[Ebook Review] Saman By Ayu Utami

Rabu, Mei 10, 2017

Judul: Saman
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Gambar Sampul: Lukisan kaca oleh Ayu Utami
Tataletak Sampul dan Isi: Wendie Artswenda
Cetakan Ke-1: April 1998
Catakan Ke-31: Mei 2013
Tebal Buku: x + 205; 13,5 cm x 20 cm
ISBN: 978-979-91-0570-7
Rating: 3/5

Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si “jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri.

Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa rezim militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?

Sejak terbit bersamaan dengan Reformasi, Saman tetap diminati dan telah diterjemahkan ke delapan bahasa asin. Novel ini mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri karena mendobrak tabu dan memperluas cakrawala sastra. Karya klasik yang wajib dibaca.

****
Bercerita tentang Laila yang jatuh cinta pada salah satu pekerja rig bernama Sihar. Hubungan romansa keduanya diawali oleh ledakan yang terjadi di lokasi kerja, diakibatkan sesosok pria bernama Rosano. Ledakan yang menewaskan sahabat sekaligus mitra kerja Sihar itu membuat Laila yang kala itu hadir sebagai pers mengusahakan bantuan untuk Sihar. Ketidakadilan dalam penanganan kasus ini membuat mereka akhirnya bekerja sama (dalam balutan cinta juga), untuk memperjuangkan hak-hak yang mestinya dipertanggungjawabkan perusahaan dengan adil.

Hal itu kemudian menggiring mereka pada pertemuan dengan Saman, salah satu laki-laki pujaan hati Laila zaman SMP yang saat itu benar-benar sudah berubah dari yang terakhir Laila temui. Saman adalah seorang pastor dengan nama Wisanggeni yang oleh kekejaman rezim memutuskan menjadi aktivis dan meninggalkan kewajibannya sebagai pastor di dalam gereja. Masa lalu yang amat berat dan kejam membuat lulusan pertanian yang memutuskan menjadi pastor tapi lalu membantu para buruh karet itu mengubah cara pandangnya.

Sebenarnya agak bingung gimana cara nulis review-nya karena hingga pertengahan bab, segala hal yang saya dapatkan adalah ketidakmengertian. Saya selalu bertanya-tanya apa hubungan kisah cinta Laila pada suami orang dengan hidup salah satu pastor yang telah banyak mengalami hal gaib dalam hidupnya. Untunglah, kemudian saya memperoleh pemahaman yang pasti tentang kisah seperti apa yang sebenarnya dituturkan.

Sebelum membahas lebih jauh, saya akan sedikit membahas tentang genre novel ini. Novel yang terbit menjelang reformasi ini bergenre “sastra wangi”. Jadi, secara bahasa memang menggunakan kalimat yang vulgar dan berani. Kisah yang didalam juga sedikit banyak membuat saya paham bahwa buku ini beraliran feminis. Jadi, buku ini memiliki beberapa adegan dewasa yang dijabarkan dengan bahasa sastra. Kalau yang hanya baca selewat mungkin akan bertanya-tanya apa maksud kalimatnya. Bahasanya vulgar tapi diksinya indah. Selain itu, novel dengan genre sastra wangi ini memang membahas hal yang tabu terkait sexualitas.

Kalau dari sisi kisah dan pengalaman hidup tokoh-tokohnya, cerita Saman ini inspiratif. Bagaimana kisah Wisanggeni yang seorang pastor tidak keberatan mengaplikasikan ilmu pertanian yang ia pelajari di Lubukrantau. Bagaimana sosok ini mampu dan berani melawan rezim, juga berusaha membangkitkan kembali dusun yang hampir sudah tak punya nyawa untuk bernapas lagi. Pun kisah Laila yang berjuang keras bersama Sihar untuk menegakkan keadilan.

Agak kurang sreg dengan ending-nya, serasa tidak ada yang saya petik selain pengalaman positif dan pemikiran serta beberapa pemahaman akademisi yang dipaparkan Saman dalam buku hariannya. Walau begitu, ada satu pelajaran yang bisa saya petik yakni betapa kekejaman dan rezim yang terlalu over power bisa mengubah banyak hal. Tak hanya tatanan negara serta sistem hukum dan peradilan tapi juga pribadi dan cara pandang seseorang.

Oh iya ada satu hal yang mengganjal yakni kisah Ibu Wisanggeni yang anaknya meninggal berutut-turut. Saya jadi kayak baca novel horror atau hal-hal yang berbau jin. Nggak tahu juga sih apa memang demikian atau karena isi kepala saya yang kurang bisa memahami apa maksud yang sebenarnya.

Buku ini adalah buku pertama jadi saya rasa saya mesti baca Larung juga, siapa tahu pemahaman saya bisa diperbarui. Seperti menilai sesuatu yang jangan hanya dari satu sisi saja, karena buku ini masih ada kelanjutannya, jadi akan lebih bagus kalau memang dibaca dua-duanya. Dan juga, karena ini novel roman, saya pengin nyari tahu kelanjutan kisah empat sekawan Laila, Yasmin, Shakuntala dan Cok berikut kisah cintanya. Jujur aja, bagian Tala sedikit banyak mengusik rasa penasaran saya. Bagian favorit saya dalam buku ini adalah tentang Tala yang bertentangan dengan Bapaknya. Tapi, kalau memang dalam Larung tidak akan ada mereka lagi (jujur belum baca sinopsis atau resensinya), yah mungkin saya hanya perlu mengambil kesimpulan bahwa beberapa kisah cinta memang tidak memiliki ending, sekalipun itu terlarang.

Ada beberapa kutipan menarik yang saya ambil dari buku ini:
  1. Manusia berasal dari kosong dan kembali kepada kosong – hlmn 49
  2. Dan jin macam apakah yang kali ini menghuni botol jantungmu? – Shakuntala, hlmn 130
  3. Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong – hlmn 131
  4. Aku tak suka Sihar. Tapi temanku suka padanya. “Lupakan dia, Laila.” Tapi dia tidak mau melupakannya. Ya sudah. – Shakuntala, hlmn 136
  5. It is better to light the candle than just to curse the darkness – hlmn 183

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh