[Review] After Office Hours - Kisah-kisah Mencekam Selepas Jam Kerja

Minggu, Oktober 23, 2016

Judul Buku: After Office Hours
Penulis: Jia Effendie dkk
Penerbit: Penerbit Kaifa, PT. Mizan Pustaka
Tahun Terbit: 2016
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: I. D. Suta
Desain Sampul dan Ilustrasi Isi: Agung Wuldana
Tebal Buku: 164 hlmn; 20,5 cm
Kategori Buku: Kumpulan Cerita Pendek
ISBN: 978-602-0851-50-1

BLURB

Aku mendengar bisik-bisik dari ruang keuangan. Tidak jelas mereka membicarakan apa. Lega karena ternyata masih ada karyawan yang bekerja di lantai ini, aku bermaksud menyapa. Namun, pintu ruangan terkunci.

Tunggu... itu nyanyian. Dan ketika kuintip ke dalam dari balik jendela kaca, seseorang sedang menari di atas salah satu meja. Memunggungiku. Perempuan dengan tangan bergerak lentik seperti penari Bali. Sesekali dia melompat ke setiap meja sambil mendecakkan, "Cah ... cah ... cah ...." Lalu kepalanya meliuk-liuk cantik, dan rambut panjangnya berayun. Beberapa saat kemudian,
dia menoleh ....

REVIEW

Bayangkan hari ini adalah salah satu hari tersibuk dalam hidupmu, pekerjaan menumpuk dan deadline semakin dekat. Jika pekerjaanmu tidak selesai tepat waktu, kamu harus siap-siapa dimarahi, diomeli bahkan dimaki atau siap dengan pemotongan gaji dan hal-hal yang tentu akan sangat menjengkelkan dan merepotkan lainnya. Kamu nggak ada pilihan selain menambah waktu kerjamu lebih dari biasanya, membiarkan matamu mirip mata cicak - melotot karena terlalu lama berhadapan dengan tumpukan dokumen dan layar peekrjaan.

Kamu bisa memilih membawa dokumen itu pulang atau mengerjakannya di kantor sampai malam. Tapi, banyaknya pekerjaan membuatmu malas untuk direpotkan di perjalanan pulang. Akhinrya kamu bekerja hingga kantor sepi, teman-temanmu sudah pulang dan yang tersisa tinggal kamu sendiri. Apa yang kamu rasakan? Ketenangan yang mendamaikan atau justru mencekam? Adakah perasaan sedang diawasi seseorang dari kejauhan, atau... ditemani?

Ngeri adalah perasaan pertama yang saya dapatkan ketika membaca blurb dari buku ini. Imajinasi saya terkait hal-hal gaib dan kisah-kisah horror secara otomatis menyalakan radarnya dan membuat saya waspada. Apalagi saya membaca buku ini saat masih tinggal di kosan yang sangat sulit dibedakan dengan rumah tinggal yang dihuni banyak perempuan dengan berbagai macam model dan kemerduan teriakannya dengan kuburan yang sepi dan kesunyiannya adalah teriakan paling meakutkan.

Kalau baca siang sih nggak akan ngefek banget, tapi coba kalau bacanya malam. Berani nggak lanjut mulai baca bab I-nya? Saya sih berani soalnya kemarin ada teman saya juga di kamar jadi nggak serem-serem amat haha

After Office Hours adalah buku kumpulan cerpen karya penulis dan beberapa editor, berisi kisah-kisah horror yang terjadi selepas jam kerja - umumnya di kantor saat lembur atau ada pekerjaan tambahan yang menuntut untuk diselesaikan. Dari judulnya saya sudah bisa menebak bahwa pasti akan banyak hal-hal yang bersinggungan dengan penampakan di dalamnya. Membayangkan itu terjadi secara nyata membuat saya merinding (karena saya memang sudah pernah mengalaminya di kantor pula dan jantung rasanya mau copot sesudahnya).

Buku ini berisi lima judul cerpen berbeda yang ditulis oleh penulis berbeda pula namun dengan tokoh utama sama: hantu!!

Cerpen pertama adalah karya Jia Effendie berjudul Bilur. Menceritakan tentang Bintang, salah satu editor penerbitan yang sejak beberapa lama selalu dihantui atau diikuti oleh bayangan ehm... mantan laki-laki yang sudah pernah dikenalnya sebelumnya. Yang membuat saya ngeri sebenarnya bukan penggambaran atau pendeskripisan tentang kondisi bayangan laki-laki itu, tetapi TKP (Tempat Kejadian Penampakan) itu terjadi; Kamar Mandi!!

Siapa sih yang nggak kenal dengan reputasi kamar mandi/toilet sebagai The most scared place in the world? Ehm... itu istilah saya sendiri sih tapi emang bener, kan kalo orang-orang sebagian besar ngeri sama kamar mandi apalagi kalau sudah tengah malam? Apalagi kalau kamar mandi itu adalah kamar mandi kantor yang terletak di ujung, yang membuat kita harus melangkahkan kaki lebih lama untuk sampai kesana dengan keadaan sekeliling yang sudah sepi dan gelap? Tentu pasti sebagian besar orang akan meminta ditemani da ditunggui. Bagaimana kalau nggak ada yang bisa menunggui?

Itulah yang dialami Bintang. Ketemu hantu di toilet kantor! Saat ia lembur! Di awal cerita saya memang sudah sempat curiga pada Bintang dan memar biru pada pergelangan tangannya. Otak saya secara otomatis mengarah pada KDRT atau hal-hal sejenis dikasari atau dianiaya. Tapi saya masih belum bisa menduga apa hubungannya tangannya yang membiru itu dengan keberadaan si hantu. Tentu saja seperti membaca cerita detektif, membaca kisah horror hal-hal kecil perlu diperhatikan karena bisa jadi itu adalah kunci segala misteri yang terjadi.

Cerpen ini diceritakan denga alur maju mundur; masa sekarang dan masa lalu Bintang yang pada akhirnya mengarah pada petunjuk kenapa pergelangan gadis itu membiru dan apa yang terjadi dengan perubahan sikapnya yang terjadi secara tiba-tiba. Cerita ini mengajak kita untuk sedikit berpikir dan menebak-nebak. Kisah ini mendatangkan makna dan definisi baru tentang hantu bagi saya, bahwa ia bisa berada di mana saja dan berasal dari mana saja, bahkan dari diri kita sendiri.

Cerpen kedua berjudul Kubikel Berdarah karya Guntur Alam. Judulnya aja udah bikin merinding disko gimana gitu. Yang menjadi petunjuk pertama saat baca judulnya adalah pasti ini tentang kubikel yang memakan korban atau kubikel yang ditinggal mati pemiliknya. Ternyata memang benar! Seperti pada cerpen pertama saya juga menaruh kecurigaan terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam cerita ini, kali ini bukan pada memar kebiruan tetapi pada keberadaan laki-laki bernama Mario yang sikapnya seolah menyembunyikan sesuatu sejak Lily menceritakan perihal gosip atau kabar beredar soal pemilik kubikelnya yang disampaiakan oleh Maurin.

Akan tetapi, kenyataan bahwa meski anak baru Lily sudah bersahabat lama dengan Mario dan Maurin seketika menepis pemikiran itu, meski di lembar berikutnya gerak-gerik Mario jadi lebih sering mencurigakan. Saya rasa saya menebak dengan benar meski hanya 70% what was really going on about Maya and the rumor. Cerita ini memberikan saya pelajaran untuk bisa lebih hati-hati dan waspada terhadap lingkungan baru atau berita baru pada lingkungan tersebut yang kebenarannya bisa saja membahayakan diri kita sendiri.

Cerpen ketiga berjudul Di Balik Kaca Etalase karya Eve Shi. Kalau dengar kata kaca etalase yang langsung teringat adalah toko dan barang-barang yang di pajang di balik etalasenya. Sepatu lcu, pernak-pernik dan aksesoris, perhiasan dan boneka adalah barang-barang yang sering kita temui. 

Boneka adalah benda lucu bagi siapa saja apalagi peremuan terutama anak kecil. Bahkan boneka Upin Ipin yang kalau malam lebih kelihatan kayak Tuyul nyengir pun banyak menjadi teman tidur anak-anak berusia 2-5 tahun. tapi, bagaimana kalau boneka-boneka tersebut menyerupai manusia dan terlihat nyata mulai dari pakaian sampai kulitnya? Masih kelihatan lucu, nggak?

Di Balik Kaca Etalase meceritakan tentang Tiara, gadis kecil yang sangat suka memandangi bonek-boneka berwajah mirip manusia yang dipajang di salah satu toko boneka yang dilewatinya saat pulang sekolah. Pemilik toko yang melihatnya sering mampir ternyata tidak marah justru ramah dan terkadang mengajak Tiara mampir sekedar untuk makan kue. Meski baik, tetap saja buat kita yang sudah paham dan melihat banyak kejadian kejahatan secara langsung maupun lewat berita di TV dan surat kabar pasti akan langsung melangkah mundur menerima tawaran kebaikan yang amat berlebihan itu. Tapi Tiara yang masih bocah tidak melihat tanda-tanda ancaman. Gadis itu dengan riang selalu mampir dan membagi banyak cerita pada si pemilik toko.

Cerita ini mungkin yang paling mencekam di antara semua cerita yang ada. Hantu nggak akan bisa membunuh manusia, ketakutanlah yang membunuh. Tapi bagaimana jika hantu itu bisa menakuti dan membunuh di saat bersamaan? Cerpen ini tergolong unik bagi saya merupakan gabungan dari masalah psikologis dan hantu sesungguhnya. Agak bingung pada endingnya karena nggak bisa menemukan titik terang apa sebenarnya jenis hantu yang ada dalam cerpen ini. Manusia psikopat atau hantu yang berubah jadi psycho? Yang jelas cerita ini membangkitkan kengerian saya setaraf dengan rasa mual yang saya rasakan kala membayangkan apa yang sebenarnya dilakukan si pemilik toko.

Gadis Kecil adalah cerpen keempat dari buku ini. Merupakan karya Moemoe Rizal dan juga karya favorit saya. Bercerita tentang Arta yang perusahaannya mengadakan event lomba menulis untuk anak. Sebagai panitia Arta mendapat tugas untuk merekapitulasi data-data cerita yang masuk mulai dari judul hingga para penulisnya. Karena kebanjiran naskah akhirnya Arta harus stay hingga malam di kantor. Dan dari situlah kejadian horror mulai menghantuinya. Dimulai dari ketukan yang entah berasal dari mana dan anak kecil yang tiba-tiba ngikik hihihi di depannya, ketawa setelah itu mengaku sebagai peserta lomba yang ingin menanyakan perihal persyaratan naskah yang harus dikirim. Meski merasa aneh, Arta meladeni gadis itu. Tapi setelahnya ia justru mendapati dirinya melihat banyak makhluk yang tentu saja bukan manusia berkeliaran di kantornya yang gelap dan sepi, bermain bersama anak kecil itu O_O.

Awalnya Arta menganggap itu sebagai angin lalu tapi rupanya kejadian itu terus berulang dan menakutinya setiap malam. Daniel salah satu teman kantor yang oh my so lovable (buat saya :D) dan kalimat Inggris dari bibirnya yang sarat perhatian akhirnya menawarkan bantuan. Yang menjadi pertanyaan adalah memang benar ada beberapa orang yang sering melihat penampakan atau berbicara denga makhluk-makhluk yang nggak seharusnya diajak berbicara itu, tapi apa benar ada orang yang dikintilin hantu kemana-mana karena ingin menjadi temannya. Segala sesuatu dalam fiksi bisa dirancang dan dibuat sesuka hati, tapi tetap saja saya rasa saya butuh referensi untuk hal satu ini.

Dan cerpen kelima berjudul Asa karya salah satu penulis favorit saya, Prisca Primasari. Cerpen paling berbeda kalau menurut saya karena bukan murni horror melainkan horror comedy.  Hal-hal tentang hantu kadang memang bisa jadi bercandaan, lebih keren lagi kalau bisa bercanda dengan hantu dari zaman batu seperti Asa. 

Di kantor, Asa sering lembur dan ia sering ditemani oleh Bogus dan Mevrouw, dua kawan lama dari masa silam yang masih berkeliaran sampai sekarang karena mati penasaran. Nggak begitu menakutkan karena ada humor-humor yang terselip antara percakapan ketiganya. Apalagi sifat Mevrouw yang sangat bangsawan dan tidak mau kalah, hanya saja yang menakutkan disini adalah sesuatu yang kita remehkan kadang keberadaannya tapi ternyata bisa saja mengubah hidup kita selamanya; Firasat.

Hantu dalam cerita ini adalah firasat. Hal nyata namun terasa maya keberadannya. Samar oleh logika dan pemikiran kita bahwa yang tidak memiliki bukti itu diragukan kebenarannya. 

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita-cerita dalam buku ini. Tapi ada satu yang kurang....
Cerpennya kurang banyak!!!! Jadi saya kasih rate 4/5 aja deh hehe













You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh