Catatan harian yang semakin renta dan tua

Kamis, 23 Januari 2014

,
“Ogah!. Gue nggak mau dan lo nggak bisa maksa gue!” Tolak Vivian mentah-mentah. Ia tidak mau. Enak saja main suruh-suruh. Dia saja tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain, kenapa Rafa bisa memaksakan kehendaknya padanya? Walau sampai kapanpun ia tidak akan mau memenuhi permintaan konyol Rafa.

“Kenapa? Lo naskir gue sampe nggak mau? Lo nggak pengen gue balik sama mantan gue supaya perjodohan ini bisa terus berlanjut?” Tanya Rafa pede sejuta.

“Gue? Naksir lo? Kayak stock cowok di bumi udah abis aja.” Bantah Vivian tegas.

“Trus kenapa nggak mau?” Tanya Rafa.

“Eh harusnya gue ya yang ngatain lo bego. Pake nanya lagi apa alasannya. Gue nggak mau beurusan sama lo apalagi sama kehidupan pribadi lo. Mau cewek lo ninggalin lo kek, mutusin lo, bawa kabur duit lo, gue nggak peduli!” Jawab Vivian kemudian melangkah pergi meninggalkan Rafa yang tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

Lo nggak bisa nolak. Lo nggak boleh nolak. Gue nggak suka denger orang lain bilang nggak sama gue. Liat aja. Lo bakal tetap lakuin perintah gue, suka atau nggak.
,
Bunyi benda kuning berbentuk kepala salah satu tokoh anime favoritku membangunkan tidurku. Ku lirik benda orange kesayanganku itu dengan malas. Jarum panjang mengarah pada angka enam, sedangkan jarum pendek bertengger di sebelahnya. Aku tersadar. Mataku membulat maksimal. Setengah tujuh??! Ku singkirkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhku, kemudian menyambar handuk dan segera berlari ke kamar mandi. Mati aku.
Tanpa sarapan pagi, aku berlari keluar dari rumah setelah sebelumnya berpamitan kepada mama. Papa pasti sudah ke kantor. Dan Tio mungkin juga sudah ke sekolah.

Kepalaku terus sibuk celingak celinguk kanan kiri. Sejak lima belas menit yang lalu, bus yang ku tunggu tak juga nampak. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku benar-benar sial pagi ini.
            Tiba-tiba sebuah motor besar berhenti di depanku.
****
Ku picingkan mataku menatap sosok tak jauh di depanku. Kepalanya terus saja menengok kiri kanan tanda tak sabar. Seperti sedang menunggu sesuatu. Kakinya sesekali dihentak-hentakkan. Ku tajamkan penglihatanku yang memang agak sedikit silau karena sinar matahari. Aku mengenali sosok itu. Sosok mungil yang menjadi korbanku minggu lalu. Sebuah ide melintas di dalam tempurung kepalaku. Ku hentikan motor kebanggaanku tepat di depannya.

Rabu, 22 Januari 2014

,
Akhirnya Bina sampai juga di komplek tempat tinggalnya. Lega sekali rasanya. Bukannya apa-apa. Ia memang mengenal Bimo karena Bimo adalah salah satu seniornya di kampus, walaupun tidak dekat. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tetap khawatir berada satu mobil dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya, pun bersama orang yang ia tahu tapi tidak dikenalnya dengan baik. Entah apa yang akan Bian katakana padanya jika ia mengetahuinya.

Eh? Tunggu dulu! Tiba-tiba jadi ingat Bian. Ia belum menghubunginya sama sekali sejak siang tadi dan kini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit. Astaga! Bagaimana bisa ia pergi selama itu dengan laki-laki lain yang tidak dikenalnya sama sekali?

Dengan cepat dikeluarkannya ponselnya yang sejak tadi tersimpan di dalam tasnya. Dengan wajah menyesal Bina harus rela menerima bahwa ponselnya kehabisan baterai. Bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai Bian mencarinya.

Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Bina. Sekilas dilihatnya Bara sempat melirik ke arah rumahnya. Mungkin heran melihat rumah sederhana seperti rumahnya. Maklum, orang kaya memang selalu seperti itu. Terkesan ‘udik’ melihat tempat-tempat yang menurut mereka tidak masuk dalam kategori elit.

            Bergegas Bina turun dari mobil Bara tanpa lupa mengucapkan terima kasih yang dibalas dengan anggukan oleh Bara dan Bimo serta kalimat “sampai ketemu lagi” dari Bara sambil tersenyum ramah. Lagi-lagi Bina hanya tersenyum kikuk menanggapi. Entah sudah yang ke berapa kalinya. Yang pasti ia sama sekali tidak berharap akan bertemu lagi dengan Bara. Kecuali Bimo, ia tidak bisa apa-apa karena pada beberapa mata kuliah Bimo memang masuk di kelasnya.

Selasa, 21 Januari 2014

,
Bina benar-benar kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan CEO muda ini. Apalagi dengan scenario cerita seperti ini. Ia yang tak sengaja hampir menabrak sang CEO, ia yang seolah ingin minta tumpangan dan ia yang membentak dan menunjuk-nunjuk Fay Bara Putra. Bara yang memang awalnya sudah berencana untuk mendekati gadis ini dengan alasan yang sama sekali tak masuk akal: tidak suka melihat dua orang terlalu berbahagia karena cnta, diam-diam bersiul dalam hati. Takdir benar-benar berpihak padanya sekarang. Dewi Fortunanya dengan suka rela membimbing gadis ini ke hadapannya. Menarik. Begitu pikirnya.

Namun kesenangannya itu hanya sesaat. Tanpa sengaja ia menangkap sosok yang sejak tadi dihindarinya. Nindy. Ia sengaja meminta Bimo untuk mengangkat panggilan telepon dari Nindy pagi tadi. Dengan cepat ia menarik pergelangan tangan Bina dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah sukses mendudukkan Bina di jok penumpang dengan keadaan setengah sadar, dengan cepat pula Bara memutari mobil dan masuk ke jok pengemudi dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas normal. Dari kaca spion dapat dilihatnya Nindy berlari keluar dari kantor dan berusaha menyusulnya namun sia-sia. Sama sekali lupa mengecek keadaan gadis di sampingnya atau tidak. Masih hidup atau sudah tidak bernyawa karena serangan jantung tiba-tiba.

Begitu mobil agak jauh dari kantor, barulah ia sadar bahwa ia baru saja menarik paksa anak orang untuk mengikutinya yang entah karena alasan apa. Dengan segera dihentikannya laju mobil dan menatap ke samping kirinya dimana gadis itu duduk sambil terus menatap ke depan seperti patung. Pucat pasi. Itulah yang ditangkapnya saat melihat wajah gadis itu.