It's Destiny #9

Minggu, Februari 16, 2014



            Ku lihat Anya turun dari taksi di depan rumahnya. Tumben? Biasanya juga naik bus atau ojek. Ku hampiri ia dari belakang dan dengan usil ku tarik pelan rambutnya yang dikuncir kuda. Mengganggunya benar-benar menyenangkan bagiku. Sejak dulu.

“Apa sih?!” Teriaknya kesal sambil mencubit lenganku.

“AW! Sakit Nya. Gue nariknya pelan-pelan juga.” Gerutuku sambil mengelus lenganku bekas cubitannya tadi. Merah. “”Buset Nya. Lo belum potong kuku, ya.”

“Iya. Sengaja. Biar bisa nyubit lo kalo lo resenya lagi kumat.” Jawabnya ketus.

“Dari mana lo?” Tanyaku.

“Wika kepo.” Jawabnya sambil lalu dengan wajah cemberut.

Ada apa ya dia? Tidak seperti biasanya. Marah-marah tidak jelas. Apa ada masalah? Sepertinya aku harus tanya Kak Chan.

****

            Ku hempaskan tubuhku ke tempat tidur. Capek. Padahal aku tidak melakukan pekerjaan berat sama sekali. “AAAARRGGGHHHHH…..” Teriakku sambil membenamkan wajahku ke bantal agar tak terdengar orang rumah. “Anya bego!!” Makiku pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku sebodoh itu? Kenapa juga aku harus mencekal lengannya. Dia jadi curi kesempatan, kan? Dan bodohnya…kenapa aku diam saja saat ia menggenggam tanganku? Anya bego bego bego……

Ku pandangi tanganku bekas genggamannya tadi. Tangannya masih terasa….

HUAAAA….maluuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………


****
“Dimana?” Tanyaku begitu sambungan teleponku diangkat.

“Gaya nanya lo udah kayak gue pacar lo aja.” Jawab Fahri. Aku memang sengaja menghubunginya begitu Anya pulang.

“Lo bantuin gue.” Jawabku

“Lo lagi minta tolong?” Tanyanya sambil tertawa geli. Tidak menyangka aku akan minta tolong padanya setelah beberapa kali aku menolak bantuannya.

“Iya.” Jawabku malas. “Nggak usah ketawa lo. Gue lagi males aja ngurusnya sendiri.”

“Apaan emang?” Tanyanya penasaran.

“Lo putusin si Wenda.”

“HAAAHHH?? Lo sinting, ya? Masa pacar lo suruh putusin gue?! Ogah!! Urus sendiri!!” Tolaknya matang-matang.
“Males gue. Lo tau sendiri kan tuh cewek manjanya kayak apa? Males gue liat muka meweknya.”

“Yak an elo tau sendiri kuyaaaaa….. gue paling nggak bisa liat cewek nangis. Lo gimana sih? Lagian lo juga tau bokap tuh cewek siapa. Jendral wooooyyyyy…. Lo tega gue ditembak mati sama bokapnya trus dijadiin sate?!” Omelnya panjang lebar. Yah ia memang agak susah kalau urusan menangani hal seperti ini. Apalagi hubungannya udah menyangkut ke ‘senjata andalan’ para cewek?! Fahri paling nggak tahan.

“Nah itu dia bro. Kan asyik tuh. Lo bisa dapet kesempatan kenalan sama bokapnya sekalian ngelamar si Wenda.”

“Sinting lo! Masa gue kasih bekas lo?!”

“Ya eeellaaaahhhh… kayak si Wenda udah gue apain aja. Kan lo juga bilang dulu kalo si Wenda tuh imut. Jadi lo pasti suka sama dia.”

“Enak aja lo langsung ngasih kesimpulan kayak gitu. Nggak bakal ada yang bisa gantiin Naya, bro. Nggak akan bisa.”

“Udah ah! Pulsa gue abis ngomong sama lo. Pokoknya lo putusin tuh si Wenda!” Jawabku sambil mematikan sambungan telepon. Aku paling tidak tahan jika Fahri sudah mengungkit Naya – pacarnya yang meninggal dua tahun lalu karena kanker otak sekaligus gadis yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri.

****
AUTHOR POV

“Sialan!!” Maki Fahri ketika sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Nugrah. Ia tahu alasannya. Ia tak sengaja mengungkit Naya tadi. Heran juga. Gue yang ditinggal kok jadi kayak si Nugrah yang merasa kehilangan. Ah…Wenda….Wenda… apes banget sih nasib lo ketemu playboy Anugerah itu.

Dengan dongkol dikontaknya nomor ponsel Wenda. Ia memang selalu memiliki nomor ponsel gadis yang sedang dipacari Nugrah. Sekedar koleksi.

“Halo, Abang.” Sapa suara riang di sebelah sana. Wenda – gadis manja yang saat ini duduk di kelas X salah satu SMA swasta di Yogyakarta, memang terbiasa memanggil Fahri dengan sebutan Abang. Sengaja. Karena Fahri adalah sahabat terdekat Nugrah yang menurutnya saat ini masih berstatus sebagai pacarnya, jadi ia sudah menganggap Fahri sebagai kakaknya.

“Hai Wen.” Jawab Fahri. “Lagi apa?” Tanyanya basa basi.

“Lagi mikirin Abang. Hihihi…” Jawabnya sambil cekikikan.

“Hahaha… Kamu bisa aja. Kesian Nugrah kalo kamunya mikirin aku.” Fahri hanya bisa ikut tertawa.

“Hahaha… kayak Nugrah peduli aja.” Jawabnya sambil tertawa hambar.

“Maksud kamu?”

“Kemaren aku liat dia sama cewek. Ceweknya manis lho, Bang. Banget malah.” Jawab Wenda berusaha tenang.

“HAH?? Kok kamu cuek aja?” Fahri kaget setengah mati mendapati reaksi Wenda biasa saja. Dan lagi…siapa gadis yang dimaksud Wenda barusan? Ia baru tersadar. Jika Nugrah sudah ingin putus dari seorang cewek, pasti ia sudah mempunyai cewek yang baru. Mungkinkah….??? Ibu Anyaaa???? Gimana bisa????

“Pengennya sih gitu Bang. Tapi ya udahlah. Nggak usah dibahas. Males Bang. Bikin orang pengen muntah.” Jawab Wenda seolah jijik dengan Nugrah. Fahri hanya bisa diam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Menghibur? Yang ingin dihibur saja tidak merasa perlu.

“Ya udah kalo gitu. Udahan dulu ya Wen. Udah ngantuk nih.” Putus Nugrah sambil mengakhiri pembicaraan mereka. Syukurlah. Ternyata Wenda tak seribet yang ia bayangkan. Ia termasuk salah satu gadis tegar. Seperti…. Ah! Kanaya…. Maaf. Aku nggak bisa nepatin janji aku untuk mulai belajar mencintai gadis lain. Aku nggak bisa. Aku nggak mau ada yang ganti kamu. Aku udah terbiasa kayak gini. Dengan atau tanpa kamu, aku udah bahagia. Yang penting kamu selalu ada di hati aku.

Fahri tidak menyadari. Di balik sifat manja dan kepolosan Wenda, tersimpan hal-hal yang tak ia ketahui. Hal-hal yang nantinya akan membuat sakit. Bagi banyak orang.  Terlebih sahabatnya

****

Awal yang menyedihkan dan menakutkan. Hubungan yang tidak bisa dikatakan sebagai suatu hubungan. Aku sangat gugup. Tidak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana saat bertemu dengannya nanti. Apa aku harus menyapanya seperti para ‘pacar’ pada umumnya? Atau sebaiknya aku bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Sepertinya pilihan kedua lebih tepat. Dan sepertinya akan lebih baik jika aku tidak bertemu dengannya hari ini. Lebih aman. Ku sambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Aku harus cepat. Tidak boleh terlambat. Aku harus mengajar pagi ini. Walaupun sebenarnya aku mengantuk sekali karena semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Selesai mandi, ku kenakan pakaianku sambil berlari menuju ruang makan. Mama, Papa dan Tio pasti sudah menunggu. Baru beberapa anak tangga yang aku turuni, aku teringat sesuatu. Ponselku tertinggal di kamar. Dengan sangat terpaksa aku memutar arah dan kembali ke kamarku. One message received

Siapa yang mengirim pesan pagi-pagi begini? Nugrah. Aduh kenapa harus sekarang? Tidak bisakah ia menunda SMSnya sampai minggu depan? Aku ingat lagi, kan status baruku?

Aq gk bs jemput!!

Hanya satu kalimat. Sepertinya kemarin ia manis sekali padaku. Hari ini?? Datar dan tidak ada manis-manisnya sama sekali. Tapi Alhamdulillah ya Allah. Aku tidak tahu harus bagaimana jika ia sampai menjemputku untuk ke sekolah hari ini. Bagaimana aku harus menjelaskannya pada Papa dan Mama? Dijemput cowok berseragam SMA. Aduh maluuuuu….. walaupun kami seumuran tapi tetap saja..

Tapi kalau aku boleh jujur, aku juga sedikit kesal padanya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pengalaman pacaran pertamaku akan jatuh pada laki-laki model Nugrah. Dalam bayanganku aku akan punya pacar yang manis yang selalu memanggilku dengan sebutan sayang. WHAT??? SAYANG???

            Oh ya. FYI aku belum pernah punya pacar selama aku hidup di dunia ini. Nugrah adalah pacar pertamaku dalam tanda kutip ‘pacar pura-pura yang harus dirahasiakan keberadaannya’. Yah aku memang tergolong jomblo ngenes. Tapi bukan karena tidak ada yang pernah menyatakan perasaannya padaku atau aku berlabel tidak laku. Hanya saja, aku memang terlalu mencintai satu orang yang rumahnya hanya berada di sebelah rumahku. Bukan Chani… Tapi adiknya yang agak ‘sedeng’ itu. Siapa lagi kalau bukan Cipto Wikra Adipatra.

“Anyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………..” O’ow sepertinya aku terlalu lama melamun. Teriakan mama sudah menggema seperti biasanya. Dan yah benar sekali. Saat ini mama sudah berada di depan kamarku, bukan lagi di ruang makan. “Mama ngapain sih teriak pagi-pagi?!” Protesku. “Malu Ma sama tetangga. Pake acara neriakin nama Anya segala. Dikiranya Anya udah ngapain, lagi?”

“Makanya kalo pagi-pagi jangan melamun. Nggak baik lho. Ntar susah jodoh. Ayok buruan. Papa sama adik kamu udah kelaperan nungguin kamu kelamaan.” Ku ikuti mama dari belakang dengan langkah berat. Tidak bisakah aku sakit mendadak pagi ini?! Diare atau pingsan mendadak juga tidak apa-aspa. Yang pasti aku nggak ke sekolah dulu. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana nantinya…

            “Lagian kamu juga. Kapan kamu mau ngenalin calon menantu pertama mama?” Lho lho kok jadi nyerempet ke calon menantu? “Ih mama apaan sih?! Umur Anya juga belum ada dua puluh ma. Masa udah ditanyain calon menantu aja.” Jawabku kesal.

“Ya udah deh. Mama ganti aja. Pacar deh pacar. Mana pacar kamu? Iya nggak Pa..” Mama memberi kode dengan mata ke arah papa sambil tersenyum. Entah apa artinya. Papa hanya berdehem sedikit.

Ku dudukkan diriku ke kursi di samping Tio yang saat itu ‘lempeng’ saja – tidak perduli.

“Dulu mungkin papa mengekang kamu. Tapi sekarang papa rasa tidak ada salahnya.” Tiba-tiba papa berkomentar. Aku paham maksudnya. Sangat paham. Tapi tidak bisakah kalian wahai orang tuaku tercinta menunda pembicaraan ini? Setidaknya sampai aku punya pacar yang lebih ‘layak’. Obrolan ini benar-benar mengigatkanku akan Nugrah. Entah mengapa. Bayangan Wika…kamu kemana?

****
            Dengan sabar aku menunggunya di depan rumah di atas motor besarku. Aku kangen dia. Aku ingin melihatnya walaupun hanya sebentar sebelum berangkat kerja.

“Anya….” Seruku saat ia baru saja keluar dari rumah.

“Chani….” Jawabnya riang sambil menghampiriku. “Kok lo udah disini pagi-pagi?” Tanyanya saat sudah berada di sampingku. “Lo pasti mau nawarin jasa ojek gratis!” Dasar matre. Tapi aku suka. Aku suka saat ia mengandalkanku. Hmmm… sepertinya ada yang berbeda dengannya hari ini. Tidak seceria semalam.

“Kok mata lo jadi lebih sipit?” Tanyaku khawatir.

“He…he…he…” Tawanya garing.

“Sejak kapan lo jadi pengikutnya Vira?” Well, Vira adalah sahabat dekat Anya selain diriku tentu saja yang suka sekali tertawa dengan menyuarakannya dalam bentuk suku kata.

“Oh iya. Wika mana?” Tanyanya sambil melihat ke arah kiri kanan mencari sosok Wika.

“Udah deh Anya. Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Lo nggak tidur ya semalem?” Semalam aku memang kembali menatap kamar Anya. Entah mengapa, rasa rinduku padanya semakin menjadi sejak semalam.

“Maaf. Gue lagi banyak kerjaan.” Ia meminta maaf. Aku tahu. Minta maaf karena telah membuatku khawatir. Selalu saja…membuatku berharap…

“Yakin?” Tanyaku memastikan. Ia mengangguk pasti. Syukurlah jika memang benar seperti itu. Aku hanya bisa percaya. Tidak bisa memaksa.

“Ya udah kalo gitu. Gue anter ke sekolah?” Tanyaku. Ah! Aku jadi ingat masa SMA kami. Setiap hari pekerjaan wajibku adalah mengantar jemputnya sekolah karena memang hanya aku yang dipercaya. Kami memang beda sekolah saat SMA. Wikalah yang berada satu SMA dengannya. Tapi ia terlalu sibuk dengan korban-korbannya, jadi tidak bisa diandalkan sama sekali. Lagipula sekalipun dipaksa plus diiming-imingi uang jajan ditambah jatah shopping selama sebulan, Anya juga tidak mau menggunakan jasa Wika. Dan alasannya sudah aku ketahui dengan jelas.

“Oke.”

****

Pemandangan di depan gerbang benar-benar merusak mataku. Ingin rasanya aku mencolok mata lelaki itu. Tatapannya… aku sangat mengerti tatapan itu. Tatapan yang mirip dengan milik Papa saat menatap Mama. Aku sudah bisa langsung mengambil kesimpulan bagaimana posisi Anya di hati lelaki entah siapa itu.

“Makasih yaaa….” Seru Anya sambil memasuki gerbang sekolah dengan riang. Saat ini ia adalah ‘pacar’ baruku. Senyumannya… ah! Aku tahu ini hanya sementara. Dan memang hanya boleh sementara. Tapi hatiku tetap saja panas melihat adegan memuakkan itu. Anya – ‘pacarku’ diantar ke sekolah oleh seorang laki-laki yang tidak aku kenal!!

“Kakaknya kali…” Ucap sebuah suara yang aku kenali sebagai milik Fahri.

Aku hanya tersenyum kecut. Kakak?! Dengan tatapan seperti itu?! Sangat tidak mungkin. “Emang udah resmi?” Aku tak menjawabnya. Aku yakin Fahri tak sebodoh yang aku pikirkan.

“Ya udah. Ntar lo tanyain aja. Gampang kan?” Sambungnya sambil merangkul bahuku. “Woles aja.”

Di kelas…

Sial! Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada rumus-rumus aneh di depanku. Fisika. Mata pelajaran yang paling aku benci. Kecepatan cahaya… apa gunanya sampai harus diukur segala?

Aduh Tuhan! Bayangan kejadian tadi pagi terus berputar di kepalaku. Ya aku memang pencemburu tingkat dewa. Aku akan sangat terganggu jika orang yang sedang menyandang status sebagai pacarku dekat dengan lelaki lain. Sekalipun aku tidak mencintai mereka sedikitpun dan tidak akan segan untuk mendekati perempuan lain pada saat yang bersamaan. Hal itu akan mengingatkan aku pada…. Ah lupakan! Sebaiknya aku tak mengingat masalah itu saat ini. Ada yang lebih penting. Aku harus menghubungi Anya. Ya Anya. Aku tidak mau memanggilnya dengan sebutan Ibu lagi, kecuali di sekolah. Walaupun aku masih bingung dengan apa yang harus aku katakan nantinya, aku harus menghubunginya dan memintanya untuk bertemu.

****
Akhirnya aku sampai juga di rumah. Hhh… capek sekali rasanya. Aku ingin tidur. Aku sangat mengantuk. Ku benamkan kepalaku dalam-dalam pada bantal kesayanganku. Drrttt…drttttt… drrrttt….drrrtttt….

“Apa sih?!” Rutukku sambil mengangkat ponselku tanpa melihat siapa yang sudah mengganggu rencana tidur siangku.

“Halo? HOAAAMMMM….” Salamku sambil menguap. Yah aku memang kurang jaim.

“Ngantuk?” Tanya suara berat di seberang. Aku tidak kenal milik siapa.

“Hmmm…” Gumamku tidak jelas dengan mata yang mulai terpejam kembali.

“Ya udah tidur aja.” Ucapnya pengertian.

“Hmmm…” Jawabku sambil mematikan sambungan telepon. Wahai siapapun dirimu.. terima kasih banyak atas pengertiannya.

Jam 5 sore…

Aku baru saja terbangun. Astaga. Aku belum Salat Ashar. Dengan tergesa aku ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan Salat. Seusai Salat, iseng aku mengecek ponselku. Siapa tahu ada yang menelepon atau sekedar mengirim pesan selagi aku tidur siang. One Message Received. Nugrah

Bobo aj dl. Aq tggu jam 4 d café t4 qt mkn kmrn.

Rupanya ia yang tadi dengan sukarela mengganggu tidur siangku. Hmmm… tidak ada yang penting. Ku lipat mukenaku dan memasukkannya ke dalam lemari. Tunggu dulu!!! Ku sambar kembali ponselku. Ku baca kembali pesan dari Nugrah dengan lebih teliti. Aku tunggu jam empat. Jam empat. JAM EMPAT???!!! Dan ini sudah JAM LIMA LEBIH DUA PULUH LIMA MENIT!!! Ku sisir rambutku asal. Ku sambar cardigan hitamku dan bergegas ke luar. Ku pakai sepatu keds putihku asal-asalan.

Semoga ia sudah pulang. Semoga ia sudah pulang. Semoga…semoga…semoga… Aku terus berdoa dalam hati dan berharap itu menjadi kenyataan. Tapi ternyata tidak terkabul. Dari jauh aku sudah bisa melihat Nugrah yang dibalut dengan celana jeans dan kemeja lengan panjang yang bagian lengannya digulung sampai ke siku sedang duduk di depan salah satu meja. Dia terlihat sangat keren. Ku pandangi penampilanku. Bagus sekali. Aku hanya mengenakan celana pendek jeans selutut yang dipadu dengan kaos putih bergambar Angry Bird yang sedikit terselamatkan oleh cardigan hitamku, dan sepatu keds putih bututku. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menemuinya. Ku putar tubuhku seratus delapan puluh derajat bersiap kabur. Namun terlambat!! Ia sudah melihatku. Terpaksa… mau tidak mau… aku harus membuang malu dan menghampirinya yang saat itu memasang wajah datar dan…marah?

“Lama.” Satu kata. Hanya itu yang keluar dari mulutnya saat aku sudah ada di depannya sambil bangkit dan beranjak.

“Tunggu…” Cegahku. Oke aku malu mengakuinya tapi aku yang salah. “Maaf.” Ucapku sambil menunduk. “Aku ketiduran. SMS kamu baru kebaca.”

“Salat Maghrib dulu. Udah adzan.”

TBC

.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh