugas untuk mengurus harta warisan dalam jumlah yang sangat besar milik seseorang yang baru saja meninggal dunia di panti jompo Paris, Perancis. Namanya Sri Ningsih, wanita asal Indonesia. Dan, karena Zaman adalah orang Indonesia juga, maka ia ditugaskan untuk mengurus harta warisan Sri Ningsih secara adil sebelum harta tersebut diperebutkan dan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab. Mengherankan dan mengesankan, seseorang yang tinggal di panti jompo justru memiliki harta kekayaan yang amat besar.

Akhirnya, Zaman pun berangkat ke Paris untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan lengkap tentang Sri Ningsih dan siapa kira-kira yang akan menjadi pewarisnya. Namun sayang, tidak banyak informasi yang bisa didapatkan. Pengurus panti hanya punya buku harian milik Sri Ningsih yang nyaris tidak menjelaskan darimana asal-usul wanita itu dan siapa keluarga yang berhak atas harta warisannya. Petunjuk Zaman nyaris nol, bagaimana harta dalam jumlah besar itu dapat bertemu pemilik sah yang sesungguhnya?

****

Bahagia banget. Akhirnya punya kesempatan juga untuk baca buku ini. Jujur saya merasa agak bersalah karena buku ini sudah sampai di tangan setahun lalu, dikirim oleh penerbit, tapi bacanya baru sekarang. Tiba-tiba pindah domisili dan nggak bisa langsung memboyong buku-buku yang jadi peer dan belum dibaca jadi alasannya.

Awalnya, saya kira buku ini akan amat kental dengan kisah romansa seperti dalam buku Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Jujur saya udah menantikan kisah cinta yang unik dan menyentuh yang memang selalu ada dalam setiap karya Tere Liye. Ternyata tidak, buku ini lebih kental ke arah petualangan. Tapi, karena saya udah baca Negeri di Ujung Tanduk dan Pulang yang juga punya arah yang sama, jadi nggak ragu-ragu untuk berekspektasi tinggi. 

Ternyata, lagi-lagi Tere Liye memberikan hal baru. Pulau Bungin. Salah satu pulau terpadat di dunia menjadi setting awal petualangan Zaman Zulkarnaen. Dan, setting ini belum pernah saya dapatkan dalam buku-buku lain yang sudah saya baca. Pada titik ini, saya merasa bahwa Tere Liye memang senantiasa menampilkan sedikit bagian dari kearifa lokal Indonesia. Dari pemilihan setting yang tidak mainstream.

Alur maju mundur yang ada menyuguhkan kisah hidup Sri Ningsih yang tertuang dalam cerita-cerita orang yang mengenalnya. Kisah hidup yang memilukan namun sarat perjuangan dan pengorbanan.

Setelah dari Pulau Bungin, kita diajak melihat kisah hidup Sri Ningsih yang dapat dikatakan sedikit merasakan kebahagiaan di madrasah bersama teman-temannya khususnya sahabatnya. Di bagia ini saya bertanya-tanya apakah ketika meletusnya PKI di Indonesia, apa kejadian di madrasah tempat Sri Ningsih bersekolah memang benar-benar pernah terjadi dulu, karena kengeriannya amat nyata.

Kemudian kita di ajak menelusuri hidup Sri Ningsih di Jakarta hingga ia berangkat ke London. Hanya saja, untuk karya Tere Liye yang satu ini, saya menemukan banyak typo, kalimat rancu dan kesalahan penulisan. Memang, tidak sampai pada tahap bertaburan tapi, untuk penuli sekelas Tere Liye, saya rasa kesalahan umum seperti ini harusnya udah nggak akan ditemukan lagi. Kalaupun ditemukan, mungkin satu dua tiga aja. Tapi ini tergolong lumayan banyak. Dibanding penulis lain yang masih newbie mungkin kalah banyak tapi ya karena ini Tere Liye jadinya terasa banyak.

Namun demikian, seperti pada buku lain yang selalu ada kejutan, buku ini punya dua kejutan buat saya dan saya suka sekali bagaimana cara penulis meramu cerita sehingga "sang hantu" dalam buku ini sejenak terlupakan.

Senin, 30 Oktober 2017

,
Judul Buku: Glaze - Galeri Patah Hati Kara & Kalle
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Roro Raya Sejahtera
Editor: Gita Romadhona
Proofreader: Tharien Indri
Desainer Sampul: Dwi Anissa Anindhika
Ilustrasi Isi: Windry Ramadhina
Penata Letak: Gita Mariana
Terbit: Januari 2017
Tebal Buku: iv + 396 hlmn; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-60748-2-9
Rating: ****

Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu.
Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyumanmu di benakku.
Telingaku mengenali musik dalam tawamu, membuatku selalu rindu mendengar cerita-ceritamu.
Bahkan ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku.

Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu.
Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu.
Dadaku selalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu.
Bahkan ketika aku ingin melupakanmu, bayangmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganku.

Aku menyesal telah membuatmu terluka, tapi apa dayaku?
Aku yang dulu begitu bodoh dan naif, terlambat menyadari kalau kau adalah definisi bahagiaku.

****

Kara sangat kehilangan. Eliot kekasihnya, harus meninggalkannya. Setelah dua tahun bersama, pria yang amat disayanginya itu pergi. Kematian Eliot membuat Kara berantakan. Dunia di sekelilingnya tetap berputar, tapi dirinya seolah jalan di tempat pada pusaran kehilangan.

Berbeda dengan Kara, Kalle (dibaca Kay), kakak Eliot, justru tidak merasakan kesedihan yang sama. Kematian Eliot justru membuatnya merasa lega. Bebannya berkurang, walau memang ia merasakan ada lubang yang tertinggal. Tapi, kelegaan itu tidak berlangsung lama. Ternyata, meski sudah meninggal, Eliot masih tetap membuatnya repot. Adiknya itu punya pesan terakhir. Tepatnya, permintaan terakhir. Dan permintaan itu adalah untuk menjaga Kara.

"Kalle, tolong jaga dia untukku. Kalau bersamamu, dia pasti baik-baik saja - hlmn 49"

****

Buku ini dibuka dengan adegan kesedihan. Pemakaman Eliot. Eliot meninggal di meja operasi, tempat yang diharapkan akan memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama. Sayang, harapan itu tidak terwujud.
Kesedihan membungkus buku ini di awal-awal cerita, apalagi bagi Kara. Kekasih Eliot yang berantakan itu tambah jadi berantakan pasca ditinggal Eliot. Awalnya, Kalle tidak berniat menggubris dan menganggap serius permitaan Eliot. Kekasih Eliot bukan urusannya, ia tidak perlu ambil pusing. Tapi, entah bagaimana caranya, pertemuan pertamanya dengan Kara justru membuatnya tak bisa tidak peduli dengan wanita itu. Disinilah, interaksi antara Kara dan Kalle dimulai.

Kara yang ceroboh dan berantakan bertemu Kalle yang rapi dan terorganisir. Dalam hal ini, penulisan yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, berganti-gantian antara Kara dan Kalle. Dan, saya suka banget. Tanpa perlu berpikir, kita dapat membedakan siapa yang bercerita. Apakah Kara, atau Kalle. 

Gaya bercerita Kara sangat sesuai dengan karakternya yang berantakan. Ia banyak menggunakan kata dan, kata lalu dan beberapa kata lain untuk menyambung suatu kalimat. Benar-benar khas, jadi ciri tersendiri, dan menegaskan bahwa Kara bukan orang yang terencana. Sementara Kalle, gaya berceritanya pas, runut, teratur, seperti orangnya. Sikap dan pemikirannya yang idealis dan mengedepankan logika dan bukti nyata menampakkan sisi pebisnis yang memang dimiliki karakternya. Bagian ini jadi poin + banget buat buku ini.


Untuk setting, buku ini menggunakan lokasi beberapa kota di Indonsia, tapi karena penulisannya menggunakan EYD, baku, jadinya terasa seperti membaca buku terjemahan. Tapi, itu nggak mengganggu. Justru membuat  bukunya makin asyik untuk dibaca.

Selanjutnya, di awal bukunya memang berduka. Tapi, memasuki pertengahan sejak Kara dan Kalle bertemu, bukunya mulai berwarna. Interaksi Kara dan Kalle yang terasa seperti potongan adegan dalam film romantis yang inginnya selalu diulang membuat bukunya teramat nyaman dan menyenagkan. Walau memang, alur buku ini tergolong lambat. Pada beberapa tempat, buku ini cukup tertebak, tapi beberapa lainnya tidak. Kisah dalam buku ini cukup sederhana, tapi karena dikemas dengan sangat baik dan segar, meski konfliknya nggak terlalu berat, saya menikmati banget bacanya. Rasanya akan seru kalau buku ini diangkat ke layar lebar 😸

Penyelesaian buku ini sederhana, endingnya tidak rumit, tapi tidak perlu urusan yang berbelit untuk urusan menemukan kebahahiaan.