Kontrak Cinta (Prolog)

Senin, Januari 20, 2014

Vivian baru saja memarkir mobilnya di carport gedung dimana apartemennya berada saat ponselnya tiba-tiba mengeluarkan dering yang cukup keras. “Rumah” itulah yang tertera Iayar ponselnya. Ada apa, ya? Pikirnya. Ini memang jam pulang kantor jadi tidak aneh jika orang tuanya menghubunginya mengingat mereka selalu berusaha untuk tidak mengganggu jam kantornya. Tapi ibunya tahu seperti apa pekerjaannya. Benar-benar melelahkan mengingat ia harus mengatur jadwal atasannya dan mengikuti kemanapun atasannya pergi. Baik untuk meeting dengan klien atau sekedar makan siang bersama. Jadi tidak mungkin beliau menelepon saat ia baru saja pulang kantor jika tidak ada yang penting. Dengan cepat diusapnya gambar berwarna hijau di layar ponsel dan menempelkan ponselnya ke telinga kanan.
“Halo?” sapanya.
“Assalamualaikum…” Suara Ibunya membuka pembicaraan.
“Walaikumsalam. Ada apa Bun?” Tanyanya langsung.
“Kamu tuh bukannya nanyain kabar Ayah sama Bunda, langsung aja tembak tanya Bunda ada perlu apa. Emang nggak boleh kalo Bunda menghubungi kamu?” Omel Bunda seketika.
“Bukan gitu Bun. Cuma Vian lagi capek banget. Baru pulang kerja. Pengen cepet-cepet mandi terus istirahat.”
“Udah istirahatnya nanti di rumah aja. Sekarang mending kamu cepet kesini. Ada hal penting yang Ayah sama Bunda mau bicarakan.”
“Hal penting apa?”
“Nanti juga kamu tahu. Pokoknya sekarang kamu langsung ke rumah. Oh iya jangan lupa bawa pakaian ya. Tapi bukan pakaian kesaharian kamu itu. Bawa pakaian yang rapi.” Instruksi sang Bunda.
“Emang mau ada acara, ya Bun?”
“Sudah kesini saja. Assalamualaikum.” Putus sang Bunda seiring sambungan telepon yang juga terputus.
Dengan kesal Vivian melempar ponselnya ke jok penumpang, memasukkan gigi dan memutar mobilnya ke arah rumah kedua orang tuanya. Sebodoh amat sama pakaian yang rapi. Lagipula sekarang pakaiannya masih tergolong rapi. Pakaian kantor. Hanya saja memang tampilannya tidak se-fresh tadi pagi.

****
Vivian sampai di rumahnya lima belas menit setelah adzan maghrib dikumadangkan. Dengan cepat ia berlari keluar dari mobil tanpa memarkir mobilnya terlebih dahulu di carport. Nanti juga Mang Dudung yang bakal markirin, pikirnya. Dengan berlari-lari ia masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya di lantai dua yang sudah jarang digunakannya lagi semenjak ia memilih untuk tinggal sendiri di apartemen. Sekilas dilihatnya lewat ekor mata di ruang tamu ada Ayah dan Bunda serta dua laki-laki dan satu perempuan entah siapa.
“Vian yang sopan kalau masuk!” Tegur Bunda.
“Maaf Bun. Vian mau sholat maghrib dulu. Takut nggak keburu.” Jawabnya sambil lalu menuju lantai dua.
***
Sepuluh menit kemudian, Vivian telah berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya dan tiga orang entah siapa itu. Sepertinya mereka satu keluarga jika dilihat dari formasinya: satu perempuan seumuran Bunda, satu laki-laki seusia Ayah dan satu laki-laki yang sepertinya seusia dirinya.
“Nak Vian apa kabar?” Tanya si perempuan seumuran Bunda.
“Alhamdulillah baik tante.” Jawabnya kikuk. Gimana nggak kikuk, coba? Yang nanyain kabar ini entah siapa.
“Nak Vian makin cantik aja, ya. Tapi sayang, kayaknya nak Vian sudah lupa sama saya.” Vivian hanya tersenyum ragu menanggapi komentar si perempuan.
“Jadi langsung saja ya Nak Vian…” Ucap si laki-laki seusia Ayah sambil memandang Ayah dan Bunda seolah meminta persetujuan. Ayah dan Bunda hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Jadi maksud kedatangan kami disini adalah untuk melamar nak Vian untuk menjadi istri anak saya, Rafa.”

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh