Catatan harian yang semakin renta dan tua

Kamis, 13 Februari 2014

,

Nggak kerasa hari ini dateng lagi. Hari bersejarah sejak Sembilan belas tahun yang lalu. 13 Februari hadir lagi dengan gue sebagai seorang Putri. Ya. Putri. Gue bukan Putra secara gue cewek, jadi gue adalah seorang Putri. Gue rasa gue nggak harus mendefinisikan apa itu Putri apa itu Putra. Silahkan definisikan menggunakan versi masing-masing. Jadi singkat cerita: gue ulang tahun yang ke Sembilan Belas!

            Awalnya gue nggak menduga. Gue nggak mengira. Hari ini gue ke kampus dengan perasaan biasa aja karena gue rasa emang hari ini biasa aja. Spesialnya ya cuma karena gue ulang tahun. Sesampainya di kampus, gue langsung disambut senyuman dan ucapan selamat ulang tahun dari temen gue, Raya. Yang kemudian disambung dengan pertanyaan dari Sandri: Hari ini Sita ulang tahun? :o yang gue jawab dengan anggukan, senyuman dan kata iya dan dijawab juga oleh salah satu temen gue dengan kata: Emang. Namanya Dewi. Abis itu dia (Sandri) nyelametin gue (Ngasih ucapan maksudnya).

Setelah selesai dengan acara selamat-selamatan dengan temen-temen gue dari konsentrasi Sektor Publik itu, gue langsung menuju ke aula dimana temen-temen gue sesama mahasiswa konsentrasi Perpajakan lagi pada ngumpul. Janjiannya sih hari ini kita mau bahas tentang jadwal kuliah biar nanti nggak ada yang tabrakan sama jadwal-jadwal yang lain. Maklum udah semester banyak jadi ya masih ada beberapa mata kuliah di semester dikit yang masih harus ditebus atau dikontrak ulang. Dalam hal ini Alhamdulillah gue cuma ngontrak satu doang untuk mata kuliah para junior. Alasannya nggak harus gue kasih tahu tapi yang jelas ini bukan alasan yang memalukan sampe bikin gue harus rela sekelas sama adek-adek (sebenernya sih rata-rata mereka seumuran gue hihi^^) yang angkatanya dua tahun di bawah gue. Gue pengen cerita tapi nanti tulisan ini malah kepanjangan dan nggak dapet intinya. Well, sebenernya gue nggak tahu gue mau ngomong apa sekarang.

Rabu, 12 Februari 2014

,
Kiri-Kanan! Kanan-Kiri! Kiri-Kanan! Kanan-Kiri!....

Sejak pulang kantor tadi, itulah yang dilakukan Vivian. Mondar-mandir tidak jelas di dalam apartemen sambil menggigiti kuku-kukunya. Kenapa gue harus iya-in permintaan tolong Ael? Kenapa nggak gue tolak? Iya sih gue tahu ancaman tuh orang berbahaya banget sama kehidupan pribadi dan masa mud ague. Indra juga nyaranin buat diterima aja. Tapi kok gue rada nyesel, ya? Gue nggak ikhlas iya-in permintaannya. Lagian si Rafael jadi orang egois banget sih? Nggak bisa ya sekali ini dia ngertiin perasaan orang lain? Ya walaupun gue nggak tahu apa yang harus dia mengerti disini. Vivian berdebat dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba ponselnya menjeritkan ringtone. Aduh Tuhan… kenapa harus bunyi sekarang sih nih HP? Gue lagi nggak pengen ngomong sama siapa-siapa.

Akhirnya dengan langkah yang diseret, Vivian masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel yang memang sejak tadi belum ia keluarkan dari dalam tas.

Ale-ale Calling…

Itulah yang tertera. Ael! Vivian memang sengaja mengganti nama kontak Ael di ponselnya dengan nama salah satu produk minuman yang banyaj dijual di warung itu. Ale-ale.

“APA?” Tanyanya galak ketika ia mengangkat sambungan telepon itu.

“Galak bener sih lo?” Tegur Rafael.

“Suka-suka.” Jawab Vivian cuek.

“Lo dimana?” Tanya Rafael. Ia sedang malas meladeni Vivian. Pikirannya masih dipenuhi wajah tersenyum Nindy saat bersama laki-laki itu.

“Kepo.” Vivian kembali menjawab dengan nada cuek. Kali ini diikuti jutek.

,
            Bara bingung kemana Bimo mengajaknya malam ini. Bukan karena ia tahu bahwa rute yang sedang mereka lewati saat ini adalah rute ke arah arena balap liar, tapi kenapa Bimo mengajaknya ke tempat itu padahal laki-laki itu tahu bahwa ia sama sekali sudah tidak mau kembali ke dunia balap. Ia memang mantan pembalap liar. Saat masih SMA dulu, ia merupakan bagian dari anggota geng salah satu balap liar di Jakarta. Tapi Bimo? Laki-laki itu sama sekali tidak suka dengan balap liar. Jadi untuk apa ia mengajaknya kesini? Apa sekarang Bimo sudah beralih profesi dan ganti hobi jadi pembalap liar dibanding jadi pemain futsal? Tapi bagaimana bisa? Apa sebegitu frustasinya ia karena tidak bisa mendapatkan gadis pujaannya yang entah siapa namanya itu sampai-sampai ia punya ‘tempat persembunyian’ (baca: apartemen pribadi) dan ‘tempat pelarian’ yakni arena balap?

Ditatapnya dengan pandangan aneh Bimo yang kini sedang mengambil alih kemudi di samping kanannya. Berharap dengan itu sahabatnya ini akan buka mulut. Akan tetapi, yang keluar dari mulut laki-laki itu adalah:

“Lo homo, ya?!” Tebaknya.

“Sialan lo!” Maki Bara pelan. Bimo hanya terkekeh geli.

“Nanti lo juga tahu kita mau kemana.” Ucap Bimo santai sambil tetap fokus pada jalanan di depannya. Ini sudah lewat tengah malam, jadi jalanan sudah agak lengang. Membuatnya dengan leluasa menjalankan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi.

“Gue tahu kita mau kemana, kuya. Yang gue nggak tahu, ngapain lo ngajak gue kesana? Lo lagi nggak minta gue buat nonton lo, kan?” Tanyanya. Bimo hanya tersenyum tipis.

“Gue masih berniat buat ngalahin Christiano Ronaldo kok. Tenang aja.” Joke-nya garing. Bara mendengus. Lagian sejak kapan Christiano Ronaldo berubah jadi pemain bola dengan lapangan mini? Dasar Bimo nggak jelas!

Selasa, 04 Februari 2014

,
          Pagi yang cerah, tapi tidak secerah wajah Bina. Semalam ketika mendengar bahwa Bian kecelakaan, ia langsung panik bukan main. Alhasil, saat Bian menawarkan untuk menjemputnya, dengan segera ia menolak dan mengatakan bahwa dirinya sendiri yang akan ke rumah laki-laki itu. Ia lupa bahwa meskipun sudah empat tahun menjalin hubungan dengan Bian, laki-laki itu belum pernah sekalipun mengajak dirinya ke kediaman keluarga Alfonso ataupun memperkenalkannya sebagai pacarnya kepada kedua orang tuanya.

Ini bukan masalah Bina tidak tahu dimana rumah Bian atau Bina takut tersesat. Ini masalah apa pendapat orang tua Bian apabila dirinya bertandang sendiri ke rumah yang sudah bisa dipastikan besar dan mewah itu. Bina memang tidak tahu pasti seberapa megahnya ‘Istana Alfonso’ itu, tapi sejak SMA, sejak dirinya dan Bian pertama kali bertemu, teman-temannya di sekolah maupun para senior sudah sering berkasak-kusuk tentang betapa kayanya keluarga Ayah Bian.

Aduh gimana nih? Batin Bina gusar. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Sekarang ia harus bagaimana? Tidak mungkin ia meminta Bian untuk bertemu di luar saja karena laki-laki itu saat ini sedang sakit. Kecelakaan motor pula. Baru juga semalam. Bukan sakit flu biasa yang memang sudah menjadi penyakit langganan Bian. Apalagi hanya dengan alasan karena ia takut dan tidak percaya diri bertemu dengan kedua orang tua Bian.

Apa gue ajak Bianca aja ya? Batinnya. Eh tapi jangan deh. Kesannya kok kayak dateng cuma kalo butuh doang. Tapi kan emang gue lagi butuh banget sama Bianca. Kira-kira dia sibuk nggak, ya? Pikiran Bina semakin berkecamuk. Ia ingin meminta bantuan Bianca untuk menemaninya, tapi juga merasa tidak enak.

          Akhirnya diputuskannya untuk menghubungi ponsel sahabat baiknya itu dengan catatan memastikan terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan olehnya atau tidak. Ditekannya tombol bergambar hijau ketika ditemukannya nama Bianca Lewis di daftar penghuni kontaknya. Lagu klasik caravansary langsung memenuhi pendengaran Bina. Memang Bianca banget. Klasik. Berkelas. Seperti orangnya. Namun sayangnya, tiga kali dicobanya Bianca tidak menjawab panggilan teleponnya. Dengan langkah berat akhirnya ia berjalan ke arah halte dan memutuskan untuk ke rumah Bian sendirian.