Catatan harian yang semakin renta dan tua

Selasa, 21 Juni 2016

[CERITA MINI] SORE TERBAIK

“Senja selalu indah. Aku suka warna dan kehangatannya,” dalam remang cahaya purnama, aku berbisik di telingamu. Meski bukan pengangumnya, kau mengangguk setuju. 

“Suatu saat nanti, maukah kau menikmatinya bersamaku?” Di sela-sela kecupan bibir kita, aku bertanya.

“Tentu saja aku mau.” Jawabmu. “Kupastikan, itu akan menjadi sore terbaik yang pernah kau alami.”

****

Matahari nyaris menenggelamkan wajahnya. Kau, berbalut merah muda, berjalan dengan binar bahagia, tersenyum merekah bagai bunga, ke arahku. Kubalas senyumanmu tanpa enggan. Rasanya seperti sudah lama sekali kita tak bertemu. Jantungku pun berdebar-debar seolah ini kali pertama kita bertatap muka dan saling jatuh cinta.

Langkahmu kian dekat. Dua langkah lagi jarak, tubuhmu bisa kudekap. Aku sudah tak sabar. Rindu yang kusimpan sudah menumpuk dan menggunung. 

“Selamat datang, sayang. Aku rindu,” kau berujar mesra.

Lelaki yang kau sambut dengan mesra itu, yang mengenakan dasi meski bukan kupu-kupu, menyambut wajahmu dengan rengkuhan tangannya, mengecup ujung hidung dan bibirmu kemudian membalas “Aku juga merindukanmu, istirku.”

Setelahnya, kalian berlalu seraya berpesan “Jangan lupa parkir mobilnya, Mus.”

****

Sore itu, langit begitu merah. Senja membungkusnya dengan begitu bergairah. Jeritan terdengar di mana-mana. Sementara Mus, memandang hampa pada api yang kini melahap dan memanggang tubuh kekasihnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar