It's Destiny #6

Minggu, Februari 16, 2014

            CKIIIITTTTTT!!!! Bunyi rem berdecit dengan keras. Pertanyaan tiba-tiba Nugrah benar-benar telah merusak konsentrasi Anya yang sedari tadi memang sudah terganggu oleh tatapan maut Nugrah yang sumpah…demi apa membuat Anya hampir meleleh saat itu juga. Nugrah yang saat itu memang tidak menggunakan seat belt tak ayal terlempar membentur dasbor mobil disertai suara…BRUKKK!! Ternyata akibat Anya mengerem tiba-tiba, sebuah mobil yang saat itu memang berada di belakang mobil yang mereka tumpangi – menabrak bagian belakang sedan putih hasil kemurahan hati Fahri yang bersedia meminjamkannya dan rela berpanas-panasan di siang bolong menggunakan motor Nugrah.

“Mau mati ya!!” Bentak Nugrah keras. “Woy!! Keluar lo!!” Teriak sebuah suara sambil mengetuk kaca mobil bagian kanan depan dengan keras.

Ck! Nugrah berdecak pelan sambil menatap kesal ke arah Anya yang saat itu belum sepenuhnya sadar apa yang sebenarnya terjadi. “Tunggu di dalem!” Perintah Nugrah sambil keluar dari mobil dan menghampiri orang yang sedang marah tadi yang ternyata adalah seorang cowok.

Anak SMA. Batin orang itu. Berani banget nyari masalah sama gue. “Maaf, Bang. Pacar saya lagi belajar nyetir.” Nugrah meminta maaf disertai dengan berbohong pastinya. Bang…Bang…Emang gue mirip Abang Tukang Bakso?! Gerutu orang itu dalam hati.

“Kalo belajar nyetir itu di lapangan sono. Jangan di jalan raya. Untung aja cuma kecelakaan kecil. Kalo sampe nabrak orang gimana?!” Omel orang itu panjang lebar. Ternyata nih Om Om bawel juga.

“Tadi sih niatannya gitu tapi kepala saya tiba-tiba aja pusing Bang. Jadi pacar saya nawarin diri buat nganterin saya pulang. Sekalian belajar nyetir.” Jawab Nugrah setengah jujur setengah bohong.

“Ya sudah lain kali hati-hati. Nggak usah ganti rugi. Gue buru-buru.” Ujar orang itu seraya kembali masuk ke mobilnya dan menjauh meninggalkan Nugrah. Setelah orang itu hilang dari pandangan, Nugrah kembali ke mobil namun beralih ke sisi kanan. Ia tak ingin mengambil resiko dengan membuat Ibu Anya menyetir lagi. Bisa berabe kalo sampe kecelakaan beneran. Rugi amat. Mana belom nikah lagi. Lho??!!


“Pindah di sebelah!” Perintahnya dengan wajah terlihat marah. “Eh?” Anya yang baru saja menyadari apa sebenarnya yang terjadi barusan, terkejut dengan Nugrah yang tiba-tiba saja sudah muncul di sampingnya sambil membuka pintu mobil. Buset. Nih orang hobi banget bikin gue keliatan tolol. Anya mengomel dalam hati.
“Pindah aja di sebelah. Kayaknya saya udah sembuh gara-gara insiden tabrakan tadi.” Ulang Nugrah dengan kalimat yang lebih panjang. Anya keluar dari mobil, namun beranjak ke halte bus yang berada tak jauh dari mereka

“Eh mau ke mana?” Tanya Nugrah sambil mencekal lengan kiri Anya dengan tangan kanannya. “Katanya tadi kamu sudah sembuh. Jadi saya tidak perlu repot-repot mengantarkan kamu pulang lagi, kan?” Tanya Anya.

“Iya memang. Kalo saya mau dianterin sama Ibu lagi, ngapain saya minta gentian nyetir. Jadi sekarang saya yang harus ngenterin Ibu.” Jawab Nugrah kalem.

“Tidak usah. Saya bisa pulang menggunakan bus.” Tolak Anya halus. Bukan apa-apa. Sebenarnya dia senang-senang saja diantar. Lumayan buat hemat ongkos. Tapi bagaimana kalau saat ia sampai di rumah, mamanya ada di rumah. Bisa gawat. Selama ini, ia kan belum pernah sekalipun diantar pulang ke rumah oleh laki-laki kecuali Wika dan Chani yang notabene adalah tetangga sekaligus dua orang yang sudah dianggap anak oleh mama dan papanya. Apalagi diantar sama anak SMA model Nugrah. Bisa habis dia diomeli mama. Bukan karena mamanya menganggap kalau diantar anak SMA itu salah. Tapi nantinya ia akan dituduh melanggar Hak Asasi Anak Orang Lain yang seharusnya sudah pulang ke rumah – malah menajdi supir gratisan. Walaupun ia yakin mamanya pasti suka terhadap Nugrah karena wajah Nugrah yang bisa dibilang terlalu ganteng untuk ukuran selera Ibu Ibu seumuran mamanya. Selain itu, ia benar-benar malu sekarang. Mungkin Nugrah tidak menyadarinya karena ia terlalu fokus pada kegiatan marah-marahnya gara-gara insiden kecelakaan kecil tadi entah dengan siapa.

“Nggak apa-apa, Bu. Saya ikhlas kok nganterinnya. Anggap saja ini ucapan terima kasih saya karena Ibu sudah mau menjaga saya tadi di UKS.” Aduh kenapa jadi mengungkit masalah di UKS lagi sih. Nugrah memang tidak menyebut kejadian memalukan tadi. Tapi tetap saja, mendengar kata UKS disebut saja sudah membuat Anya kembali teringat dengan kejadian ia, Nugrah, Angry Bird, dan Fahri tentu saja serta insiden ‘tabrakan’ yang tak sengaja ia lakukan terhadap Nugrah tadi.

“Tidak apa-apa.” Tolak Anya lagi sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicekal Nugrah.

“Udah ayok.” Ajak Nugrah sambil menarik Anya kembali ke mobil.

****

Malam ini Anya tidak bisa tidur padahal besok ia harus mengajar di kelas X jam 7 pagi. Otaknya masih terus mengajaknya untuk memutar-mutar kembali kejadian tadi siang di sekolah. Setelah sehari sebelumnya Nugrah melakukan acara pe’nembak’kan terhadap dirinya yang berakhir dengan kecelakaan dan Nugrah memaksa untuk mengantarnya pulang, sifat Nugrah berubah. Ia menjadi cuek dan jutek. Okelah Nugrah memang orang yang terkesan cuek, jutek dan bahkan songong. Tapi hari ini berbeda. Nugrah cuek, jutek tapi terkesan memperhatikannya. Walaupun perhatian yang ditujukan tidak dilakukan secara langsung. Entah bagaimana menjelaskannya. Yang pasti Nugrah aneh. Iya aneh. Bagaimana bisa ia selalu berbuat seolah-olah ia tidak melihat Anya saat mereka berpapasan tetapi terlihat memperhatikannya dan menatapnya dalam saat mereka berada pada jarak yang berjauhan.

            Entah kenapa ia jadi kangen dengan sosok Nugrah yang mengerjainya di kelas saat pertama kali ia masuk di kelas XII IPA-1. Ia juga bingung dengan perasaan hatinya. Sejak Nugrah menembaknya, perasaannya terhadap Wika yang telah tertanam kurang lebih selama enam tahun ini seolah meluntur. Bukan karena ia menyukai atau tertarik terhadap Nugrah. Tapi lebih kepada sesuatu yang tidak ia ketahui alasannya.

Ya! Anya memang menyimpan perasaan terhadap Wika, adik sahabatnya – Chani. Perasaan ini telah dipendamnya sejak ia duduk di bangku kelas X dan Wika masih duduk di bangku kelas IX sekolah menengah pertama. Meskipun selama ini ia terlihat jutek dan tidak suka terhadap Wika, hal itu dilakukannya untuk menyamarkan atau bahkan mungkin menyembunyikan perasaannya agar tidak muncul ke permukaan. Ia sangat tahu dengan pasti reputasi player yang memang sudah disandang Wika entah sejak kapan. Mungkin sejak lahir. Ia juga tidak ingat. Yang ia tahu, Wika punya banyak pacar yang tersebar di mana-mana. Baik itu yang dikenalnya maupun tidak. Tapi perasaannya terhadap Wika tidak pernah berubah bahkan oleh kehadiran Chani yang dulu pernah berusaha menerobos ruang hatinya namun tak berhasil. Ia percaya bahwa seorang player pun pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Tapi kenapa sekarang ia jadi kepikiran Nugrah terus, yaaa??

***

            Di kamarnya yang memang dibiarkan remang oleh cahaya bulan, Nugrah kembali tersenyum sambil mengingat betapa lucunya ekspresi gadis itu. Gadis yang saat ini sedang menjadi targetnya. Target untuk dijadikannya mainan dan penghibur saat ia lelah. Mungkin gadis itu bisa sedikit meringankan bebannya yang sudah semakin bertumpuk banyak, walaupun hanya sementara. Tanpa disadari gadis-gadis dan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai fans Nugrah, Nugrah di luar gerbang sekolah bukanlah seperti Nugrah yang mereka kenal di sekolah. Nugrah yang saat ini adalah Nugrah yang berbeda. 

Nugrah bukanlah lelaki tampan yang betah dengan status jomblo. Nugrah juga merupakan seorang player kelas kakap. Berbeda dengan Wika yang memang mengikutsertakan perasaannya walaupun hanya sedikit dalam menjelajahi kisah cintanya dengan banyak wanita yang pernah maupun sedang dipacarinya, Nugrah sama sekali tidak menggunakan perasaannya. Perasaannya sudah mati sejak lama. Sejak fakta bercerita bahwa pernikahan yang dijalani kedua orang tuanya yang teramat sangat dihormati dan dihargainya, bukan didasari cinta, melainkan didasari oleh permainan dan kesepakatan bisnis keluarga besar keduanya. Perasaannya sudah ia tinggalkan entah sejak kapan dan entah di mana.

            Kenyataan pertama itu, masih bisa diterimanya walaupun dengan sedikit terpaksa. Yang penting adalah ia tak pernah kekurangan sedikitpun entah dari segi materi maupun kasih sayang. Namun kenyataan yang menyusulnya kemudian, benar-benar telah membuatnya kecewa. Mengetahui bahwa Ibunya memiliki orang lain – yang walaupun tanpa kehadirannya sudah menghempaskan title keluarga harmonis dari kehidupan mereka membuatnya bertanya sebenarnya ia ‘ada’ buat siapa? Untuk melengkapi kebahagiaan siapa? Hal ini pula yang membuatnya berubah menjadi seorang yang tidak berperasaan dengan sering kali mematahkan hati banyak perempuan. Baginya, pacar hanyalah pelampiasan dan tempat pelarian. Setelah bosan dengannya, ia tak akan segan meninggalkannya dan mencari tempat pelarian baru. Sayangnya kali ini entah setan apa yang merasuki dirinya, sehingga target pelarian itu jatuh pada Vanya Elistra Arinda yang tak lain adalah guru magang baru di sekolahnya. Entah apa yang menuntunnya untuk berusaha meraih gadis mungil itu. Yang pasti, saat ini tidak bisa kalau bukan dia. Oleh karena itu, akan dibuatnya gadis itu menjadi miliknya dengan cara bagaimanapun.

“Woyyy!!” Sebuah suara mengagetkan aktivitas mengkhayal Nugrah disertai kepala yang menyembul dari balik pintu kamarnya. “Gila. Gelap amat?! Nyalain lampunya kek.” Ujar suara itu sambil menyalakan lampu kamar Nugrah. Fahri ternyata. Nugrah menatap Fahri dengan tatapan ngapain lo disini! Yah Fahri dan Nugrah memang jago banget soal kode-kodean menggunakan tatapan. Apapun itu. Pasti ngerti. Fahri tidak menjawab melainkan mulai mengobark abrik koleksi game Nugrah setelah sebelumnya meletakkan ranselnya yang cukup berat ke meja belajar Nugrah.

“Gue nanya Kuya!” Teriak Nugrah sambil menoyor kepala Fahri pelan. “Lo nggak liat bawaan gue?” Tanya Fahri balik.

“Ya liat. Maksud gue ngapain lo pake acara nginep disini?” Jawab Nugrah yang kini sudah duduk di samping Fahri bersiap main game bersama.

“Lo kan tau sendiri. Kalo rumah sepi. Kagak ada penghuninya.” Jawab Fahri santai.

“Emang Mbok Sum bukan penghuni juga gitu di rumah lo?”

“Ya iya tapi Ibu lagi pulang kampung. Anaknya sakit.” Fahri memang terbiasa memanggil Mbok Sum – pembantu rumah tangga keluarganya yang sudah mengabdi kepada mereka sejak ia masih kecil dengan sebutan Ibu. Kesibukan kedua orang tuanya membuatnya beranggapan bahwa Mbok Sumlah Ibunya.

“Ooohhh… Eh itu…”

“Iya tau. Sialan lo! Itu mobil kesayangan gue!”

“Sorry sorry. Ntar gue ganti sama yang lebih keren. Mobil butut gitu juga.”

“Eh butut butut gitu, itu benda keramat. Lo pikir, cewek-cewek di sekolah pada mau jalan sama gue kalo nggak ada jasa si Pilo.” Pilo adalah nama sedan putih kesayangan Fahri.

“Ck. Cewek matre gitu aja lo jabanin.”

“Mending gue. Matre iya tapi masih teen. Nah elo, doyannya sama tante-tante.”

“Tante-tante. Eh elo tuh yang Om-om. Lo pikir kalo lo jalan sama dia, apa yang ada di pikiran orang-orang?! Ada bapak-bapak yang lagi ngawasin anak gadisnya yang lagi puber sampe ngintilin ke mana-mana saking khawatirnya tuh anak diculik preman pasar.”

“Sialan lo! Lo kate gue tua?!”

“Emang.”

“Lo beneran mau sama dia?” Tanya Fahri mulai serius.

“Kenapa emang?! Nggak boleh?”

“Janganlah. Dia guru kita.” Saran Fahri. “Lagian gue yakin dia udah punya bokis.”

“Nggak punya.”

“Yakin amat lo?!”

“Ya iyalah. Emang lo pernah liat dia pulang dijemput cowok?!”

“Nggak pernah sih. Tapi bisa aja kan cowoknya sibuk. Atau malah yang lebih parah suaminya.” Astaga. Kenapa nggak kepikiran, ya. Kan sekarang itu udah banyak cewek yang masih kuliah tapi udah pada nikah. Ah nggak mungkin. “Nggak lah. Sesibuk apapun cowok, kalo ceweknya dilepas di sarang penyamun juga pasti bakalan diusahain buat disamperin. Apalagi kalo status tuh cewek bukan cuma sekedar pacar tapi istri.” Fahri menghentikan aktivitas main game-nya dan menatap Nugrah dengan kening berkerut.

“Ya iyalah sarang penyamun. Lo pikir sekolahan dengan banyak anak cowok di dalemnya apalagi namanya kalo bukan sarang penyamun.” Jawab Nugrah meskipun Fahri tidak bertanya. Fahri tidak menanggapi lagi. Emang susah ngomong sama orang yang hatinya udah mati.

“Tenang aja. Paling seminggu dua minggu. Entar juga gue tinggalin. Lo kan tau gue.” Ucap Nugrah kemudian.

“Gue doain lo kualat!” Tanggap Fahri enteng.

“Amin.” Nugrah mengamini doa Fahri sambil nyengir tanda tak peduli.

****
            Sudah dua hari ini Wika menghindari Anya. Ia kesal. Bagaimana bisa Anya tidak memenuhi janjinya untuk menemaninya ke Rumah Sakit tempat Chandra magang. Ditambah lagi insiden tabrakan itu. Benar-benar membuatnya tambah kesal. Mengingat ada seorang cewek yang belum pandai menyetir, berusaha pengertian dengan mengantar pulang pacarnya yang sedang sakit namun terlihat baik-baik saja, juga membuat kadar kekesalannya bertambah. Kenapa pacar-pacar gue nggak ada yang kayak gitu? Alhasil, sesampai di Rumah Sakit, ia tidak mendapat kesempatan bertemu Dr. Ronald, melainkan mendapat bonus ceramah di siang bolong dari sang kakak karena bolos kuliah. Chan memang hafal jadwal kuliah Wika. Alasannya sih untuk mengontrol Wika. Padahal kan udah direncanain banget tuh. Kalo gue datengnya bareng Anya, Kak Chan pasti nggak akan terlalu merhatiin dan bahkan ngomelin gue. Secara kan Anya itu udah kayak the first and will be the last buat Kak Chan. Jadi perhatiannya udah pasti bakal lari ke Anya semua.

“Wik….” Panggil Anya sambil mensejajari langkah panjang Wika. “Gue minta maaf. Kemaren itu ada murid gue yang…”

“Ada murid lo yang pingsan, trus lo jagain sampe sadar, trus lo anterin pulang ke rumah. Iya kan?!” Potong Wika cepat.

“Iya.” Jawab Anya polos.

“Lo lebih mentingin tuh murid ya daripada Kak Chan!!”

“Lebih mentingin gimana? Gue sama sekali nggak ngerti maksud lo itu apa. Lagian Chani juga baik-baik aja kok.”
“Mata lo aja buta!”

“Lho?! Elo kok jadi keterlaluan gitu sih?” Anya jadi jengkel juga dimarah-marahin terus. Meskipun itu Wika.

“Terserah lo deh! Yang penting lo jangan nyesel dan jangan cari gue buat ngeluh kalo suatu saat nanti lo nyesel.” Tegas Wika sambil berlalu cepat meninggalkan Anya yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dimaksudkan Wika.

“Tuh anak kenapa sih?”

            Wika sendiri juga tidak mengerti kenapa ia sampai semarah ini terhadap Anya hanya karena masalah kecil. Lagian kalo dipikir-pikir Anya juga nggak salah salah banget. Tapi ia tidak suka jika Anya lebih memperhatikan orang lain dibanding kakaknya. Ia tidak terima. Ia tahu bahwa Chandra memang sangat mencintai Anya. Dan ia juga yakin bahwa Anya pasti memiliki perasaan yang sama dengan Chandra. Tinggal menunggu waktu saja untuk mereka meresmikan hubungan mereka. Padahal tanpa disadarinya,  selama ini hati Anya sudah terpaut padanya.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Bookshelf

Elsita's bookshelf: currently-reading

Wonder Fall
tagged: currently-reading

goodreads.com

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Diary Lusuh