Catatan harian yang semakin renta dan tua

Jumat, 21 Juli 2017

[Ebook Review] Johan Series #4: Teror By Lexie Xu

Judul Buku: Teror
Penulis: Lexie Xu
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cover oleh: Regina Feby
Terbit: 2012
Cetakan Kelima: Februari 2015
Tebal Buku: 272 hlmn., 20 cm
ISBN: 978-602-03-1296-5
Rating: 3/5

Namaku Johan, dan akulah penyebab mimpi buruk semua orang.

Semua orang selalu meremehkanku, mulai dari ibuku hingga anak-anak tolol di sekolahku, dan aku selalu berhasil memberi mereka pelajaran bahwa aku tak bisa diremehkan. Tentu, beberapa akibatnya tak kuduga, seperti aku telah menewaskan ibuku dan beberapa kecelakaan lain, tapi itu harga yang harus kubayar demi menegakkan harga diriku.

Hidupku berubah drastis sejak aku bertemu Jenny, cewek yang sudah merebut rumah masa kecilku. Bukan saja itu kesalahan yang dilakukannya, melainkan ternyata dia berteman dengan cewek yang seharusnya menjadi teman atau, lebih baik lagi, pacarku. Aku bertekad akan menghukum Jenny. Namun, kebalikan dari harapanku, akulah yang dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

Di balik dinding yang membatasiku dengan orang-orang gila, aku mulai menyusun siasat dan rencana. Aku berhasil memperdalam kemampuanku untuk mempengaruhi orang lain, menggerakkan mereka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotorku,  bagaikan pion-pion tak berharga yang bisa kukorbankan sewaktu-waktu.

Sekarang, setelah aku berhasil keluar dari rumah sakit jiwa, waktunya untuk pembalasan dendam. Mereka semua yang sudah berani menentangku akan merasakan akibatnya. Sebab, kali ini aku akan mengirim mereka semua ke neraka....

****

Seri terakhir. Setelah side story Tony dan Markus di Pontianak, cerita kembai ke Jakarta. Ke kejadian menyeramkan di SMA Persada Internasional yang sudah diceritakan dalam buku keduanya, juga mempertegas kabar Jenny dan hal misterius mengenai gantungan ponselnya dan Hanny. Setelah baca sinopsis, sebenarnya udah menantikan banget adegan thriller yang lebih menantang. Karena disitu ada POV Johan. Namun sayang, setelah baca, bukunya justru jatuh biasa saja. Penyebabnya, pertama, menurut saya akan lebih keren kalau bukunya ditulis menggunakan sudut pandang peneror, seperti buku dua yang hanya menggunakan sisi Hanny. Tapi dalam buku ini, yang mendominasi justru POV orang lain bahkan bisa dibilang hanya aktor tambahan. Contoh, POV Leslie saya rasa sebenarnya kurang penting. Dan karena terlalu banyak sudut pandang yang dalam hal ini bagian Markus-Tony-Tory tidak punya karakter pencerita yang berbeda seperti yang dimiliki Jenny dan Hanny, ritme bacanya entah gimana jadi terganggu. Kurang seru, padahal adegannya udah seru banget.

Kedua, pembajakan pesawat dirasa berlebihan. Saat baca, saya jadi ngerasa kalau penulisnya kehabisan ide di pertengahan lalu kemudian menggunakan ide yang ada saja. Di antara semua adegan kekerasa yang ada, adegan dalam pesawat berasa nggak banget sorry to say. Logika saya nggak bisa menerima bahwa teroris begitu mudah termakan omongan dan kebohongan Jenny. Lalu, wawancara para wartawan juga benar-bensr dirasa tidak perlu. Terkesan berlebihan.

Tapi, buku ini terselamatkan dengan adegan teror terakhirnya. Sumpah, itu keren dan rasanya akan lebih keren lagi kalau yang dipakai itu POV Johan. Yah memang sih kalau yang ditembak segi ketakutan dan kecemasan, POV Hanny dan Jenny udah pas. Tapi kalau dari segi didih psikopat - duileh bahasanya didih 😂, POV Johan lebih cocok. Memang sih POV Johannya ada, tapi dikit. Yang mendominasi justru Tony dan Markus kalau nggak salah inget. Pokoknya POV Johan amat sedikit.

Untuk bagian epilog, sebenarnya bertanya-tanya kenapa harus POV Hanny. Rasanya akan lebih pas kalau disitu pakai sudut pandang penulis saja. Rasanya nggak adil kalau yang jadi penutup dan penutur akhir kisah dan nasib anak-anak SMA Persada Internasional adalah salah satu tokoh di dalamnya. Memang, sejak buku kedua hanya menampakkan Hanny sebagai pencerita, kerasanya ya Hanny itu tokoh paling utama. Tapi karena dalam sinopsisnya digunakan POV empat orang, agak gimana gitu ketika epilog yang nongol cuma satu di antaranya.

Agak berat ngasih bintang 3, karena jujur saja, ritme baca saya terhadap seri buku ini udah kurang bagus sejak buku ketiganya. Tapi karena adegan terakhirnya cukup seru dan saya juga rada-rada tegang, jadinya berat juga ngasih bintang 2. Well, ini hanya penilaian pribadi aja. Karena, kalau menurut banyak orang bukunya nggak bagus, nggak mungkin bisa cetak ulang, kan? 😁

Tidak ada komentar:

Posting Komentar