Catatan harian yang semakin renta dan tua

Kamis, 10 November 2016

,
Judul Buku: Dragon House
Penulis: John Shors
Penerbit: Penerbit Edelweiss
Diterjemahkan dari: Dragon House Copyright John Shors, 2009
Penerjemah: Isma B. Soekoto
Desain Isi: Ursula Nomi
Desain Sampul: Windu
Terbit: 2009
ISBN: 978-602-8672-05-4
Rate: 4/5 

BLURB

Iris dan Noah, dua orang Amerika yang hidupnya terbentuk oleh orang-orang Vietnam, pada masa setelah negeri eksotis itu porak poranda pascaperang, bahu membahu membuka sekolah anak-anak jalanan; hidup lebur dalam kekerasan demi mengasuh dan merebut masa depan mereka.
Minh, bocah bisu yang cerdas dan tangannya yang dibuntungkan oleh Loc demi mengudang belas kasih, persahabatannya yang lebih dari saudara dengan Mai, gadis penyambung lidah Minh, bocah-bocah lain yang survive dan terus bermimpi di tengah cengkeraman preman penguasa jalanan, semua membuat Iris dan Noah jatuh hati.
Sebuah kisah berdiksi indah dan sistematis yang menyingkap cinta dan heroisme dari balik sudut gelap dan petak-petak kumuh kota Saigon.

ULASAN

Iris adalah seorang wanita yang hampir tidak pernah merasakan kasih sayang Ayahnya. Sebagai seorang tentara, Ayahnya sering ditugaskan ke luar negeri, lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang dengan keluarga. Bisa dibilang Iris hidup hampir tanpa Sang Ayah, hal yang membuat ia marah namun tetap tak mempu membendung rasa cintanya yang teramat besar. Sebelum Ayahnya meninggal, ada satu keinginannya yang sangat ingin dikabulkan Iris. Ayahnya membangun sebuah wisma di Vietnam, negara bekas jajahan Perancis yang dulunya pernah berperang bersama Amerika saat terjadi perpecahan antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Berbekal keberanian dan cinta, Iris berangkat ke Vietnam, negeri yang jauh bahkan tak pernah terpikirkan olehnya akan didatanginya seumur hidupnya.

Noah, sama seperti Ayah Iris, adalah tentara. Ia mendaftar menjadi veteran didasari oleh keinginan untuk melakukan sesuatu bagi negaranya, Amerika. Ia ditempatkan di Pakistan lalu kemudian harus bergabung bersama rekan-rekannya di Irak dalam rangka pencarian harta berharga. Sebuah alat pemusnah massal dikabarkan akan diluncurkan negeri itu - hal yang tentu saja membahayakan Amerika. Sayangnya, perburuan itu tidak membuahkan hasil. Saddam Hussein tidak ada kaitannya dengan Al-Qaeda, pencariannya sia-sia dan merenggut sahabat terbaik beserta satu tungkainya. 

Ibu Noah yang merasa prihatin pada putranya yang frustrasi setelah mengalami kelumpuhan mendengar rencana keberangkatan Iris ke Vietnam. Dengan penuh pengharapan ia meminta Iris untuk mengajak serta Noah pergi, agar laki-laki itu bisa menemukan senyumannya kembali. Agar Noah bisa kembali hidup bersemangat mesku hanya dengan satu tungkai dan bantuan prostesis. Pada saat itu, Vietnam benar-benar dalam kondisi semrawut. Perang yang terjadi di negara itu mengakibatkan banyak sekali korban berjatuhan, di antaranya adalah anak-anak yang kehilangan kedua orangtua mereka dan harus berpasrah hidup di jalanan. Belum ada perhatian besar dari pemerintah dalam melindungi dan merawat mereka. Terjadi kesenjangan hidup yang sangat nyata disana. Di antara megahnya gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan, ada tangis dan jerit tertahan yang tak pernah mampu disuarakan. Anak-anak itu butuh perlindungan, dan untuk itulah Wisma yang diberi nama seperi nama Iris itu didirikan.

Perjuagan Iris dan Noah dalam membangun wisma itu tidaklah mudah. Ada banyak sekali hal yang mesti dilakukan apalagi terkait pendanaan dan perizinan. Belum lagi cap tak kasat mata yang menempel pada orang-orang Amerika yang diberikan sebagian orang Vietnam khususnya yang bertempat di Saigon (sekarang Ho Chi Min City). Kondisi Noah yang masih jauh dari kata bersemagat pun tidak banyak membantu. Untunglah ada Thien, asisten Ayah Iris yang bersedia membantu. Thien sering menemani Iris untuk mengelilingi Saigon, untuk lebih mengenal Vietnam lebih dekat. Meski tidak secara cepat, Noah pun secara perlahan menemukan dirinya kembali. Ia bersedia membantu setelah dipertemukan dengan Qui dan Tam, pasangan nenek dan cucu yang mengemis di area Ben Tenh demi sesuap nasi dan sedikit obat pereda rasa sakit bagi Tam yang mengidap Leukimia. Kodisi Tam yang kurus dan memprihatinkan membuat Noah terenyuh dan memutuskan untuk melakukan yang terbaik yang dapat ia lakukan, memberikan yang terbaik bagi anak-anak malang yang menjadi korban ganasnya peperangan. Noah sudah pernah berperang, sudah pernah melihat jerit tangis kesakitan, sudah pernah melihat Ibu yang kebingungan mencari anaknya dan pemadangan menyedihkan ini membuat Noah ikut merasakan sakit yang teramat. Bisa dibilang Noah juga pernah berperan dalam agenda memorakmorandakan suatu negeri, membuat dirinya merasa semakin teriris melihat kondisi Tam yang lemah, sakit dan berada pada jurang kematian.

Sementara itu, di antara anak-anak jalanan ada Mai dan Minh, dua orang sahabat yang sudah seperti saudara. Setiap hari mereka bekerja di jalanan, mencari uang dan belas kasihan. Mai menjual kipas sehari-harinya sedangkan Minh menantang orang-orang untuk bermain connect four (sejenis permainan Tac Tic Toe) dan bagi yang kalah harus membayarnya 1 dollar. Minh memang cerdas, hampir tidak pernah ada yang bisa mengalahkannya dalam permainan connect four, namun tak semua orang mau bermain dengannya dan 5 dollar hasil jerih payahnya dan Mai harus diberikan kepada Loc - sang preman pasar yang melindungi mereka di jalanan sekaligus menyiksa mereka jika tidak dapat memberinya uang untuk membeli opium.

Desas-desus tentang wisma milik Iris pun beredar di Saigon dan tak sedikit anak-anak jalanan yang tertarik untuk tinggal disana, begitu pun Mai dan Minh. Meski singgah hanya sekali untuk melihat-lihat, apa yang mereka impikan namun tak bisa didapatkan tampak ditawarkan oleh wisma Iris. Kasur yang empuk, bantal yang lembut jelas lebih baik dari kotak tidur mereka di kolong jembatan, kelas yang nyaman untuk belajar sudah tentu adalah impian Mai. Namun, mereka tidak serta merta bisa pindah kesana, Loc pasti akan murka dan menyiksa mereka jika tahu bahwa pemberi uang terbesarnya ingin melarikan diri.

Di berbagai kota, anak jalanan adalah pemandangan lumrah. Pengemis yang menyebar, pengamen, tukang koran di lampu merah adalah hal yang sudah sangat biasa termasuk di Indonesia. Kisah dalam buku Dragon House ini adalah sedikit contoh kehidupan mereka yang tak terperhatikan pemerintah maupun masyarakat sekitar. Perbedaannya hanyalah pada mereka adalah korban perang Vietnam sedangkan yang sering kita temui di jalanan sehari-hari adalah korban kerasnya kehidupan. Tetap saja mereka miskin dan butuh bantuan serta perlindungan.

Membaca novel ini sedikit banyak mengiris hati saya sebagai seseorang yang masih saja kurang mensyukuri apa yang saya miliki dan merasa bahwa kegagalan-kegagalan yang saya alami adalah sesuatu yang sangat menjengkelkan. Tak pernah terpikirkan bahwa di luar sana bahkan ada banyak sekali anak-anak, generasi penerus bangsa yang bahkan bermimpi mengenakan seragam sekolah pun tidak berani. Cara peulis menggambarkan kebahagiaan dan kesdihan juga sangat mendukung. Benar-benar terdapat perbedaan yang tampak jelas bahkan hanya dengan membaca dan membayangkan kisah yang ada pada buku ini.

Saigon adalah kota yang porak poranda setelah perang dan menyebabkan banyak korban berjatuhan. Pemandangan kota yang digambarkan secara detail juga menjelaskan seperti apa kondisi Vietnam pada masanya. Lalu lintas padat merayap yang tidak kenal arus lalu lintas, kemiskinan yang melanda kota ini dan berbagai macam kesemrawutan yang tampak jelas oleh pandangan mata. Buku Dragon House tidak hanya menceritakan kisah anak jalanan, derita anak yang tak pernah memiliki kesempatan tapi juga bagaimana orang-orang Vietnam pada masanya menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun tinggal di negara yang masih berusaha bangkit, orang-orang Vietnam adalah mereka yang mencintai negaranya, sayangnya kurang memperhatikan generasi penerusnya. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia juga memiliki sisi seperti ini, masih banyak anak jalanan yang berkeliaran tanpa pengasuhan di jalanan atau orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya dari kebaikan dan belas kasihan orang lain.

Selain budaya dan kondisi kota, buku ini juga menceritakan bahwa obat-batan terlarang dalam hal ini opium adalah benda yang mudah sekali ditemukan di Vietnam. Pelarian yang banyak digunakan orang-orang untuk meredam sakit yang tak bisa lagi mereka bendung di dalam kesadaran. Contohnya adalah Loc, preman yang memilih bertahan hidup dari memanfaatkan anak jalanan yang membayar upah harian padanya, yang menggunakan opium untuk meredam segala kemarahan yang sudah lama tersimpan dalam dadanya.

Perkembangan mental dan psikologi setiap tokoh juga sangat terasa. Tidak hanya pada anak jalanan, tapi juga pada Iris dan Noah, dua manusia yang bersatu  padu untuk membantu dan memberikan yang mereka punya. Meski seorang veteran yang sudah terlatih, Noah juga adalah manusia yang memiliki nurani dan tentu saja mengutuk kecacatannya pasca perang Amerika-Irak. Kehadiran anak jalanan yang menyedihkan siapa sangka mengubah Noah yang putus asa menjadi laki-laki yang bersedia melakukan apa saja untuk senyum dan kebahagian anak-anak itu. Iris sendiri, meski hidup cukup dari penghasilannya sebagai pengulas buku, besar tanpa Ayah juga telah membentuk Iris menjadi wanita yang rindu akan sosok dan kasih sayang sang Ayah. Namun, keadaaan anak jalanan yang bahkan tak pernah sekalipun bertemu orangtua mereka, atau yang terpaksa hidup sebatang kara karena kematian orangtua mereka membuat Iris sadar bahwa hidupnya sesungguhnya lebih beruntung berkali-kali lipat dari mereka, termasuk saya yang menyadari bahwa hidup yang saya jalani saat ini beratus kali lipat lebih baik untuk tidak disyukuri.

Buku ini menyimpan banyak sekali pesan moral terutama dalam mensyukuri hidup dan berbelas kasih pada mereka yang membutuhkan. Yang menjadi kekurangan buku ini hanyalah pada kesalahan penulisan dan beberapa terjemahan yang saya rasa kurang tepat atau tidak pas penempatannya. Namun, buku ini tetap sangat menarik dan sangat saya rekomendasikan untuk siapa saja, kekuatannya dalam mengetuk nurani manusia benar-benar luar biasa.

Selasa, 08 November 2016

,
Judul Buku: Siwa - Kesatria Wangsa Surya
Penulis: Amish Tripathi
Penerbit: JAVANICA an imprint PT Kaurama Buana Antara
Diterjemahkan dari: The Immortals of Meluha
Copyright: 2008 Amish Tripathi
Versi Bahasa Inggris: Tara Press 2010
Tahun Terbit: 2016
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini
Penyunting: Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara: Jenny M Indarto
Penyelaras Bahasa: I Wayan Sariana
Penggambar Sampul: Iman Bucah
Penata Letak: deenand651
Kategori: Novel Sejarah
ISBN: 978-602-6799-15-9

BLURB

Kisah ini terjadi ribuan tahun silam di Lembah Sungai Indus. Orang-orang di kurun itu menyebutnya Meluha. Penduduknya berumur sangat panjang berkat ramuan misterius bernama Somras, yang dicipta dari pohon Sanjiwani dan tirta suci Saraswati. Negeri yang dihuni Wangsa Surya ini menghadapi ancaman hebat ketika sungai utama mereka mengering perlahan-lahan. Mereka pun dirundung serangan para pengacau dari timur: negeri Wangsa Chandra. Keadaan bertambah gawat ketika Wangsa Chandra tampaknya bersekutu dengan kaum Naga, bangsa yang sangat lihai berperang.

Ketika kejahatan merajalela, rakyat Meluha berharap pada sebuah ramalan kuno tentang seorang kesatria yang bakal tiba dan membebaskan mereka dari malapetaka. Dalam keputusasaan, muncul seorang pengungsi liar dari Gunung Kailasha, Tibet. Siwa namanya. Ciri-cirinya persis seperti ramalan. Apakah ia memang kesatria pembebas yang diramalkan? Terseret oleh arus takdirnya, oleh dharma, oleh cinta kepada kekasihnya, Siwa memimpin Wangsa Surya menerjang badai prahara.

Didasarkan pada wiracarita dan sejarah kuno, novel langka ini mengungkap kisah tersembunyi tentang kehidupan Siwa sang Mahadewa.

ULASAN

Di kaki Gunung Kailasha, Tibet hiduplah seorang pemimpin bernama Siwa bersama para rakyatnya. Mereka disebut Suku Guna. Kehidupan mereka tidak bisa dikatakan makmur, bahkan bisa dibilang sangat tidak teratur dan nyaman. Hampir setiap hari mereka digerogoti oleh Suku Pakrati, suku yang ingin merebut wilayah kekuasaan Suku Guna yang berlokasi di pinggir Danau Manasowara. Pertarungan hampir terjadi setiap hari mengingat Suku Pakrati yang sangat berambisi mendapatkan wilayah itu. Di antara orang-orang Suku Guna, Nandi - yang merupakan tamu atau pendatang menawarkan perpindahan dan tempat pengungsian yang dikenal makmur, sejahtera dan karenanya akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Siwa dan rakyatnya. Karena sudah tidak bisa lagi membiarkan rakyatnya terus-terusan bertarung untuk hidup yang bahkan tidak ada jaminan akan menjadi lebih baik, akhirnya Siwa menyetujui usul Nandi dan bersama rakyatnya mereka berbondong-bondong ke Meluha.

Pemandangan yang diperoleh Siwa di Meluha adalah negeri ini teramat tertata, rapi, dan seratus kali lipat lebih baik dari tepi danau tempatnya dan rakyatnya selama ini bermusim. Mereka juga menyediakan tempat pengungsian yang sangat megah, serta adalah negeri yang senantiasa menjaga kebersihan. Selain itu, mereka juga menyediakan pengobatan da perawatan awal bagi para pengungsi serta obat-obatan yang membantu membersihkan tubuh para pengungsi yang mungkin saja hampir tak kenal dengan kata mandi. Berbeda dengan rakyatnya yang menderita demam setelah meminum Somras, Siwa justru mengalami perubahan pada tubuhnya. Ibu jari kakinya yang mati rasa kembali berfungsi, bahunya yang bergeser kembali pada tempatnya semula dan lehernya berubah warna menjadi Nila!

Reaksi orang-orang Meluha yang melihat itu, Ayurwati - tabib tersohor yang memberikanperawatan, dan Nandi (bisa disebut sebagai orang pertama yang melihatnya) adalah terpana, terkesima lalu selanjutnya megucap syukur bahkan bersujud untuk Siwa. Mereka menyebut Siwa sebagai Sang Nilakantha, dia yang berleher Nila yang akan membantu orang-orang Wangsa Surya menumpas kejahatan dan keburukan yang menggerogoti mereka. Siwa yang tidak mengerti akhirnya harus meminta penjelasan, dan terbukalah rahasia bahwa di balik megah dan makmurnya masyarakat Meluha, orang-orang Wangsa Surya sedang menghadapi masalah pelik dengan negeri tetangga mereka, orang-orang Wangsa Chandra yang menurut mereka jahat dan tidak beradab, serta harus dimusnahkan. Menurut ramalan, Sang Nilakantha akan datang dan membantu mereka untuk menghadapi peliknya perselisihan yang dihadapi serta memberi kemenangan mutlak kepada orang-orang Wangsa Surya di atas orang-orang Wangsa Chandra.

Keadaan ini memberikan pertanyaan bagi logika Siwa yang tidak percaya ramalan serta beban berat baru di bahunya, yakni kewajiban untuk memberikan kemenangan seperti yang diharapkan orang-orang Wangsa Surya. Tentu saja ia bisa menolak, tapi mengingat kebaikan orang-orang Wangsa Surya, cinta yang tiba-tiba berlabuh tanpa syarat pada Putri Sati, putri Raja Daksha - penguasa Meluha serta harapan yang tumbuh di mata putri cantik yang meski selama hidupnya dikucilkan karena hal yang tidak masuk akal namun tetap mencintai negerinya, dan harapan-harapan yang tumbuh di wajah masyarakat Meluha, dan beberapa pertimbangan lainnya, Siwa akhirnya memaksa logika dan nuraninya untuk percaya akan kejahatan Wangsa Chandra setelah sebelumnya bertarung dengan kaum Naga - yang dikabarkan memang bekerja sama dengan Wangsa Chandra, untuk turut serta memerangi kejahatan yang melanda tanah Meluha.

Novel Siwa adalah salah satu novel yang menyabet gelar International Bestseller dengan penjualan lebih dari 2,5 juta. Sebelum memberikan ulasan tentang novel ini terlebih dulu saya akan menjelaskan siapa itu Siwa. Pengetahuan terbatas saya hanya menyimpan memori bahwa Siwa adalah salah satu Dewa umat Hindu. Menurut Wikipedia, Siwa adalah salah satu trimurti umat Hindu, dewa lainnya adalah Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Berperan sebagai Dewa Pelebur yang bertugas untuk melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan ke dunia asalnya. Berpasangan dengan Dewi Sati, Dewi Parwati, Dewi Uma, Dewi Durga dan Dewi Kali, Siwa dikenal dengan nama Jagatpathi, Nilakantha, Parameswara, Rudra, Trinetra. Ia masuk golongan Dewa dengan sejatanya yang terkenal adalah Trisula.

Novel ini dibuka dengan sejarah atau penyebab Sang Nilakantha harus pindah dan akhirnya tiba ke Meluha (tanah Wangsa Surya), bukan ke Ayodhya (tanah Wangsa Chandra). Kegigihan Wangsa Surya yang kaya namun putus asa untuk menemukan Sang Nilakantha akhirnya membuat mereka melakukan berbagai macam cara untuk menemukannya, salah satunya dengan sengaja mencari pengungsi, memberi mereka Somras dan kemudian menunggu apakah akan ada perubahan pada warna lehernya. Awalnya saya masih kurang paham dan agak sulit untuk bisa benar-benar hanyut ke dalam cerita. Kesukaan menonton drama kolosal ternyata kurang mampu mebawa imajinasi saya untuk membayangkan tanah Meluha bahkan karakter Siwa sendiri. Namun demikian, semakin dibaca saya justru semakin penasaran dengan perjalanan Siwa. Tanggung jawab yang diembannya membuat saya terus bertanya-tanya akankah Siwa mampu menjalankannya dengan baik serta mengambil keputusan yang tepat untuk setiap tindakannya.

Selain itu, karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang umat Hindu dan kepercayaan mereka, sepanjang membaca novel ini saya selalu beranya-tanya tentang apa sajakah unsur mitologi murni yang ada dalam novel fiksi ini. Saya baru bisa menarik kesimpulannya setelah membaca Wikipedia bahwa novel Siwa karya Amish ini memuat cerita fiksi murni yang berbaur dengan mitologi. Terdapat beberapa hal dalam buku yang kebenarannya menurut mitologi adalah sah dan juga unsur fiksinya tidak terlepas. Kisah ini 'murni fiksi' seperti cerita Percy Jackson yang menggunakan mitologi Yunani.

Ada banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan terkait umat Hindu dari membaca novel ini di antaranya tentang pembagian atau penggolongan umat hindu dari Brahma, Kesatria, Waisya dan Sudra. Pembagian golongan ini ternyata memang didasarkan pada kasta orangtua hanya saja pada masa yang lama, pembagian golongan ini tidak serta merta dilakukan begitu saja dengan melihat dari latar belakang namun dengan ujian sulit yang menilai karakter dan kemampuan setiap orang. Kemdian asal muasal reinkarnasi atau cerita tentang kita yang memiliki kehidupan sebelum kehidupan kita di dunia ini. Kalau tidak salah mengolah informasi, yang saya ketahui adalah bahwa kita yang mati di dunia ini akan lahir kembali sebagai bentuk lain (dalam hal ini bentuk hewan), di dalam novel ini ada penjelasan tentang Wikarma. Orang-orang yang dianggap kotor bahkan hampir tak memiliki kehormatan karena kesalahan atau dosa yang mereka lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga mereka dan orang-orang di sekitarnya mnedapatkan kesialan di kehidupan saat ini. Fakta yang melatarbelakangi pemahaman dan kepercayaan ini sedikit banyak membuat saya tercengang. Keinginan yang kuat untuk mengatur dan memberikan tatanan negeri yang baik yang penuh dengan hukum dan penegakannya ternyata adalah apa yang melandasi pemberian hukuman bernama Wikarma.

Seperti yang diceritakan, orang-orang Wangsa Surya adalah mereka yang begitu tertur dan taat. Segala hal dalam hidup mereka diatur oleh negara dan mereka wajib mengikuti aturan itu meskipun hal tersebut terkadang merenggut harga diri dan kehormatan mereka sebagai manusia yang beradab. Tatanan ini membuat saya teringat akan sistem ekonomi sosialis dimana semua harta mutlak adalah milik negara dan pengaturan serta pembagiannya dilakukan secara merata. Tidak ada yang kaya dan yang miskin dari negeri Meluha, yang ada hanyalah semua orang dengan derajat atau kasta berbeda namun mendapat perlakuan hukum yang sama serta wajib menaati aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Sebaliknya, melihat kehidupan Wangsa Chandra yang serba awut-awutan, hampir tidak mengenal aturan,  sedikit banyak merepresentasikan sistem ekonomi kapitalis dan sedikit liberal. Terjadi kesenjangan yang teramat kentara antara si miskin dan si kaya dalam kehidupan sehari-harinya, serta kebebasan dalam berlaku dan berbuat, hampir tidak diatur oleh hukum dan aturan ketat dari negara. Tidak bisa dibilang sama tapi sedikit banyak menyerupai.

Meski baru mulai menikmati alurnya di pertengahan cerita, terus terang saya sangat penasaran dengan buku kedua dari novel ini. Ending-nya masih gantung banget, sepanjang cerita kita hanya disuguhkan oleh perjalanan Siwa dengan orang-orang Meluha, hal ini membuat kita seolah disetir oleh kepercayaan akan kejahatan Wangsa Chandra oleh Wangsa Surya, pikiran kita seolah memang diatur untuk menjadi seperti Wangsa Surya, membanci Wangsa Chandra yang wajahnya hanya orang Wangsa Chandra sendiri yang tahu, kita seolah ikut berperan sebagai pendatang atau pengungsi yang karena orang Wangsa Surya percaya bahwa Wangsa Chandra itu jahat, kita pun berpikir demikian. Meski seperti Siwa, kita juga akan mempertanyakan hukum di Meluha yang terkadang lebih banyak tidak logisnya. Membaca hukum yang berlaku di negeri ini membuat saya jujur saja membuat saya sampai pada pemahaman bahwa Wangsa Surya hanya modern di kulitnya saja, hanya maju dari segi pembangunan dan ekonominya saja, meski mereka cerdas dan memiliki strategi pemerintahan terbaik di masanya, mereka tetaplah pelaku konservatif yang cenderung menolak inovasi dan pemikiran cerdas baru yang lebih logis.

Kehidupan Wangsa Chandra yang sangat jauh berbeda dengan Wangsa Surya yang baru disuguhkan menjelang akhir cerita secara perlahan justru memutar isi kepala saya dan kembali seolah disetir saya justru berbalik bersimpati terhadap tanah Ayodhya dan mempertanyakan kejayaan dan kabajikan yang selalu diagung-agungkan Wangsa Surya di atas segalanya. Kemudian, saya juga mendapatkan tokoh favorit yang ternyata tidak berasal dari Wangsa Surya melainkan Wangsa Chandra. Karakternya yang bebas menurut saya lucu dan terbentuk dari kemanjaannya sebagai putri kerajaan adalah tokoh pertama yang mengundang tawa geli saya sepenuhnya. Putri Raja Dilipa, Anandmayi adalah karakter yang saya sukai dari buku ini. Meski logikanya juga tersesat dalam ramalan kuno, setidaknya ia lebih berpikiran terbuka.

Berbagai ketegangan juga sering tercipta saat membaca buku ini. Banyknya pertempuran yang terjadi membuat saya deg-degan setiap kali ada adegan one on one (meski kurang paham dan kurang bisa menghayati strategi perang Siwa yang amatlah cerdas menurut Parwateshwar). Yang paling bikin deg-degan adalah adegan Sati yang mencoba melindungi Siwa dari panah beracun. Mereka benar-benar pasangan cinta diam-diam yang bikin gemes dan gregetan :D. Dan tentu saja ada banyak sekali kata bijak yang quoteable dalam buku ini. Meski bukan tentang cinta, akan ada banyak pemahaman baru yang kita temukan dalam buku Siwa.

Untuk tahap ini saya beri 3 bintang untuk buku ini dan saya akan menungu untuk seri keduanya yang menurut perkiraan pasti akan lebih seru dari buku pertama ini.

Selasa, 01 November 2016

,

Berbicara soal soulmate, belahan jiwa, pasangan hati dan istilah-istilah lain yang menggambarkan betapa berartinya, betapa berharganya sesuatu bagi kita, atau seseorang bagi kita, kebanyakan orang pasti akan menyebut bahwa soulmate-nya adalah siapa yang nanti akan menikahinya, mendampinginya hingga masa tua, atau seseorang yang memiliki kesamaan hobi, passion hidup yang searah, prinsip hidup yang sependapat atau memilih memberikan gelar kehormatan itu kepada sahabat terbaik yang selalu medampingi dalam suka maupun duka. Tapi ada juga yang justru melabeli benda kesayangannya sebagai soulmate-nya. Saya adalah salah satunya (yang sayangnya baru menyadarinya belakangan ini).

Pertanyaan tentang soulmate ini sudah sering saya temui, sudah banyak ditanyakan pula. Selama itu, saya belum bisa menjawab. Tapi kini, jika pertanyaan itu kembali diajukan, maka saya dengan bangga akan menjawab bahwa soulmate saya adalah buku.

Gelar kutu buku sudah sejak lama melekat pada diri saya, gelar yang menurut orang-orang itu cupu, nggak keren apalagi lucu. Mungkin kalau udah lihat saya yang asyik membaca, beberapa teman akan langsung membayangkan Betty Lafea, salah satu tokoh telenovela berkacamata, kikuk dan nggak pede di depan orang-orang, cenderung introvert dan sangat cocok jika mendekam di perpustakaan berjam-jam. Tapi buat saya itu adalah gelar kehormatan. Buku-buku yang selama ini selalu menemani saya kemanapun saya pergi, sampai dijuluki kutu buku adalah merupakan pujian bahwa betapa lekatnya saya dengan benda satu ini, betapa dekatnya saya dengan belahan jiwa saya.

Penobatan buku sebagai soulmate yang baru saya lakukan belakangan ini bukan tanpa alasan, tapi disebabkan oleh suatu bentuk kesadaran bahwa hanya dengan bukulah saya merasa lengkap, saya merasa utuh. Seperti ada yang kurang jika saya tidak bersama buku, ada yang hilang dan tidak akan bisa diisi kekosongannya oleh gadget canggih manapun. Ya saya mengantongi ponsel kemana saya pergi karena saya membutuhkannya untuk berkomunikasi, ya saya terkadang memainkan game di dalamnya jika sedang bosan. Ya saya menenteng laptop saat berangkat bekerja karena saya membutuhkannya untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi tidak pernah ada di antara kedua benda itu yang membuat saya merasakan kehilangan apabila tidak membawanya. Tapi buku, sehari saya nggak bawa buku, nggak menengok buku, seperti makan tapi kurang garam. Nggak pas!!

Menyadari pula bahwa sejak kecil saya sudah akrab dengan bacaan, dengan buku, sudah sering mengobrak-abrik buku-buku peninggalan kakek saya, beberapa arsip pekerjaan yang dibukukan, hanya demi memenuhi keinginan dan rasa haus akan bacaan baru membuat saya semakin tidak ragu untuk menyematkan kata soulmate sejajar dengan buku. Sejak saya mulai bisa lancar membaca yang itu artinya sekitar tujuh belas tahun lalu saat saya masih berusia empat tahun, buku adalah benda yang paling saya cari. Meski memang saat itu tidak seagresif sekarang karena keberadaan mainan robot-robotan dan perabot masak-masakan. Tapi terbukti bahwa ketika rasa cinta saya akan mainan-mainan lucu tersebut hilang, kecintaan saya pada buku tak juga berkurag, justru bertambah setiap harinya.

Maka dari itu, buku adalah soulmate saya, Pasangan jiwa sepanjang masa yang nggak akan pudar dimakan usia. Yang akan membuat saya kehilangan jika ia tidak ada dan tentu saja akan membuat saya tenang meski hanya sempat melihat sampulnya dan tidak menemukan waktu untuk melahap isi-isinya hingga ke halaman paling belakang. Buku adalah soulmate saya sepanjang masa.

Senin, 31 Oktober 2016

,
Judul Buku: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul: Eka Kurniawan
Layout Isi: Noviprastya
Tahun Terbit: 2004
Kategori: Novel/Sastra
Cetakan Pertama (Cover Baru): Agustus 2014
Cetakan Ketiga (Cover Baru): Desember 2015
Cetakan Keempat: Februari 2016
Cetakan Kelima: Mei 2016
ISBN: 978-602-03-2645-4

BLURB

Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. "Bukan aku yang melakukannya," ia berkata dan melanjutkan. "Ada harimau di dalam tubuhku."

ULASAN

Seperti yang tergambar dalam blurb, kisah Lelaki Harimau adalah tentang pembunuhan yang sangat brutal bahkan belum pernah terpikirkan akan dilakukan oleh pembunuh paling kejam sekalipun. Margio adalah anak yang manis, sejak kecil hingga usianya menginjak angka 20, Margio lebih dikenal sebagai anak malang yang tak pernah melawan meskipun dipukuli demikian kejam oleh Komar bin Syueb, Ayahnya. Meski tentu saja ia marah akan sikap kasar Komar pada ibu dan adiknya, Mameh dan Marian - yang kemudian menemui ajalnya di saat masih berwujud bayi merah, meski setiap harinya rasanya ia ingin membunuh Komar, tak pernah sekalipun hal itu terjadi. Bahkan hingga Komar menemui ajalnya dikarenakan sakit berkepanjangan, kematian itu bukan disebabkan oleh Margio. Tak pelak orang-orang terkejut dan tak bisa menyembunyikan takjub ketika pembunuhan itu terjadi. Anwar Sadat mati, dibunuh Margio! Ia mencabik leher lelaki tua yang terkenal mesum itu, Ayah kekasihnya itu, dengan gigi-giginya hingga napasnya habis tak bersisa.

****

Yang membuat saya memutuskan membeli buku ini bukan pada fakta bahwa Eka Kurniawan adalah salah satu penulis kawakan yang sudah sangat terkenal. Jujur saja, meskipun suka dengan buku, penulis aliran sastra milik Indonesia yang saya ketahui hanya segelintir tokoh saja, yang paling saya ingat adalah Pramoedya Ananta Toer. Eka Kurniawan tak pernah masuk list penulis favorit atau buku-bukunya masuk deretan yang wajib saya baca. Yang membuat saya memutuskan untuk memilih lelaki harimau adalah kesan lucu yang saya temukan pada sampul bukunya. Sekilas itu menampakann wajah kucing, namun belakangan baru saya ketahui setelah disadarkan oleh seseorang yang tidak saya kenal bahwa warna oranye yang terdapat dalam sampul adalah surai. Yang kedua adalah isi blurb. Saya adalah salah satu pembaca yang merasa butuh banyak membaca buku-buku dengan tema 'berat' dan dari blurb, itu sangat menggambarkan. Makna filosofis yang ada pasti akan membuat saya berpikir dan memang itu yang saya cari. Selanjutnya, buku ini juga menyabet penghargaan sebagai Book of The Year IKAPI 2015 yang telah diterjemahkan ke lima bahasa; Inggris, Prancis, Jerman dan Korea. Itu adalah pemikat yang paling berpengaruh. Sebagaimana yang saya tahu, Inggris, Perancis juga Korea adalah tiga negara yang terkenal akan sastranya, memikirkan bahwa buku ini bisa diterima oleh pembaca disana membuat saya mengambil kesimpulan bahwa bukunya pasti menakjubkan. Banyaknya komentar positif yang mengisi space pada sampul belakang dan dua halaman awal buku juga jadi sihir yang paling ampuh.

Meski sudah tahu bahwa buku ini adalah buku sastra, saya tidak menduga bahwa akan butuh waktu sedikit lebih lama untuk membuat saya benar-benar bisa masuk dan menikmati cerita yang ada. Dibuka dengan agenda memancing ikan sama sekali tidak membuat saya berekspektasi bahwa saya akan langsung bertemu dengan berita kematian dan pembunuhan. Bukan karena bahasanya yang sulit dimengerti, gaya penulisan Eka Kurniawan nyastra banget dan saya suka, indah untuk diucap dan didengar, tapi memang saya belum terbiasa membaca sastra jadi mungkin saja itu faktornya. Terlepas dari itu semua, saya menikmati proses penguakkan yang ada dalam Lelaki Harimau.

Kemunculan si lelaki ini adalah awal terbukanya begitu banyak rahasia kelam dan mencengangkan keluarga Margio dan hubungannya bersama kedua orangtuanya. Sejarah hidup yang begitu kelam telah membentuk semua tokoh dengan karakternya yang berbeda namun didasari hal yang sama - derita, yang kemudian membuat mereka harus menjalani kehidupan yang ada dalam buku ini. Buku ini menyajikan konflik keluarga, konflik emosional yang terbentuk oleh perubahan dan perkembangan psikologis masing-masing tokoh yang ada.

Alur dalam novel ini mengambil alur maju mundur. Titik utamanya terdapat pada pembunuhan yang dilakukan Margio yang ternyata didasari oleh hal-hal yang sudah terlewat di masa lalu. Bukan tentang dendam kesumat tak berkesudahan, tapi masa lalu keluarga Margio, fakta-fakta yang tersembunyi di balik olengnya pilar rumah tangga dan kasih sayang di antara mereka dan kemunculan sang harimau ternyata mampu mengubah segalanya. Malu dan marah yang bertumpuk bertahun lamanya mmebuat Margio tak dapat menahan harimau yang ada dalam tubuhnya, yang sudah diwarisi turun temurun dari buyutnya.

Pada bagian harimau, saya sedikit teringat pada salah satu anime Jepang yang diadaptasi dari manga dengan judul yang sama, Naruto Shippuden. Kyuubi yang bersarang pada tubuh Naruto juga adalah makhluk yang tak bisa disandingkan dengan kemarahan karena pasti akan menimbulkan ledakan. Itu juga yang terjadi pada Margio, harimau dalam tubuhnya tak punya kompromi akan emosi yang akhirnya membuat ia brutal tak terkendali. Namun tetap Lelaki Harimau dan Naruto Shippuden tidaklah sama. Agak sulit untuk dipahami memang, tapi kalau didasarkan pada pemahaman dan saya menangkap maksud yang ada, saya beranggapan bahwa sosok harimau dalam tubuh Margio bukanlah sosok harimau yang sebenarnya. Ia adalah sisi lain dari Margio yang baru mulai menampakkan wujudnya ketika lelaki itu benar-benar berada pada titik terendah dalam hidupnya, bait tersulit dalam takdirnya. Tidak juga saya memahami bahwa Margio mengidap penyalit mental seperti gangguann kepribadian, gangguan identitas atau memiliki kepribadian ganda, yang saya pahami adalah sebenarnya setiap orang punya sisi harimau itu dalam dirinya, hanya saja yang membedakan adalah jalan hidup, takdir yang harus dijalani, dan tentu saja kondisi mental sehingga harimau itu bisa saja muncul bisa saja tidak.

Meski tidak mengidap kepribadian ganda, buat saya pribadi semua tokoh yang ada khususnya keluarga Margio dimulai dari Komar bin Syueb, istrinya hingga Marian si bayi merah, semuanya memiliki ganggaun mental yang diakibatkan oleh kerasnya hidup yang membentuk karakter dan pola pikir mereka. Karena jika tidak, tidak mungkin Komar yang bengis menyimpan tangis ketika menyadari segala kesalaahan yang ia lakukan dan kekeliruan yang terlambat ia sadari, takkan mungkin istrinya yang benci setengah mati hingga tega mengkhianati menangis saat Komar bin Syueb ditemukan mati, tak mungkin Margio yang hampir setiap hari memikirkan untuk membunuh Komar Bin Syueb menyimpan simpati ketika sadar apa yang sudah dilakukan Ibunya.

Secara keseluruhan buku ini bercerita tentang penyebab kemunculan si harimau dalam tubuh lelaki bernama Margio dan akan ada banyak pelajaran dan kengerian yang akan kita temukan.

Rate: 4/5 bintang