Cinta Tak Sempurna #10

Rabu, Februari 12, 2014

            Bara bingung kemana Bimo mengajaknya malam ini. Bukan karena ia tahu bahwa rute yang sedang mereka lewati saat ini adalah rute ke arah arena balap liar, tapi kenapa Bimo mengajaknya ke tempat itu padahal laki-laki itu tahu bahwa ia sama sekali sudah tidak mau kembali ke dunia balap. Ia memang mantan pembalap liar. Saat masih SMA dulu, ia merupakan bagian dari anggota geng salah satu balap liar di Jakarta. Tapi Bimo? Laki-laki itu sama sekali tidak suka dengan balap liar. Jadi untuk apa ia mengajaknya kesini? Apa sekarang Bimo sudah beralih profesi dan ganti hobi jadi pembalap liar dibanding jadi pemain futsal? Tapi bagaimana bisa? Apa sebegitu frustasinya ia karena tidak bisa mendapatkan gadis pujaannya yang entah siapa namanya itu sampai-sampai ia punya ‘tempat persembunyian’ (baca: apartemen pribadi) dan ‘tempat pelarian’ yakni arena balap?

Ditatapnya dengan pandangan aneh Bimo yang kini sedang mengambil alih kemudi di samping kanannya. Berharap dengan itu sahabatnya ini akan buka mulut. Akan tetapi, yang keluar dari mulut laki-laki itu adalah:

“Lo homo, ya?!” Tebaknya.

“Sialan lo!” Maki Bara pelan. Bimo hanya terkekeh geli.

“Nanti lo juga tahu kita mau kemana.” Ucap Bimo santai sambil tetap fokus pada jalanan di depannya. Ini sudah lewat tengah malam, jadi jalanan sudah agak lengang. Membuatnya dengan leluasa menjalankan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi.

“Gue tahu kita mau kemana, kuya. Yang gue nggak tahu, ngapain lo ngajak gue kesana? Lo lagi nggak minta gue buat nonton lo, kan?” Tanyanya. Bimo hanya tersenyum tipis.

“Gue masih berniat buat ngalahin Christiano Ronaldo kok. Tenang aja.” Joke-nya garing. Bara mendengus. Lagian sejak kapan Christiano Ronaldo berubah jadi pemain bola dengan lapangan mini? Dasar Bimo nggak jelas!

****
Akhirnya mereka tiba juga di pusat arena balap. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi lebih empat puluh lima menit. Dalam hati Bara mengutuk dirinya sendiri. Ia tahu sudah seharusnya ia istirahat dikarenakan besok pagi ia ada meeting penting dengan salah satu kilennya dari Amerika. Tapi ia malah terjebak di tempat ini bersama laki-laki ini. Ia bersumpah, kalau sampai ia besok terlambat dan perusahaan mereka tidak dapat memenangkan tender, sudah dipastikan Bimo akan segera ia ‘pecat’ sebagai salah satu anggota sahabatnya.

“Bim lo ngapain sih ngajak gue kesini?” Tanyanya begitu mereka sampai. Tampak disana race pertama baru saja selesai. Seorang laki-laki dengan motor besar berwarna putihnya baru saja membuka helmnya dan disambut dengan riuh beberapa orang temannya, juga beberapa gadis berpenampilan seksi yang datang sambil memuji-mujinya mencari perhatian. Tapi ia sama sekali terlihat tidak tertarik dengan gadis-gadis berpakaian ‘kurang bahan’ itu.

            Sementara itu, peserta balap lain yang kalah terlihat turun dari kendaraan mereka dengan wajah kesal. Tampaknya kecewa karena tidak bisa mengalahkan laki-laki dengan motor berbadan besar itu.

“Lo liat cowok yang di motor putih itu?” Tanya Bimo sambil menunjuk si pemenang dengan dagunya.

Bara menoleh dan melihat siapa yang dimaksud Bimo. Keren. Satu kata itu yang tercetak dalam pikirannya tapi segera diabaikannya. Tampaknya ia pernah lihat. Tapi ya sudahlah.

“Kenapa emang?” Tanyanya heran. Ni anak lagi nggak bener-bener ngira kalo gue homo kan sampe nunjuk-nunjukin cowok segala?!

“Itu jawaban atas pertanyaan lo tadi.” Jawab Bimo nggak jelas dan nggak bisa dimengerti. Pertanyaan? Pertanyaan yang mana coba? “Pertanyaan kenapa lo ngajak gue kesini?” Bara akhirnya menyuarakan keheranannya. Bimo mengangguk singkat. Bara mengernyit bingung. “Lo lagi nggak ngira kalo gue bener-bener homo kan?” Tanya Bara lagi.

            Bimo yang mendengar pertanyaan gokil Bara itu kontan tertawa. Ni anak ternyata masih polos. “Kalo lo ngira begitu, ya gitu aja.” Ledeknya.

“Eh sialan lo! Gue nanya serius, Nyet!” Maki Bara pelan.

“Bina…” Ungkap Bimo. Bina? Kenapa Bina? Bina lagi nggak ada disini kan jam segini? Dengan cepat Bara celingak-celinguk kiri kanan mencari sosok Bina yang tadi disebutkan Bimo.

“Dia Bian-nya Bina!” Jelas Bimo. Penjelasan singkat yang tidak bertele-tele namun sudah cukup membuat Bara paham. Jadi maksudnya bisa jadi Bina tahu kalau pacarnya adalah salah satu pembalap liar? Trus? Emang selama ini Bina nggak tahu, gitu?

“Maksud lo?” Tanya Bara lagi. “Gue ngerti maksud lo dengan Bian-nya Bina. Gue udah paham dengan maksud lo tentang jawaban pertanyaan gue. Tapi? Kenapa dia bisa kecewa? Emang selama ini dia nggak tahu? Lo bilang mereka udah jadian selama empat tahun.” Bara memberondong Bimo dengan empat pertanyaan berturut-turut. Terserah orang bilang dia kepo atau apa. Yang pasti ia sangat ingin tahu. Ia penasaran.

“Ini belum pernah terungkap sekalipun. Baik di depan Bina, maupun di depan Bianca.”

****
Meeting hari ini benar-benar kacau. Oke ia memang sedikit berterima kasih pada Nindy karena telah membantunya memenangkan tender. Tapi harus ia akui, ia sedikit kecewa pada dirinya sendiri karena dengan bodohnya harus kehilangan konsentrasi di saat yang penting dan membuat Nindy berkesempatan untuk meminta ‘imbalan’ darinya.

Begini ceritanya: Tadi malam sepulang dari arena balap bersama Bimo ia sama sekali tidak bisa menemukan kantuknya. Kantuknya melarikan diri entah kemana jadi singkatnya ia sama sekali tidak tidur. Sementara itu, pagi ini ia ada meeting dengan kliennya dari Amerika. Ketika ia hendak masuk ke mobil untuk menemui klien penting tersebut yang memang membuat janji di salah satu restora, tiba-tiba Nindy muncul dan dengan paksa minta ikut dengannya padahal perempuan itu setahunya punya banyak pekerjaan. Nindy adalah satu-satunya pewaris suatu perusahaan swasta di Jakarta. Memang bukan perusahaan besar, tapi tetap saja ia adalah calon pemimpin disana. Demi mengingat status tersebut, akhirnya ia bekerja di perusahaan untuk membantu pekerjaan Ayahnya yang masih memimpin perusahaan. Tapi karena kemanjaannya, ia sering sekali bolos dan alasannya hanya untuk menemui Bara.

            Akhirnya dengan sangat terpaksa karena tidak mau terlambat, Bara mengizinkannya ikut dan memperkenalkannya sebagai sekertarisnya. Sekertaris pribadi Bara memang tidak bisa menemani karena sedang sakit. Di tengah-tengah meeting entah kenapa pikiran Bara tiba-tiba dikacaukan oleh hal-hal mengenai Bian dan Bina yang akhirnya membuyarkan konsentrasinya dan membuat Nindy secara 80% mengambil alih meeting tersebut dan men-deal-kannya. Actually, big applause for her karena ternyata apa yang ia pelajari di Amerika dulu masih tersimpan di dalam otaknya. Bara akui Nindy memang cukup cerdas. Tapi ya itulah. Karena ‘jasanya yang sangat berharga’ itu Nindy akhirnya meminta imbalan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi Bara. Pokoknya, kalau cerita ini dimasukkan ke dalam majalah, maka mungkin judul artikel yang cocok adalah “KARENA KEBODOHAN DAN KECEROBOHANNYA, FAY BARA PUTRA HARUS BERAKHIR DENGAN MENEMANI SEORANG WANITA BERBELANJA DAN DUDUK DI SALON SELAMA BERJAM-JAM”. Benar-benar judul yang tidak keren mengingat ada kata bodoh dan ceroboh disana.

****
Cerita Bian Bina terungkap. Hubungan yang sudah dijalin selama empat tahun itu, yang jauh dari kata bertengkat dan terasing dari kata putus itu akhirnya terungkap. Memang, jika dilihat sekilas hubungan mereka memang baik-baik saja, mulus-mulus saja dan sama sekali tidak ada hambatannya. Tapi ternyata salah. Ada satu hal yang selama ini ditutup-tutupi. Satu hal yang ditutup-tutupi oleh satu pihak. Satu hal yang tidak diketahui oleh pihak lain. Satu hal yang pasti membawa kecewa. Satu hal yang pasti membawa kehancuran bagi keduanya. Rahasia kelam! Topeng! Dua hal yang berbeda namun terangkum menjadi satu kesatuan: KEBOHOGAN!! Dan ironisnya, kebohongan menyakitkan itu sudah tersembunyi selama kurang lebih empat tahun ini. Empat tahun yang tanpa jeda, mengingat Bian dan Bina tidak pernah putus sekalipun atau break. 

            Selain itu, cerita ‘tempat persembunyian’ Bimo pun akhrirya terungkap. Siapa gadis pujannya itu? Siapa Bianca itu? Benar-bener memusingkan.

Bimo yang mencintai Bianca. Bianca yang mencintai Bian. Bian yang mencintai Bina begitu pula sebaliknya, Bina yang mencintai Bian. Bian yang membohongi keduanya: Bina dan Bianca, serta Bimo yang menutupi kebohongan itu. Haruskah Bara ikut di dalamnya? Haruskah Bara terlibat? Haruskah kalimat Bara yang akhirnya menguak segalanya ditambahkan?

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh