[Review] Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya

Rabu, Juni 22, 2016


Selamat menjalankan Ibadah puasa teman-teman semua. Review kali ini akan menjadi review yang belum tidak biasanya. Jika sebelumnya saya telah mencoba untuk membuat resensi beberapa novel, kali ini saya akan memaparkan salah satu buku terbitan Divapress kategori Anologi Cerita Pendek atau kumpulan cerita-cerita pendek pilihan.
Judul Buku: Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya
Penulis: Lugina W.G. dkk
Penerbit: Divapress
Tahun Terbit: 2016
Penyunting: Addin, Muhajjah, Misni
Peyelaras Akhir: RN
Ilustrator: Ferdika
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Violetta
Pracetak: Antini, Dwi, Wardi
Tebal Buku: 256 hlmn; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-391-147-9



Celia tak pernah mengerti, mengapa Puffin tak bisa berhati-hati.
Ia menyenggol perabotan ke mana pun ia pergi; gelas beradu menyentuh lantai.... Prang!
Seingat Celia, dulu Puffin tak pernah bertingkah nakal.
Ia manis dan begitu lembut.

Namun, Celia kini terpaksa memarahi Puffin. Celia benci melihat pecahan gelas berhamburan. Ia sungguh benci terbangun di malam hari karena bunyi gelas-gelas bertumbukan.
Bermalam-malam ia dihantui mimpi pecahan kaca yang mengejarnya seperti gerombolan lebah.
Menyengat dan menancap di kepalanya seperti mahkota.
Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya
(Lugina W.G)

Berisi cerita-cerita pendek pilihan dari para alumni yang diberi tajuk #KampusFiksiEmas2016 dalam rangka ulang tahun yang ketiga Kampus Fiksi pada tanggal 26 April 2016, mengusung tema tentang musik, film dan parfum, Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya menghadirkan musik yang merdu, film yang menegangkan dan parfum yang sejenak memabukkan. Sebelum kita masuk pada isi buku, terlebih dulu kita simak apa itu Kampus Fiksi.

"Kampus Fiksi adalah pelatihan menulis fiksi (novel) yang diadakan sebulan sekali (2 hari) per angkatan di Yogyakarta. Seluruh peserta terpilih hanya perlu datang ke Jogja untuk pelatihan, semua biaya akomodasi (sudah termasuk jalan-jalan) kecuali tiket pesawat akan ditanggung oleh pihak penerbit dalam hal ini Divapress. Selain itu, peserta akan mendapatkan bingkisan, sertifikat dan prioritas penerbitan."


Keren, kan? Minat? Sama saya juga mauuuuuuu..... :'). Okay, kembali ke laptop.
Terdapat tiga belas cerita pendek pilihan dalam buku ini dan berhasil mencengangkan saya ketika membacanya. 

Wajah-wajah dalam Kaset Pita (Gin Teguh)
Tentang pengidap Prosophenosia atau Prosopagnosia yang menggunakan musik sebagai pengingat wajah-wajah orang-orang yang dicintainya. Adalah kisah hidup yang pahit namun dengan kisah cinta yang manis. Cerita ini mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga dan mengasihi orang-orang terdekat, keluarga apa pun kondisinya, bagaimana pun 'berbedanya' mereka dengan kita. Akan tetapi, saya kurang bisa menikmati ceritanya dikarenakan terdapat halaman kosong (cacat buku) pada halaman tiga puluh empat.

Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan (Amaliah Black)
Mengandung pesan moral tentang bagaimana musik seharusnya digunakan, dinikmati serta bahwa batas antara laki-laki dan perempuan teramat jelas. Ditutup dengan ending yang berhasil membuat saya menjerit saking kagetnya. Cerita ini juga mengandung pesan bahwa Ibu - sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, terlebih bagi anak perempuan haruslah menjadi contoh yang baik dalam bersikap, bertutur dan berperilaku.

Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan (Evi Sri Rezeki)
Bercerita tentang lelaki beraroma kayu gaharu yang mati-matian mencintai wanita beraroma mawar. Cintanya dibalas namun dilandasi kebohongan dan ambisi yang besar, serta pemanfaatan kualitas diri belaka. Cerpen yang berhasil membuat saya merinding.

Black Butterfly (Sugianto)
Bercerita tentang Danur yang begitu mengidolakan Charlotte Odengard, penyanyi dari negeri seberang. Ayah Danur yang tergabung dalam organisasi keagamaan menentang hal itu karena beranggapan bahwa musik yang disajikan oleh Odengard berpotensi besar membawa kita pada kesesatan. Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah bahwa musik tak selamanya hanya berjalan pada koridor menghibur atau pembawa pesan kebaikan dengan instrumen akan tetapi ia juga bisa menjerumuskan kita pada hal-hal yang tidak baik.

Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya (Lugina W.G.)
Cerpen utama dalam buku ini dan juga merupaka favorit saya. Tentang Celia, gadis kecil yang belum mengerti apa-apa, yang karena kebohongan dan kesalahan orang tuanya berubah menjadi gadis yang menyedihkan cenderung penyiksa. Mengandung pesan bahwa sebagai orang tua, tak hanya menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya namun juga harus bisa menjaga mereka baik secara fisik maupun mental.

Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap "Seandainya" di Mulutnya (Eva Sri Rahayu)
Bahwa rasa marah yang dipendam dan menimbulkan dendam di dalam hati adalah penyakit yang mematikan.

Le Nozza di Figaro (Sayfullan)
Pertunjukan Opera yang mengingatkan seseorang akan peristiwa menyakitkan dan mengecewakan yang pernah ia alami dalam hidupnya, berlatar zaman Belanda cerita ini membuat saya membayangkan penampilan bak putri perempuan-perempuan bangsawan Indonesia zama dulu yang tentu saja berkebangsaan Belanda. Tentang kelicikan dan bagaimana politik digunakan dalam cinta demi keinginan untuk berkuasa.

Goodbye (Ghyna Amanda)
Perjalanan si tokoh utama dalam menelusuri masa lalu Sang Paman yang begitu mencinti musik rock semasa hidupnya. Sedikit mengandung hal mistis tapi saya menyukainya. Nggak seseram Conjuring 2 kok :))

Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini (Frida Kurniawan)
Cerpen favorit. Mengangkat tema tentang betapa kebobrokan bangsa sudah mendarah daging dan membuat siapa saja rela mencongkel matanya sendiri agar tidak perlu repot-repot lagi menutup mata apabila melihat ketidakadilan terjadi. Cerpen yang memotivasi akan kejujuran dan mencubit hati saya di saat yang bersamaan.

Cintalah yang Membuat Diri Betah untuk Sesekali Bertahan20 (Puput Palipuring Tyas)
Murni tentang cinta kalau menurut saya. Mengandung pesan bahwa apapun dalam hidup keputusan yang kita ambil harus dipertimbangkan sebaik mungkin apalagi tentang cinta. Bagi saya, sosok Day yang hadir bukanlah manusia nyata melainkan logika tokoh utama yang membantu membuatnya tetap sadar dan rasional menghadapi kemelut perasaannya.

Psikadelia (Farrahnanda)
Saya sempat mencari informasi tentang Psikadelia ini. Sekilas terdengar seperti nama bunga namun sama sekali bukan.Sama seperti psikotropika yang diakibatkan oleh zat-zat adiktif, psikadelik juga demikian. Zat Psikadelik termasuk bagian dari obat-obatan  yang lebih dikenal sebagai halusinogen, cenderung membelokkan dan memutar pikiran dengan cara-cara yang menghasilkan pengalaman yang secara kualitatif berbeda dengan kesadaran biasa (Kondisinya seperti orang melakukan meditasi atau bermimpi).

Jadi, Psikadelia adalah jenis musik yang dapat membuat kita berhalusinasi. Mungkin cerpen ini kurang lebih sama dengan cerepn Black Butterfly di atas, sama-sama membuat yang mendengarnya berhalusinasi akan tetapi pada Black Butterfly, musik yang ada juga berakibat pada tindakan tidak wajar bagi si pendengar.

Saya bertanya-tanya, apa ada musik yang seperti ini? Seolah mantra? Dan ternyata Led Zeppelin (saya tidak tahu musiknya tapi saya memiliki seorang teman yang merupakan penggemar Led Zeppelin - adalah salah satu band yang pada awal kemunculannya pada pada tahun 1968 mengusung musik Psikadelik (Sumber:  Apa Sih Musik Psikadelik?).

Meski memberikan efek yang sama seperti pada Cannabis, musik psikadelik adalah jenis musik yang ditujukan sebagai bentuk kebebasan berimajinasi.

Yang Menunggu di Dalam Cermin (Erin Cipta)
Cerpen favorit yang membuat saya menduga-duga siapa sebenarnya sosok penunggu yang dimaksud. Awalnya, saya pikir ini tentang seorang istri yang tidak disukai Ibu mertuanya, lalu tentang laki-laki yang depresi karena ditinggal mati lalu berhalusinasi bahwa perempuan yang ia cintai masih hidup. Tapi ternyata dugaan saya meleset. Ini adalah tentang pergeseran pikiran dalam hal gender.

Kisah yang Tak Perlu Dipercaya (Reni FZ)
Penutup yang memukau, berlatar Eropa dan mengingatkan saya akan salah satu Film yang diadaptasi dari novel Karya Stephaine Meyer, Twilight. Saya sangat menikmati ceritanya, seolah menonton di bioskop dengan lampu-lampu pada bersama Popcorn dan Soda Biru. Dan, meski tidak seperti yang saya duga (bahwa ini cerita Edward Cullen mini), ending-nya sangat saya sukai. Seperti judulnya, kisah ini memang tak perlu dipercaya.

Secara keseluruhan saya kagum dengan para alumni Kampus Fiksi yang bisa merangkum bagian-bagian kecil dalam hidup, masalah-masalah yang sering dipandang sepele ke dalam suatu cerita pendek yang sangat keren. Buku ini tak hanya memberikan pandangan baru tentang cara memaknai sesuatu tapi juga membuat saya termotivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas tulisan saya dalam cerita pendek.

Terima kasih kepada Divapress untuk kiriman bukunya (lagi-lagi saya dapat secara gratis, seperti novel-novel yang sudah saya review sebelumnya), btwm jangan ngiri yaa :p

I rate 4/5 for this book

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh