[Ebook Review] The School For Good and Evil: Sekolah Kebaikan dan Kejahatan By Soman Chainani

Selasa, Maret 21, 2017

Judul Buku: The School for Good and Evil – Sekolah Kebaikan dan Kejahatan
Penulis: Soman Chainani
Ilustrasi: lacopo Bruno
Tahun Terbit: 2013
Penerbit: HarperCollins Publishers
Pengalih Bahasa: Kartika Sofyan
Penyunting: Agatha Tristanti
Penata Letak: Veranita
Desain: Yanyan Wijaya
Terbit di Indonesia: 2014
Penerbit: PT. BIP
ISBN-10: 602-249-756-6
ISBN-13: 978-602-249-756-6
Rating: 4/5

Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahwalan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng. Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.

Namun, ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari kutukan kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama para pangeran tampan dan putri cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana jalan satu-satunya keluar dari dongeng adalah... bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.

****
Ketika para orang tua dan anak-anak di Gavaldon mempersipkan penangkal demi menghalau penculik tak kasat mata, yang akan membawa anak-anak siapa pun itu sesuai dengan keinginannya, sebaliknya, Sophie justru sudah lama menantikan hal ini. Sikap Sang Ayah yang seolah tak lagi menyayanginya dengan berusaha menikahi Honora, wanita gemuk dengan tumpukan lemak pada tubuhnya, dan berusaha memberinya dua adik tiri laki-laki, Sophie memutuskan akan ikut dengan sukarela ketika nanti dijemput Sang Guru.

“Biar saja si pengecut itu menikahinya setelah aku pergi – Sophie, hlmn 33”

Dengan penampilannya yang rupawan dan sikap yang selalu baik, Sophie yakin ia akan masuk dan menjadi murid Sekolah Kebaikan dan berakhir bahagia bersama pangeran tampan layaknya Cinderella. Keberadaan Agatha – sahabatnya, sebagai kebalikan Sophie, tidak cantik dan tidak baik pun semakin menambah rasa percaya diri Sophie. Namun, kepercayaan dirinya mengkhianatinya. Bukan mengantarkannya ke menara Sekolah Kebaikan dengan anggun dan sempurna, ia justru diculik dan dilemparkan ke Sekolah Kejahatan yang jelek dan suram.

Agatha yang tidak percaya tentang cerita-cerita dongeng dan keberadaan Sekolah Kebaikan dan Kejahatan ini pun harus mengakui bahwa keraguannya selama ini salah. Sekolah itu benar-benar ada dan kini ia menjadi orang asing yang jelek di antara kerumunan putri cantik dan pangeran tampan.

“Bahkan staf pengajar yang lebih tua pun tampak elegan dan cenderung mengintimidasi. Agatha selalu berusaha meyakinkan diri bahwa kecantikan itu tak ada gunanya karena bersifat sementara. Di sini terbukti kecantikan itu bertahan selamanya – hlmn 65”

Merasa salah tempat, Agatha lantas berusaha membuktikan bahwa ia jahat dan tak pantas berada di Sekolah Kebaikan. Penampilan teman-teman sekolahnya dan sikap jijik yang mereka tunjukan membuat Agatha semakin ingin keluar dari sana.

“Bahkan di Sekolah Kebaikan, yang semua orang harusnya baik dan mengasihi, dia tetap sendirian dan dianggap hina. Dia seorang penjahat, tak peduli kemana pun ia pergi – hlmn 87”
 
Terasing dan tersingkir serta keinginan yang kuat untuk keluar dari Sekolah Kebaikan membuat Agatha terus berusaha mencari cara. Mulai dari mengelilingi gedung sekolah hingga menyusup ke tempat-tempat tak seharusnya yang justru membawanya ke suatu tempat mengerikan. Kenyataan akan kegelapan yang tersembunyi di balik menara kedua sekolah itu membuat Agatha bertekad bahwa ia dan Sophie harus pulang ke Gavaldon. Ia harus menemui Sang Guru.

“Kalau tidak, mereka akan jadi fosil dongeng – hlmn 90”

Begitu pun Sophie, gadis cantik itu berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan dirinya pada posisinya semula dan membuktikan bahwa Agathalah yang jahat. Namun, begitu mereka berusaha untuk bertukar sekolah, keduanya kembali diseret ke sekolah masing-masing. Teman-temannya semua jelek, menyeramkan dengan kutil pada beberapa bagian tubuh dan binatang peliharaan menjijikkan. Ia tampak sangat berbeda dan seperti Agatha, Sophie pun dikucilkan dan dianggap suatu kesalahan.

“Pangeran-pangeran pasti kebingungan kalau melihatmu. Penjahat biasanya tidak kelihatan seperti putri raja – Dot, hlmn 74”

Sophie pun ingin keluar dari sekolahnya. Namun, tujuannya berbeda. Bukan pulang, ia ingin ke sekolah kebaikan karena memang disitulah tempatnya.

“Aku harus berada di sekolahmu dan kau harus berada di sekolahku. Seperti yang sudah kita bicarakan. Ingat, kan?” – Sophie, hlmn 96”

“Kenapa aku harus pulang? Aku punya apa di Gavaldon? – Sophie, hlmn 96”

****
Ide ceritanya unik dan megusung tema yang menarik. Setiap orang pasti kenal dengan yang namanya dongen dan kisah cinta Cinderella bersama kereta labunya, Rapunzel dan rambut panjangnya serta dongeng-dongeng yang menekankan kebajikan lainnya. Pada buku ini, dunia tersebut digambarkan sebagai tempat yang dapat dikunjungi dengan beberapa penduduk asli dan penduduk pendatang yang berasal dari pembaca. Hanya saja, berbeda dengan happy ending yang selalu didapatkan para pemeran utama dalam dongengnya, dalam kisah ini diceritakan bahwa di balik bahagia mereka, ada pihak-pihak yang menderita dan tidak mendapatkan tempatnya.

Awalnya agak sedikit bosan dengan opening ceritanya, dialog antara Sophie dan Agatha juga terkadang membingungkan, namun memasuki bab petualangan ke negeri dongengya, kisah dua sahabat ini berlangsung seru. Sejak awal sudah bisa menebak siapa yang akan digiring ke Sekolah Kejahatan dan siapa yang akan mendarat dengan anggun di Sekolah Kebaikan, namun alur cerita selanjutnya sama sekali tidak tertebak.

Pergantian situasi dan kondisi antara kedua tokoh juga membuat pembaca dapat menilai dari sisi yang objektif karena perbedaan aktivitas dan kegiatan maupun mata pelajaran antara kedua sekolah dijelaskan dengan terperinci. Walau jujur saja terkadang saya sedikit sulit membayangkan kondisi latar dna settingnya. Terlalu dongeng dan mungkin imajinasi saya nggak sampai wkwkw

Di luar itu, kisahnya berjalan mulus dengan beberapa jalan terjal yang dilalui tokoh-tokohnya. Karakter Sophie dan alur yang mengirinya sebenarnya membuat cerita ini terasa labil dan seolah bingung akan kemana, tapi ketika mendekati bab ending, pemahaman bahwa cerita dan karakternya memang sengaja dibuat seperti itu akan sampai. Dan itu yang bikin ceritanya twist dan menegangkan.

Saya suka dengan kejutan menjelang bab-bab terakhirnya, eksekusinya berbelit tapi manis. Terasa agak lama karena cerita yang lumayan panjang tapi pendaratan Sophie dan Agatha serta segala hal yang terjadi pada Sekolah Kebaikan dan Sekolah Kejahatan karena kehadiran keduanya terasa asyik dan menyenangkan.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh