Catatan harian yang semakin renta dan tua

Minggu, 21 Mei 2017

[Book Review] Hujan - Ketika 'Kiamat' adalah Ulah Tangan Manusia By Tere Liye

Judul Buku: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Januari 2016
Cover: Orkha Creative
Tebal: 320 hlmn; 20 cm
ISBN: 978-602-03-2478-4
Rating: 4/5

Tentang Persahabatan
Tentang Cinta
Tentang Melupakan
Tentang Perpisahan
Tentang Hujan

Pada tahun 2042, dimana teknologi telah semakin maju, kehidupan serba mudah, banyak negara tertata indah, dan umat manusia semakin bertumbuh, terjadi sebuah bencana tak terduga. Bencana yang tak pernah diprediksi sebelumnya itu terjadi tepat di hari yang sama dengan kelahiran orang ke 10 milyar di bumi. Bagi beberapa orang, kelahiran tersebut adalah hal yang biasa. Bagi sebagian lainnya, hal itu perlu dirayakan hingga harus disiarkan di media berita mana saja. Bagi seorang profesor terkenal, kelahiran tersebut adalah bencana.

Kepadatan penduduk dan jumlah manusia yang semakin bertambah sejatinya adalah cara yang manjur untuk memulai kepunahan. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk bumi, secara otomatis, bumi pun harus bekerja ekstra untuk menyediakan sumber daya bagi manusia-manusia yang ada. Mulai dari tempat tinggal hingga makanan. Bumi punya kapasitas dan daya tampung yang tidak akan mampu memenuhi kebutuhan umat manusia yang terus berkembang biak setiap harinya.

“Kamu tahu, empat puluh dua tahun lalu, saat milenium baru, penduduk bumi hanya enam miliar. Sekarang? Tahun 2042? Sepuluh miliar. Kita hanya butuh empat puluh dua tahun saja. Itu gila. Catat dengan baik, dua ratus tahun lalu, bahkan penduduk bumi belum menyentuh dua ratus juta orang. Kita terus berkembang biak – yeah dengan segala respek atas umat manusia, harus diakui kita terlalu cepat berkembang biak, membuat bumi sesak – hlmn 12”

Ini adalah komentar salah satu profesor yang menjadi narasumber dalam sebuah acara talk show pagi yang membahas tentang kelahiran bayi kesepuluh. Di pagi yang sama, Lail – seorang gadis berusia tiga belas tahun sedang dalam perjalanan ke sekolah diantar ibunya. Menggunakan kereta listrik tercanggih abad itu, Lail berangkat dalam ketergesaan, takut terlambat.

Di dalam kereta api, layar-layar yang menampilkan ucapan selamat atas kelahiran manusia ke sepuluh milyar pun ada. Tak ketinggalan juga talk show pagi yang membahas masalah ini. Lail, yang masih mudah dan polos, hanya mengikuti acara tersebut tanpa minat, ia lebih khawatir pada sekolah barunya.

“Umat manusia sejatinya sama seperti virus. Mereka berkembang biak menyedot sumber daya hingga habis, kemudian tidak ada lagi yang tersisa. Mereka rakus sekali. Maka seperti virus, hanya obat paling keras yang bisa menghentikannya – hlmn 16”

Percakapan masih terus berlanjut, hingga pada pertanyaan tentang bagaimana cara mengatasi, obat apa yang akan digunakan untuk menekan jumlah manusia yang mewabah seperti virus. Dan tepat setelah jawaban dilontarkan sang profesor, di saat itu pula sesuatu yang mengerikan terjadi. Obat yang dimaksud itu datang, seperti doa yang diijabah Tuhan.

Bencana alam terjadi! Letusan gunung dengan skala 8 VEI menimpa bumi, memorakmorandakan segala hal yang dilalui, termasuk kesibukan orang berangkat kerja pagi dan kekhawatiran Lail akan sekolah barunya.

Gempa dengan kekuatan yang setara dengan ledakan gunung Krakatau tersebut membuat Lail kehilangan kedua orangtuanya di hari yang sama. Namun, di hari yang sama itu pula, ia oleh takdir dipertemukan dengan Esok – anak laki-laki yang selamat dari bencana gempa, sepertinya dan kelak menjadi orang yang teramat penting baginya.

****
Membaca novel ini membuat saya teringat akan karya Dan Brown yang berjudul Inferno. Buku tersebut juga mengangkat isu kepadatan penduduk dan populasi manusia yang semakin mewabah seperti virus. Hanya saja, yang menjadi pembeda adalah, obat dalam novel hujan ini datang lewat bencana alam, sementara dalam karya Dan Brown lebih pada sesuatu yang diusahakan seorang individu terkenal, akademisi yang disegani, dengan jalan menebarkan virus untuk menekan pertumbuhan manusia lewat suatu negara yang dikenal sebagai tempat bertemunya semua orang dari berbagai belahan dunia.

Perbedaan yang kedua, jika dalam karya Brown saya merasakan tegang luar biasa, dalam buku ini saya justru baper luar biasa. Pokoknya, baca novel ini saya entah harus berapa kali menyurut air mata dan menyedot ingus. Mewek pemirsah :D, dan untuk hal ini saya sangat mengapresiasi Tere Liye karena sekali lagi telah berhasil membuat saya jatuh dan ikut merasakan kepedihan yang dialami tokoh-tokoh dalam buku ini. Terdengar lebay, tapi bagi siapapun yang mempercayai keberadaan Tuhan dan kemampuannya membolak-balikkan bumi seperti memboolak-balikkan tangan, maka tak ada kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan novel ini selain kita akan diajak untuk membayangkan kiamat, membayangkan kepunahan.

Sisi emosional saya sebagai manusia benar-benar tersentuh, apalagi dahsyatnya bencana benar-benar saya bayangkan bahwa suatu saat yang entah kapan, bumi memang akan berakhir jika masanya telah tiba. Tapi, buku ini sama sekali bukan buku yang memprediksikan bentuk dan kedahsyatan hari kiamat. Buku ini adalah bentuk peringatan atau teguran dari sang penulis terhadap sifat-sifat buruk manusia yang sudah mengakar dan mendarah daging sejak dulu hingga kini.

Setting dalam buku ini menggunakan waktu masa depan, waktu yang tak terprediksikan dengan kondisi zaman yang sudah semakin canggih, dengan penggunaan teknologi yang sudah sangat mutakhir. Jam tangan yang tertanam seperti chip di pergelangan, mobil terbang, hingga pesawat raksasa yang dapat memugkinkan manusia hidup di atas lapisan stratosfer bumi. Seperti khayalan, tapi bagi saya tidak ada yang bisa memprediksi lajunya perkembangan IPTEK. Buktinya, sekarang saja jenis ponsel dengan merk yang sama selalu ada update terbaru tiap tahunnya dengan spesifikasi yang semakin meningkat dan mumpuni. Bukan mustahil bahwa ‘teknologi yang diciptakan Tere Liye’ ini benar-benar akan hadir beberapa puluh tahun ke depannya nanti.

Untuk karakter, tentu saja awalnya saya mengidolakan Esok. Sosok anak muda yang kuat, bijak dan tidak mudah putus asa. Tapi ketika memasuki pertengahan cerita, saya justru mengagumi Maryam, sahabat Lail yang selalu ceria dan merekah. Semangat dan optimisme Maryam patut diacungi jempol, patut diconntoh. Begitu pun dengan Lail, ia adalah gadis yang tegar dengan segala kesulitan yang telah ia lewati. Walau dalam urusan cinta, Lail sangatlah awam dan belum profesional. Jujur saja, sikap Lail yang terlalu pembimbang dan penakut sebagai perempuan di pertengahan sempat membuat saya bosan. Petualangan Lail dan Maryam sebenarnya amatlah seru dan menyenangkan, juga menegangkan dan membuat kita termotivasi untuk melakukan hal yang sama, bahkan sedikit malu karena hingga usia yang sudah mencapai lebih dari dua puluh tahun seolah belum ada kontribusi nyata dan terlihat yang dapat kita lakukan untuk negeri, khususnya masyarakat. Tapi sikap Lail itu bikin saya jengkel. Lail digambarkan sebagai perempuan yang selalu suka menduga dan tidak mau bertanya untuk mendapatkan kejelasan yang sebenarnya. Itu adalah sifat saya yang sebenarnya sulit diubah, melihat Lail seolah saya disadarkan secara tak langsung dengan kalimat sebegini menyebalkanlah elo dulu :D. Yah walau harus diakui kisah cinta Lail dan Esok tergolong unik dan sangat manis. Kuitipan-kutipan cinta yang datang dari Maryam juga sangat bikin baper.

Menjelang ending, sekali lagi Tere Liye berhasil membuat saya penasaran, sekaligus deg-degan dengan apa yang akan terjadi sebelumnya. Bahkan, saya sempat menunda beberapa jam untuk membaca lembar-lembar bab terakhir. Bukan apa-apa, takut saja bahwa penutup ceritanya akan ikutan membuat saya merana seperti tokoh utamanya, tapi ternyata tidak begitu nendang setelah benar-benar saya baca. Tapi, senggak nendangnya ending dalam buku ini, akhir kisahnya masuk akal.

Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi siapa saja sebagai bentuk ‘pengingat dan nasihat’. Dari sini, kita akan disuguhkan fakta tentang keserakahan manusia yang pada akhirnya akan membuat kita punah ketika alam sudah berbicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar