Cinta Tak Sempurna #14

Jumat, Mei 16, 2014

_Kehebohan_

Dengan langkah cepat Bara berlari sambil menggenggam tangan Bina. Di belakang mereka puluhan orang dengan kamera mesing-masing tangan menyusul mereka. Mengejar tepatnya. Bara dan Bina sedang dikejar-kejar paparazzi. Tadinya, Bara berniat untuk makan siang saat ia tak sengaja menangkap sosok Bina dan temannya yang dikenalinya sebagai Bianca sedang dicegat wartawan di salah satu mall. Melihat Bina yang sudah tersudut dengan berondongan pertanyaan para wartawan, tanpa pikir dua kali lagi Bara langsung menerobos kerumunan itu dan membawa Bina bersamanya. Ia sudah tidak sempat melihat Bianca. Ia akan mencoba menghubungi Bimo dan meminta sohibnya itu menjemput Bianca, namun ia dan Bina harus menyelematkan diri terlebih dahulu. Tidak mungkin ia menghubungi Bimo sekarang.
Sementara Bina, ia sudah tidak tahu lagi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia tidak tahu kemana Bara akan membawanya dan ia juga tidak berniat bertanya. Sejak ia dicegat dan diinterogasi seperti maling tadi, ia merasa kakinya tidak lagi berpijak di bumi. Setengah melayang ia mengikuti langkah-langkah bersar dan panjang Bara yang ternyata mengarah ke tempat parkir.

Begitu sampai di Range Rover-nya, Bara segera membukakan pintu untuk Bina dan dengan cepat berputar kea rah jok pengemudi dan melajukan mobilnya menjauh dari kerumunan para wartawan. Dikemudikannya mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak tahu harus kemana sekarang. Yang ia tahu ia hanya perlu melarikan diri. Mobilnya berhenti tepat di basement kantor. Dimatikannya mesin mobil dan turun serta membantu Bina. Dengan menggunakan lift khusus CEO dan para manajer perusahaan, dibawanya Bina menuju ke ruangannya. Ia sempat bertemu dengan Vivian dan Indra. Keduanya menatapnya dan Bina dengan pandang bertanya. Tidak mengherankan. Penampilannya dan Bina sudah seperti orang yang baru mengalami ‘kecelakaan kecil’. Pakaian kusut, wajah kusut dan keringat yang bercucuran. Tapi ia tidak peduli. Vivian dan Indra bukan tukang gosip. Jadi bisa dipastikan berita ini tidak akan sampai di telingan siapapun.
Ketika sampai di ruangannya, didudukkannya Bina di salah satu sofa dan kemudian meminta sekertarisnya untuk mengambilkan minuman. Beberapa menit kemudian, sekertarisnya masuk dan memberikan segelas air putih yang langsung disambut Bara dan disodorkannya pada Bina. Dengan perlahan dibantunya Bina untuk minum. Bina hanya menurut.

Setelah selesai, keduanya terdiam. Sama sekali tidak ada yang berusara dalam waktu yang cukup lama. Segera Bara teringat akan Bianca. Ia segera mengirim SMS pada Bara dan memintanya untuk mejemput gadis itu.

“Ehem…” Bara berdehem untuk mencairkan suasana. “Are you okay?” Tanyanya perlahan sambil menatap Bina yang kini duduk di sampingnya. Wajah gadis itu pucat. Sepertinya ia ketakutan tadi.

Bina berbalik menatapnya dengan pandangan yang sulit Bara artikan. “Tadi itu…apa?” Tanya Bina dengan suara mencicit. Nyaris tak terdengar.

****
Sementara itu…

“Bianca!” Teriak Bian.

Bianca menoleh dan mendapati Bian berjalan dengan langkah cepat ke arahnya dan Bimo. Bimo baru saja sampai dan mengatakan bahwa Bara memintanya untuk menjemput Bianca. Hal yang membuat Bianca heran darimana Bara tahu namanya. 

“Eh Bian?” Binaca kaget. Tidak menyangka Bian bisa ada disini.

“Bina mana?” Tanyanya begitu ia sudah sampai di depan Bianca dan Bara. Napasnya terengah-engah seperti orang yang baru habis berlari memutari lapangan basket sepuluh kali.

Binanca tidak menjawab. Bingung harus menjawab apa. Ia yakin tadi melihat Bina ditarik dan dibawa oleh seseorang. Tapi ia tidak tahu siapa. Dilihat dari penampilannya, ia hanya menduga bahwa itu Bara karena setahunya hanya Bara satu-satunya teman Bina dengan penampilan rapi khas orang kantoran.

“Bina mana?” Tanya Bian lagi. Kali ini ia beralih sambil menatap Bimo.

Bimo tidak menjawab. Ia sudah tahu bahwa Bina kini ada bersama Bara. Tadi saat ia menerima SMS dari Bara yang memintanya untuk segera menjemput Bianca di mall, ia langsung menghubungi sahabatnya itu. Ia penasaran sekaligus khawatir kalau-kalau sesuatu terjadi pada Bianca. Tapi ternyata yang mengalami sesuatu itu adalah Bina. Pacar dari laki-laki di depannya ini.

Melihat Bianca dan Bimo yang sama-sama bungkam, Bian memaki kesal. Jika sudah begini, ia sudah bisa menduga di mana Bina. Ia pasti sedang bersama laki-laki itu. Ia yakin gosip tentang Bina dan Bara juga sudah diketahui Bianca dan seniornya ini, tapi mereka enggan untuk membicarakannya di depannya. Tak diketahuinya bahwa Bimo adalah sahabat kental Bara.

Segera saja ia menuju motornya dan melajukannya dengan cepat menuju Brata Corporation. Satu-satunya tempat yang terlintas di pikirannya adalah gedung itu. Keamanannya sudah bisa dipastikan. Tidak ada wartawan yang bisa seenaknya masuk kesana. Ia sudah tahu bahwa Bina dikejar-kejar wartawan. Ia tahu dari Richie. Ia tidak tahu kenapa selalu Richie yang memberikan kabar tentang Bina. Seolah-olah laki-laki itu tahu apa saja yang sedang dilakukan Bina melebihi dirinya yang memang adalah pacar Bina. Membuatnya sedikit merasa cemburu. Tapi tidak ada waktunya memikirkan hal itu.

Melihat kepergian Bian, dengan cepat Bimo menarik tangan Bianca dan membawa gadis itu ke mobilnya. Ia harus menyusul.

****
“Maaf ruangannya Bapak Fay Bara Putra dimana Mbak?” Tanya Bian pada resepsionis.

“Di lantai delapan Mas. Ruangan paling ujung sebelah kanan.” Jawab si resepsionis sambil tersenyum sopan.

Bian mengangguk sekilas kemudian mengucapkan terima kasih dan langsung menuju lantai delapan menggunakan lift yang ada. Ketika telah sampai di ruangan yang ada, matanya langsung mencari ruangan yang dimaksud. Di depan ruangan itu ada seorang gadis yang sedang duduk di depan mejanya. Bian menduganya sebagai sekertaris.

“Maaf Mas, Bapak Fay sedang tidak bisa diganggu.” Ujarnya saat Fay menanyakan keberadaan Bara.

“Gue mau ketemu!” Balasnya tajam. Membuat si sekertaris menundukkan kepalanya ketakutan. Mata Bian menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.

****
“Mbak…Mbak… liat cowok pake kaos oblong warna item sama celana jens nggak?” Tanya Bimo begitu ia sampai di kantor Bara. Tangannya masih menggandeng tangan Bianca.

“Tadi nanya ruangannya Pak Bara, Mas Bimo.” Jawab si resepsionis.

“Oke. Thank’s ya.” Ujarnya sambil melangkah ke arah lift. Ketika hendak masuk, sebuah lengkingan keras mengejutkannya.

“Bimooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo……….” Teriak seorang perempuan sambil menahan lengan Bimo yang hendak masuk ke lift.

“Temenin gue makan siang, yuk. Tadi si Bara udah keluar duluan.” Ajaknya.

“Aduh gue nggak bisa Nin. Sorry banget.” Tolak Bimo dengan nada cepat. Ia harus buru-buru.

“Yah gitu baget sih Bim.” Rajuk Nindy manja sambil melirik ke tangan Bimo yang menggenggam tangan Bianca.
“Bukan gitu Nin. Gue lagi buru-buru soalnya.” Ujar Bimo.

“Emang lo mau kemana?”

“Ke ruangannya Bara.”

“Lho Bara udah dateng?”

“Udah ikut aja.”

Tanpa menjawab pertanyaan Nindy, Bara segera masuk ke dalam lift diikuti Bianca. Nindy yang entah kenapa jadi pensaran, juga mengikuti. Ia berpikir pasti ada sesuatu di lantai delapan sana. Sesampainya di lantai tempat ruangan Bara berada, Bimo melihat Bian yang sudah hendak menerobos masuk ke ruangan Bara. Ia mempercepat langkahnya namun sayang, Bian sudah berhasil ‘menyingkirkan’ penghalangnya.

****
“Maafin aku yaaa…” Bara meminta maaf sambil menggenggam tangan Bina yang ia letakkan di pangkuannya.

BRAKKKKKKKKK!!!!!!

Pintu ruangan Bara terbuka lebar. Didobrak dengan kasar oleh Bian. Melihat pemandangan tangan Bara yang menggenggam tangan Bina, emosi Bara yang sejak tadi ditahannya meledak. Dihampirinya Bara dan diberi pukulan bertubi-tubi di wajahnya.

Bina menjerit keras. Begitu pula Nindy dan Bianca. Bimo segera berlari dan menarik Bian dari Bara. Wajah Bara sudah babak belur tak karuan. Ia tidak sempat membalas karena posisinya yang memang tidak dalam keadaan menguntungkan.

“Bara kamu nggak apa-apa?” Nindy segera menghampiri Bara yang terjungkal di lantai seraya menyentuh pipinya. Dengan kesal Bara menyingkirkan tangan Nindy dan bangun dari posisinya.

“Lepasin gue!” Teriak Bian pada Bimo yang sedang menahannya. Bimo melepaskan dengan tatapan yang tak ia lepas dari Bara dan Bian. Takut-takut mereka kembali bergulat. Setelah Bimo melepaskan cekalannya, Bian segera menghampiri Bina yang berdiri dengan ketakutan di sudut ruangan da menggamit tangannya.

“Jangan pernah ganggu cewek gue lagi!” Peringatnya seraya meningglkan ruangan Bara.

Cuap-cuap Author:

Haiiiiiiiiiiiiiii............... maaaaaaaaaaaaaappppppppppp banget yaaa soalnya part ini lama banget postingnya. Bukannya sengaja tapi emang aku lagi ada project yang harus diselesaikan secepatnya. Project Novel. Doain yaaa...
Dan Alhamdulillah novelnya tinggal proses editing. Jadi aku bisa nyempetin buat nulis part ini. Semoga suka yaaaa. Maap kalau pendek

 

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh