[Book Review] The Architecture of Love - Menemukan Cinta Lewat Gedung-gedung yang Bercerita

Kamis, Mei 18, 2017

Judul: The Architecture of Love
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Editor: Rosi L. Simamora
Ilustrasi Isi: Ika Natassa
Desain Sampul: Ika Natassa
Tebal: 304 hlmn, 20 cm
ISBN: 978-602-03-2926-0

****
“People say that Paris is the city of love, but for Raia, New York deserves that title more. It’s impossible not to fall in love with the city like it’s almost impossible not to fall in love in the city”

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron’s You’ve Got Mail hingga Martin Scorsese’s Taxi Driver, New York bahkan bukan sekedar setting namun tampil sebagai “karakter” yang menghidupkan cerita.

Ke kota itulah, Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampun menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York “kantor’-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah ia duga.

****

Mungkin bagi beberapa orang bangunan hanyalah seonggok benda mati yang tidak bernyawa. Namun, tak ada yang dapat membantah bahwa dalam perjalanan sejarah, bangunan adalah bentuk dan perwujudan rasa cinta. Taj Mahal di Agra, India adalah suatu contoh bangunan yang memiliki sejarah yang cukup romantis. Bangunan dengan arsitektur Mughal ini adalah sebuah monumen yang dibangun karena keinginan Kaisar Mughal Shah Jahan untuk istri yang dicintainya, Persianya. Dalam buku ini, bangunan-bangunan indah di kota New York dijadikan latar yang membentuk kisah cinta antara dua orang.

Raia, seorang penulis yang mengalami writers block memutuskan untuk berangkat ke New York demi mengejar inspirasi. Masa lalu yang menyakitkan bersama sang suami menyebabkannya tak bisa lagi menulis. Hanya saja, meski sudah beberapa bulan menetap di New York, halaman word di laptop-nya masih tetap saja kosong tanpa satu kata pun.

Demi menghibur Raia, sahabatnya, Erin suatu malam mengajak Raia untuk ikut acara pelepasan tahun di salah satu apartemennya. Awalnya, Raya tak ingin ikut, baginya pesta tahun baru adalah sebuah acara yang membuat orang terjebak ilusi memulai sesuatu kembali dari awal. Padahal, keesokan harinya tidak ada orang yang dapat menjamin sesuatu yang baru bisa terjadi, seperti tiba-tiba rajin ke kantor atau tiba-tiba suatu kebiasaan buruk hilang. Yang justru terjadi adalah, di taggal 1 Januari, menjelang siang bahkan ada yang masih tidur karena pengar atau terlalu mengantuk karena begadang semalaman. Selain itu, budaya random kiss di New York juga tidak disukainya. Karena itulah, menjelang detik-detik pergantian tahun, Raya memutuskan untuk melarikan diri sejenak.

Bukan hanya terhindar dari budaya absurd, Raia justru ‘tersesat’ di suatu ruangan yang mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang kelak dikenalnya sebagai River. Pertemuan mereka biasa saja, tidak istimewa, tidak pula seperti yang terjadi pada beberapa drama dimana dua orang yang bertemu untuk pertama kalinya langsung jatuh cinta. Yang terjadi adalah percakapan nyaris satu arah yang Raia bangun demi mengurangi kecanggungan.
Pertemuan tak terduga keduanya ternyata kembali terjadi. Persis ketika kalimat pertama Raia temukan, di saat itu juga ia mendapati keberadaan River dengan buku sketsanya. Belakangan Raia ketahui River adalah seorang arsitek.

“People say that Paris is the city of love, but for me, New York deserves the title more. It’s impossible not to fall in love with the city like it’s almost impossible not to fall in love in the city.”

Itulah kalimat pertama yang Raia goreskan. Tak hanya mengawali cerita di buku terbarunya, kalimat tersebut ternyata juga menjadi awal bagi kisah cinta keduanya. Bertahun menjalani hidup dalam rutinitas pelarian, River akhirnya kembali menemukan keberanian untuk menempuh jalan pulang, Raia juga kembali menemukan muse-nya yang hilang. Namun ternyata, kisah itu tidak berjalan semulus sketsa-sketsa River. Posisi River yang masih menyimpan nama Andara rapat-rapat di hatinya menjadi penghalang yang rumit. Bagaimana mungkin mencintai dua wanita sekaligus? Begitu pun Raia, pengalaman pahit dicampakkan Alam juga masih terlalu membekas di hatinya. Mereka berdua sama-sama pernah ditinggalkan, sama-sama terlalu kehilangan.

Yang membuat buku ini begitu menarik adalah keberadaan kota New York beserta bangunan dan arsitekturnya, berikut cerita-cerita di baliknya, sekaligus kisah romantis Raia dan River yang kemudian hadir karenanya. Penggambaran setting dan arsitekturnya yang mendetail akan membuat pembaca seolah diajak ikut jalan-jalan dan menghabiskan waktu di kota New York. Sketsa-sketsa yang ada juga semakin memperkuat nuansa jalan-jalannya. Di Flatiron yang pernah mendapat predikat sebagai gedung tertinggi di New York hingga berjalan-jalan di sidewalk dan mengamati brownatones di Brooklyn.

Perjalanan Raia dan River, pertemuan-pertemuan keduanya membuat buku ini terasa lebih ‘hidup’. Ditambah dengan fakta bahwa buku ini lahir oleh interkasi sang penulis – Ika Natassa dengan pembacanya. Memanfaatkan fitur poll di twitter, Ika mengajak pembaca untuk ikut terlibat dalam pembuatan novel ini, dengan dapat serta menentukan alur cerita sesuai keinginan. Buku ini adalah bukti cinta, seperti Taj Mahal, The Architecture of Love adalah bukti cinta Ika Natassa pada pembacanya begitu pun sebaliknya.

Ketika menulis, beberapa penulis terkadang menyelipkan cameo tenang dirinya. Buat saya pribadi, penggambaran Raia sebagai seorang penulis yang buku-bukunya selalu dinantikan, yang ludes dalam waktu singkat bahkan saat PO (Pre-Order) sangat Ika Natassa sekali.

Walau pada beberapa bagian eksekusinya terasa kurang ‘nendang’, feel kehilangan yang dialami River terhadap Andara juga agak kurang, buku ini memiliki pesan yang sangat jelas; bahwa hidup adalah hal yang terlalu berharga untuk kita sia-siakan hanya karena masa lalu.

“You know what is wrong about always searching for answers about something that happened in your past? It keeps you from looking forward. It distracts you from what’s in front of you.“

Buku ini juga tampil sebagai nasihat dengan banyaknya kutipan menarik terkait hidup, cinta, patah hati, masa lalu, masa depan, juga kutipan tentang menulis yang amat menarik dan hampir selalu muncul di setiap lembarannya. Entah kutipan tersebut berasal dari orang-orang besar yang amat terkenal atau dari penulis buku ini sendiri. Secara garis besar, kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan The Architecture of Love adalah kita juga akan jatuh dan menemukan cinta.

You Might Also Like

2 komentar

  1. aku belum selesai baca mba hahahha baru sampe River n Raia janjian jalan pertama kali eaaa masi lama euy perjalananku 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah semangat mbaaa baca sampai tuntas 😊

      Hapus

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh