[Review] Dragon House - Sekolah Bocah-bocah Jalanan Korban Perang By John Shors

Kamis, November 10, 2016

Judul Buku: Dragon House
Penulis: John Shors
Penerbit: Penerbit Edelweiss
Diterjemahkan dari: Dragon House Copyright John Shors, 2009
Penerjemah: Isma B. Soekoto
Desain Isi: Ursula Nomi
Desain Sampul: Windu
Terbit: 2009
ISBN: 978-602-8672-05-4
Rate: 4/5 

BLURB

Iris dan Noah, dua orang Amerika yang hidupnya terbentuk oleh orang-orang Vietnam, pada masa setelah negeri eksotis itu porak poranda pascaperang, bahu membahu membuka sekolah anak-anak jalanan; hidup lebur dalam kekerasan demi mengasuh dan merebut masa depan mereka.
Minh, bocah bisu yang cerdas dan tangannya yang dibuntungkan oleh Loc demi mengudang belas kasih, persahabatannya yang lebih dari saudara dengan Mai, gadis penyambung lidah Minh, bocah-bocah lain yang survive dan terus bermimpi di tengah cengkeraman preman penguasa jalanan, semua membuat Iris dan Noah jatuh hati.
Sebuah kisah berdiksi indah dan sistematis yang menyingkap cinta dan heroisme dari balik sudut gelap dan petak-petak kumuh kota Saigon.

ULASAN

Iris adalah seorang wanita yang hampir tidak pernah merasakan kasih sayang Ayahnya. Sebagai seorang tentara, Ayahnya sering ditugaskan ke luar negeri, lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang dengan keluarga. Bisa dibilang Iris hidup hampir tanpa Sang Ayah, hal yang membuat ia marah namun tetap tak mempu membendung rasa cintanya yang teramat besar. Sebelum Ayahnya meninggal, ada satu keinginannya yang sangat ingin dikabulkan Iris. Ayahnya membangun sebuah wisma di Vietnam, negara bekas jajahan Perancis yang dulunya pernah berperang bersama Amerika saat terjadi perpecahan antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Berbekal keberanian dan cinta, Iris berangkat ke Vietnam, negeri yang jauh bahkan tak pernah terpikirkan olehnya akan didatanginya seumur hidupnya.

Noah, sama seperti Ayah Iris, adalah tentara. Ia mendaftar menjadi veteran didasari oleh keinginan untuk melakukan sesuatu bagi negaranya, Amerika. Ia ditempatkan di Pakistan lalu kemudian harus bergabung bersama rekan-rekannya di Irak dalam rangka pencarian harta berharga. Sebuah alat pemusnah massal dikabarkan akan diluncurkan negeri itu - hal yang tentu saja membahayakan Amerika. Sayangnya, perburuan itu tidak membuahkan hasil. Saddam Hussein tidak ada kaitannya dengan Al-Qaeda, pencariannya sia-sia dan merenggut sahabat terbaik beserta satu tungkainya. 

Ibu Noah yang merasa prihatin pada putranya yang frustrasi setelah mengalami kelumpuhan mendengar rencana keberangkatan Iris ke Vietnam. Dengan penuh pengharapan ia meminta Iris untuk mengajak serta Noah pergi, agar laki-laki itu bisa menemukan senyumannya kembali. Agar Noah bisa kembali hidup bersemangat mesku hanya dengan satu tungkai dan bantuan prostesis. Pada saat itu, Vietnam benar-benar dalam kondisi semrawut. Perang yang terjadi di negara itu mengakibatkan banyak sekali korban berjatuhan, di antaranya adalah anak-anak yang kehilangan kedua orangtua mereka dan harus berpasrah hidup di jalanan. Belum ada perhatian besar dari pemerintah dalam melindungi dan merawat mereka. Terjadi kesenjangan hidup yang sangat nyata disana. Di antara megahnya gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan, ada tangis dan jerit tertahan yang tak pernah mampu disuarakan. Anak-anak itu butuh perlindungan, dan untuk itulah Wisma yang diberi nama seperi nama Iris itu didirikan.

Perjuagan Iris dan Noah dalam membangun wisma itu tidaklah mudah. Ada banyak sekali hal yang mesti dilakukan apalagi terkait pendanaan dan perizinan. Belum lagi cap tak kasat mata yang menempel pada orang-orang Amerika yang diberikan sebagian orang Vietnam khususnya yang bertempat di Saigon (sekarang Ho Chi Min City). Kondisi Noah yang masih jauh dari kata bersemagat pun tidak banyak membantu. Untunglah ada Thien, asisten Ayah Iris yang bersedia membantu. Thien sering menemani Iris untuk mengelilingi Saigon, untuk lebih mengenal Vietnam lebih dekat. Meski tidak secara cepat, Noah pun secara perlahan menemukan dirinya kembali. Ia bersedia membantu setelah dipertemukan dengan Qui dan Tam, pasangan nenek dan cucu yang mengemis di area Ben Tenh demi sesuap nasi dan sedikit obat pereda rasa sakit bagi Tam yang mengidap Leukimia. Kodisi Tam yang kurus dan memprihatinkan membuat Noah terenyuh dan memutuskan untuk melakukan yang terbaik yang dapat ia lakukan, memberikan yang terbaik bagi anak-anak malang yang menjadi korban ganasnya peperangan. Noah sudah pernah berperang, sudah pernah melihat jerit tangis kesakitan, sudah pernah melihat Ibu yang kebingungan mencari anaknya dan pemadangan menyedihkan ini membuat Noah ikut merasakan sakit yang teramat. Bisa dibilang Noah juga pernah berperan dalam agenda memorakmorandakan suatu negeri, membuat dirinya merasa semakin teriris melihat kondisi Tam yang lemah, sakit dan berada pada jurang kematian.

Sementara itu, di antara anak-anak jalanan ada Mai dan Minh, dua orang sahabat yang sudah seperti saudara. Setiap hari mereka bekerja di jalanan, mencari uang dan belas kasihan. Mai menjual kipas sehari-harinya sedangkan Minh menantang orang-orang untuk bermain connect four (sejenis permainan Tac Tic Toe) dan bagi yang kalah harus membayarnya 1 dollar. Minh memang cerdas, hampir tidak pernah ada yang bisa mengalahkannya dalam permainan connect four, namun tak semua orang mau bermain dengannya dan 5 dollar hasil jerih payahnya dan Mai harus diberikan kepada Loc - sang preman pasar yang melindungi mereka di jalanan sekaligus menyiksa mereka jika tidak dapat memberinya uang untuk membeli opium.

Desas-desus tentang wisma milik Iris pun beredar di Saigon dan tak sedikit anak-anak jalanan yang tertarik untuk tinggal disana, begitu pun Mai dan Minh. Meski singgah hanya sekali untuk melihat-lihat, apa yang mereka impikan namun tak bisa didapatkan tampak ditawarkan oleh wisma Iris. Kasur yang empuk, bantal yang lembut jelas lebih baik dari kotak tidur mereka di kolong jembatan, kelas yang nyaman untuk belajar sudah tentu adalah impian Mai. Namun, mereka tidak serta merta bisa pindah kesana, Loc pasti akan murka dan menyiksa mereka jika tahu bahwa pemberi uang terbesarnya ingin melarikan diri.

Di berbagai kota, anak jalanan adalah pemandangan lumrah. Pengemis yang menyebar, pengamen, tukang koran di lampu merah adalah hal yang sudah sangat biasa termasuk di Indonesia. Kisah dalam buku Dragon House ini adalah sedikit contoh kehidupan mereka yang tak terperhatikan pemerintah maupun masyarakat sekitar. Perbedaannya hanyalah pada mereka adalah korban perang Vietnam sedangkan yang sering kita temui di jalanan sehari-hari adalah korban kerasnya kehidupan. Tetap saja mereka miskin dan butuh bantuan serta perlindungan.

Membaca novel ini sedikit banyak mengiris hati saya sebagai seseorang yang masih saja kurang mensyukuri apa yang saya miliki dan merasa bahwa kegagalan-kegagalan yang saya alami adalah sesuatu yang sangat menjengkelkan. Tak pernah terpikirkan bahwa di luar sana bahkan ada banyak sekali anak-anak, generasi penerus bangsa yang bahkan bermimpi mengenakan seragam sekolah pun tidak berani. Cara peulis menggambarkan kebahagiaan dan kesdihan juga sangat mendukung. Benar-benar terdapat perbedaan yang tampak jelas bahkan hanya dengan membaca dan membayangkan kisah yang ada pada buku ini.

Saigon adalah kota yang porak poranda setelah perang dan menyebabkan banyak korban berjatuhan. Pemandangan kota yang digambarkan secara detail juga menjelaskan seperti apa kondisi Vietnam pada masanya. Lalu lintas padat merayap yang tidak kenal arus lalu lintas, kemiskinan yang melanda kota ini dan berbagai macam kesemrawutan yang tampak jelas oleh pandangan mata. Buku Dragon House tidak hanya menceritakan kisah anak jalanan, derita anak yang tak pernah memiliki kesempatan tapi juga bagaimana orang-orang Vietnam pada masanya menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun tinggal di negara yang masih berusaha bangkit, orang-orang Vietnam adalah mereka yang mencintai negaranya, sayangnya kurang memperhatikan generasi penerusnya. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia juga memiliki sisi seperti ini, masih banyak anak jalanan yang berkeliaran tanpa pengasuhan di jalanan atau orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya dari kebaikan dan belas kasihan orang lain.

Selain budaya dan kondisi kota, buku ini juga menceritakan bahwa obat-batan terlarang dalam hal ini opium adalah benda yang mudah sekali ditemukan di Vietnam. Pelarian yang banyak digunakan orang-orang untuk meredam sakit yang tak bisa lagi mereka bendung di dalam kesadaran. Contohnya adalah Loc, preman yang memilih bertahan hidup dari memanfaatkan anak jalanan yang membayar upah harian padanya, yang menggunakan opium untuk meredam segala kemarahan yang sudah lama tersimpan dalam dadanya.

Perkembangan mental dan psikologi setiap tokoh juga sangat terasa. Tidak hanya pada anak jalanan, tapi juga pada Iris dan Noah, dua manusia yang bersatu  padu untuk membantu dan memberikan yang mereka punya. Meski seorang veteran yang sudah terlatih, Noah juga adalah manusia yang memiliki nurani dan tentu saja mengutuk kecacatannya pasca perang Amerika-Irak. Kehadiran anak jalanan yang menyedihkan siapa sangka mengubah Noah yang putus asa menjadi laki-laki yang bersedia melakukan apa saja untuk senyum dan kebahagian anak-anak itu. Iris sendiri, meski hidup cukup dari penghasilannya sebagai pengulas buku, besar tanpa Ayah juga telah membentuk Iris menjadi wanita yang rindu akan sosok dan kasih sayang sang Ayah. Namun, keadaaan anak jalanan yang bahkan tak pernah sekalipun bertemu orangtua mereka, atau yang terpaksa hidup sebatang kara karena kematian orangtua mereka membuat Iris sadar bahwa hidupnya sesungguhnya lebih beruntung berkali-kali lipat dari mereka, termasuk saya yang menyadari bahwa hidup yang saya jalani saat ini beratus kali lipat lebih baik untuk tidak disyukuri.

Buku ini menyimpan banyak sekali pesan moral terutama dalam mensyukuri hidup dan berbelas kasih pada mereka yang membutuhkan. Yang menjadi kekurangan buku ini hanyalah pada kesalahan penulisan dan beberapa terjemahan yang saya rasa kurang tepat atau tidak pas penempatannya. Namun, buku ini tetap sangat menarik dan sangat saya rekomendasikan untuk siapa saja, kekuatannya dalam mengetuk nurani manusia benar-benar luar biasa.

You Might Also Like

2 komentar

  1. review buku yang menarik mbak.
    eh mbak mau reviewin buku saya enggak hehe. yah Kalau udah bikin itu juga haha.
    kalau mbak kebetulan lagi cari tips fotografi mampir juga ke blog saya.
    gariswarnafoto[dot]com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih banyak mas sudah berkenan membaca hehe
      Review-in buku mas? Yang mana? Siapa tahu bisa hehe
      Okeeeeh siaaap :))
      Kebetulan suka foto-foto juga meski ga sebagus jepretan fotografer hehe

      Hapus

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh